Showing posts with label Kisah Orang Saleh. Show all posts
Showing posts with label Kisah Orang Saleh. Show all posts

Thursday, September 12, 2013

Kisah Pemuda yang Meninggal Karena Takut Masuk Neraka



Ada seorang pemuda bernama Dinar. Dinar punya ibu yang saleh. Ibunya selalu menasihatinya agar Dinar bertaubat dari dosanya, tapi meskipun sudah sering dinasihati, kata-katanya tidak membuat Dinar berubah.

Hingga pada suatu hari ketika Dinar berjalan melintasi kuburan, dia berhenti dan memungut sebuah tulang. Dia terkejut karena melihat tulang itu hancur dalam genggamannya.

Hal itu sangat mempengaruhi hati Dinar, dia mulai mengingat masa lalu dan dosa-dosanya, kemudian dia menangis “Celakalah kau Dinar! Kau akan seperti tulang yang hancur ini dan jasadmu akan menjadi tanah.”

Jadi dia memutuskan untuk bertaubat. Sambil menengadahkan kepalanya ke langit, dia berkata “Tuhanku, aku sekarang mendekat kepada-Mu dengan sebenar-benar ketundukan, jadi terimalah aku dan ampuni aku.”

Dengan keadaan hati dan pikiran yang sepenuhnya berubah, Dinar pulang ke rumahnya dan berkata kepada ibunya “Wahai ibu, apa yang akan dilakukan seorang tuan kepada budaknya yang melarikan diri?”

Ibunya berkata “Untuk menghukumnya, dia akan memberinya pakaian yang kasar, makanan yang murah, dan mengikat kaki serta tangannya agar dia tidak melarikan diri lagi.”

Dinar berkata “Kalau begitu, aku mau pakaian dari wool yang kasar, gandum yang murah, dan dua rantai. Wahai ibu, lakukan padaku apa yang akan dilakukan pada seorang budak yang melarikan diri. Mungkin Tuhanku akan mengampuniku karena melihat rasa malu dan ketundukanku.”

Mendengar permintaan Dinar, ibunya terkejut! Namun karena melihat putranya tetap teguh dengan permintaannya, ibunya memberikan apa yang dia inginkan.

Pada setiap permulaan malam, Dinar mulai menangis, dia terus mengulang-ulang ucapan “Celakalah kamu Dinar! Apakah kau punya kekuatan untuk menahan api neraka? Betapa memalukannya hidupmu karena menyebabkan kemarahan Allah S.W.T.”

Dia terus dalam keadaan ini sampai pagi. Karena sering menangis, kurang tidur, dan makan-makanan yang murah, maka tubuhnya menjadi pucat, dan Dinar semakin lemah.

Tak kuasa melihat anaknya seperti itu, ibunya berkata “Wahai anakku! Jangan terlalu keras pada dirimu!”

Dia menjawab ibunya “Biarkan aku terikat untuk sementara waktu, mungkin aku dapat memperoleh ketenangan jangka panjang nantinya, karena esok aku akan berada di hadapan Tuhanku dalam waktu yang lama, dan aku tidak tahu apakah Dia akan memasukkan aku ke dalam tempat yang indah dengan tempat bernaung, atau tempat yang sangat menyeramkan.”

Ibunya berkata “Anakku, setidaknya istirahatlah sebentar.”

Dia berkata “Bukan istirahat atau kenyamanan yang kucari. Wahai ibuku, apa jadinya jika aku melihatmu dan orang-orang beriman dibawa ke surga sementara aku dan yang lainnya dibawa ke neraka?” Ibunya meninggalkannya, sementara Dinar melanjutkan tangisnya, beribadah, dan membaca Al-Qur’an.

Pada suatu malam, dia membaca ayat yang berbunyi “Demi Tuhanmu dan Muhammad S.A.W. Sesungguhnya Kami akan memanggil mereka untuk mempertanggungjawabkan atas apa yang mereka sering perbuat.”

Dia mulai memikirkan tentang ayat ini dan maknanya. Dia menangis begitu dalam sampai pingsan. Ibunya bergegas menghampirinya untuk membangunkannya, tapi dia tidak merespon. Ibunya berpikir dia telah meninggal, dilihatnya wajah putranya dan berkata “Wahai anakku, dambaan hatiku, dimana kita akan bertemu lagi?” Sebenarnya Dinar masih belum mati.

Karena mendengar suara ibunya, dia menjawab dengan suara lemah “Ibuku! Jika kau tidak menemukanku di dataran putih pada hari kiamat, maka tanyakanlah Malik (malaikat penjaga neraka) tentangku.

Karena tubuhnya sudah terlalu lemah, maka Dinar meninggal. Melihat anaknya meninggal, ibunya menyiapkan penguburan untuknya, kemudian dia mengumumkan kepada orang-orang “Wahai orang-orang, datanglah ke pemakaman seseorang yang telah terbunuh karena rasa takut akan api neraka.”

Subhanallah, ingatlah bahwa kematian akan menyentuh setiap nyawa, dan satu-satunya hal yang akan diperhitungkan adalah amal kalian. Jadilah orang-orang yang mengharapkan surga. Jadilah orang-orang yang bekerja keras! Wassalammu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

YouTube Channel Lampu Islam: youtube.com/ArceusZeldfer
Facebook Page: facebook.com/LampuIslam

Monday, September 9, 2013

Hampir Mati Syahid Ketika Shalat

Pada suatu ketika, Rasulullah S.A.W. dan para sahabat sedang dalam perjalanan untuk berperang. Ketika hari sudah malam, mereka memutuskan untuk berkemah. Kemah pun disiapkan, kemudian Rasulullah S.A.W. bertanya kepada para sahabatnya “Siapa yang berjaga-jaga untuk malam ini?” Dua orang sahabat berkata “Ya Rasulullah, kami akan mengambil tanggung jawab ribat (menjaga para pasukan ketika malam).”

Semua pasukan pun pulas tertidur kecuali dua orang yang berjaga tadi. Salah seorang dari mereka berkata kepada teman satunya “Daripada menyia-nyiakan malam ini, dan perjalanan kita masih jauh, lebih baik kita jaga secara bergantian. Kau tidur setengah malam, dan aku tidur setengah malam juga.” Mereka berdua pun setuju.

Salah satu dari mereka berbaring untuk tidur. Sahabat yang sedang berjaga melihat-lihat di sekelilingnya, dan tidak ada siapapun malam itu. Dia berpikir “daripada menghabiskan waktu, lebih baik kugunakan untuk shalat Tahajjud?”

Dan ketika dia shalat, musuh datang. Mereka tidak melihat siapapun kecuali sahabat yang sedang shalat itu. Jadi mereka mengambil panah dan menembakkannya. Panah itu mengenainya dan seketika mengalirlah darahnya. Namun dia terus melanjutkan shalatnya. Kemudian musuh mengambil panahnya lagi dan mengenainya, namun dia tetap melanjutkan shalatnya.

Setiap anak panah bagaikan peluru. Bayangkan tangan kita tertembak tapi kita bahkan tidak tersentak, kita tetap berdiri diam disana dan tetap shalat.

Dan mereka terus-menerus menembaknya hingga darahnya terus mengalir. Para ulama Syafi’i menggunakan hadist ini sebagai bukti bahwa darah yang mengalir dari tubuh tidak membatalkan wudhu, karena sahabat ini terus melanjutkan shalatnya.

Dia berkata “Satu-satunya alasan aku membatalkan shalatku karena jika terus tertembak panah, maka aku akan mati. Dan jika aku mati, maka Rasulullah S.A.W. dalam bahaya.” Para sahabat yang lain bertanya “Bagaimana mungkin kau tidak merasakan sakitnya terkena panah?” Dia berkata “Bagaimana mungkin aku merasakan sakitnya dipanah sedangkan aku sedang membaca ayat-ayat Allah S.W.T.?”


YouTube Channel Lampu Islam: youtube.com/arceuszeldfer
Facebook Page: facebook.com/LampuIslam
 

Tuesday, August 20, 2013

Kisah Siti Hajar dan Terciptanya Kota Mekkah

Hajar adalah istri kedua Ibrahim A.S. setelah Sarah A.S. Hajar adalah budak dari Sarah. Sarah A.S. memberikannya untuk dinikahi suaminya (Ibrahim A.S.), karena Sarah A.S. tidak bisa mempunyai anak lagi karena sudah terlalu tua. Dan Allah merahmati mereka dengan seorang anak dari Hajar A.S. yang dinamakan Ismail A.S. Di kemudian hari Ismail dijadikan Allah sebagai seorang nabi.

Ismail adalah anak satu-satunya Ibrahim yang lahir ketika Ibrahim A.S. sudah berumur lebih dari 80 tahun. Allah memberikannya anak setelah sekian lama dia merindukannya

Tiba-tiba pada suatu hari Ibrahim A.S. menerima perintah bahwa dia harus membawa Hajar A.S. (istrinya) dan Ismail A.S. yang baru lahir, ke suatu gurun pasir, yang sekarang kita ketahui sebagai kota Mekkah.

Pada masa itu tidak ada apapun disana, di sana tidak ada orang sama sekali, gurun itu benar-benar kosong. Dia diperintahkan untuk meninggalkan mereka berdua di sana.

Jadi dia berjalan ke tempat itu dan Hajar A.S. tidak tahu apa-apa, yang dia tahu adalah mereka akan melakukan perjalanan dan akan kembali ke rumah. Ketika mereka sampai di tengah gurun, mereka duduk-duduk. Kemudian Ibrahim A.S. bangkit dan mulai berjalan kembali ke Palestina, dan dia tidak bilang apa-apa kepada istrinya.

Jadi Hajar A.S. mengejarnya, “Ya Ibrahim, kepada siapa kau meninggalkan kami? Tidak ada seorang pun disini.” Tapi Ibrahim A.S. tidak menjawab pertanyaannya, karena jika dia menjawab, maka akan terjadi percakapan, dan dia takut hatinya menjadi luluh. Dia harus memenuhi perintah Allah S.W.T. karena Allah punya rencana.

Jadi dia tetap berjalan tanpa menoleh kepada istrinya, dan istrinya tetap mengikutinya, “Ya Ibrahim, kepada siapa kau meninggalkan kami?” Dia tetap tidak menjawab dan terus berjalan. Akhirnya Hajar A.S. berhenti sejenak dan berpikir, dan karena kesalehan dan pengetahuan yang diberikan Allah S.W.T., dia bertanya satu pertanyaan yang sederhana, “Ya Ibrahim! Apakah Allah yang telah memerintahkanmu untuk melakukan ini?” Dan Ibrahim A.S. masih tanpa menoleh kepadanya, menjawab hanya dengan satu jawaban. “Ya”, kata Ibrahim sambil terus berjalan.

Lalu Hajar A.S. berhenti dan mengamati suaminya berjalan semakin jauh, dia menjadi tenang dan berkata: “Dengan begitu, Allah tidak akan membiarkan kita... Allah tidak akan membiarkan kita.”

Allahu Akbar! Bayangkan diri kalian ditempatkan dalam situasi seperti itu. Bayangkanlah seandainya kalian adalah seorang wanita yang ditinggalkan suaminya di tengah-tengah gurun pasir karena perintah Allah. Bahkan banyak pria zaman sekarang yang tidak bisa melakukan apa yang Hajar A.S. lakukan. Pria mana yang dapat melakukan itu? Sedangkan dia adalah wanita, dia memiliki kekuatan ratusan pria pada masanya.

Dalam hatinya, dia berkata “Allah tidak akan membiarkan kita.” Benar-benar percaya kepada Allah S.W.T. Karena kesalehannya maka Allah menjadikannya sebagai penghuni surga.

Ketika persediaan makanan dan air sudah habis, Ismail mulai merengek-rengek menahan lapar dan dahaga. Karena khawatir akan anaknya, Hajar mulai berlari di antara Safa dan Marwa. Kemudian Allah memberikan mereka sebuah sumber air yang disebut air Zam Zam. Lalu sekelompok orang datang dan tinggal disana. Seiring berjalannya waktu, tumbuhlah sebuah desa disana. Ismail A.S. dan Hajar A.S. tumbuh di antara orang-orang ini. Pada akhirnya orang-orang semakin ramai berdatangan ke sana hingga akhirnya tumbuhlah sebuah kota. 

Kota ini tercipta karena kesalehan Hajar. Allah mengangkat derajatnya di dalam Al-Qur’an, dia diangkat derajatnya hingga hari ini. Jutaan muslim di seluruh dunia pergi berhaji. Baik pria dan wanita melakukan ritual dari seorang wanita. Apa yang kita lakukan? Kita berlari-lari kecil di antara Safa dan Marwa hanya karena seorang wanita.

Oleh siapa kalian ingin dihormati? Industri fashion? Industri Media? Atau oleh Allah S.W.T.?

Wahai para pria, kalian ingin dihormati oleh siapa? Agar jabatan kalian dinaikkan dalam pekerjaan? Oke, jabatan kalian dinaikkan. Tapi apa yang paling kalian rindukan? Apakah ada tandingannya antara dihormati oleh manusia, atau dihormati oleh Allah S.W.T.? Tentu saja dalam hal ini tidak ada tandingannya.

Dan disini, Hajar A.S. menjadi teladan terbaik bukan hanya bagi kaum wanita, tapi juga bagi para pria. Imam Ghazali R.A. berkata: Jika kalian melihat Allah Yang Maha Kuasa dan Maha Agung, menahan dunia ini darimu, terus-menerus mengujimu dengan cobaan dan musibah, ketahuilah bahwa kau mempunyai derajat yang tinggi di sisi-Nya. Dia mengujimu seperti Dia juga menguji para aulia dan orang-orang yang terpilih. Dia mengawasimu, dan tidakkah kau mendengar firman-Nya?

Dan bersabarlah dalam menunggu ketetapan Tuhanmu, maka sesungguhnya kamu berada dalam penglihatan Kami. 
(Q.S. Ath Thuur:48)

Dialah Allah, Perencana yang Paling Baik.


Ayo Subscribe ke YouTube Channel Lampu Islam: youtube.com/arceuszeldfer
Ayo Like Facebook Page-nya: Lampu Islam

Thursday, July 18, 2013

Kisah Seorang Pemuda yang Dimaafkan Meskipun Telah Membunuh

Pada masa Umar bin Khatab R.A., ada dua orang pria yang menyeret seorang pemuda ke dalam ruang pengadilan. Jadi Umar bin Khatab R.A. bertanya “Ada apa ini? Kenapa kau menyeretnya ke dalam ruang pengadilan?” Mereka berkata “Anak ini telah membunuh ayah kami.” Umar bin Khatab bertanya kepadanya “Apakah kau benar-benar membunuh ayah mereka?” Anak itu berkata “Ya, aku memang membunuh ayah mereka, tapi secara tidak sengaja. Untaku suka menginjak-injak barang mereka. Jadi pada suatu hari, ayah mereka mengambil batu dan menimpuk untaku dengan sebuah batu. Aku marah karena melihat untaku kesakitan, jadi aku mengambil sebuah batu dan menimpuk ayah mereka dengannya. Batu itu mengenai kepalanya dan dia meninggal.”

Jadi Umar bin Khatab R.A. bertanya kepada dua bersaudara itu “Akankah kalian memaafkan pemuda ini karena ketidaksengajaannya?” Mereka berkata “Tidak, kami ingin pembalasan (Qisas).” Jadi Umar bin Khatab R.A. bertanya kepada pemuda itu “Apakah kau punya keinginan terakhir?” Anak muda itu berkata “Ya, ayahku telah wafat dan aku punya seorang adik. Dan ayahku meninggalkan harta warisan untuk adikku. Aku minta waktu 3 hari untuk mengambil harta warisan ini dari tempat tersembunyi, jadi aku dapat memastikan adikku mendapatkannya ketika aku telah tiada.”

Kemudian Umar bin Khatab berpikir bahwa anak ini hanya mengarang-ngarang cerita, dia berkata “Apa maksudmu anak muda? Kekayaan apa? Siapa ayahmu? Siapa adikmu?” Pemuda itu berkata “Percayalah padaku.” Umar bin Khatab berkata “Baiklah, aku akan mempercayaimu, tapi carikan aku seorang penjamin yang akan menjamin bahwa kau akan kembali.”

Pemuda itu melihat orang-orang di sekelilingnya. Setiap orang yang dimintai tolong oleh pemuda itu menolaknya, mereka semua menggelengkan kepala, tidak ada seorang pun yang mau menolong pemuda ini. Tapi kemudian dari barisan belakang ruang pengadilan, ada tangan yang terangkat. Tangan siapakah itu? Itu adalah tangan Abu Dzar al-Ghifari R.A., seorang sahabat Rasulullah yang saleh dan terkenal, yang pernah berdakwah kepada banyak suku. Dia berkata “Aku akan menjamin pemuda ini.”

Apa artinya menjadi seorang penjamin? Artinya jika pemuda ini tidak kembali, maka kepala Abu Dzar al-Ghifari R.A. lah yang akan dipenggal dan dia akan dibunuh. Tapi Abu Dzar al-Ghifari berkata “Aku akan menjadi penjamin dirinya.”

Jadi pemuda itu pergi. Hari pertama berlalu dan pemuda itu belum kembali. Hari kedua berlalu dan pemuda itu belum kembali juga. Waktu shalat Ashar telah tiba pada hari ketiga, kedua orang yang menuntut perkara datang kepada Abu Dzar al-Ghifari R.A. dan mereka berkata “Ikutlah dengan kami ke ruang pengadilan, sudah tiba waktunya.” Abu Dzar al-Ghifari R.A. berkata “Aku akan ikut dengan kalian ke tempat pengadilan tapi hari ini belum berakhir hingga Maghrib datang.”

Jadi sekarang Abu Dzar al-Ghifari berjalan melalui Madinah bersama kedua orang ini untuk menuju ke pengadilan. Dan orang-orang Madinah mengikuti mereka. Semua orang pergi ke pengadilan untuk melihat apa yang akan terjadi, semua ini telah menjadi perbincangan orang-orang di kota.

Kita bisa bayangkan, menit demi menit berlalu, ruang pengadilan semakin terisi penuh, kecemasan semakin meningkat, akankah nyawa Abu Dzar al-Ghifari dikorbankan karena kesalahan seorang pemuda?

Tiba-tiba, beberapa menit sebelum Adzan Maghrib, pemuda itu kembali dan orang-orang bersorak gembira. Mereka ingin tahu apa yang akan terjadi selanjutnya? Jadi ketika pemuda itu masuk ke ruang pengadilan, Adzan Maghrib belum selesai berkumandang.

Umar bin Khatab R.A. bertanya kepada pemuda itu “Wahai pemuda, kenapa kau kembali? Aku tidak mengirim seorang pun untuk mengawasi gerak-gerikmu, jadi apa yang membuat kau kembali?” Pemuda itu berkata “Aku tidak mau ada orang yang berkata bahwa seorang muslim telah berjanji, namun dia tidak menepatinya, jadi aku kembali.” Umar bin Khatab kemudian bertanya kepada Abu Dzar “Wahai Abu Dzar, apa yang membuatmu mau menjadi penjamin untuk pemuda ini?” Dia berkata “Aku melihat seorang muslim yang butuh pertolongan, dan aku tidak mau siapapun mengatakan bahwa seorang muslim sedang butuh pertolongan, namun tidak ada seorang pun yang mau menolongnya, jadi aku bersedia menjadi penjamin baginya.” Kedua orang yang menuntut berkata “Ketika ada orang-orang seperti ini, bagaimana mungkin seorang muslim meminta ampunan, namun tidak ada seorang pun yang mau mengampuninya?” Jadi mereka mengampuni pemuda itu.

Inilah pusaka masa lalu Islam, inilah sikap mereka, inilah mengapa pada masa kekhalifahan Umar bin Khatab mereka mampu menjangkau perbatasan Cina hingga ke selatan Prancis, karena mereka mempunyai hubungan yang kuat dengan Allah, mereka melakukan segala sesuatunya dengan ihsan, dan mereka hidup sesuai dengan ajaran Islam.


Ayo Subscribe ke YouTube Channel Lampu Islam: youtube.com/arceuszeldfer
Ayo Like Facebook Page-nya: Lampu Islam

Monday, July 1, 2013

Kisah Pemuda yang Istiqomah Shalat Subuh

Bismillahir-Rahmaanir-Rahim ... Kisah ini diceritakan oleh Khalid al-Jubair seorang dokter konsultan penyakit jantung di Riyadh sebagai berikut :

Suatu hari, aku mendapat giliran jaga. Tiba-tiba aku dipanggil ke ruang gawat darurat, di sana ada seorang pemuda berusia 16 - 17 tahun sedang menghadapi 'sakaratul maut'.

Orang-orang yang datang bersamanya bercerita, "Dia sebelumnya sedang membaca Al-Qur'an di masjid menunggu iqamah shalat subuh. Ketika iqamah dikumandangkan, dia mengembalikan mushafnya ke tempat semula, lalu berdiri lurus dengan barisan. Tiab-tiba dia roboh pingsan dan kami membawanya ke sini.

Beberapa menit kemudian, aku kembali, aku melihat pemuda itu memegang tangan perawat, sedangkan perawat itu mendekatkan telinganya ke mulut sang pasien yang sedang berbisik kepadanya.

Beberapa saat kemudian pemuda itu melepaskan tangan sang perawat, kemudian mengucap, "Asyhadu an laa ilaaha illallah wa asyhadu anna Muhammadar Rasulullah" (aku bersaksi tiada tuhan selain Allah dan sesungguhnya Muhammad adalah utusan Allah).

Dia berulang kali membacanya sampai dia meninggalkan dunia yang fana' ini dan perawat itu pun menangis.

Kami heran melihat dia menangis, karena ini bukan pertama kali dia melihat orang meninggal atau sekarat. Ketika dia agak tenang, kami bertanya, "Apa yang dibisikkan pemuda itu kepadamu dan kenapa kamu menangis..?"

Dia menjawab, "Dokter Khalid, ketika dia melihat Anda menyuruh saya untuk segera menanganinya serta Anda mondar-mandir, dia tahu bahwa Anda adalah orang yang bertanggung jawab merawatnya, lalu dia memanggil saya dan berbisik, ...

'Katakan kepada dokter jantung itu, janganlah dia menyusahkan diri sebab aku ini sudah mati. Demi Allah, aku sungguh melihat bidadari dan aku melihat tempatku di surga.' Kemudian dia melepaskan tangan saya."

Alhamdulillah, cerita ini dikutip dari buku : "Kisah-Kisah Penggugah Jiwa" oleh : Abdurrahman Bakar

... Semoga tulisan ini dapat membuka pintu hati kita yang telah lama terkunci ...


Ayo Subscribe ke YouTube Channel Lampu Islam: youtube.com/arceuszeldfer
Ayo Like Facebook Page-nya: Lampu Islam