Kisah teladan islami dengan kisah walisanga.
Kali ini dengan kisah Sunan Kudus yang mengembara hingga ke Negeri Arab, kota Makkah. Di sana kedatangan Sunan Kudus disambut dengan sinis oleh penguasa negeri, namun hingga akhirnya beliau mampu mengusir wabah penyakit yang melanda negeri itu.
Kisahnya.
Di dalam riwayat, dikisahkan bahwa Raden Jakfar Shodiq atau Sunan Kudus itu suka sekali dengan pengembaraan dalam hal berdakwah, baik ke tanah Hindustan maupun ke tanah suci Makkah.
Sewaktu berada di Makkah, beliau menunaikan ibadah haji, dan kebetulan sekali di sana ada wabah penyakit yang sulit untuk di atasi. Penguasa negeri mengadakan sayembara bagi siapa saja yang berhasil melenyapkan wabah penyakit itu akandiberi hadiah harta benda yang cukup besar jumlahnya.
Sudah banyak yang mencoba, namun tak membuahkan hasil sama sekali.
Pada suatu hari, Sunan Kudus menghadap penguasa negeri itu, namun kedatangannya disambut dengan sinis sekali.
Disambut Sinis
"Dengan apa Tuan akan melenyapkan wabah penyakit di negeri ini?" tanya sang Amir.
"Dengan doa," jawab Sunan Kudus.
"Kalau hanya dengan doa, kami sudah puluhan kali melakukannya. DI Tanah Arab ini banyak sekali para ulama dan Syeik ternama, tapi mereka tak pernah berhasil mengusir wabah ini," jelas sang Amir.
"Saya mengerti, memamng Tanah Arab ini gudangnya para ulama. Tapi jangan lupa ada saja kekurangannya sehingga doa mereka tidak terkabulkan," ujar Sunan Kudus.
"Hmmm..sungguh berani Tuan berkata demikian," kata sang Amir dengan nada berang.
"Apa kekurangan mereka," tanya sang Amir.
"Anda sendiri yang menyebabkannya," kata Sunan Kudus dengan tenangnya.
"Anda telah menjanjikan hadiah yang menggelapkan mata hati mereka sehingga doa mereka tidak ikhlas. Mereka berdoa hanya karena mengharap hadiah bisa jadi," jelas Sunan Kudus lebih lanjut.
Sang Amir pun terbungkam seribu bahasa dengan jawaban yang diberikan oleh Sunan Kudus.
Dengan Doa Wabah Penyakit Hilang
Akhirnya Sunan Kudus dipersilahkan melaksanakan niatnya.
Kesempatan itu tidak disia-siakan. Secara khusus Sunan Kudus berdoa dan membaca beberapa amalan. Dalam tempo singkat, wabah penyakit yang menyerang negeri Arab telah menyingkir. Bahkan beberapa orang yang menderita sakit keras secara mendadak langsung sembuh.
Bukan main senangnya hati sang Amir.
Rasa kagum mulai menjalar di hatinya. Hadiah yang dijanjikannya bermaksud diberikan kepada Sunan Kudus, namun Sunan Kudus menolaknya dengan halus sekali.
Sunan Kudus hanya meminta sebuah batu yang berasal dari Baitul Maqdis. Sang Amir pun mengijinkannya. Batu itu pun dibawa ke Tanah Jawa, dipasang di pengimaman Masjid Kudus yang didirikannya sekembali dari Tanah Suci.
Rakyat Kota Kudus pada waktu itu masih banyak yang bergama Hindu dan Budha.
Para wali mengadakan sidang untuk menentukan siapakah yang pantas berdakwah di Kota Kudus. Pada akhirnya, Sunan Kudus lah yang terpilih untuk bertugas dakwah di daerah itu.
Itulah kenapa sebabnya Raden Jakfar Sodiq disebut sebagai Sunan Kudus. Karena beliau berdakwah di kota Kudus tersebut.
Showing posts with label Walisanga. Show all posts
Showing posts with label Walisanga. Show all posts
Sunday, February 5, 2012
Tuesday, January 17, 2012
Penggagas Selamatan Mitoni Islami
Kisah Islamiah malam dengan Kisah Wali Songo.
Selamatan mitoni sebenarnya sudah menjadi tradisi di tanah jawa ini.
Selamatan Mitoni artinya adalah acara selamatan yang diadakan untuk memperingati 7 bulan kehamilan seorang istri.
Mitoni ini ada kisah tersendiri.
Siapakah Sang Penggagas selamatan mitoni versi islam. Dialah Sunan Kudus.
Sunan Kudus ini merupakan pendukung gagasan dari Sunan Kalijaga dan Sunan Bonang. Orang Jawa menyebutnya Kaum Abangan.
Kenapa disebut Abangan?
Ya karena cara berdakwahnya adalah dengan mendekati rakyat yang masih erat dengan budaya lama, tradisi yang tengah ada dibiarkan tapi disusupi dengan ajaran islam.
Kurang lebih begitu intinya.
Yuk dilanjut lagi tentang kisah asal muasal selamatan mitoni ini.
Simak Ceritanya.
Di dalam cerita tutur jawa, disebutkan bahwa Sunan Kudus itu pada suatuketika gagal mengumpulkan rakyat yang masih berpegang teguh pada adat istiadat lama.
Seperti diketahui, rakyat Jawa banyak yang melakukan adat-adat aneh, yang kadang kala bertentangan dengan ajaran Islam.
Misalnya saja berkirim sesaji di kuburan untuk menunjukkan bela sungkawa atau berdukacita atas meninggalnya salah seorang anggota keluarga, selamatan neloni, mitoni dan sebagainya.
Sunan Kudus sangat memperhatikan upacara-upacara ritual itu dan berusaha sebaik-baiknya untuk merubah atau mengarahkannya dalam bentuk Islami. Hal ini dilakukan juga oleh Sunan Kalijaga dan Sunan Muria.
Begitu pula selamatn mitoni, acara selamatan yang minta kepada dewa kalau anaknya lahir supaya tampan seperti Arjuna dan jika perempuan agar cantik seperti Dewi Ratih.
Adat dan upacara tersebut tidak ditentang secara keras oleh Sunan Kudus.
Melainkan diarahkan dalam bentuk islami. Acara boleh terus dilakukan tapi niatnya bukan hanya sekedar kirim sesaji kepada para dewa, melainkan bersedekah kepada penduduk setempat dan sesaji yang dihidangkan boleh dibawa pulang.
Sedangkan permintaannya langsung kepada Allah SWT dengan harapan jika anaknya yang lahir laki-laki seperti Nabi Yusuf as dan jika perempuan seperti Ibu Maryam, Ibunda Nabi Isa as.
Untuk itu, sang ayah dan ibu harus sering-sering membaca Surat Yusuf dan Surat Maryam dalam Al Qur'an.
Sebelum acara selamatan dilaksanakan, diadakanlah pembacaan Layang Ambiya' atau sejarah para nabi. Biasanya yang dibaca adalah bab Nabi Yusuf as.
Hingga sekarang acara pembacaan Layang Ambiya' yang berbentuk tembang asmaradana, pucung dan lain sebagainya masih hidup di kalangan masyarakat pedesaan.
Undangan Mitoni.
Ketika pertama kali melaksanakan gagasan ini, Sunan Kudus pernah gagal yaitu beliau mengundang seluruh masyarakat baik yang islam maupun yang Hindu dan Budha ke dalam masjid. Dalam undangan tersebut disebutkan bahwa Sunan Kudus mempunyai hajat hendak mitoni dan bersedekah atas hamilnya istri selama 7 bulan.
Sebelum masuk masjid, masyarakat harus membasuh kaki dan tangannya di kolam yang sudah disediakan. Dikarenakan harus membasuh tangan dan kaki inilah banyak rakyat yang tidak mau, terutama dari kalangan Budha dan Hindu.
Sunan Kudus sebenarnya ingin memperkenalkan syariat wudhu kepada masyarakat,namun mereka malah menjauh. Hal ini disebabkan karena iman masyarakat atau tauhidnya belum terbina.
Maka, pada kesempatan lain, Sunan Kudus mengundang masyarakat lagi. Kali ini masyarakat tidak usah membasuh tangan dan kakinya waktu masuk ke dalam masjid, dan hasilnya sungguh luar biasa. Masyarakat berbondong-bondong memenuhi undangannya.
Sunan Kudus Berhasil.
Pada saat itulah Sunan Kudus menyisipkan bab keimanan dalam agama islam secara halus dan menyenangkan rakyat. Cara menyampaikan materi cukup cerdik. Ketika rakyat tengah memusatkan perhatian kepada keterangan Sunan Kudus, akan tetapi karena waktu sudah terlalu lama dan dikuatirkan mereka jenuh, maka Sunan Kudus mengakhiri ceramahnya.
Cara tersebut mengecewakan, akan tetapi di situlah letak segi positifnya. Rakyat jadi ingin tahu kelanjutan ceramahnya. Pada kesempatan lain rakyat datang lagi karena ingin mengetahui kelanjutan ceramah Sunan Kudus yang membuat hati rakyat penasaran.
Dengan demikian, Sunan Kudus berhasil menebus kesalahannya di masa lalu.
Rakyat tetap menaruh simpati dan menghormatinya.
Cara yang ditempuh untuk mengislamkan masyarakat cukup banyak baik secara langsung maupun tidak langsung.
Sunan Kudus juga merupakan pencipta tembang Mijil dan Maskumambang.
Di dalam tembang-tembang tersebut beliau sisipkan ajaran-ajaran agama islam.
Selamatan mitoni sebenarnya sudah menjadi tradisi di tanah jawa ini.
Selamatan Mitoni artinya adalah acara selamatan yang diadakan untuk memperingati 7 bulan kehamilan seorang istri.
Mitoni ini ada kisah tersendiri.
Siapakah Sang Penggagas selamatan mitoni versi islam. Dialah Sunan Kudus.
Sunan Kudus ini merupakan pendukung gagasan dari Sunan Kalijaga dan Sunan Bonang. Orang Jawa menyebutnya Kaum Abangan.
Kenapa disebut Abangan?
Ya karena cara berdakwahnya adalah dengan mendekati rakyat yang masih erat dengan budaya lama, tradisi yang tengah ada dibiarkan tapi disusupi dengan ajaran islam.
Kurang lebih begitu intinya.
Yuk dilanjut lagi tentang kisah asal muasal selamatan mitoni ini.
Simak Ceritanya.
Di dalam cerita tutur jawa, disebutkan bahwa Sunan Kudus itu pada suatuketika gagal mengumpulkan rakyat yang masih berpegang teguh pada adat istiadat lama.
Seperti diketahui, rakyat Jawa banyak yang melakukan adat-adat aneh, yang kadang kala bertentangan dengan ajaran Islam.
Misalnya saja berkirim sesaji di kuburan untuk menunjukkan bela sungkawa atau berdukacita atas meninggalnya salah seorang anggota keluarga, selamatan neloni, mitoni dan sebagainya.
Sunan Kudus sangat memperhatikan upacara-upacara ritual itu dan berusaha sebaik-baiknya untuk merubah atau mengarahkannya dalam bentuk Islami. Hal ini dilakukan juga oleh Sunan Kalijaga dan Sunan Muria.
Begitu pula selamatn mitoni, acara selamatan yang minta kepada dewa kalau anaknya lahir supaya tampan seperti Arjuna dan jika perempuan agar cantik seperti Dewi Ratih.
Adat dan upacara tersebut tidak ditentang secara keras oleh Sunan Kudus.
Melainkan diarahkan dalam bentuk islami. Acara boleh terus dilakukan tapi niatnya bukan hanya sekedar kirim sesaji kepada para dewa, melainkan bersedekah kepada penduduk setempat dan sesaji yang dihidangkan boleh dibawa pulang.
Sedangkan permintaannya langsung kepada Allah SWT dengan harapan jika anaknya yang lahir laki-laki seperti Nabi Yusuf as dan jika perempuan seperti Ibu Maryam, Ibunda Nabi Isa as.
Untuk itu, sang ayah dan ibu harus sering-sering membaca Surat Yusuf dan Surat Maryam dalam Al Qur'an.
Sebelum acara selamatan dilaksanakan, diadakanlah pembacaan Layang Ambiya' atau sejarah para nabi. Biasanya yang dibaca adalah bab Nabi Yusuf as.
Hingga sekarang acara pembacaan Layang Ambiya' yang berbentuk tembang asmaradana, pucung dan lain sebagainya masih hidup di kalangan masyarakat pedesaan.
Undangan Mitoni.
Ketika pertama kali melaksanakan gagasan ini, Sunan Kudus pernah gagal yaitu beliau mengundang seluruh masyarakat baik yang islam maupun yang Hindu dan Budha ke dalam masjid. Dalam undangan tersebut disebutkan bahwa Sunan Kudus mempunyai hajat hendak mitoni dan bersedekah atas hamilnya istri selama 7 bulan.
Sebelum masuk masjid, masyarakat harus membasuh kaki dan tangannya di kolam yang sudah disediakan. Dikarenakan harus membasuh tangan dan kaki inilah banyak rakyat yang tidak mau, terutama dari kalangan Budha dan Hindu.
Sunan Kudus sebenarnya ingin memperkenalkan syariat wudhu kepada masyarakat,namun mereka malah menjauh. Hal ini disebabkan karena iman masyarakat atau tauhidnya belum terbina.
Maka, pada kesempatan lain, Sunan Kudus mengundang masyarakat lagi. Kali ini masyarakat tidak usah membasuh tangan dan kakinya waktu masuk ke dalam masjid, dan hasilnya sungguh luar biasa. Masyarakat berbondong-bondong memenuhi undangannya.
Sunan Kudus Berhasil.
Pada saat itulah Sunan Kudus menyisipkan bab keimanan dalam agama islam secara halus dan menyenangkan rakyat. Cara menyampaikan materi cukup cerdik. Ketika rakyat tengah memusatkan perhatian kepada keterangan Sunan Kudus, akan tetapi karena waktu sudah terlalu lama dan dikuatirkan mereka jenuh, maka Sunan Kudus mengakhiri ceramahnya.
Cara tersebut mengecewakan, akan tetapi di situlah letak segi positifnya. Rakyat jadi ingin tahu kelanjutan ceramahnya. Pada kesempatan lain rakyat datang lagi karena ingin mengetahui kelanjutan ceramah Sunan Kudus yang membuat hati rakyat penasaran.
Dengan demikian, Sunan Kudus berhasil menebus kesalahannya di masa lalu.
Rakyat tetap menaruh simpati dan menghormatinya.
Cara yang ditempuh untuk mengislamkan masyarakat cukup banyak baik secara langsung maupun tidak langsung.
Sunan Kudus juga merupakan pencipta tembang Mijil dan Maskumambang.
Di dalam tembang-tembang tersebut beliau sisipkan ajaran-ajaran agama islam.
Sunday, December 18, 2011
Perjalanan Sunan Ampel ke Majapahit
Kisah Islamiah pada malam hari ini tentang Kisah Walisongo, dan malam ini mengupas perjalanan Sunan Ampel ke tanah Jawa.
Bagi yang belum membaca kisah sebelumnya, silahkan membaca Asal Usul Sunan Ampel.
Berikut Kisahnya.
Setelah kerajaan Majapahit ditinggalkan oleh Patih Gajah Mada dan Raja Hayam Wuruk, Majapahit mengalami kemunduran drastis. Kerajaan terpecah belah karena terjadi perang saudara dan para adipati banyak yang tak tunduk lagi kepada keturunan Prabu Hayam Wuruk yaitu Prabu Brawijaya Kerthabumi.
Pajak dan upeti kerajaan tak banyak yang sampai ke istana Majapahit dan lebih sering dinikmati oleh para adipati itu sendiri. Hal ini membuat sang Prabu bersedih hati, lebih-lebih lagi dengan adanya kebiasaan buruk kaum bangsawan dan para pengeran yang suka berpesta pora, main judi serta mabuk-mabukan.
Prabu Barwijaya sadar betul bahwa bila kebiasaan itu diteruskan, maka negara akan menjadi lemah dan jika negara sudah kehilangan kekuatan maka betapa mudahnya bagi musuh untuk menghancurkan kerajaan Majapahit.
Prabu Kertabumi Galau.
Ratu Dwarawati yang merupakan istri Prabu Brawijaya mengetahui kerisauan hati suaminya. Dengan memberanikan diri, dia mengajukan pendapat kepada suaminya.
"Saya mempunyai seorang keponakan yang ahli mendidik dalam hal mengatasi kemerdekaan budi pekerti," kata Ratu Dwarawati.
"Benarkah?" tanya Sang Prabu.
"Iya, benar. Namanya Sayyid Ali Rahmatullah, putra dari kanda Dewi Candrawulan di Negeri Cempa. Bila kanda berkenan, saya akan meminta Ramanda Prabu di Cempa untuk mendatangkan Ali Rahmatullah ke Majapahit ini," jawab Ratu Dwarawati.
"Tentu saja, aku akan merasa senang bila Rama Prabu di Cempa bersedia mengirimkan Sayyid Ali Rahmatullah ke Majapahit ini," kata Prabu.
Sunan Ampel Menuju Tanah Jawa.
Pada suatu hari, diberangkatkanlah utusan dari Majaphit ke negeri Cempa untuk meminta Sayyid Rahmatullah datang ke Majapahit. Kedatangan utusan Majapahit ini disambut oleh raja Cempa dengan baik dan mengizinkan cucunya untuk berangkat ke Majapahit.
Keberangkatan Sayyid Rahmatullah ke Tanah Jawa ini tidak sendirian. Ia ditemani oleh ayah, Syekh Maulana Ibrahim Asmarakandi dan kakaknya yang bernama Sayyid Ali Murtadho. Di duga, nereka tidak langsung ke Majapahit,melainkan mendarat ke Tuban terlebih dahulu, tepatnya di desa Gesikharjo.
Di desa tersebut, ayahnya Sayyid Ali Rahmatullah jatuh sakit dan meinggal dunia dan dimakamkan di desa tersebut, desa GesikHarjo, Kecamatan Palang, Kabupaten Tuban.
Kakaknya yang bernama Sayyid Ali Murtadjo menyebarkan islam dan berdakwah sampai ke Nusa Tenggara, bahkan sampai ke Bima. Beliau dikenal dengan Pandita Bima. Terakhir beliau berdakwah di Gresik dengan sebutan Raden Santri dan wafat di sana.
Raden Rahmat sampai di Majapahit.
Sementara itu, Sayyid Ali Rahmatullah meneruskan perjalanan ke Majapahit untuk menghadap Prabu Brawijaya sesuai permintaan bibinya, Ratu Dwarawati.
Kapal layar yang ditumpanginya mendara di pelabuhan Canggu dan kedatangannya disambut penuh suka cita oleh Prabu Kertabumi.
Dengan penuh haru, bibinya, Ratu Dwarawati memeluknya erat-erat seolah sedang memeluk kakak perempuannya yang berada di istana Kerajaan Cempa. Wajah keponakannya itu memang mirip sekali dengan ibunya.
Setelah Raden Sayyid Rahmatullah beristirahat, Prabu Kerthabumi bertanya,
"Wahai Nanda Rahmatullah, bersediakah engkau memberikan pelajaran atau mendidik kaum bangsawan dan rakyat Majapahit agar mereka memiliki budi pekerti yang mulia?" tanya sang Prabu.
"Dengan senang hati Gusti Prabu. Saya akan berusaha sekuat tenaga untuk mencurahkan kemampuan saya untuk mendidik mereka," jawab Ali Rahmatullah.
"Bagus..," sahut sang prabu.
"Kalau begitu, engkau akan aku beri hadiah sebidang tanah berikut bangunannya di Surabaya. Di sanalah engkau akan mendidik para bangsawan dan pangeran Majapahit agar berbudi pekerti mulia."
Begitulah kisah perjalanan Sayyid Ali Rahmatullah yang sering disebut dengan Raden Rahmat dan lebih dikenal dengan sebutan Sunan Ampel.
Kisah selanjutnya insyaAllah tentang Ampeldenta.
Bagi yang belum membaca kisah sebelumnya, silahkan membaca Asal Usul Sunan Ampel.
Berikut Kisahnya.
Setelah kerajaan Majapahit ditinggalkan oleh Patih Gajah Mada dan Raja Hayam Wuruk, Majapahit mengalami kemunduran drastis. Kerajaan terpecah belah karena terjadi perang saudara dan para adipati banyak yang tak tunduk lagi kepada keturunan Prabu Hayam Wuruk yaitu Prabu Brawijaya Kerthabumi.
Pajak dan upeti kerajaan tak banyak yang sampai ke istana Majapahit dan lebih sering dinikmati oleh para adipati itu sendiri. Hal ini membuat sang Prabu bersedih hati, lebih-lebih lagi dengan adanya kebiasaan buruk kaum bangsawan dan para pengeran yang suka berpesta pora, main judi serta mabuk-mabukan.
Prabu Barwijaya sadar betul bahwa bila kebiasaan itu diteruskan, maka negara akan menjadi lemah dan jika negara sudah kehilangan kekuatan maka betapa mudahnya bagi musuh untuk menghancurkan kerajaan Majapahit.
Prabu Kertabumi Galau.
Ratu Dwarawati yang merupakan istri Prabu Brawijaya mengetahui kerisauan hati suaminya. Dengan memberanikan diri, dia mengajukan pendapat kepada suaminya.
"Saya mempunyai seorang keponakan yang ahli mendidik dalam hal mengatasi kemerdekaan budi pekerti," kata Ratu Dwarawati.
"Benarkah?" tanya Sang Prabu.
"Iya, benar. Namanya Sayyid Ali Rahmatullah, putra dari kanda Dewi Candrawulan di Negeri Cempa. Bila kanda berkenan, saya akan meminta Ramanda Prabu di Cempa untuk mendatangkan Ali Rahmatullah ke Majapahit ini," jawab Ratu Dwarawati.
"Tentu saja, aku akan merasa senang bila Rama Prabu di Cempa bersedia mengirimkan Sayyid Ali Rahmatullah ke Majapahit ini," kata Prabu.
Sunan Ampel Menuju Tanah Jawa.
Pada suatu hari, diberangkatkanlah utusan dari Majaphit ke negeri Cempa untuk meminta Sayyid Rahmatullah datang ke Majapahit. Kedatangan utusan Majapahit ini disambut oleh raja Cempa dengan baik dan mengizinkan cucunya untuk berangkat ke Majapahit.
Keberangkatan Sayyid Rahmatullah ke Tanah Jawa ini tidak sendirian. Ia ditemani oleh ayah, Syekh Maulana Ibrahim Asmarakandi dan kakaknya yang bernama Sayyid Ali Murtadho. Di duga, nereka tidak langsung ke Majapahit,melainkan mendarat ke Tuban terlebih dahulu, tepatnya di desa Gesikharjo.
Di desa tersebut, ayahnya Sayyid Ali Rahmatullah jatuh sakit dan meinggal dunia dan dimakamkan di desa tersebut, desa GesikHarjo, Kecamatan Palang, Kabupaten Tuban.
Kakaknya yang bernama Sayyid Ali Murtadjo menyebarkan islam dan berdakwah sampai ke Nusa Tenggara, bahkan sampai ke Bima. Beliau dikenal dengan Pandita Bima. Terakhir beliau berdakwah di Gresik dengan sebutan Raden Santri dan wafat di sana.
Raden Rahmat sampai di Majapahit.
Sementara itu, Sayyid Ali Rahmatullah meneruskan perjalanan ke Majapahit untuk menghadap Prabu Brawijaya sesuai permintaan bibinya, Ratu Dwarawati.
Kapal layar yang ditumpanginya mendara di pelabuhan Canggu dan kedatangannya disambut penuh suka cita oleh Prabu Kertabumi.
Dengan penuh haru, bibinya, Ratu Dwarawati memeluknya erat-erat seolah sedang memeluk kakak perempuannya yang berada di istana Kerajaan Cempa. Wajah keponakannya itu memang mirip sekali dengan ibunya.
Setelah Raden Sayyid Rahmatullah beristirahat, Prabu Kerthabumi bertanya,
"Wahai Nanda Rahmatullah, bersediakah engkau memberikan pelajaran atau mendidik kaum bangsawan dan rakyat Majapahit agar mereka memiliki budi pekerti yang mulia?" tanya sang Prabu.
"Dengan senang hati Gusti Prabu. Saya akan berusaha sekuat tenaga untuk mencurahkan kemampuan saya untuk mendidik mereka," jawab Ali Rahmatullah.
"Bagus..," sahut sang prabu.
"Kalau begitu, engkau akan aku beri hadiah sebidang tanah berikut bangunannya di Surabaya. Di sanalah engkau akan mendidik para bangsawan dan pangeran Majapahit agar berbudi pekerti mulia."
Begitulah kisah perjalanan Sayyid Ali Rahmatullah yang sering disebut dengan Raden Rahmat dan lebih dikenal dengan sebutan Sunan Ampel.
Kisah selanjutnya insyaAllah tentang Ampeldenta.
Kesaktian KH Asnawi
Kisah Islamiah pada sore ini tentang lanjutan KH Asnawi.
Dimana KH Asnawi memiliki banyak karomah hingga membuat gentar para penjajah Belanda.
Beikut Kisahnya.
KH Asnawi semapat ditahan oleh pemerintah Belanda karena dianggap sebagai penggerak kerusuhan.
KH Asnawi selain dikenal menguasai berbagai ilmu agama, beliau juga memiliki kesaktian dan pendirian yang teguh.
Prinsip-prinsip hidupnya snagat keras dan watak perjauangannya terkenal galak. Pada waktu itu, bangsa Indonesia sedang dirundung nestapa penjajahan Belanda dan Jepang. Ketegasan dalam memperjuangkan Islam membua KH Asnawi di penjara beberapa tahun.
Ketika di penjara itulah Kyai Asnawi banyak menmghabiskan waktu untuk mengajar ilmu agama dan membaca shalawat kepada para penghuni penjara.
Konon, petugas penjkara tidak sanggup menjaga Ktai Asnawi karena setiap saat Kyai Asnawi membaca shalawat. Ruangannya dibanjiri rakyat yang ingin belajar agama, hingga para penjaga penjara menyerah dan akhirnya KH Asnawi dibebaskan.
Membuat Musuh Lari Ketakutan.
Karomah lain yang dimiliki KH Asnawi adalah sanggup membuat musuh-musuhnya lari ketakutan dari jarak jauh.
hal itu dibuktikan ketika KH Asnawi hendak ditangkap oelh penjajah untuk ketiga kalinya. Para penjajah kabur karena takut sebelum menagkap KH Asnawi. Bahkan Kyai Asnawi sering masuk penjara namun selalu berakhir bebas.
Kepiawaian KH Asnawi dalam berdakwah membuat masyarakat terkagum dan para penjajah menjadi takut. maklum, waktu itu banyak santri yang melindungi dan menemani KH Asnawi di penjara.
KH Asnawi meruapakan salah seorang ulama yang mengharamkan produk kolonial Belanda.
Kehidupan KH Asnawi dihabiskan untuk menegakkan islam dengan penuh perjuangan, kerelaan dan keteguhan jiwa.
Pada tahun 1956, ketika dijajah oleh Jepang dan Belanda, KH Asnawi senantiasa berjuang membela Indonesia dengan bergabung bersama Masyumi dan NU.
Beliau memiliki karakter dan akhlak mulia dalam berjuang sehingga tak heran jika dia disebut sebagai ulama yang santun dan ikhlas.
Dimana KH Asnawi memiliki banyak karomah hingga membuat gentar para penjajah Belanda.
Beikut Kisahnya.
KH Asnawi semapat ditahan oleh pemerintah Belanda karena dianggap sebagai penggerak kerusuhan.
KH Asnawi selain dikenal menguasai berbagai ilmu agama, beliau juga memiliki kesaktian dan pendirian yang teguh.
Prinsip-prinsip hidupnya snagat keras dan watak perjauangannya terkenal galak. Pada waktu itu, bangsa Indonesia sedang dirundung nestapa penjajahan Belanda dan Jepang. Ketegasan dalam memperjuangkan Islam membua KH Asnawi di penjara beberapa tahun.
Ketika di penjara itulah Kyai Asnawi banyak menmghabiskan waktu untuk mengajar ilmu agama dan membaca shalawat kepada para penghuni penjara.
Konon, petugas penjkara tidak sanggup menjaga Ktai Asnawi karena setiap saat Kyai Asnawi membaca shalawat. Ruangannya dibanjiri rakyat yang ingin belajar agama, hingga para penjaga penjara menyerah dan akhirnya KH Asnawi dibebaskan.
Membuat Musuh Lari Ketakutan.
Karomah lain yang dimiliki KH Asnawi adalah sanggup membuat musuh-musuhnya lari ketakutan dari jarak jauh.
hal itu dibuktikan ketika KH Asnawi hendak ditangkap oelh penjajah untuk ketiga kalinya. Para penjajah kabur karena takut sebelum menagkap KH Asnawi. Bahkan Kyai Asnawi sering masuk penjara namun selalu berakhir bebas.
Kepiawaian KH Asnawi dalam berdakwah membuat masyarakat terkagum dan para penjajah menjadi takut. maklum, waktu itu banyak santri yang melindungi dan menemani KH Asnawi di penjara.
KH Asnawi meruapakan salah seorang ulama yang mengharamkan produk kolonial Belanda.
Kehidupan KH Asnawi dihabiskan untuk menegakkan islam dengan penuh perjuangan, kerelaan dan keteguhan jiwa.
Pada tahun 1956, ketika dijajah oleh Jepang dan Belanda, KH Asnawi senantiasa berjuang membela Indonesia dengan bergabung bersama Masyumi dan NU.
Beliau memiliki karakter dan akhlak mulia dalam berjuang sehingga tak heran jika dia disebut sebagai ulama yang santun dan ikhlas.
Saturday, December 17, 2011
Asal Usul KH Asnawi
Kisah islamiah lanjut lagi pada pagi hari mumpung monitor sudah agak baikan.
Kali ini tentang KH Asnawi.
Sudah pada tahu kan KH Asnawi.
Beliau ini lahir di kampung Damara, Kudus pada tahun 1281 Hijriyah atau 1861 Masehi.
Beliau ini merupakan keturunan ke 14 dari Sunan Kudus (Raden Jakfar Shodiq) dan keturunan ke 5 dari KH Mutamakin.
KH Asnawia dalah putra yang pertama dari H Abdullah Husnin, salah seorang pedagang konveksi yang tergolong besar di Kudus. Sedangkan ibunya bernama R Sarbinah.
Beliau juga termasuk salah seorang wali yang kramat di Desa Kajen Margoyoso Pati, Jawa Tengah.
Berkenalan Dengan KH Asnawi.
Kyai Asnawai sejak kecil dididik oleh orang tuanya sendiri.
Menginjak usia 15 tahun, barulah ia belajar kepada Kyai Soleh Darat, Kyai Mahfud Termas dan Kyai Irsyad Jepara.
Setelah menamatkan pendidikan agama di berbagai pesantren, Kyai Asnawi kemudian menunaikan ibadah haji ke Baitullah bersama ayahnya di usia 30 tahun.
Di Makkah, Kyai Asnawi kembali belajar agama kepada Syekh di Makkah hingga berusia 35 tahun. Ketika belajar itulah, Kyai Asnawi banyak berteman dengan ulama besar dari Indonesia, diantaranya adalah Kyai Khotib Sambas, Kyai Bisri Sansuri dan ulama lainnya.
Kyai Asnawi merupakan ulama terkenal di masanya.
Dia penggerak Jamiyyah Nahdatul Ulama bersama KH Hasyim Asyari.
Dulu, ketika Masjid Kudus dibangun, Kyai Asnawi terlibat dalam pengawasan pembangunannya.
Kala pembangunan Masjid Kudus, Jawa Tengah, telah terjadi perseteruan antara umat islam dan orang Cina keturunan. Mereka saling bentrok mengenai menara Masjid Kudus yang tinggi menjulang.
KH Asnawi inilah salah satu tokoh yang berhasil menghadang perusak pembangunan Masjid bersama santri santrinya.
Insya Allah postingan mendatang akan dibahas mengenai Kesaktian KH Asnawi ini.
Kali ini tentang KH Asnawi.
Sudah pada tahu kan KH Asnawi.
Beliau ini lahir di kampung Damara, Kudus pada tahun 1281 Hijriyah atau 1861 Masehi.
Beliau ini merupakan keturunan ke 14 dari Sunan Kudus (Raden Jakfar Shodiq) dan keturunan ke 5 dari KH Mutamakin.
KH Asnawia dalah putra yang pertama dari H Abdullah Husnin, salah seorang pedagang konveksi yang tergolong besar di Kudus. Sedangkan ibunya bernama R Sarbinah.
Beliau juga termasuk salah seorang wali yang kramat di Desa Kajen Margoyoso Pati, Jawa Tengah.
Berkenalan Dengan KH Asnawi.
Kyai Asnawai sejak kecil dididik oleh orang tuanya sendiri.
Menginjak usia 15 tahun, barulah ia belajar kepada Kyai Soleh Darat, Kyai Mahfud Termas dan Kyai Irsyad Jepara.
Setelah menamatkan pendidikan agama di berbagai pesantren, Kyai Asnawi kemudian menunaikan ibadah haji ke Baitullah bersama ayahnya di usia 30 tahun.
Di Makkah, Kyai Asnawi kembali belajar agama kepada Syekh di Makkah hingga berusia 35 tahun. Ketika belajar itulah, Kyai Asnawi banyak berteman dengan ulama besar dari Indonesia, diantaranya adalah Kyai Khotib Sambas, Kyai Bisri Sansuri dan ulama lainnya.
Kyai Asnawi merupakan ulama terkenal di masanya.
Dia penggerak Jamiyyah Nahdatul Ulama bersama KH Hasyim Asyari.
Dulu, ketika Masjid Kudus dibangun, Kyai Asnawi terlibat dalam pengawasan pembangunannya.
Kala pembangunan Masjid Kudus, Jawa Tengah, telah terjadi perseteruan antara umat islam dan orang Cina keturunan. Mereka saling bentrok mengenai menara Masjid Kudus yang tinggi menjulang.
KH Asnawi inilah salah satu tokoh yang berhasil menghadang perusak pembangunan Masjid bersama santri santrinya.
Insya Allah postingan mendatang akan dibahas mengenai Kesaktian KH Asnawi ini.
Wednesday, December 14, 2011
Asal Usul Sunan Ampel
Siapa Sunan Ampel itu serta dari mana asalnya.
Kisah Islamiah pada sore hari ini mencoba untuk mempostingnya.
Ternyata Sunan Ampel ini berasal dari daerah Bukhara.
Dimanakah Bukhara itu. Bukhara terletak di Samarqand yang masih merupakan daerah Uzbekistan.
Sejak dahulu daerah Samarqand dikenal sebagai daerah islam yang banyak menelurkan ulama-ulama besar seperti sarjana hadits terkenal yaitu Imam Bukhari yang mashur sebagai pewaris hadits yang sahih.
Kisahnya.
Di daerah Samarqand ini ada seorang ulama besar yang bernama Syeikh Jamaludiin Jumadil Kubra, seorang Ahlussunnah bermazhab Syafi'i. Beliau memiliki seorang putra bernama Ibrahim. Dan karena Ibrahim berasal dari Samarqand maka Ibrahim kemudian mendapat tambahan nama Samarqand. Orang Jawa sangat sulit mengucapkan Samarqand, dari itu mereka hanay menyebutnya sebagai Syeikh Ibrahim Asmarakandi.
Syeikh Ibrahim Asmarakandi ini diperintahkan oleh ayahnya yaitu Syeikh Jamaluddin Jumadil Kubra untuk berdakwah ke negara-negara asia. Perintah ini dilaksanakan dan beliau kemudian diambil oleh menantu oleh Raja Cempa, dijodohkan dengan putri raja Cempa yang bernama Dewi Candrawulan.
Negeri Cempa ini menurut sebagian ahli sejarah terletak di Muangthai.
Dari perkawinannya, Ibrahim Asmaraqandi mendapatkan 2 orang putra yang diberi nama Sayyid Ali Rahmatullah dan Sayyid Ali Murtadho.
Sedangkan adik dari Dewi Candrawulan yang bernama Dewi Dwarati diperistri oleh Prabu Brawijaya Majapahit.
Dengan demikian, kedua anak Ibrahim Asmarakandi ini adalah keponakan Ratu Majapahit dan tergolong putra bangsawan atau pangeran kerajaan.
Sayyid Rahmatullah.
Salah seorang putra Dewi Candrawula yang bernama Sayyid Rahmatullah inilah yang kemudian dimintai bantuan oleh bibinya untuk mengajar budi pekerti di tanah Jawa. Kenapa begitu, karena setelah Patih Gajah Mada meninggal, Majapahit menjadi goncang dari segala sendi.
Raden Sayyid Rahmatullah inilah yang akhirnya dikenal dengan sebutan Sunan Ampel.
(Lain kali akan diposting perjalanan Sunan Ampel ke tanah Jawa beserta adiknya, Insya Alloh).
Para pangeran atau bangsawan kerajaan pada waktu itu mendapat gelar Rahadian yang artinya Tuanku.
Dan seiring berkembangnya waktu, sebutan Rahadian ini cukup dipersingkat menjadi Raden.
Sunan Ampel Masih Kerabat Raden Patah.
Raja Majapahit sangat senang mendapatkan istri dari Negeri Cempa yang wajahnya dan kepribadiannya sangat memikat hati, sehingga istri lainnya banyak yang diceraikan dan ada pula yang diberikan kepada adipati-adipati bawahan Majapahit.
Salah satu istri Parbu Brawijaya yang terkenal kala itu adalah Dewi Kian, dimana Dewi Kian diberikan kepada Adipati Ario Damar di Palembang.
Sebelum diberikan kepada Ario Damar ini, Dewi Kian tengah mengandung 3 bulan. Dan kelak dari putra Dewi Kian inilah lahir seorang ulama islam yang terkenal, yaitu Raden Hasan atau yang lebih dikenal dengan nama Raden Patah dan merupakan salah satu murid dari Sunan Ampel yang menjadi raja di Demak Bintoro.
Kisah Islamiah pada sore hari ini mencoba untuk mempostingnya.
Ternyata Sunan Ampel ini berasal dari daerah Bukhara.
Dimanakah Bukhara itu. Bukhara terletak di Samarqand yang masih merupakan daerah Uzbekistan.
Sejak dahulu daerah Samarqand dikenal sebagai daerah islam yang banyak menelurkan ulama-ulama besar seperti sarjana hadits terkenal yaitu Imam Bukhari yang mashur sebagai pewaris hadits yang sahih.
Kisahnya.
Di daerah Samarqand ini ada seorang ulama besar yang bernama Syeikh Jamaludiin Jumadil Kubra, seorang Ahlussunnah bermazhab Syafi'i. Beliau memiliki seorang putra bernama Ibrahim. Dan karena Ibrahim berasal dari Samarqand maka Ibrahim kemudian mendapat tambahan nama Samarqand. Orang Jawa sangat sulit mengucapkan Samarqand, dari itu mereka hanay menyebutnya sebagai Syeikh Ibrahim Asmarakandi.
Syeikh Ibrahim Asmarakandi ini diperintahkan oleh ayahnya yaitu Syeikh Jamaluddin Jumadil Kubra untuk berdakwah ke negara-negara asia. Perintah ini dilaksanakan dan beliau kemudian diambil oleh menantu oleh Raja Cempa, dijodohkan dengan putri raja Cempa yang bernama Dewi Candrawulan.
Negeri Cempa ini menurut sebagian ahli sejarah terletak di Muangthai.
Dari perkawinannya, Ibrahim Asmaraqandi mendapatkan 2 orang putra yang diberi nama Sayyid Ali Rahmatullah dan Sayyid Ali Murtadho.
Sedangkan adik dari Dewi Candrawulan yang bernama Dewi Dwarati diperistri oleh Prabu Brawijaya Majapahit.
Dengan demikian, kedua anak Ibrahim Asmarakandi ini adalah keponakan Ratu Majapahit dan tergolong putra bangsawan atau pangeran kerajaan.
Sayyid Rahmatullah.
Salah seorang putra Dewi Candrawula yang bernama Sayyid Rahmatullah inilah yang kemudian dimintai bantuan oleh bibinya untuk mengajar budi pekerti di tanah Jawa. Kenapa begitu, karena setelah Patih Gajah Mada meninggal, Majapahit menjadi goncang dari segala sendi.
Raden Sayyid Rahmatullah inilah yang akhirnya dikenal dengan sebutan Sunan Ampel.
(Lain kali akan diposting perjalanan Sunan Ampel ke tanah Jawa beserta adiknya, Insya Alloh).
Para pangeran atau bangsawan kerajaan pada waktu itu mendapat gelar Rahadian yang artinya Tuanku.
Dan seiring berkembangnya waktu, sebutan Rahadian ini cukup dipersingkat menjadi Raden.
Sunan Ampel Masih Kerabat Raden Patah.
Raja Majapahit sangat senang mendapatkan istri dari Negeri Cempa yang wajahnya dan kepribadiannya sangat memikat hati, sehingga istri lainnya banyak yang diceraikan dan ada pula yang diberikan kepada adipati-adipati bawahan Majapahit.
Salah satu istri Parbu Brawijaya yang terkenal kala itu adalah Dewi Kian, dimana Dewi Kian diberikan kepada Adipati Ario Damar di Palembang.
Sebelum diberikan kepada Ario Damar ini, Dewi Kian tengah mengandung 3 bulan. Dan kelak dari putra Dewi Kian inilah lahir seorang ulama islam yang terkenal, yaitu Raden Hasan atau yang lebih dikenal dengan nama Raden Patah dan merupakan salah satu murid dari Sunan Ampel yang menjadi raja di Demak Bintoro.
Thursday, November 24, 2011
Misteri 2 Jenazah Sunan Bonang
Kisah Islamiah pada sore ini tentang kisah walisanga. Punggawa Walisanga yang satu ini begitu banyak memiliki karomah sehingga membuat banyak warga Jawa yang tertarik dan mengikuti ajaran beliau.
Kisahnya.
Sunan Bonang sering berdakwah keliling hingga usia lanjut. Beliau meninggal dunia pada saat berdakwah di Pulau Bawean.
Berita meninggalnya Sunan Bonang ini segera tersebar ke seluruh tanah jawa. Para murid berdatangan dari segala penjuru untuk berduka cita dan memberikan penghormatan terakhir.
Pemberian Kain Kafan.
Murid-murid Sunan Bonang yang berada di Pulau Bawean hendak memakamkan jenazah beliau di Pulau Bawean, akan tetapi murid-murid yang berasal dari daerah Madura dan Surabaya menginginkan jenazah beliau dimakamkan di dekat ayahandanya, yaitu Sunan Ampel di Surabaya.
Dalam hal memberikan kain kafanpun mereka tak mau kalah begitu saja. Jenazah yang sudah dibungkus kain kafan milik orang Bawean masih ditambah lagi dengan kain kafan dari Surabaya.
Pada malam harinya, orang-orang Madura dan Surabaya menggunakan ilmu sirep untuk membuat ngantuk orang-orang Bawean dan Tuban. Lalu mengangkat jenazah Sunan Bonang ke dalam kapal dan hendak dibawa ke Surabaya. Karena tindakan mereka tergesa-gesa, kain kafan jenazah itu tertinggal satu.
Kapal Tak Bisa Bergerak di Tuban..
Kapal layarpun segera bergerak ke arah Surabaya. Akan tetapi ketika berada di perairan Tuban, tiba-tiba saja kapal yang digunakan untuk mengangkut jenazah Sunan Bonang tidak bisa bergerak, sehingga terpaksa jenazah Sunan Bonang dimakamkam di Tuban yaitu di sebelah barat Masjid Jami Tuban.
Sementara itu, kain kafan yang tertinggal di Pulau Bawean ternyata juga ada jenazahnya. Orang-orang Bawean pun menguburkannya dengan penuh khidmat.
Dengan demikian, ada 2 jenazah Sunan Bonang.
Inilah Karomah yang diberikan Allah SWT kepada Sunan Bonang.
Subhanallah..
Sunan Bonang wafat pada tahun 1525.
Makam yang dianggap asli adalah yang berada di kota Tuban sehingga sampai sekarang pun makam itu banyak diziarahi orang dari segala penjuru tanah air.
Sungguh karomah yang sangat luar biasa. Jenazah diperebutkan orang banyak, makam pun banyak peziarahnya.
Meski sudah meninggal, namun jasa beliau tetap akan terkenang insya Alloh sepanjang zaman
Kisahnya.
Sunan Bonang sering berdakwah keliling hingga usia lanjut. Beliau meninggal dunia pada saat berdakwah di Pulau Bawean.
Berita meninggalnya Sunan Bonang ini segera tersebar ke seluruh tanah jawa. Para murid berdatangan dari segala penjuru untuk berduka cita dan memberikan penghormatan terakhir.
Pemberian Kain Kafan.
Murid-murid Sunan Bonang yang berada di Pulau Bawean hendak memakamkan jenazah beliau di Pulau Bawean, akan tetapi murid-murid yang berasal dari daerah Madura dan Surabaya menginginkan jenazah beliau dimakamkan di dekat ayahandanya, yaitu Sunan Ampel di Surabaya.
Dalam hal memberikan kain kafanpun mereka tak mau kalah begitu saja. Jenazah yang sudah dibungkus kain kafan milik orang Bawean masih ditambah lagi dengan kain kafan dari Surabaya.
Pada malam harinya, orang-orang Madura dan Surabaya menggunakan ilmu sirep untuk membuat ngantuk orang-orang Bawean dan Tuban. Lalu mengangkat jenazah Sunan Bonang ke dalam kapal dan hendak dibawa ke Surabaya. Karena tindakan mereka tergesa-gesa, kain kafan jenazah itu tertinggal satu.
Kapal Tak Bisa Bergerak di Tuban..
Kapal layarpun segera bergerak ke arah Surabaya. Akan tetapi ketika berada di perairan Tuban, tiba-tiba saja kapal yang digunakan untuk mengangkut jenazah Sunan Bonang tidak bisa bergerak, sehingga terpaksa jenazah Sunan Bonang dimakamkam di Tuban yaitu di sebelah barat Masjid Jami Tuban.
Sementara itu, kain kafan yang tertinggal di Pulau Bawean ternyata juga ada jenazahnya. Orang-orang Bawean pun menguburkannya dengan penuh khidmat.
Dengan demikian, ada 2 jenazah Sunan Bonang.
Inilah Karomah yang diberikan Allah SWT kepada Sunan Bonang.
Subhanallah..
Sunan Bonang wafat pada tahun 1525.
Makam yang dianggap asli adalah yang berada di kota Tuban sehingga sampai sekarang pun makam itu banyak diziarahi orang dari segala penjuru tanah air.
Sungguh karomah yang sangat luar biasa. Jenazah diperebutkan orang banyak, makam pun banyak peziarahnya.
Meski sudah meninggal, namun jasa beliau tetap akan terkenang insya Alloh sepanjang zaman
Friday, November 18, 2011
Suara yang Menggetarkan Dinding Istana
Kisah Islamiah malam ini melanjutkan kisah tentang Sunan Kalijaga.
Bagi yang belum membaca cerita sebelumnya silahkan simak dibawah ini.
Pertemuan Sunan Kalijaga dan Sunan Bonang
Sunan Kalijaga Mencari Guru Sejati
Kisahnya.
Arti dari Tongkat dan Bisa mengambang di air.
Dalm kisah sebelumnya, Raden Said kemudian disuruh menunggui tongkat (agama) di tepi sungai.
Itu artinya bahwa Raden Said diperintah untuk terjun ke dalam kancah masyarakat Jawa yang banyak memiliki aliran kepercayaan dan masih berpegang pada agama lama, yaitu Hindu dan Budha.
Sunan Bonang mampu berjalan di atas air sungai tanpa amblas ke dalam sungai, bahkan sedikitpun ia tidak terkena percikan air sungai itu.
Itu artinya bahwa Sunan Bonang dapat bergaul dengan masyarakat yang berbeda agama tanpa kehilangan identitas agama yang dianut oleh Sunan Bonang sendiri, yaitu agam Islam.
Demikianlah, Sunang Bonang mampu memperlihatkan banyak makna dari kegiatan yang dilakukan. Raden Said hingga terpana, padahal Raden Said masih bingung mencerna arti semua itu.
Kerinduan Seorang Ibu.
Setelah bertahun-tahun ditinggalkan kedua anaknya, ibunda Raden Said, istri dari Adipati Wilatikta seperti kehilangan gairah hidup. Terlebih setelah usaha Adipati Tuban berhasil menangkap para perampok yang mengacau Kadipaten Tuban.
Hati ibu Raden Said seketika terguncang.
Bagaimana tidak, kebetulan sekali saat ditangkap oleh para prajurit Tuban, kepala perampok itu mengenakan pakaian dan topeng sama persis dengan yang dikenakan Raden Said. Rahasia yang selama ini tertutup rapat terbongkarlah sudah. Dari pengakuan perampok itu, tahulah Adipati Tuban bahwa Raden Said tidak bersalah.
Ibu Raden Said menangis sejadi-jadinya.
Dia benar-benar telah menyesal telah mengusir anak yang disayanginya itu. Sang ibu tak pernah tahu bahwa anak yang didambakannya itu bertahun-tahun kemudian sudah kembali ke Tuban.
Hanya saja, Raden Said tidak langsung ke Kadipaten Tuban, melainkan ke tempat tinggal Sunan Bonang.
Lantunan Al Qur'an yang Hebat.
Untuk mengobati kerinduan sang ibu, tidak jarang Raden Said mengerahkan ilmunya yang tinggi, yaitu membaca Al Qur'an dari jarak jauh lalu suaranya dikirim ke istana Tuban.
Suara Raden Said yang merdu itu benar-benar menggetarkan dinding-dinding istana Kadipaten Tuban. Bahkan mengguncangkan isi hati Adipati Tuban dan istrinya. Namun meski begitu, Raden Said belum menampakkan dirinya.
Raden Said masih memiliki tugas yang harus dia kerjakan, yaitu menemukan adiknya yang telah pergi dari Kadipaten Tuban. Dia ingin mengajak adik kesayangannya itu untuk kembali ke dalam pelukan orang tua mereka.
Pada akhirnya, Raden Said berhasil menemukan adiknya yang bernama Dewi Rasawulan dan kemudian mereka menuju ke istana Kadipaten Tuban bersama-sama.
Melepas Rindu.
Tak terikirakan betapa bahagianya Adipati Tuban dan istrinya menerima kedatangan putra-putri yang sangat mereka cintai itu.
Setelah agak lama melepas rindu, tiba saatnya Adipati Tuban bercakap-cakap dengan Raden Said.
"Wahai anakku, apakah engkau yang telah menggetarkan dinding-dinding istana kadipaten Tuban ini?" tanya sang ayah.
"Benar ayahanda," jawab Raden Said.
"Dengan apa engkau menggetarkan dinding istana ini," tanya sang ayah lagi.
"Dengan bacaan Al Qur'an ayahanda, alhamdulillah aku mampu menggetarkan dinding istana kadipaten Tuban, semua berkata Allah SWT.. Hingga pada akhirnya saya berani kembali kemari sesuai dengan permintaan ayah dan ibu," jawab Raden Said.
"Wahai anakku, sungguh tinggi ilmu agamamu, semoga dapat engkau gunakan untuk kebaikan di tanah Jawa ini," ujar sang ayah.
Karena usia Adipati sudah tua, maka tampuk pimpinan akan diserahkan kepada anaknya, Raden Said. Namun, dengan halus Raden Said menolaknya.
Karena Raden Said tak bersedia menggantikan kedudukan ayahnya, akhirnya kedudukan Adipati Tuban diberikan kepada cucunya sendiri, yaitu putra dari Dewi Rasawulan dan Empu Supa.
Raden Said meneruskan pengembarannya, berdakwah atau menyebarkan agama Islam di Jawa Tengah hingga ke Jawa Barat.
Beliau sangat arif dan bijaksana dalam berdakwah sehingga mudah diterima dan dianggap sebagai Guru se tanah Jawa dari petani, pejabat, pedagang, bangsawan dan raja-raja.
Dalam usia lanjut,beliau memilih Kadilangu sebagai tempat tinggalnya yang terakhir. Hingga sekarang beliau dimakamkan di Kadilangu, Demak, Jawa Tengah.
Semoga amal perjuangannya diterima di sisi Allah SWT.
Amiin..
Bagi yang belum membaca cerita sebelumnya silahkan simak dibawah ini.
Pertemuan Sunan Kalijaga dan Sunan Bonang
Sunan Kalijaga Mencari Guru Sejati
Kisahnya.
Arti dari Tongkat dan Bisa mengambang di air.
Dalm kisah sebelumnya, Raden Said kemudian disuruh menunggui tongkat (agama) di tepi sungai.
Itu artinya bahwa Raden Said diperintah untuk terjun ke dalam kancah masyarakat Jawa yang banyak memiliki aliran kepercayaan dan masih berpegang pada agama lama, yaitu Hindu dan Budha.
Sunan Bonang mampu berjalan di atas air sungai tanpa amblas ke dalam sungai, bahkan sedikitpun ia tidak terkena percikan air sungai itu.
Itu artinya bahwa Sunan Bonang dapat bergaul dengan masyarakat yang berbeda agama tanpa kehilangan identitas agama yang dianut oleh Sunan Bonang sendiri, yaitu agam Islam.
Demikianlah, Sunang Bonang mampu memperlihatkan banyak makna dari kegiatan yang dilakukan. Raden Said hingga terpana, padahal Raden Said masih bingung mencerna arti semua itu.
Kerinduan Seorang Ibu.
Setelah bertahun-tahun ditinggalkan kedua anaknya, ibunda Raden Said, istri dari Adipati Wilatikta seperti kehilangan gairah hidup. Terlebih setelah usaha Adipati Tuban berhasil menangkap para perampok yang mengacau Kadipaten Tuban.
Hati ibu Raden Said seketika terguncang.
Bagaimana tidak, kebetulan sekali saat ditangkap oleh para prajurit Tuban, kepala perampok itu mengenakan pakaian dan topeng sama persis dengan yang dikenakan Raden Said. Rahasia yang selama ini tertutup rapat terbongkarlah sudah. Dari pengakuan perampok itu, tahulah Adipati Tuban bahwa Raden Said tidak bersalah.
Ibu Raden Said menangis sejadi-jadinya.
Dia benar-benar telah menyesal telah mengusir anak yang disayanginya itu. Sang ibu tak pernah tahu bahwa anak yang didambakannya itu bertahun-tahun kemudian sudah kembali ke Tuban.
Hanya saja, Raden Said tidak langsung ke Kadipaten Tuban, melainkan ke tempat tinggal Sunan Bonang.
Lantunan Al Qur'an yang Hebat.
Untuk mengobati kerinduan sang ibu, tidak jarang Raden Said mengerahkan ilmunya yang tinggi, yaitu membaca Al Qur'an dari jarak jauh lalu suaranya dikirim ke istana Tuban.
Suara Raden Said yang merdu itu benar-benar menggetarkan dinding-dinding istana Kadipaten Tuban. Bahkan mengguncangkan isi hati Adipati Tuban dan istrinya. Namun meski begitu, Raden Said belum menampakkan dirinya.
Raden Said masih memiliki tugas yang harus dia kerjakan, yaitu menemukan adiknya yang telah pergi dari Kadipaten Tuban. Dia ingin mengajak adik kesayangannya itu untuk kembali ke dalam pelukan orang tua mereka.
Pada akhirnya, Raden Said berhasil menemukan adiknya yang bernama Dewi Rasawulan dan kemudian mereka menuju ke istana Kadipaten Tuban bersama-sama.
Melepas Rindu.
Tak terikirakan betapa bahagianya Adipati Tuban dan istrinya menerima kedatangan putra-putri yang sangat mereka cintai itu.
Setelah agak lama melepas rindu, tiba saatnya Adipati Tuban bercakap-cakap dengan Raden Said.
"Wahai anakku, apakah engkau yang telah menggetarkan dinding-dinding istana kadipaten Tuban ini?" tanya sang ayah.
"Benar ayahanda," jawab Raden Said.
"Dengan apa engkau menggetarkan dinding istana ini," tanya sang ayah lagi.
"Dengan bacaan Al Qur'an ayahanda, alhamdulillah aku mampu menggetarkan dinding istana kadipaten Tuban, semua berkata Allah SWT.. Hingga pada akhirnya saya berani kembali kemari sesuai dengan permintaan ayah dan ibu," jawab Raden Said.
"Wahai anakku, sungguh tinggi ilmu agamamu, semoga dapat engkau gunakan untuk kebaikan di tanah Jawa ini," ujar sang ayah.
Karena usia Adipati sudah tua, maka tampuk pimpinan akan diserahkan kepada anaknya, Raden Said. Namun, dengan halus Raden Said menolaknya.
Karena Raden Said tak bersedia menggantikan kedudukan ayahnya, akhirnya kedudukan Adipati Tuban diberikan kepada cucunya sendiri, yaitu putra dari Dewi Rasawulan dan Empu Supa.
Raden Said meneruskan pengembarannya, berdakwah atau menyebarkan agama Islam di Jawa Tengah hingga ke Jawa Barat.
Beliau sangat arif dan bijaksana dalam berdakwah sehingga mudah diterima dan dianggap sebagai Guru se tanah Jawa dari petani, pejabat, pedagang, bangsawan dan raja-raja.
Dalam usia lanjut,beliau memilih Kadilangu sebagai tempat tinggalnya yang terakhir. Hingga sekarang beliau dimakamkan di Kadilangu, Demak, Jawa Tengah.
Semoga amal perjuangannya diterima di sisi Allah SWT.
Amiin..
Wednesday, November 9, 2011
Adu Tanding Sunan Bonang dan Brahmana Sakyakirti
Kisah islamiah pada siang ini mengenai Sunan Bonang.
Bukan main kesaktian (karomah) yang dimiliki Sunan Bonang berikut ini. Sudah sakti namun tak pernah sombong sedikitpun.
Sungguh bisa dijadikan teladan oleh semuanya.
Seorang Brahmana dari India ingin menjajal kesaktian ulama besar tanah Jawa yang bernama Sunan Bonang. Rasa penasaran yang menggebu, hingga berlayar sampai ke tanah Tuban hanya untuk beradu tanding dengan Sunan Bonang.
Kisahnya.
Agama Islam telah menyebar luas di tanah Jawa hingga sampailah berita ini kepada para pendeta Brahmana dari India. Salah seorang Brahmana tersebut adalah Sakyakirti.
Maka, bersama beberapa orang muridnya, ia berlayar menuju Pulau Jawa. Tak lupa, dibawanya juga kitab-kitab referensi yang telah dipelajari untuk dipergunakan adu debat dengan para penyebar Agama Islam di Tanah Jawa.
"Aku Brahmana Sakyakirti, akan menantang Sunan Bonang untuk berdebat dan adu kesaktian," sumpah Brahmana sembari berdiri di atas geladak di buritan kapal layar.
"Jika dia kalah, maka akan aku tebas batang lehernya. Jika dia yang menang akau akan bertekuk lutut untuk mencium telapak kakinya. Akan aku serahkan jiwa ragaku kepadanya," lanjut sumpah Brahmana.
Murid-muridnya yang setia berdiri dan mengikutinya dari belakang untuk menjadi saksi atas sumpah yang diucapkan di tengah samudera.
Badai Datang.
Namun ketika kapal yang ditumpanginya sampai di perairan Tuban, mendadak laut yang tadinya tenang tiba-tiba bergolak hebat. Angin dari segala penjuru seolah berkumpul menjadi satu, menghantam air laut sehingga menimbulkan badai setinggi bukit.
Dengan kesaktiannya, Brahmana Sakyakirti mencoba menggempur badai yang hendak menerjang kapal layarnya. Satu kali, dua kali hingga empat kali Brahmana ini dapat menghalau terjangan badai. Namun kali ke lima, dia sudah mulai kehabisan tenaga hingga membuat kapal layarnya langsung tenggelam ke dalam laut. Dengan susah payah dicabutnya beberapa batang balok kayu untuk menyelamatkan diri dan menolong beberapa orang muridnya agar jangan sampai tenggelam ke dasar samudera.
Walaupun pada akhirnya ia dan para pengikutnya berhasil menyelamatkan diri, namun kitab-kitab referensi yang hendak dipergunakan untuk berdebat dengan Sunan Bonang telah kut tenggelam ke dasar laut.
Padahal kitab-kitab itu didapatkannya dengan susah payah dan cara mempelajarinya pun juga tidak mudah. Ia harus belajar Bahasa Arab terlebih dahulu, pura-pura masuk Islam dan menjadi murid ulama besar di negeri Gujarat. Kini, setelah sampai di perairan Laut Jawa, tiba-tiba kitab-kitab yang tebal itu hilang musnah di telan air laut.
Meski demikian, niatnya untuk mengadu ilmu dengan Sunan Bonang tak pernah surut.
Ia dan murid-muridnya telah terdampar di tepi pantai yang tak pernah dikenalnya. Ia bingung harus kemana untuk mencari Sunan Bonang. Ia menoleh ke sana kemari namun tak seorang pun yang lewat di daerah itu.
Bertemu Lelaki Berjubah Putih.
Pada saat hampir dalam keputusasaan, tiba-tiba di kejauhan ia melihat seorang lelaki berjubah putih sedang berjalan sembari membawa tongkat. Ia dan murid-muridnya segera berlari menghampiri dan menghentikan langkah orang itu. Lelaki berjubah putih itu menghentikan langkahnya dan menancapkan tongkatnya ke pasir.
"Kisanak, kami datang dari India hendak mencari seorang ulama besar bernama Sunan Bonang. Dapatkah kisanak memberitahu di mana kami bisa bertemu dengannya?" tanya sang Brahmana.
"Untuk apa Tuan mencari Sunan Bonang?" tanya lelaki itu.
"Akan saya ajak berdebat tentang masalah keagamaan," jawab sang Brahmana.
"Tapi sayang, kitab-kitab yang saya bawa telah tenggelam ke dasar laut. Meski demikian niat saya tak pernah padam. Masih ada beberapa hal yang dapat saya ingat sebagai bahan perdebatan," imbuh sang Brahmana.
Tanpa banyak bicara, lelaki berjubah putih itu mencabut tongkatnya. Mendadak saja tersembur air dari bekas tongkat tersebut dan air itu membawa keluar semua kitab yang dibawa sang Brahmana.
"Itukah kitab-kitab Tuan yang tenggelam ke dasar laut?" tanya lelaki itu.
Sang Brahmana dan pengikutnya kemudian memeriksa kitab-kitab itu, dan tenyata benar milik sang Brahmana. Berdebarlah hati sang Brahmana sembari menduga-duga siapakah sebenarnya lelaki berjubah putih itu.
Murid-murid sang Brahmana yang kehausan sejak tadi segera saja menyerobot air jernih yang memancar itu. Brahmana Sakyakirti memandangnya dengan rasa kuatir, jangan-jangan murid-muridnya itu akan segera mabuk karena meminum air di tepi laut yang pastilah banyak mengandung garam.
"Segar...Aduuh...segarnya..." seru murid-murid sang Brahmana dengan girangnya.
Brahmana Sakyakirti termenung.Bagaimana mungkin air di tepi pantai terasa segar. Ia mencicipinya sedikit dan ternyata memang segar rasanya.
Rasa herannya menjadi-jadi terlebih jika berpikir tentang kemampuan lelaki berjubah putih itu yang mampu menciptakan lubang air yang memancar dan mampu menghisap kitab-kitab yang tenggelam ke dasar laut.
Sang Brahmana berpikir bahwa lelaki berjubah putih itu bukanlah lelaki sembarangan.
Dia mengira bahwa lelaki itu telah mengeluarkan ilmu sihir, akhirnya dia mengerahkan ilmunya untuk mendeteksi apakah semua itu benar hanya sihir. Namun setelah dikerahkan segala kemampuannya, ternyata bukan, bukan ilmu sihir, tapi kenyataan.
Sang Brahmana Jatuh Tersungkur.
Seribu Brahmana yang ada di India pun tak akan mampu melakukan hal itu, pikir Brahmana dalam hati.
Dengan perasaan takut dan was-was, ia menatap wajah lelaki berjubah itu.
"Mungkinkah lelaki ini adalah Sunan Bonang yang termasyhur itu?" gumannya dalam hati.
Akhirnya sang Brahmana memberanikan diri untuk bertanya kepada lelaki itu.
"Apakah nama daerah tempat saya terdampar ini?" tanya Brahmana dengan hati yang berkebat-kebit.
"Tuan berada di pantai Tuban," jawab lelaki berjubah putih itu.
Begitu mendengar jawaban lelaki itu, jatuh tersungkurlah sang Brahmana beserta murid-muridnya.
Mereka menjatuhkan diri berlutut di hadapan lelaki itu. Mereka sudah yakin sekali bahwa lelaki inilah yang bernama Sunang Bonang yang terkenal sampai ke Negeri India itu.
"Bangunlah, untuk apa kalian berlutut kepadaku? Bukankah sudah kalian ketahui dari kitab-kitab yang kalian pelajari bahwa sangat terlarang bersujud kepada sesama makhluk. Sujud hanya pantas dipersembahkan kepada Allah Yang Maha Agung," kata lelaki berjubah putih itu yang tak lain memang benar Sunan Bonang.
"Ampun...Ampunilah saya yang buta ini, tak melihat tingginya gunung di depan mata, ampunkan saya...," rintih sang Brahmana meminta dikasihani.
"Bukankah Tuan ingin berdebat denganku dan mengadu kesaktian?" tukas Sunan Bonang.
"Mana saya berani melawan paduka, tentulah ombak dan badai yang menyerang kapal kami juga ciptaan paduka, kesaktian paduka tak terukur tingginya. Ilmu paduka tak terukur dalamnya," kata Brahmana Sakyakirti.
"Engkau salah, aku tidak mampu menciptakan ombak dan badai, hanya Allah SWT saja yang mampu menciptakan dan menggerakkan seluruh makhluk. Allah melindungi orang yang percaya dan mendekat kepada-Nya dari segala macam bahaya dan niat jahat seseorang," ujar Sunan Bonang.
Sang Brahmana merasa malu.
Memang kedatangannya bermaksud jahat ingin membunuh Sunan Bonag melalui adu kepandaian dan kesaktian.
Ternyata niatnya tak kesampaian. Apa yang telah dibacanya dalam kitab-kitab yang telah dipelajari telah terbukti.
Bahwa Barang siapa yang memusuhi para wali-Nya, maka Allah akan megumumkan perang kepadanya. Menantang Sunan Bonang sama saja dengan menantang Allah SWT yang mengasihi Sunan Bonang sendiri
Hatinya ketakutan, bagaimana jadinya bilamana niatnya kesampaian.
Bukan Sunan Bonang yang akan dibunuh, malah bisa sebaliknya dia sendiri yang akan binasa karena murka Tuhan.
Setelah kejadian tersebut, akhirnya sang Brahmana dan murid-muridnya rela memeluk agama islam atas kemauannya sendiri tanpa paksaan.
Sang Brahmana dan pengikutnya telah menjadi murid dari Sunan Bonang.
Bukan main kesaktian (karomah) yang dimiliki Sunan Bonang berikut ini. Sudah sakti namun tak pernah sombong sedikitpun.
Sungguh bisa dijadikan teladan oleh semuanya.
Seorang Brahmana dari India ingin menjajal kesaktian ulama besar tanah Jawa yang bernama Sunan Bonang. Rasa penasaran yang menggebu, hingga berlayar sampai ke tanah Tuban hanya untuk beradu tanding dengan Sunan Bonang.
Kisahnya.
Agama Islam telah menyebar luas di tanah Jawa hingga sampailah berita ini kepada para pendeta Brahmana dari India. Salah seorang Brahmana tersebut adalah Sakyakirti.
Maka, bersama beberapa orang muridnya, ia berlayar menuju Pulau Jawa. Tak lupa, dibawanya juga kitab-kitab referensi yang telah dipelajari untuk dipergunakan adu debat dengan para penyebar Agama Islam di Tanah Jawa.
"Aku Brahmana Sakyakirti, akan menantang Sunan Bonang untuk berdebat dan adu kesaktian," sumpah Brahmana sembari berdiri di atas geladak di buritan kapal layar.
"Jika dia kalah, maka akan aku tebas batang lehernya. Jika dia yang menang akau akan bertekuk lutut untuk mencium telapak kakinya. Akan aku serahkan jiwa ragaku kepadanya," lanjut sumpah Brahmana.
Murid-muridnya yang setia berdiri dan mengikutinya dari belakang untuk menjadi saksi atas sumpah yang diucapkan di tengah samudera.
Badai Datang.
Namun ketika kapal yang ditumpanginya sampai di perairan Tuban, mendadak laut yang tadinya tenang tiba-tiba bergolak hebat. Angin dari segala penjuru seolah berkumpul menjadi satu, menghantam air laut sehingga menimbulkan badai setinggi bukit.
Dengan kesaktiannya, Brahmana Sakyakirti mencoba menggempur badai yang hendak menerjang kapal layarnya. Satu kali, dua kali hingga empat kali Brahmana ini dapat menghalau terjangan badai. Namun kali ke lima, dia sudah mulai kehabisan tenaga hingga membuat kapal layarnya langsung tenggelam ke dalam laut. Dengan susah payah dicabutnya beberapa batang balok kayu untuk menyelamatkan diri dan menolong beberapa orang muridnya agar jangan sampai tenggelam ke dasar samudera.
Walaupun pada akhirnya ia dan para pengikutnya berhasil menyelamatkan diri, namun kitab-kitab referensi yang hendak dipergunakan untuk berdebat dengan Sunan Bonang telah kut tenggelam ke dasar laut.
Padahal kitab-kitab itu didapatkannya dengan susah payah dan cara mempelajarinya pun juga tidak mudah. Ia harus belajar Bahasa Arab terlebih dahulu, pura-pura masuk Islam dan menjadi murid ulama besar di negeri Gujarat. Kini, setelah sampai di perairan Laut Jawa, tiba-tiba kitab-kitab yang tebal itu hilang musnah di telan air laut.
Meski demikian, niatnya untuk mengadu ilmu dengan Sunan Bonang tak pernah surut.
Ia dan murid-muridnya telah terdampar di tepi pantai yang tak pernah dikenalnya. Ia bingung harus kemana untuk mencari Sunan Bonang. Ia menoleh ke sana kemari namun tak seorang pun yang lewat di daerah itu.
Bertemu Lelaki Berjubah Putih.
Pada saat hampir dalam keputusasaan, tiba-tiba di kejauhan ia melihat seorang lelaki berjubah putih sedang berjalan sembari membawa tongkat. Ia dan murid-muridnya segera berlari menghampiri dan menghentikan langkah orang itu. Lelaki berjubah putih itu menghentikan langkahnya dan menancapkan tongkatnya ke pasir.
"Kisanak, kami datang dari India hendak mencari seorang ulama besar bernama Sunan Bonang. Dapatkah kisanak memberitahu di mana kami bisa bertemu dengannya?" tanya sang Brahmana.
"Untuk apa Tuan mencari Sunan Bonang?" tanya lelaki itu.
"Akan saya ajak berdebat tentang masalah keagamaan," jawab sang Brahmana.
"Tapi sayang, kitab-kitab yang saya bawa telah tenggelam ke dasar laut. Meski demikian niat saya tak pernah padam. Masih ada beberapa hal yang dapat saya ingat sebagai bahan perdebatan," imbuh sang Brahmana.
Tanpa banyak bicara, lelaki berjubah putih itu mencabut tongkatnya. Mendadak saja tersembur air dari bekas tongkat tersebut dan air itu membawa keluar semua kitab yang dibawa sang Brahmana.
"Itukah kitab-kitab Tuan yang tenggelam ke dasar laut?" tanya lelaki itu.
Sang Brahmana dan pengikutnya kemudian memeriksa kitab-kitab itu, dan tenyata benar milik sang Brahmana. Berdebarlah hati sang Brahmana sembari menduga-duga siapakah sebenarnya lelaki berjubah putih itu.
Murid-murid sang Brahmana yang kehausan sejak tadi segera saja menyerobot air jernih yang memancar itu. Brahmana Sakyakirti memandangnya dengan rasa kuatir, jangan-jangan murid-muridnya itu akan segera mabuk karena meminum air di tepi laut yang pastilah banyak mengandung garam.
"Segar...Aduuh...segarnya..." seru murid-murid sang Brahmana dengan girangnya.
Brahmana Sakyakirti termenung.Bagaimana mungkin air di tepi pantai terasa segar. Ia mencicipinya sedikit dan ternyata memang segar rasanya.
Rasa herannya menjadi-jadi terlebih jika berpikir tentang kemampuan lelaki berjubah putih itu yang mampu menciptakan lubang air yang memancar dan mampu menghisap kitab-kitab yang tenggelam ke dasar laut.
Sang Brahmana berpikir bahwa lelaki berjubah putih itu bukanlah lelaki sembarangan.
Dia mengira bahwa lelaki itu telah mengeluarkan ilmu sihir, akhirnya dia mengerahkan ilmunya untuk mendeteksi apakah semua itu benar hanya sihir. Namun setelah dikerahkan segala kemampuannya, ternyata bukan, bukan ilmu sihir, tapi kenyataan.
Sang Brahmana Jatuh Tersungkur.
Seribu Brahmana yang ada di India pun tak akan mampu melakukan hal itu, pikir Brahmana dalam hati.
Dengan perasaan takut dan was-was, ia menatap wajah lelaki berjubah itu.
"Mungkinkah lelaki ini adalah Sunan Bonang yang termasyhur itu?" gumannya dalam hati.
Akhirnya sang Brahmana memberanikan diri untuk bertanya kepada lelaki itu.
"Apakah nama daerah tempat saya terdampar ini?" tanya Brahmana dengan hati yang berkebat-kebit.
"Tuan berada di pantai Tuban," jawab lelaki berjubah putih itu.
Begitu mendengar jawaban lelaki itu, jatuh tersungkurlah sang Brahmana beserta murid-muridnya.
Mereka menjatuhkan diri berlutut di hadapan lelaki itu. Mereka sudah yakin sekali bahwa lelaki inilah yang bernama Sunang Bonang yang terkenal sampai ke Negeri India itu.
"Bangunlah, untuk apa kalian berlutut kepadaku? Bukankah sudah kalian ketahui dari kitab-kitab yang kalian pelajari bahwa sangat terlarang bersujud kepada sesama makhluk. Sujud hanya pantas dipersembahkan kepada Allah Yang Maha Agung," kata lelaki berjubah putih itu yang tak lain memang benar Sunan Bonang.
"Ampun...Ampunilah saya yang buta ini, tak melihat tingginya gunung di depan mata, ampunkan saya...," rintih sang Brahmana meminta dikasihani.
"Bukankah Tuan ingin berdebat denganku dan mengadu kesaktian?" tukas Sunan Bonang.
"Mana saya berani melawan paduka, tentulah ombak dan badai yang menyerang kapal kami juga ciptaan paduka, kesaktian paduka tak terukur tingginya. Ilmu paduka tak terukur dalamnya," kata Brahmana Sakyakirti.
"Engkau salah, aku tidak mampu menciptakan ombak dan badai, hanya Allah SWT saja yang mampu menciptakan dan menggerakkan seluruh makhluk. Allah melindungi orang yang percaya dan mendekat kepada-Nya dari segala macam bahaya dan niat jahat seseorang," ujar Sunan Bonang.
Sang Brahmana merasa malu.
Memang kedatangannya bermaksud jahat ingin membunuh Sunan Bonag melalui adu kepandaian dan kesaktian.
Ternyata niatnya tak kesampaian. Apa yang telah dibacanya dalam kitab-kitab yang telah dipelajari telah terbukti.
Bahwa Barang siapa yang memusuhi para wali-Nya, maka Allah akan megumumkan perang kepadanya. Menantang Sunan Bonang sama saja dengan menantang Allah SWT yang mengasihi Sunan Bonang sendiri
Hatinya ketakutan, bagaimana jadinya bilamana niatnya kesampaian.
Bukan Sunan Bonang yang akan dibunuh, malah bisa sebaliknya dia sendiri yang akan binasa karena murka Tuhan.
Setelah kejadian tersebut, akhirnya sang Brahmana dan murid-muridnya rela memeluk agama islam atas kemauannya sendiri tanpa paksaan.
Sang Brahmana dan pengikutnya telah menjadi murid dari Sunan Bonang.
Monday, November 7, 2011
Sunan Kalijaga Mencari Guru Sejati
Sebagi lanjutan tentang kisah walisanga, yaitu Sunan Kalijaga yang berjudul Pertemuan Sunan Kalijaga dan Sunan Bonang, Kisah Islamiah berlanjut.
Kali ini tentang perjalanan Raden Said atau Sunan Kalijaga yang mencari guru sejati.
Kisahnya.
Setelah menyaksikan betapa hebat karomah orang yang berjubah puith itu yang tak lain adalah Sunan Bonang, Putra dari Sunan Ampel yang bermukim di Surabaya.
Karomah Sunan Bonang yang mampu merubah buah aren menjadi emas seluruhnya merupakan keajaiban, dan bukan sembarang orang bisa melakukannya.
Ucapan-ucapan dari orang tua berjubah putih tersebut masih terngiang di telinganya, yaitu tentang beramal dengan barang haram yang disamakan dengan mencuci pakaian dengan air kencing, tentang berbagai hal yang terkait dengan upaya memberantas kemiskinan.
Raden Said memutuskan untuk mengejar orang itu. Segenap kemampuan dikerahkannya untuk berlari cepat hingga akhirnya dia dapat melihat bayangan orang itu dari kejauhan.
Sepertinya orang tua itu berjalan santai saja dalam melangkahkan kaki, tapi Raden Said tak pernah bisa menyusulnya. Jatuh bangun, terseok-seok dan berlari lagi. Demikianlah, setelah tenaganya terkuras habis, dia baru sampai dibelakang lelaki berjubah putih itu.
Raden Said Meminta jadi Murid.
Lelaki berjubah putih itu berhenti bukan karena kehadiran Raden Said melainkan di depannya terbentang sungai yang cukup lebar. Tak ada jembatan penyeberangan dan sungai itu tampaknya dalam, dengan apa dia akan menyeberang.
"Tunggu...," ucap Raden Said ketika melihat orang tua itu hendak melangkahkan kakinya lagi untuk melewati sungai.
Dengan terengah-engah Raden Said berkata,
"Sudilah kiranya Tuan menerima saya sebagai murid...." pintanya dengan nafas turun naik dengan cepatnya.
"Menjadi muridku?" tanya lelaki itu sembari menoleh ke belakang.
"Mau belajar apa?" imbuhnya lebih lanjut.
"Apa saja, asal Tuan menerima saya sebagai murid," jawan Raden Said.
"Berat...berat sekali anak muda. Bersediakah engkau menerima syarat-syaratnya?" tanya lelaki berjubah putih.
"Saya bersedia," jawan Raden Said.
Lelaki tua itu kemudian menancapkan tongkatnya di tepi sungai. Raden Said diperintahkan menungguinya. Tak boleh beranjak dari tempat itu sebelum lelaki itu kembali untuk menemui Raden Said.
Raden Said menerima syarat ujian itu.
Selanjutnya, lelaki berjubah putih itu menyeberangi sungai.
Sepasang mata Raden Said terbelalak karena heran, lelaki itu berjalan di atas air bagaikan berjalan di daratan saja. Kakinya tidak basah terkena air. Ia semakin yakin bahwa calon gurunya itu adalah seorang lelaki berilmu tinggi, waskita dan mungkin saja golongan para wali.
Semedi Berakhir.
Setelah lelaki itu hilang dari pandangan Raden Said, pemuda itu duduk bersila. Dia teringat suatu kisah ajaib yang dibacanya di dalam Al Qur'an yaitu Kisah Ashabul Kahfi. Maka ia pun segera berdoa kepada Allah SWT agar ditidurkan seperti para pemuda di Gua Kahfi ratusan tahun silam.
Doa Raden Said dikabulkan oleh Allah SWT. Raden Said tertidur dalam semedinya selama 3 tahun.
Akar dan rerumputan telah merambati sekujur tubuhnya dan hampir menutupi sebagian besar anggota tubuhnya.
Setelah 3 tahun lamanya, lelaki berjubah putih itu datang untuk menemui Raden Said. Tapi Raden Said tidak bisa dibangunkan.
Raden Said baru bisa dibangunkan setelah lelaki berjubah putih itu mengumandangkan Azan.
Kemudian tubuh Raden Said dibersihkan dan diberi pakaian baru yang bersih. Selanjutnya Raden Said dibawa ke Tuban.
Mengapa dibawa ke Tuban?
Ya karena lelaki berjubah putih itu adalah Sunan Bonang, salah seorang putra Sunan Ampel yang diberi tugas oleh ayahnya untuk berdakwah di sana.
Meski demikian, kehadiran Raden Said tidak diketahui oleh keluarganya.
Raden Said kemudian diberi pelajaran agama sesuai dengan tingkatannya, yakni tingkat para Wali Allah, Waliullah.
Di kemudian hari, Raden Said terkenal denagn sebutan Sunan Kalijaga.
Kali ini tentang perjalanan Raden Said atau Sunan Kalijaga yang mencari guru sejati.
Kisahnya.
Setelah menyaksikan betapa hebat karomah orang yang berjubah puith itu yang tak lain adalah Sunan Bonang, Putra dari Sunan Ampel yang bermukim di Surabaya.
Karomah Sunan Bonang yang mampu merubah buah aren menjadi emas seluruhnya merupakan keajaiban, dan bukan sembarang orang bisa melakukannya.
Ucapan-ucapan dari orang tua berjubah putih tersebut masih terngiang di telinganya, yaitu tentang beramal dengan barang haram yang disamakan dengan mencuci pakaian dengan air kencing, tentang berbagai hal yang terkait dengan upaya memberantas kemiskinan.
Raden Said memutuskan untuk mengejar orang itu. Segenap kemampuan dikerahkannya untuk berlari cepat hingga akhirnya dia dapat melihat bayangan orang itu dari kejauhan.
Sepertinya orang tua itu berjalan santai saja dalam melangkahkan kaki, tapi Raden Said tak pernah bisa menyusulnya. Jatuh bangun, terseok-seok dan berlari lagi. Demikianlah, setelah tenaganya terkuras habis, dia baru sampai dibelakang lelaki berjubah putih itu.
Raden Said Meminta jadi Murid.
Lelaki berjubah putih itu berhenti bukan karena kehadiran Raden Said melainkan di depannya terbentang sungai yang cukup lebar. Tak ada jembatan penyeberangan dan sungai itu tampaknya dalam, dengan apa dia akan menyeberang.
"Tunggu...," ucap Raden Said ketika melihat orang tua itu hendak melangkahkan kakinya lagi untuk melewati sungai.
Dengan terengah-engah Raden Said berkata,
"Sudilah kiranya Tuan menerima saya sebagai murid...." pintanya dengan nafas turun naik dengan cepatnya.
"Menjadi muridku?" tanya lelaki itu sembari menoleh ke belakang.
"Mau belajar apa?" imbuhnya lebih lanjut.
"Apa saja, asal Tuan menerima saya sebagai murid," jawan Raden Said.
"Berat...berat sekali anak muda. Bersediakah engkau menerima syarat-syaratnya?" tanya lelaki berjubah putih.
"Saya bersedia," jawan Raden Said.
Lelaki tua itu kemudian menancapkan tongkatnya di tepi sungai. Raden Said diperintahkan menungguinya. Tak boleh beranjak dari tempat itu sebelum lelaki itu kembali untuk menemui Raden Said.
Raden Said menerima syarat ujian itu.
Selanjutnya, lelaki berjubah putih itu menyeberangi sungai.
Sepasang mata Raden Said terbelalak karena heran, lelaki itu berjalan di atas air bagaikan berjalan di daratan saja. Kakinya tidak basah terkena air. Ia semakin yakin bahwa calon gurunya itu adalah seorang lelaki berilmu tinggi, waskita dan mungkin saja golongan para wali.
Semedi Berakhir.
Setelah lelaki itu hilang dari pandangan Raden Said, pemuda itu duduk bersila. Dia teringat suatu kisah ajaib yang dibacanya di dalam Al Qur'an yaitu Kisah Ashabul Kahfi. Maka ia pun segera berdoa kepada Allah SWT agar ditidurkan seperti para pemuda di Gua Kahfi ratusan tahun silam.
Doa Raden Said dikabulkan oleh Allah SWT. Raden Said tertidur dalam semedinya selama 3 tahun.
Akar dan rerumputan telah merambati sekujur tubuhnya dan hampir menutupi sebagian besar anggota tubuhnya.
Setelah 3 tahun lamanya, lelaki berjubah putih itu datang untuk menemui Raden Said. Tapi Raden Said tidak bisa dibangunkan.
Raden Said baru bisa dibangunkan setelah lelaki berjubah putih itu mengumandangkan Azan.
Kemudian tubuh Raden Said dibersihkan dan diberi pakaian baru yang bersih. Selanjutnya Raden Said dibawa ke Tuban.
Mengapa dibawa ke Tuban?
Ya karena lelaki berjubah putih itu adalah Sunan Bonang, salah seorang putra Sunan Ampel yang diberi tugas oleh ayahnya untuk berdakwah di sana.
Meski demikian, kehadiran Raden Said tidak diketahui oleh keluarganya.
Raden Said kemudian diberi pelajaran agama sesuai dengan tingkatannya, yakni tingkat para Wali Allah, Waliullah.
Di kemudian hari, Raden Said terkenal denagn sebutan Sunan Kalijaga.
Bayi yang Menghentikan Perahu
Kisah islamiah kali ini tentang sosok bayi yang bisa menghentikan laju perahu layar. Hanya karena menabrak peti yang di dalamnya ada seorang bayi, maka terhentilah kapal itu, tidak bergerak sama sekali.
Sangat dahsyat karomah dari bayi ini hingga mampu menggemparkan seisi kapal laut.
Siapakah bayi tersebut.
Kisahnya.
Pada suatu malam, ada sebuah perahu dagang dari Gresik sedang melintasi Selat Bali. Ketika perahu itu berada di tengah-tengah selat Bali, keanehan mulai muncul. Perahu tidak dapat bergerak, maju tak bisa mundur pun juga tak bisa.
Nahkoda kapal memerintahkan awak kapal untuk memeriksa sebab-sebab kemacetan itu, apa mungkin ada karang di tengah laut itu.
"Wahai awak kapal, coba periksalah apa yang sedang terjadi. Apakah kapal kita ini sedang menabrak karang?" perintah nahkoda kepada awak kapalnya.
Selanjutnya para awak kapal menyisiri tepi kapal untuk melihat apakah ada yang menghalangi laju perahu mereka. Setelah agak lama berkeliling, ternyata para awak kapal telah menemukan sekotak peti yang indah. Peti itulah yang telah ditabrak oleh kapal itu.
"Tuan, kita telah menabrak sebuah peti indah, dan peti inilah yang mungkin menyebabkan kapal kita terhenti," ujar salah seorang kapal kepada nahkoda.
"Hanya sebuah peti kecil bisa menghentikan kapal ini?" tanya nahkoda keheranan.
"Benar, Tuan." jawab seorang awak kapal satunya.
Sang nahkoda memandangi peti unik namun indah itu dengan seksama.
Tak lama kemudian, dia membuka kotak peti itu. Dan alangkah terkejutnya sang nahkoda dan para awak, ternyata dalam peti itu ada seorang bayi mungil, montok dan rupawan.
Berkata sang nahkoda,
"Bayi siapakah ini? Siapa orang tua yang tega membuang bayi ke tengah lautan?"
Sang nahkoda bisa memastikan bahwa peti itu milik seorang bangsawan yang biasa digunakan untuk menyimpan barang berharga.
Nahkoda sangat gembira karena dapat menyelamatkan jiwa si bayi mungil itu, tapi juga mengutuk orang yang tega membuang bayi itu ke tengah lautan, sungguh orang yang tidak berperikemanusiaan.
Kapal Tak dapat Melanjutkan Perjalanan.
Nahkoda kemudian memerintahkan awak kapal untuk melanjutkan pelayaran ke Pulau Bali. Tapi perahu tak dapat bergerak maju. Ketika perahu diputar dan diarahkan ke Gresik, ternyata perahu itu dapat melaju dengan pesatnya.
Setelah sampai di Gresik, nahkoda segera menghadap si pemilik kapal yang bernama Nyai Ageng Pinatih, seorang janda kaya.
Nahkoda berkata sambil membuka peti itu,
"Peti inilah yang menyebabkan kami kembali dalam waktu secepat ini. Kami tidak dapat meneruskan pelayaran ke Pulau Bali," ujar sang nahkoda.
"Bayi...? Bayi siapa ini?" guman Nyai Ageng Pinatih sembari mengangkat bayi itu dari dalam peti.
"Kami menemukannya di tengah samudra Selat Bali," jawab nahkoda kapal.
Bayi itu kemudian mereka serahkan kepada Nyai Ageng Pinatih untuk diambil sebagai anak angkat. memang sudah lama dia menginginkan seorang anak. Karena bayi itu ditemukan di tengah samudra, maka Nyai Ageng Pinatih kemudian memberinya nama Joko Samudro.
NB:
Joko Samudro ini hanya sebuah nama yang diberikan oleh Nyai Ageng Pinatih.
Beliaulah murid dari Sunan Ampel, dan oleh Sunan Ampel diberi nama Raden Paku.
Beliaulah Sunan Giri yang terkenal itu.
Sangat dahsyat karomah dari bayi ini hingga mampu menggemparkan seisi kapal laut.
Siapakah bayi tersebut.
Kisahnya.
Pada suatu malam, ada sebuah perahu dagang dari Gresik sedang melintasi Selat Bali. Ketika perahu itu berada di tengah-tengah selat Bali, keanehan mulai muncul. Perahu tidak dapat bergerak, maju tak bisa mundur pun juga tak bisa.
Nahkoda kapal memerintahkan awak kapal untuk memeriksa sebab-sebab kemacetan itu, apa mungkin ada karang di tengah laut itu.
"Wahai awak kapal, coba periksalah apa yang sedang terjadi. Apakah kapal kita ini sedang menabrak karang?" perintah nahkoda kepada awak kapalnya.
Selanjutnya para awak kapal menyisiri tepi kapal untuk melihat apakah ada yang menghalangi laju perahu mereka. Setelah agak lama berkeliling, ternyata para awak kapal telah menemukan sekotak peti yang indah. Peti itulah yang telah ditabrak oleh kapal itu.
"Tuan, kita telah menabrak sebuah peti indah, dan peti inilah yang mungkin menyebabkan kapal kita terhenti," ujar salah seorang kapal kepada nahkoda.
"Hanya sebuah peti kecil bisa menghentikan kapal ini?" tanya nahkoda keheranan.
"Benar, Tuan." jawab seorang awak kapal satunya.
Sang nahkoda memandangi peti unik namun indah itu dengan seksama.
Tak lama kemudian, dia membuka kotak peti itu. Dan alangkah terkejutnya sang nahkoda dan para awak, ternyata dalam peti itu ada seorang bayi mungil, montok dan rupawan.
Berkata sang nahkoda,
"Bayi siapakah ini? Siapa orang tua yang tega membuang bayi ke tengah lautan?"
Sang nahkoda bisa memastikan bahwa peti itu milik seorang bangsawan yang biasa digunakan untuk menyimpan barang berharga.
Nahkoda sangat gembira karena dapat menyelamatkan jiwa si bayi mungil itu, tapi juga mengutuk orang yang tega membuang bayi itu ke tengah lautan, sungguh orang yang tidak berperikemanusiaan.
Kapal Tak dapat Melanjutkan Perjalanan.
Nahkoda kemudian memerintahkan awak kapal untuk melanjutkan pelayaran ke Pulau Bali. Tapi perahu tak dapat bergerak maju. Ketika perahu diputar dan diarahkan ke Gresik, ternyata perahu itu dapat melaju dengan pesatnya.
Setelah sampai di Gresik, nahkoda segera menghadap si pemilik kapal yang bernama Nyai Ageng Pinatih, seorang janda kaya.
Nahkoda berkata sambil membuka peti itu,
"Peti inilah yang menyebabkan kami kembali dalam waktu secepat ini. Kami tidak dapat meneruskan pelayaran ke Pulau Bali," ujar sang nahkoda.
"Bayi...? Bayi siapa ini?" guman Nyai Ageng Pinatih sembari mengangkat bayi itu dari dalam peti.
"Kami menemukannya di tengah samudra Selat Bali," jawab nahkoda kapal.
Bayi itu kemudian mereka serahkan kepada Nyai Ageng Pinatih untuk diambil sebagai anak angkat. memang sudah lama dia menginginkan seorang anak. Karena bayi itu ditemukan di tengah samudra, maka Nyai Ageng Pinatih kemudian memberinya nama Joko Samudro.
NB:
Joko Samudro ini hanya sebuah nama yang diberikan oleh Nyai Ageng Pinatih.
Beliaulah murid dari Sunan Ampel, dan oleh Sunan Ampel diberi nama Raden Paku.
Beliaulah Sunan Giri yang terkenal itu.
Tuesday, November 1, 2011
Pertemuan Sunan Kalijaga dan Sunan Bonang
Kisah islmiah malam ini akan melanjutkan kisah tantang Perjalanan Sunan Kalijaga dalam mencari jati diri, dan dalam pengembaraannya setelah diusir dari Kadipaten Tuban. Setelah Sunan Kalijaga diusir dari Kadipaten beliau menetap di sebuah hutan. Dan di hutan itulah Raden Said bertemu dengan seorang laki-laki yang ternyata adalah Sunan Bonang.
Kisahnya.
Raden Said mengembara tanpa tujuan yang pasti. Pada akhirnya dia menetap di hutan Jatiwangi dan selama bertahun-tahun lamanya, Raden Said menjadi perampok yang budiman. Mengapa disebut budiman, karena hasil rampokan yang ia dapat tidak dimakannya, namun diberikan kepada fakir miskin.
Yang dirampoknya adalah hanya para hartawan atau orang kaya yang kikir, tidak menyantuni rakyat jelata dan tidak mau membayar zakat.
Di hutan Jatiwangi, dia membuang nama aslinya, orang-orang menyebutnya sebagai Berandal Lokajaya.
Pada suatu hari, ada seseorang yang berjubah putih melewati hutan Jatiwangi. Dari kejauhan, Berandal Lokajaya ini sudah mengincarnya. Orang itu membawa sebatang tongkat yang gagangnya berkilauan. Terus menerus diawasinya orangtua berjubah putih itu. Setelah dekat, dia menghadang langkahnya dan tanpa banyak bicara lagi direbutnya tongkat itu dari tangan lelaki berjubah putih.
Karena tongkat itu direbut dengan paksa, maka orang berjubah putih itu jatuh tersungkur.
Dengan susah payah orang itu bangun, dan sepasang matanya mengeluarkan air walaupun tidak ada suara rintih tangis dari mulutnya. Raden Said pada saat itu sedang mengamat-amati gagang tongkat yang dipeganganya, dan ternyata tongkat itu bukan terbuat dari emas. Hanya gagangnya saja yang terbuat dari kuningan sehingga berkilauan tertimpa cahaya matahari seperti emas.
Raden Said heran meliat orang tua yang menangis itu. Segera saja diulurkannya kembali tongkatnya sambil berkata,
"Jangan menangis wahai orang tua, ini tongkatmu aku kembalikan."
'Bukan tongkat ini yang aku tangisi," jawab orang tua itu.
"Lalu apa yang membuatmu menangis?" tanya Berandal Lokajaya.
"Lihatlah, aku telah berbuat dosa, berbuat kesia-siaan. Rumput ini tercabut ketika aku jatuh tersungkur tadi," kata lelaki tua itu sambil menunjukkan beberapa batang rumput kepada Berandal Lokajaya.
"Hanya beberapa lembar rumput engkau merasa berdosa?" tanya Berandal Lokajaya.
"Ya, memang berdosa. Karena aku mencabutnya tanpa suatu keperluan. Andaikata aku cabut untuk makanan ternak, itu tak mengapa.Tapi kalau untuk kesia-siaan benar-benar suatu dosa," jawab lelaki tua itu.
Berandal Jayaloka Bergetar Hatinya.
Hati Berandal Jayaloka yang tampan itu tergetar atas jawaban yang mengandung nilai iman itu.
"Anak muda, sesungguhnya apa yang engkau cari di hutan ini?" tanya lelaki tua itu.
"Saya menginginkan harta," jawab Berandal Jayaloka.
"Untuk apa?" tanya lelaki tua itu selanjutnya.
"Saya berikan kepada fakir miskin dan penduduk yang menderita," jawab Berandal Jayaloka.
"Hemmm...sungguh mulia hatimu, sayang...cara mendapatkannya keliru," ujar lelaki tua itu.
"Orang tua....apa maksudmu?" tanya Berandal Jayaloka.
"Boleh aku bertanya anak muda, jika engkau mencuci pakaianmu yang kotor dengan air kencing, apakah tindakanmu itu benar?" tanya lelaki tua itu.
"Sungguh perbuatan bodoh, hanya akan menambah kotor dan bau pakaian saja," jawab Berandal Jayaloka.
Lelaki tua itu tersenyum.
"Demikian pula amal yang engkau lakukan. Engkau bersedekah dengan barang yang didapat secara haram, merampok atau mencuri, itu sama halnya mencuci pakaian dengan air kencing," jelas lelaki tua itu.
Berandal Jayaloka itu tersentak kaget, namun lelaki tua itu langsung melanjutkan perkataannya.
"Alah itu adalah zat yang baik, hanya menerima amal dari barang yang baik atau halal," tutur lelaki tua itu.
Raden Said makin tercengang setelah mendengar keterangan dari lelaki tua itu. Rasa malu mulai menghujam lubuk hatinya. Betapa keliru perbuatannya selama ini. Di pandangnya lelaki berjubah putih itu dengan seksama. Agung dan berwibawa namun mencerminkan pribadi yang welas asih. Dia mulai menyukai dan tertarik dengan lelaki tua itu.
Pohon Aren Berubah menjadi Emas.
Lelaki tua itu kemudian melanjutkan penuturannya.
"Banyak hal yang terkait dalam usaha mengentas kemiskinan dan penderitaan rakyat pada saat ini. Engkau tidak bisa mengubahnya hanya dengan memberikan bantuan makan dan uang kepada para penduduk miskin. Engkau harus memperingatkan para penguasa yang zalim agar mau mengubah caranya memerintah agar tidak sewenang-wenang. Engaku juga harus dapat membimbing rakyat agar dapat meningkatkan taraf kehidupannya," tutur lelaki berjubah putih itu.
Berandal Jayaloka, Raden Said semakin terpana, ucapan seperti itulah yang selama ini didambakannya. Raden Said yang masih dalam keterpanaan, lelaki berjubah putih itu kembali berkata,
"Kalau engkau tak mau bekerja keras dan hanya ingin beramal dengan cara yang mudah, maka ambillah itu. Itu adalah barang yang halal, ambillah sesukamu," kata lelaki berjubah putih itu sambil menunjuk ke arah pohon aren.
Sepasang mata Raden Said terbelalak karena seketika itu juga pohon aren itu berubah menjadi emas seluruhnya. Raden Said adalah seorang pemuda yang sakti, banyak ragam pengalaman yang telah dia kecapnya. Berbagai ilmu-ilmu aneh juga telah dia pelajarinya, dia mengira orang tua itu mempergunakan ilmu sihir. Dari itu dia mencoba menangkal sihir itu, namun ternyata setelah Raden Said mengerahkan seluruh ilmunya, tetap saja pohon aren itu menjadi emas.
Raden Said yakin bahwa orang tua itu tidak mempergunakan ilmu sihir, ia benar-benar merasa heran dan penasaran. Ilmu apakah yang telah dipergunakan orang tua itu sehingga mampu mengubah pohon aren menjadi sebuah pohon arena emas.
Selama beberapa saat, Raden Said terpukau di tempatnya berdiri. Dia mencoba memanjat pohon aren itu, dan ternyata benar-benar berubah menjadi emas seluruhnya. Ia ingin mengambil buah aren yang telah berubah menjadi emas berkilauan itu, medadak buah aren itu rontok berjatuhan mengenai kepala Raden Said.
Pemuda itu akhirnya terjerembab ke tanah, roboh dan pingsan.
Ketika Raden Said tersadar, buah aren yang rontok itu telah berubah lagi menjadi hijau seperti pohon aren-aren lainnya. Kemudian Raden Said bangkit berdiri untuk mencari orang tua berjubah putih itu. Tapi yang dicarinya sudah tidak ada di tempat.
Insya Alloh besok akan dilanjutkan dengan Kisah Sunan Kalijaga yang mencari guru sejati.
Kisahnya.
Raden Said mengembara tanpa tujuan yang pasti. Pada akhirnya dia menetap di hutan Jatiwangi dan selama bertahun-tahun lamanya, Raden Said menjadi perampok yang budiman. Mengapa disebut budiman, karena hasil rampokan yang ia dapat tidak dimakannya, namun diberikan kepada fakir miskin.
Yang dirampoknya adalah hanya para hartawan atau orang kaya yang kikir, tidak menyantuni rakyat jelata dan tidak mau membayar zakat.
Di hutan Jatiwangi, dia membuang nama aslinya, orang-orang menyebutnya sebagai Berandal Lokajaya.
Pada suatu hari, ada seseorang yang berjubah putih melewati hutan Jatiwangi. Dari kejauhan, Berandal Lokajaya ini sudah mengincarnya. Orang itu membawa sebatang tongkat yang gagangnya berkilauan. Terus menerus diawasinya orangtua berjubah putih itu. Setelah dekat, dia menghadang langkahnya dan tanpa banyak bicara lagi direbutnya tongkat itu dari tangan lelaki berjubah putih.
Karena tongkat itu direbut dengan paksa, maka orang berjubah putih itu jatuh tersungkur.
Dengan susah payah orang itu bangun, dan sepasang matanya mengeluarkan air walaupun tidak ada suara rintih tangis dari mulutnya. Raden Said pada saat itu sedang mengamat-amati gagang tongkat yang dipeganganya, dan ternyata tongkat itu bukan terbuat dari emas. Hanya gagangnya saja yang terbuat dari kuningan sehingga berkilauan tertimpa cahaya matahari seperti emas.
Raden Said heran meliat orang tua yang menangis itu. Segera saja diulurkannya kembali tongkatnya sambil berkata,
"Jangan menangis wahai orang tua, ini tongkatmu aku kembalikan."
'Bukan tongkat ini yang aku tangisi," jawab orang tua itu.
"Lalu apa yang membuatmu menangis?" tanya Berandal Lokajaya.
"Lihatlah, aku telah berbuat dosa, berbuat kesia-siaan. Rumput ini tercabut ketika aku jatuh tersungkur tadi," kata lelaki tua itu sambil menunjukkan beberapa batang rumput kepada Berandal Lokajaya.
"Hanya beberapa lembar rumput engkau merasa berdosa?" tanya Berandal Lokajaya.
"Ya, memang berdosa. Karena aku mencabutnya tanpa suatu keperluan. Andaikata aku cabut untuk makanan ternak, itu tak mengapa.Tapi kalau untuk kesia-siaan benar-benar suatu dosa," jawab lelaki tua itu.
Berandal Jayaloka Bergetar Hatinya.
Hati Berandal Jayaloka yang tampan itu tergetar atas jawaban yang mengandung nilai iman itu.
"Anak muda, sesungguhnya apa yang engkau cari di hutan ini?" tanya lelaki tua itu.
"Saya menginginkan harta," jawab Berandal Jayaloka.
"Untuk apa?" tanya lelaki tua itu selanjutnya.
"Saya berikan kepada fakir miskin dan penduduk yang menderita," jawab Berandal Jayaloka.
"Hemmm...sungguh mulia hatimu, sayang...cara mendapatkannya keliru," ujar lelaki tua itu.
"Orang tua....apa maksudmu?" tanya Berandal Jayaloka.
"Boleh aku bertanya anak muda, jika engkau mencuci pakaianmu yang kotor dengan air kencing, apakah tindakanmu itu benar?" tanya lelaki tua itu.
"Sungguh perbuatan bodoh, hanya akan menambah kotor dan bau pakaian saja," jawab Berandal Jayaloka.
Lelaki tua itu tersenyum.
"Demikian pula amal yang engkau lakukan. Engkau bersedekah dengan barang yang didapat secara haram, merampok atau mencuri, itu sama halnya mencuci pakaian dengan air kencing," jelas lelaki tua itu.
Berandal Jayaloka itu tersentak kaget, namun lelaki tua itu langsung melanjutkan perkataannya.
"Alah itu adalah zat yang baik, hanya menerima amal dari barang yang baik atau halal," tutur lelaki tua itu.
Raden Said makin tercengang setelah mendengar keterangan dari lelaki tua itu. Rasa malu mulai menghujam lubuk hatinya. Betapa keliru perbuatannya selama ini. Di pandangnya lelaki berjubah putih itu dengan seksama. Agung dan berwibawa namun mencerminkan pribadi yang welas asih. Dia mulai menyukai dan tertarik dengan lelaki tua itu.
Pohon Aren Berubah menjadi Emas.
Lelaki tua itu kemudian melanjutkan penuturannya.
"Banyak hal yang terkait dalam usaha mengentas kemiskinan dan penderitaan rakyat pada saat ini. Engkau tidak bisa mengubahnya hanya dengan memberikan bantuan makan dan uang kepada para penduduk miskin. Engkau harus memperingatkan para penguasa yang zalim agar mau mengubah caranya memerintah agar tidak sewenang-wenang. Engaku juga harus dapat membimbing rakyat agar dapat meningkatkan taraf kehidupannya," tutur lelaki berjubah putih itu.
Berandal Jayaloka, Raden Said semakin terpana, ucapan seperti itulah yang selama ini didambakannya. Raden Said yang masih dalam keterpanaan, lelaki berjubah putih itu kembali berkata,
"Kalau engkau tak mau bekerja keras dan hanya ingin beramal dengan cara yang mudah, maka ambillah itu. Itu adalah barang yang halal, ambillah sesukamu," kata lelaki berjubah putih itu sambil menunjuk ke arah pohon aren.
Sepasang mata Raden Said terbelalak karena seketika itu juga pohon aren itu berubah menjadi emas seluruhnya. Raden Said adalah seorang pemuda yang sakti, banyak ragam pengalaman yang telah dia kecapnya. Berbagai ilmu-ilmu aneh juga telah dia pelajarinya, dia mengira orang tua itu mempergunakan ilmu sihir. Dari itu dia mencoba menangkal sihir itu, namun ternyata setelah Raden Said mengerahkan seluruh ilmunya, tetap saja pohon aren itu menjadi emas.
Raden Said yakin bahwa orang tua itu tidak mempergunakan ilmu sihir, ia benar-benar merasa heran dan penasaran. Ilmu apakah yang telah dipergunakan orang tua itu sehingga mampu mengubah pohon aren menjadi sebuah pohon arena emas.
Selama beberapa saat, Raden Said terpukau di tempatnya berdiri. Dia mencoba memanjat pohon aren itu, dan ternyata benar-benar berubah menjadi emas seluruhnya. Ia ingin mengambil buah aren yang telah berubah menjadi emas berkilauan itu, medadak buah aren itu rontok berjatuhan mengenai kepala Raden Said.
Pemuda itu akhirnya terjerembab ke tanah, roboh dan pingsan.
Ketika Raden Said tersadar, buah aren yang rontok itu telah berubah lagi menjadi hijau seperti pohon aren-aren lainnya. Kemudian Raden Said bangkit berdiri untuk mencari orang tua berjubah putih itu. Tapi yang dicarinya sudah tidak ada di tempat.
Insya Alloh besok akan dilanjutkan dengan Kisah Sunan Kalijaga yang mencari guru sejati.
Monday, October 31, 2011
Sunan Kalijaga Diusir dari Kadipaten
Kisah islamiah kali ini akan bercerita tentang salah satu punggawa Walisanga yang yaitu Sunan Kalijaga.
Dari manakah asalnya hingga sampai menjadi seorang wali yang sangat dikagumi hingga sekarang. Karena kisahnya sangat panjang, maka akan dipecah-pecah menjadi beberapa judul postingan.
Kisahnya.
Siapa Sunan Kalijaga
Sunan Kalijaga aslinya bernama Raden Said.
Beliau ini adalah putra Adipati Tuban yang bernama Tumenggung Wilatikta. Tumenggung Wilatikta seringkali disebut Raden Sahur.Walaupun dia ini termasuk keturunan Ranggalawe yang beragama Hindu, tapi Raden Sahur sendiri sudah masuk agama Islam.
Sejak kecil Raden Said sudah diperkenalkan dengan agama Islam oleh guru agama Kadipaten Tuban. tetapi karena melihat keadaan sekitar yang kontradiksi dengan kehidupan rakyat jelata, maka jiwa Raden Said berontak.
Gelora jiwa muda Raden Said seakan meledak-ledak manakala melihat praktek oknum pejabat Kadipaten Tuban di saat menarik pajak pada penduduk atau rakyat je;lata.
Rakyat yang pada waktu itu sudah sangat menderita dikarenakan adanya musim kemarau panjang, semakin sengsara, mereka harus membayar pajak yang kadangl kala tidak sesuai dengan ketentuan yang ada. Bahkan jauh dari kemampuan mereka. Seringkali jatah untuk persediaan menghadapi musim panen berikutnya sudah disita para penarik pajak.
Walaupun Raden Said putra seorang bangsawan, dia lebih menyukai kehidupan yang bebas, yang tidak terikat oleh adat istiadat kebangsawanan. Dia gemar bergaul dengan rakyat jelata atau dengan segala lapisan masyarakat, dari yang paling bawah hingga paling atas. Justru karena pergaulannya yang supel itulah dia banyak mengetahui seluk beluk kehidupan rakyat Tuban.
Berniat Mengurangi Penderitaan Rakyat.
Nait dari Raden Said untuk mengurangi penderitaan rakyat sudah disampaikan kepada ayahnya, tapi agaknya ayahnya tidak bisa berbuat banyak. Dia cukup memahaminya karena posisi ayahnya sebagai adipati bawahan Majapahit.Tapi, niat itu tak pernah padam. Jika malam-malam sebelumnya dia sering berada didalam kamarnya sambil membaca Al Qur'an, maka sekarang dia sering keluar rumah.
Pada saat penjega gudang Kadipaten tertidur lelap, Raden Said mengambil sebagian hasil bumi yang ditarik dari rakyat untuk disetorkan ke Majapahit. Bahan makanan itu dibagi-bagikan kepada rakyat yang sangat membutuhkannya. Hal ini dilakukan tanpa sepengetahuan mereka.
Tentu saja rakyat yang tidak tahu apa-apa itu menjadi kaget bercampur gembira karena telah menerima rezeki yang tak terduga. Walaupun mereka tak pernah tahu siapa gerangan yang memberikan rezeki itu sebab Raden Said melakukannya di malam hari secara sembunyi-sembunyi.
Bukan hanya rakyat jelata yang terkejut atas rezeki yang seakan turun dari langit itu. Penjaga gudang kadipaten juga merasa kaget, hatinya gundah karena semakin hari barang-barang yang hendak disetorkan ke pusat kerajaan Majapahit itu semakin berkurang.
Ia ingin mengetahui siapakah pencuri barang hasil bumi di gudang itu. Pada suatu malam, ia sengaja mengintip dari kejauhan, dari balik sebuah rumah, tak jauh dari gudang Kadipaten.
Dugaannya benar, ada seorang yang membuka pintu gudang, hampir tak berkedip penjaga pintu itu memperhatikan pencuri itu. Dia hampir tak percaya kalau pencuri itu adalah Raden Said, putra junjungannya sendiri.
Raden Said Dilaporkan.
Untuk melaporkannya sendiri kepada Adipati Wilatikta ia tak berani, karena kuatir dainggap telah membuat fitnah. Maka penjaga gudang itu akhirnya meminta dua orang saksi dari sang adipati untuk memergoki pencuri yang mengambil hasil bumi rakyat yang tersimpan di gudang.
Raden Said tak pernah menyangka bahwa malam itu perbuatannya bakal ketahuan. Ketika hendak keluar dari gudang sambi membawa bahan-bahan makanan, tiga orang prajurit kadipaten menangkapnya beserta barang bukti yang dibawanya. Raden Said dibawa ke hadapan ayahnya.
Adipati Wilatikta sangat marah melihat perbuatan anaknya itu. Raden Said tidak menjawab untuk apakah dia mencuri barang-barang hasil bumi yang hendak disetorkan ke Majapahit itu.
Untuk itulah Raden Said harus mendapat hukuman.
Karena kejahatan mencuri itu baru pertama kali dilakukan oleh Raden Said, maka dia hanya mendapat hukuman cambuk sebanyak 200 kali pada tangannya, kemudian Raden Said disekap selama beberapa hari tak boleh keluar rumah.
Jerakah Raden Said atas hukuman yang sudah diterimanya?
Ternyata tidak.
Sesudah kelar hukuman yang diterimanya, dia benar-benar keluar dari lingkungan istana. Tak pernah pulang sehingga membuat cemas ibu dan adiknya.
Apakah yang dilakukan Raden Said selanjutnya?
Dia mengenakan topeng khusus, berpakaian serba hitam dan kemudian merampok harta orang-orang kaya di Kadipaten Tuban, terutama orang kaya yang pelit dan para pejabat kadipaten yang curang.
Harta hasil rampokan itu pun diberikannya kepada fakir miskin dan orang-orang yang menderita lainnya. Tapi, kemudian perbuatannya ini mencapai titik jenuh setelah ada saja orang yang bermaksud mencelakakannya.
Ada seorang pimpinan perampok sejati (asli perampok) yang mengetahui aksi Raden Said menjarah harta pejabat kata. Pemimpin perampok itu mengenakan pakaian serupa dengan pakaian Raden Said bahkan juga mengenakan topeng seperti topeng Raden Said.
Pada suatu malam, Raden Said yang baru saja menyelesaikan shalat isyak, mendengar jerit tangis para penduduk desa yang kampungnya sedang dijarah perampok. Dia segera mendatangi tempat kejadian tiu. Begitu mengetahui kedatangan Raden Said, kawanan perampok itu segera berhamburan melarikan diri. Tinggal pemimpin perampok saja yang sedang tengah terlihat menodai seorang gadis.
Raden Said pun mendobrak pintu ruamh itu dan di dalam kamar terlihat seseorang yang berpakaian seperti dirinya, juga mengenakan topeng serupa sedang mengenakan pakaiannya kembali. Rupanya dia telah selesai menodai si gadis itu.
Raden Said berusaha menangkap perampok itu, namun pemimpin perampok itu berhasil melarikan diri. Tiba-tiba saja terdengar suara kentongan dipukul bertalu--talu hingga penduduk dari kampung lain pun berdatangan ke tempat itu. Pada saat itulah si gadis itu memegang erat-erat tangan Raden Said.
Raden Said pun menjadi panik dan kebingunagan . Para pemuda dari kampung menerobos masuk dengan senjata terhunus. Raden Said ditangkap dan dibawa ke rumah kepala desa.
Kepala desa yang merasa penasaran, mencoba membuka topeng yang ada di wajah Raden Said. Begitu mengetahui siapa orang dibalik topeng itu, si kepala desa menjadi diam seribu bahasa.
Sama sekali dia tak menyangka bahwa perampok itu adalah putra Adipati Wilatikta, Raden Said. Gegerlah masyarakat pada saat itu, Raden Said dianggap perampok dan pemerkosa. Si gadis yang diperkosa itu adalah bukti kuat dan saksi hidup atas kejahatannya.
Sang kepala desa masih berusaha menutupi aib junjungannya. Dian-diam ia membawa Raden Said ke istana kadipaten Tuban tanpa diketahui oleh orang banyak.
Tentu saja sanga Adipati menjadi murka. Raden Said yang selama ini selalu dia sayang dan selalu dia bela, kali ini telah membuat hati ayahnya marah.
RadenSaid diusir dari Kadipaten.
Raden Said pun akhirnya diusir oleh ayahnya dari kadipaten Tuban.
"Pergilah dari Kadipaten Tuban ini!!! Engkau telah mencoreng nama baik keluarganmu sendiri. Pergi!!! Jangan pernah kembali sebelum engkau dapat menggetarkan dinding-dinding istana Kadipaten Tuban ini dengan ayat-ayat Al-Qur'an yang sering engkau baca di malam hari," usir Adipati WIlatikta.
Sang Adipati Wilatikta juga sangat terpukul atas kejadian itu. Raden Said yang diharapkan dapat menggantikan kedudukannya selaku Adipati Tuban, ternyata telah menutup kemungkinan ke arah itu. Sirna sudah segala harapan sang Adipati.
Hanya ada satu orang saja yang tak dapat mempercayai perrbuatan Raden Said., yaitu Dewi Rasawulan, adik kandung Raden Said sendiri.
Dewi Rasawulan berpendapat bahwa kejadian itu merupakan fitnah yang ditujukan kepada kakanya. Ia berpendapat bahwa Raden Said itu berjiwa bersih, luhur dan sangat tidak mungkin melakukan perbuatan keji seperti itu.
Dewi Rasawulan yang sangat menyayangi kakaknya itu merasa kasiha, dan tanpa sepengetahuan ayah dan ibunya, dia meninggalkan istana kadipaten Tuban untuk mencari Raden Said untuk diajak pulang.
Dari manakah asalnya hingga sampai menjadi seorang wali yang sangat dikagumi hingga sekarang. Karena kisahnya sangat panjang, maka akan dipecah-pecah menjadi beberapa judul postingan.
Kisahnya.
Siapa Sunan Kalijaga
Sunan Kalijaga aslinya bernama Raden Said.
Beliau ini adalah putra Adipati Tuban yang bernama Tumenggung Wilatikta. Tumenggung Wilatikta seringkali disebut Raden Sahur.Walaupun dia ini termasuk keturunan Ranggalawe yang beragama Hindu, tapi Raden Sahur sendiri sudah masuk agama Islam.
Sejak kecil Raden Said sudah diperkenalkan dengan agama Islam oleh guru agama Kadipaten Tuban. tetapi karena melihat keadaan sekitar yang kontradiksi dengan kehidupan rakyat jelata, maka jiwa Raden Said berontak.
Gelora jiwa muda Raden Said seakan meledak-ledak manakala melihat praktek oknum pejabat Kadipaten Tuban di saat menarik pajak pada penduduk atau rakyat je;lata.
Rakyat yang pada waktu itu sudah sangat menderita dikarenakan adanya musim kemarau panjang, semakin sengsara, mereka harus membayar pajak yang kadangl kala tidak sesuai dengan ketentuan yang ada. Bahkan jauh dari kemampuan mereka. Seringkali jatah untuk persediaan menghadapi musim panen berikutnya sudah disita para penarik pajak.
Walaupun Raden Said putra seorang bangsawan, dia lebih menyukai kehidupan yang bebas, yang tidak terikat oleh adat istiadat kebangsawanan. Dia gemar bergaul dengan rakyat jelata atau dengan segala lapisan masyarakat, dari yang paling bawah hingga paling atas. Justru karena pergaulannya yang supel itulah dia banyak mengetahui seluk beluk kehidupan rakyat Tuban.
Berniat Mengurangi Penderitaan Rakyat.
Nait dari Raden Said untuk mengurangi penderitaan rakyat sudah disampaikan kepada ayahnya, tapi agaknya ayahnya tidak bisa berbuat banyak. Dia cukup memahaminya karena posisi ayahnya sebagai adipati bawahan Majapahit.Tapi, niat itu tak pernah padam. Jika malam-malam sebelumnya dia sering berada didalam kamarnya sambil membaca Al Qur'an, maka sekarang dia sering keluar rumah.
Pada saat penjega gudang Kadipaten tertidur lelap, Raden Said mengambil sebagian hasil bumi yang ditarik dari rakyat untuk disetorkan ke Majapahit. Bahan makanan itu dibagi-bagikan kepada rakyat yang sangat membutuhkannya. Hal ini dilakukan tanpa sepengetahuan mereka.Tentu saja rakyat yang tidak tahu apa-apa itu menjadi kaget bercampur gembira karena telah menerima rezeki yang tak terduga. Walaupun mereka tak pernah tahu siapa gerangan yang memberikan rezeki itu sebab Raden Said melakukannya di malam hari secara sembunyi-sembunyi.
Bukan hanya rakyat jelata yang terkejut atas rezeki yang seakan turun dari langit itu. Penjaga gudang kadipaten juga merasa kaget, hatinya gundah karena semakin hari barang-barang yang hendak disetorkan ke pusat kerajaan Majapahit itu semakin berkurang.
Ia ingin mengetahui siapakah pencuri barang hasil bumi di gudang itu. Pada suatu malam, ia sengaja mengintip dari kejauhan, dari balik sebuah rumah, tak jauh dari gudang Kadipaten.
Dugaannya benar, ada seorang yang membuka pintu gudang, hampir tak berkedip penjaga pintu itu memperhatikan pencuri itu. Dia hampir tak percaya kalau pencuri itu adalah Raden Said, putra junjungannya sendiri.
Raden Said Dilaporkan.
Untuk melaporkannya sendiri kepada Adipati Wilatikta ia tak berani, karena kuatir dainggap telah membuat fitnah. Maka penjaga gudang itu akhirnya meminta dua orang saksi dari sang adipati untuk memergoki pencuri yang mengambil hasil bumi rakyat yang tersimpan di gudang.
Raden Said tak pernah menyangka bahwa malam itu perbuatannya bakal ketahuan. Ketika hendak keluar dari gudang sambi membawa bahan-bahan makanan, tiga orang prajurit kadipaten menangkapnya beserta barang bukti yang dibawanya. Raden Said dibawa ke hadapan ayahnya.
Adipati Wilatikta sangat marah melihat perbuatan anaknya itu. Raden Said tidak menjawab untuk apakah dia mencuri barang-barang hasil bumi yang hendak disetorkan ke Majapahit itu.
Untuk itulah Raden Said harus mendapat hukuman.
Karena kejahatan mencuri itu baru pertama kali dilakukan oleh Raden Said, maka dia hanya mendapat hukuman cambuk sebanyak 200 kali pada tangannya, kemudian Raden Said disekap selama beberapa hari tak boleh keluar rumah.
Jerakah Raden Said atas hukuman yang sudah diterimanya?
Ternyata tidak.
Sesudah kelar hukuman yang diterimanya, dia benar-benar keluar dari lingkungan istana. Tak pernah pulang sehingga membuat cemas ibu dan adiknya.
Apakah yang dilakukan Raden Said selanjutnya?
Dia mengenakan topeng khusus, berpakaian serba hitam dan kemudian merampok harta orang-orang kaya di Kadipaten Tuban, terutama orang kaya yang pelit dan para pejabat kadipaten yang curang.
Harta hasil rampokan itu pun diberikannya kepada fakir miskin dan orang-orang yang menderita lainnya. Tapi, kemudian perbuatannya ini mencapai titik jenuh setelah ada saja orang yang bermaksud mencelakakannya.
Ada seorang pimpinan perampok sejati (asli perampok) yang mengetahui aksi Raden Said menjarah harta pejabat kata. Pemimpin perampok itu mengenakan pakaian serupa dengan pakaian Raden Said bahkan juga mengenakan topeng seperti topeng Raden Said.
Pada suatu malam, Raden Said yang baru saja menyelesaikan shalat isyak, mendengar jerit tangis para penduduk desa yang kampungnya sedang dijarah perampok. Dia segera mendatangi tempat kejadian tiu. Begitu mengetahui kedatangan Raden Said, kawanan perampok itu segera berhamburan melarikan diri. Tinggal pemimpin perampok saja yang sedang tengah terlihat menodai seorang gadis.
Raden Said pun mendobrak pintu ruamh itu dan di dalam kamar terlihat seseorang yang berpakaian seperti dirinya, juga mengenakan topeng serupa sedang mengenakan pakaiannya kembali. Rupanya dia telah selesai menodai si gadis itu.
Raden Said berusaha menangkap perampok itu, namun pemimpin perampok itu berhasil melarikan diri. Tiba-tiba saja terdengar suara kentongan dipukul bertalu--talu hingga penduduk dari kampung lain pun berdatangan ke tempat itu. Pada saat itulah si gadis itu memegang erat-erat tangan Raden Said.
Raden Said pun menjadi panik dan kebingunagan . Para pemuda dari kampung menerobos masuk dengan senjata terhunus. Raden Said ditangkap dan dibawa ke rumah kepala desa.
Kepala desa yang merasa penasaran, mencoba membuka topeng yang ada di wajah Raden Said. Begitu mengetahui siapa orang dibalik topeng itu, si kepala desa menjadi diam seribu bahasa.
Sama sekali dia tak menyangka bahwa perampok itu adalah putra Adipati Wilatikta, Raden Said. Gegerlah masyarakat pada saat itu, Raden Said dianggap perampok dan pemerkosa. Si gadis yang diperkosa itu adalah bukti kuat dan saksi hidup atas kejahatannya.
Sang kepala desa masih berusaha menutupi aib junjungannya. Dian-diam ia membawa Raden Said ke istana kadipaten Tuban tanpa diketahui oleh orang banyak.
Tentu saja sanga Adipati menjadi murka. Raden Said yang selama ini selalu dia sayang dan selalu dia bela, kali ini telah membuat hati ayahnya marah.
RadenSaid diusir dari Kadipaten.
Raden Said pun akhirnya diusir oleh ayahnya dari kadipaten Tuban.
"Pergilah dari Kadipaten Tuban ini!!! Engkau telah mencoreng nama baik keluarganmu sendiri. Pergi!!! Jangan pernah kembali sebelum engkau dapat menggetarkan dinding-dinding istana Kadipaten Tuban ini dengan ayat-ayat Al-Qur'an yang sering engkau baca di malam hari," usir Adipati WIlatikta.
Sang Adipati Wilatikta juga sangat terpukul atas kejadian itu. Raden Said yang diharapkan dapat menggantikan kedudukannya selaku Adipati Tuban, ternyata telah menutup kemungkinan ke arah itu. Sirna sudah segala harapan sang Adipati.
Hanya ada satu orang saja yang tak dapat mempercayai perrbuatan Raden Said., yaitu Dewi Rasawulan, adik kandung Raden Said sendiri.
Dewi Rasawulan berpendapat bahwa kejadian itu merupakan fitnah yang ditujukan kepada kakanya. Ia berpendapat bahwa Raden Said itu berjiwa bersih, luhur dan sangat tidak mungkin melakukan perbuatan keji seperti itu.
Dewi Rasawulan yang sangat menyayangi kakaknya itu merasa kasiha, dan tanpa sepengetahuan ayah dan ibunya, dia meninggalkan istana kadipaten Tuban untuk mencari Raden Said untuk diajak pulang.
Subscribe to:
Posts (Atom)














