Saturday, May 30, 2009

Haram Tak Haram Silaturahmi Facebook

Profil Din Syamsuddin di Facebook (facebook.com)
Kontroversi Facebook Haram

PARA perempuan berkerudung terus mengalir ke tempat itu. Datang dari pelbagai pelosok Jawa Timur, sekitar tujuh ratusan santri perempuan berkumpul di Pondok Pesantren Putri Hidayatul Mubtadiaat Lirboyo, Kediri, Jawa Timur, Rabu pekan lalu.

Para kiai pondok Lirboyo juga hadir. Di antaranya KH. M. Anwar Manshur, KH. Abdulloh Kafabihi Mahrus, KH. Zamzami Mahrus dan KH. Atho’illah S. Anwar. Tak kurang, ada Wakil Gubernur Jawa Timur, H Syaifullah Yusuf, membuka acara.

Ini memang hajatan penting menyangkut sikap santri pada isu-isu mutakhir. Selama dua hari, ratusan santri putri membahas persoalan sosial. Problem itu antara lain pemasangan gambar caleg perempuan, wali nikah anak hasil zina, hukum meminum air comberan Ponari, masalah iddah, dan hukum pendekatan lawan jenis via HP dan internet.

Acara berjalan lancar, sampai ketika majelis itu membahas facebook, suatu aplikasi jejaring sosial di internet. Majelis itu mendesak pemerintah mengharamkan akses Facebook di Indonesia. Alasannya, situs itu berpotensi memicu meluasnya perilaku seks bebas.

“Para ulama menilai perlu adanya penerbitan kebijakan terkait jejaring sosial virtual. Karena hal ini sangat sarat akan birahi, yang dilarang keras oleh Islam," ujar Muhammad Nabil Haroen, jurubicara Pondok Pesantren Lirboyo.

***

Pengharaman Facebook spontan memantik kontroversi. Soalnya, banyak para ulama menggunakan jaringan ini, dan wajahnya terpampang di Facebook. Contohnya Dien Syamsudin, Gus Dur, Hidayat Nur Wahid, dan Abdullah Gymnastiar alias Aa Gym.

Dari profil yang terdaftar, Hidayat Nur Wahid dan Dien Syamsuddin terhitung cukup aktif memperbaharui status profil Facebook-nya. Terakhir, pada 19 Mei 2009, Dien melaporkan ia sedang ada di Pattani, Thailand. Ia tengah mengikuti misi perdamaian para tokoh agama dunia mendorong resolusi konflik di kawasan itu.

Pada posting terakhirnya, Hidayat Nurwahid meminta maaf pada 11.298 pengguna yang ingin menambahkan profilnya di Facebook, tetapi tidak bisa melakukannya. Satu profil di Facebook, hanya boleh memiliki 5.000 orang teman.

Sementara, Facebook milik Gus Dur dilengkapi biodata plus alamat situs miliknya, www.gusdur.net. Meski nyaris kosong, Facebook milik tokoh Nahdlatul Ulama ini punya teman banyak. Totalnya 3.924.

Lalu, apa kata para ulama yang turut nongkrong di Facebook itu? Gus Dur, misalnya, tak ikut-ikutan mengharamkan Facebook. Menurutnya, wacana haram itu hanya isu sesaat. "Lama-lama juga hilang," kata Gus Dur ringan.

Tifatul Sembiring punya sikap serupa. Politisi Partai Keadilan Sosial ini mengaku belum mendaftar di Facebook. Tapi dia segera membuat akun di situs jejaring sosial dunia itu. Dia sudah mendengar manfaat positif Facebook dari teman-temannya.

Tifatul menuturkan, Al Quran telah memerintahkan setiap orang berkenalan. Apalagi umat manusia diciptakan berbeda-beda. Sehingga mengenal satu sama lain sifatnya wajib. Menurut Tifatul, sisi positif dari Facebook adalah membuat individu bisa berkomunikasi.

Karena itu Tifatul menolak jika Facebook diharamkan. Menurut dia, soal haram dan tidak haram tergantung pengenalan pada Facebook. “Jangan dulu mengatakan haram atau tidak,” ujarnya. Para ulama berpikir wadah itu haram, mungkin kurang mengenal Facebook.

Tifatul lalu mencontohkan televisi jadi haram karena ada tayangan kekerasan. Padahal yang seharusnya dilarang adalah kekerasan, bukan televisinya. Maka ia menyarankan para ulama melakukan survei terlebih dahulu sebelum membuat keputusan.

Tifatul tak setuju, jika Facebook mengarahkan seseorang ke perilaku seks bebas. “Saya lebih mengatakan facebook sebagai sarana komunikasi,” ujarnya. Dia juga tak begitu hirau jika sejumlah ulama di Lirboyo mengharamkan Facebook. Ulama, kata Tifatul, jumlahnya banyak. Pengharaman itu hanya mewakili segelintir ulama. Yang berhak mengharamkan menurutnya adalah Majelis Ulama Indonesia (MUI). Tapi, bila Facebook diharamkan, Tifatul khawatir telepon seluler sebagai alat komunikasi pun akan diharamkan.

Pengamat teknologi informasi, Onno W. Purbo, mengatakan mengharamkan Facebook sama seperti mengharamkan pisau. Sebab, pisau juga bisa digunakan membunuh. Yang diharamkan, kata dia, adalah pembunuhan, bukan pisau itu sendiri. “Karena pisau hanyalah alat”, kata dia.

Onno juga tidak percaya Facebook akan mendorong seks bebas. Menurut Onno, dia, istri dan lima anaknya juga memakai Facebook. Begitu juga dua juta penduduk, atau satu persen penduduk Indonesia. Semuanya tidak mengarah ke seks bebas. “Saya tidak yakin para ulama akan mengharamkan Facebook,” ujarnya.

***

MUI sendiri tak terburu-buru berfatwa haram bagi Facebook. Sebagai teknologi, Facebook punya banyak unsur positif. “Yang haram bukan Facebook-nya, tapi hal negatif di luar Facebook,” kata Ketua MUI, Amidhan. Tapi, tentu halal kalau wadah itu digunakan untuk bersilaturahmi, berkomunikasi, dan mengikat persaudaraan.

Facebook, kata Amidhan, adalah teknologi netral. "Beda dengan situs porno. Itu jelas haram karena fungsinya untuk pornografi," ujarnya. Yang patut diharamkan, kata dia, adalah penggunaan Facebook untuk hal negatif. Contohnya bergosip dan mengumbar kata-kata porno.

Di Indonesia sendiri, Facebook mencatat pertumbuhan pengguna terpesat se-Asia Tenggara. Pada tahun 2008, angka pengguna melejit sekitar 645 persen atau 831.000 pengguna. Ini mengindikasikan Facebook benar-benar diserap oleh pengguna internet di Indonesia pada umumnya.

Menurut situs pembuat rangking alexa.com, Indonesia adalah negara pengguna Facebook kelima terbesar di dunia, setelah Amerika Serikat, Inggris, Italia, dan Perancis.

Situs itu memang lentur untuk berbagai tujuan komunikasi. Ada yang menggalang solidaritas untuk Palestina, atau kampanye calon presiden favorit. Ada yang mengumpulkan dana buat pemberantasan kemiskinan, atau sekedar menjaring kenalan buat bisnis.

Selebriti Rahma Azhari, misalnya, mengaku “mabuk Facebook”. Dia mampir di situs itu tiap lima menit sekali. Kenalan dan keluarganya banyak di luar negeri. Karena persoalan jarak, Facebook pun dipakai sebagai ajang silahturahmi. Dia juga kerap mendapat tawaran pekerjaan melalui situs itu.

Maka Rahma tak setuju Facebook digolongkan benda haram. Banyak keuntungan, kata dia, yang bisa dipetik dari situs itu. “Alkohol, babi haram it's ok. Tetapi kalau Facebook haram, jangan dong,” ujarnya.


Mengapa Facebook Bisa Haram ??



Hari belum terang tanah. Pukul lima pagi. Ismail sudah terjaga. Padahal hari Kamis pekan lalu itu, karyawan 37 tahun ini sedang berlibur. Mestinya dia masih bisa menikmati kehangatan selimut. Ismail justru cergas meraih ponsel.



Lalu jemarinya asyik menari di atas keypad. Inilah menu subuh Ismail terbaru. Membuka akun facebook. Dalam dua menit dia sudah menemui dunia. “Selamat pagi pucuk gunung,” dari Pamulang di Tanggerang, dia menyapa ratusan sahabatnya di lima benua.

Sepuluh menit berselang jawaban bertaburan. “Sedang menikmati liburan nih,” jawab seorang sahabatnya. Jelang siang puluhan sahabat sudah mengirim komentar ke dinding (wall) Ismail.

Teknologi memang kian memudahkan manusia dalam berkomunikasi. Menyusul friendster, dunia kini dimabuk facebook. Saban hari sekitar 200 juta manusia saling menyapa lewat jejaring ini.

Dari pesohor di Hollywood hingga para santri di Lirboyo, Jawa Timur. Dari anak sekolah hingga professor. Dari bintang porno hingga kaum religius.

Vatican, tempat agama Katolik berpusat, juga mengunakan jejaring ini untuk menjaga iman umat. Ayat-ayat injil, foto-foto orang kudus, potret gereja tua ditabur ke sekujur dunia lewat jejaring ini. Din Syamsuddin, Ketua Umum Muhamadyah, juga merawat aqidah umat lewat jaringan ini.

Dan Penyebaran Facebook melaju pesat. Dunia maya satu ini merasuki penduduk Fairbanks Alaska di belahan bumi Utara, hingga Tierra Del Fuego di bagian ujung Amerika Selatan. Dari mulai Kathmandu Nepal, hingga pedalaman Burundi di Afrika.

Dari tahun ke tahun pertumbuhannya menjulang cepat. Lihatlah data-data berikut ini. Oktober 2007 jumlah penguna aktif sekitar 50 juta di seantero jagat.

Jumlah itu berbiak dengan cepat. Tanggal 1 Januari 2009 pengunanya menyentuh angka 150 juta. Sebulan berselang berlipat menjadi 175 juta. Dan kini melejit lagi hingga mencapai lebih dari 200 juta pengguna.

Kini sekitar 100 juta pengguna Facebook mengecek akun mereka paling tidak sekali sehari. Rata-rata mereka terhubung ke lebih dari 120 teman dalam jejaring mereka.

Dan pertumbuhan demografik tercepat justru bukan dari anak kampus atau remaja belasan, melainkan orang-orang yang berusia 35 tahun ke atas, seperti halnya Ismail.

Dari jumlah itu, lebih dari 30 juta pengguna aktif mengakses Facebook melalui piranti mobile. Dan sekitar 50 persen penguna mobile ini selalu aktif.

Perusahaan telepon seluler dunia juga sigap memanfaatkan dunia yang dimabuk facebook ini. Hingga kini sudah lebih dari 150 operator di 50 negara, terus-terusan mempromosikan Facebook mobile.

Aktivitas mereka di Facebook luar biasa. Lihatlah statistik facebook berikut ini. Lebih dari 3,5 juta menit dihabiskan oleh seluruh pengguna aktif di seluruh dunia untuk berada di depan Facebook, setiap hari.

Lebih dari 850 juta foto diunggah ke situs itu setiap bulan. Lebih dari 1 miliar konten juga diproduksi setiap pekan di Facebook, baik itu berupa link-link baru, cerita-cerita baru, postingan blog baru, notes, foto, dan rupa-rupa postingan lain.


Bagaimana dengan Indonesia, negeri yang penguna mobile dan internet termasuk tinggi di dunia.

Laporan bertajuk Facebook in Global Markets di situs Insidefacebook.com(http://www.insidefacebook.com/facebook-global-market-monitor/) memastikan bahwa tahun 2008 pertumbuhan Facebook di Indonesia mencapai lebih dari 645 persen.

Jumlah itu menempatkan Indonesia dijejeran atas pertumbuhan penguna di dunia. Lihatlah Italia yang pertumbuhannya 2900 persen, Argentina 2000 persen, Spanyol 600 persen, dan Perancis 400 persen.
Dengan tingkat pertumbuhan 645 persen di tahun 2008, Indonesia menjadi negara yang memiliki pertumbuhan jumlah pengguna Facebook menjadi jawara di kawasan Asia, mengungguli China, India, Malaysia, Thailand, dan Singapura.

Dalam sebuah slide presentasi yang disajikan di ajang Facebook Developer Garage Indonesia yang digelar 28 Maret 2009 lalu, disebutkan, bahwa pengguna Facebook Indonesia mencapai sekitar 1,5 juta orang.

Angka ini sudah menyamai dan bahkan memiliki tren mengungguli pengguna Facebook Hong Kong yang merupakan negara pengguna Facebook terpadat di Asia.

Padahal, jumlah itu masih termasuk sedikit bila dibandingkan dengan pengguna jejaring sosial Friendster yang hadir lebih dulu di sini. Dengan jumlah penggunanya yang mencapai sekitar 8 juta, Friendster mengklaim menguasai sekitar 45 persen pangsa pasar jejaring sosial di Indonesia.

Namun, bila tren pertumbuhan pengguna Facebook tetap stabil, bukan hal yang mustahil bila Facebook nantinya bakal menggerus porsi yang telah dikuasai Friendster.
*****

Candu baru ini bermula dari sebuah asrama Universitas Harvard Amerika Serikat, lima tahun yang lalu. Mark Zuckerberg, seorang mahasiswa yang kemudian drop out, menjebol database kampus untuk membuat situs facemash.

Dalam situ Facemash itu Zuckerberg membanding-bandingkan foto mahasiswi yang ia dapatkan dan menanyakan kepada pengunjung situs itu siapakah di antara pemilik foto itu yang paling membangkitkan birahi. Situs ini ramai dikunjungi mahasiswa bahkan menyebar luas hingga ke luar kampus.

Para petinggi Harvard murka dengan situs ini. Facemash dibredel. Dan Zuckerberg terancam sanksi administratif yakni diusir dari kampus karena telah melakukan pelanggaran keamanan dan hak pribadi.

Beruntung sanksi itu dibatalkan. Dan beginilah komentar Zuckerberg. "Saya memang seorang yang brengsek karena telah membuat situs itu. Tapi, memang harus ada seseorang yang melakukan hal itu.”

Setelah itu dia meluncurkan situs Thefacebook.com, juga dari kamar asrama Universitas Harvard.

Bagi sebagian orang, Zuckerberg memang orang yang brengsek. Dia memang seorang programer komputer yang handal, namun arogan, egois, dan bengal. Sebelum membuat The Facebook, sebenarnya Zuckerberg sempat disewa oleh trio mahasiswa Harvard yang sudah lebih dulu memiliki ide untuk membuat jejaring sosial.

Mereka adalah si kembar Tyler Winklevoss dan Cameron Winklevoss serta mahasiswa berdarah India Divya Narendra. Bahkan dalam saat yang bersamaan, Zuckerberg juga sering berdiskusi dengan seniornya Aaron Greenspan yang juga punya niat membuat portal jejaring sosial bagi mahasiswa Harvard.

Alih-alih mengerjakan pesanan pekerjaan dari kembar Winklevoss dan Narendra, Zuckerberg justru membuat situs Thefacebook bersama rekan-rekan satu kamar asramanya.

Tanggal 4 Februari 2004, Zuckerberg bersama Eduardo Saverin (mengurusi aspek bisnis), Dustin Moskovitz (programmer), serta Chris Hughes (membantu pemasaran), mendirikan Thefacebook dari kamar asrama mereka.

Langkah Zuckerberg sontak dihujat. Kembar Winklevoss dan Narendra menuduh Zuckerberg melakukan plagiat atas ide mereka dan menggunakan kode sumber yang sebenarnya milik mereka.

Belakangan trio Harvard ini tetap merilis jejaring sosial bernama ConnectU, yang tenggelam pamornya dari Facebook.
Facebook dengan cepat menyebar ke kampus Stanford, Columbia, Yale, dan kampus-kampus lain.

Zuckerberg akhirnya berhenti dari kuliahnya untuk berkonsentrasi mengurusi situs ini. Ia memindahkan markas Facebook ke Palo Alto.
Dari sana jejeraring ini kian menggila.
Juli 2004, Saverin berselisih dengan Zuckerberg dan akhirnya keluar dari Facebook. Chris Hughes juga hengkang untuk mengurusi situs kampanye Barack Obama. Begitu pula Moskovitz yang kemudian menyusul keluar dari perusahaan.

Banyak yang percaya bahwa Zuckerberg sengaja mengenyahkan bekas kawan-kawan sekamar kosnya itu, agar tampuk kendali Facebook tetap berada di bawah Zuckerberg.

Konflik di kalangan pendirinya boleh meruncing, tapi pengaruh situs ini terus saja menggila. Jumlah pengguna terus membesar hingga kini menjadi situs jejaring sosial terbesar, mengalahkan MySpace.

Februari 2009 lalu menyeruak kabar bahwa Zuckerberg telah mencapai kesepakatan rahasia dengan kembar Winklevoss untuk mengganti kerugian yang diakibatkan Zuckerberg terhadap mereka, sebesar US$ 65 juta.

Sejumlah kalangan menduga bahwa kesepakatan yang sama juga dilakukan terhadap Narendra.
Jutaan penguna di seantero dunia tidak terlalu peduli dengan konfilk Zuckerberg dengan para koleganya. Mereka terus bertukar cerita dan sapaan lewat jejaring ini.

Seperti halnya Ismail yang malam itu hendak kembali ke peraduannya. Jarum jam sudah mematut angka satu dini hari. Sebelum menyelinap ke balik selimut dia menyapa, “Selamat malam wahai pemuja malam, selamat pagi wahai pemuja mimpi.”



Pendidikan Anak Dalam Islam

>



PENDIDIKAN ANAK DALAM ISLAM

Dan orang-orang yang berkata : “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami dari isteri-isteri kami dan keturunan kami kesenangan hati, dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.”
( QS. Al-Furqan : 74 )
Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.”
(QS. At Tahrim: 6 ).
“Apabila manusia mati maka terputuslah amalannya kecuali dari tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu bermanfaat, atau anak shaleh yang mendo’akannya.”
(HR. Muslim, dari Abu Hurairah)

PENDAHULUAN
Segala puji milik Allah Tuhan semesta alam.
Shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada Rasul termulia, kepada keluarga dan para sahabatnya.
Seringkali orang mengatakan: “Negara ini adikuasa, bangsa itu mulia dan kuat, tak ada seorangpun yang berpikir mengintervensi negara tersebut atau menganeksasinya karena kedigdayaan dan keperkasaannya” .
Dan elemen kekuatan adalah kekuatan ekonomi, militer, teknologi dan kebudayaan. Namun, yang terpenting dari ini semua adalah kekuatan manusia, karena manusia adalah sendi yang menjadipusat segala elemen kekuatan lainnya. Tak mungkin senjata dapat dimanfaatkan, meskipun canggih, bila tidak ada orang yang ahli dan pandai menggunakannya. Kekayaan, meskipun melimpah, akan menjadi mubadzir tanpa ada orang yang mengatur dan mendaya-gunakannya untuk tujuan-tujuan yang bermanfaat.
Dari titik tolak ini, kita dapati segala bangsa menaruh perhatian terhadap pembentukan individu, pengembangan sumber daya manusia dan pembinaan warga secara khusus agar mereka menjadi orang yang berkarya untuk bangsa dan berkhidmat kepada tanah air.
Sepatutnya umat Islam memperhatikan pendidikan anak dan pembinaan individu untuk mencapai predikat “umat terbaik”, sebagaimana dinyatakan Allah ‘Azza Wa lalla dalam firman-Nya:

“Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dariyang munkar… “. (Surah Ali Imran : 110).
Dan agar mereka membebaskan diri dari jurang dalam yang mengurung diri mereka, sehingga keadaan mereka dengan umat lainnya seperti yang beritakan Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam :
“Hampir saja umat-umat itu mengerumuni kalian bagaikan orang-orang yang sedang makan berkerumun disekitar nampan.”. Ada seorang yang bertanya: “Apakah karena kita berjumlah sedikit pada masa itu?” Jawab beliau: “Bahkan kalian pada masa itu berjumlah banyak, akan tetapi kalian bagaikan buih air bah. Allah niscaya mencabut dari hati musuh kalian rasa takut kepada kalian, dan menanamkan rasa kelemahan dalam dada kalian”. Seorang bertanya: “Ya Rasulullah, apakah maksud kelemahan itu?” Jawab beliau: “Yaitu cinta kepada dunia dan enggan mati”.

PERANAN KELUARGA DALAM ISLAM
Keluarga mempunyai peranan penting dalam pendidikan, baik dalam lingkungan masyarakat Islam maupun non-Islam. Karerena keluarga merupakan tempat pertumbuhan anak yang pertama di mana dia mendapatkan pengaruh dari anggota-anggotanya pada masa yang amat penting dan paling kritis dalam pendidikan anak, yaitu tahun-tahun pertama dalam kehidupanya (usia pra-sekolah). Sebab pada masa tersebut apa yang ditanamkan dalam diri anak akan sangat membekas, sehingga tak mudah hilang atau berubah sudahnya.
Dari sini, keluarga mempunyai peranan besar dalam pembangunan masyarakat. Karena keluarga merupakan batu pondasi bangunan masyarakat dan tempat pembinaan pertama untuk mencetak dan mempersiapkan personil-personilnya.
Musuh-musuh Islam telah menyadari pentingya peranan keluarga ini. Maka mereka pun tak segan-segan dalam upaya menghancurkan dan merobohkannya. Mereka mengerahkan segala usaha ntuk mencapai tujuan itu. Sarana yang mereka pergunakan antara lain:

1. Merusak wanita muslimah dan mempropagandakan kepadanya agar meninggallkan tugasnya yang utama dalam menjaga keluarga dan mempersiapkan generasi.

2. Merusak generasi muda dengan upaya mendidik mereka di tempat-tempat pengasuhan yang jauh dari keluarga, agar mudah dirusak nantinya.

3. Merusak masyarakat dengan menyebarkan kerusakan dan kehancuran, sehingga keluarga, individu dan masyarakat seluruhnya dapat dihancurkan.

Sebelum ini, para ulama umat Islam telah menyadari pentingya pendidikan melalui keluarga. Syaikh Abu Hamid Al Ghazali ketika membahas tentang peran kedua orangtua dalam pendidikan mengatakan: “Ketahuilah, bahwa anak kecil merupakan amanat bagi kedua orangtuanya. Hatinya yang masih suci merupakan permata alami yang bersih dari pahatan dan bentukan, dia siap diberi pahatan apapun dan condong kepada apa saja yang disodorkan kepadanya Jika dibiasakan dan diajarkan kebaikan dia akan tumbuh dalam kebaikan dan berbahagialah kedua orang tuanya di dunia dari akherat, juga setiap pendidik dan gurunya. Tapi jika dibiasakan kejelekan dan dibiarkan sebagai mana binatang temak, niscaya akan menjadi jahat dan binasa. Dosanya pun ditanggung oleh penguru dan walinya. Maka hendaklah ia memelihara mendidik dan membina serta mengajarinya akhlak yang baik, menjaganya dari teman-teman jahat, tidak membiasakannya bersenang-senang dan tidak pula menjadikannya suka kemewahan, sehingga akan menghabiskan umurnya untuk mencari hal tersebut bila dewasa.”

TUJUAN PENDIDIKAN DALAM ISLAM
Banyak penulis dan peneliti membicarakan tentang tujuan pendidikan individu muslim. Mereka berbicara panjang lebar dan terinci dalam bidang ini, hal yang tentu saja bermanfaat. Apa yang mereka katakan kami ringkaskan sebagai berikut:
” Nyatalah bahwa pendidikan individu dalam islam mempunyai tujuan yang jelas dan tertentu, yaitu: menyiapkan individu untuk dapat beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan tak perlu dinyatakan lagi bahwa totalitas agama Islam tidak membatasi pengertian ibadah pada shalat, shaum dan haji; tetapi setiap karya yang dilakukan seorang muslim dengan niat untuk Allah semata merupakan ibadah.” (Aisyah Abdurrahman Al Jalal, Al Mu’atstsirat as Salbiyah fi Tarbiyati at Thiflil Muslim wa Thuruq ‘Ilajiha, hal. 76.

MEMPERHATIKAN ANAK SEBELUM LAHIR
Perhatian kepada anak dimulai pada masa sebelum kelahirannya, dengan memilih isteri yang shalelhah, Rasulullah SAW memberikan nasehat dan pelajaran kepada orang yang hendak berkeluarga dengan bersabda :
” Dapatkan wanita yang beragama, (jika tidak) niscaya engkau merugi” (HR.Al-Bukhari dan Muslim)
Begitu pula bagi wanita, hendaknya memilih suami yang sesuai dari orang-orang yang datang melamarnya. Hendaknya mendahulukan laki-laki yang beragama dan berakhlak. Rasulullah memberikan pengarahan kepada para wali dengan bersabda :
“Bila datang kepadamu orang yang kamu sukai agama dan akhlaknya, maka kawikanlah. Jika tidak kamu lakukan, nisacayaterjadi fitnah di muka bumi dan kerusakan yang besar”
Termasuk memperhatikan anak sebelum lahir, mengikuti tuntunan Rasulullah dalam kehidupan rumah tangga kita. Rasulullah memerintahkan kepada kita:
“Jika seseorang diantara kamu hendak menggauli isterinya, membaca: “Dengan nama Allah. Ya Allah, jauhkanlah kami dari syaitan dan jauhkanlah syaitan dari apa yang Engkau karuniakan kepada kami”. Maka andaikata ditakdirkan keduanya mempunyai anak, niscaya tidak ada syaitan yang dapat mencelakakannya”.

MEMPERHATIKAN ANAK KETIKA DALAM KANDUNGAN
Setiap muslim akan merasa kagum dengan kebesaran Islam. Islam adalah agama kasih sayang dan kebajikan. Sebagaimana Islam memberikan perhatian kepada anak sebelum kejadiannya, seperti dikemukakan tadi, Islam pun memberikan perhatian besar kepada anak ketika masih menjadi janin dalam kandungan ibunya. Islam mensyariatkan kepada ibu hamil agar tidak berpuasa pada bulan Ramadhan untuk kepentingan janin yang dikandungnya. Sabda Rasulullah :
“Sesungguhnya Allah membebaskan separuh shalat bagi orang yang bepergian, dan (membebaskan) puasa bagi orang yang bepergian, wanita menyusui dan wanita hamil” (Hadits riwayat Abu Dawud, At Tirmidzi dan An Nasa’i. Kata Al Albani dalam Takhrij al Misykat: “Isnad hadits inijayyid’ )
Sang ibu hendaklah berdo’a untuk bayinya dan memohon kepada Allah agar dijadikan anak yang shaleh dan baik, bermanfaat bagi kedua orangtua dan seluruh kaum muslimin. Karena termasuk do’a yang dikabulkan adalah do’a orangtua untuk anaknya.
MEMPERHATIKAN ANAK SETELAH LAHIR
Setelah kelahiran anak, dianjurkan bagi orangtua atau wali dan orang di sekitamya melakukan hal-hal berikut:

1. Menyampaikan kabar gembira dan ucapan selamat atas kelahiran.
Begitu melahirkan, sampaikanlah kabar gembira ini kepada keluarga dan sanak famili, sehingga semua akan bersuka cita dengan berita gembira ini. Firman Allah ‘Azza Wa Jalla tentang kisah Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam bersama malaikat:
“Dan isterinya berdiri (di balik tirai lalu dia tersenyum. Maka Kami sampaikan kepadanya berita gembira tentang (kelahiran) Ishaq dan dari lshaq (akan lahir puteranya) Ya ‘qub. ” (Surah Hud : 71).
Dan firman Allah tentang kisah Nabi Zakariya ‘Alaihissalam:
“Kemudian malaikat Jibril memanggil Zakariya, sedang ia tengah berdiri melakukan shalat di mihrab (katanya): “Sesungguhnya Allah mengembirakan kamu dengan kelahiran (seorang puteramu ) Yahya ” (Ali Imran: 39).
Adapun tahni’ah (ucapan selamat), tidak ada nash khusus dari Rasul dalam hal ini, kecuali apa yang disampaikan Aisyah Radhiyallahu ‘Anha:
“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasalam apabila dihadapkan kepada beliau anak-anak bayi, maka beliau mendo’akan keberkahan bagi mereka dan mengolesi langit-langit mulutnya (dengan korma atau madu )” ( Hadits riwayat Muslim dan Abu Dawud).
Abu Bakar bin Al Mundzir menuturkan: Diriwayatkan kepada kami dari Hasan Basri, bahwa seorang laki-laki datang kepadanya sedang ketika itu ada orang yang baru saja mendapat kelahiran anaknya. Orang tadi berkata: Penunggang kuda menyampaikan selamat kepadamu. Hasan pun berkata: Dari mana kau tahu apakah dia penunggang kuda atau himar? Maka orang itu bertanya: Lain apa yang mesti kita ucapkan. Katanya: Ucapkanlah:
“Semoga berkah bagimu dalam anak, yang diberikan kepadamu, Kamu pun bersyukur kepada Sang Pemberi, dikaruniai kebaikannya, dan dia mencapai kedewasaannya” ( Ibnu Qayyim Al Jauziyah, Tuhfatul fi Ahkamil Maulud.)

2. Menyerukan adzan di telinga bayi.
Abu Rafi’ Radhiyallahu ‘Anhu menuturkan:
“Aku melihat Rasulullah memperdengarkan adzan pada telinga Hasan bin Ali ketika dilahirkan Fatimah” ( Hadits riwayat Abu Dawud dan At Tirmidzi.
Hikmahnya, Wallahu A’lam, supaya adzan yang berisi pengagungan Allah dan dua kalimat syahadat itu merupakan suara yang pertama kali masuk ke telinga bayi. Juga sebagai perisai bagi anak, karena adzan berpengaruh untuk mengusir dan menjauhkan syaitan dari bayi yang baru lahir, yang ia senantiasa berupaya untuk mengganggu dan mencelakakannya. Ini sesuai dengan pemyataan hadits:
” Jika diserukan adzan untuk shalat, syaitan lari terbirit-birit dengan mengeluarkan kentut sampai tidak mendengar seruan adzan” (Ibid)

3. Tahnik (Mengolesi langit-langit mulut).
Termasuk sunnah yang seyogianya dilakukan pada saat menerima kelahiran bayi adalah tahnik, yaitu melembutkan sebutir korma dengan dikunyah atau menghaluskannya dengan cara yang sesuai lalu dioleskan di langit-langit mulut bayi. Caranya,dengan menaruh sebagian korma yang sudah lembut di ujung jari lain dimasukkan ke dalam mulut bayi dan digerakkan dengan lembut ke kanan dan ke kiri sampai merata. Jika tidak ada korma, maka diolesi dengan sesuatu yang manis (seperti madu atau gula). Abu Musa menuturkan:
“Ketika aku dikaruniai seorang anak laki-laki, aku datang kepada Nabi, maka beliau menamainya Ibrahim, mentahniknya dengan korma dan mendo’akan keberkahan baginya, kemudian menyerahkan kepadaku”.
Tahnik mempunyai pengaruh kesehatan sebagaimana dikatakan para dokter. Dr. Faruq Masahil dalam tulisan beliau yang dimuat majalah Al Ummah, Qatar, edisi 50, menyebutkan: “Tahnik dengan ukuran apapun merupakan mu’jizat Nabi dalam bidang kedokteran selama empat belas abad, agar umat manusia mengenal tujuan dan hikmah di baliknya. Para dokter telah membuktikan bahwa semua anak kecil (terutama yang baru lahir dan menyusu) terancam kematian, kalau terjadi salah satu dari dua hal:
a. Jika kekurangan jumlah gula dalam darah (karena kelaparan).
b. Jika suhu badannya menurun ketika kena udara dingin di sekelilingnya.”‘

4. Memberi nama.
Termasuk hak seorang anak terhadap orangtua adalah memberi nama yang baik. Diriwayatkan dari Wahb Al Khats’ami bahwa Rasulullah bersabda:
” Pakailah nama nabi-nabi, dan nama yang amat disukai Allah Ta’ala yaitu Abdullah dan Abdurrahman, sedang nama yang paling manis yaitu Harits dan Hammam, dan nama yang sangat jelek yaitu Harb dan Murrah” ( HR.Abu Daud An Nasa’i)
Pemberian nama merupakan hak bapak.Tetapi boleh baginya menyerahkan hal itu kepada ibu. Boleh juga diserahkan kepada kakek, nenek,atau selain mereka.
Rasulullah merasa optimis dengan nama-nama yang baik. Disebutkan Ibnul Qayim dalam Tuhfaful Wadttd bi Ahkami Maulud, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasalam tatkala melihat Suhail bin Amr datang pada hari Perjanjian Hudaibiyah beliau bersabda: “Semoga mudah urusanmu”
Dalam suatu perjalanan beliau mendapatkan dua buah gunung, lain beliau bertanya tentang namanya. Ketika diberitahu namanya Makhez dan Fadhih, beliaupun berbelok arah dan tidak melaluinya.( Ibnu Qayim Al Jauziyah, Tuhfatul Wadud, hal. 41.)
Termasuk tuntunan Nabi mengganti nama yang jelek dengan nama yang baik. Beliau pernah mengganti nama seseorang ‘Ashiyah dengan Jamilah, Ashram dengan Zur’ah. Disebutkan oleh Abu Dawud dalam kitab Sunan :”Nabi mengganti nama ‘Ashi, ‘Aziz, Ghaflah, Syaithan, Al Hakam dan Ghurab. Beliau mengganti nama Syihab dengan Hisyam, Harb dengan Aslam, Al Mudhtaji’ dengan Al Munba’its, Tanah Qafrah (Tandus) dengan Khudrah (Hijau), Kampung Dhalalah (Kesesatan) dengan Kampung Hidayah (Petunjuk), dan Banu Zanyah (Anak keturunan haram) dengan Banu Rasydah (Anak keturunan balk).” (Ibid)

5. Aqiqah.
Yaitu kambing yang disembelih untuk bayi pada hari ketujuh dari kelahirannya. Berdasarkan hadits yang diriwayatkan Salman bin Ammar Adh Dhabbi, katanya: Rasulullah bersabda:
“Setiap anak membawa aqiqah, maka sembelihlah untuknya dan jauhkanlah gangguan darinya” (HR. Al Bukhari.)
Dari Aisyah Radhiyallahu ‘Anha,bahwaRasulullah bersabda:
“Untuk anak laki-laki dua ekor kambing yang sebanding, sedang untuk anak perempuan seekor kambing” (HR. Ahmad dan Turmudzi).
Aqiqah merupakah sunnah yang dianjurkan. Demikian menurut pendapat yang kuat dari para ulama. Adapun waktu penyembelihannya yaitu hari ketujuh dari kelahiran. Namun, jika tidak bisa dilaksanakan pada hari ketujuh boleh dilaksanakan kapan saja, Wallahu A’lam.
Ketentuan kambing yang bisa untuk aqiqah sama dengan yang ditentukan untuk kurban. Dari jenis domba berumur tidak kurang dari 6 bulan, sedang dari jenis kambing kacang berumur tidak kurang dari 1 tahun, dan harus bebas dari cacat.

6. Mencukur rambut bayi dan bersedekah perak seberat timbangannya.
Hal ini mempunyai banyak faedah, antara lain: mencukur rambut bayi dapat memperkuat kepala, membuka pori-pori di samping memperkuat indera penglihatan, pendengaran dan penciuman. (Abdullah Nasih Ulwan, Tarbiyatul Auladfil Islam, juz 1.)
Bersedekah perak seberat timbangan rambutnya pun mempunyai faedah yang jelas.
Diriwayatkan dari Ja’far bin Muhammad, dari bapaknya, katanya:
“Fatimah Radhiyalllahu ‘anha menimbang rambut Hasan, Husein, Zainab dan Ummu Kaltsum; lalu ia mengeluarkan sedekah berupa perak seberat timbangannya (HR. Imam Malik dalam Al Muwaththa’)

7. Khitan.
Yaitu memotong kulup atau bagian kulit sekitar kepala zakar pada anak laki-laki, atau bagian kulit yang menonjol di atas pintu vagina pada anak perempuan. Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu bahwa Rasulullah bersabda:
“Fitrah itu lima: khitan, mencukur rambut kemaluan, memendekkan kumis, memotong kuku, mencabut bulu ketiak” (HR. Al-bukhari, Muslim)
Khitan wajib hukumnya bagi kaum pria, dan rnustahab (dianjurkar) bagi kaum wanita.WallahuA’lam.

Inilah beberapa etika terpenting yang perlu diperhatikan dan dilaksanakan oleh orangtua atau pada saat-saat pertama dari kelahiran anak.
Namun, di sana ada beberapa kesalahan yang terjadi pada saat menunggu kedatangannya Secara singkat, antara lain:

A. Membacakan ayat tertentu dari Al Qur’an untuk wanita yang akan melahirkan; atau menulisnya lalu dikalungkan pada wanita, atau menulisnya lalu dihapus dengan air dan diminumkan kepada wanita itu atau dibasuhkan pada perut danfarji (kemaluan)nya agar dimudahkan dalam melahirkan. ltu semua adalah batil, tidak ada dasamya yang shahih dari Rasulullah, Akan tetapi bagi wanita yang sedang menahan rasa sakit karena melahirkan wajib berserah diri kepada Allah agar diringankan dari rasa sakit dan dibebaskan dari kesulitannya Dan ini tidak bertentangan dengan ruqyah yang disyariatkan.

B. Menyambut gembira dan merasa senang dengan kelahiran anak laki-laki, bukan anak perempuan.
Hal ini termasuk adat Jahiliyah yang dimusuhi Islam. Firman Allah yang berkenaan dengan mereka:
“Apabila seseorang dari merea diberi kabar dengan (kelahiran) anak, perempuan, hitamlah (merah padamlah) matanya, dan dia sangat marah; ia menyembunyikan dirinya dari orang banyak, disebabkan buruknya berita yang disampaikan padanya. Apakah dia akan memeliharannya dengan menanggumg kehinaan ataukah akan menguburkannya ke dalam tanah (hidup-hidup)? Ketahuilah, alangkah buruknya apa yang telah mereka lakukan itu”(Surah An Nahl : 58-59).
Mungkin ada sebagian orang bodoh yang bersikap berlebihan dalam hal ini dan memarahi isterinya karena tidak melahirkan kecuali anak perempuan. Mungkin pula menceraikan isterinya karena hal itu, padahal kalau dia menggunakan akalnya, semuanya berada di tangan Allah ‘Azza wa lalla. Dialah yang memberi dan menolak. Firman-Nya:
Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki, Dia memberikan anak-anak perempuan kepada siapa yang Dia kehendaki dan memberikan anak-anak lelaki kepada siapa yang Dia kehendaki atau Dia menganugerahkan kepada siapa yang dia kehendaki-Nya, dan dia menjadikan Mandul siapa yang Dia kehendaki…” (Surah Asy Syura :49-50).
Semoga Allah memberikan petunjukkepada seluruh kaum Muslimin.

C. Menamai anak dengan nama yang tidak pantas.Misalnya, nama yang bermakna jelek, atau nama orang-orang yang menyimpang seperti penyanyi atau tokoh kafir. Padahal menamai anak dengan nama yang baik merupakan hak anak yang wajib atas walinya.
Termasuk kesalahan yang berkaitan dengan pemberian nama, yaitu ditangguhkan sampai setelah seminggu.

D. Tidak menyembelih aqiqah untuk anak padahal mampu melakukannya. Aqiqah merupakan tuntunan Nabi Shallallahu ‘alaihi wasalam, dan mengikuti tuntunan beliau adalah sumber segala kebaikan.

E. Tidak menetapi jumlah bilangan yang ditentukan untuk aqiqah. Ada yang mengundang untuk acara aqiqah semua kenalannya dengan menyembelih 20 ekor kambing, ini merupakan tindakan berlebihan yang tidak disyariatkan. Ada pula yang kurang dari jumlah bilangan yang ditentukan, dengan menyembelih hanya seekor kambing untuk anak iaki-laki, inipun menyalahi yang disyariatkan. Maka hendaklah kita menetapi sunnah Rasul Shallallahu ‘alaihi wasalam tanpa menambah ataupun mengurangi.

F. Menunda khitan setelah akil baligh.Tradisi ini dulu terjadi pada beberapa suku, seorang anak dikhitan sebelum kawin dengan cara yang biadab di hadapan orang banyak.
Itulah sebagian kesalahan, dan masih banyak lainnya. Semoga cukup bagi kita dengan menyebutkan etika dan tata cara yang dituntunkan ketika menerima kelahiran anak. Karena apapun yang bertentangan dengan hal-hal tersebut, termasuk kesalahan yang tidak disyariatkan. (Disarikan dari kitab Adab Istiqbal al Maulud fil Islam, oleh ustadz Yusuf Abdullah al Arifi)

MEMPERHATIKAN ANAK PADA USIA ENAM TAHUN PERTAMA
Periode pertama dalam kehidupan anak (usia enam tahun pertama) merupakan periode yang amat kritis dan paling penting. Periode ini mempunyai pengaruh yang sangat mendalam dalam pembentukan pribadinya. Apapun yang terekam dalam benak anak pada periede ini, nanti akan tampak pengaruh-pengaruhnya dengannyata pada kepribadiannya ketika menjadi dewasa. (Aisyah Abdurrahman Al Jalal, Al Muatstsirat as Salbiyah.)
Karena itu, para pendidik perlu memberikan banyak perhatian pada pendidikan anak dalam periode ini.
Aspek-aspek yang wajib diperhatikan oleh kedua orangtua dapat kami ringkaskan sebagai berikut:

1. Memberikan kasih sayang yang diperlukan anak dari pihak kedua orangtua, terutama ibu.
Ini perlu sekali, agar anak belajar mencintai orang lain. Jika anak tidak merasakan cintakasih ini,maka akan tumbuh mencintai dirinya sendiri saja dan membenci orang disekitamya. “Seorang ibu yang muslimah harus menyadari bahwa tidak ada suatu apapun yang mesti menghalanginya untuk memberikan kepada anak kebutuhan alaminya berupa kasih sayang dan perlindungan. Dia akan merusak seluruh eksistensi anak, jika tidak memberikan haknya dalam perasaan-perasaan ini, yang dikaruniakan Allah dengan rahmat dan hikmah-Nya dalam diri ibu, yang memancar dengan sendirinya untuk memenuhi kebutuhan anak.” (Muhammad Quthub,Manhaiut Tarbiyah Al Islamiyah, juz 2.)
Maka sang ibu hendaklah senantiasa memperhatikan hal ini dan tidak sibuk dengan kegiatan karir di luar rumah, perselisihan dengan suami atau kesibukan lainnya.

2. Membiasakan anak berdisiplin mulai dari bulan-bulan pertama dari awal kehidupannya.
Kami kira, ini bukan sesuatu yang tidak mungkin. Telah terbukti bahwa membiasakan anak untuk menyusu dan buang hajat pada waktu-waktu tertentu dan tetap, sesuatu yang mungkin meskipun melalui usaha yang berulang kali sehingga motorik tubuh akan terbiasa dan terlatih dengan hal ini.
Kedisiplinan akan tumbuh dan bertambah sesuai dengan pertumbuhan anak, sehingga mampu untuk mengontrol tuntutan dan kebutuhannya pada masa mendatang.

3. Hendaklah kedua orangtua menjadi teladan yang baik bagi anak dari permulaan kehidupannya.
Yaitu dengan menetapi manhaj Islam dalam perilaku mereka secara umum dan dalam pergaulannya dengan anak secara khusus. Jangan mengira karena anak masih kecil dan tidak mengerti apa yang tejadi di sekitarnya, sehingga kedua orangtua melakukan tindakan-tindakan yang salah di hadapannya. Ini mempunyai pengaruh yang besar sekali pada pribadi anak. “Karena kemampuan anak untuk menangkap, dengan sadar atau tidak, adalah besar sekali. Terkadang melebihi apa yang kita duga. Sementara kita melihatnya sebagai makhluk kecil yang tidak tahu dan tidak mengerti. Memang, sekalipun ia tidak mengetahui apa yang dilihatnya, itu semua berpengaruh baginya. Sebab, di sana ada dua alat yang sangat peka sekali dalam diri anak yaitu alat penangkap dan alat peniru, meski kesadarannya mungkin terlambat sedikit atau banyak.
Akan tetapi hal ini tidak dapat merubah sesuatu sedikitpun. Anak akan menangkap secara tidak sadar, atau tanpa kesadaran puma, dan akan meniru secara tidak sadar, atau tanpa kesadaran purna, segala yang dilihat atau didengar di sekitamya.” (Ibid.)

4. Anak dibiasakan dengan etiket umum yang mesti dilakukan dalam pergaulannya.
Antara lain: (Silahkan lihat Ahmad Iuuddin Al Bayanuni,MinhajAt TarbiyahAsh Shalihah.)

” Dibiasakan mengambil, memberi, makan dan minum dengan tangan kanan. Jika makan dengan tangan kiri, diperingatkan dan dipindahkan makanannya ke tangan kanannya secara halus.

” Dibiasakan mendahulukan bagian kanan dalam berpakaian. Ketika mengenakan kain, baju, atau lainnya memulai dari kanan; dan ketika melepas pakaiannya memulai dari kiri.

” Dilarang tidur tertelungkup dandibiasakan ·tidur dengan miring ke kanan.

” Dihindarkan tidak memakai pakaian atau celana yang pendek, agar anak tumbuh dengan kesadaran menutup aurat dan malu membukanya.

” Dicegah menghisap jari dan menggigit kukunya.

” Dibiasakan sederhana dalam makan dan minum, dan dijauhkan dari sikap rakus.

” Dilarang bermain dengan hidungnya.

” Dibiasakan membaca Bismillah ketika hendak makan.

” Dibiasakan untuk mengambil makanan yang terdekat dan tidak memulai makan sebelum orang lain.

” Tidak memandang dengan tajam kepada makanan maupun kepada orang yang makan.

” Dibiasakan tidak makan dengan tergesa-gesa dan supaya mengunyah makanan dengan baik.

” Dibiasakan memakan makanan yang ada dan tidak mengingini yang tidak ada.

” Dibiasakan kebersihan mulut denganmenggunakan siwak atau sikat gigi setelah makan, sebelum tidur, dan sehabis bangun tidur.

” Dididik untuk mendahulukan orang lain dalam makanan atau permainan yang disenangi, dengan dibiasakan agar menghormati saudara-saudaranya, sanak familinya yang masih kecil, dan anak-anak tetangga jika mereka melihatnya sedang menikmati sesuatu makanan atau permainan.

” Dibiasakan mengucapkan dua kalimat syahadat dan mengulanginya berkali-kali setiap hari.

” Dibiasakan membaca “AZhamdulillah” jika bersin, dan mengatakan

“Yarhamukallah” kepada orang yang bersin jika membaca “Alhamdulillah”.

” Supaya menahan mulut dan menutupnya jika menguap, dan jangan sampai bersuara.

” Dibiasakan berterima kasih jika mendapat suatu kebaikan, sekalipun hanya sedikit.

” Tidak memanggil ibu dan bapak dengan namanya, tetapi dibiasakan memanggil dengan kata-kata: Ummi (Ibu), dan Abi (Bapak).

” Ketika berjalan jangan mendahului kedua orangtua atau siapa yang lebih tua darinya, dan tidak memasuki tempat lebih dahulu dari keduanya untuk menghormati mereka.

” Dibiasakan bejalan kaki pada trotoar, bukan di tengah jalan.

” Tidak membuang sampah dijalanan, bahkan menjauhkan kotoran darinya.
” Mengucapkan salam dengan sopan kepada orang yang dijumpainya dengan mengatakan “Assalamu ‘Alaikum” serta membalas salam orang yang mengucapkannya.

” Diajari kata-kata yang benar dan dibiasakan dengan bahasa yang baik.

” Dibiasakan menuruti perintah orangtua atau siapa saja yang lebih besar darinya, jika disuruh sesuatu yang diperbolehkan.

” Bila membantah diperingatkan supaya kembali kepada kebenaran dengan suka rela, jika memungkinkan. Tapi kalau tidak, dipaksa untuk menerima kebenaran, karena hal ini lebih baik daripada tetap membantah dan membandel.

” Hendaknya kedua orangtua mengucapkan terima kasih kepada anak jika menuruti perintah dan menjauhi larangan. Bisa juga sekali-kali memberikan hadiah yang disenangi berupa makanan, mainan atau diajak jalan-jalan.

” Tidak dilarang bermain selama masih aman, seperti bermain dengan pasir dan permainan yang diperbolehkan, sekalipun menyebabkan bajunya kotor. Karena permainan pada periode ini penting sekali untuk pembentukan jasmani dan akal anak.

” Ditanamkan kepada anak agar senang pada alat permainan yang dibolehkan seperti bola, mobil-mobilan, miniatur pesawat terbang, dan lain-lainnya. Dan ditanamkan kepadanya agar membenci alat permainan yang mempunyai bentuk terlarang seperti manusia dan hewan.

” Dibiasakan menghormati milik orang lain, dengan tidak mengambil permainan ataupun makanan orang lain, sekalipun permainan atau makanan saudaranya sendiri.

Friday, May 29, 2009

Prinsip Dasar Islam Menurur Al-Quran dan As-sunna

Allah Berfirman:
Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. (Ad dzariyat:56)
A. Definisi Ibadah
Ibadah secara bahasa (etimologi) berarti merendahkan diri serta tunduk. Sedangkan menurut syara’ (terminologi), ibadah mempunyai banyak definisi, tetapi makna dan maksudnya satu. Definisi itu antara lain adalah:
[1]. Ibadah adalah taat kepada Allah dengan melaksanakan perintah-Nya melalui lisan para Rasul-Nya.
[2]. Ibadah adalah merendahkan diri kepada Allah Azza wa Jalla, yaitu tingkatan tunduk yang paling tinggi disertai dengan rasa mahabbah (kecintaan) yang paling tinggi.

[3]. Ibadah adalah sebutan yang mencakup seluruh apa yang dicintai dan diridhai Allah Azza wa Jalla, baik berupa ucapan atau perbuatan, yang zhahir maupun yang bathin. Yang ketiga ini adalah definisi yang paling lengkap.
Ibadah terbagi menjadi ibadah hati, lisan, dan anggota badan. Rasa khauf (takut), raja’ (mengharap), mahabbah (cinta), tawakkal (ketergantungan), raghbah (senang), dan rahbah (takut) adalah ibadah qalbiyah (yang berkaitan dengan hati). Sedangkan tasbih, tahlil, takbir, tahmid dan syukur dengan lisan dan hati adalah ibadah lisaniyah qalbiyah (lisan dan hati). Sedangkan shalat, zakat, haji, dan jihad adalah ibadah badaniyah qalbiyah (fisik dan hati). Serta masih banyak lagi macam-macam ibadah yang berkaitan dengan amalan hati, lisan dan badan.
Ibadah inilah yang menjadi tujuan penciptaan manusia. Allah berfirman:
“Artinya : Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku. Aku tidak menghen-daki rizki sedikit pun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi makan kepada-Ku. Sesungguhnya Allah Dia-lah Maha Pemberi rizki Yang mempunyai kekuatan lagi sangat kokoh.” [Adz-Dzaariyaat : 56-58]
Allah Azza wa Jalla memberitahukan bahwa hikmah penciptaan jin dan manusia adalah agar mereka melaksanakan ibadah hanya kepada Allah Azza wa Jalla. Dan Allah Mahakaya, tidak membutuhkan ibadah mereka, akan tetapi merekalah yang membutuhkan-Nya, karena ketergantungan mereka kepada Allah, maka barangsiapa yang menolak beribadah kepada Allah, ia adalah sombong. Siapa yang beribadah kepada-Nya tetapi dengan selain apa yang disyari’atkan-Nya, maka ia adalah mubtadi’ (pelaku bid’ah). Dan barangsiapa yang beribadah kepada-Nya hanya dengan apa yang disyari’atkan-Nya, maka ia adalah mukmin muwahhid (yang mengesakan Allah).

B. Pilar-Pilar Ubudiyyah Yang Benar
Sesungguhnya ibadah itu berlandaskan pada tiga pilar pokok, yaitu: hubb (cinta), khauf (takut), raja’ (harapan).

Rasa cinta harus disertai dengan rasa rendah diri, sedang-kan khauf harus dibarengi dengan raja’. Dalam setiap ibadah harus terkumpul unsur-unsur ini. Allah berfirman tentang sifat hamba-hamba-Nya yang mukmin:
“Artinya : Dia mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya.” [Al-Maa-idah: 54]
“Artinya : Adapun orang-orang yang beriman sangat besar cinta-nya kepada Allah.” [Al-Baqarah: 165]
“Artinya : Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) kebaikan dan mereka berdo’a kepada Kami dengan penuh harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu’ kepada Kami.” [Al-Anbiya’: 90]
Sebagian Salaf berkata [2], “Siapa yang beribadah kepada Allah dengan rasa cinta saja, maka ia adalah zindiq [3], siapa yang beribadah kepada-Nya dengan raja’ saja, maka ia adalah murji’[4]. Dan siapa yang beribadah kepada-Nya hanya dengan khauf, maka ia adalah haruriy [5]. Barangsiapa yang beribadah kepada-Nya dengan hubb, khauf, dan raja’, maka ia adalah mukmin muwahhid.”

C. Syarat Diterimanya Ibadah
Ibadah adalah perkara tauqifiyah yaitu tidak ada suatu bentuk ibadah yang disyari’atkan kecuali berdasarkan Al-Qur-an dan As-Sunnah. Apa yang tidak disyari’atkan berarti bid’ah mardudah (bid’ah yang ditolak) sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
“Artinya : Barangsiapa yang beramal tanpa adanya tuntunan dari kami, maka amalan tersebut tertolak.” [6]
Agar dapat diterima, ibadah disyaratkan harus benar. Dan ibadah itu tidak bisa dikatakan benar kecuali dengan adanya dua syarat:
[a]. Ikhlas karena Allah semata, bebas dari syirik besar dan kecil.
[b]. Ittiba’, sesuai dengan tuntunan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam
Syarat yang pertama merupakan konsekuensi dari syahadat laa ilaaha illallaah, karena ia mengharuskan ikhlas beribadah hanya kepada Allah dan jauh dari syirik kepada-Nya. Sedangkan syarat kedua adalah konsekuensi dari syahadat Muhammad Rasulullah, karena ia menuntut wajib-nya taat kepada Rasul, mengikuti syari’atnya dan meninggal-kan bid’ah atau ibadah-ibadah yang diada-adakan.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.
“Artinya : (Tidak demikian) bahkan barangsiapa yang menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah, dan ia berbuat kebajikan, maka baginya pahala di sisi Rabb-nya dan tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati.” [Al-Baqarah: 112]
Aslama wajhahu (menyerahkan diri) artinya memurnikan ibadah kepada Allah. Wahua muhsin (berbuat kebajikan) artinya mengikuti Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam
Syaikhul Islam mengatakan, “Inti agama ada dua pilar yaitu kita tidak beribadah kecuali hanya kepada Allah, dan kita tidak beribadah kecuali dengan apa yang Dia syari’at-kan, tidak dengan bid’ah.”
Sebagaimana Allah berfirman.
“Artinya : Maka barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Rabb-nya maka hendaknya ia mengerjakan amal shalih dan janganlah ia mempersekutukan sesuatu pun dalam ber-ibadah kepada Rabb-nya.” [Al-Kahfi: 110]

Hal yang demikian itu merupakan manifestasi (perwujudan) dari dua kalimat syahadat Laa ilaaha illallaah, Muhammad Rasulullah.
Pada yang pertama, kita tidak beribadah kecuali kepada-Nya. Pada yang kedua, bahwasanya Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah utusan-Nya yang menyampaikan ajaran-Nya. Maka kita wajib membenarkan dan mempercayai beritanya serta mentaati perintahnya. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan bagai-mana cara kita beribadah kepada Allah, dan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang kita dari hal-hal baru atau bid’ah. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan bahwa semua bid’ah itu sesat. [7]
Bila ada orang yang bertanya: “Apa hikmah di balik kedua syarat bagi sahnya ibadah tersebut?”
Jawabnya adalah sebagai berikut:
[1]. Sesungguhnya Allah memerintahkan untuk mengikhlaskan ibadah kepada-Nya semata. Maka, beribadah kepada selain Allah di samping beribadah kepada-Nya adalah kesyirikan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.
“Artinya : Maka sembahlah Allah dengan tulus ikhlas beragama kepada-Nya.” [Az-Zumar: 2]
[2]. Sesungguhnya Allah mempunyai hak dan wewenang Tasyri’ (memerintah dan melarang). Hak Tasyri’ adalah hak Allah semata. Maka, barangsiapa beribadah kepada-Nya bukan dengan cara yang diperintahkan-Nya, maka ia telah melibatkan dirinya di dalam Tasyri’.
[3]. Sesungguhnya Allah telah menyempurnakan agama bagi kita[8] Maka, orang yang membuat tata cara ibadah sendiri dari dirinya, berarti ia telah menambah ajaran agama dan menuduh bahwa agama ini tidak sempurna (mempunyai kekurangan).
[4]. Dan sekiranya boleh bagi setiap orang untuk beribadah dengan tata cara dan kehendaknya sendiri, maka setiap orang menjadi memiliki caranya tersendiri dalam ibadah. Jika demikian halnya, maka yang terjadi di dalam ke-hidupan manusia adalah kekacauan yang tiada taranya karena perpecahan dan pertikaian akan meliputi ke-hidupan mereka disebabkan perbedaan kehendak dan perasaan, padahal agama Islam mengajarkan kebersamaan dan kesatuan menurut syari’at yang diajarkan Allah dan Rasul-Nya.

D. Keutamaan Ibadah
Ibadah di dalam syari’at Islam merupakan tujuan akhir yang dicintai dan diridhai-Nya. Karenanyalah Allah men-ciptakan manusia, mengutus para Rasul dan menurunkan Kitab-Kitab suci-Nya. Orang yang melaksanakannya di-puji dan yang enggan melaksanakannya dicela.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.
“Artinya : Dan Rabb-mu berfirman, ‘Berdo’alah kepada-Ku, nis-caya akan Aku perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang sombong tidak mau beribadah kepada-Ku akan masuk Neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.’” [Al-Mu’min: 60]
Ibadah di dalam Islam tidak disyari’atkan untuk mem-persempit atau mempersulit manusia, dan tidak pula untuk menjatuhkan mereka di dalam kesulitan. Akan tetapi ibadah itu disyari’atkan untuk berbagai hikmah yang agung, kemashlahatan besar yang tidak dapat dihitung jumlahnya. Pelaksanaan ibadah dalam Islam semua adalah mudah.
Di antara keutamaan ibadah bahwasanya ibadah mensucikan jiwa dan membersihkannya, dan mengangkatnya ke derajat tertinggi menuju kesempurnaan manusiawi.
Termasuk keutamaan ibadah juga bahwasanya manusia sangat membutuhkan ibadah melebihi segala-galanya, bahkan sangat darurat membutuhkannya. Karena manusia secara tabi’at adalah lemah, fakir (butuh) kepada Allah. Sebagaimana halnya jasad membutuhkan makanan dan minuman, demi-kian pula hati dan ruh memerlukan ibadah dan menghadap kepada Allah. Bahkan kebutuhan ruh manusia kepada ibadah itu lebih besar daripada kebutuhan jasadnya kepada makanan dan minuman, karena sesungguhnya esensi dan subtansi hamba itu adalah hati dan ruhnya, keduanya tidak akan baik kecuali dengan menghadap (bertawajjuh) kepada Allah dengan beribadah. Maka jiwa tidak akan pernah merasakan kedamaian dan ketenteraman kecuali dengan dzikir dan beribadah kepada Allah. Sekalipun seseorang merasakan kelezatan atau kebahagiaan selain dari Allah, maka kelezatan dan kebahagiaan tersebut adalah semu, tidak akan lama, bahkan apa yang ia rasakan itu sama sekali tidak ada kelezatan dan kebahagiaannya.
Adapun bahagia karena Allah dan perasaan takut kepada-Nya, maka itulah kebahagiaan yang tidak akan terhenti dan tidak hilang, dan itulah kesempurnaan dan keindahan serta kebahagiaan yang hakiki. Maka, barangsiapa yang meng-hendaki kebahagiaan abadi hendaklah ia menekuni ibadah kepada Allah semata. Maka dari itu, hanya orang-orang ahli ibadah sejatilah yang merupakan manusia paling bahagia dan paling lapang dadanya.
Tidak ada yang dapat menenteramkan dan mendamaikan serta menjadikan seseorang merasakan kenikmatan hakiki yang ia lakukan kecuali ibadah kepada Allah semata. Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Tidak ada kebahagiaan, kelezatan, kenikmatan dan kebaikan hati melainkan bila ia meyakini Allah sebagai Rabb, Pencipta Yang Maha Esa dan ia beribadah hanya kepada Allah saja, sebagai puncak tujuannya dan yang paling dicintainya daripada yang lain.[9]
Termasuk keutamaan ibadah bahwasanya ibadah dapat meringankan seseorang untuk melakukan berbagai kebajikan dan meninggalkan kemunkaran. Ibadah dapat menghibur seseorang ketika dilanda musibah dan me-ringankan beban penderitaan saat susah dan mengalami rasa sakit, semua itu ia terima dengan lapang dada dan jiwa yang tenang.
Termasuk keutamaannya juga, bahwasanya seorang hamba dengan ibadahnya kepada Rabb-nya dapat mem-bebaskan dirinya dari belenggu penghambaan kepada makhluk, ketergantungan, harap dan rasa cemas kepada mereka. Maka dari itu, ia merasa percaya diri dan berjiwa besar karena ia berharap dan takut hanya kepada Allah saja.
Keutamaan ibadah yang paling besar bahwasanya ibadah merupakan sebab utama untuk meraih keridhaan Allah Subhanahu wa Ta’ala, masuk Surga dan selamat dari siksa Neraka.
Foote Note
[1]. Pembahasan ini dinukil dari kitab ath-Thariiq ilal Islaam (cet. Darul Wathan, th. 1421 H) oleh Syaikh Muhammad bin Ibrahim al-Hamd, al-‘Ubudiyyah oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah tahqiq Syaikh ‘Ali bin Hasan ‘Abdul Hamid, dan Mawaaridul Amaan al-Muntaqa min Ighaatsatul Lahafan oleh Syaikh ‘Ali bin Hasan ‘Abdul Hamid.
[2]. Lihat al-‘Ubuudiyyah oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, tahqiq Syaikh ‘Ali bin Hasan bin ‘Ali ‘Abdul Hamid al-Halaby al-Atsary (hal. 161-162), Maktabah Darul Ashaalah 1416 H
[3]. Zindiq adalah orang yang munafik, sesat dan mulhid.
[4]. Murji’ adalah orang murji’ah, yaitu golongan yang mengatakan bahwa amal bukan bagian dari iman, iman hanya dalam hati.
[5]. Haruriy adalah orang dari golongan khawarij yang pertama kali muncul di Harura’, dekat Kufah, yang berkeyakinan bahwa orang mukmin yang berdosa besar adalah kafir.
[6]. HR. Muslim (no. 1718 (18)) dan Ahmad (VI/146; 180; 256), dari hadits ‘Aisyah Radhiyallahu anha.
[7]. Lihat al-‘Ubudiyyah oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, tahqiq ‘Ali Hasan ‘Ali ‘Abdul Hamid (hal. 221-222).
[8]. Lihat surat Al-Maa-idah ayat 3.
[9]. Mawaaridul Amaan al-Muntaqa min Ighatsatul Lahafan (hal. 67), oleh Syaikh ‘Ali Hasan ‘Ali ‘Abdul Hamid

PRINSIP-PRINSIP DASAR ISLAM

Disalin dari buku Prinsip-Prinsip Aqidah Ahlus Sunnah
Wal-Jama'ah oleh Syaikh Prof.Dr. Sholeh bin Fauzan bin
Abdullah Al-Fauzan(Guru Besar Univ. Ibnu Su'ud dan
IMam Masjid di Riyadh Saudi Arabia), diterbitkan oleh
Dar Al-Gasem Saudi Arabia PO Box 6373 Riyadh 11442,
penerjemah Abu Aasia.

PENDAHULUAN
Segala puji bagi Allah Rab semesta alam yang telah
menunjuki kita sekalian kepada cahaya Islam dan
sekali-kali kita tidak akan mendapat petunjuk jika
Allah tidak memberi kita petunjuk. Kita memohon
kepada-Nya agar kita senantiasa ditetapkan di atas
hidayah-Nya sampai akhir hayat, sebagaimana
difirmankan Allah Subhanahu wa Ta'ala.

"Artinya : Hai orang-orang yang beriman,
bertaqwalah kepada Allah dengan sebenar-benar taqwa
kepada-Nya, dan janganlah sekali-kali kamu mati
kecuali dalam keadaan Islam". (Ali-Imran : 102).

Begitu pula kita memohon agar hati kita tidak
dicondongkan kepada kesesatan setelah kita mendapat
petunjuk.

"Artinya : Ya Allah, janganlah engkau palingkan
hati-hati kami setelah engkau memberi kami hidayah".
(Ali Imran : 8).

Dan semoga shalawat serta salam senantiasa Allah
limpahkan kepada Nabi kita, suri tauladan dan kekasih
kita, Rasulullah Muhammad Shallallahu 'alaihi wa
sallam, yang telah diutus-Nya sebagai rahmat bagi alam
semesta. Dan semoga ridla-Nya selalu dilimpahkan
kepada para sahabatnya yang shalih dan suci, baik dari
kalangan Muhajirin maupun Anshar, serta kepada para
pengikutnya yang setia selama ada waktu malam dan
siang.

Wa ba'du : Inilah beberapa kalimat ringkas tentang
penjelasan 'Aqidah Ahlus Sunnah Wal-Jama'ah yang pada
kenyataan hidup masa kini diperselisihkan oleh umat
Islam sehingga mereka terpecah belah. Hal itu terbukti
dengan tumbuhnya berbagai kelompok (da'wah)
kontemporer dan jama'ah-jama'ah yang berbeda-beda.
Masing-masing menyeru manusia (umat Islam) kepada
golongannya ; mengklaim bahwa diri dan golongan
merekalah yang paling baik dan benar, sampai-sampai
seorang muslim yang masih awam menjadi bingung kepada
siapakah dia belajar Islam dan kepada jama'ah mana dia
harus ikut bergabung. Bahkan seorang kafir yang ingin
masuk Islam-pun bingung. Islam apakah yang benar yang
harus di dengar dan dibacanya ; yakni ajaran Islam
yang bersumber kepada Al-Qur'an dan As-Sunnah yang
telah diterapkan dan tergambar dalam kehidupan para
sahabat Rasulullah yang mulia dan telah menjadi
pedoman hidup sejak berabad-abad yang lalu ; namun
justru dia hanya bisa melihat Islam sebagai sebuah
nama besar tanpa arti bagi dirinya.

Begitulah yang pernah dikatakan oleh seorang
orientalis tentang Islam : "Islam itu tertutup oleh
kaumnya sendiri", yakni orang-orang yang mengaku-ngaku
muslim tetapi tidak konsisten (menetapi) dengan ajaran
Islam yang sebenarnya.

Kami tidak mengatakan bahwa Islam telah hilang
seluruhnya oleh karena Allah telah menjamin
kelanggengan Islam ini dengan keabadian Kitab-Nya
sebagaimana Dia telah berfirman.

"Artinya : Sesungguhnya Kamilah yang telah
menurunkan Al-Qur'an, dan sesungguhnya Kami
benar-benar memeliharanya". (Al-Hijr : 9).

Maka, Pastilah akan senantiasa ada segolongan kaum
muslimin yang tetap teguh (konsisten) memegang
ajarannya dan memelihara serta membelanya sebagaimana
di firmankan Allah Subhanahu wa Ta'ala.

"Artinya : Hai orang-orang yang beriman,
barangsiapa diantara kamu yang murtad dari agamanya
(dari Islam), maka kelak Allah akan mendatangkan suatu
kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun
mencintai-Nya, yang bersikap lembut terhadap
orang-orang mu'min, yang bersikap keras terhadap
orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan
yang tidak takut kepada celaan orang-orang yang suka
mencela ...". (Al-Maaidah : 54).

Dan firman Allah.

"Artinya : Ingatlah kamu ini. orang-orang yang
diajak untuk menafkahkan (hartamu) di jalan Allah.
Maka diantara kamu ada yang bakhil barang siapa bakhil
berarti dia bakhil pada dirinya sendiri, Allah Maha
Kaya dan kamu orang-orang yang membutuhkan-Nya, dan
jika kamu berpaling, niscaya Dia akan mengganti (
kamu) dengan kaum selain kalian dan mereka tidak akan
seperti kamu ini". (Muhammad : 38).

Golongan atau jama'ah yang dimaksud adalah seperti
yang disabdakan oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa
sallam dalam hadits :

"Artinya : Akan senantiasa ada segolongan dari
umatku yang tetap membela al-haq, mereka senantiasa
unggul, yang menghina dan menentang mereka tidak akan
mampu membahayakan mereka hingga datang keputusan
Allah (Tabaraka wa Ta'la), sedang mereka tetap dalam
keadaan yang demikian". (Dikeluarkan oleh Imam
Al-Bukhari 4/3641, 7460; dan Imam Muslim 5 juz 13,
hal. 65-67 pada syarah Imam Nawawy).

Bertolak dari sinilah kita dan siapa saja yang ingin
mengenal Islam yang benar beserta pemeluknya yang
setia harus mengenal golongan yang diberkahi ini dan
yang mewakili Islam yang benar, Semoga Allah
menjadikan kita termasuk dalam golongan ini agar kita
bisa mengambil contoh dari berjalan pada jalan mereka
dan agar supaya orang kafir yang ingin masuk Islam
itupun dapat mengetahui untuk kemudian bisa bergabung.
AL-FIRQOTUN NAJIYAH ADALAH AHLUS SUNNAH WAL-JAMA'AH
Pada masa kepemimpinan Rasulullah Shallallahu 'alaihi
wa sallam kaum muslimin itu adalah umat yang satu
sebagaimana di firmankan Allah Subhanahu wa Ta'ala.

"Artinya : Sesungguhnya kalian adalah umat yang
satu dan Aku (Allah) adalah Rab kalian, maka
beribadahlah kepada-Ku". (Al-Anbiyaa : 92).

Maka kemudian sudah beberapa kali kaum Yahudi dan
munafiqun berusaha memecah belah kaum muslimin pada
zaman Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, namun
mereka belum pernah berhasil. Telah berkata kaum
munafiq.

"Artinya : Janganlah kamu berinfaq kepada
orang-orang yang berada di sisi Rasulullah, supaya
mereka bubar".

Yang kemudian dibantah langsung oleh Allah (pada
lanjutan ayat yang sama) :

"Padahal milik Allah-lah perbandaharaan langit dan
bumi, akan tetapi orang-orang munafiq itu tidak
memahami". (Al-Munafiqun : 7).

Demikian pula, kaum Yahudi-pun berusaha memecah belah
dan memurtadkan mereka dari Ad-Din mereka.

"Artinya : Segolongan (lain) dari Ahli Kitab telah
berkata (kepada sesamanya) : (pura-pura) berimanlah
kamu kepada apa yang diturunkan kepada orang-orang
beriman (para sahabat Rasul) pada permulaan siang dan
ingkarilah pada akhirnya, mudah-mudahan (dengan cara
demikian) mereka (kaum muslimin) kembali kepada
kekafiran". (Ali Imran : 72).

Walaupun demikian, makar yang seperti itu tidak pernah
berhasil karena Allah menelanjangi dan menghinakan
(usaha) mereka.
Kemudian mereka berusaha untuk kedua kalinya mereka
berusaha kembali memecah belah kesatuan kaum muslimin
(Muhajirin dan Anshar) dengan mengibas-ngibas kaum
Anshar tentang permusuhan diantara mereka sebelum
datangnya Islam dan perang sya'ir diantara mereka.
Allah membongkar makar tersebut dalam firman-Nya.

"Artinya : Hai orang-orang yang beriman, jika
kalian mengikuti segolongan orang-orang yang diberi
Al-Kitab niscaya mereka akan mengembalikan kalian
menjadi orang kafir sesudah kalian beriman".(Ali Imran
: 100).

Sampai pada firman Allah.

"Artinya : Pada hari yang diwaktu itu ada
wajah-wajah berseri-seri dan muram ....." (Ali-Imran :
106).

Maka kemudian Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam
mendatangi kaum Anshar : menasehati dan mengingatkan
mereka ni'mat Islam dan bersatunya merekapun melalui
Islam, sehingga pada akhirnya mereka saling bersalaman
dan berpelukan kembali setelah hampir terjadi
perpecahan. (Lihat Tafsir Ibnu Katsir I/397 dan
Asbabun Nuzul Al-Wahidy hal. 149-150) . Dengan
demikian gagallah pula makar Yahudi dan tetaplah kaum
muslimin berada dalam persatuan. Allah memang
memerintahkan mereka untuk bersatu di atas Al-Haq dan
melarang perselisihan dan perpecahan sebagaimana
firman-Nya.

"Artinya : Dan janganlah kamu menyerupai
orang-orang yang berpecah belah dan beselisih sesudah
datangnya keterangan yang jelas ......".(Ali-Imran :
105).

Dan firman-Nya pula.

"Artinya : Dan berpeganglah kamu semuanya kepada
tali (agama) Allah, dan janganlah kamu berpecah-belah
....".(Ali-Imran : 103).

Dan sesungguhnya Allah telah mensyariatkan persatuan
kepada mereka dalam melaksanakan berbagai macam ibadah
: seperti shalat, dalam shiyam, dalam menunaikan haji
dan dalam mencari ilmu. Nabi Muhammad Shallallahu
'alaihi wa sallam-pun telah memerintahkan kaum
muslimin ini agar bersatu dan melarang mereka dari
perpecahan dan perselisihan. Bahkan beliau telah
memberitahukan suatu berita yang berisi anjuran untuk
bersatu dan larangan untuk berselisih, yakni berita
tentang akan terjadinya perpecahan pada umat ini
sebagaimana hal tersebut telah terjadi pada umat-umat
sebelumnya ; sabdanya.

"Artinya : Sesunguhnya barangsiapa yang masih
hidup diantara kalian dia akan melihat perselisihan
yang banyak, maka berpegang teguhlah kalian dengan
sunnah-Ku dan sunnah Khulafaa'rasiddin yang mendapat
petunjuk setelah Aku". (Dikeluarkan oleh Abu Dawud
5/4607 dan Tirmidzi 5/2676 dan Dia berkata hadits ini
hasan shahih ; juga oleh Imam Ahmad 4/126-127 dan Ibnu
Majah 1/43).

Dan sabdanya pula.

"Artinya : Telah berpecah kaum Yahudi menjadi
tujuh puluh satu golongan ; dan telah berpecah kaum
Nashara menjadi tujuh puluh dua golongan ; sedang
umatku akan berpecah menjadi tujuh puluh tiga
golongan, semuanya akan masuk neraka kecuali satu.
Maka kami-pun bertanya, siapakah yang satu itu ya
Rasulullah ..? ; beliau menjawab : yaitu barang-siapa
yang berada pada apa-apa yang aku dan para sahabatku
jalani hari ini". (Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi
5/2641 dan Al-Hakim di dalam Mustadraknya I/128-129,
dan Imam Al-Ajury di dalam Asy-Syari'ah hal.16 dan
Imam Ibnu Nashr Al-Mawarzy di dalam As-Sunnah hal
22-23 cetakan Yayasan Kutubus Tsaqofiyyah 1408, dan
Imam Al-Lalikaai dalam Syar Ushul I'tiqaad Ahlus
Sunnah Wal-Jama'ah I nomor 145-147).

Sesungguhnya telah nyata apa-apa yang telah
diberitakan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam,
maka berpecahlah umat ini pada akhir generasi sahabat
walaupun perpecahan tersebut tidak berdampak besar
pada kondisi umat semasa generasi yang dipuji oleh
Rasulullah dalam sabdanya.

"Artinya : Sebaik-baik kalian adalah generasiku,
kemudian generasi yang datang sesudahnya, kemudian
yang datang sesudahnya". (Dikeluarkan oleh Bukhari
3/3650, 3651 dan Muslim 6/juz 16 hal 86-87 Syarah
An-Nawawy).

Perawi hadits ini berkata : "saya tidak tahu apakah
Rasulullah menyebut setelah generasinya dua atau tiga
kali".
Yang demikian tersebut bisa terjadi karena masih
banyaknya ulama dari kalangan muhadditsin, mufassirin
dan fuqaha. Mereka termasuk sebagai ulama tabi'in dan
pengikut para tabi'in serta para imam yang empat dan
murid-murid mereka. Juga disebabkan masih kuatnya
daulah-dualah Islamiyah pada abad-abad tersebut,
sehingga firqah-firqah menyimpang yang mulai ada pada
waktu itu mengalami pukulan yang melumpuhkan baik dari
segi hujjah maupun kekuatannya.

Setelah berlalunya abad-abad yang dipuji ini
bercampurlah kaum muslimin dengan pemeluk beberapa
agama-agama yang bertentangan. Diterjemahkannya kitab
ilmu ajaran-ajaran kuffar dan para raja Islam-pun
mengambil beberapa kaki tangan pemeluk ajaran kafir
untuk dijadikan menteri dan penasihat kerajaan, maka
semakin dahsyatlah perselisihan di kalangan umat dan
bercampurlah berbagai ragam golongan dan ajaran.
Begitupun madzhab-madzhab yang batilpun ikut bergabung
dalam rangka merusak persatuan umat.

Hal itu terus berlangsung hingga zaman kita sekarang
dan sampai masa yang dikehendaki Allah. Walaupun
demikian kita tetap bersyukur kepada Allah karena
Al-Firqatun Najiyah Ahlus Sunnah Wal Jama'ah masih
tetap berada dalam keadaan berpegang teguh dengan
ajaran Islam yang benar berjalan diatasnya, dan
menyeru kepadanya ; bahkan akan tetap berada dalam
keadaan demikian sebagaimana diberitakan dalam hadits
Rasulullah tentang keabadiannya, keberlangsungannya
dan ketegarannya. Yang demikian itu adalah karunia
dari Allah demi langgenggnya Din ini dan tegaknya
hujjah atas para penentangnya.

Sesungguhnya kelompok kecil yang diberkahi ini berada
di atas apa-apa yang pernah ada semasa sahabat
Radhiyallahu 'anhum bersama Rasulullah Shallallahu
'alaihi wa sallam baik dalam perkataan perbuatan
maupun keyakinannya seperti yang disabdakan oleh
beliau.

"Artinya : Mereka yaitu barangsiapa yang berada
pada apa-apa yang aku dan para sahabatku jalani hari
ini" (Telah berlalu penjelasannya di atas -peny).

Sesungguhnya mereka itu adalah sisa-sisa yang baik
dari orang-orang yang tentang mereka Allah telah
berfirman.

"Artinya : Maka mengapakah tidak ada dari
umat-umat sebelum kamu orang-orang yang mempunyai
keutamaan (shalih) yang melarang dari berbuat
kerusakan di muka bumi kecuali sebagian kecil diantara
orang-orang yang telah kami selamatkan diantara
mereka, dan orang-orang yang dzolim hanya mementingkan
kemewahan yang ada pada mereka ; dan mereka adalah
orang-orang yang berdosa". (Huud : 116).
Sesungguhnynya Ahlus Sunnah wal Jama'ah berjalan di
atas prinsip-prinsip yang jelas dan kokoh baik dalam
itiqad, amal maupun perilakunya. Seluruh
prinsip-prinsip yang agung ini bersumber pada kitab
Allah dan Sunnah Rasul-Nya dan apa-apa yang dipegang
oleh para pendahulu umat dari kalangan sahabat,
tabi'in dan para pengikut mereka yang setia.
Prinsip-prinsip tersebut teringkas dalam butir-butir
berikut.
Prinsip Pertama.
Beriman kepada Allah, para Malaikat-Nya,
Kitab-kitab-Nya, Rasul-rasul-Nya, Hari Akhir dan
Taqdir baik dan buruk.
1. Iman kepada Allah
Beriman kepada Allah artinya berikrar dengan
macam-macam tauhid yang tiga serta beriti'qad dan
beramal dengannya yaitu tauhid rububiyyah, tauhid
uluuhiyyah dan tauhid al-asmaa wa -ash-shifaat. Adapun
tauhid rububiyyah adalah menatauhidkan segala apa yang
dikerjakan Allah baik mencipta, memberi rizki,
menghidupkan dan mematikan ; dan bahwasanya Dia itu
adalah Raja dan Penguasa segala sesuatu.
Tauhid uluuhiyyah artinya mengesakan Allah melalui
segala pekerjaan hamba yang dengan cara itu mereka
bisa mendekatkan diri kepada Allah apabila memang hal
itu disyari'atkan oleh-Nya seperti berdo'a, takut,
rojaa' (harap), cinta, dzabh (penyembelihan), nadzr
(janji), isti'aanah (minta pertolongan),
al-istighotsah (minta bantuan), al-isti'adzah (meminta
perlindungan), shalat, shaum, haji, berinfaq di jalan
Allah dan segala apa saja yang disyari'atkan dan
diperintahkan Allah dengan tidak menyekutukan-Nya
dengan sesuatu apapun baik seorang malaikat, nabi,
wali maupun yang lainnya.
Sedangkan makna tauhid al-asma wash-shifaat adalah
menetapkan apa-apa yang Allah dan Rasuln-Nya telah
tetapkan atas diri-Nya baik itu berkenaan dengan
nama-nama maupun sifat-sifat Allah dan mensucikan-Nya
dari segala 'aib dan kekurangan sebagaimana hal
tersebut telah disucikan oleh Allah dan Rasul-Nya.
Semua ini kita yakini tanpa melakukan tamtstil
(perumpamaan), tanpa tasybiih (penyerupaan), tahrif
(penyelewengan), ta'thil (penafian), dan tanpa takwil
; seperti difirmankan Allah Subhanahu wa Ta'ala.

"Artinya : Tak ada sesuatupun yang menyerupai-Nya
dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui".
(Asy-Syuro : 11)

Dan firman Allah pula.

"Artinya : Dan Allah mempunyai nama-nama yang
baik, maka berdo'alah kamu dengannya". (Al-A'raf :
180).

2. Beriman kepada Para Malaikat-Nya
Yakni membenarkan adanya para malaikat dan bahwasanya
mereka itu adalah mahluk dari sekian banyak mahluk
Allah, diciptakan dari cahaya. Allah mencitakan
malaikat dalam rangka untuk beribadah kepada-Nya dan
menjalankan perintah-perintah-Nya di dunia ini,
sebagaimana difirmankan Allah.

"Artinya : ....Bahkan malaikat-malaikat itu adalah
mahluk yang dumuliakan, mereka tidak mendahulu-Nya
dalam perkataan dan mereka mengerjakan
perintah-perintah-Nya". (Al-Anbiyaa : 26-27).
"Artinya : Allahlah yang menjadikan para malaikat
sebagai utusan yang memiliki sayap dua, tiga dan empat
; Allah menambah para mahluk-Nya apa-apa yang Dia
kehendaki". (Faathir : 1)

3. Iman kepada Kitab-kitab-Nya
Yakni membenarkan adanya Kitab-kitab Allah beserta
segala kandungannya baik yang berupa hidayah
(petunjuk) dan cahaya serta mengimani bahwasanya yang
menurunkan kitab-kitab itu adalah Allah sebagai
petunjuk bagi seluruh manusia. Dan bahwasanya yang
paling agung diantara sekian banyak kitab-kitab itu
adalah tiga kitab yaitu Taurat, Injil dan Al-Qur'an
dan di antara ketiga kitab agung tersebut ada yang
teragung yakni Al-Qur'an yang merupakan mu'jizat yang
agung. Allah berfirman.

"Artinya : Katakanlah (Hai Muhammad) :
'sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk
membuat yang serupa Al-Qur'an niscaya mereka tidak
akan mampu melakukannya walaupun sesama mereka saling
bahu membahu". (Al-isra : 88)

Dan Ahlus Sunnah Wal Jama'ah mengimani bahwa Al-Qur'an
itu adalah kalam (firman) Allah ; dan dia bukanlah
mahluq baik huruf maupun artinya. Berebda dengan
pendapat golongan Jahmiyah dan Mu'tazilah, mereka
mengatakan bahwa Al-Qur'an adalah mahluk baik huruf
maupun maknanya. Berbeda pula dengan pendapat
Asyaa'irah dan yang menyerupai mereka, yang mengatakan
bahwa kalam (firman) Allah hanyalah artinya saja,
sedangkan huruf-hurufnya adalah mahluk. Menurut Ahlus
Sunnah wal Jama'ah, kedua pendapat tersebut adalah
bathil berdasarkan firman Allah.

"Artinya : Dan jika ada seorang dari kaum
musyrikin meminta perlindungan kepadamu, maka
lindungilah ia supaya ia sempat mendengar KALAM ALLAH
(Al-Qur'an)". (At-Taubah : 6)
"Artinya : Mereka itu ingin merubah KALAM
Allah".(Al-Fath : 15)

4. Iman Kepada Para Rasul
Yakni membenarkan semua rasul-rasul baik yang Allah
sebutkan nama mereka maupun yang tidak ; dari yang
pertama sampai yang terkahir, dan penutup para nabi
tersebut adalah nabi kita Muhammad Shallallahu 'alaihi
wa sallam. Artinya pula, beriman kepada para rasul
seluruhnya dan beriman kepada Nabi kita secara
terperinci serta mengimani bahwasanya beliau adalah
penutup para nabi dan rasul dan tidak ada nabi
sesudahnya ; maka barangsiapa yang keimanannya kepada
para rasul tidak demikian berarti dia telah kafir.
Termasuk pula beriman kepada para rasul adalah tidak
melalaikan dan tidak berlebih-lebihan terhadap hak
mereka dan harus berbeda dengan kaum Yahudi dan
Nashara yang berlebih-lebihan terhadap para rasul
mereka sehingga mereka menjadikan dan memperlakukan
para rasul itu seperti memperlakukan terhadap Tuhanya
(Allah) sebagaimana yang difirmankan Allah.

"Artinya : Dan orang-orang Yahudi berkata : 'Uzair
itu anak Allah ; dan orang-orang Nasharani berkata
:'Isa Al-Masih itu anak Allah...".( At-Taubah : 30)

Sedang orang-orang sufi dan para ahli filsafat telah
bertindak sebaliknya. Mereka telah meerendahkan dan
menghinakan hak para rasul dan lebih mengutamakan para
pemimpin mereka, sedang kaum penyembah berhala dan
atheis telah kafir kepada seluruh rasul tersebut.
Orang-orang Yahudi telah -kafir terhadap Nabi Isa dan
Muhammad 'alaihima shalatu wa sallam ; sedangkan
orang-orang Nashara telah kafir kepada Nabi Muhammad
Shallallahu 'alaihi wa sallam. Dan orang-orang yang
mengimani sebagian- mengingkari sebagian (dari para
rasul Allah), maka dia telah mengingkari dengan
seluruh rasul, Allah telah berfirman.

"Artinya : Sesungguhnya orang-orang yang kafur
kepada Allah dan Rasul-rasul-Nya dan bermaksud
memperbedakan antara (keimana kepada) Allah dan
Rasul-Nya, dengan mengatakan : Kami beriman kepada
yang sebagian dan kami kafir kepada sebagian (yang
lain), serta bermaksud (dengan perkataan itu)
mengambil jalan diantara yang demikian (iman dan
kafir) merekalah orang-orang yang kafir
sebenar-benarnya, kami telah menyediakan untuk mereka
siksa yang menghinakan". (An-Nisaa : 150-151).

Dan Allah juga berfirman.

"Artinya : Kami tidak mebeda-bedakan satu diantara
Rasul-rasul-Nya ....".(Al-Baqarah : 285)

5. Iman Kepada Hari Akhirat
Yakni membenarkan apa-apa yang akan terjadi setelah
kematian dari hal-hal yang telah diberitakan Allah dan
Rasul-Nya baik tentang adzab dan ni'mat kubur, hari
kebangkitan dari kubur, hari berkumpulnya manusia di
padang mahsyar, hari perhitungan dan ditimbangnya
segala amal perbuatn dan pemberian buku laporan amal
dengan tangan kanan atau kiri, tentang jembatan
(sirat), serta syurga dan neraka. Disamping itu
keimanan untuk bersiap sedia dengan amalan-amalan
sholeh dan meninggalkan amalan sayyi-aat (jahat) serta
bertaubat dari padanya.
Dan sungguh telah mengingkari adanya hari akhir
orang-orang musyrik dan kaum dahriyyun, sedang
orang-orang Yahudi dan Nashara tidak mengimani hal ini
dengan keimanan yan benar sesuai dengan tuntutan,
walau mereka beriman akan adanya hari akhir. Firman
Allah.

"Artinya : Dan mereka (Yahudi dan Nashara) berkata
: 'Sekali-kali tidaklah masuk syurga kecuali
orang-orang (yang beragama) Yahudi dan Nashara.
Demikianlah angan-angan mereka ......".(Al-Baqarah :
111).
"Artinya : Dan mereka berkata : Kami sekali-kali
tidak akan disentuh api neraka kecuali hanya dalam
beberapa hari saja". (Al-Baqarah : 80).

6. Iman kepada taqdir.
Yakni beriman bahwasanya Allah itu mengetahui apa-apa
yang telah terjadi dan yang akan terjadi; menentukan
dan menulisnya dalam lauhul mahfudz ; dan bahwasanya
segala sesuatu yang terjadi, baik maupun buruk, kafir,
iman, ta'at, ma'shiyat, itu telah dikehendaki,
ditentukan dan diciptakan-Nya ; dan bahwasanya Allah
itu mencintai keta'atan dan membenci kemashiyatan.
Sedang hamba Allah itu mempunyai kekuasaan, kehendak
dan kemampuan memilih terhadap pekerjaan-pekerjaan
yang mengantar mereka pada keta'atan atau ma'shiyat,
akan tetapi semua itu mengikuti kemauan dan kehendak
Allah. Berbeda dengan pendapat golongan Jabariyah yang
mengatakan bahwa manusia terpaksa dengan
pekerjaan-pekerjaannya tidak memiliki pilihan dan
kemampuan sebaliknya golongan Qodariyah mengatakan
bahwasanya hamba itu memiliki kemauan yang berdiri
sendiri dan bahwasanya dialah yang menciptkan
pekerjaan dirinya, kemauan dan kehendak hamba itu
terlepas dari kemauan dan kehendak Allah.
Allah benar-benar telah membantah kedua pendapat di
atas dengan firman-Nya.

"Artinya : Dan kamu tidak bisa berkemauan seperti
itu kecuali apabila Allah menghendakinya". (At-Takwir
: 29)

Dengan ayat ini Allah menetapkan adanya kehendak bagi
setiap hamba sebagai banyahan terhadap Jabariyah yang
ekstrim, bahkan menjadikannya sesuai dengan kehendak
Allah, hal ini merupakan bantahan atas golongan
Qodariyah. Dan beriman kepada taqdir dapat menimbulkan
sikap sabar sewaktu seorang hamba menghadapi cobaan
dan menjauhkannya dari segala perbuatan dosa dan
hal-hal yang tidak terpuji. bahkan dapat mendorong
orang tersebut untuk giat bekerja dan menjauhkan
dirinya dari sikap lemah, takut dan malas.
Prinsip Kedua
Dan diantara prinsip-prinsip Ahlus Sunnah wal Jama'ah
adalah : bahwasanya iman itu perkataan, perbuatan dan
keyakinan yang bisa bertambah dengan keta'atan dan
berkurang dengan kema'shiyatan, maka iman itu bukan
hanya perkataan dan perbuatan tanpa keyakinan sebab
yang demikian itu merupakan keimanan kaum munafiq, dan
bukan pula iman itu hanya sekedar ma'rifah
(mengetahui) dan meyakini tanpa ikrar dan amal sebab
yang demikian itu merupakan keimanan orang-orang kafir
yang menolak kebenaran. Allah berfirman.

"Artinya : Dan mereka mengingkarinya karena
kedzoliman dan kesombongan (mereka), padahal hati-hati
mereka meyakini kebenarannya, maka lihatlah kesudahan
orang-orang yang berbuat kerusakan itu". (An-Naml :
14)
"Artinya : ....... karena sebenarnya mereka bukan
mendustakanmu, akan tetapi orang-orang yang dzolim itu
menentang ayat-ayat Allah". (Al-An'aam : 33)
"Artinya : Dan kaum 'Aad dan Tsamud, dan sungguh
telah nyata bagi kamu kehancuran tempat-tempat tinggal
mereka. Dan syetan menjadikan mereka memandang baik
perbuatan mereka sehingga menghalangi mereka dari
jalan Allah padahal mereka adalah orang-orang yang
berpandangan tajam" (Al-Ankabut : 38)

Bukan pula iman itu hanya suatu keyakinan dalam hati
atau perkataan dan keyakinan tanpa amal perbuatan
karena yang demikian adalah keimanan golongan Murji'ah
; Allah seringkali menyebut amal perbuatan termasuk
iman sebagaimana tersebut dalam firman-Nya.

"Artinya : Sesungguhnya orang-orang yang beriman
hanyalah mereka yang apabila ia disebut nama Allah
tergetar hatinya, dan apabila dibacakan ayat-ayat
Allah bertambahlah imannya dan kepada Allahlah mereka
bertawakal, (yaitu) orang-orang yang mendirikan
shalat, dan yang menafkahkan apa-apa yang telah
dikaruniakan kepada mereka. Merekalah orang-orang
mu'min yang sebenarnya ..." (Al-Anfaal : 2-4).
"Artinya : Dan Allah tidak akan menyia-nyiakan
iman kalian" (Al-Baqarah : 143).

Prinsip Ketiga
Dan diantara prinsip-prinsip aqidah Ahlus Sunnah wal
Jama'ah adalah bahwasanya mereka tidak mengkafirkan
seorangpun dari kaum muslimin kecuali apabila dia
melakukan perbuatan yang membatalkan keislamannya.
Adapun perbuatan dosa besar selain syirik dan tidak
ada dalil yang menghukumi pelakunya sebagai kafir.
Misalnya meninggalkan shalat karena malas, maka pelaku
(dosa besar tersebut) tidak dihukumi kafir akan tetapi
dihukumi fasiq dan imannya tidak sempurna. Apabila dia
mati sedang dia belum bertaubat maka dia berada dalam
kehendak Allah. Jika Dia berkehendak Dia akan
mengampuninya, namun si pelaku tidak kekal di neraka,
telah berfirman Allah Subhanahu wa Ta'ala.

"Artinya : Sesungguhnya Allah tidak akan
mengampuni dosa syirik dan Dia mengampuni dosa-dosa
selainnya bagi siapa yang dikehendakinya ..."
(An-Nisaa : 48).

Dan madzhab Ahlus Sunnah wal Jama'ah dalam masalah ini
berada di tengah-tengah antara Khawarij yang
mengkafirkan orang-orang yang melakukan dosa besar
walau bukan termasuk syirik dan Murji'ah yang
mengatakan si pelaku dosa besar sebagai mu'min
sempurna imannya, dan mereka mengatakan pula tidak
berarti suatu dosa/ma'shiyat dengan adanya iman
sebagaimana tak berartinya suatu perbuatan ta'at
dengan adanya kekafiran.
Prinsip Keempat
Dan diantara prinsip-prinsip Ahlus Sunnah wal Jama'ah
adalah wajibnya ta'at kepada pemimpin kaum muslimin
selama mereka tidak memerintahkan untuk berbuat
kema'skshiyatan, apabila mereka memerintahkan
perbuatan ma'shiyat, dikala itulah kita dilarang untuk
menta'atinya namun tetap wajib ta'at dalam kebenaran
lainnya, sebagaimana firman Allah Ta'ala.

"Artinya : Hai orang-orang yang beriman, ta'atlah
kamu kepada Allah dan ta'atlah kepada Rasul serta para
pemimpin diantara kalian ..." (An-Nisaa : 59)

Dan sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam

"Artinya : Dan aku berwasiat kepada kalian agar
kalian bertaqwa kepada Allah dan mendengar dan ta'at
walaupun yang memimpin kalian seorang hamba".(Telah
terdahulu takhrijnya, merupakan potongan hadits
'Irbadh bin Sariyah tentang nasihat Nabi Shallallahu
'alaihi wa sallam kepada para sahabatnya).

Dan Ahlus Sunnah wal Jama'ah memandang bahwa ma'shiyat
kepada seorang amir yang muslim itu merupakan
ma'shiyat kepada Rasul Shallallahu 'alaihi wa sallam,
sebagaimana sabdanya.

"Artinya : Barangsiapa yang ta'at kepada amir
(yang muslim) maka dia ta'at kepadaku dan barangsiapa
yang ma'shiyat kepada amir maka dia ma'shiyat
kepadaku". (Dikelaurkan oleh Bukhari 4/7137, Muslim 4
Juz 12 hal. 223 atas Syarah Nawawi).

Demikian pula, Ahlus Sunnah wal Jama'ah-pun memandang
bolehnya shalat dan berjihad di belakang para amir dan
menasehati serta medo'akan mereka untuk kebaikan dan
keistiqomahan.
Prinsip Kelima
Dan diantara prinsip-prinsip Ahlus Sunnah wal Jama'ah
adalah haramnya keluar untuk memberontak terhadap
pemimpin kaum muslimin apabila mereka melakukan
hal-hal yang menyimpang, selama hal tersebut tidak
termasuk amalan kufur. Hal ini sesuai dengan perintah
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam tentang
wajibnya ta'at kepada mereka dalam hal-hal yang bukan
ma'shiyat dan selama belum tampak pada mereka
kekafiran yang jelas. Berlainan dengan Mu'tazilah yang
mewajibkan keluar dari kepemimpinan para imam/pemimpin
yang melakukan dosa besar walaupun belum termasuk
amalan kufur dan mereka memandang hal tersebut sebagai
amar ma'ruf nahi munkar. Sedang pada kenyataannya,
keyakinan Mu'tazilah seperti ini merupakan kemunkaran
yang besar karena menuntut adanya bahaya-bahaya yang
besar baik berupa kericuhan, keributan, perpecahan dan
kerawanan dari pihak musuh.
Prinsip Keenam
Dan diantara prinsip-prinsip Ahlus Sunnah wal Jama'ah
adalah bersihnya hati dan mulut mereka terhadap para
sahabat Rasul Radhiyallahu 'anhum sebagaimana hal ini
telah digambarkan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala
ketika mengkisahkan Muhajirin dan Anshar dan
pujian-pujian terhadap mereka.

"Artinya : Dan orang-orang yang datang sesudah
mereka mengatakan : Ya Allah, ampunilah kami dan
saudara-suadara kami yang telah mendahului kami dalam
iman dan janganlah Engkau jadikan dalam hati kami
kebencian kepada orang-orang yang beriman : Ya Allah,
sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha
Penyayang". (Al-Hasyr : 10).

Dan sesuai dengan sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi
wa sallam.

"Artinya : Janganlah kamu sekali-kali mencela
sahabat-sahabatku, maka demi dzat yang jiwaku
ditangan-Nya, kalau seandainya salah seorang diantara
kalian menginfakkan emas sebesar gunung uhud, niscaya
tidak akan mencapai segenggam kebaikan salah seorang
diantara mereka tidak juga setengahnya". (Dikeluarkan
oleh Bukhary 3/3673, dan Muslim 6/ Juz 16 hal 92-93
atas Syarah Nawawy).

Berlainan dengan sikap orang-orang ahlul bid'ah baik
dari kalangan Rafidhoh maupun Khawarij yang mencela
dan meremehkan keutamaan para sahabat.

Ahlus Sunnah memandang bahwa para khalifah setelah
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam adalah Abu
Bakar, kemudian Umar bin Khattab, Utsman bin Affan dan
Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu anhumajma'in.
Barangsiapa yang mencela salah satu khalifah diantara
mereka, maka dia lebih sesat daripada keledai karena
bertentangan dengan nash dan ijma atas kekhalifahan
mereka dalam silsilah seperti ini.

Prinsip Ketujuh
Dan diantara prinsip-prinsip Ahlus Sunnah wal Jama'ah
adalah mencintai ahlul bait sesuai dengan wasiat Rasul
Shallallahu 'alaihi wa sallam dengan sabdanya.

"Artinya : Sesunnguhnya aku mengingatkan kalian
dengan ahli baitku". ( Dikeluarkan Muslim 5 Juz 15,
hal 180 Nawawy, Ahmad 4/366-367 dan Ibnu Abi 'Ashim
dalam kitab As-Sunnah No. 629).

Sedang yang termasuk keluarga beliau adalah
istri-istrinya sebagai ibu kaum mu'minin Radhiyallahu
'anhunna wa ardhaahunna. Dan sungguh Allah telah
berfirman tentang mereka setelah menegur mereka.

"Artinya : Wahai wanita-wanita nabi
........".(Al-Ahzab : 32)

Kemudian mengarahkan nasehat-nasehat kepada mereka dan
menjanjikan mereka dengan pahala yang besar, Allah
berfirman.

"Artinya : Sesungguhnya Allah bermaksud hendak
menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan
mensucikan kamu sesuci-sucinya". ( Al-Ahzab : 33)

Pada pokoknya ahlul bait itu adalah saudara-saudara
dekat Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam dan yang
dimaksud disini khususnya adalah yang sholeh diantara
mereka. Sedang sudara-saudara dekat yang tidak sholeh
seperti pamannya, Abu Lahab maka tidak memiliki hak.
Allah berfirman.

"Artinya : Celakalah kedua tangan Abu Lahab, dan
sesungguhnya celaka dia". (Al-Lahab : 1).

Maka sekedar hubungan darah yang dekat dan bernisbat
kepada Rasul tanpa keshalehan dalam ber-din (Islam),
tidak ada manfaat dari Allah sedikitpun baginya, Rasul
Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.

"Artinya :Hai kaum Quraisy, belilah diri-diri
kamu, sebab aku tidak dapat memberi kamu manfaat di
hadapan Allah sedikitpun ; ya Abbas paman Rasulullah,
aku tidak dapat memberikan manfa'at apapun di hadapan
Allah. Ya Shofiyyah bibi Rasulullah, aku tidak dapat
memberi manfaat apapun di hadapan Allah, ya Fatimah
anak Muhammad, mintalah dari hartaku semaumu aku tidak
dapat memberikan manfaat apapun di hadapan Allah".
(Dikeluarkan oleh Bukhary 3/4771, 2/2753, Muslim 1 Juz
3 hal 80-81 Nawawy).

Dan saudara-saudara Rasulullah yang sholeh tersebut
mempunyai hak atas kita berupa penghormatan, cinta dan
penghargaan, namun kita tidak boleh berlebih-lebihan
terhadap mereka dengan mendekatkan diri dengan suatu
ibadah kepada mereka. Adapaun keyakinan bahwa mereka
memiliki kemampuan untuk memberi manfaat atau madlarat
selain dari Allah adalah bathil, sebab Allah telah
berfirman.

"Artinya : Katakanlah (hai Muhammad) : Bahwasanya
aku tidak kuasa mendatangkan kemadlaratan dan manfaat
bagi kalian". (Al-Jin : 21).

"Artinya : Katakanlah (hai Muhammad) : Aku tidak
memiliki manfaat atau madlarat atas diriku kecuali
apa-apa yang tidak dikehendaki oleh Allah , kalaulah
aku mengetahui yang ghaib sunguh aku aka perbanyak
berbuat baik dan aku tidak akan ditimpa kemadlaratan".
(Al-A'raf : 188)

Apabila Rasulullah saja demikian, maka bagaimana pula
yang lainnya. Jadi, apa yang diyakini sebagian manusia
terhadap kerabat Rasul adalah suatu keyakinan yang
bathil.

Prinsip Kedelapan
Dan diantara prinsip Ahlus Sunnah wal Jama'ah adalah
membenarkan adanya karomah para wali yaitu apa-apa
yang Allah perlihatkan melalui tangan-tangan sebagian
mereka, berupa hal-hal yang luar biasa sebagai
penghormatan kepada mereka sebagaimana hal tersebut
telah ditunjukkan dalam Al-Qur'an dan As-Sunnah.

Sedang golongan yang mengingkari adanya
karomah-karomah tersebut daintaranya Mu'tazilah dan
Jahmiyah, yang pada hakikatnya mereka mengingkari
sesuatu yang diketahuinya. Akan tetapi kita harus
mengetahui bahwa ada sebagian manusia pada zaman kita
sekarang yang tersesat dalam masalah karomah, bahkan
berlebih-lebihan, sehingga memasukkan apa-apa yang
sebenarnya bukan termasuk karomah baik berupa
jampi-jampi, pekerjaan para ahli sihir, syetan-syetan
dan para pendusta. Perbedaan karomah dan kejadian luar
biasa lainnya itu jelas, Karomah adalah kejadian luar
biasa yang diperlihatkan Allah kepada para hamba-Nya
yang sholeh, sedang sihir adalah keluar biasaan yang
biasa diperlihatkan para tukang sihir dari orang-orang
kafir dan atheis dengan maksud untuk menyesatkan
manusia dan mengeruk harta-harta mereka. Karomah
bersumber pada keta'atan, sedang sihir bersumber pada
kekafiran dan ma'shiyat.

Prinsip Kesembilan
Dan diantara prinsip-prinsip Ahlus Sunnah wal Jama'ah
adalah bahwa dalam berdalil selalu mengikuti apa-apa
yang datang dari Kitab Allah dan atau Sunnah
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam baik secara
lahir maupun bathin dan mengikuti apa-apa yang
dijalankan oleh para sahabat dari kaum Muhajirin
maupun Anshar pada umumnya dan khususnya mengikuti
Al-Khulafaur-rasyidin sebagaimana wasiat Rasulullah
dalam sabdanya.

"Artinya : Berepegang teguhlah kamu kepada
sunnahku dan sunnah khulafaur-rasyid-iin yang mendapat
petunjuk". (Telah terdahulu takhrijnya).

Dan Ahlus Sunnah wal Jama'ah tidak mendahulukan
perkataan siapapun terhadap firman Allah dan sabda
Rasulullah. Oleh karena itu mereka dinamakan Ahlul
Kitab Was Sunnah. Setelah mengambil dasar Al-Qur'an
dan As-Sunnah, mereka mengambil apa-apa yang telah
disepakati ulama umat ini. Inilah yang disebut dasar
yang pertama ; yakni Al-Qur'an dan As-Sunnah. Segala
hal yang diperselisihkan manusia selalu dikembalikan
kepada Al-Kitab dan As-Sunnah. Allah telah berfirman.

"Artinya : Maka jika kalian berselisih tentang
sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah dan Rasul-Nya
jika kamu benar-benar beriman pada Allah dan hari
akhir, yang demikian itu adalah lebih baik bagimu dan
lebih baik akibatnya". (An-Nisaa : 59)

Ahlus Sunnah tidak meyakini adanya kema'shuman
seseorang selain Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa
sallam dan mereka tidak berta'ashub pada suatu
pendapat sampai pendapat tersebut bersesuaian dengan
Al-Kitab dan As-Sunnah. Mereka meyakini bahwa mujtahid
itu bisa salah dan benar dalam ijtihadnya. Mereka
tidak boleh berijtihad sembarangan kecuali siapa yang
telah memenuhi persyaratan tertentu menurut ahlul
'ilmi.

Perbedaan-perbedaan diantara mereka dalam masalah
ijtihad tidak boleh mengharuskan adanya permusuhan dan
saling memutuskan hubungan diantara mereka,
sebagaimana dilakukan orang-orang yang ta'ashub dan
ahlul bid'ah. Sungguh mereka tetap metolerir perbedaan
yang layak (wajar), bahkan mereka tetap saling
mencintai dan berwali satu sama lain ; sebagian mereka
tetap shalat di belakang sebagian yang lain betapapun
adanya perbedaan masalah far'i (cabang) diantara
mereka. Sedang ahlul bid'ah saling memusuhi,
mengkafirkan dan menghukumi sesat kepada setiap orang
yang menyimpang dari golongan mereka.
Penutup
Kemudian dengan adanya prinsip-prinsip yang
dikemukakan dimuka, mereka senantiasa ber-akhlak mulia
sebagai pelengkap aqidah yang diyakininya.
Diantara sifat-sifat yang agung itu adalah.
Pertama
Mereka beramar ma'ruf dan nahi mungkar seperti yang
telah diwajibkan syari'at dalam firman Allah berikut.

"Artinya : Jadilah kalian umat yang terbaik yang
dilahirkan untuk manusia, beramar ma'ruf dan nahi
munkar dan kalian beriman kepada Allah". (Ali-Imran :
110).
"Artinya : Barangsiapa diantara kamu menyaksikan
suatu kemunkaran, maka hendaklah ia merubahnya dengan
tangannya, apabila tidak mampu maka rubahlah dengan
lisannya, dan apabila tidak mampu maka dengan hatinya
dan yang demikian itulah selemah-lemah iman".
(Dikeluarkan oleh Muslim 1/Juz 2 hal. 22-25 syarah
Nawawy dari Abu Sa'id Al-Khudry).

Sekali lagi, amar ma'ruf nahi munkar hanya terhadap
apa-apa yang diwajibkan oleh syari'at. Sedangkan
golongan Muta'zilah mengeluarkan amar ma'ruf dan nahi
munkar dari apa-apa yang diwajibkan oleh syara,
sehingga mereka berpandangan bahwa amar ma'ruf nahi
munkar adalah keluar dari para pemimpin kaum muslimin
apabila mereka melakukan ma'shiyat walaupun belum
termasuk perbuatan kufur. Sedang Ahlus Sunnah Wal
Jama'ah memandang wajib menasehati mereka dalam hal
kema'shiyatannya tanpa harus memberontak kepada
mereka. Hal ini dilakukan dalam rangka mempersatukan
kalimat dan menghindari perpecahan dan perselisihan.
Telah berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah
rahimahullah : Barangkali hampir tidak dikenal suatu
kelompok keluar memberontak terhadap pemilik kekuasaan
kecuali lebih banyaknya kerusakan yang terjadi
ketimbang terhapusnya kemunkaran (melalui cara
pemberontakan tersebut).
Kedua.
Ahlus Sunnah wal Jama'ah menjaga tetap tegaknya syi'ar
Islam baik dengan menegakkan shalat Jum'at dan shalat
berjama'ah sebagai pembeda terhadap kalangan ahlul
bid'ah dan orang-orang munafik yang tidak mendirikan
shalat Jum'at maupun shalat Jama'ah.
Ketiga
Menegakkan nasehat bagi setiap muslim dan bekerja sama
serta tolong menolong dalam kebajikan dan taqwa
sebagaimana sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam.

"Artinya : Ad-Din itu nasehat, kami bertanya :
untuk siapa .? Beliau menjawab : Untuk Allah dan
Rasul-Nya dan para imam kaum muslimin serta kaum
muslimin pada umumnya".(Dikeluarkan oleh Muslim I/Juz
2 hal. 36-37 syarah Nawawy, Abu Daud 5/49944, dan
An-Nasaai 7/4197, Imam Ahmad 4/102 dari Tamiim
Ad-Dary).
"Artinya : Mu'min yang satu bagi mu'min yang lain
bagaikan satu bangunan yang satu sama lain saling
mengokohkan". (Dikeluarkan oleh Bukhary 4/6026 dan
Muslim 6/Juz 16 hal. 139 syarah Nawawy).

Keempat.
Mereka tegar dalam menghadapi ujian-ujian dengan sabar
ketika mendapat cobaan-cobaan dan bersyukur ketika
mendapatkan keni'matan dan menerimanya dengan
ketentuan Allah.
Kelima
Bahwasanya mereka selalu berahlak mulia dan beramal
baik, berbuat baik kepada kedua orang tua, menyambung
tali persaudaraan, berlaku baik dengan tetangga, dan
mereka senantiasa melarang dari sikap bangga, sombong,
dzolim (aniaya) sesuai dengan firman Allah.

"Artinya : Sembahlah Allah dan janganlah kamu
mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat
baiklah kepada dua orang ibu-bapak, karib, kerabat,
anak yatim, orang-orang miskin, ibnu sabil dan hamba
sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai
orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri".
(An-Nisaa : 36)
"Artinya : Sesempurna-sempurna iman seorang mu'min
adalah yang baik ahlaknya". (Dikeluarkan oleh Imam
Ahmad 13 No. 7396, Tirmidzi 3/1162, Abu Daud 5/4682,
dan Al-Haitsamy dalam Mawarid No. 1311, 1926).

Kita memohon kepada Allah Azza wa Jalla agar berkenan
menjadikan kita semua bagian dari mereka dan tidak
menjadikan hati kita condong kepada kekafiran setelah
diberi petunjuk (hidayah-Nya) dan semoga shalawat
serta salam terlimpah kepada Nabi kita Muhammad
Shallallahu 'alaihi wa sallam, keluarganya beserta
shabat-sahabatnya. Aamin.