Thursday, January 3, 2013

Mengatasi Rasa Takut Pada Anak

“Ummi, Ahmad pingin ke kamar mandi. Anterin ya Mi…” 

 

Ummu Ahmad (bukan nama sebenarnya) kaget ketika suatu malam Ahmad, anaknya yang sudah berumur 10 tahun tiba-tiba minta diantarkan ke kamar mandi.

 

“Ahmad anak shalih… kok tumben minta diantar ke kamar mandi? Biasanya berani sendiri.”

 

“Ahmad takut ketemu hantu Mi…” kata Ahmad dengan wajah ketakutan.

 

 

Kisah ini mungkin sangat sering kita jumpai. Tak hanya anak kecil, bahkan banyak orang dewasa yang mengaku takut terhadap hantu. Masih banyaknya budaya dan kepercayaan terhadap hal-hal mistis yang bertentangan dengan syariat, ditambah lagi maraknya cerita maupun film-film misteri di tengah masyarakat semakin memperparah kerusakan dan mengikis keimanan.

 

Rasa takut anak kepada hantu, bagaimanapun harus mendapat perhatian khusus dari orang tua. Karena bila ketakutan sang anak tetap terpelihara, tak hanya membentuk mental penakut pada diri anak tetapi juga dapat mengurangi kesempurnaan tauhid yang sangat kita harapkan terbentuk pada diri sang anak.

 

Sekilas tentang Rasa Takut (Khauf)

Sangat penting bagi orang tua untuk bisa melatih anak mengatur rasa takutnya. Bukan hanya sekedar agar anak menjadi pemberani, tetapi lebih karena rasa takut adalah bagian dari ibadah. Rasa takut adalah bagian dari rukun yang harus ada dalam ibadah, di samping rasa cinta dan harap.

 

Macam-macam takut

Ulama telah membagi rasa takut menjadi beberapa bagian, yaitu:

1. Takut ibadah atau disebut juga takut sirri (takut terhadap sesuatu yang ghaib).

 

Takut ibadah dibagi menjadi dua macam:

a. Takut kepada Allah, yaitu takut yang diiringi dengan merendahkan diri, pengagungan, dan ketundukan diri kepada Allah. Takut semacam inilah yang akan mendatangkan ketaqwaan dan ketaatan sepenuhnya kepada Allah. Oleh karena itu, rasa takut seperti ini hanya boleh ditujukan kepada Allah semata karena merupakan salah satu konsekuensi keimanan.

Allah berfirman, yang artinya, “Karena itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku, jika kamu benar-benar orang yang beriman.” (QS. Ali Imran 175)

 

b. Takut kepada selain Allah, yaitu takut kepada selain Allah dalam hal sesuatu yang ditakuti itu sebenarnya tidak dapat melakukannya dan hanya Allah-lah yang dapat melakukannya. Takut semacam ini banyak terjadi pada berhala, takut pada orang mati, takutnya para penyembah kubur kepada walinya, dll. Rasa takut ini merupakan syirik akbar yang dapat mengeluarkan pelakunya dari keIslaman.

 

2. Takut yang haram, yaitu takut kepada selain Allah, yang bukan ibadah tetapi menyebabkan ia melakukan keharaman atau meninggalkan kewajiban. Takut semacam ini dapat mengurangi ketauhidan seseorang.

3. Takut thobi’i (normal). Yaitu takut pada hal-hal yang bisa mencelakakan kita (dengan izin dan kekuatan dari Allah). Misalnya, takut pada binatang buas, api, dll. Takut semacam ini wajar ada pada diri manusia dan dibolehkan selama tidak melampaui batas.

 

4. Takut wahm (khayalan), yaitu takut pada sesuatu yang sebabnya tidak jelas. Misalnya, takut pada hantu. Takut semacam ini tercela.

 

Seorang anak yang masih dalam fase pertumbuhan dan sedang mengalami masa belajar, ia mempunyai rasa ingin tahu yang besar dan kadang disertai pula daya imajinasi yang tinggi. Oleh karena itu, ketika ia mendengar cerita tentang berbagai macam hantu entah dari berbagai media massa, atau dari orang-orang di sekitarnya, hal tersebut bisa menimbulkan rasa takut yang berlebihan. Apalagi bila sang anak pernah mengalami trauma karena ditakut-takuti temannya atau karena pernah mengalami gangguan jin.

 

Rasa takut kepada hantu atau setan, bisa mengantarkan kepada syirik akbar. Jika sampai membawa pada peribadatan kepada selain Allah. Bentuknya bermacam-macam, ada yang memberi sesajian agar tidak diganggu, membaca berbagai mantera, datang kepada dukun untuk meminta jimat, dan sebagainya.

 

Pada anak, mungkin tak sampai separah itu. Namun tak jarang kita dapati, karena rasa takut kepada hantu atau semacamnya, anak menjadi takut keluar kamar untuk mengambil wudhu pada pagi hari. Sang anak menjadi menunda-nunda waktu shalat Subuhnya. Ini hanyalah salah satu contoh. Tetapi sekali lagi, hal ini dapat mengurangi kesempurnaan tauhid sang anak.

 

Ketakutan anak bisa diperparah jika orangtuanya pun tidak paham syariat sehingga demi mengatasi rasa takut anaknya sehingga membawa anak pada kesyirikan. Misalkan menggantungkan jimat pada anak sehingga sang anak terus bergantung pada jimat tersebut hingga ia dewasa.

 

Cara Mengatasi Rasa Takut Anak kepada Hantu

Bagi orang tua sangat penting mengetahui bagaimanakah cara mengatasi ketakutan anak dengan cara yang sesuai syariat. Antara lain:

 

1. Tanamkanlah pada anak tauhid dan aqidah yang benar.

Cobalah cari tahu apa yang sebenarnya ditakutkan oleh sang anak pada saat keadaannya tenang. Rangsanglah anak dengan beberapa pertanyaan. “Adik takut hantu ya? Memangnya hantu itu apa sih?”
Jika sang anak menjawab bahwa hantu adalah pocong, genderuwo, nyi loro kidul, kuntilanak, atau semacamnya, jelaskan bahwa hantu-hantu semacam itu tidak ada sama sekali sehingga tidak perlu ditakutkan. Jika yang ditakutkan anak adalah orang mati, maka jelaskanlah bahwa orang mati takkan bisa memberi manfaat maupun bahaya bagi orang yang masih hidup.

 

Adapun jika sang anak telah mengerti bahwa yang dimaksud orang-orang dengan hantu adalah penjelmaan dari setan atau jin yang hendak mengganggu manusia, maka orangtua haruslah menjelaskan kepada anak bahwa tidak ada kekuatan yang paling kuat kecuali kekuatan Allah. Seluruh makhluk, termasuk jin dan setan di bawah pengaturan Allah. Ajarkan pada anak meskipun seluruh jin dan manusia ingin mencelakakannya, akan tetapi Allah tidak menakdirkannya, maka ia takkan celaka. Begitu pula sebaliknya.

 

Sungguh indah contoh yang diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika beliau menasehati Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu yang ketika itu masih kecil.Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu bahwa ia berkata,  “Pada suatu hari saya pernah membonceng di belakang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu beliau bersabda, “Wahai anak muda, sesungguhnya akan kuajarkan kepadamu beberapa kalimat. Jagalah Allah, niscaya Ia juga akan menjagamu. Jagalah Allah niscaya engkau akan mendapati-Nya ada di hadapanmu. Apabila engkau meminta sesuatu, mintalah kepada Allah. Jika engkau memohon pertolongan, mohonlah kepada Allah. Ketahuilah, andaikan saja umat seluruhnya berkumpul untuk memberikan manfaat kepadamu, mereka tidak akan bisa memberikan manfaat kepadamu kecuali sesuatu yang telah ditetapkan Allah untukmu. Dan andaikan saja mereka bersatu untuk menimpakan bahaya terhadapmu, mereka tidak akan bisa memberikan bahaya itu terhadapmu kecuali sesuatu yang Allah tetapkan atasmu. Pena telah diangkat dan lembar catatan telah kering.” (HR. Tirmidzi)

 

Jelaskan pada anak pada hal apakah ia harus takut (yaitu takut kepada Allah), pada hal-hal apakah ia boleh takut tetapi tidak berlebihan dan hal-hal apa yang ia tidak boleh takut sama sekali. Hendaklah orang tua mengenalkan kepada anak-anaknya kepada Allah, nama-nama dan sifat-sifat-Nya. Karena dengan pengenalan kepada Allah, seorang anak akan mengetahui keagungan Allah, keMahaKayaanNya, kekuasaan-Nya. Yang harus orang tua ingat, mengajarkan rasa takut kepada Allah juga harus disertai pengajaran rasa cinta dan harap kepada Allah. Sehingga hal ini menjadikan anak ikhlas dan giat dalam beramal serta tidak mudah putus asa.

 

2. Ajarkan wirid dan doa yang diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
Ada banyak wirid dan doa yang bisa diajarkan pada anak. Misalnya, wirid pagi dan sore, doa sehari-hari seperti doa masuk WC, doa singgah di suatu tempat, doa hendak tidur, dll. Pilihlah bacaan wirid dan doa sesuai kapasitas kemampuan anak.

 

Tak hanya sekedar menghafal, tapi juga pahamkan mereka arti dari doa tersebut sehingga mereka mengamalkan doa-doa tersebut dengan penuh keyakinan akan manfaat doa bagi dirinya. Ajarkan pada anak bahwa doa dan wirid adalah senjata dan perisai bagi kaum mukmin. Karena itu, bila rasa takut menyerang, yang terbaik dilakukan adalah meminta perlindungan dan pertolongan Allah, Rabb seluruh makhluk. Sesekali ingatkan atau tanyakan pada anak arti dari doa tersebut. Sekaligus untuk mengetahui apakah sang anak sudah mengamalkan doa-doa tersebut ataukah belum.

 

3. Jauhkanlah anak dari hal-hal yang mendatangkan rasa takut kepada hantu.
Misalnya cerita misteri, patung dan lukisan makhluk bernyawa, dll. Cerita misteri atau berbau mistis kadang lebih menarik bagi anak karena imajinasi mereka yang tinggi dan masih belum terkontrol baik. Oleh karena itu, kenalkanlah anak dengan kisah-kisah para Nabi, sahabat-sahabat Rasulullah, maupun kisah shahih lain yang dapat mengajarkan anak keimanan, keberanian dan akhlaq yang baik. Jangan hanya sekedar menyediakannya buku/majalah, meskipun ini juga hal yang penting. Sesekali ceritakanlah langsung dengan lisan anda agar hikmah dan nilai kisah lebih mengena di hati anak. Ini juga akan lebih mendekatkan orang tua dengan sang buah hati.

 

4. Ajarkan pula pada anak untuk tidak menakut-nakuti temannya meski hanya bermaksud untuk bercanda. Pahamkan pada anak untuk bercanda dengan baik.

 

5. Bila orang tua ternyata adalah seorang penakut, berusahalah untuk tidak menampakkan hal tersebut di depan sang anak. Sebagaimana kita tidak ingin anak menjadi penakut, maka latihlah diri sendiri untuk tetap tenang dan menghilangkan sifat penakut dari diri kita.

 

Jika suatu ketika sifat penakut kita diketahui oleh sang anak, tak ada salahnya melibatkan anak dalam usaha menghilangkan sifat penakut kita. “Astagfirullah, tadi Ummi kok menjerit ya pas lampu mati? Menurut adik, Ummi harusnya gimana? Iya adik benar, harusnya tetap tenang dan minta perlindungan sama Allah. Lain kali kalau Ummi menjerit lagi, adik ingatin Ummi ya….” Hal ini juga akan mengajarkan pada anak bagaimana seharusnya ia bersikap ketika ada orang lain atau temannya yang ketakutan. Jangan pula menakut-nakuti anak dengan ancaman yang tak berdasar atau bertentangan dengan syariat. Misalnya, “Jangan main dekat sungai ya! Nanti diculik genderuwo penunggu sungai lho” Hal ini sering tanpa sadar dilakukan oleh para orang tua. Maka wahai para pendidik, bekalilah diri dengan ilmu syar’i dalam mendidik anak-anak kita.

 

6. Berdoalah untuk kebaikan anak
Hal yang sering luput dari orang tua adalah berdoa untuk anak-anaknya. Padahal doa merupakan salah satu pokok yang harus dipegang teguh orang tua. Doa orang tua bagi kebaikan anaknya adalah salah satu jenis doa yang dijanjikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam akan dikabulkan oleh Allah (HR. Baihaqi). Termasuk di antaranya, hendaknya orang tua mendoakan agar anak dilindungi dari gangguan setan.

 

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu bahwa ia berkata, “Adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memintakan perlindungan untuk Hasan dan Husain dengan mengucapkan,  “Aku memohon perlindungan untukmu berdua dengan kalimat Allah yang sempurna dari setiap setan dan binatang berbisa, dan juga dari setiap mata yang jahat.” Selanjutnya beliau bersabda “Adalah bapak kalian (yaitu Ibrahim) dahulu juga memohonkan perlindungan untuk kedua puteranya, Ismail dan Ishaq, dengan kalimat seperti ini.” (HR. Bukhari)

 

Inilah sebagian cara yang semoga bisa mengatasi rasa takut anak terhadap hantu. Orang tua hendaknya bersabar dalam membantu anak mengatasi rasa takutnya dengan tetap memprioritaskan pendidikan aqidah dan tauhid pada anak. Semoga kelak anak tumbuh menjadi sosok muslim-muslimah yang beraqidah lurus, beramal shalih dan mempunyai ketawakkalan tinggi kepada Allah.   Wallahu Ta’ala a’lam. (Ummu Rumman) 

 

wedhakencana.blogspot.com

 

Sumber : Penulis: Ummu Rumman
Muraja’ah: Ust. Aris Munandar

Maraji’:
Bila Anak Anda Takut Hantu, Ummu Khaulah, Majalah As Sunnah Edisi 02/Tahun VIII/1424H/2004M
Mendidik Anak Bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Muhammad Suwaid, penerbit Pustaka Arafah
Mutiara Faidah Kitab Tauhid Syaikh Muhammad At Tamimi, Abu ‘Isa Abdullah bin Salam, penerbit Divisi Bimbingan Masyarakat LBI Al Atsary Yogyakarta
Syarah Tiga Landasan Utama, Syaikh Abdullah bin Shalih al Fauzan, Pustaka At Tibyan

http://blogkuzainal.blogspot.com/2011/06/wahai-anakku-janganlah-takut-sama-hantu.html

Ibnu Al Haitham Pakar Fisika Optik


Sejarah mencatat salah satu peletak dasar ilmu fisika optik adalah sarjana islam Ibnu Al Haitham atau yang dikenal di Barat dengan sebutan Alhazen, Avennathan atau Avenatan. Ilmuwan besar yang punya nama lengkap Abu Al Hasan Ibnu Al Haitham Al Bashri Al Misri ini lahir di Basrah, Irak pada 965 M. mengecap pendidikan di Basrah dan Baghdad, penguasaan matematikanya oleh Max Mayerhof, seorang sejarawan dianggap mengungguli Euclides dan Ptolemeus.

Setelah selesai di kedua kota itu, Ibnu Haitham meneruskan pendidikannya di Mesir dan bekerja di bawah pemerintahan khalifah Al Hakim (996 - 1020 M) dari daulah Fatimiyah. Diapun mengunjungi Spanyol untuk melengkapi beberapa ahli karya ilmiahnya. Seperti sarjana islam lainnya, Ibnu Haitham tidak hanya menguasai fisika, ilmu optik, tetapi juga filsafat, matematika dan obat-obatan atau farmakologi. Tidak kurang 200 karya ilmiah mengenai beberapa bidang itu dihasilkan Ibnu Haitham  sepanjang hidupnya.
Karya utamanya tentang optic naskah aslinya dalam bahasa Arab hilang, tetapi terjemahannya dalam bahasa Latin masih ditemukan. Ibnu Haitham mengoreksi konsep Ptolemeus dan Euclides tentang pengelihatan. Menurut kedua ilmuwan Yunani itu mata mengirimkan berkas-berkas cahaya visual ke objek pengelihatan sehingga sebuah benda dapat terlihat. Sebaliknya, menurut Ibnu Al Haitham, retinalah pusat pengelihatan dan benda bisa terlihat karena memantulkan sinar atau cahaya ke mata. Kesan yang ditimbulkan cahaya pada retina dibawa ke otak melalui saraf-saraf optik.

Kepandaian matematis Ibnu Haitham terbukti ketika dia sangat akurat menghitung ketinggian atmosfer bumi yaitu 58.5 mil. Dalam karyanya Mizcmul Hikmah, Ibnu Haitham banyak mengurai tentang masalah atmosfer ini, terutama berkait dengan ketinggian atmosfer dengan meningkatnya kepadatan udara. Secara eksperimental, ia berhasil menguji berat benda meningkat dalam proporsinya pada kepadatan atmosfer yang bertambah.

Ia juga membicarakan masaalh yang berhiubungan dengan pusat daya tarik bumi. Jauh sebelum Newton membahas masalah gravitasi, Ibnu Haitham telah membahasnya dan menjadikan pengetahuan tentang gravitasi itu untuk penyelidikantentang keseimbangan dan alat-alat timbangan. Dalam kaitan itu pula, Ibnu Haitham mengurai dengan jelas hubungan antara daya tarik bumi dengan pusat suspense. Penjelasannya mengenai hubungan antara kecepatan, ruang dan saat jatuhnya benda-benda diyakini menjadi ilham bagi Newton untuk mengembangkan teori gravitasi.

Selain masalah cahaya dan atmosfer, Ibnu Haitham juga banayk melakukan eksperimen mengenai kamera obscura atau metode kamar gelap, gerak rectilinear cahaya, sifat bayangan, penggunaan lensa dan beberapa fenomena optikal lainnya. Metode kamar gelap atau kamera obscura dilakukan Ibnu Haitham saat gerhana bulan terjadi. Kala itu, ia mengintip citra matahari yang setengah bulat pada sebuah dinding yang berhadapan dengan sebuah lubang kecil yang dibuat pada tirai penutup jendela.

Untuk semua eksperimen lensa, Ibnu Haitham membuat sendiri lensa dan cermin cekung melalui mesin bubut yang dimilikinya. Eksperimennya yang tergolong berhasil saat ia menemukan titik focus seabgai tempat pembakaran terbaik. Saat itu, ia berhasil mengawinkan cermin-cermin bulat dan parabola. Semua sinar yang masuk dikonsentrasikan pada sebuah titik fokus sehingga menjadi titik bakar.

Bukunya tentang optik, kitab al Manazir diterjemahkan ke dalam bahasa Latin oleh F Risner dan diterbitkan di Basle pada 1572 M. Karyanya ini bersama karya-karya optic lainnya sangat memepengaruhi ilmuwan abad pertengahan seperti Roger Bacon, Johanes Keppler dan Pol Witello. Diyakini, banyak karya-karya monumental dari mereka diilhami dari hasil eksperimen yang dilakukan Alhazen atau Ibnu Haitham.
Menurut Philip K Hutti, tulisan-tulisannya mengenai berbagai persoalan optik membuka jalan bagi para peneliti optik Barat di kemudian hari mengembangkan disiplin ilmu ini secara lebih luas. Semua karya itu diterjemahkan ke dalam beberapa bahasa Eropa, termasuk Rusia dan Ibrani. Sejarawan terkemuka Amerika, George Sarton mengumpulkan karya-karya Ibnu Haitham dalam bukunya Introduction to the Study of Science yang menjadi bacaan wajib bagi mereka yang mencintai ilmu.

Wednesday, January 2, 2013

Cara Mendidik Anak Perempuan dalam Agama Islam

Memiliki anak-anak perempuan bukanlah sebuah kekurangan bagi seseorang. Bisa jadi, ia justru menjadi anugerah yang amat indah baginya, manakala dia bisa menunaikan segala kewajiban memelihara dan mendidik mereka. 

 

 

Bagi orang tua yang dianugerahi anak-anak perempuan, pemberian Allah subhanahu wata’ala ini sebenarnya merupakan karunia yang amat besar dari-Nya. Dia bisa berharap janji Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam:  “Barang siapa yang memelihara dua anak perempuan hingga dewasa, dia akan datang pada hari kiamat dalam keadaan aku dan dia (seperti ini).” Beliau menggabungkan jari-jemarinya. (HR. Muslim no. 2631)

 

Juga pada janji Beliau shalallahu ‘alaihi wassalam yang lainnya:  “Barang siapa diuji dengan sesuatu dari anak-anak perempuannya, lalu dia berbuat baik kepada mereka, kelak mereka akan menjadi penghalang dari api neraka.” (HR. al-Bukhari no. 1418 dan Muslim no. 2629)

 

Kita juga mengingat penuturan ‘Aisyah radhiyallahu anha tentang seorang wanita miskin yang datang kepadanya. ‘Aisyah radhiyallahu anha mengisahkan:  Seorang wanita miskin datang kepadaku membawa dua orang anak perempuannya. Kuberikan kepadanya tiga butir kurma. Ia lalu memberikan kepada setiap anaknya sebutir kurma. Sebutir yang lain ia angkat ke mulutnya untuk dia makan. Namun, kedua anak perempuannya meminta kurma itu. Lantas dibaginya kurma yang hendak dia makan itu untuk kedua anaknya. Aku pun merasa kagum terhadap perbuatannya, lalu kuceritakan apa yang dilakukannya kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam. Beliau pun berkata, ‘Sesungguhnya Allah telah menetapkan baginya surga dengan kurma yang diberikannya itu dan membebaskannya dari neraka’.” (HR. Muslim no. 2630)

 

Begitu pun kalau kita cermati, pendidikan terhadap anak perempuan memiliki peran yang amat strategis. Tentu saja, karena hal ini akan sangat berpengaruh terhadap kondisi masyarakat dan generasinya kelak. Bagaimana tidak! Seorang anak perempuan akan menjadi seorang istri bagi suaminya, akan menjadi ibu dan pendidik bagi anak-anaknya. Selain itu, dia akan mengemban berbagai tugas lain yang telah menanti.

 

Jika dia baik, dia akan menunaikan berbagai perannya ini dengan baik. Dia akan berkhidmah di balik kesibukan suaminya dengan sebaik-baiknya serta memberikan dorongan dan pengaruh yang baik bagi sang suami. Dia akan memelihara serta menjaga fisik dan psikis anak-anaknya yang kelak akan menjadi generasi pengganti, juga mengajari mereka dengan berbagai hal yang positif. Dia juga akan menjaga kehormatan diri dan keluarganya. Selanjutnya, dia pun mengerti tanggung jawab dan amanat yang harus dia tunaikan dalam setiap tugas yang diembannya. Dengan demikian, baiklah masyarakatnya—insya Allah.

 

Sebaliknya, anak perempuan yang tak terdidik dengan baik tidak akan bisa membantu dan mendukung kebaikan suaminya. Anak-anaknya pun telantar, tidak terurus karena dia tidak mengerti hak anak-anaknya. Tingkah laku anak-anaknya pun akan jauh dari sebutan beradab. Lebih-lebih lagi, dia akan menjadi sumber kerusakan yang bisa menghancurkan tatanan masyarakat.

 

Tentu kita tidak ingin memiliki anak perempuan sebagaimana gambaran terakhir ini. Kita mohon keselamatan kepada Allah subhanahu wata’ala….

 

Kalau begitu, kita perlu menelisik seluk-beluk mendidik anak perempuan ini—dengan terus memohon pertolongan dan kemudahan dari Allah subhanahu wata’ala—untuk mewujudkan impian dan harapan kita.

 

Mengajarkan Agama kepada Mereka

Bekal yang paling berharga bagi anak-anak, termasuk anak perempuan, adalah agama. Bahkan, seorang wanita dipilih karena agamanya, sebagaimana anjuran Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam:  “Wanita itu dinikahi karena empat hal: bisa jadi karena hartanya, karena keturunannya, karena kecantikannya, dan karena agamanya. Maka dari itu, pilihlah wanita yang baik agamanya. Jika tidak, engkau akan celaka.” (HR. al-Bukhari no. 5090 dan Muslim no. 3620)

 

Menanamkan agama kepada anak-anak tentu saja harus bertahap. Pada tahap awal, saat anak-anak mulai mengerti pembicaraan, kita bisa mengenalkan mereka pada Rabbnya. Kita tuntun mereka menunjuk ke langit sambil kita katakan, “Allah.” (Nashihati lin Nisa’, hlm. 65)

 

Ketika tiba saat anak dapat berbicara, mereka dituntun untuk mengucapkan kalimat tauhid:  “Jadikanlah yang pertama kali mengetuk pendengarannya adalah pengenalan kepada Allah subhanahu wata’ala, pengesaan-Nya, dan bahwa Allah subhanahu wata’ala di atas ‘Arsy-Nya, Allah subhanahu wata’ala melihat dan mendengar segala ucapan mereka, Dia selalu bersama mereka di mana pun berada. (Tuhfatul Maudud, hlm. 195)

 

Saat berusia sekitar satu setengah tahun, ketika mereka mulai belajar bicara, kita tuntunkan mereka untuk mengucapkan basmalah sebelum makan dan minum. Kita biasakan sampai mereka terbiasa mengucapkannya sendiri setiap hendak makan dan minum. (Nashihati lin Nisaa’, hlm. 65)

 

Ini sebagaimana halnya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam mengajarkan basmalah kepada ‘Umar bin Abi Salamah yang berada dalam asuhan beliau:   “Nak, ucapkan bismillah. Makanlah dengan tangan kananmu, dan makanlah makanan yang dekat denganmu!” (HR. al-Bukhari no. 5376 dan Muslim no. 2022)

 

Ketika mereka mulai bisa memahami, kita ajari mereka rukun Islam, rukun iman, dan rukun ihsan. Pengajaran tentang hal ini tidak bisa dibatasi mulai usia tertentu, tergantung kemampuan pemahaman dan bicara anak.

 

Ajari serta biasakan mereka untuk berwudhu dan shalat saat berusia tujuh tahun. Pukullah mereka jika meninggalkan shalat pada usia sepuluh tahun. Pada usia ini pula, pisahkan tempat tidur antara anak laki-laki dan anak perempuan. Demikian yang diperintahkan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam kepada setiap orang tua dalam sabda beliau:   “Perintahlah anak-anak kalian untuk shalat ketika mereka berusia tujuh tahun dan pukullah mereka jika enggan melakukannya pada usia sepuluh tahun, dan pisahkanlah tempat tidur mereka.” (HR. Ahmad dan dikatakan oleh asy-Syaikh al-Albani t dalam Shahih al-Jami’ ash-Shaghir no. 5744, “Hadits ini hasan.”)

 

 

Jika mereka telah mampu, kita latih mereka untuk berpuasa agar terbiasa kelak ketika dewasa. Hal seperti ini telah dilakukan oleh para ibu dari kalangan shahabiyah, sebagaimana yang dituturkan oleh ar-Rubayyi’ bintu Mu’awwidz x:   “Kami menyuruh puasa anak-anak kami. Kami buatkan untuk mereka mainan dari perca. Jika mereka menangis karena lapar, kami berikan mainan itu kepadanya hingga tiba waktu berbuka.” (HR. al-Bukhari dan Muslim) (Nashihati lin Nisa’, hlm. 66—67)

 

Kemudian diajari pula mereka akidah yang benar, sebagaimana halnya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam mengajari anak pamannya, ‘Abdullah bin ‘Abbas c:   “Jagalah Allah, niscaya Allah akan menjagamu. Jagalah Allah, niscaya engkau akan dapati Dia ada di hadapanmu. Apabila engkau meminta, mintalah kepada Allah, dan apabila engkau memohon pertolongan, mohonlah pertolongan kepada Allah. Ketahuilah, seandainya seluruh umat ini berkumpul untuk memberikan manfaat kepadamu, mereka tidak akan dapat memberikannya selain apa yang telah ditetapkan oleh Allah bagimu. Seandainya mereka berkumpul untuk menimpakan mudarat kepadamu, mereka tidak akan dapat menimpakannya selain apa yang telah Allah tetapkan menimpamu. Telah diangkat pena, dan telah kering lembaran-lembaran.” (HR. at-Tirmidzi, dinyatakan sahih oleh al-Imam al-Albani dalam Shahih Sunan at-Tirmidzi 2/2043 dan al-Misykat no. 5302)

 

Kita ajarkan pula hal-hal yang terkandung dalam wasiat Luqman kepada anaknya yang dikisahkan oleh Allah subhanahu wata’ala dalam al-Qur’an, Surat Luqman ayat 13—19.

 

Selain itu, mereka harus pula mengetahui perkara-perkara yang harus dijauhi dalam syariat sehingga mereka dapat menghindarinya. Ini telah dicontohkan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam:  “Al-Hasan bin ‘Ali radhiyallahu anhu memungut sebutir kurma dari kurma sedekah, lalu dia masukkan kurma itu ke mulutnya. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam pun bersabda, “Kikh, kikh1! Buang kurma itu! Apa kau tidak tahu, kita ini tidak boleh makan sedekah?” (HR. Muslim no. 1069)

 

Selanjutnya, seiring dengan bertambahnya usia, kita ajarkan mereka satu demi satu syariat Islam yang mulia ini—terutama hal-hal yang khusus berkenaan dengan wanita— sebagai bekal utama bagi mereka dalam menghadapi kehidupan.

 

Memupuk Kesadaran Mereka Sebagai Seorang Wanita

Sedari awal, anak perempuan harus diberi pengertian bahwa mereka berbeda dari anak laki-laki. Hal yang termudah untuk mengenalkan perbedaan ini adalah dari sisi pakaian. Mereka dilarang mengenakan pakaian yang biasa dipakai anak laki-laki. Selain pakaian, sikap dan perilaku pun demikian. Anak perempuan diajari sikap dan perilaku yang khas anak perempuan. Mereka harus diberi pengertian bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam melarang mereka menyerupai anak laki-laki, sebagaimana dalam hadits:   “Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam melaknat laki-laki yang menyerupai wanita dan wanita yang menyerupai laki-laki. Beliau melaknat laki-laki yang berperilaku seperti wanita dan wanita yang berperilaku seperti laki-laki.” (HR. al-Bukhari no. 5885)

 

Difatwakan oleh Fadhilatusy Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin t, “Tasyabbuh (penyerupaan) laki-laki dengan perempuan termasuk dosa besar, demikian pula penyerupaan perempuan dengan laki-laki. Dalilnya, ‘Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam melaknat laki-laki yang menyerupai wanita dan wanita yang menyerupai laki-laki’. Di samping itu, penyerupaan seperti ini akan merusak sunnah Allah subhanahu wata’ala terhadap ciptaan-Nya, karena Allah subhanahu wata’ala telah menciptakan kekhususan tersendiri bagi wanita dan kekhususan tersendiri pula bagi laki-laki. Jika wanita menyerupai laki-laki dan laki-laki menyerupai perempuan, tentu sunnah yang telah diciptakan oleh Allah subhanahu wata’ala ini akan hilang dan sirna sehingga terjadilah sesuatu yang bertentangan dengan penciptaan dan hikmah Allah subhanahu wata’ala.” (Fatawa ‘Ulama al-Balad al-Haram, hlm. 1761—1762)

 

Membiasakan Mereka dengan Adab dan Akhlak Mulia

Di masa sekarang, banyak anak perempuan kaum muslimin yang kehilangan pesonanya sebagai seorang muslimah. Makan dengan tangan kiri, bersuara lantang di depan khalayak, keluyuran di pusat perbelanjaan, dan berdesakan di tengah keramaian tidak lagi dipandang sebagai aib. Bisa jadi pula, mereka bahkan terlepas dari perhatian orang tua. Rasa malu mulai tanggal dari diri mereka.

 

Di sisi yang lain, ada orang tua yang merasa perlu menyekolahkan anaknya di ‘sekolah etika’ agar anak perempuannya tampil anggun dan penuh etika.

 

Sebenarnya, seorang muslimah bisa tampil santun dan penuh pesona manakala dia berpegang dengan adab dan akhlak yang diajarkan oleh Islam. Becermin kepada pribadi Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam, ummahatul mukminin, dan para shahabiyah.

 

Di samping itu, sejak dini mereka harus dikenalkan dan dibiasakan dengan adab-adab yang diajarkan oleh Islam. Ini sebagaimana dikatakan oleh sahabat yang mulia, ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu :   “Ajarilah mereka adab dan ajarilah mereka ilmu!”

 

Adab terhadap orang tua, tetangga, tamu, adab makan dan minum, adab berpakaian, adab meminta izin, dan sekian banyak adab yang diajarkan oleh Islam—hingga yang sekecil-kecilnya, seperti memotong kuku, membersihkan badan dan pakaian, serta menunaikan hajat—perlu mereka ketahui dan amalkan. Adab dan akhlak yang mulia akan menjadi perhiasan bagi mereka.

 

Membiasakan Mereka Berpakaian Sesuai Syariat

Tidak selayaknya kita memakaikan mereka pakaian yang jauh dari tuntunan syariat, rok mini atau hot pants misalnya. Dinasihatkan oleh Fadhilatusy Syaikh al-‘Utsaimin t, “Tidak pantas orang tua memakaikan anak perempuannya pakaian seperti ini (pakaian yang pendek, –pen.) semasa kanak-kanak. Karena jika terbiasa, hal ini akan melekat dan dianggap remeh olehnya. Apabila yang seperti ini menjadi kebiasaannya, keadaan ini akan terus dia bawa hingga dewasa. Yang saya nasihatkan kepada para saudari saya kaum muslimah, hendaknya mereka meninggalkan busana wanita asing dari kalangan musuh-musuh agama ini. Hendaknya pula mereka membiasakan anak-anak perempuan mereka untuk mengenakan pakaian yang menutup aurat dan senantiasa merasa malu karena malu itu termasuk keimanan.” (Fatawa asy-Syaikh Muhammad ash-Shalih al-’Utsaimin, 2/845—846)

 

Bahkan, kita harus mendorong mereka untuk menutup aurat sejak masih kanak-kanak agar mereka terbiasa ketika dewasa kelak. Sejak umur tujuh tahun, kita biasakan mereka mengenakan kain kerudung untuk menutup kepala. Ketika telah baligh, kita perintahkan untuk menutup wajahnya, mengenakan pakaian panjang dan lapang yang akan menjaga kehormatannya.   “Wahai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan seluruh wanita kaum mukminin agar mereka mengulurkan jilbab-jilbab mereka. Ini lebih layak bagi mereka untuk dikenali (sebagai wanita baik-baik) hingga mereka tidak diganggu.” (al-Ahzab: 59)

 

Allah subhanahu wata’ala juga telah melarang para wanita mukminah membuka wajah serta menampakkan kecantikan dan perhiasan pada selain mahramnya. Allah subhanahu wata’ala berfirman:   ““Dan janganlah kalian menampakkan perhiasan sebagaimana kaum jahiliah dahulu.” (al-Ahzab: 33) (Kaifa Nurabbi Auladana, hlm. 26)

 

Mengajari Berbagai Keterampilan Rumah Tangga

Anak perempuan harus dibekali dan dibiasakan melakukan segala pekerjaan rumah. Hal ini nanti akan dibutuhkannya ketika mulai memasuki rumah tangga bersama suaminya. Banyak hal harus dia ketahui: cara bergaul dengan suami dan mengurus rumah tangga, seperti memasak, mengatur rumah, dan sebagainya.

 

Kadang ada keluarga yang kurang memerhatikan sisi ini. Anak perempuannya tidak dibekali dengan keterampilan yang memadai untuk terjun dalam rumah tangga. Tatkala si anak mulai berumah tangga, ternyata dia tak bisa memasak atau membereskan rumah. Bahkan, ia tak mengerti bagaimana bergaul dengan baik dan santun dengan suaminya. Yang lebih menyedihkan jika sang suami adalah seorang yang tak sabaran dan cepat naik pitam. Akhirnya, muncullah berbagai problem rumah tangga sejak awal perjalanannya yang terkadang harus berakhir dengan perpisahan. Kita memohon keselamatan kepada Allah subhanahu wata’ala.

 

Alangkah indah nasihat seorang ibu untuk putrinya yang hendak dinikahkan dengan al-Harits bin ‘Amr al-Kindi. Dia pesankan,   “Wahai putriku, sesungguhnya jikalau wasiat tak lagi diberikan untuk seorang yang beradab dan bernasab mulia, tentu takkan kuberikan wasiat ini untukmu. Namun, wasiat adalah pengingat bagi orang yang berakal dan pemberi peringatan bagi orang yang lalai.

 

Wahai putriku, seandainya seorang anak perempuan tak lagi membutuhkan suami karena ayah bundanya telah mencukupinya, sesungguhnya engkau orang yang paling tak butuh terhadap suami. Namun, kita ini diciptakan untuk kaum laki-laki, sebagaimana pula diciptakan kaum laki-laki untuk kita.

 

Wahai putriku, engkau hendak berpisah dengan tanah tempat kelahiranmu, meninggalkan kehidupan yang dahulu engkau tumbuh di sana, menuju tempat yang tak kau kenal bersama teman yang asing bagimu. Dengan kepemilikannya atas dirimu, dia menjadi penguasa atasmu. Berlakulah layaknya hamba sahayanya, niscaya dia akan menjadi sahaya yang tunduk kepadamu. Jagalah sepuluh hal yang akan menjadi simpanan berharga bagimu:

 

1. Bergaullah dengannya dengan penuh qana’ah (selalu merasa cukup, tidak banyak menuntut, red) karena qana’ah akan melapangkan hati.

2. Dengar dan taatlah engkau dengan baik karena pada kedua hal ini ada keridhaan Rabbmu.

3. Berupayalah menjaga pandangan mata dan penciumannya, jangan sampai kedua matanya memandang sesuatu yang buruk darimu dan hidungnya mencium sesuatu darimu selain aroma yang semerbak wangi.

4. Kenakanlah selalu celak dan air karena celak adalah sebaik-baik perhiasan dan air adalah sebaik-baik wewangian.

5. Jagalah selalu waktu makannya, karena panasnya rasa lapar akan mudah membangkitkan kemarahan.

6. Ciptakan suasana tenang saat tidurnya karena tidur yang terganggu akan menimbulkan amarah.

7. Berusahalah selalu menjaga rumah dan hartanya karena mampu menjaga harta termasuk sebaik-baik kemampuan.

8. Jagalah selalu hubungan dengan keluarganya karena kemampuan menjaga hubungan dengan kerabat termasuk sebaik-baik pengaturan.

9. Jangan engkau sebarkan rahasianya karena jika engkau lakukan, niscaya engkau takkan aman dari pengkhianatannya.

10. Jangan pernah kau durhakai perintahnya, karena jika kau mendurhakai perintahnya, berarti engkau buat menggelegak dadanya.

 

Semakin kau agungkan dia, dia pun makin memuliakanmu. Semakin sering engkau seia-sekata dengannya, dia pun semakin baik kepadamu.

Ketahuilah, engkau takkan bisa melakukan semua ini sampai engkau utamakan keinginannya di atas keinginanmu, dan engkau utamakan keridhaannya di atas keridhaanmu, baik dalam hal-hal yang kau sukai maupun yang engkau benci.

Hati-hatilah, jangan sampai engkau bergembira di hadapannya manakala dia sedang gundah gulana, dan jangan bermuram durja di hadapannya tatkala dia sedang gembira.” (Takrimul Mar’ah fil Islam, hlm. 96—97)

 

Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

 

 

Catatan Kaki:

1 Ini adalah perkataan untuk memperingatkan anak-anak dari sesuatu yang kotor. Maknanya, 

“Tinggalkan dan buang barang itu!”

 

wedhakencana.blogspot.com

 

Sumber :
Seluk Beluk Mendidik Anak Perempuan,  (ditulis oleh: Al-Ustadzah Ummu Abdirrahman bintu Imran), Majalah AsySyariah Edisi 075

Surat dari Iblis untuk Umat Manusia

Kisah islami teladan di malam hari menghadirkan sebuah kisah bertajuk surat dari iblis yang terkutuk untuk umat manusia. Entah surat ini benar atau tidak, tapi tertanda iblis di bawah surat ini.

Yang jelas, admin mengajak kita semua untuk merenungkan apa tujuan kita hidup di dunia ini, apakah untuk bersekutu dengan iblis atau melawan iblis dengan segala kemampuan yang ada.


SURAT IBLIS untuk UMAT MANUSIA

Manusia yang kami hormati..
Kasih, pengampunan, dan keselamatan dari Tuhan semoga tak tercurah untuk kalian..

Kalau ada ciptaan Tuhan yang paling banyak dirugikan, itulah kami. Sejak diciptakannya manusia, dan kemudian dijadikan penghuni bumi, tak henti-hentinya kami dijadikan kambing hitam, pembenaran, bahkan seolah-olah menjadi penyebab dari semua tindakan keliru yang dilakukan manusia.

Dari saat matahari terbit hingga terbit kembali keesokan harinya, kami juga jadi sasaran hujatan, penghinaan, yang dilakukan oleh semua kalangan, mulai dari penjahat hingga pejabat, yang kafir sampai yang selalu berzikir, yang royal juga yang kikir.
Untuk Anda ketahui, semua yang kami lakukan adalah atas mandat dari Tuhan kita. Tanpa itu, apalah daya kami. Sekali lagi, semua tindakan kami adalah atas mandat dan izin dari Tuhan. Sementara Anda, kami tahu betul, sering kali berbuat sesuatu tanpa izin dari Dia: menebang hutan, memakan uang rakyat, memperkosa hak-hak anak dan perempuan, dan seterusnya.

Beberapa abad belakangan, kami secara signifikan telah mengurangi kegiatan goda-menggoda seperti diceritakan dalam doktrin agama kalian. Kalian sudah jauh lebih kreatif dalam kejahatan. Bayangkan, Anda bisa tampak shaleh, peduli rakyat, penuh cinta kasih, padahal di dalam busuk!

Kami bangsa Iblis, tidak pernah munafik seperti itu. Garis tegas telah kami buat. Kami profesional, dan taat pada kontrak yang kami buat dengan Tuhan.
Memang dalam kegeraman beradab-abad ini, kadang-kadang kami juga dapat hiburan dari kekonyolan kalian. Bayangkan, tidak sedikit dari kalian yang begitu bersemangatnya ingin membantu Tuhan untuk menghadapi kami.

Kalian pikir Tuhan perlu itu? Kalau Dia mau, kontrak yang kami buat bisa dibatalkan kapan saja. Tidak saja diberhentikan, kami juga bisa dimusnahkan, semudah Anda menghapus data film porno dalam sebuah flashdisk.





Kalian terlalu banyak menonton film superhero buatan Hollywood seperti Spiderman atau Superman sih: bahwa selalu ada sesuatu yang jahat sebagai rival yang baik. Bahwa ada kami, para iblis selaku sparring partner yang imbang buat Tuhan. Kalian bahkan membayangkan, kadang Tuhan sampai ngos-ngosan untuk menghadapi kami, seperti Spiderman sesekali sampai tercabik-cabik bajunya menghadapi Green Goblin.
Dan untuk itu, kalian berdiri di sisi Tuhan, menjadi pembelanya untuk mengeroyok kami, dengan pedang, bom potassium, iuran ke rumah ibadah, atau khutbah berapi-api.

Oh My Ghost…. Malu kami jadinya. Tersanjung karena dianggap begitu perkasa. Kami sungguh tak sehebat itu. Hanya Dialah yang Mahahebat. Kita, kami dan Anda, ada di sini, hidup sejenak, hanya karena sebuah kontrak, sebuah mandat. (Bedanya, kami taat, Anda ingkar.)
Ke depan, mestinya kita memperbanyak kerja sama. Kami adalah sumber ambisi, motivasi, passion, hasrat, energi. Masa kalian tak bisa mengambil nilai-nilai positif itu. Jadi, Anda menggunakan metode-metode kami, untuk tujuan-tujuan kemanusiaan dan kemuliaan.

Oh, tidak apa-apa. Bagi kami, tidak menjadi masalah, apakah berhasil atau tidak menggoda Anda. Sesuatu dinilai bukan dari hasil, tetapi proses. Itulah profesionalisme. Banyak atau sedikit manusia yang tergelincir dalam dosa, sama sekali tidak akan menambah atau mengurangi penghasilan kami. Kontrak kerja kami fixed, bukan seperti kontrak dengan buruh yang kalian buat.
Malah, syukur-syukur kami memang dianggap gagal, sehingga dipensiunkan dini, dari pekerjaan yang semakin tidak asyik ini. Ditugaskan menjadi seekor kupu-kupu, atau kuntum bunga di lereng bukit, sepertinya jauh lebih menarik.

Akhirnya, terima kasih atas perhatian Anda. Dan untuk selalu Anda ingat, kami tidak begitu berkenan sesungguhnya, untuk bertetangga dengan Anda di neraka. Kami dari api, sehingga neraka memang sesuatu yang suitable buat kami. Sementara Anda, akan mengeluarkan bau hangus, dari kulit yang mengelupas, dan daging yang terpanggang. Mengapa kami tetap saja menggoda, semata-mata karena asas profesionalitas, termasuk ketaatan pada kontrak kerja tadi.

Sekali lagi, kasih, pengampunan, dan keselamatan dari Tuhan semoga jauh tercurah untuk kalian
Sungguh! Kalian adalah sahabatku yang terkasih.


Tertanda, yang terkutuk


IBLIS

Kenapa Gempa Bumi Semakin Meningkat? (Mengupas Tanda-Tanda Akhir Zaman)

 


Mengapa gempa bumi semakin sering terjadi? Gempa bumi, tsunami, dan badai terjadi dalam jangka waktu satu minggu. Apakah ini ada hubungannya dengan nubuat dalam Al-Qur'an? Rasulullah bersabda bahwa menjelang hari kiamat, gempa bumi akan semakin sering terjadi


Banyak gempa bumi dalam skala besar yang telah terjadi dari Pasifik Utara dan kepulauan Aleutian di dekat Alaska hingga ke daerah Samoa, Filipina, dan Indonesia. Ini sudah terjadi sejak lama tapi frekuensi dan intensitasnya terus meningkat.

Dan ramalan mengenai meningkatnya intensitas gempa bumi telah tercatat 1.400 tahun yang lalu, baik di dalam Al-Qur’an maupun hadist Nabi Muhammad S.A.W. Dan memang pada zaman modern ini intensitas gempa semakin meningkat. Aku jadi teringat dengan surat Al-Zalzalah yang berarti "Gempa Bumi."

Berikut ini terjemahan dari surat Al-Zalzalah:

Apabila bumi digoncangkan dengan goncangan (yang dahsyat), dan bumi telah mengeluarkan beban-beban berat (yang dikandung)nya, dan manusia bertanya: "Mengapa bumi (menjadi begini)?", pada hari itu bumi menceritakan beritanya, karena sesungguhnya Tuhanmu telah memerintahkan (yang sedemikian itu) kepadanya. (Al-Zalzalah:1-5)

Dan persis sedang terjadi hari ini. Orang-orang merasakan gempa bumi terjadi begitu sering. Bahkan terjadi hingga 15 gempa dalam epicenter yang sama dan dalam jangka waktu berdekatan.

Rasulullah memberitahu kita bahwa di Mekkah akan sering terjadi gempa, dan akan ada gempa besar yang akan menghancurkan Mekkah. Ini tidak bisa kita anggap remeh, karena berarti kita semakin dekat dengan hari kiamat. Hari dimana semua manusia akan ditunjukkan amalannya masing-masing, bahkan amal baik dan amal buruk sebesar atom.

Nabi Muhammad S.A.W. juga bersabda bahwa petir akan begitu sering menyambar orang-orang. Dan memang begitulah kenyataannya pada masa sekarang, bahkan orang-orang sering membicarakan tentang siapa saja yang baru tersambar petir.

Sebagai tambahan, kami juga ingin menyebutkan fenomena cuaca yang disebut El Nino. El Nino membawa kondisi cuaca yang aneh di sepanjang Laut Pasifik Selatan. Dan di kepulauan Galapagos sendiri terdapat berbagai macam keanekaragaman hayati. Darwin berteori bahwa burung-burung di kepulauan ini telah berevolusi setelah jangka waktu jutaan tahun. Namun ini teori yang salah karena sebenarnya burung-burung ini berubah bentuk hanya dalam jangka waktu 6-8 bulan. Hal ini disebabkan karena ekologi di pulau tersebut berubah. Jadi ketika telur mereka menetas, maka paruh dan tubuh mereka siap beradaptasi dengan kondisi lingkungan yang baru.

Sekarang mari kita bahas tanda-tanda hari kiamat lainnya, yaitu kemunculanYa’juj dan Ma’juj (Gog dan Magog). Jika kau membaca kitab Wahyu dalam Bible, sebenarnya Gog dan Magog telah disebutkan dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Jadi baik para umat muslim dan umat Kristen sama-sama menyadari bahwa inilah tanda-tanda hari kiamat.

Tapi siapa sebenarnya kaum Ya'juj dan Ma'juj (Gog dan Magog) ini? Mari kita lihat penjelasannya dalam surat Al Anbiyaa’ dan surat Al Kahfi.  Ya’juj wa Ma’juj (Gog dan Magog) adalah salah satu fitnah dan cobaan terbesar yang akan menimpa manusia di akhir zaman. Mereka akan bertebaran ke segala penjuru dunia dan tidak ada seorangpun yang dapat menghentikan mereka, inilah yang dinubuatkan Nabi Muhammad.

Jadi sekarang kita lihat ayat-ayat Al-Qur’an yang menjelaskan tentang Ya'juj dan Ma'juj

“Maka barang siapa yang mengerjakan amal saleh, sedang ia beriman, maka tidak ada pengingkaran terhadap amalannya itu dan sesungguhnya Kami menuliskan amalannya itu untuknya. Sungguh tidak mungkin atas (penduduk) suatu negeri yang telah Kami binasakan, bahwa mereka tidak akan kembali (kepada Kami). Hingga apabila dibukakan (tembok) Ya'juj dan Ma'juj, dan mereka turun dengan cepat dari seluruh tempat yang tinggi. Dan telah dekatlah kedatangan janji yang benar (hari berbangkit), maka tiba-tiba terbelalaklah mata orang-orang yang kafir. (Mereka berkata): "Aduhai, celakalah kami, sesungguhnya kami adalah dalam kelalaian tentang ini, bahkan kami adalah orang-orang yang zalim". Sesungguhnya kamu dan apa yang kamu sembah selain Allah, adalah umpan Jahannam, kamu pasti masuk ke dalamnya. Andaikata berhala-berhala itu Tuhan, tentulah mereka tidak masuk neraka. Dan semuanya akan kekal di dalamnya. Mereka merintih di dalam api dan mereka di dalamnya tidak bisa mendengar. Bahwasanya orang-orang yang telah ada untuk mereka ketetapan yang baik dari Kami, mereka itu dijauhkan dari neraka, mereka tidak mendengar sedikitpun suara api neraka, dan mereka kekal dalam meni'mati apa yang diingini oleh mereka. Mereka tidak disusahkan oleh kedahsyatan yang besar (pada hari kiamat), dan mereka disambut oleh para malaikat. (Malaikat berkata): "Inilah harimu yang telah dijanjikan kepadamu.” (Yaitu) pada hari Kami gulung langit sebagai menggulung lembaran - lembaran kertas. Sebagaimana Kami telah memulai panciptaan pertama begitulah Kami akan mengulanginya. Itulah suatu janji yang pasti Kami tepati; sesungguhnya Kamilah yang akan melaksanakannya. Dan sungguh telah Kami tulis didalam Zabur sesudah (Kami tulis dalam) Lauh Mahfuzh, bahwasanya bumi ini dipusakai hamba-hambaKu yang saleh. Sesungguhnya (apa yang disebutkan) dalam (surat) ini, benar-benar menjadi peringatan bagi kaum yang menyembah (Allah). Dan tiadalah Kami mengutus kamu Muhammad, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam. Katakanlah Muhammad: "Sesungguhnya yang diwahyukan kepadaku adalah: "Bahwasanya Tuhanmu adalah Tuhan Yang Esa. maka hendaklah kamu berserah diri (kepada-Nya)."  (Al Anbiyaa’ 94-108) 

Siapa yang dimaksud dengan orang-orang kafir dalam ayat di atas? Yaitu orang-orang yang tidak beriman kepada Allah. Untuk saudara-saudara kami yang beragama Kristen, kami ingatkan bahwa Tuhanmu adalah satu dan kau harus menyembah-Nya dengan sepenuh hatimu. Inilah kewajiban dasar setiap manusia.

Sekarang yang ingin kubicarakan adalah dari Perjanjian Baru, Markus 12:29-30 ketika Yesus ditanya

“Hukum manakah yang paling utama?" Dan dia menjawab bahwa “Hukum yang terutama ialah: Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa. Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu.” (Markus 12:29-30)

Dan kita juga melihat bahwa ini juga diajarkan dalam Perjanjian Lama, coba bacalah kitab Imamat, bacalah bab lima dan bab enam dan lihatlah apa hukum yang paling utama. Hukum yang paling utama adalah menyembah Tuhan Yang Maha Esa. Dalam Bible, Tuhan berfirman:

“Kau tidak seharusnya mempunyai Tuhan yang lain selain daripada-Ku.” 

Sekarang kita akan membaca terjemahan surat Al Tiin (Buah Tiin)

 “Wattiini wazaytuun. Wathuuri siiniin. Wahaadzaalbaladi. amiin. Laqad khalaqnaa al-insaana fii ahsani taqwiim. Tsumma radadnaahu asfala saafiliin. Illaa lladziina aamanuu wa'amiluu alshshaalihaati falahum ajrun ghayru mamnuun" (At Tiin 1-6). 

Tafsir Ayat pertama
wattiini wazaytuun, yang merupakan sumpah demi buah tin dan buah zaitun. Buah tin dan zaitun mewakili Yerussalem.

Tafsir Ayat Kedua
Wathuuri siiniin, dimana Allah bersumpah demi Gunung Sinai dan demi Kota Mekkah yang aman. Sumpah yang Allah firmankan ini untuk menekankan sehingga tertanam dalam hati dan pikiran kita. Gunung Sinai adalah tempat dimana Musa mendapatkan wahyu dari Tuhan Yang Maha Kuasa.

Tafsir Ayat Ketiga
Wahaadzaalbaladil amiin. Allah bersumpah dengan begitu indah, bersumpah demi tempat yang suci. Dan tentu saja Mekkah adalah tempat dimana para nabi pergi untuk berdo’a dan menyembah Tuhan Yang Maha Kuasa, mulai dari zaman nabi Adam.

Tafsir Ayat Keempat
Laqad khalaqnaa al-insaana fii ahsani taqwiim. Dalam ayat ini Allah berfirman “sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya."

Tafsir Ayat Kelima
Tsumma radadnaahu asfala saafiliin yang berarti "Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka)."

Mungkin kalian tahu bahwa Bible dan Al-Qu'ran mempunyai sedikit persamaan. Di dalam keduanya ada ayat-ayat yang membicarakan tentang keesaan Tuhan, yaitu untuk menyembah-Nya tanpa sekutu sama sekali, mencintai-Nya melebihi apapun, dan inilah bentuk cinta yang tertinggi.

Namun cinta yang terendah adalah untuk menuruti bisikan-bisikan syaitan yang membawa orang-orang ke tempat yang paling rendah, ketika mereka mulai menyembah sesuatu yang lain selain Tuhan Yang Maha Kuasa. Mereka mulai menyembah dunia dan ciptaan-Nya, dan bukannya menyembah Allah. Mereka mulai menyembah jabatan, uang, kekayaan, status mereka, bahkan menyembah diri sendiri, kemudian tidak beriman kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.

Inilah yang menghancurkan dan melenyapkan umat manusia sebelum kita, yaitu bangsa Ad dan Thamud, bangsa Yunani dan Romawi, semuanya menjadi lenyap karena mereka menghinakan diri mereka sendiri.

Tafsir Ayat Keenam
illaa lladziina aamanuu wa'amiluu alshshaalihaati falahum ajrun ghayru mamnuun. Dia berfirman “kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh; maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya." Bagi mereka yang mempunyai iman yang benar, percaya pada Tuhan Yang Esa dan melakukan kebaikan, maka bagi mereka adalah pahala yang besar.

Ayat-ayat ini memang berasal dari Islam, tapi kau dapat bandingkan sendiri dan menemukan ajaran yang sama dalam Bible, meskipun ayat-ayat Bible itu sendiri sudah rusak. Dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, Imamat, kitab Pengkhotbah, kitab Wahyu, semuanya menerangkan keesaan Tuhan, bukannya trinitas. Karena ayat-ayat Bible sudah rusak, maka datanglah kitab suci terakhir yang menyempurnakan, yaitu Al-Qur'an, dalam bahasa aslinya yang merupakan bahasa Arab. Bahasa Arab merupakan bahasa yang masih hidup hingga saat ini.

Semoga tulisan ini bermanfaat bagi kita semua dan saudara-saudara kita yang beragama Kristen, sehingga mereka dapat mengakui bahwa Tuhan itu benar-benar Esa, dan Isa A.S. (Yesus) hanyalah utusan-Nya.

Ayo Subscribe ke YouTube Channel Lampu Islam: youtube.com/arceuszeldfer
Ayo Like Facebook Page-nya: Lampu Islam


Baca juga artikel lainnya:

Tuesday, January 1, 2013

Percaya Takdir Bukan Berarti Menyerah Pada Nasib

Takdir acap dituding sebagai biang yang membelenggu cara berpikir umat. Mengimani takdir hanya membuat umat mundur dan tidak mau berusaha. Bahkan dalam beberapa tulisan orientalis, kepercayaan kepada takdir dianggap sebagai salah satu faktor kejatuhan peradaban Islam. 

 

 

Umat Islam yang mempercayai takdir, oleh kalangan antiislam, diibaratkan sebagai daun kering dalam embusan badai. Artinya, kaum muslimin hidup di bawah bayang-bayang kekuasaan mutlak bernama takdir yang mencengkram segala sesuatu dalam hidupnya. Mereka “dipaksa” dalam setiap perilakunya, seolah-olah mengimani takdir identik dengan tidak mau berikhtiar (tidak ada kebebasan memilih).

 

Pertanyaannya, kalau kepercayaan kepada takdir dianggap sebagai sebab kemunduran Islam, mengapa generasi-generasi awal Islam yang keimanan mereka kepada takdir sangat kuat justru mampu membawa Islam pada puncak keemasannya? Kalau kemiskinan dianggap kemunduran dan kesuksesan duniawi dianggap kemajuan, mengapa generasi emas Islam tersebut mayoritasnya justru orang-orang miskin?

 

Artinya, ada kesalahpahaman dalam memahami takdir dan ada salah kaprah dalam memahami apa itu “kemajuan”. Dalam kesejarahan Islam, memang muncul dua kutub besar dalam masalah takdir. Kutub pertama: Qadariyah, Majusi umat ini, membatasi takdir pada “kebaikan” saja sementara “keburukan” di luar takdir. Sementara itu, kutub satunya: Jabriyah (determinisme), mencabut segala bentuk kebebasan pada diri manusia.

 

Islam (Ahlus Sunnah) sendiri berada di pertengahan di antara dua kutub ekstrem tersebut, yakni manusia wajib mengimani takdir baik atau buruk, dengan diberi kebebasan dalam menjalani (baca: memilih) hidupnya di dunia yang telah diatur rambu-rambunya dalam Islam. Siapa yang ingin selamat, tentu memilih jalan Islam. Oleh karena itu, orang-orang yang berbuat maksiat tidak bisa menyandarkan ulahnya pada takdir dengan mengabaikan sebabnya (kehendak manusia).

 

Orang-orang yang bunuh diri hanya karena soal “cinta”, orang-orang stress karena gagal jadi anggota dewan atau kepala daerah, ibu-ibu yang tega membuang bahkan membunuh bayi hasil hubungan gelapnya dengan orang lain, remaja-remaja bunuh diri karena hamil di luar nikah, merekalah justru orang-orang yang dihasilkan dari cara berpikir antitakdir.

 

Kalau mereka mau merenungi takdir, semestinya mereka akan mencoba memetik hikmahnya, memikirkan luasnya pintu taubat, dan tumbuh keinginan untuk memperbaiki diri. Ia justru lebih bisa menatap masa depan dengan selalu berharap Allah subhanahu wata’ala akan memberikan jalan keluar atau kemudahan dari masalah yang tengah ia hadapi.

 

Intinya, mengimani takdir bukan berarti menyerah pada nasib. Orang yang menyerah pada nasib memang membuat malas dan lamban, serta berhenti pada titik kegagalannya. Sementara itu, orang yang beriman pada takdir justru tak akan berlarut-larut dalam kesedihan dan tak akan tenggelam dalam kegagalan. Ia akan segera bangkit. Kala ia meraih kesuksesan atau kebahagiaan, ia pun tak berbangga diri. Ia sadar bahwa apa yang ia raih semata-mata karena takdir Allah subhanahu wata’ala.

 

Wallahu a’lam.

 

wedhakencana.blogspot.com


Sumber : 
Mengimani Takdir≠Menyerah pada Nasib, Majalah AsySyariah Edisi 071