KISAH TRAUMATIS Setelah dua tahun menikah, aku pun hamil. Namaku Vina, aku adalah seorang karyawati di sebuah perusahaan swasta di kawasan Jakarta Timur, dan suamiku Hasan, juga bekerja di tempat yang sama. Hasan adalah seorang laki-laki yang baik, pekerja keras dan rajin beribadah. Jabatannya juga lumayan di perusahaan itu. Kehamilan itu membuahkan kebahagiaan tersendiri bagi kami berdua. Karena memang kami sudah sangat mendambakan seorang anak. Sembilan bulan kemudian, lahirlah bayi perempuan mungil itu, kami memberinya nama Riana. Riana adalah bayi yang gemuk. Kulitnya putih bersih, rambutnya lurus lebat, mukanya mungil, tirus dan sorot matanya bercahaya sangat indah. Dia adalah bayi tercantik yang pernah aku lihat. Hasan sangat menyayangi Riana yang lucu dan imut itu. Setiap pagi dia menggendongnya berjalan-jalan. Kadang memangkunya di depan dan berputar dengan sepeda motor matik. Kehadiran Riana benar-benar memberikan keindahan bagi kehidupan kami berdua. Ketika menginjak usia dua tahun, Riana mulai sakit-sakitan. Sering masuk angin dan batuk pilek tak henti-hentinya meskipun sudah dibawa ke dokter. Yang lebih aneh lagi di tubuh Riana sering muncul bisul. Bisul itu selalu berpindah tempat, dan dokter juga memberinya obat untuk benjolan-benjolan kecil itu. Namun, bisul-bisul itu tak henti-hentinya muncul di permukaan kulit Riana, dan anak itu juga tak pernah mengeluh. Kalau ditanya apakah bisul-bisul itu terasa sakit, jawabnya tidak, dia bilang hanya sekelilingnya saja yang gatal. Karena obat yang diberikan oleh dokter tidak ngaruh,dan bisul itu tak sembuh-sembuh, akhirnya dokter memutuskan untuk tes darah. Saat mengambl sample darah itu usia Riana sudah 4 tahun. Dan yang mengejutkan, dokter mengatakan Riana telah digerogoti leukimia. Aku menangis, sedih sekaligus tak percaya. Sejak saat itu, dokter merawat puteriku dengan intensif. Periksa rutin dan obatnya pun jenisnya makin banyak. Setelah usia dua tahun, tubuh Riana memang makin kurus. Wajahnya yang kecl itu pucat dan dia tak lagi bergairah seperti anak-anak kecil lainnya. Pasti dia merasakan sakit yang luar biasa. Aku pun memutuskan untuk keluar dari tempat kerjaku, agar bisa merawat puteriku. Seringkali aku merasa tak tega. Dia harus minum obat setiap hari dan semakin lama tubuhnya makin melemah. Rambutnya yang sebahu itu, rontok dan menipis. Untung ada adik perempuanku yang tinggal tak jauh dari rumahku, setiap hari dialah yang meminumkan obat untuk puteriku. Saat usia lima tahun, aku menyekolahkan Riana di sebuah Taman Kanak-Kanak. Aku berharap dia bisa bersekolah seperti teman-teman sebayanya. Namun begitu, dia jarang sekolah, karena sering sakit. Ketika usianya memasuki enam tahun, Riana hanya bisa berbaring di tempat tidur. Tubuhnya kurus kering, seperti tulang terbalut kulit. Betapa tabahnya dia, wajahnya datar tanpa ekspresi, seakan menyerah pada keadaan. Dua minggu setelah ulang tahunnya yang keenam, puteriku meninggal. Terbujur kaku di tempat tidurnya. Pagi itu aku menangis sejadi-jadinya, sambil memeluk tubuhnya yang dingin itu. Puteri cantikku telah tiada dalam ketenangan. Wajahnya yang mungil sungguh tak pernah bisa hilang dari ingatanku. Suatu saat pasti aku akan bersama kembali. Alangkah rindunya aku, alangkah inginnya bertemu. Seperti diceritakan oleh Vina
Showing posts with label Kisah Traumatis. Show all posts
Showing posts with label Kisah Traumatis. Show all posts
Wednesday, January 22, 2014
Leukima Merenggut Nyawa Puteriku
Monday, January 6, 2014
Diperkosa Mantan Suami
KISAH TRAUMATIS Namaku Sekar. Aku seorang ibu satu anak yang setahun ini menjanda. Aku bercerai dengan Bajul (Buaya, Bahasa Jawa) suamiku karena dia berselingkuh. Sakit hatiku melihat perselingkuhan itu, dan aku memilih untuk hidup sendiri bersama puteriku Nanda yang saat ini berusia 12 tahun. Perkawinan yang berusia hampir sebelas tahun itu kandas, semua gara-gara perempuan itu. Sejak awal aku melihat karyawati yang bekerja sekantor dengan suamiku tersebut, ada rasa padanya. Itu bisa kutebak bila aku dan anakku ikut ke kantor suamiku. Di depan mataku, perempuan bernama Susi itu tidak canggung-canggung menunjukkan kemesraannya dengan suamiku. Hatiku panas, tetapi aku berusaha untuk bersabar. Firasatku benar, aku menemukan foto-foto mereka berdua di BB suamiku. Perempuan itu memiliki BB khusus yang diberi nama laki-laki. Namun dari gelagatnya aku bisa tahu bahwa laki-laki di BB itu tak lain adalah Susi. Dibandingkan dengan yang lain, nama itu sangat aktif chating dengan suamiku dan sering ketemuan. Aku menanyakan langsung kepada suamiku kebenaran dari prasangkaku. Bajul mengakui bahwa dia memiliki hubungan khusus dengan Susi. Lalu dia meminta maaf dan akan memutuskan hubungan dengan Susi. Aku memaafkan, namun ternyata perselingkuhan itu terus berlanjut dan kami pun bertengkar, akhirnya bercerai. Aku menjalani hidupku bersama puteriku. Biarpun status janda selalu membuatku tak nyaman tetapi aku berusaha menjaga diri agar tidak ada fitnah di tengah masyarakat dan keluargaku. Sebagai perawat aku harus menjaga kehormatanku, akhirnya aku memilih untuk fokus dalam pekerjaan dan puteriku. Bajul kadang-kadang datang ke rumah. Katanya kangen dengan Nanda puteri kami. Aku tidak melarang, agar Nanda juga tidak merasa perceraian sebagai sebuah aib. Bajul kadang mengajak kami makan di mall atau berjalan-jalan di tempat wisata, demi Nanda. Ohya, mantan suamiku itu juga sudah menikah dengan Susi, perempuan selingkuhannya. Sebetulnya aku merasa kurang nyaman bila Bajul di rumah. Kami kan sudah bercerai. Namun laki-laki itu sering datang dengan memberikan berbagai hadiah buat kami berdua. Bahkan dia mulai menjelek-jelekkan Susi sebagai istri yang tidak baik. Hari minggu, aku dan Nanda berdiam di rumah menonton televisi. Tiba-tiba Bajul datang dan membuat kami kaget karena sudah berdiri di depan pintu. Dia membawa berbagai macam belanjaan. Dan kemudian dia memanggil Nanda. "Sayang, kemarilah, lihat apa yang Papa hadiahkan untukmu..." Nanda berlari menghampiri ayahnya. "Apa Pa?" "Lihat diluar itu..." Bajul menunjuk sesuatu di luar rumah. "Hore, sepeda baru...." sorak Nanda. Aku berdiri dan mendekat. Kulihat sebuah sepeda mini warna pink diparkir di dekat pagar. Nanda segera menghampiri sepeda itu dan menaikinya. Dia keluar halaman dan bersepeda di gang depan rumah. "Terima kasih," kataku pada Bajul. Bajul tersenyum. Matanya menatap rekat padaku. Aku merinding, ada yang aneh dengan tatapan mata itu. Aku mundur ke belakang, namun tangannya sudah mencengkeram tanganku. "Sama-sama," katanya. Tangan kanannya memegang tangan kananku dengan kuat. Lalu mendorongku dengan kasar masuk ke kamar. Aku tak berdaya. Aku mencoba memukulinya dengan tangan kiriku, tetapi dia tak melepaskan cengkeramannya. Setelah masuk kamar, dengan tangan kirinya mengunci pintu. Aku menjerit. Namun kemudian mulutku dibungkamnya. Pagi itu aku diperkosa oleh mantan suamiku sendiri. Aku meringkuk di bed dengan berselimut saja. Aku menangis sejadi-jadinya. Namun Bajul tak peduli. Setelah berpakaian dia keluar dan kudengar dia berpamitan dengan anakku. Dengan manahan rasa sakit di kemaluanku, aku mengenakan bajuku kembali. Takut Nanda masuk dan melihatkaku tanpa busana. Jujur kemaluanku sakit sekali, karena Bajul berlaku sangat kasar. Tetapi bukan itu yang menyiksaku hatiku, jiwaku seperti diris-iris dan harga diriku seperti diinjak-injak. Diriku ini rasanya begitu kotor. Setiap aku ingat wajah Bajul, yang muncul hanya perasaan benci dan benci. Teganya dia berbuat seperti itu kepadaku. Perkosaan itu telah terjadi tiga tahun yang lalu, namun sakit hatiku belum juga sembuh. Sejak saat itu aku tak mau lagi bertemu dengannya. Sahabatku terdekatku menyarankan agar aku melaporkan ke polisi, tetapi aku tak bisa, aku malu sama anakku, masak ayahnya bisa sejahat itu pada ibunya. Pasti hanya akan membuatnya sedih. Aku tidak mau lapor polisi juga karena malu, statusku adalah janda. Dimana-mana yang namanya janda selalu dicibirkan. Seperti diceritakan oleh Sekar. Jakarta, 7 Januari 2014
Thursday, January 2, 2014
Anakku Diculik di Halaman
Monday, December 30, 2013
Dia Cacat Seumur Hidupnya
Subscribe to:
Posts (Atom)