Showing posts with label Ateisme. Show all posts
Showing posts with label Ateisme. Show all posts

Thursday, August 15, 2013

3 Argumen Terbaik untuk Membantah Ateisme | Bukti Bahwa Tuhan Itu Ada

Di dalam Quran, Allah telah berfirman sekitar 750 kali agar kita mengintrospeksi diri. Misalnya dalam surat Fushshilat ayat 53, Allah berfirman:

Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segala wilayah bumi dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al Quraan itu adalah benar. Tiadakah cukup bahwa sesungguhnya Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu? (Q.S. Fushshilat:53)

Ketika kita berpikir menggunakan ilmu pengetahuan dan logika, maka kita akan tahu bahwa hanya ada satu Tuhan dan ketika kita meneliti Al-Qur'an, maka kita akan tahu bahwa inilah firman Tuhan yang sesungguhnya.

Dan inilah keunggulannya, Islam tidak menjauhkan ilmu pengetahuan, Islam tidak mengesampingkan para ilmuwan seperti yang dilakukan beberapa agama di masa lalu.

Segala yang telah diteliti di masa sekarang oleh para ilmuwan, ternyata terbukti secara ilmiah di dalam ayat-ayat Al-Qur'an.

Maka sekarang mari kita bahas ketiga argumen yang akan membuktikan keberadaan Tuhan dan membantah paham ateisme.

Argumen #1: Hukum Kedua Termodinamika.
Mungkin melihat dari istilahnya, kita akan berpikir bahwa hukum ini rumit, tapi sebenarnya sangat mudah dimengerti. Hukum fisika ini pada dasarnya mengungkapkan fakta bahwa segala hal di di jagat raya ini bergerak dari keteraturan menuju kekacauan.
Misalnya, jika kita tidak mengurus rumah kita, maka catnya akan pudar, debu-debu akan menumpuk, dan pada akhirnya rumah kita akan rusak.

Sekarang jika kau mengambil hukum Kedua Termodinamika ini menjadi pernyataan logika, keseluruhan jagat raya ini adalah sistem yang besar, jadi jagat raya juga harusnya bergerak dari keteraturan menjadi kekacauan. Seperti yang dikatakan ilmuwan, jika periode waktu yang lama telah berlalu, maka akan terjadi kekacauan.

Dan setiap benda terdiri dari atom. Atom tersebut terdiri dari elektron, proton, dan neutron. Setiap atom yang ada dalam setiap benda selalu bergerak dan berputar. Atom-atom yang bergerak dan berputar tersebut pada suatu saat akan kehabisan energi, jadi suatu hari nanti jagat raya akan berakhir.

Tapi kata orang-orang ateis jagat raya ini tanpa ada permulaan dan takkan pernah berakhir. Tapi hal ini bertentangan dengan Hukum Kedua Termodinamika, karena menurut hukum ini, jika periode waktu yang lama telah berlalu, akan terjadi kekacauan dan jagat raya akan mati total.

Hal ini berarti matahari tidak akan ada, dan eksistensi manusia tak akan pernah terjadi. Tapi yang terjadi malah sebaliknya, matahari bersinar, planet-planet mengorbit dalam orbitnya masing-masing, dan manusia dapat hidup dengan baik. Itu berarti kita tidak berada dalam keadaan “matinya alam semesta”, bukankah begitu? Dan karena kita tidak berada dalam keadaan matinya alam semesta, itu berarti belum cukup waktu yang berlalu. Jika belum cukup waktu yang berlalu, itu berarti waktu ada permulaannya, jagat raya juga ada permulaannya. Jika jagat raya ada permulaannya, berarti segala sesuatu yang mulai eksis harus ada yang memulainya. Dan kita sebagai Muslim percaya bahwa Allah yang memulainya.

Planet-planet mengorbit di jalurnya masing-masing tanpa pernah bertabrakan

Perhatikanlah Surat Al-Baqarah ayat 255 berikut ini:

Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafa'at di sisi Allah tanpa izin-Nya? Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar. (Q.S. Al-Baqarah:255)

Jadi mari aku menyimpulkannya. Apapun yang mulai eksis, harus ada yang memulainya, sedangkan dunia ini ada permulaannya. Karena kita tidak dalam keadaan matinya alam semesta, maka waktu bersifat terbatas. Jika jagat raya mulai eksis, maka ada Sesuatu yang memulainya. Dan Yang memulai alam semesta adalah Sang Pencipta.

Argumen #2: Keteraturan Jagat Raya.
Sekarang dalam sebuah analogi singkat, misalnya kita sedang duduk untuk menonton TV di dalam rumah kita. Kita duduk di kursi dan kursinya harus ditempatkan dalam posisi yang benar. TV-nya juga harus diatur menghadap ke arah kita, agar kita dapat menontonnya. Kita juga harus punya remote TV yang sesuai dengan merek TV kita, agar kita dapat mengganti-ganti channelnya semau kita. Jadi seiring kita duduk menonton TV, bagaimana mungkin kita tidak melayang, bagaimana mungkin kita tidak tertekan ke bawah? Ini berarti ada cukup gaya gravitasi untuk menahan kita sehingga kita dapat duduk dengan baik. Jika gaya gravitasi kurang sedikit saja, maka kita akan melayang ke atas. Jika gravitasi terlalu banyak, maka tubuh kita akan hancur karena menopang berat kita. Jadi harus ada yang mengatur gravitasi dalam takaran yang tepat di bumi.

Udara yang kita hirup saat ini harus mengandung 78% nitrogen dan 21% oksigen. Misalnya kadar oksigennya lebih besar atau lebih rendah, maka kita tidak mampu bertahan hidup di bumi ini. Siapa yang menempatkan oksigen dalam takaran yang pas agar kita, hewan, dan tumbuh-tumbuhan dapat hidup?

Contoh sederhananya begini: Misalnya seseorang membawakan kita secangkir kopi, maka takaran gulanya harus pas, karena kita tidak akan suka jika gula atau krimnya terlalu banyak. Kalau takarannya pas, maka kopi itu akan terasa nikmat. Begitu juga, jarak antara bumi dan matahari benar-benar dalam jarak yang tepat. Jika sedikit saja lebih dekat, bumi akan sangat panas dan kehidupan akan punah. Jika sedikit lebih jauh dari matahari, maka bumi akan sangat dingin sehingga kehidupan juga akan punah. Jadi ada begitu banyak variabel yang ditakar dengan sangat pas di bumi, di dalam tubuh kita, di dalam sel kita, dan di jagat raya, sehingga tidak mungkin ini semua terjadi secara kebetulan.

Jarak bumi ke matahari berada dalam jarak yang sangat pas

Argumen #3: Al-Qur’an
Al-Qur’an merupakan firman Tuhan yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad S.A.W. oleh Allah S.W.T. Al-Qur’an punya banyak mukjizat di dalamnya. Al-Qur’an punya mukjizat bahasa, mukjizat berupa nubuat-nubuat termasuk juga sabda Nabi Muhammad, ada fakta ilmiah, fakta sejarah, jadi Al-Qur’an merupakan sebuah kitab yang komprehensif. Sekarang, mari kita bahas fakta ilmiah  Al-Qur’an.

Al-Qur’an adalah kitab yang diwahyukan 1.400 tahun yang lalu pada saat tidak ada teknologi modern. Bahkan, Nabi Muhammad S.A.W. tidak dapat membaca atau menulis. Allah mewahyukannya kepada Muhammad S.A.W. ketika dunia terselubung kegelapan. Al-Qur’an membawa cahaya ke dalam dunia yang suram. Ketika dalam kitab-kitab sebelumnya ditemukan banyak kesalahan ilmiah karena tangan-tangan manusia telah merusaknya, maka di dalam Al-Qur’an tidak ada kontradiksi sama sekali. Manusia pada saat itu berpikir bahwa agama dan pengetahuan tidak bisa selaras, tapi Al-Qur’an membantah anggapan itu karena di dalamnya terdapat begitu banyak fakta ilmiah yang membuat kagum ilmuwan-ilmuwan terkenal di dunia. Di antara 6.000 ayat Quran, sebanyak 500 ayat berhubungan dengan fakta-fakta ilmiah.

Jika kita bertanya pada ilmuwan atau kosmologis di luar sana tentang proses pembentukan alam semesta, mereka akan berkata bahwa langit dan bumi berada dalam satu massa primordial, kemudian terjadi ledakan besar 14 milyar tahun yang lalu, dan dari ledakan itu terciptalah sistem tata surya. Dan yang menakjubkan adalah semua ini telah difirmankan dalam surat Al-Anbiyya:30

Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. (Q.S. Al-Anbiyya:30)


Kemudian dari penelitian para ilmuwan kita mengetahui bahwa tahap awal pembentukan semesta berbentuk seperti asap/kabut. Dan dari situ mulai terbentuklah benda-benda langit. Ternyata hal ini sudah difirmankan dalam Quran surat Fushshilat:11.

Lalu pada tahun 1960, manusia mengenal tentang Red Shift dan Blue Shift, sebuah fakta yang membuktikan bahwa jagat raya ini terus meluas. Semua bintang-bintang saling menjauh satu sama lain. Mereka memenangkan piala nobel di sekitar tahun 1960 karena penemuan ini. Dan lagi-lagi Quran telah berfirman dalam surat Adz Dzaariyaat:47 bahwa Allah yang menciptakan langit kemudian Dia meluaskannya. Semua ini sudah difirmankan 1.400 tahun yang lalu, sebelum adanya ilmu pengetahuan apapun.

Dan tentang bentuk bumi, orang-orang dulu berpikir bahwa bumi ini datar. Namun Quran berfirman bahwa bentuk bumi seperti telur burung unta dalam surat An Naaziaat:30.

Quran juga membahas tentang bagaimana bayi tumbuh di dalam rahim seorang ibu dalam surat Al-Mu’minuun:12-14.

Quran menjelaskan tentang pegunungan dan akar pegunungan dalam surat An-Naba’:6-7. Disana disebutkan bahwa pegunungan seperti tenda dan punya akar. Totalnya ada 500 fakta ilmiah,  disebutkan dalam kitab yang ditulis 1.400 tahun yang lalu ini.

Dan ada begitu banyak ilmuwan seperti Dr. Keith Moore, Marshall Johnson, Joe Simpson, Maurice Bucaille, dan ilmuwan-ilmuwan lainnya, yang mempelajari Quran untuk sekian lama, dan mereka semua menyimpulkan bahwa kitab dan ayat-ayat di dalamnya tidak mungkin ditulis seorang manusia, ini tentunya dari Sang Pencipta. Mereka adalah orang-orang yang ahli dalam bidang ilmu pengetahuan, contohnya Dr. Keith Moore, dia embriologist yang terkenal.

Sekarang sebuah fakta yang ingin saya jelaskan adalah mengenai embriologi, bagaimana seorang bayi berkembang dalam rahim sang ibu. Disebutkan dalam surat Al-Mu’minuun:12 -14 mulai dari fertilisasi hingga ke perkembangan organ-organ tubuh janin, yang menjelaskan dengan detail keadaan ketika embrio berumur sekitar 6-7 hari. Quran menggambarkan embrio pada periode itu bagaikan lintah, dia berada di dalam rahim dan menghisap nutrisi dari sang ibu. Yang mengejutkan adalah bentuknya, morfologi, dan fungsinya memang menyerupai seekor lintah. Semua ini baru bisa dilihat dengan mikroskop berkekuatan tinggi. Manusia dengan mata telanjang tidak dapat melihat hal-hal ini, apalagi 1.400 tahun yang lalu belum ada mikroskop. Semua ini membuktikan bahwa informasi ini tidak mungkin datang dari seorang manusia, karena pengetahuan ini baru ditemukan di abad ke-20.

Figur A. = Embrio dan Figur B. = Lintah. Bentuk Embrio manusia pada umur 6-7 hari benar-benar menyerupai lintah.

Jadi setelah mendengarkan ketiga argumen ini, seseorang yang mau berpikir dapat mengetahui keberadaan Tuhan menggunakan ilmu pengetahuan, logika, filosofi, sejarah, dan segala bidang ilmu pengetahuan. Jika Tuhan ada, dan ada begitu banyak agama, bagaimana kita tahu mana agama yang benar? Jawabannya adalah bahwa Tuhan telah mengirimkan wahyu-Nya yang terakhir dalam Al-Qur’an. Jadi Islam adalah jalan hidup yang benar. Islam berarti tunduk pada Tuhan Yang Maha Esa dan mengiktui petunjuk-Nya. Di dalam Islam, seseorang akan menemukan solusi kehidupan.

Mungkin setiap orang ingin tahu, apa tujuan kehidupan? Apakah kita disini hanya untuk mendapatkan uang, kerja siang dan malam, atau hidup lebih dari sekedar itu? Tuhan berfirman dalam Quran Adz-Dzaariyaat:55 bahwa tujuan kehidupan adalah untuk menyembah-Nya. Jadi ketika kita melakukan itu dalam rasa kerohanian, maka kita akan menemukan kedamaian dan tujuan hidup. Dengan begitu seseorang akan menemukan solusi terhadap semua masalahnya. Solusi terhadap masyarakat, ekonomi, obat-obatan, homoseksualitas, keluarga, dan sebagainya adalah Islam. Insya Allah dengan Islam seseorang akan mendapatkan kedamaian dan tujuan hidup, dan kebahagiaan berupa surga di akhirat.

YouTube Channel Lampu Islam: youtube.com/ArceusZeldfer
Facebook Page: facebook.com/LampuIslam

Thursday, December 27, 2012

Ateisme dan Agnotisme Bertentangan Dengan Ilmu Pengetahuan





Pada tulisan kali ini kita akan fokus membahas ateisme. Aku ingin memulainya dengan membaca kutipan F.W. Norwood “Tragedi terbesar kehidupan adalah ketika seseorang kehilangan Tuhan dan tidak merindukan-Nya.” Para ateis mengaku mereka bisa menjelaskan keberadaan manusia melalui ilmu pengetahuan, melalui Big Bang, dan evolusi karena jawaban ini memuaskan mereka. Masalahnya teori Big Bang dan evolusi bertentangan dengan ilmu pengetahuan. Kenapa? Karena prinsip umum dari ilmu pengetahuan adalah konsep entropi. Entropi adalah sebuah prinsip yang mengatakan semua akan menjadi kacau kecuali ada yang mengendalikannya. Jika ada yang mengatur dalam suatu proses, barulah proses itu berjalan dengan teratur.

Dan tidak peduli apakah kau membicarakan tentang kamar anakmu, wastafel dapur, atau reaksi kimia yang rumit. Jika tidak ada yang mengurus kamar anakmu, maka kamar anakmu akan jadi berantakan. Jika tidak ada yang membersihkan cucian kotor di wastafel dapur maka mereka makin bertumpuk, dan jika tidak ada yang mengendalikan reaksi kimia maka dia akan berantakan dan terkadang menjadi bencana. Jika tidak ada yang mengatur suatu proses maka hal itu akan menjadi kacau. Dengan begitu, melalui proses yang menjadikan adanya keteraturan, maka harus ada kekuatan yang mengendalikan proses tersebut.

Tapi apakah kita dapat percaya bahwa Big Bang, kejadian yang paling dashyat dalam sejarah, dimana semua materi dan energi di jagat raya berkumpul dalam sebuah inti yang sangat padat kemudian meledak hingga menciptakan jagat raya yang diameternya 240.000.000.000.000.000.000.000 mil dan hal ini terjadi karena kebetulan? Dan ledakan ini bukannya menghasilkan kekacauan tapi malah menghasilkan kesempurnaan dalam harmoni? Dan milyaran galaksi tapi tidak satupun yang bertabrakan satu sama lain?

Dan juga apakah kita harus percaya bahwa evolusi yang merupakan proses perkembangan elemen-elemen primitif, amino acid yang merupakan dasar dari terbuatnya dinding protein yang berkembang menjadi organisme bersel tunggal. Kemudian organisme bersel tunggal berevolusi dalam jangka waktu jutaan tahun menjadi berbagai macam makhluk hidup dan hal ini menciptakan keberagaman kehidupan? Sekali lagi proses ini seharusnya menjadi kacau jika tidak ada yang mengendalikan bukan malah menjadi sempurna. Karena alasan itu, para peneliti sekarang telah memungkiri konsep evolusi dan memberi label “The Intelligent Design.” Mereka menyimpulkan tidak mungkin semua ini terjadi tanpa ada pengendalian dari kuasa yang lebih tinggi.

Dan ada masalah lain juga, contohnya evolusi atau seleksi alam bisa menceritakan tentang keragaman hayati. Dia dapat menjelaskan mengapa kuda jutaan tahun lalu bertubuh pendek dan kemudian mereka menjadi tinggi. Dia dapat menjelaskan darimana asalnya dinosaurus dan kemana mereka pergi.

Tapi yang tidak dapat dijelaskan adalah keberadaan nyawa. Darimana asal nyawa dan bagaimana mungkin nyawa juga berevolusi? Darimana kehidupan berasal? Ketika makhluk hidup atau hewan mati, terkadang organnya masih berfungsi. Jika organnya masih berfungsi, tapi kenapa tubuhnya mati? Kemana hidupnya pergi dan darimana asalnya? Kita bisa mentransplantasi hampir semua organ di tubuh, kita bisa membuat sebuah Frankenstein, tapi tak seorangpun yang dapat membuatnya hidup. Bahkan semua ilmuwan di seluruh dunia tidak bisa menciptakan sayap seekor lalat. Kita tidak bisa menciptakan makhluk hidup sama sekali.

Dan ada sebuah pepatah yang mengatakan “There’s no atheist in a foxhole.” Yang berarti semua orang pernah mengalami panik dan putus asa. Pada masa-masa itu mereka meminta bantuan tidak kepada siapapun, kecuali kepada Sang Pencipta. Kata yang terucap adalah “Oh Tuhan tolong aku” bahkan dari mulut seorang ateis.

Seorang penyair Inggris, Elizabeth Browning dalam The Cry of the Humanmenuliskan dua buah bait yang sangat indah “Dan mulut mengatakan: Tuhan kasihanilah aku tapi dia tidak pernah mengatakan terpujilah Tuhan.” Akan datang suatu masa ketika semua manusia dikumpulkan pada hari kiamat dan mereka yang tidak pernah mengagungkan Tuhan memohon agar Tuhan mengampuni mereka. Tapi bagaimana mungkin mereka mengharapkan ampunan dari Tuhan yang tidak pernah mereka kenal dan tidak pernah sembah? 

Do’a seorang skeptis adalah awal yang bagus. Bagi kalian yang tahu bagaimana kisahku masuk Islam, ketahuilah bahwa kisahku dimulai dengan do’a orang skeptis. Do’a yang kupanjatkan adalah “Oh Tuhan jika memang Kau ada...” Aku bahkan tak yakin akan adanya Tuhan karena aku seorang ateis pada waktu itu. Banyak orang berpikir bahwa aku orang Kristen dan aku masuk Islam melalui Kekristenan, tapi itu tidaklah benar. Aku tadinya seorang ateis yang menjadi religius, yang mencari kebenaran tapi tidak dapat menemukannya dalam Kekristenan. Akhirnya aku menemukannya dalam Islam. Aku adalah seorang ateis yang berdo’a “Oh Tuhan jika Kau ada, tolonglah aku dan tuntunlah aku.” Dan aku berjanji, jika Tuhan menuntunku ke dalam agama yang paling menyenangkan-Nya, maka aku akan mengikutinya. Dan itu adalah do’a yang dapat dilakukan siapapun. Berdo’alah kepada Pencipta kita seperti itu.

Jadi ketika kita melihat masa lalu, kita akan melihat orang-orang terkenal membicarakan hal ini, Francis Bacon berkomentar:

“Aku lebih baik percaya semua dongeng dan legenda dalam Talmud dan Al-Qur’an daripada percaya bahwa jagat raya yang sempurna ini tanpa ada yang mengendalikan. Tuhan tidak pernah menciptakan keajaiban untuk meyakinkan para ateis, karena ciptaan-Nya yang biasa sudah cukup meyakinkan.”

Lebih banyak seseorang belajar tentang keragaman hayati, maka seharusnya mereka tahu bahwa hal ini tidak mungkin terjadi karena kebetulan. Sekali lagi, jika kita lihat teori evolusi, bagaimana mungkin mereka malah menghasilkan kesempurnaan bukannya kekacauan? Jika kita melihat sebuah gedung, maka kita tahu bahwa ada seorang arsitek, kita melihat sebuah patung, maka kita tahu bahwa ada seorang pembuat patung, kita lihat sebuah lukisan, maka kita tahu ada pelukisnya, tapi mengapa jika kita melihat makhluk hidup, kita tidak mengenal adanya Pencipta? 

Banyak orang gagal melihat aspek kehidupan yang mereka anggap “tidak bersifat Ketuhanan.” Mereka berkata “Bagaimana mungkin jika Tuhan itu ada, tragedi ini dan itu masih saja terjadi?” Tapi siapa diri kita sehingga berani mempertanyakan metode dari Pencipta kita? Ya, ada sebagian bayi yang mati. Dan juga ada pepatah yang mengatakan “Siapa yang dicintai Tuhan, akan mati muda.” Dapatkah seseorang mengerti pepatah ini? Aku mengerti. Hal itu masuk akal bagiku. Jika ada siapapun yang ditanya “Apa yang lebih kau inginkan, untuk melanjutkan hidup ini atau langsung pergi ke surga?” Mereka tentu langsung ingin menuju surga. Jadi apakah kematian seorang bayi adalah tragis? Menurutku, itu bukanlah kematian, itu adalah tahap menuju kehidupan selanjutnya.

Banyak ateis angkat mengatakan “Bagaimana mungkin tragedi ini terjadi dan kau masih menganggap Tuhan ada?” Dan aku hanya ingin memberitahukan bahwa tidak semuanya merupakan tragedi bagi orang yang mengalaminya. Seorang anak yang mati dan pergi ke surga, jika dia ditanya ketika mereka di surga, apakah itu merupakan sebuah tragedi atau nikmat Tuhan, tentunya mereka akan mengatakan “Ini adalah nikmat dari Tuhan.” Jadi semua ini hanyalah menurut sudut pandang masing-masing orang.

Dan dalam kehidupan dunia ini, orang-orang pilihan Tuhan-lah yang mengalami cobaan terbesar. Mereka direndahkan oleh kaumnya sendiri, disiksa, dibunuh, anak-anak mereka ada yang mati. Jadi kita harus mengerti bahwa hidup ini merupakan ujian. Hidup ini adalah tempat membuktikan apakah kita layak menerima hadiahnya dalam kehidupan akhirat. Surga itu diraih dengan usaha, kau meraihnya lewat kesusahan, bukan dari kesenangan duniawi.

Satu hal yang ingin kusimpulkan adalah tidak seorang pun yang ingin mengakhiri sebuah kejadian yang menyenangkan dengan tragedi. Tidak seorang pun yang pergi bersenang-senang di suatu kota, kemudian kecopetan, dan menyimpulkan “Wow, itu menyenangkan, aku ingin merasakannya lagi.” Tidak seorang pun yang mengalami pengalaman paling menyenangkan tapi pada akhirnya berakhir dengan sebuah tragedi yang menyedihkan, dan menyimpulkan bahwa itu menyenangkan. Begitu juga, kita seharusnya tidak melihat hidup ini sebagai waktu untuk bermain-main dan pada akhirnya malah masuk neraka di akhirat.

Tapi, seperti yang Allah firmankan dalam Al-Qur’an “Kehidupan di dunia ini adalah sedikit saja dari kesenangan hidup di akhirat.” Kesenangan duniawi yang didapat para kriminal tidak setimpal dengan hukuman yang akan mereka terima di akhirat.

Jarang ada makan siang gratis di dunia ini. Setiap orang tahu, jika kau ingin dibayar dalam tempat kerjamu, maka kau harus bekerja. Jika kau lalai, maka kau akan dipecat. Sebuah produk yang tidak memuaskan akan dibuang. Jika kita diumpamakan sebuah produk dan kita tidak memuaskan, maka kita akan masuk neraka.

Sekali lagi aku akan kutip ayat Al-Qur’an “Dan Aku tidak menciptakan golongan jin dan manusia kecuali untuk menyembah-Ku.” Jadi itulah pekerjaan kita, untuk melayani dan menyembah Pencipta kita. Seperti yang dikatakan Francis Bacon:

“Mereka yang menolak Tuhan berarti menghancurkan kehormatan manusia. Karena pastinya jasmani manusia sama dengan hewan. Jika dia tidak merindukan Tuhan dengan jiwanya, maka dia adalah hewan dan makhluk yang hina.”

Semoga kita semua dijauhkan dari ateisme. Jika kau tidak percaya adanya Tuhan, maka jadi sukar untuk beribadah kepada Tuhan. Solusinya adalah berdo’a dengan tulus dan meminta kepada Sang Pencipta “Oh Tuhan jika kau ada, maka tuntunlah aku kedalam agama kebenaran. Dan jika memang ada agama kebenaran, maka aku akan mengikutinya.” Jika kau berdo’a dengan ikhlas dan tulus, Insya Allah Sang Pencipta menjawab do’a itu.

Sekarang kita akan mendiskusikan agnotisme. Agnotisme adalah orang-orang yang tidak tahu bagaimana caranya agar percaya pada Tuhan. Konsep agnotisme adalah a-nostik, “tidak mengetahui” atau tidak dapat membuktikan. Dibaca dari huruf latinnya, “a” berarti tidak dan “nostik” berarti pengetahuan. 

Jadi mereka tidak dapat membuktikan keberadaan Tuhan. Menurut definisi Thomas Henry Huxley yang menciptakan istilah agnotisme, mereka bisa saja orang Kristen, seorang Yahudi, atau Muslim, dan mereka dikategorikan agnostik. Maksudnya mereka percaya dan menyembah Tuhan, tapi mereka tidak bisa membuktikan keberadaan Tuhan. Apa yang membuat hati seseorang menjadi yakin tentang adanya Tuhan? Pengetahuan religius tidak seperti pengetahuan akademis. Dia berasal dari hati dan juga intelektual. Pengetahuan agama dan menjadi yakin akan adanya Sang Pencipta, merupakan hadiah dari Pencipta kita. 

Jadi seseorang bisa mengaku sebagai seorang ateis  atau agnostik dan ideologi itu memuaskan mereka. Tapi ada banyak hal dalam kehidupan yang tidak dapat dibuktikan. Misalnya kau tidak bisa melihat gravitasi. Pada dasarnya kau tidak bisa melihat sebuah black hole, meskipun ada bukti-bukti yang menunjukkan keberadaan black hole. Kau juga tidak dapat membuktikan rasa laparmu, kau tidak dapat membuktikan sakit kepalamu. Kau dapat menunjukkan gejala-gejalanya tapi kau tidak dapat membuktikannya. Kita mempercayai gravitasi, entropi, lubang hitam. Emosi kita merasakannya dan ada bukti-bukti kuat yang menandakan keberadaan mereka. Dan begitu juga bukti-bukti yang sangat banyak membuktikan bahwa memang ada Sang Pencipta. Seseorang bertanya “Mengapa kau percaya adanya Tuhan?” Dan dia menjawab:

“Jika aku melihat jejak kambing, maka aku tahu pasti ada domba atau kambing yang lewat. Jika aku melihat jejak kaki unta, aku tahu pasti ada seekor unta. Dan jika aku melihat jejak manusia, maka aku tahu ada orang yang lewat. Dan jika aku melihat makhluk hidup, maka aku tahu adanya Sang Pencipta.”

Jadi bagi mereka yang tidak yakin akan adanya Tuhan, jangan berputus asa karenanya. Berdo’alah kepada Sang Pencipta agar Dia menunjukkannya kepadamu. Berdo’alah, “Oh Tuhan, jika Kau ada...” Dengan begitu, aku harap suatu hari nanti kita semua percaya keberadaan Tuhan. Dan ketika kita percaya, langkah berikutnya adalah untuk menelusuri rantai wahyu dan sampai pada agama kebenaran. 

Ayo Subscribe ke YouTube Channel Lampu Islam: youtube.com/arceuszeldfer
Ayo Like Facebook Page-nya: Lampu Islam


Baca juga artikel-artikel lainnya:

Friday, November 9, 2012

Tipu Daya Ateisme



Orang-orang yang menganut paham agnostik adalah orang-orang yang tidak yakin akan adanya Tuhan. Tapi seorang ateis mengatakan dengan tegas bahwa Tuhan tidak ada. Para ateis SEAKAN-AKAN tahu bahwa Tuhan tidak ada.

Dan apa yang membuat ateis menyatakan bahwa Tuhan tidak ada?

Seorang teman baik yang juga teman kampusku, Hamza Tzortzis, kita menjulukinya “Aristoteles Muslim.” Kita memanggilnya begitu, karena dia berasal dari Yunani dan juga seorang muallaf, dan dia juga sangat luas pengetahuannya dalam bidang filosofi. Dan dia telah melakukan banyak debat dengan para ateis TERKENAL di dunia, termasuk  Ed Buckner, yang merupakan kepala “Humanist and Atheist Society” di Amerika Serikat, Dan Barker yang merupakan mantan pendeta Kristen, yang sekarang mengubah Kekristenan-nya menjadi ateis, dan banyak ateis-ateis lain yang telah Hamza debat, semuanya adalah debat publik.

Yang Hamza dan saya simpulkan setelah bertahun-tahun memberikan dakwah, bahwa ateisme sebenarnya tidak masuk akal. Kalian cukup menonton beberapa debat Hamza dengan ateis-ateis yang terkenal di dunia, maka kau akan sangat kecewa karena ateisme entah bagaimana berhasil meyakinkan banyak orang. Padahal ateisme adalah sebuah pilihan yang tidak didasari akal sehat, tapi entah mengapa, para peneliti dan golongan akademis percaya pada ateisme.

Karena telah meneliti argumen-argumen dari para ateis, aku dan Hamza menyimpulkan bahwa hampir semua ateis, menganut ateisme karena alasan emosional, bukan karena alasan yang masuk akal.

Dan saya pikir, dua alasan yang paling utama mengapa seseorang menjadi ateis adalah:

Alasan pertama, Banyak orang-orang yang dulunya religius menjadi ateis karena mereka merasa Tuhan telah mengecewakan mereka. “Dulu aku orang yang religius dan beriman kepada Tuhan. Namun kemudian suatu musibah datang dalam hidupku, betapa teganya Tuhan menimpakan musibah itu padaku. Dia seharusnya menyelamatkan dan menolongku.” Dengan kata lain, mungkin mereka merasa begitu spesial dan Tuhan harus menjaga mereka. Dan ini tentu saja karena dia tidak mengerti hubungan antara seorang manusia dengan Tuhan.

Kita sebagai umat muslim tahu, bahwa hidup adalah ujian. Sebagaimana firman Allah S.W.T. dalam Al-Qur’an, Allah memberitahu kita “Aku telah menciptakan kehidupan dan kematian, keduanya adalah ujian untuk melihat siapa diantara kalian yang paling baik sikapnya.”

Jadi, hidup ini adalah ujian. Tentu saja dalam ujian itu akan ada kesukaran, penyakit, dan sebagainya. Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman “Apakah kalian pikir Aku akan membiarkan kalian mengatakan bahwa kalian beriman tanpa menguji kalian? Seperti Kami menguji orang-orang sebelum kalian.” Jadi kita akan diuji. Bahkan, Nabi Muhammad S.A.W. bersabda bahwa Allah menguji seseorang yang paling dicintai-Nya dengan ujian terberat. Karena melalui proses inilah kita menjadi lebih baik. Ujian ini untuk membentuk karakter dan kepribadian kita. Layaknya proses pemurnian besi, untuk menghasilkan besi yang murni, kau harus mengekstrak besi itu dari tanah yang menutupinya.

Jadi banyak ateis yang beranggapan bahwa “Jika Tuhan itu memang ada, mengapa Dia membiarkan musibah ini terjadi padaku?” Tapi ini tak masuk akal, ini hanya didasarkan emosi.

Percaya kepada Tuhan sebenarnya merupakan naluri alami seorang manusia. Menjadi ateis adalah suatu keputusanyang melawan kodrat dan naluri manusia itu sendiri. Manusia secara alami terlahir sebagai orang yang beriman pada Sang Pencipta, tapi lingkungan dan keadaan tempat tinggalnya-lah yang membuatnya jauh dari Tuhan.

Alasan kedua kenapa seseorang menjadi ateis adalah karena mereka tidak suka hidup dalam aturan. Mereka tidak mau mempertanggung jawabkan perbuatan mereka. Mereka tidak suka pada kewajiban-kewajiban ibadah yang harus dilakukan seorang manusia, serta larangan-larangan dari Sang Pencipta. Dengan kata lain, para ateis menyukai kebebasan yang semu.

Juga ada banyak alasan yang lainnya, jika dilihat dari sisi sejarah, yaitu konflik antara gereja Katholik Roma dan ilmu pengetahuan, karena banyak para ilmuwan masa lalu yang dibunuh. Ini disebabkan ilmu pengetahuan bertentangan dengan dogma-dogma gereja. Contohnya. Galileo Galilei diperlakukan dengan tidak adil oleh gereja. Dan gereja tidak memberikan para ilmuwan kebebasan untuk mengembangkan teori-teori ilmiah.

Dan bagi kita sebagai umat muslim, itu hanya sebuah cerita sampingan bagi kita. Karena tentu saja dalam peradaban Islam, tidak ada konflik antara ilmu pengetahuan dan agama. Dalam peradaban kita, bahkan ilmu pengetahuan sangat dianjurkan untuk dieksplorasi. Bahkan menurut beberapa sarjana dan kaum intelek Barat, metodologi ilmu pengetahuan merupakan produk umat muslim. Jadi orang-orang Barat belajar mengenai metodologi ilmu pengetahuan dari umat muslim.

Tapi anggapan bahwa sebagian besar ilmuwan adalah orang-orang ateis tidak benar. Faktanya, jika kau melihat pada sebagian ilmuwan, seperti Albert Einstein, sangat jelas bahwa dia percaya pada Tuhan. Hal ini terlihat jelas dari ucapan dan tulisan-tulisan Albert Einstein. Isaac Newton juga percaya akan adanya Tuhan. Dan  bahkan Charles Darwin, pada masa-masa awal kehidupannya juga percaya bahwa Tuhan itu ada. Setelah sekian lama, barulah dia menyatakan keraguannya tentang keberadaan Tuhan. Jadi anggapan bahwa komunitas ilmuwan adalah komunitas ateis sama sekali tidak tepat.

Dan sekarang, aku ingin membuktikan bahwa percaya akan keberadaan Tuhan adalah sifat alami manusia.

Salah satu penelitian besar baru saja dilakukan di Oxford University oleh komunitas Anthropology and Mind yang menghabiskan 1,98 juta poundsterling. Ada sekitar 60 universitas di seluruh dunia yang berpartisipasi dalam penelitian ini.

Dan setelah sekian tahun, mereka menyimpulkan bahwa percaya akan keberadaan Tuhan, beriman kepada suatu agama, dan percaya akan adanya alam akhirat bukanlah sesuatu yang diajarkan orangtua kita. Ini semua merupakan naluri alami manusia. Bahkan, proses berpikir manusia dibentuk oleh hal-hal religius.

Ini sama persis seperti yang Islam ajarkan, bahwa setiap manusia terlahir dalam keadaan fitrah(suci). Dengan kata lain, setiap manusia secara alami menyembah Tuhan sebagaimana yang disabdakan Nabi Muhammad S.A.W. Dan Nabi Muhammad S.A.W. bersabda bahwa orangtua kita yang membuat kita kita mengikuti agama lain atau menjadi ateis.

Dan kita mempunyai akal, sedangkan binatang bergantung pada insting. Yang membedakan manusia dengan hewan adalah akalnya.

Dan kita juga punya gerak reflek, sebagai contoh jika aku memegang sesuatu yang panas, maka aku tidak perlu berpikir, tidak ada proses yang terjadi dalam otakku. Kau menjatuhkan benda yang panas secara insting. Inilah gerakan reflek. Ini sesuatu yang tidak masuk akal tapi merupakan bagian dari diri kita.

Untuk dapat memegang benda yang panas, maka kau harus melatih dirimu, kau harus melawan gerakan reflekmu dan memaksa diri untuk tetap memegang benda yang panas itu. Jadi inilah hal unik dalam diri manusia. Meskipun begitu, insting kita tetap ada namun kita lawan.

Jadi, kepercayaan kita pada Tuhan juga merupakan insting. Apa buktinya? Ada kejadian yang sangat menarik dimana Richard Dawkins yang merupakan salah satu ateis yang terkenal, baru-baru ini diwawancara di dalam acara TV. Pada saat sesi perkenalan, dia mengatakan, “Hampir seluruh umat Kristen tidak tahu apapun tentang ayat-ayat Bible mereka.” Lalu pembawa acara mengatakan “Oh jadi begitu ya. Tuan Dawkins, kau adalah fans berat Darwin kan?” Richard Dawkins berkata “Tentu saja, karena Darwin orang yang sangat penting.” “Dapatkah kau memberitahuku judul penuh dari bukunya yaitu The Origin of the Species?” Richard Dawkins berkata “Umm.... ya Tuhan! Aku tidak hafal.” Jadi kita lihat orang ateis yang terkenal ini, ketika dia berada dalam situasi sulit, maka dia mengatakan “ya Tuhan!” Jadi ini sebenarnya didasari insting

Allah memberikan contoh dalam Alqur’an tentang sekumpulan orang yang menaiki kapal laut untuk berdagang. Dan ketika berada di lautan, ada sebuah badai besar yang menerjang mereka. Jadi kebanyakan orang pasti berpikir “Oke, kapal ini akan menyelamatkanku karena kapalnya terbuat dari bahan yang bagus." atau mereka berpikir bahwa “kapten kapal akan menyelamatkanku.” Namun ketika kapalnya mulai hancur dan arus laut menghanyutkan sang kapten kapal, apa yang mereka lakukan? Mereka mulai memohon kepada Sang Pencipta, mereka mulai berkata “Ya Tuhan selamatkan kami!"

Ketika mereka berkata ”Ya Tuhan”, sebutannya tidak penting, apakah mereka akan mengatakan Tuhan, Allah, Buddha, Zeus, Yesus, atau apapun. Sebutannya tidak penting, tapi konsepnya yang penting. Dalam pikiran mereka masing-masing,  mereka memanggil Sesuatu yang mereka tahu secara naluriah mempunyai kuasa atas segala hal di jagat raya. Itulah Satu-satunya yang mereka panggil.

Secara naluriah, mereka tahu bahwa Sesuatu itu ada, Yang mempunyai kekuatan dan kuasa untuk menyelamatkan mereka dari kesulitan. Inilah poin pentingnya. Karena Sesuatu yang mereka panggil secara naluriah ini bukanlah bagian dari jagat raya dan tidak diciptakan oleh jagat raya. Siapa lagi Sesuatu itu kalau bukan Allah, yang merupakan Sang Pencipta, yang memiliki kuasa atas segalanya? Jadi pengetahuan insting ini telah terbukti secara ilmiah sebagai bagian intrinsik dari proses berpikir manusia.

Namun jika Tuhan itu ada, mengapa ada anak-anak yang sekarat, wanita-wanita yang sekarat, ada gempa bumi, ada penyakit, kenapa Tuhan yang Maha Penyayang membiarkan semua ini? Meski begitu, kita seharusnya sadar bahwa ateisme bukanlah pernyataan yang logis. Ateisme hanyalah pernyataan yang didasari emosi. Karena alasan untuk percaya bahwa jagat raya mempunyai Sang Pencipta sudah begitu jelas, karena kita hidup dalam jagat raya yang begitu rapi dan sistematis. Ketika kita melihat sesuatu yang terorganisir dan sistematis, maka begitu masuk akal untuk menyimpulkan bahwa ada kekuatan, kuasa, dan kecerdasan di baliknya.

Jadi adanya penderitaan tidak ada hubungannya dengan keberadaan Tuhan. Sebenarnya yang jadi pertanyaan adalah, “Kenapa Tuhan membiarkan kesusahan dan penderitaan terjadi?” Satu-satunya cara kita menjawab pertanyaan itu adalah ketika Tuhan berfirman kepada kita.

Faktanya, pertanyaan itu sendiri menuntun akal sehat kita untuk menyimpulkan bahwa kita butuh wahyu dari-Nya. Kita butuh Tuhan untuk memberitahu kita “Kenapa dia menciptakan penderitaan di dunia ini? Apa tujuan hidup kita? Apa alasan kita diciptakan?”

Dan ngomong-ngomong Insya Allah, mungkin kita bisa membahas sisa pembahasan dalam sesi tanya jawab, Jazakallahu Khair Assalammualaikum Wr. Wb.

Sesi Tanya Jawab
Assalammualaikum. Pertanyaan saya  adalah: Semua orang tahu bahwa Tuhan itu Maha Adil. Tapi ketika saya berbicara dengan teman ateis saya, pertanyaan yang tidak dapat saya jawab adalah dimana letak keadilannya? Karena ada sebagian orang yang terlahir dari keluarga muslim sedangkan orang lain terlahir dalam keluarga ateis. Jadi dia mengatakan "Aku terlahir dari keluarga penganut ateis, jadi pesan-pesan Tuhan tidak sampai kepadaku. Dengan begitu, Dia tidak adil karena ada orang yang dilahirkan dari keluarga yang religius sehingga pesan Tuhan sampai pada mereka, dan ada orang yang dilahirkan dari keluarga ateis sepertiku sehingga Tuhan tidak adil karena Dia tidak menyampaikan pesannya kepadaku."

Wa'alaikumsalam. Pertama-tama saudariku, menurutku jawabannya cukup jelas karena kau sudah berbicara dengan orang itu, dengan begitu kau memberikan mereka kesempatan untuk berubah dan menerima kenyataan. Bagaimana mungkin mereka mengeluh tentang pesan Tuhan tidak sampai kepada mereka, sementara kau adalah seseorang yang menyampaikan pesan Tuhan kepada mereka?

Dan inilah hal yang benar-benar ingin aku sampaikan, aku benci untuk menggeneralisasi sekumpulan orang, tapi sejujurnya banyak dari para ateis adalah orang-orang yang sombong. Ketika kau mulai berdiskusi dengan mereka, kau memberikan pada mereka jawaban yang sangat masuk akal namun mereka menjawab dengan jawaban yang PALING TIDAK MASUK AKAL. Tapi mereka mengaku sebagai orang-orang yang berpikir. Aku juga sangat menganjurkan, agar kau memberikan teman ateismu sebuah buku, minta mereka untuk baca buku “The Man in the Red Underpants.” Kita akan lihat apakah mereka dapat menjawabnya dan kau juga harus membacanya, Insya Allah buku ini benar-benar bermanfaat, karena permulaan bukunya membicarakan tentang masalah keberadaan Tuhan.

Poin lain yang ingin kusampaikan adalah mengenai "fitrah manusia." Kita percaya bahwa manusia mempunyai pengetahuan naluriah. Ateisme tidak masuk akal, dan ini telah dilakukan oleh Institusi Oxford dalam bidang antropologi dan psikologi dengan menghabiskan 1,96 juta poundsterling, melibatkan 60 universitas di seluruh dunia, termasuk di Cina, yang merupakan negara komunis yang mayoritas penduduknya tidak percaya adanya Tuhan, mereka mengetes anak-anak di Cina. Dan yang mengejutkan adalah, mereka percaya adanya Tuhan dan mereka percaya akan adanya alam akhirat. Jadi bahkan dalam komunitas ateis, anak-anak masih percaya pada konsep dasar yang alami ini. Dan inilah salah satu alasan mengapa Oxford University menyimpulkan bahwa percaya kepada Tuhan, percaya kepada agama, dan percaya kepada alam akhirat sebenarnya sifat alami manusia.


Ayo Subscribe ke YouTube Channel Lampu Islam: youtube.com/arceuszeldfer
Ayo Like Facebook Page-nya: Lampu Islam

Lihat juga artikel-artikel dan video berikut:

Tuesday, November 6, 2012

Kisah Seorang Ateis yang Menjadi Muslim

RUBEN Abu Bakr, pria asal Australia yang sangat humoris. Semula, ia adalah seorang atheis. Akan tetapi, belakangan ia berhasrat mencari keberadaan Tuhan. Dia kemudian mempelajari seluruh agama, mulai dari Kristen, Katolik, Budha, Hindu hingga yahudi.

Kisah Ruben bermula ketika ia duduk di bangku kuliah. Kala itu, ia harus menghadapi beragam peristiwa berat. Sahabatnya tewas karena narkoba. Tidak lama kemudian, orang tuanya bercerai. Ia pun dilanda kemiskinan.

“Bahkan, anjing peliharaanku pun mati,” tutur Ruben

Frustrasi atas musibah kematian kerabat yang terus dihadapinya, ia pun bertanya-tanya tentang tujuan hidup. Tentu, hidup tak sekadar untuk mati. Berangkat dari pemikiran itu, ia pun mencari keberadaan Tuhan dengan meneliti setiap agama yang ada.


Nasrani menjadi agama pertama yang mendapat perhatian Ruben untuk diselidiki. Hal ini mengingat hampir semua temannya menganut agama berkitab suci Injil tersebut. Ruben pun menuju gereja dan mendapati orang-orang yang bernyanyi memuji Tuhan dan mengatakan Tuhan Maha Pengasih. Pengalaman pertamanya ke gereja tak serta-merta membuat Ruben puas. Ia terus mempelajari Kristen, termasuk tentang Katolik, Anglikan, Baptisme, imam, pendeta, dan lain sebagainya. Ia pun memiliki banyak pertanyaan mengenai Kristen dan merasa tak cocok dengan agama ini.

Pencarian pun berlanjut. Ia beralih menyelidiki agama Buddha. Kebetulan, Ruben yang bekerja paruh waktu di pom bensin berteman dengan seorang beragama Buddha. Ia tercengang ketika tahu Tuhan Buddha berkepala gajah.

“Mengapa pria memiliki kepala gajah? Dapatkah kita memilih kepala singa? Atau sesuatu yang lebih perkasa?” tanya Ruben kepada temannya.

Ruben menganggapnya tidak logis. Ia juga sempat mempelajari agama Mormon. Awalnya, dia menilai, ajaran agama ini sangat baik karena tidak memperbolehkan penganutnya meminum alkohol, kafein, dan cola. Namun, Ruben tidak menemukan kebaikan iman di agama ini. Ia kemudian menyelidiki agama Yahudi. Namun lagi-lagi, Ruben tidak menemukan apa yang ia cari.

Merasa upayanya sia-sia, Ruben pun menemui seorang temannya untuk berkonsultasi. Si teman yang beragama Kristen pun bertanya, “Bagaimana dengan Islam?”

Ruben pun sontak menolak. ”Apa? Islam? Untuk apa aku menyelidiki agama terorisme? Gila!” seru Ruben.

Bagai menelan air ludah. Terbukti, lidah Ruben tak sesuai dengan tubuhnya. Ia kemudian melangkah memasuki masjid ketika suatu kali melewatinya.

“Aku tidak tahu apa yang menggerakkanku, yang jelas aku mengenakan sepatu dan langsung masuk begitu saja. Aku pikir, aku akan mati di masjid karena aku satu-satunya orang kulit putih.” Kata Ruben

Ruben pun bertemu dengan seorang pria berperawakan besar asal Timur Tengah, berjanggut dan mengenakan gamis. Ruben menggambarkannya mirip para tersangka teroris. Yang mengagetkan, sosok tersebut menyapa sangat ramah, bahkan menyuguhkan sajian layaknya menerima tamu.

”Namanya Abu Hamzah. Aku tak pernah membayangkan akan mendapat perlakuan seperti ini,” kenang Ruben.

Ruben pun serta-merta menanyakan banyak hal tentang Islam. Misalnya, mengapa Abu Hamzah berjanggut dan mengapa Muslimah berhijab. Ia menanyakan pula mengenai praktik poligami dan lain sebagainya. Saat itu, Ruben dengan sombong menyangka pertanyaan itu sangat berat dan akan menyulitkan Abu Hamzah. Namun, lagi-lagi Ruben tercengang. Abu Hamzah mengambil Al-Quran dan menjelaskannya sesuai firman Allah SWT.

“Mereka selalu membuka Al-Quran untuk menjawab dan sama sekali tidak beropini sendiri. Mereka mengatakan tak boleh beropini tentang firman Tuhan,” tutur Ruben terpesona.

Ia pun membawa pulang sebuah kitab Al-Qur’an dari masjid tersebut. Ruben membaca terjemahannya dan sangat terkagum-kagum. Ia terpesona bagaimana Al-Qur’an menjelaskan proses penciptaan manusia. Butuh enam bulan bagi Ruben untuk menelaah Al-Qur’an, hingga ia menyimpulkan, ”Inilah yang aku cari dan perlukan.”

Dari tahap awal tersebut, Ruben pun berpikir untuk menantang Allah SWT. sebelum benar-benar bersyahadat dan memeluk Islam. Ia menyalakan lilin, duduk di dekat jendela, seraya berkata,

“Allah, ini adalah saat bagi saya untuk terjun ke Islam. Yang saya butuhkan hanya sebuah tanda. Hanya tanda kecil, mungkin sedikit petir, atau mungkin rumah yang runtuh.”

Lama ia menunggu, tidak ada tanda apa pun. Lilin yang ia harapkan padam sebagaimana yang sering ia lihat di film, tidak terjadi. “Ayolah Allah, satu saja,” Ruben memaksa.

Namun, tetap tidak ada apa pun yang terjadi. Ruben merasa kecewa kepada Allah. Dengan perasaan kecewa, Ruben kembali membuka Al-Qur’an, kemudian membaca ayat,
“Dan Dia menundukkan malam dan siang, matahari, dan bulan untukmu. Dan, bintang-bintang itu ditundukkan (untukmu) dengan perintah-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda-tanda (kekuasaan Allah SWT.) bagi kaum yang memahami-(nya).”

Membaca ayat tersebut, bulu roma Ruben berdiri. Ia segera lari ke tempat tidur dan sembunyi di balik selimut. Berkeringat dingin, ia tidak mampu melakukan apa pun saking takutnya.

“Betapa arogan aku menuntutNya, padahal matahari dan semua yang diciptakan-Nya merupakan tanda…”

Kapok menantang Allah SWT. Ruben pun kembali ke masjid dan bermaksud mengucapkan syahadat. Jamaah di masjid pun menyaksikan perubahan hidup Ruben menuju kebaikan.

Namun, Ruben mengaku kesulitan saat harus mengucapkan syahadat dengan bahasa Arab.

“Bisakah aku mengucapkannya dengan bahasa Inggris?” tawarnya kepada Abu Hamzah.

Tentu saja, permintaan Ruben tidak diizinkan. Meski harus berkali-kali keseleo lidah, akhirnya Ruben mampu bersyahadat. Usai mengucapkan syahadat, seluruh jamaah pria di masjid pun menciumnya. Saat itu, masjid dipenuhi jamaah karena bertepatan dengan hari pertama Ramadhan. Menurut Ruben, baru kali itu ia dicium begitu banyak pria. Namun, ia sangat senang. Ini peristiwa sangat berharga dan tak mungkin ia lupakan.

Sementara itu, keluarganya merasa cemas dengan keislaman Ruben. Mereka menyangka putra mereka telah masuk ke dalam kelompok teror.

“Mereka takut jika nanti aku memegang senapan AK 47 dan granat,”kata Ruben sembari tersenyum. Namun, hari demi hari, orang tua Ruben justru mendapati anaknya menjadi pribadi yang patuh dan baik. Mereka pun menyukai perubahan Ruben.

Bahkan, sang ayah ikut tertarik membaca Al-Quran. Dan berkata “Kini, kamu menjadi orang yang lebih bisa diandalkan, dipercaya, dan dapat dimintai tolong,”



Ayo Subscribe ke YouTube Channel Lampu Islam: youtube.com/arceuszeldfer
Ayo Like Facebook Page-nya: Lampu Islam

Dr Laurence Brown Menghancurkan Ateisme.

Dr. Laurence Brown memberikan ceramah singkat mengenai ateisme. Sebenarnya begitu banyak bukti-bukti yang menunjukkan adanya Tuhan. Betapa tidak logisnya ateisme jika dilihat dari sudut pandang ilmu pengetahuan.







Ayo Subscribe ke YouTube Channel Lampu Islam: youtube.com/arceuszeldfer
Ayo Like Facebook Page-nya: Lampu Islam