Thursday, May 5, 2011

Noda...........

Saat saya bepergian dari Jakarta menuju sebuah desa di Lampung di tempat kakek saya tinggal, saya tiba pada pagi hari. Di rumah, kakek menyambut saya dengan hangat. Karena saya tiba pagi hari, kakek pun bertanya, “Sholat subuh di mana tadi?”

“Nggak sholat kek. Gak sempat. Waktunya habis di dalam mobil.” Jawab saya agak malu.

“Lho, kan bisa sholat di mobil.”

“Mmm… malas kek. Ngantuk. Sekali-kali lah.” Saya berharap kakek bisa mengerti. Tapi tetap saja saya tangkap kesan heran di wajah kakek. Mungkin karena beliau tahu saya rajin beribadah, tapi untuk urusan perjalanan, saya dengan ringan meninggalkannya.

Setelah diam sesaat, kakek berkata. “Nanti sore kalau gak capek, kita bisa jalan-jalan ke kebun.”

“Asyiik!!!” Sambut saya sumringah.

Senja tiba. Saya sudah siap melihat-lihat kebun kakek yang tidak jauh dari rumahnya. Entah kenapa, kakek meminjamkan sebuah celana berwarna putih untuk saya. Maklum karena di kebun tentu saja kami akan berkotor-kotor, saya tidak ragu mengambilnya. Daripada celana yang saya bawa dari Jakarta yang saya pakai. Sayang, persediaan terbatas. Tapi aneh, pada akhirnya kakek berkata, “Kalau celana itu sampai kotor, kamu cuci sendiri ya!!” Saya tidak mengerti maksud kakek, tapi saya ikuti saja. Dan saya lihat kakek sendiri menggunakan celana hitam.

Perjalanan di mulai. Setelah 15 menit kami sampai di kebun kakek. Di kebun itu kami berkeliling menyaksikan bermacam tanaman yang ditaman oleh kakek, mulai dari pisang, jagung, hingga cabai.

Setelah puas, kami istirahat sejenak. Tanpa sungkan, kakek duduk di tanah dan menyuruh saya duduk di sampingnya. “Duduk lah.”

“Gak ah, kek. Takut kotor.”

“Kenapa takut kotor? Kakek santai saja kok duduk di tanah.”

“Ya jelas. Kakek kan memakai celana hitam. Sedangkan celana saya putih.”

“Memang kenapa kalau celana putih?”

“Kalau celana putih, kan susah dicucinya kalau kena noda. Kalau tidak bersih, nodanya akan terlihat jelas. Sedangkan celana hitam, tidak terlalu kentara kalau kotor.”

Kakek terangguk-angguk. “Apa kamu bisa mengambil pelajaran dari hal tersebut?”

“Hah?? Pelajaran apa kek???” Aku agak bengong.

“Kamu mengerti, bahwa perumpamaan orang munafik atau fasik, adalah seperti kakek ini yang memakai celana hitam…”

”Lho, maksud kakek?” Aku memotong.

“Dengar dulu!! Orang yang memakai celana hitam, tidak akan merasa was-was kalau celananya kotor. Dia tidak akan malu berjalan di tengah orang banyak dengan celana yang terkena noda tanah di sana sini. Sedangkan orang yang beriman, seperti orang yang memakai celana putih, yang ia khawatir apabila celananya sedikit kotor, maka noda itu akan terlihat jelas.”

Aku mengangguk-angguk. “Ooh… iya kek. Gak nyangka kakek filosofis banget.” Ujarku sambil ‘nyengir’.

“Apa kamu tidak mengambil pelajaran terhadap diri kamu sendiri?”

“Maksudnya, kek?”

“Bukankah tadi pagi kamu menggampangkan tidak sholat subuh? Muhasabah lah!! Apa mungkin hati kamu sudah terlanjur kotor sehingga setiap kotoran baru yang menempel bukan menjadi sesuatu yang mencolok?”

“Astaghfirullah…” Aku terhenyak.

“Kalau hati kamu bersih, tentu saja kamu tidak ingin ada setitik noda pun hinggap di hati kamu.”

“Astaghfirullah. Iya kek. Saya sadar, saya salah. Kalau begitu, mulai sekarang saya akan berusaha membersihkan hati saya. Akan saya jaga agar hati saya senantiasa bersih, tidak boleh ada kotoran yang hinggap. Saya akan selalu bersihkan dengan istighfar.”

“Bagus!!” Kakek mengangguk-angguk….

Saat alam menunjukkan tanda bahwa saat maghrib hendak tiba, kami pulang ke rumah. Di jalan, saya termenung. Lalu berkata kepada kakek, “Kakek, saya jadi paham kenapa kalau ada orang baik yang ketahuan aibnya, selalu menjadi bulan-bulanan gosip dibanding orang jahat yang ketahuan aibnya.”

Kakek mengangguk-angguk.

“Ya ya ya…. Ya seperti tadi, karena orang yang baik yang ketahuan aibnya itu seperti sebuah pakaian putih yang terlihat terkena noda. Nodanya akan mencolok dilihat oleh orang banyak. Beda dengan orang jahat, orang sudah terbiasa dengan berita aibnya. Tak terlalu menjadi bulan-bulanan omongan orang.”

“Benar kek. Tapi, susah ya menjaga hati ini bersih. Menjaga perilaku ini tetap bersih. Karena kotoran ada di mana-mana. Kalau terkena noda, akan mencolok. Dan harus dibersihkan dengan tenaga yang ekstra. Belum lagi omongan orang-orang… Hhh…”

“Hahaha….” Kakek tertawa kecil.

—-

Ibnu Mas’ud r.a. berkata "Orang yang benar-benar beriman, ketika melihat dosa-dosanya, seperti ia sedang duduk dibawah gunung. Ia kuatir kalau-kalau puncak gunung itu jatuh menimpanya. Adapun orang munafik, ia memandang dosa-dosanya seperti menghalau lalat di ujung hidungnya."

Semoga bisa diambil pelajaran dari kisah fiktif di atas (andaleh)

copas dari islamedia

di penghujung

Bismillaah...

Ya Alloh yang mahaindah, indahkanlah akhlakku dan jadikan apa yang keluar dari lisan dan pikiranku adalah sesuatu yang Engkau ridhoi dan Engkau berkahi. Aku berlindung kepadaMu dari godaan syaitan dan bujukan nafsu yang menyesatkan. Aku berlindung kepadaMu dari sifat munafik dan khianat. Hanya kepadaMu, wahai Alloh, tempat menggantungkan segala pinta dan harap. Hanya kepadaMu tempat kembali segala yang ada, semua, seluruhnya.

***

Adalah aku, satu di antara 6 miliar manusia yang ikut bernapas di bumiNya saat ini. Sesak rasanya. Bukan karena populasi manusia yang semakin bertambah hingga aku harus berebutan oksigen dengan mereka. Bukan pula karena kasus perselingkuhan udara dengan limbah kimia, atau karena bumiku yang kini semakin renta hingga bernapas pun megap-megap seperti kakek tua. Bukan. Tapi sesak di dada lebih karena kenyataan yang harus kutelan menjadi penghuni bumi akhir zaman. Menyaksikan realitas kehidupan yang membuat air mata tak henti-henti terpelanting ke rawa pipi. Apa lagi yang harus kupercayai? Media dan berita yang tersaji tiap hari hanya menyenandungkan lagu cinta segitiga, kematian etika dan kebenaran yang dibungkam. Menyandera tuhan atas nama kemanusiaan. Menyelingkuhi nabi demi pembenaran pribadi. Apa lagi yang harus kupercayai? Jika syari’at dijual demi menjadi budak-budak penikmat demokrasi. Mengemis pada penguasa thaghut demi mengenyangkan perut sendiri. Apa lagi yang harus kutelan? Jika Al Qur’an digadaikan demi mendapat gelar intelek dan cendikiawan. Aqidah dipertaruhkan demi mereguk nikmat dunia yang melenakan. Bosan. Bosan dengan semua ocehan gombal dari mulut-mulut tirani pembual. Bosan mendengar nyanyian anak-anak yang kelaparan. Bosan menyimak derita. Bosan dengan segenap jengkal rasa kecewa yang mengintip cilik relungku. Ya Alloh, ampuni aku...

Duapuluh empat tahun lebih aku berkawan dengan hidup. Harusnya beragam peristiwa dan orang-orang yang kutemui di perjalanan ini semakin membuatku bijak dan mengerti tentang hakikat kehidupan. Tapi nyatanya, aku masih terbata mengeja aksara yang berhamburan di jalan-jalan semesta. Ada yang kucari, tapi entah apa. Mungkin damai yang terselip di sela dedaunan dan mengalir bersama gemericik air yang mengantarku pada jalan pulang. Rindu pada awan senja yang menggurat sketsa kejayaan di masa silam, tentang gemilang dan mulianya peradaban. Suatu hari nanti, mungkin mata tak lagi memiliki hari. Karena mata dan hari telah menggelinding bersama sejarah yang  dulu aku banggakan. Semoga hujan kemarin tak mendatangkan banjir atau pun badai, tapi tanah subur yang menumbuhkan tunas-tunas baru, dan aliran air yang menjulur ke muara cintaMu.

Terjal jalan di penghujung jaman ini, menyisakan pelajaran bagi para penghuninya untuk terus berkarya, berbakti dan berarti. Dunia islam kini merintih, lemah dan tertatih membangun peradabannya kembali. Di mana kau wahai penerus risalah para nabi? Di mana generasi Sholahuddin al Ayyubi dan Al Fatih bersembunyi? Di manakah kau para pewaris negeri? Tak terlukakah hatimu melihat Al Aqsho dilucuti kesuciannya? Tak geramkah dirimu menyaksikan saudarimu dilepas hijabnya? Tak marahkah kau melihat ustadz-ustadz penegak tauhid dipenjara karena memegang kuat keimanannya? Saudara-saudaramu yang mereka bantai di bumi jihad sana. Ajaran Islam yang dinodai oleh tangan-tangan kotor pemuja –isme-isme buta. Jauhnya umat dari praktik aqidah yang lurus. Hukum Alloh yang diganti dengan hukum thoghut. Jihad yang ditinggalkan karena cinta dunia dan takut mati. Enggannya umat beramar ma’ruf nahi mungkar. Perbedaan-perbedaan internal dan pecahnya persaudaraan seiman. Rakus terhadap kedudukan dan kekuasaan. Condong kepada sikap santai dan kemewahan. Tidak adanya upaya ijtihad dalam praktik dan uji coba (eksperimen) ilmu pengetahuan. Mengikuti barat dengan semangat taqlid buta. Terpengaruh ghozwul fikr kaum kuffar dan arus-arus pemikiran yang merusak. Belum lagi usaha keras kaum yahudi, nasrani, dan paganis dalam mengalahkan kaum muslimin dengan berbagai cara dan sarana, serta menanamkan duri di jantung Palestina. Semua, semua telah membuat mata ini benar-benar letih menyimak nestapa. Dunia islam kini merana. Rindu pada sosok Ghurobaa’ yang mencintai Alloh dan Alloh pun mencintainya. Tak gelisahkah kau menatap mata-mata yang resah, gundah, rindu akan manisnya ukhuwah dan indahnya dakwah? Dunia Islam yang lemah, merintih, terus memanggil-manggil kita. Adakah kau dengar suaranya?

Perlawanan. Pemberontakan. Revolusi!

Hentikan diammu. Bergeraklah! Lakukan apa pun yang kita bisa. Keluarlah dari zona nyamanmu. Lawan kemalasanmu. Kendalikan hawa nafsumu. Bertahanlah. Istiqomahlah! Berdoalah, agar Alloh mengampuni kelalaian kita. Berdoalah, agar Alloh menurunkan hidayahNya pada orang-orang yang kita cintai. Berdoalah, agar Alloh meluruskan Islam kita, mempersatukan umat yang kini tercerai berai, dan menguatkan semangat jihad kita. Berdoalah, jika kau bingung harus melakukan apa. Berdoalah, jika memang kau tak berdaya. Jangan sampai dunia membuat kita terlena hingga berdoa pun kita lupa. Bangkit, dan angkat senjata! Bantulah dunia Islam meraih kembali kemuliaannya. Muntahkan peluru-peluru tajam dari bibir penamu. Buat kaum kuffar gentar akan keberanianmu. 

sesungguhnya suara itu tak bisa diredam
mulut bisa dibungkam
namun siapa mampu menghentikan nyanyian bimbang
dan pertanyaan-pertanyaan dari lidah jiwaku?!

suara-suara itu tak bisa dipenjarakan
di sana bersemayam kemerdekaan
apabila engkau memaksa diam
aku siapkan untukmu: pemberontakan!

sesungguhnya suara itu bukan perampok
yang ingin merayah hartamu
ia ingin bicara
mengapa kau kokang senjata
dan gemetar ketika suara-suara itu
menuntut keadilan?!

sesungguhnya suara itu akan menjadi kata
ialah yang mengajari aku bertanya
dan pada akhirnya tidak bisa tidak
engkau harus menjawabnya
apabila engkau tetap bertahan
aku akan memburumu seperti kutukan!
[Sajak Suara –Wiji Thukul]
copas dari akhwatzone

Wednesday, May 4, 2011

antara ukhuwah dan pacaran

Maksud hati ingin ukhuwah dengan lawan jenis, tapi malah terjebak dalam pacaran. Tadinya pengen menjalin ukhuwah islamiyah, tapi apa daya kecemplung jadi demenan. He..he.. jangan heran atuh, sebab hubungan dengan lawan jenis itu rentan banget disusupi oleh perasaan-perasaan lain yang getarannya lebih dahsyat. Apalagi kalo ditambah naik bajaj, dijamin tambah menggigil karena vibrasinya kuat banget (apa hubungannya?) ?
Sobat muda muslim, sesama aktivis masjid atau organisasi kerohanian di sekolah dan kampus, selalu saja muncul hal-hal tak terduga. Cinta lokasi kerap mewarnai perjalanan hidup mereka. Iya dong, aktivis juga kan manusia. Wajar banget dong untuk merasakan hal-hal seperti itu. Apalagi mereka sama-sama sering bertemu. Bukankah pepatah Jawa mengatakan, witing tresno jalaran soko kulino sering jadi rujukan untuk menggambarkan perasaan itu? Ati-ati!
Hmm… rasa cinta itu muncul karena seringnya bersama atau bertemu, begitu maksudnya? Yup, kamu cukup cerdas dalam masalah ini. Iya, jadi jangan kaget or heran kalo sesama aktivis pengajian muncul perasaan itu. Apalagi di antara mereka udah saling mengetahui kebiasaan masing-masing. Dijamin perasaan ‘ser-seran’ keduanya dijembatani oleh seringnya komunikasi dan frekuensi pertemuan. Udah deh, panah-panah asmara mulai dilepaskan dari busur masing-masing dalam nuraninya. Duh gusti, itu artinya sang panah asmara siap menembus hati masing-masing. Siap memekarkan bunga-bunga di taman hati mereka. Seterusnya, jatuh hati dan saling memendam rindu. Uhuy!
Jadi, kalo nggak kuat-kuat amat imannya, kamu bakalan melakoni aktivitas pacaran sebagaimana layaknya dilakukan oleh mereka yang masih awam sama ajaran agama. Nggak terasa, di antara kamu mulai berani janjian untuk ketemu di masjid. Walau mungkin masih malu-malu. Tapi jangan salah lho, jika nafsu udah jadi panglima, akal sehat kamu pasti keroconya. Kamu lalu deklarasi, “akal sehat saatnya minggir!”. Waduh, gimana jadinya kalo sesama aktivis malah terjebak dalam perasaan-perasaan seperti ini?
Sobat muda muslim, memang ukhuwah itu tidak dibatasi cuma kepada satu jenis manusia aja, tapi kepada dua jenis sekaligus, yakni laki dan wanita. Bahkan ukhuwah islamiyah berdimensi sangat luas, yakni nggak dibatasi oleh waktu dan tempat. Kapan pun dan di mana mereka berada, asal mereka adalah muslim, itu saudara kita. Hanya saja, untuk ukhuwah dengan lawan jenis, memang ada aturan mainnya sendiri, sobat. Nggak sembarangan, atau nggak sebebas dalam bergaulnya seperti kepada teman satu jenis. Itu sebabnya, kita bahas masalah ini di buletin kesayangan kamu ini. Betul? Loading…
Ketika cinta mulai menggoda
Rasa cinta itu unik. Nggak mengenal status seseorang, dan juga suka tiba-tiba aja datang. Hadir dalam jiwa, menggerogoti hati, mengaduk-mengaduk perasaan, yang akhirnya muncul rasa suka dan rindu. Duh, banyak pujangga yang berhasil menorehkan kata-kata puitisnya tentang cinta. Sebab cinta itu naluriah. Pasti dimiliki oleh seluruh manusia, termasuk hewan. Allah udah memberikan rasa itu kepada manusia. Firman-Nya: “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak,” (QS Ali Imraan [3]:14)
Nah, gimana jadinya kalo sesama aktivis pengajian muncul rasa cinta? Nggak masalah. Sah-sah saja kok. Bahkan sangat mungkin terjadi. Itu naluriah. Cuma, tetap harus aman dan terkendali. Nggak boleh mengganggu stabilitas nasional (ciiee.. bahasanya pejabat banget tuh!). Iya, saat cinta menggoda, jarang yang bisa bertahan dari godaannya yang kadang menggelapkan mata dan hati seseorang. Jangan heran dong kalo sampe ada yang nekat pacaran. Wah, aktivis pengajian kok pacaran?
Sobat muda muslim, itu sebabnya kamu kudu bisa jaga diri. Ukhuwah islamiyah di antara sesama aktivis pengajian tentunya nggak dinodai dengan perbuatan yang mencemarkan nama baik organisasi, nama baik kamu, nama baik sesama aktivis pengajian, dan yang jelas kesucian Islam. Jangan sampe ada omongan, “aktivis pengajian aja pacarannya kuat, tuh! Muna deh!”. Coba, gimana kalo sampe ada yang bilang begitu? Nyesek banget kan? Jelas lebih dahsyat dari wabah SARS tuh! Upss...
Kalo udah gitu, bisa ngerusak predikat tuh. Bener. Sebab, serangan kepada orang yang punya predikat ‘paham agama’ lebih kenceng. Jadi kalo ada aktivis pengajian yang pacaran, orang di sekililing mereka dengan sengit mengolok-olok, mencemooh, bahkan mencibir sinis. Kejam juga ya? Bandingkan dengan orang yang belum paham agama, atau nggak aktif di organisasi kerohanian Islam, biasa-biasa aja tuh. Sobat, inilah semacam ‘hukuman sosial’ yang kudu ditanggung seseorang yang udah dipandang ngerti. Padahal, sama aja dosanya. Tapi, seolah lebih besar kalo itu dilakukan oleh aktivis pengajian. Gawat!
Wajar juga sih pandangan seperti itu. Sebab, umat kan lagi nyari siapa yang dapat ia percayai dan teladani dalam kehidupannya. Jadi, jangan khianati kepercayaan mereka kepadamu hanya gara-gara soal cinta yang kebablasan. Sebab, mereka menganggap bahwa kamu mampu menjaga diri dan mungkin orang lain. Nah, kalo kemudian kamu melakukan perbuatan yang merendahkan martabatmu, rasanya pantes banget kalo kemudian mereka nggak percaya lagi sama kamu yang aktif di pegajian. Betul apa betul?
Sobat muda muslim, cinta seketika bisa datang menggoda, hadir dalam jiwa, memenuhi rongga dada, dan membawa asa yang menghempaskan segala duka yang pernah ada. Hmm.. kalo itu yang kamu rasakan, harap hati-hati. Ukhuwah di antara kamu jangan dinodai dengan aktivitas bejat, meskipun atas nama cinta. Berbahaya. Jangan heran kalo Kahlil Gibran pernah bikin puisi seperti ini: “Cinta berlalu di hadapan kita, terbalut dalam kerendahan hati, tetapi kita lari darinya dalam ketakutan, atau bersembunyi di dalam kegelapan; atau yang lain mengejarnya, untuk berbuat jahat atas namanya”
Jaga jarak aman!
Idih, emangnya mengendarai mobil sampe dibilang jaga jarak aman? He..he..he... jangan salah euy, justru yang berbahaya adalah karena seringnya deketen, apalagi sampe gesekan segala (emangnya kartu kredit main gesek?).
Jaga jarak aman adalah cara ampuh menjaga hati kita untuk tidak melakukan aktivitas berbahaya. Bukankah seringkali kamu tak berdaya jika deketan sama orang yang kamu incer? Sebab, kalo nggak diatur dengan batasan ajaran agama, kamu bisa kebablasan berbuat tuh. Bener. Jangan sampe kamu lakuin.
BTW, apa aja sih batasan bergaul dengan lawan jenis, khususnya sesama aktivis? Iya, biar kita jadi ngeh, apa yang boleh dilakukan dan mana yang terlarang untuk dilakoni. Supaya ukhuwah kita nggak bias dengan pacaran.
Pertama, kurangi frekuensi pertemuan yang nggak perlu. Memang, kalau sudah cinta, berpisah sejam serasa 60 menit, eh maksudnya setahun. Bawaannya pengen ketemu melulu. It’s not good for your health, guys! Ini nggak sehat. Perbuatan seperti itu bukannya meredam gejolak, tapi akan memperparah suasana hati kita. Pikiran dan konsentrasi kita malah makin nggak karuan. Selain itu bukan mustahil kalau kebaikan yang kita kerjakan jadi tidak ikhlas karena Allah. Misal, karena si doi jadi moderator di acara pengajian, eh kita bela-belain datang karena pengen ngeliat si doi, bukan untuk nyimak pengajiannya itu sendiri.
Yup, kurangi frekuensi pertemuan, apalagi kalau memang tidak perlu. Kalau sekadar untuk minjem buku catatan, ngapain minjem pada si doi, cari aja teman lain yang bisa kita pinjam bukunya. Lagipula, kalau kamu nggak sabaran, khawatir ada pandangan negatif dari si doi. Bisa-bisa kamu dicap sebagai ikhwan atau akhwat yang agre (maksudnya agresif). Zwing...zwing.. gubrak!
Kedua, jangan ‘menggoda’ dengan gaya bicara dan penampilan yang gimanaa.. gitu. Jadi, ketika kamu berbicara dengan lawan jenis harus diperhatikan intonasi dan gaya bicaranya. Bagi wanita, jangan sekali-kali ketika berinteraksi dengan anak cowok menggunakan gaya bicara yang mendayu-dayu kayak penyanyi dangdut. Suaranya dibuat merdu merayu hingga menyisakan rasa penasaran yang amat sangat bagi kaum lelaki. Wow! Firman Allah:  “Jika kamu bertakwa, maka janganlah kamu terlalu lemah lembut (mengucapkan perkataan, nanti orang-orang yang dalam hatinya ragu ingin kepadamu. Dan berkatalah dengan perkataan yang baik. “ (QS. al-Ahzab [33]: 32)
Ketiga, menutup aurat. Nggak salah neh? Kalo aktivis kan udah ngeh soal itu Bang? Bener. Harusnya memang begitu. Tapi, banyak juga yang belum tahu bagaimana cara mengenakan busana sesuai syariat. Akhwatnya masih pake kerudung gaul yang ‘cepak’ abis! (kalo yang bener kan ‘gondrong’. He..he..). Iya, kerudungnya aja modis banget. Pake lipstik lagi bibirnya. Bedakannya tebel banget pula. Minyak wanginya? Bikin ikan sekom ngapung!
Jadi buat para akhwat, jangan tabarujj deh. Duh, kebayang banget lucunya kalo aktivis pengajian tabarujj alias tampil pol-polan dengan memamerkan kecantikannya. Jangan ya, Allah Swt. berfirman: “...dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu” (QS al-Ahzab [33]: 33)
Banyak lho yang mengaku aktivis masjid tapi kelakuannya masih begitu. Jadi, mari kita sama-sama membenahi diri kita dan juga teman-teman yang lain sesama aktivis masjid. perubahan memang butuh proses. Tapi, kudu dimulai dari sekarang. Siap kan? Heu-euh!
Keempat, kurangi berhubungan. Mungkin ketemu langsung sih nggak, tapi komunikasi jalan terus tuh. Mulai dari sarana ‘tradisional’ macam surat via pos, sampe yang udah canggih macam via telepon, HP, dan juga internet. Wuih, ketemu langsung emang jarang, tapi kirim SMS dan nelponnya kuat. Apalagi kalo urusan chatting, pake ada jadwalnya segala. Udah gitu, kirim-kirim e-mail pula. Hmm... jadi tetep berhubungan kan? Emang sih bukan masuk kategori khalwat. Tapi kan bisa menumbuhkan rasa cinta, suka, dan sayang? Nggak percaya? Jangan dicoba! He..he..
Kelima, jaga hati. Ya, meski sesama aktivis pengajian, bisikan setan tetap berlaku. Bahkan sangat boleh jadi makin kuat komporannya. Itu sebabnya, kalo hatimu panas terus karena panah asmara itu, dinginkan hati dengan banyak mengingat Allah. Mengingat dosa-dosa yang udah kita lakukan ketika sholat dan membaca al-Quran. Firman Allah Swt.: “Ingatlah dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.” (ar-Ra’du [13]: 28)
Oke deh, kamu udah punya modal sekarang. Hati-hatilah dalam bergaul dengan teman satu pengajian. Jaga diri, kesucian, dan kehormatan kamu dan temanmu. Jangan nekat berbuat maksiat. Kalo udah TKD alias Teu Kuat Deui, segera menikah saja (kalo emang udah mampu). Kalo belum mampu? Banyakin aktivitas bermanfaat dan seringlah berpuasa.
Emang sih kalo pengen ideal, kudu ada kerjasama semua pihak; individu, masyarakat dan juga negara. Hmm.. soal cinta juga urusan negara ya? Negara wajib meredam dan memberantas faktor-faktor yang selalu ngomporin masyarakat untuk berbuat yang nggak-nggak. Betul? Jadi, jangan sampe ukhuwah kita berubah jadi demenan! Catet yo.?

Mengukur Cintamu Kepada Ortu

   
 
Ortu adalah teladan, guru, dan sekaligus pelindung kita. Betapa mulianya jasa mereka membesarkan kita. Dari kecil hingga segede sekarang ini. Apalagi ibu, beliau melindungi kita sejak masih dalam rahimnya sampai saat ini, dan insya Allah sampai akhir hayatnya. Kasih ibu memang sepanjang masa. Nggak pernah luntur di telan jaman. Nggak bakalan pudar dimakan usia. Amat besar cintanya kepada kita. Tinggal bagaimana cinta kita kepada mereka.
Sobat muda muslim, jaman berubah begitu cepatnya. Sampe-sampe kata Bung Ebiet G. Ade dalam sebuah lagunya, “Roda jaman menggilas kita. Terseret tertatih-tatih. Sungguh hidup terus diburu, berpacu dengan waktu…”. Bung Ebiet boleh jadi benar bersenandung begitu. Sebab, jaman kiwari ini, dampak perubahan jaman nggak selamanya berbuah kebaikan. Justru sebaliknya, adakala-nya terjadi perubahan ke arah kerusakan nilai.
Ambil contoh, ada anak yang tega membunuh ortunya. Mungkin masih ingat kejadian beberapa tahun lalu di Medan, seorang anak SMU tega membantai anggota keluarganya kakaknya, ibu, dan bapaknya. Aduh, entah setan apa yang merasuk dalam benaknya. Tapi yang pasti, energi cinta sang anak yang seharusnya dialirkan kepada ortunya, ternyata sudah habis tak berbekas, hingga tega “mengantarkan” mereka ke liang lahat secara paksa.
Berubahnya gaya hidup yang seperti inilah yang sangat kita khawatirkan, kawan. Di jaman penulis kecil, ortu adalah segalanya. Ayah memelototkan mata saja, tanda nggak suka dengan perbuatan yang penulis lakukan, rasa takut langsung memenuhi pikiran. Nggak berani balik memandang tajam ke arah wajahnya. Nggak. Nggak berani. Dengan ibu juga demikian, setiap kali ibu minta tolong, rasanya kok nggak enak kalo harus menolak. Meski adakalanya juga menolak, tapi kemudian merasa amat bersalah. Entahlah. Tapi yang pasti, penulis melihat itu secara objektif, kok. Sebab banyak juga teman-teman main penulis yang hormat dan patuh pada ortunya. Mungkin saat itu nggak banyak informasi rusak masuk ke rumah-rumah lewat televisi. Ya, bisa jadi. 
Kalo sekarang? Aduh, berubah total ketimbang 20-an atau 30-an tahun ke belakang. Kalo dulu, betapa rasa hormat kepada ortu masih tersimpan di lubuk hati yang paling dalam. Terawat dan terjaga dalam bingkai rasa cinta. Sekarang rasa cinta itu pudar menjadi sikap saling membenci dan penuh rasa curiga.
Hubungan anak dengan ortu aja sekarang makin kendor. Perhatian ortu yang mulai terbelah mungkin bisa menjadi sebab lunturnya kemesraan antara ortu dan anaknya. Gimana nggak, kalo dulu seorang ibu cukup di rumah menjaga anak-anak dan melindungi kehormatan keluarga, sekarang harus ikutan keluar rumah dan bekerja untuk menopang kebutuhan ekonomi keluarga. Sebab katanya di jaman sekarang nggak cukup cuma mengandalkan tenaga suami. Meski sebetulnya banyak juga para ibu yang terseret arus karena nggak tahu apa-apa. Yang ia tahu hanya satu: emansipasi.
Akibatnya, mudah ditebak saudara-saudara, jarak antara anak dengan ortu menjadi renggang, dan itu banyak menimbulkan masalah. Rasa cinta dan sayang hanya dihargai dengan uang, bukan lagi perhatian dan sikap lemah lembut. Anaknya? Karena diajarkan seperti itu, ia mulai belajar membenci. Jangan heran pula bila kemudian anak menjadi musuh bebuyutan ortunya. Wah, gawat!
Sobat muda muslim, rasa sayang tidak bisa hanya diukur dari materi semata. Nggak. Nggak bisa. Itu sebabnya, dalam tulisan kali ini, kita berupaya merekatkan kembali hubungan antara ortu dan anak yang mulai retak dan hampir lepas. Dan alangkah indahnya bila kita mencoba berinisiatif untuk mencintai mereka. Insya Allah, ortu kita akan terharu dengan sikap kita. Lagipula, untuk berbuat baik, kenapa harus menunggu ortu menyapa kita? Tul nggak? Yup, salurkan energi cinta kita buat mereka. Walau bagaimanapun juga mereka berhak mendapat-kannya dari kita. Dan kita, wajib memberikan-nya. Itu pasti, biar tambah mesra!
Kita lahir karena “cintanya”
Suatu saat nanti, kamu akan tahu sendiri betapa bahagianya punya anak. Ortu kita juga demikian, rasa cinta mereka bersatu dalam ikatan pernikahan, lalu lahirlah kita, anaknya. Sebab rasa cinta adalah perwujudan dari naluri mempertahankan jenis. Buktinya apa? Banyak pasangan yang sudah lama menikah, merasa gelisah bila belum punya anak. Berarti di sini jelas, bahwa cinta berbeda dengan seks dalam pengertian hubungan biologis semata.
Setelah kita lahir, tanggung jawab ortu bertambah, yakni merawat dan membesarkan kita. Dan itu dijalaninya dengan rasa cinta dan sayangnya yang menggunung. Ayah kita rela berpanas-panas dan basah kuyup mencari uang untuk beli susu dan makanan kita. Adakalanya bagi para ayah yang kebetulan kondisi ekonominya termasuk golongan “alit” alias pas-pasan, mereka mencari nafkah harus dengan mengeluarkan keringat, dan bahkan juga darah. Kamu bisa lihat bagaimana para buruh kasar di pabrik, pasar, dan juga pelabuhan. Apa yang bisa kamu bayangkan saat melihat mereka tengah berjuang? Ya, itu bagian dari tanggung jawabnya. Dan jangan lupa, juga bagian dari rasa cinta mereka untuk anak dan istrinya.
Sobat muda muslim, pernahkah kita mengukur rasa cinta kita kepada ortu? Seberapa besar sih rasa cinta kita kepada ortu? Sebab, ada kalanya kita suka itung-itungan dengan ortu kita. Bener nggak? Misalnya, kalo kamu udah jagain adik, kamu suka minta jatah es krim sepulang ibu dari pasar. Apalagi yang berkaitan dengan pekerjaan beres-beres rumah, ujungnya kita suka minta imbalan uang atau barang lainnya. Malah ada juga di antara teman remaja yang masang “tarif” duluan sebelum bekerja. Kita bersedia melakukan pekerjaan itu, tapi ada syaratnya: ada uang jajannya sebagai “sogokan”. Kalo nggak, kagak pake deh! Walah?
Ada cerita menarik yang berhubungan dengan tema ini dari buku Chicken Soup for the Soul karya Jack Canfield dan Mark Victor Hansen. Dikisahkan ada seorang anak yang menyodorkan selembar kertas berisi tulisan semacam tagihan kepada ibu. Isinya: Memotong rumput 5 dolar, membersihkan kamar 1 dolar, pergi ke toko menggantikan ibu 0.5 dolar, menjaga adik waktu ibunya belanja 0.25 dolar, membuang sampah 1 dolar, untuk rapor yang bagus 5 dolar, dan untuk membersihkan dan menyapu halaman 2.99 dolar. Total utang ibu kepadaku: 14.75 dolar.
Si ibu menatap anaknya lekat-lekat, lalu mengambil bolpen, dan kemudian menulis di balik kertas tersebut. Isinya begini: Untuk sembilan bulan ketika Ibu mengandung kamu selama tumbuh dalam perut Ibu, Gratis. Untuk semua malam ketika Ibu menemani kamu, mengobati kamu, dan mendoakan kamu, Gratis. Untuk semua saat susah, dan semua air mata yang kamu sebabkan selama ini, Gratis. Kalau dijumlahkan semua, harga cinta Ibu adalah Gratis. Untuk semua malam yang dipenuhi rasa takut dan untuk rasa cemas di waktu yang akan datang, Gratis. Untuk mainan, makanan, baju, dan juga menyeka hidungmu, Gratis, Anakku. Dan kalau kamu menjumlahkan semuanya, harga cinta sejati Ibu adalah Gratis.
Setelah itu, si anak berkata kepada ibunya, “Bu, aku sayang sekali sama Ibu.” Dan kemudian si anak mengambil bolpen dan menuliskan dengan huruf besar: “LUNAS”
Nah, ini sekadar contoh aja sobat, betapa kita kadangkala suka itungan sama ortu kita. Kita mogok melakukan perintahnya, hanya karena uang jajan belum masuk kantong kita. Jangan lagi deh.
Wajib menghormati mereka
Emang sih, namanya hidup berdam-pingan, apalagi ini sama ortu kita, selalu aja ada gesek-gesek dikit mah. Ibarat piring-piring yang kita cuci, selalu aja ada gesekan, sekecil apapun. Namanya juga hidup bersama.
Menghadapi ortu nggak selamanya berjalan sesuai harapan, artinya nggak dapat masalah. Suatu saat bisa jadi kita sama-sama punya kepentingan. Di sinilah akhirnya kita kudu bersikap bijak.  Ya, kita coba untuk mengalah sobat. Misalnya aja kamu seneng nonton siaran langsung sepak bola. Tapi dalam waktu yang bersamaan ortu kita juga pengen nonton wayang kulit. Kalo sama-sama ngotot kan repot. Apalagi itu hobi beratnya. Wuih, bisa perang saudara itu.
Jangankan cuma urusan kecil model begitu, untuk urusan yang rada gawat sekalipun kita tetap kudu menghormati mereka, meski ada batasannya kita nggak boleh melaksanakan permintaannya untuk menyuruh maksiat.
Dalam kitab al-'Isyrah, Thabrani meriwayatkan dengan sanad yang sampai kepada Sa'ad bin Malik, dia berkata:

"Dahulu aku seorang laki-laki yang berbakti kepada ibuku. Setelah masuk Islam, ibuku berkata: "Hai Sa'ad! Apa yang kulihat padamu telah mengubahmu, kamu harus meninggalkan agamamu ini atau aku tidak akan makan dan minum hingga aku mati, lalu kamu dipermalukan karenanya dan dikatakan: Hai pembunuh ibu!" Aku menjawab: "Hai Ibu! Jangan lakukan itu". Sungguh dia tidak makan, sehingga dia menjadi letih. Tindakannya berlanjut hingga tiga hari, sehingga tubuhnya menjadi letih sekali. Setelah aku melihatnya demikian aku berkata: "Hai Ibuku! Ketahuilah, demi Allah, jika kamu punya seratus nyawa, lalu kamu menghembuskannya satu demi satu maka aku tidak akan meninggalkan agamaku ini karena apapun. Engkau dapat makan maupun tidak sesuai dengan kehendakmu". (Tafsir Ibnu Katsir III/791).
Rasa kesal sekalipun kepada ortu jangan pernah kita tunjukkan dalam sikap atau kata-kata. Bersabar, itu lebih baik bagi kita. Firman Allah Swt.:
Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. (TQS al-Isrâ’ [17]: 23)
Walau bagaimanapun juga ortu adalah segalanya buat kita. Rasa hormat dan cinta kasih kita tetap untuknya. Kapan lagi kalo tidak saat ini. Sebab, inilah salah satu bentuk berbakti kepada mereka. Allah Swt. berfirman:
Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: "Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil".

"Aku bertanya kepada Rasulullah: "Amalan apakah yang dicintai oleh Allah" Beliau menjawab: "Sholat pada waktunya. Aku bertanya lagi: "Kemudian apa" Beliau menjawab: "Berbakti kepada kedua orang tua". Aku bertanya lagi: "Kemudian apa" Beliau menjawab: "Jihad dijalan Allah". (HR. Bukhari dan Muslim).
Sobat muda muslim, masih banyak ayat dan hadis yang berkaitan dengan persoalan ini. Kamu bisa eksplor lagi deh. Hmm.. betapa kalo kita mau sedikit bersikap bijak untuk merenung, ternyata cinta kita kepada ortu belum seberapa jika dibanding cinta ortu kepada kita. Salutnya, mereka nggak pernah itungan sama anaknya. Subhanallah. Yuk, kita bahagiakan mereka, kita cintai dan hormati mereka berdua. Tapi bagaimana bila mereka justru menyuruh berbuat maksiat? Jangan penuhi permintaan-nya, tapi kita tetap menghormatinya. Tugas kita adalah mengingatkan aja jika mereka berbuat salah. Itu kan lahan dakwah juga. Tul nggak? Kita belajar mencintai mereka sepenuh hati. Ridho Allah bergantung kepada ridho mereka, lho.
_________________________
Buletin Studia Bogor Edisi 081/Tahun ke-3

islam pilihan hidup gw

Hari gini kalau ngomongin soal remaja gaul pasti nggak jauh dari sosok cewek-cowok yang fashionable alias mereka yang selalu update penampilan sesuai tren; rambut bonding atau ala harajuku, di-highlight warna-warni, baju harus minimal distro atau FO (factory outlet). Parfum dengan segala jenisnya juga nggak ketinggalan dimasukkin ke dalam daftar belanja bulanan. Plus, supaya nggak dinilai mati gaya, handphone kudu yang 3,5G atau minimal yang GPRS connected supaya internet tetap online dan acara chatting jalan terus. Supaya nggak dianggap makhluk purbakala, info musik, film, olahraga, en fashion kudu jadi santapan harian.
Eh, ada yang protes nih kayaknya. Gue nggak segitu-gitunya deh ya. Gaul emang kudu. Remaja gitu loh. Tapi, nggak harus juga kayak gitu. Belajar yang bener en jadi orang pinter itu yang harusnya jadi tujuan! Soal baju sih yang penting enak dipake dan nggak telanjang. HP jadul bekas lengseran bokap atau nyokap? Nggak apa-apa. Yang penting kan masih bisa buat nelpon dan sms-an. Iya, ada juga kok emang remaja yang rajin belajar, hemat, baik hati, en nggak sombong lagi. Swit..swiw…
Kalau ditanya siapa remaja yang paling gaul, pasti deh pada berebut unjuk diri dengan ngeluarin semua bukti. Kalau ditanya siapa remaja peduli masa depan dan rajin belajar, yakin deh banyak yang nggak mau ketinggalan. Kalau perlu nih, pada bawa rapor untuk diperlihatkan. Kalau ditanya siapa remaja peduli masa depan plus gaul, wah ini sih pasti lebih banyak lagi yang mengaku tanpa terpaksa. Entah yang beneran sesuai realita  atau cuma ngaku-ngaku biar dianggap hebat. Tapi, kalau ditanya siapa remaja yang relijius? Hmm… kira-kira pada berebut tunjuk tangan juga nggak ya? Kayaknya nggak tuh. Kebanyakan pada mundur. Remaja relijus? Wuih! Berat, bro, berat sist.
Agama gue emang Islam, tapi ya gitu deh
Udah jadi hal yang umum banget para remaja lebih familiar sama urusan penyanyi papan atas, band-band ngetop, aksesoris branded. Fakta yang jamak juga remaja lebih ngerasa cool kalo ngedugem daripada ngaji. Hang out bareng temen ke kafe atau nikmatin nomat jadi hal yang kudu ada dalam agenda week end. Padahal sebagian besar remaja tersebut adalah muslim.
So what gitu loh? Agama kita emang Islam, tapi bukan berarti kita harus ketinggalan jaman kan? Kayak gitu tuh respon yang biasanya muncul kalau soal agama diungkit-ungkit ke mereka.
Ngomongin Islam dalam beraktivitas keseharian kayaknya yang gimana gitu. Kayak yang ogah banget. Udah deh nggak usah bawa-bawa agama kalo ngomongin soal fashion. Please deh nggak usah bawa-bawa Islam kalo ngomongin pacaran. Aduuuh, gue tuh cuma pengen cari hiburan, kenapa juga harus cari tahu dulu aturan Islam?
Brotha, Sista, Islam diturunkan Alloh Swt. melalui Muhammad Rasulullah saw. sebagai aturan yang komplit dalam hidup dan berkehidupan. Sebagai aturan yang komplit, Islam ngatur semua urusan hidup. Urusan makan, minum, sikap ke ortu, menuntut ilmu, bergaul, nonton, denger musik, soal lingkungan hidup, kebersihan, cara ngedapetin harta, gimana ngeluarin harta, gimana hidup sehat, sampe urusan pertahanan-keamanan negara sampe politik ada semuanya dalam Islam.
Dan juga, Islam sebagai aturan hidup pastinya nggak pernah bakal ketinggalan jaman. Never ever! Hidup manusia pasti harus maju dan berkembang. Masa’ iya kalo dulu jaman nenek moyang kirim berita pake jasa merpati, sekarang tetep begitu. Kan nggak. Hari gini, jaman facebook eksis gitu lho. Kalau dua ratus tahun yang lalu kemana-mana pake onta atau kuda, masa’ iya hari gini masih naik begituan. Nggak lah, kan udah jaman motor matic, mobil matic, bis dengan bahan bakar gas nih!
Islam paham banget manusia dengan akal yang dikasih Alloh Ta’ala pasti bisa bikin banyak teknologi yang memudahkan, makanya Islam nggak pernah ngekang manusia untuk terus berinovasi. Tapi, Islam juga punya aturan yang jelas gimana kemajuan teknologi nggak bikin manusia lupa diri. Nggak kayak sekarang, atas nama pembangunan berapa juta hektar hutan yang dikorbankan. Atas nama meraih identitas sebagai manusia modern jadi tega ngorbanin manusia lainnya. Sebagian kecil hidup dalam gelimang harta, sebagian besar lainnya dibiarkan hidup terlunta-lunta. Itu fakta yang terjadi saat ini, dan fenomena kayak gitu sama sekali bukan fenomena kehidupan manusia modern. Mana ada manusia modern nggak punya hati ngeliat manusia kanan-kirinya mati? Islam bikin hidup sukses, maju, sekaligus mulia dunia en akhirat, Bro,Sis!
Setiap manusia yang lahir sejatinya adalah muslim. Ketika ruh ditiupkan saat kita berusia empat bulan dalam kandungan ibu-ibu kita, kita berikrar bahwa tiada Tuhan selain Alloh Swt. Ikrar yang nggak sembarang ikrar! Ikrar itu sumpah kita! Kalo kita udah bersumpah bahwa nggak ada Tuhan selain Allah Ta’ala, artinya nggak ada zat lain, nggak ada sesuatu yang lain yang seharusnya kita sembah, kita turuti segala perintah dan larangan selain Alloh subhanahu wa ta’ala. Kita juga sebagai muslim pastinya bersyahadah bahwa Muhammad utusan Alloh Swt. Artinya, nggak ada manusia lain, satupun, di muka bumi ini, yang kita ikutin perkataannya, perbuatannya, dan diamnya, selain Muhammad saw.
Jadi remaja yang relijius, berarti remaja yang berusaha semampu mungkin untuk ngejalanin apa yang Islam perintahkan dan ngejauhin apa yang Islam larang, berdasarkan kesadaran syahadah kita pastinya. Nah, kalo menjadi sosok relijius emang konsekuensi dari syahadah, kenapa juga kita jadi minder? Kan, itu emang seharusnya. Malah kita harus berusaha keras supaya bisa mencapai level relijius itu. Tapi, bukan berarti kita juga harus sok koar-koar relijius ya. Itu sih sombong. Orang sombong nggak sesuai dengan ajaran Islam. En, berarti menodai makna relijius yang sebenarnya.
Cuma untuk Islam
Islam yang jadi jalan hidup jangan sampai deh cuma dipake kalau pas waktu tertentu aja. Pas Ramadhan aja pada rame tadarusan. Atau pas pesantren kilat, baru deh pada  rame pake jilbab. Ngejalanin Islam emang kudu harian.
Tapi… gue nggak mau dibilang radikalis, fundamentalis, atau bahkan teroris. Siapa yang bilang kalau seorang muslim ingin menjadi sebenar-benarnya muslim terus jadi teroris? Ngebela diri dan agama yang dilecehin seperti yang dilakukan saudara-saudara kita di Palestina dan Irak masa’ dibilang teroris? Terus, kalau tentara Amerika dan Israel ngebantai saudara-saudara kita di sana kok nggak dibilang teroris gitu?
Terus, istilah fundamentalis en radikalis sering dikaitin sama kekerasan. Kamus bahasa Indonesia juga memasukkan kata kekerasan untuk dikaitkan dengan radikalis dan fundamentalis. Padahal nih kalo kita mau liat-liat di kamus English to English (karena kan kata radikalis dan fundamentalis dari bahasa Inggris, jadi afdolnya kita kudu liat kamus dari bahasa yang sama), fundamentalis berasal dari kata fundamental yang artinya aturan, prinsip dasar. Nah, fundamentalis berarti orang yang menerapkan aturan dan prinsip dasar.
Gimana dengan radikal? Radikal artinya dasar, perubahan yang mendasar dan menyeluruh. Orang yang radikal berarti orang yang melakukan perubahan yang mendasar dan menyeluruh.
Nah, apa salahnya coba dengan kata fundametalis dan radikal? Sebagai muslim, emang udah jadi keharusan kan untuk menerapkan aturan atau prinsip dalam Islam. Sebagai muslim kita juga kudu ngelakuin perubahan yang mendasar dan menyeluruh terhadap kehidupan saat ini yang sangat tidak adil dan jauh dari sejahtera, supaya bisa menjadi adil dan sejahtera.
Kalo ada cap orang yang fundamentalis dan radikal itu suka melakukan kekerasan, itu sih black campaign  alias propapaganda negatif. Karena orang yang melakukan perubahan dengan Islam, dia pastinya harus tunduk kepada aturan Islam. Dan, Islam mengajarkan bahwa perubahan itu dilakukan dengan dakwah tanpa kekerasan.
Kalo musuh Allah Swt, musuh Islam, kasih label yang aneh-aneh ke kita itu supaya kita jadi ngeri sama Islam, terus jadi ngejauhin diri dari Islam. Kalo udah jauh dari Islam, kita jadi jauh sama tuntuntan hidup sebenarnya, kita jadi cupu, jadi lemah. Kita jadi gampang dipengaruhin sana-sini, “disuntik” pemikiran-pemikiran yang sesuai dengan maunya penjajah. Kalo pemikiran kita, benar-salah menurut kita sama dengan benar-salah menurut penjajah, kita jadi gampang dijajah. Boro-boro berjuang ngusir penjajah, punya niat ngelawan aja nggak. Apa yang kayak gitu yang kita mau? Nggak lha yauw!
Islam seharusnya bikin hidup kita beda! Remaja muslim bukan remaja pasaran. Kemana-mana dia pasti menampilkan pancaran yang khas, yang nggak biasa-biasa aja. Tegas dalam bersikap. Yang menurut Allah Swt. dan Rasul-Nya itu benar (haq) maka akan tetap menjadi kebenaran. Yang menurut Allah dan Rasul-Nya itu salah (bathil), maka selamanya salah. Bukan tipe manusia plin-plan. Bukan manusia yang sukanya ikut-ikutan. Di saat yang sama dia juga tulus dalam berkasih sayang terhadap sesama. Cerdas dalam mencari solusi kehidupan, juga gaul terhadap perkembangan jaman. Pemberi solusi, bukan penyumbang masalah. Pembela kebenaran, pejuang keadilan, bukan tipe penjilat apalagi pengkhianat. Duh, jauh deh ya. 
Cuma Islam yang bisa bikin remaja begitu. Cuma Islam yang bisa bikin remaja jadi powerful untuk meraih cita-cita. Nggak gampang nyerah sama keadaan. Karena dia sadar kalo cita-cita yang dia perjuangkan adalah cita-cita yang membawa maslahat bagi umat di dunia dan akhirat.
Islam wajib diperjuangkan!
Ketika seorang muslim sudah menjadikan Islam sebagai pilihan hidupnya, jadi hal yang wajar kalau dia mati-matian memperjuangkan. Seperti para pejuang Islam berikut ini:
Ibnu Mas’ud, seorang sahabat Rasulullah, membacakan al Quran di dekat Ka’bah di waktu dhuha di hadapan orang-orang Quraisy yang sedang berkumpul. Orang-orang Quraisy berdiri  menghampiri dia, lalu memukulinya. Tetapi Ibnu Mas’ud terus membaca al Quran sampai wajahnya babak-belur.
Shafiyyah binti Abdul Muthalib, bibi Rasulullah saw, dialah wanita pertama yang membunuh kaum musyrikin. Di pertempuran Uhud, kala kaum muslimin tercerai-berai turun dari bukit tidak mendengar perintah Rasulullah, tinggallah Ali bin Abi Thalib, Umar bi Khatab, Zubair bin Awwam (putra Shafiyyah) , dan Abu Bakar ash-Shidiq. Salah satu gembong kaum kafir, Ubay bin Khalaf mendekat untuk membunuh Rasulullah dengan tombaknya. Namun, Rasulullah mampu merebut tombak itu dan menancapkannya ke tubuh Ubay. Di sisi yang berlainan, Shafiiyah tidak berkedip memperhatikan kondisi kaum muslimin yang mulai terdesak. Semangat juangnya membara dan semakin berkobar melihat pihak kaum muslimin terdesak. Bagai singa betina, dia segera meloncat ke punggung kuda dan menyambar pedang salah seorang muslimin yang sedang berlari. Bagaikan terbang Shafiyyah memacu kudanya ke tengah-tengah medan pertempuran. Pedang Shafiyyah berkelebat ke sana-sini mencari sasaran musuh. Tidak sia-sia karena banyak kaum kafir Quraisy yang tewas di tangannya.
Ustadz Sayyid Quthb ketika ditanya oleh mahkamah tentang penguasa yang berhukum kepada selain apa yang diturunkan Allah (al-Quran). Beliau menjawab, “Dia Kafir.” Maka sebagian muridnya bertanya, ”Mengapa engkau berterus terang dalam masalah ini di hadapan mahkamah, padahal lehermu di antara para algojo?” Beliau menjawab, “Ada dua sebab. Sebab yang pertama: karena kami berbicara masalah akidah, maka tidak boleh tauriyah (diplomasi atau menyampaikan perkataan yang berbeda dengan isi hati). Sebab yang kedua: Tidak boleh menyatakan kalimat kekafiran bagi seorang yang diikuti orang banyak. Para pemuda yang menjadi perintis dan teladan umat, maka tidak boleh baginya menyatakan kalimat kekafiran dan bersikap tauriyah dan tidak boleh baginya mengambil dasar ayat di atas. Ketika orang-orang dekatnya mengatakan pada beliau: “Wahai Sayyid! Seandainya engkau mau mengajukan grasi”. Beliau menjawab: “Sesungguhnya jari yang menyaksikan ketauhidan Allah di dalam sholat akan menolak menuliskan satu huruf pun yang mengakui hukum thoghut. Mengapa saya harus mengajukan grasi? Jika saya diadili dengan haq, maka saya akan ridho dengan al-haq, dan jika saya diadili dengan bathil, maka saya merasa lebih besar daripada mengajukan grasi yang bathil."
Itu sedikit contoh para pejuang Islam yang dengan segenap jiwa dan raga membela Islam. Ya iya dong. Kalo Islam udah jadi pilihan hidup, tentunya harus kita bela habis-habisan. Kalo jaman sekarang, kita bisa bela Islam dengan menampilkan sosok muslim sejati di diri kita, dengan kriteria seperti yang udah dijabarin di atas.
Belum ngerasa sreg ngejadiin Islam sebagai pilihan hidup? Bisa jadi karena kita belum kenal Islam secara mendalam. Kalau belum kenal, gimana bisa jadi sayang sama Islam. Kalau nggak sayang, pasti deh nggak bakal ngejadiin Islam sebagai pilihan hidup.
Nah, supaya bisa sayang, mulai sekarang kenal en gaul deh sering-sering sama Islam. Yang rutin jadwalnya (agendakan dalam hidup qt, minimal 1 hari dalam 1 pekan untuk mengkaji islam). Usahanya juga harus pol. Insya Allah kita pasti bakal jatuh cinta sama Islam dan akhirnya rela ngejadiin Islam sebagai pilihan hidup. Lagipula milih Islam nggak pernah ada ruginya, bikin kita selamat dunia-akhirat! Mau? Yes!

Waspdai “Senjata Pemusnah Massal”

   
 
Kamu wajib tahu yang satu ini. Kalo kita amati, ternyata ada lho “senjata pemusnah massal” yang beredar di sekitar kita. Kekuatannya melebihi kehe-batan bom atom, nuklir, senjata kimia-biologis, atau micro nuke yang ngamuk pada tragedi Bali. Dia mampu menerobos masuk ke dalam alam pikiran sehingga mengkontaminasi budaya keseharian kita. Wuih..dalem banget tuh. Selain itu sang korban pun akan menjadi amnesia alias nggak kenal ama dirinya sendiri. Nah lho?
Bayangin aja, kalo ada bogem mentah mendarat sukses di wajah kita, kita pasti cepet nyadar dan mungkin refleks balas mukul. Tapi serangan senjata ini malah bisa bikin sang korban terpesona sampai terhipnotis. Sehingga sang korban nggak nyadar kalo lagi dicuci otak, diperbudak, bahkan diinjak-injak!
Kita kudu hati-hati banget ama senjata ini. Soalnya dia mengincar kita, kaum Muslim! Masak sih? Iya. Karena asalnya dari orang-orang kafir yang udah kadung membenci Islam. Mereka bakal menempuh jalan apa pun untuk ngancurin Islam. Salah satunya melalui agent of change yang diperankan media massa untuk menyerang pemikiran Islam dan kaum Muslim serta memasarkan budaya mereka.
Ide-ide dan budaya Barat itulah yang kita maksudkan senjata pemusnah massal. Penyebarannya yang efektif melalui media massa dan hiburan mampu memusnahkan identitas keislaman sodara-sodara kita. Sampai sulit bagi kita untuk membedakan mana kawan dan mana lawan! Sahabat atau penjahat? Atau malah pengkhianat? Ini bener-bener gawat!
Perang kolosal “gaya baru”
Zaman sudah berganti. Nggak ada lagi “bintang perang” sekaliber Shalahuddin al-Ayyubi, atau Omar Mochtar yang berjuluk singa padang pasir. Pahlawan Islam pemimpin perang kolosal yang bikin orang-orang kafir kocar-kacir. Meski begitu, ada yang nggak berubah karena waktu. Yup, permusuhan orang-orang kafir terhadap kaum Muslim nggak akan pernah berakhir sampai hari kiamat. Usaha musuh-musuh Islam gagal mulu kalo perang fisik. Makanya mereka gencar melakukan perang kolosal gaya baru lewat pemikiran dan budaya. Hati-hati tuh!
Dengan dukungan penuh media informasi dan hiburan, pemikiran dan budaya barat bebas menjerat kaum Muslim. Sebab kecenderungan masyarakat sering kali diarahkan lewat opini umum yang dibentuk oleh media massa. Makanya orang-orang kafir girang banget karena berhasil menguasai kantor berita Reuters , surat kabar The New York Times , atau The Washington Post yang menjadi sumber berita utama internasional. Simak saja pernyataan seorang rabi Yahudi Rashoron (1986) dalam suatu khutbahnya di kota Braga. “Jika emas merupakan kekuatan pertama kita untuk mendominasi dunia, maka dunia jurnalistik merupakan kekuatan kedua bagi kita”. Bener khan?
Selain itu, orang kafir pun berusaha ‘mendakwahkan' budaya rusak mereka melalui media hiburan. Nggak heran kalo film-film Hollywood banyak yang men-diskriminasikan Islam dan kaum Muslim. Orang Timur Tengah sering dipasang seba-gai tokoh teroris. Seperti dalam film “ True Lies ” yang dibintangi Arnold Schwar-zenegger. Sayangnya banyak kaum Muslim terlena oleh gemerlap gaya hidup orang kafir yang diangkat ke layar lebar. Seku-ler, bermewah-mewahan, me-ngumbar aurat, dan kebebasan da-lam bertingkah laku. Banyak yang belum ‘ngeh' ama bahaya pola hidup ini. Itulah kehebatan perang kolosal gaya baru via media massa dan hiburan ini.
Menebar fitnah via media massa
Dalam dunia jurnalistik, ada pepatah yang mengatakan “pena itu lebih tajam dari pem-bunuhan eh, dari pedang…” . Melalui goresan pena sang wartawan, kebaikan bisa berubah menjadi keburukan. Nama baik sese-orang pun akan hancur dalam sekejap lewat berita yang sampai kepada masyarakat. Dah-syat banget khan. Bisa jadi pedang Batosai -nya Kenshin kalah tajam ama pena sang jurnalis.
Untuk masalah pemberitaan, Mc.Luhan, penulis buku Understanding Media: The Extensive of Man , menyebutkan bahwa media massa adalah perpanjangan alat indera kita. Realitas atau fakta-fakta yang kita peroleh dari media massa adalah realitas yang udah diotak-atik atau second hand reality . Artinya, belum tentu sama dengan apa yang sebenarnya terjadi. Dan kita selaku pengkonsumsi berita nggak punya kemampuan untuk mengecek kebenaran setiap berita. Boro-boro buat ngecek berita, nggak ketinggalan informasi aja udah untung.
Sebagai contoh, ketika terjadi tragedi hancurnya menara kembar WTC. Media massa Internasional menggiring masyarakat untuk memvonis Usamah bin Laden dan al-Qaeda-nya sebagai pelaku pemboman. Selain itu, mereka juga mem-black list beberapa nama yang dituduh sebagai pelaku pembajakan pesawat tanpa didahului oleh penyelidikan yang aku-rat. Ternyata beberapa nama tidak terbukti terkait dengan tragedi itu. Ada yang lagi di tempat laen, malah ada yang udah lama menjadi penghuni rumah masa depan berbatu nisan!
Media massa juga turut men-sukseskan peng-anugerahan beberapa julukan negatif terhadap para pengemban dakwah. Apalagi setelah AS dengan gencar mengkampanyekan “ War Against Teror-rism ”. Gelar teroris, muslim Militan, mus-lim garis keras, atau ekstrimis Islam begitu lekat pada diri para pejuang Islam yang gigih melawan orang-orang kafir. Serangan terhadap Israel yang menewaskan satu prajuritnya dikatakan sebagai “serangan teroris”. Sementara se-rangan zionis terhadap ribuan Muslim Palestina dikesankan sebagai “upaya pembelaan diri”!
Selain kaum Muslim, fitnah juga dialamatkan terhadap ajaran Islam yang mulia. Guna memadamkan ruh jihad fii sabilillaah , dibentuk opini “Masyarakat Anti Perang” atau “Islam agama Damai”. Poligami, jilbab, atau pembagian harta warisan kepada wanita yang lebih kecil dibanding pria dikatakan sebagai bentuk diskriminasi dan pengekangan terhadap kebebasan wanita. Semua agama dianggap benar. Nggak cuma itu, banyak kaum Muslim yang lebih bangga berlindung di balik HAM daripada berhukum dengan aturan Allah. Ih…ih…iiiih..(sambil geleng-geleng kepala)
Rusaknya budaya sekuler Barat
Di era globalisasi ini wabah gaya hidup sekuler khas Barat kian merajalela menghinggapi kaum Muslim. Emang sih nggak ketauan siapa yang mengidap paham ini. Tapi kita bisa deteksi dari gejala-gejala yang ditunjukkin para pengidapnya. Kalo kamu liat orang yang matanya kuning, gigi kuning, kulit kuning, dan rambut kuning. Nah, itu berarti dia pengidap hepatitis yang nggak pernah sikat gigi tapi pengen gaya pake ngecat rambut pake warna pirang. Bukan pengidap budaya Barat sekuler. Hehehe…
Wabah budaya Barat dibangun dari pemisahan aturan agama dari kehidupan, alias sekulerisme. Orang kafir ngerasa bisa ngatur dirinya sendiri tanpa harus pake aturan agama. Tuhan ibarat the watch maker alias pembuat jam. Kalo kita amati, sang pembuat jam nggak akan berpusing-ria ikut campur dalam ‘kehidupan' jam buatannya. Karena itu dalam budaya Barat, agama menjadi urusan pribadi masing-masing. Nggak boleh dibawa-bawa ke lingkungan publik. Soalnya di sana nggak ada tempat penitipannya. Ih…emangnya tas pake dititipin segala?
Asas sekuler itu yang melahirkan kebebasan individu. Tiap orang bebas ngapain aja yang disukainya, asal nggak bikin rugi orang lain. Kalo ada pihak lain yang coba mengusik kebebasannya bakal berurusan dengan negara.
Dengan kebebasan itulah mereka ber-lomba-lomba mengejar kese-nangan dan kele-zatan duniawi semata. Yang pada akhirnya mereka jadi budak materi. Apa pun bakal dijalanin asalkan ada manfaatnya. Terutama yang bisa menghasilkan duit. Makanya banyak masyarakat ekonomi lemah yang ‘hobi' nongol silih berganti ‘mengisi acara' Patroli , Sergap , Buser , dan liputan berita kriminal lainnya.
Nah, semua gejala di atas yang bikin rusak masyarakat. Termasuk di negeri paman samnya sendiri. Nggak percaya? Coba baca laporan pakar AS, Andrew Saphiro yang meneliti kondisi umum masyarakat AS melalui bukunya “ Where Amerika Stands and Falls in the New World Order ” pada tahun 1992. Lanjuut..!
Dilaporkan bahwa satu berbanding lima (1:5) dari anak-anak AS, dan satu berbanding sepuluh (1:10) dari warga dewasa hidup dalam kemiskinan parah; 27 juta orang AS lebih layak untuk disebut sebagai buta huruf dan 40 juta orang berusia setengah baya kerepotan untuk sekeadar membaca koran.
Lebih dari 20.000 per tahun terjadi kasus kejahatan pembunuhan. Satu dari sepuluh ga-dis AS yang berusia 15-19 tahun mengalami kehamilan di luar nikah. Terdapat lebih dari satu juta kejahatan penyalahgunaan obat terlarang yang berhasil dicatat setiap tahunnya oleh lembaga-lembaga terkait.
Berdasarkan laporan DW-World (27 Juli 2003), Amerika Serikat merupakan negara dengan jumlah narapidana terbanyak di dunia. Akhir tahun 2002 lalu, tercatat lebih dari 2 juta warga Amrik yang mendekam di penjara akibat melakukan tindak kriminal. Ada suatu kecenderungan bahwa tindak kriminal di AS naik rata-rata 2.6 persen setiap tahunnya.
So, cap modern, gaul, tren, atau metropolis untuk budaya Barat yang selama ini digembor-gemborkan semuanya cuma omong kosong doank! (jangan ditambah “Dik” di depan kata ini!)
Meningkatkan kewaspadaan
Sobat muda muslim, udah waktunya kita tingkat-kan kewas-padaan kita. Ciee…kaya pak polisi aja ya. Maksud kita, sebagai re-maja muslim yang gaul tapi tetep ideo-logis (ehm..ehm.. yang ngerasa boleh kirim wesel ke redaksi), kita patut mewaspadai segala informasi dan hiburan yang kita konsumsi. Jangan sampai kita jadi korban “senjata pemusnah massal” yang tertanam dalam tayangan televisi, siaran radio, koran, tabloid, atau majalah.
Eit,…mewaspadai bukan berarti kita puasa dari segala informasi dan hiburan. Bukan gitu. Entar malah jadi anggota PKI (Pemuda Kurang Informasi) atau IWaKI (Ikatan Wanita Kurang Informasi). Kita tetep wajib bin kudu memantau berita-berita tentang kondisi negeri kita atau kondisi negeri-negeri kaum Muslim di belahan dunia lain. Rasulullah saw bersabda: “Dan barangsiapa (bangun) di pagi hari sementara tidak memperhatikan kepentingan/urusan kaum Muslim, maka tidak termasuk golongan mereka (kaum Muslim)” . (al-hadits)
Makanya bagus juga kalo kita mau mulai belajar mengkritisi setiap peristiwa atau hiburan dari sudut pandang Islam. Pokoknya nggak usah malu bin segan bertanya atau mencari tahu untuk setiap berita yang menyangkut sodara-sodara kita di tempat lain. Kita bisa bertanya di forum-forum kajian islam yang membahas politik. Bisa juga lewat diskusi pribadi dengan ustadz yang jadi panutan, atau dengan teman-teman di dunia maya melalui mailing list.
Untuk cross check berita atau cerita dibalik berita bisa kita dapetin dari buku-buku atau majalah-majalah Islam yang membongkar konspirasi musuh-musuh Islam. Moga-moga kita nggak alergi ama buku-buku atau majalah-majalah ‘berat' yang kita maksud. Berat isinya, apalagi harganya untuk kantong kita. Yang ngerasa boleh senyum kok.
Dengan begitu kita bakal ngerasain nikmatnya menjadi orang yang nggak sekedar ‘tahu'. Sehingga nggak ketipu ama media massa dan bisa memberikan pencerahan kepada orang lain. Dan kita siap menghadapi serangan ‘senjata pemusnah massal' bernama media massa ini sampai Daulah Khilafah Islamiyah tegak atas pertolongan Allah. Setuju kan sobat? Mari berjuang! Kampanyekan terus penerapan Islam sebagai ideologi negara! Sekarang juga!

Lembah Lolipop


Yg manakah Anda saat ini?? Bob atau Bib ??
 
Alkisah ada dua orang anak laki-laki, Bob dan Bib, yang sedang melewati lembah permen lolipop. Di tengah lembah itu terdapat jalan setapak yang beraspal. Di jalan itulah Bob dan Bib berjalan kaki bersama. Uniknya, di kiri-kanan jalan lembah itu terdapat banyak permen lolipop yang berwarni-warni dengan aneka rasa. Permen-permen yang terlihat seperti berbaris itu seakan menunggu tangan-tangan kecil Bob dan Bib untuk mengambil dan menikmati kelezatan mereka.
Bob sangat kegirangan melihat banyaknya permen lolipop yang bisa diambil. Maka ia pun sibuk mengumpulkan permen-permen tersebut. Ia mempercepat jalannya supaya bisa mengambil permen lolipop lainnya yang terlihat sangat banyak didepannya. Bob mengumpulkan sangat banyak permen lolipop yang ia simpan di dalam tas karungnya. Ia sibuk mengumpulkan permen-permen tersebut tapi sepertinya permen-permen tersebut tidak pernah habis maka ia memacu langkahnya supaya bisa mengambil semua permen yang dilihatnya.
Tanpa terasa Bob sampai di ujung jalan lembah permen lolipop. Dia melihat gerbang bertuliskan "Selamat Jalan". Itulah batas akhir lembah permen lolipop. Di ujung jalan, Bob bertemu seorang lelaki penduduk sekitar. Lelaki itu bertanya kepada Bob, "Bagaimana perjalanan kamu di lembah permen lolipop? Apakah permen-permennya lezat? Apakah kamu mencoba yang rasa jeruk? Itu rasa yang paling disenangi. Atau kamu lebih menyukai rasa mangga? Itu juga sangat lezat." Bob terdiam mendengar pertanyaan lelaki tadi. Ia merasa sangat lelah dan kehilangan tenaga. Ia telah berjalan sangat cepat dan membawa begitu banyak permen lolipop yang terasa berat di dalam tas karungnya. Tapi ada satu hal yang membuatnya merasa terkejut dan ia pun menjawab pertanyaan lelaki itu, "Permennya saya lupa makan!"
Tak berapa lama kemudian, Bib sampai di ujung jalan lembah permen lolipop. "Hai, Bob! Kamu berjalan cepat sekali. Saya memanggil-manggil kamu tapi kamu sudah sangat jauh di depan saya." "Kenapa kamu memanggil saya?" tanya Bob. "Saya ingin mengajak kamu duduk dan makan permen anggur bersama. Rasanya lezat sekali. Juga saya menikmati pemandangan lembah, indah sekali!" Bib bercerita panjang lebar kepada Bob. "Lalu tadi ada seorang kakek tua yang sangat kelelahan. Saya temani dia berjalan. Saya beri dia beberapa permen yang ada di tas saya. Kami makan bersama dan dia banyak menceritakan hal-hal yang lucu. Kami tertawa bersama." Bib menambahkan.
Mendengar cerita Bib, Bob menyadari betapa banyak hal yang telah ia lewatkan dari lembah permen lolipop yang sangat indah. Ia terlalu sibuk mengumpulkan permen-permen itu. Tapi pun ia sampai lupa memakannya dan tidak punya waktu untuk menikmati kelezatannya karena ia begitu sibuk memasukkan semua permen itu ke dalam tas karungnya.
Di akhir perjalanannya di lembah permen lolipop, Bob menyadari suatu hal dan ia bergumam kepada dirinya sendiri, "Perjalanan ini bukan tentang berapa banyak permen yang telah saya kumpulkan. Tapi tentang bagaimana saya menikmatinya dengan berbagi dan berbahagia." Ia pun berkata dalam hati, "Waktu tidak bisa diputar kembali." Perjalanan di lembah lolipop sudah berlalu dan Bob pun harus melanjutkan kembali perjalanannya.
Dalam kehidupan kita, banyak hal yang ternyata kita lewati begitu saja. Kita lupa untuk berhenti sejenak dan menikmati kebahagiaan hidup. Kita menjadi Bob di lembah permen lolipop yang sibuk mengumpulkan permen tapi lupa untuk menikmatinya dan menjadi bahagia.
Pernahkan Anda bertanya kapan waktunya untuk merasakan bahagia? Jika saya tanyakan pertanyaan tersebut kepada para klien saya, biasanya mereka menjawab, "Saya akan bahagia nanti... nanti pada waktu saya sudah menikah... nanti pada waktu saya memiliki rumah sendiri... nanti pada saat suami saya lebih mencintai saya... nanti pada saat saya telah meraih semua impian saya... nanti pada saat penghasilan sudah sangat besar... "
Pemikiran ¡nanti' itu membuat kita bekerja sangat keras di saat ¡sekarang'. Semuanya itu supaya kita bisa mencapai apa yang kita konsepkan tentang masa ¡nanti' bahagia. Terkadang jika saya renungkan hal tersebut, ternyata kita telah mengorbankan begitu banyak hal dalam hidup ini untuk masa ¡nanti' bahagia. Ritme kehidupan kita menjadi sangat cepat tapi rasanya tidak pernah sampai di masa ¡nanti' bahagia itu. Ritme hidup yang sangat cepat... target-target tinggi yang harus kita capai, yang anehnya kita sendirilah yang membuat semua target itu... tetap semuanya itu tidak pernah terasa memuaskan dan membahagiakan.
Uniknya, pada saat kita memelankan ritme kehidupan kita; pada saat kita duduk menikmati keindahan pohon bonsai di beranda depan, pada saat kita mendengarkan cerita lucu anak-anak kita, pada saat makan malam bersama keluarga, pada saat kita duduk bermeditasi atau pada saat membagikan beras dalam acara bakti sosial tanggap banjir; terasa hidup menjadi lebih indah.
Jika saja kita mau memelankan ritme hidup kita dengan penuh kesadaran; memelankan ritme makan kita, memelankan ritme jalan kita dan menyadari setiap gerak tubuh kita, berhenti sejenak dan memperhatikan tawa indah anak-anak bahkan menyadari setiap hembusan nafas maka kita akan menyadari begitu banyak detil kehidupan yang begitu indah dan bisa disyukuri. Kita akan merasakan ritme yang berbeda dari kehidupan yang ternyata jauh lebih damai dan tenang. Dan pada akhirnya akan membawa kita menjadi lebih bahagia dan bersyukur seperti Bib yang melewati perjalanannya di lembah permen lolipop

(copas dari Dudung.net)