Showing posts with label Pendidikan. Show all posts
Showing posts with label Pendidikan. Show all posts

Tuesday, December 24, 2013

pengertian metode pembelajaran

pendidikan
Metode pembelajaran adalah suatu cara atau upaya yang dilakukan oleh para pendidik agar proses belajar-mengajar pada siswa tercapai sesuai dengan tujuan. Metode pembelajaran ini sangat penting di lakukan agar proses belajar mengajar tersebut nampak menyenangkan dan tidak membuat para siswa tersebut suntuk, dan juga para siswa tersebut dapat menangkap ilmu dari tenaga pendidik tersebut dengan mudah.

Ada beberapa macam metode pembelajaran, diantaranya:
1. Metode ceramah
Metode ceramah adalah metode belajar mengajar secara tradisional, sebab metode pembelajaran ini telah gunakan sebagai alat komunikasi lisan antara guru dan anak didik dalam interaksi edukatif sejak dari dahulu.

2. Metode eksperimen
Metode eksperimen ini memberikan kesempatan

kepada para anak didik secara individu atau pun berkelompok untuk dilatih dalam melakukan suatu proses atau percobaan-percobaan. Metode ini bertujuan agar para anak didik tersebut berpikir kreatif, mandiri dan inovatif.

3. Metode pemberian tugas
Metode pemberian tugas di maksudkan para pendidik memberikan penjelasan dalam suatu bahasan lalu para pendidik tersebut memberikan tugas kepada para siswa untuk mengembangkan pembahasan yang telah di bahas, hal tersebut bertujuan agar para siswa berpikir dan memiliki wawasan yag luas.

4. Metode diskusi
Metode ini adalah suatu alternatif dalam mengamati dan mencari jalan keluar dari suatu masalah melalui gagasan-gagasan yang di berikan para siswa, metode ini bertujuan untuk melatih para siswa agar berani dalam menyampaikan pendapat atau pun saran dan untuk mengembangkan pemikiran mereka.

5. Metode latihan
Metode latihan atau metode training yaitu metode yang menanamkan tentang kebiasaan-kesbiasaan tertentu dan untuk memelihara kebiasaan-kebiasaan baik terhadap anak. Metode latihan ini bertujuan untuk membentuk kebiasaan serta ketepatan dan kecepatan dalam pelaksanaan.

6. Metode proyek
Metode ini menggunakan cara mengajar dengan memberikan kesempatan kepada para siswa untuk menggunakan hal-hal yang ada di kehidupan sehari-hari sebagai bahan pendidikan. Metode ini bertujuan agar anak didik tertarik untuk terus belajar dan juga untuk membentuk pola pikir anak menjadi luas. 

Monday, December 23, 2013

Metode Belajar Mengajar

belajar
proses belajar, proses belajar mengajar, mengajar dan belajar, strategi belajar

Sebuah strategi dalam belajar mengajar adalah cara-cara yang dipilih untuk menyampaikan suatu materi pelajaran dalam suatu lingkungan pengajaran yang meliputi sifat, urutan kegiatan yang dapat memberikan pengalaman belajar kepada siswa dan lingkup. Strategi belajar mengajar tidak hanya terbatas pada prosedur kegiatan belajar tersebut, melainkan juga termasuk materi atau paket pengajarannya.

Perlu adanya kaitan antara strategi belajar mengajar dengan tujuan pengajaran itu sendiri, supaya diperoleh langkah-langkah kegiatan belajar-mengajar yang efektif serta efisien. Strategi belajar-mengajar adalah suatu rencana untuk mencapai tujuan. Strategi ini terdiri dari metode dan teknik yang akan menjamin siswa akan mencapai tujuan. Arti strategi lebih luas daripada metode atau teknik pengajaran.

Metode belajar mengajar merupakan cara yang di dalam fungsinya adalah alat untuk mencapai tujuan. Metode ini berlaku baik bagi guru maupun bagi siswa. Semakin baik metode belajar mengajar yang
dipakai maka makin efektif pula pencapaian tujuan. Terkadang metode juga dibedakan dengan teknik belajar. Metode belajar mengajar mempunyai sifat prosedural sedangkan teknik lebih mempunyai sifat implementatif.

Bisa disimpulkan bahwa strategi terdiri dari metode dan teknik atau prosedur yang menjamin siswa mencapai tujuan belajar. Lebih luas dari strategi adalah metode atau teknik pengajaran. Teknik pengajaran adalah bagian dari strategi pengajaran.

Para guru diharapkan bisa mengidentifikasi empat jenis diskusi sebagai metode dalam mengajar. Semua strategi yang dipilih untuk mencapai tujuan pengajaran tersebut misalnya murid diminta untuk mengemukakan empat bentuk contoh diskusi yang pernah dilihatnya, murid diminta untuk membaca dua buah buku tentang jenis-jenis diskusi, murid diminta untuk mendemonstrasikan cara-cara berdiskusi sesuai dengan jenis yang telah dipelajari, dan kelompok yang lain mengamati sambil mencatat kekurangannya untuk didiskusikan sesudah demonstrasi itu berakhir, murid diharapkan mencatat hasil diskusi kelas.

Berdasarkan contoh tersebut bisa dilihat bahwa teknik pengajaran adalah kegiatan menggunakan metode demonstrasi serta diskusi. Dan seluruh kegiatan tersebut adalah strategi yang disusun guru untuk mencapai tujuan dalam pengajaran. Ketika mengatur strategi, seorang guru bisa memilih berbagai metode seperti ceramah atau tanya jawab, diskusi atau demonstrasi dan sebagainya.

sumber : http://seputarpendidikan003.blogspot.com/

Monday, January 21, 2013

Makalah Sains dan Islam

SAINS DALAM PERSPEKTIF ISLAM[1]
oleh: Ahmad Muzaqqi
BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Sains merupakan kebutuhan pokok bagi setiap individu untuk menghadapi zaman yang sarat dengan persaingan ini, tak terkecuali kaum muslimin. Karena dengan sains, seseorang bisa dihormati dan diakui keberadaannya oleh masyarakat. Selain itu, sains juga menjadi salah satu indikator kemajuan suatu bangsa, karena pada dasarnya semua bidang kehidupan memerlukan sains.
Dari sinilah, untuk menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman, kita kaum muslimin harus berusaha mempelajari dan menguasai sains. Tapi, disisi lain, kita juga tidak diperbolehkan untuk melanggar ajaran Islam yang telah disempurnakan oleh Allah SWT. Karena pada hakikatnya, semua yang ada di alam semesta ini akan kembali kepadaNya, bahkan sebenarnya sains dan berbagai ilmu lainnya telah terkandung di dalam kalamNya, al-Qur’an.

 
Hal-hal itu kita lakukan dengan tujuan agar Islam bisa menjaga persaingan dengan negara-negara Barat, yang notabennya adalah penguasa sains masa kini. Disamping itu, dengan mentaati ajaran Allah, maka kita akan selalu mendapatkan perlindungan dan ridhaNya.
B.     Rumusan Masalah
Untuk memperjelas apa yang ingin dibahas oleh penulis, maka penulis merumuskan beberapa permasalahan, yaitu sebagai berikut.
1.      Apa yang dimaksud dengan sains?
2.      Bagaimana pendidikan sains yang relevan dengan ajaran Islam?
3.      Bagaimana al-Qur’an (sumber hukum Islam) sebagai sumber ilmu sains?


BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian Sains
Istilah sains diambil dari bahasa Latin scio, scire, scientia, yang bermakna ”aku tahu, mengetahui, pengetahuan” tentang apapun oleh siapapun dengan cara apapun.[2]
Sains berarti ilmu, sains juga dapat diartikan sebagai pengetahuan tentang suatu bidang yang disusun secara bersistem menurut metode-metode tertentu yang dapat digunakan untuk menerangkan gejala-gejala tertentu di bidang (pengetahuan) itu dan bersifat koheren, empiris, sistematis, dapat diukur dan dibuktikan.[3]
Berdasarkan “Webster New Collegiate Dictionary”, definisi dari sains adalah pengetahuan yang diperoleh melalui pembelajaran dan pembuktian atau pengetahuan yang melingkupi suatu kebenaran umum dari hukum-hukum alam yang terjadi misalnya didapatkan dan dibuktikan melalui metode ilmiah. Sains dalam hal ini merujuk kepada sebuah sistem untuk mendapatkan pengetahuan yang dengan menggunakan pengamatan dan eksperimen untuk menggambarkan dan menjelaskan fenomena-fenomena yang terjadi di alam.[4]
 
Sedangkan menurut pendapat beberapa ahli, pengertian sains adalah sebagai berikut.
1.      Sund dan Trowbribge merumuskan bahwa sains merupakan kumpulan pengetahuan dan proses.
2.      Kuslan Stone menyebutkan bahwa sains adalah kumpulan pengetahuan dan cara-cara untuk mendapatkan dan mempergunakan pengetahuan itu. Sains merupakan produk dan proses yang tidak dapat dipisahkan.
3.      Sardar berpendapat bahwa sains adalah sarana yang pada akhirnya mencetak suatu peradaban, dia merupakan ungkapan fisik dari pandangan dunianya.[5]
Sedangkan ilmu sains yang tergolong dalam kumpulan ilmu sains terapan (telah mengalami penyesuaian, antara makna dengan kenyataan) adalah dikaitkan dengan teori dan dasar untuk menciptakan sesuatu hasil yang dapat memberi manfaat kepada manusia. Sehingga sains mengkaji tentang fenomena fisik.[6]
Dari beberapa pengertian diatas, maka secara ringkas sains merupakan ilmu/pengetahuan yang dapat menjelaskan sebuah gejala/fenomena alam, sehingga berguna bagi kehidupan manusia.
B.     Pendidikan Sains yang Relevan dengan Ajaran Islam
Sains memang merupakan hal yang sangat penting, apalagi di zaman modern ini, yang sangat menjunjung tinggi nilai rasionalitas (terutama negara Barat), sehingga segala sesuatu harus disesuaikan dengan logika. Tapi, kita sebagai kaum Muslimin harus selalu menjunjung tinggi nilai-nilai agama Islam, meskipun pada kenyataannya kita juga harus menyesuaikan dengan perkembangan zaman.
Sebenarnya, bila kita amati, antara ajaran Islam dengan pendidikan sains tidak ada pertentangan, bahkan Islam mewajibkan umatnya untuk mencari ilmu. Salah satu dasar (dalil) yang populer adalah hadits Rasulullah SAW.
قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلىَّ الله تــَعَالَى عَلَيــْهِ وَسَلـَّمَ:  طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيــْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُســـلِمٍ وَ مُسْـــلِمَةٍ
Artinya   : Rasulullah SAW. bersabda : “Mencari ilmu itu hukumnya wajib bagi setiap orang Islam laki-laki dan perempuan.”[7]
Dalam hadits tersebut memang jelas disebutkan bahwa hukum mencari ilmu adalah fardhu ain (harus dilakukan per individu). Tapi, banyak pendapat yang muncul dalam menentukan ilmu mana yang dimaksud dalam hadits tersebut. Para ahli ilmu kalam memandang bahwa belajar teologi merupakan sebuah kewajiban, sementara para fuqaha’ berpikir bahwa ilmu fiqih dicantumkan dalam al-Qur’an. Sedangkan menurut Imam Ghazali, ilmu yang wajib dicari menurut agama adalah terbatas pada pelaksanaan kewajiban syari’at Islam yang harus diketahui dengan pasti. Misalnya, seseorang yang bekerja sebagai peternak binatang, haruslah mengetahui hukum-hukum tentag zakat.[8]
Sedangkan dalam sumber lain, penulis menemukan pendapat Shadr al-Din Syirazi. Menurutnya ada beberapa poin yang dapat diambil dari hadits tersebut:
1.      Kata “ilm” (pengetahuan atau sains), memiliki beberapa makna yang bervariasi. Kata “ilm” dalam hadits ini bermaksud untuk menetapkan bahwa pada tingkat ilmu apapun seseorang harus berjuang untuk mengembangkan lebih jauh. Nabi bermaksud bahwa mencari ilmu itu wajib bagi setiap Muslim, baik itu para ilmuwan maupun orang-orang yang bodoh, para pemula mupun para sarjana terdidik. Apapun tingkat ilmu yang dapat dicapainya, ia seperti anak kecil yang beranjak dewasa, sehingga ia harus mempelajari hal-hal yang sebelumnya tak wajib baginya.
2.      Hadits ini menyiratkan arti bahwa seorang Muslim tidak akan pernah keluar dari tanggung jawabnya untuk mencari ilmu.
3.      Tidak ada lapangan pengetahuan atau sains yang tercela atau jelek dirinya sendiri, karena ilmu laksana cahaya, dengan demikian selalu dibutuhkan. Alasan mengapa beberapa ilmu dianggap tercela adalah karena akibat-akibat tercela yang dihasilkannya.[9]
Dari pendapat-pendapat diatas, dapat kita lihat bahwa ajaran Islam juga mencakup tentang pendidikan sains yang notabennya adalah ilmu yang berguna bagi kehidupan (dunia) manusia.
Tapi, disini, ilmu (sains) yang dipelajari haruslah bertujuan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, menyejahterakan umat, mensyiarkan ajaran-ajaran agama Islam. Tidak dibenarkan, apabila ada orang Islam yang menuntut ilmu pengetahuan hanya untuk mengejar pangkat, mencari gelar, dan keuntungan pribadi. Selain itu, ilmu yang telah didapat harus disebarkan (diajarkan kepada orang lain) dan diamalkan (tingkah lakunya sesuai dengan ilmunya).[10]
Bila seseorang dapat melakukan ketiga hal tersebut, maka derajat orang tersebut diangkat oleh Allah dan disamakan dengan orang-orang yang berjuang di medan perang (berjihad di jalan Allah). Tentu kita sebagai hambaNya menginginkan hal tersebut.
Memang benar peribahasa “........... bersusah-susah dahulu, bersenang-senang kemudian”, untuk menggapai sesuatu yang diinginkan dan diimpi-impikan tentu tidak mudah, sehingga untuk mendapatkan ilmu pengetahuan (sains) yang dapat mensejahterakan kehidupan dunia sekaligus mendapatkan derajat yang tinggi di Mata Allah, seseorang harus berperang dengan hawa nafsunya yang selalu mementingkan kehidupan duniawi. Kebanyakan ilmuwan, bahkan ilmuwan Muslin lupa akan tujuan ukhrowinya, mereka lebih senang menganggap bahwa sains merupakan sarana mencari penghidupan, bukan sarana mendekatkan diri kepada Sang Maha Kuasa. Konsep sains seperti itu lebih mirip dengan konsep sains Barat, yang tentunya salah.
Sehingga sebagai umat Muslim, kita membutuhkan sains yang disusun dari kandungan Islam yang memiliki proses dan metodologi yang mempu bekerjasama dengan semangat nilai-nilai Islami dan yang dilaksanakan semata-mata untuk mendapatkan keridhaan dari Allah. Sains semacam ini akan mampu memenuhi kebutuhan masyarakat Muslim dan bekerjasama dalam konteks etika Islam. Sifat dasar dan jenis sains ini harus jauh berbeda dari sains Barat.[11]
Tapi, untuk mendapatkan bentuk sains yang seperti ini, hampir tidak mungkin, bila dilihat dari kesadaran dan pemahaman kaum Muslimin sekarang. Bila dilihat, mereka lebih banyak meniru dan menganut pendapat-pendapat ilmuwan Barat, yang sudah jelas-jelas salah. Ini sangat ironis, karena Islam yang dulu pernah menguasai ilmu pengetahuan dunia, kini malah meniru dan berkiblat kepada sains Barat, tanpa berusaha mencari kebenaran sains yang hakiki.
Dalam memecahkan masalah ini, penulis perlu memaparkan bahwa Islam adalah sebuah sistem agama, kebudayaan, dan peradaban secara menyeluruh. Ia merupakan sistem holistik dan nilai-nilainya menyerap setiap aktivitas manusia, yang tentunya sains termasuk di dalamnya. Dan bila diulas kembali makna sains sebagai metode yang rasional dan empiris untuk mempelajari fenomena alam, maka menggali ilmu sains dalam Islam adalah satu-satunya cara untuk mencapai pemahaman yang lebih mendalam tentang Sang Pencipta, dan menyelesaikan berbagai persoalan masyarakat Islam. Ia sendiri tidak akan berakhir. Oleh karena itu, sains tidak dipelajari untuk sains itu sendiri, akan tetapi untuk mendapatkan Ridha Allah SWT. dengan mencoba memahami ayat-ayatNya.[12]
Dalam dunia sains, konsep sains seperti ini sering disebut sebagai konsep sains Islam, yang notabennya adalah ilmu sains yang dalam mempelajarinya tidak akan pernah bertentangan dengan hukum dan ajaran Islam. Karena sains itu sendiri dijadikan sarana untuk beribadah kepadaNya, Sang Maha Pemilik Ilmu.
Penerapan sains Islam akan menciptakan suasana yang menggugah ingatan kita kepada Allah, mendorong perilaku yang sesuai dengan ketentuan syariat, dan mengingatkan nilai-nilai konseptual yang ada dalam al-Qur’an.[13]
Dalam bidang pendidikan (khususnya Pendidikan Agama Islam), bentuk sains seperti ini sangat diperlukan untuk mewujudkan kaum pelajar yang benar-benar memahami konsep sains Islam, sehingga mereka tidak memiliki keraguan dan ketakutan dalam mempelajari sains. Selain itu, untuk menghindarkan mereka dari perbuatan yang dilarang oleh agama, yang biasanya disebabkan oleh minimnya pemahaman mereka. Jadi, secara jelas konsep sains Islam akan menghasilkan kesempurnaan pemahaman sains, dan mendatangkan kenikmatan kehidupan duniawi dan ukhrowi, yang tentunya diidam-idamkan oleh semua orang yang beriman. Selain itu, buah manis dari konsep sains Islam adalah akan melahirkan ilmuwan-ilmuwan Islam, yang nantinya akan membangkitkan semangat kaum Muslimin dalam bidang ilmu pengetahuan. Hal inilah akan menjadi jawaban dari pertanyaan, “Mengapa orang Islam makin banyak, tapi kualitas mereka jauh menurun dibanding dengan orang-orang Islam dahulu?”.
C.    Al-Qur’an Sebagai Sumber Ilmu Sains
Di zaman sekarang, bila kita amati banyak orang yang mencoba menafsirkan beberapa ayat al-Qur’an dalam kaitannya dengan ilmu pengetahuan modern. Tujuan utamanya adalah untuk menunjukkan mukjizat al-Qur’an sebagai sumber segala ilmu, dan untuk menumbuhkan rasa bangga kaum muslimin karena telah memiliki kitab yang sempurna ini.
Tetapi, pandangan yang menganggap bahwa al-Qur’an sebagai sebuah sumber seluruh ilmu pengetahuan ini bukanlah sesuatu yang baru, sebab kita mendapati banyak ulamak besar kaum muslim terdahulu pun berpandangan demikian. Diantaranya adalah Imam al-Ghazali. Dalam bukunya Ihya ‘Ulum al-Din, beliau mengutip kata-kata Ibnu Mas’ud: “Jika seseorang ingin memiliki pengetahuan masa lampau dan pengetahuan modern, selayaknya dia merenungkan al-Qur’an”. Selanjutnya beliau menambahkan: “Ringkasnya, seluruh ilmu tercakup di dalam karya-karya dan sifat-sifat Allah, dan al-Qur’an adalah penjelasan esensi, sifat-sifat, dan perbuatan-Nya. Tidak ada batasan terhadap ilmu-ilmu ini, dan di dalam al-Qur’an terdapat indikasi pertemuannya (al-Qur’an dan ilmu-ilmu)”.[14]
Bahkan pada sebuah sumber yang dikutip oleh penulis, dijelaskan bahwa mukjizat Islam yang paling utama ialah hubungannya dengan ilmu pengetahuan. Surah pertama (al-Alaq, ayat 1-5) yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW ialah nilai tauhid, keutamaan pendidikan, dan cara untuk mendapatkan ilmu pengetahuan diberikan penekanan yang mendalam.[15]
Firman Allah SWT (Al-alaq 1-5) :
Artinya : “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan. Dia Telah menciptakan manusia dari segumpal darah.  Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam.  Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.”[16]
Kata “bacalah” dalam ayat tersebut mengandung arti tentang perintah menuntut ilmu, apalagi pada saat itu (awal kenabian), bangsa Arab sedang berada pada zaman jahiliyah (kebodohan).
Jika sains dikaitkan dengan fenomena alam, maka dalam al-Qur’an lebih dari 750 ayat menjelaskan tentang fenomena alam. Salah satunya adalah pada Surah Luqman, ayat 10.
Artinya: “Dia menciptakan langit tanpa tiang yang kamu melihatnya dan dia meletakkan gunung-gunung (di permukaan) bumi supaya bumi itu tidak menggoyangkan kamu; dan memperkembang biakkan padanya segala macam jenis binatang. dan kami turunkan air hujan dari langit, lalu kami tumbuhkan padanya segala macam tumbuh-tumbuhan yang baik.”[17]
Dalam ayat tersebut, menjelaskan tentang betapa besarnya kekuasaan Allah SWT. dalam menciptakan mahluk-mahlukNya. Tidak berhenti sampai disitu, kita juga diperintahkan untuk mempelajarinya (mahluk). Hal ini telah banyak dilakukan oleh orang (ilmuwan) Barat, dan malah kebanyakan dari kita hanya mengikuti apa yang mereka katakan. Padahal, kita sebagai hambaNya seharusnya memiliki keharusan yang lebih besar dari pada mereka. Karena bila diamati, tidak sedikit dari pandangan mereka melenceng dari ajaran agama Islam. Bila kita hanya mengikuti mereka, dikhawatirkan kita akan terjerumus kedalam jalan kesesatan bersama mereka. Seperti contoh, pandangan Darwin tentang teori evolusi yang menyebutkan bahwa manusia zaman dahulu memiliki bentuk fisik menyerupai kera, itu merupakan pendapat yang tidak sesuai dengan al-Qur’an. Karena secara jelas, manusia pertama yang diciptakan Allah adalah Nabi Adam AS.
Mempelajari ilmu, baik itu ilmu agama maupun ilmu pengetahuan (sains) merupakan hal yang sangat sulit, maka dari itu, Islam sangat memuliakan para ahli ilmu, sehingga dalam Surah al-Mujadilah ayat 11, derajat mereka diangkat oleh Allah SWT.
Artinya : "......... niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.”[18]
Dalam potongan ayat tersebut, Allah menjajarkan iman dengan ilmu. Disinilah terlihat betapa pentingnya ilmu, karena orang yang beriman tanpa memiliki ilmu maka segala ibadahnya akan ditolak. Sedangkan sebaliknya, orang berilmu tanpa beriman, maka ilmunya dapat menyesatkannya menuju jalan yang dilarang dan dilaknatNya.
Disinilah, kita sebagai hambaNya yang beriman harus ekstra hati-hati dalam mempelajari suatu ilmu. Kita harus selalu mengembalikan semuanya kepadaNya, kita harus berusaha mencocokkan segala jenis ilmu dengan kalamNya (al-Qur’an) yang sempurna.
Karena sudah jelas, al-Qur’an membahas banyak Ilmu, antara lain ilmu yang berhubungan dengan kemasyarakatan yang memberi pedoman dan petunjuk berkaitan dengan perundang-undangan tentang halal dan haramnya suatu aktiviti, peradaban, muamalat antara manusia dalam bidang ekonomi, perniagaan, sosiobudaya, peperangan dan perhubungan antar bangsa. Juga terdapat maklumat ataupun isyarat (hint-suggestions) tentang perkara-perkara yang telah menjadi tumpuan kajian sains, misalnya, sidik jari sebagai tanda pengenal, penciptaan bumi dan langit, dan lain-lain.[19]
Dari sini, maka pantaslah kalau di zaman ini banyak ilmuwan (ilmuwan Barat khususnya) yang berusaha mempelajari al-Qur’an demi memahami suatu kajian sains. Tapi, kita sebagai umat Muslim jangan sampai kalah dengan mereka, sehingga peradaban Islam dapat bangkit kembali. Ketika peradaban Islam mulai bangkit, maka kemungkinan besar dunia dapat dikuasai oleh Islam, sehingga konsep Islam sebagai agama yang “Rahmatan lil-‘Alamin” (kesejahteraan bagi seluruh dunia) dapat terwujud secara nyata.


BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Dari beberapa penjelasan yang telah dipaparkan, maka penulis dapat membuat beberapa kesimpulan sebagai berikut.
1.      Sains merupakan ilmu/pengetahuan yang dapat menjelaskan sebuah gejala/fenomena alam, sehingga berguna bagi kehidupan manusia.
2.      Sains yang relevan dengan ajaran Islam harus dapat menjadi media untuk mengingat Allah dan memajukan peradaban masyarakat Islam. Dan tidak dibenarkan bila kita mempelajari sains hanya untuk memperoleh penghidupan dan kesenangan dunia, apalagi berbuat maksiat, yang nanti pada ahirnya akan merugikan diri sendiri.
3.      Banyak sekali kajian sains yang merujuk pada al-Qur’an. Banyak ayat-ayat al-Qur’an yang menjelaskan tentang fenomena-fenomena alam dan keutamaan ilmu pengetahuan. Oleh karena itulah, banyak ilmuwan yang dalam mempelajari sains mencari referensi dari al-Qur’an.
B.     Saran
Beberapa saran yang ingin penulis berikan kepada pembaca sebagai sesama umat Muslim adalah sebagai beikut.
1.      Kita harus ekstra hati-hati dalam menelaah pendapat-pendapat ilmuwan sains. Karena tidak menutup kemungkinan pendapat tersebut merupakan pendapat yang sesat (tidak sesuai dengan ajaran Islam).
2.      Kita harus memperbanyak kegiatan-kegiatan belajar dan mengamati (mempelajari lingkungan sekitar), agar kita bisa selalu eksis dan krisis, tidak hanya pasif.
3.      Mari kita tumbuhkan rasa cinta kepada Kitab Suci kita sendiri, al-Qur’an, karena sesungguhnya bila kita memahami isinya, tentunya dibantu oleh seorang guru, maka kita bisa menguasai sains, dan mungkin bisa mengalahkan para ilmuwan Barat, karena kita secara tidak langsung mendapaat pertolonganNya.
4.      Jangan pernah lupa kepada Dzat Yang Menciptakan kita. Walaupun kita dalam keadaan sesempurna apapun (misalnya, pandai, kaya, berkuasa), karena sesungguhnya Dialah Yang Maha Sempurna.
Setelah menyelesaikan makalah yang hanya beberapa lembar ini, mungkin ada kesalahan baik dalam penulisan maupun penyusunan kalimat, penulis minta maaf, karena penulis hanya manusia biasa, sedangkan kesempurnaan hanyalah milik Allah SWT. Agar penulis bisa menjadi lebih baik di masa yang akan datang, saran serta kritik yang bersifat konstruktif dari pembaca sangat penulis harapkan.


DAFTAR PUSTAKA
Al-Imam al-Syaikh Ibrahim bin Ismail. Tth. Ta’lim al-Muta’allim. Semarang: Pustaka al-Alawiyah.
Butt, Nasim. 2001. Sains dan Masyarakat Islam (Diterjemahkan oleh Masdar Hilmy dari Buku Science and Muslim Society). Bandung: Pustaka Hidayah.
Fauziyah, Lilis R.A. dan Andi Setyawan. 2009. Kebenaran al-Qur’an dan Hadits. Solo: Tiga Serangkai.
http://id.shvoong.com/humanities/philosophy/1786489-pengertian-filsafat-sains/log
http://my.opera.com/ilmyaku/blog/2009/11/04/sains-dalam-islam
http://sains4kidz.wordpress.com/2009/07/19/definisi-sains/
http://www.junaidi.co.cc/2010/03/pengertian-sains-teknologi-dan-seni.html
Mahdi, Ghulsyani. 2001. Filsafat-Sains Menurut Al-Qur’an (Diterjemahkan oleh Agus Efendi dari Buku The Holy Quran and the Science of Nature). Bandung: Penerbit Mizan.
Noordin, Sulaiman. 2000. Sains Menurut Perspektif Islam (Diterjemahkan oleh Munfaati). Jakarta: Dwi Rama.
Yayasan Penyelenggara Penterjemah/Pentafsir al-Qur’an. 1990. Al-Qur’an dan Terjemahnya. Jakarta: Yayasan Penyelenggara Penterjemah/Pentafsir al-Qur’an.


[1]Makalah ini telah dipresentaikan dalam Ujian Mata Pelajaran B.Indonesia di MA YASPIA Ngroto pad atahun 2010
[2] http://my.opera.com/ilmyaku/blog/2009/11/04/sains-dalam-islam
[3]http://id.shvoong.com/humanities/philosophy/1786489-pengertian-filsafat-sains/log
[4]http://sains4kidz.wordpress.com/2009/07/19/definisi-sains/
[5] http://www.junaidi.co.cc/2010/03/pengertian-sains-teknologi-dan-seni.html
[6]Sulaiman Noordin, Sains Menurut Perspektif Islam (Diterjemahkan oleh Munfaati), Dwi Rama, Jakarta, 2000, hal.149-150.
[7] Al-Imam al-Syaikh Ibrahim bin Ismail, Ta’lim al-Muta’allim, Pustaka al-Alawiyah, Semarang, tth, hal.4.
[8] Dr. Mahdi Ghulsyani, Filsafat-Sains Menurut Al-Qur’an (Diterjemahkan oleh Agus Efendi dari Buku The Holy Quran and the Science of Nature), Penerbit Mizan, Bandung, 2001, hal.40.
[9] Ibid, hal.43.
[10] Lilis Fauziyah R.A. dan Andi Setyawan, Kebenaran al-Qur’an dan Hadits, Tiga Serangkai, Solo, 2009, hal.114.
[11] Nasim Butt, Sains dan Masyarakat Islam (Diterjemahkan oleh Masdar Hilmy dari Buku Science and Muslim Society), Pustaka Hidayah, Bandung, 2001, hal.63-64.
[12] Ibid, hal.69-70.
[13]Ibid, hal.92.
[14] Dr. Mahdi Ghulsyani, Op.Cit, hal.137.
[15] Sulaiman Noordin, Op.Cit, hal.1.
[16] Yayasan Penyelenggara Penterjemah/Pentafsir al-Qur’an, Al Qur’an dan Terjemahnya, Yayasan Penyelenggara Penterjemah/Pentafsir al-Qur’an, Jakarta, 1990, hal.1079.
[17] Ibid, hal.654.
[18] Ibid, hal. 910-911.
[19] Sulaiman Noordin, Op.Cit, hal.3.

Sunday, January 6, 2013

Makalah perkembangan emosi remaja


PERKEMBANGAN EMOSI REMAJA

A.    PENDAHULUAN
1.    Latar Belakang
Remaja berada pada periode perkembangan yang banyak mengalami masalah pertumbuhan dan perkembangan khususnya menyangkut dengan penyesuaian diri terhadap tuntutan lingkungan dan masyarakat serta orang dewasa. Masalah yang sering terjadi pada perkembangan intelektual dan emosional remaja adalah ketidakseimbangan antara keduanya. Kemampuan intelektual mereka telah dirangsang sejak awal melalui berbagai macam sarana dan prasarana yang disiapkan di rumah dan di sekolah dengan berbagai media.
Pembelajaran kadang tidak selalu disukai oleh peserta didiknya, sehingga banyak tujuan pembelajaran yang tidak tercapai. Ini dilatarbelakangi oleh kurangnya pemahaman dari sang pendidik akan perkembangan emosi dan jiwa peserta didiknya, khususnya remaja. Sebab, dalam usia remaja perubahan emosi dan psikologis sangat pesat sekali.


Gejala- gejala emosi para remaja seperti perasaan sayang, marah, takut, bangga dan rasa malu, cinta dan benci, harapan-harapan dan putus asa, perlu dicermati dan dipahami dengan baik. Sebagai pendidik mengetahui setiap aspek tersebut dan hal yang lain merupakan sesuatu yang terbaik sehingga perkembangan remaja sebagai peserta didik berjalan dengan normal tanpa ada mengalami gangguan.
Tanpa adanya pemahaman terhadap perkembangan emosi jiwa remaja ini, sang pendidik kemungkinan besar akan mengulangi kesalahan dengan memberikan pembelajaran yang tidak sesuai dengan kondisi perubahan yang ada pada diri remaja.
Kalau kita melihat pada hakekat pendidikan yang merupakan suatu upaya mewariskan nilai, yang akan menjadi penolong dan penentu umat manusia dalam menjalani kehidupan, dan sekaligus untuk memperbaiki nasib dan peradaban umat manusia. Tanpa pendidikan, maka diyakini bahwa manusia sekarang tidak berbeda dengan generasi manusia masa lampau, yang dibandingkan dengan manusia sekarang, telah sangat tertinggal baik kualitas kehidupan maupun proses-proses pemberdayaannya. Secara ekstrim bahkan dapat dikatakan, bahwa maju mundurnya atau baik buruknya peradaban suatu masyarakat, suatu bangsa, akan ditentukan oleh bagaimana pendidikan yang dijalani oleh masyarakat bangsa tersebut.
Disinilah pendidik dituntut untuk mampu membawa peserta didik dapat mencapai peradaban tertinggi, dengan menerapkan proses pendidikan yang sesuai dengan kondisi kejiwaan peserta didik.

2.    Rumusan Masalah
Dari uraian latar belakang yang telah diuraikan di atas maka kita dapat mengidentifikasikan permasalahan yaitu :
a)      Apa pengertian perkembangan emosi?
b)      Bagaimana karakteristik perkembangan emosi pada masa remaja?
c)      Faktor apa yang mempengaruhi perkembangan emosi pada masa remaja?
d)     Bagaimana perbedaan individual dalam perkembangan emosi?
e)      Bagaimana implementasi perkembangan emosi dalam proses pendidikan?

3.    Tujuan dan Manfaat
Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah agar kita sebagai calon pendidik mengetahui bagaimana perkembangan emosi remaja. Sebagai pendidik mengetahui setiap aspek dalam perkembangan emosi remaja merupakan sesuatu yang penting, karena pada massa remaja, peserta didik memiliki emosi yang labil, sehingga tugas pendidiklah untuk dapat mengatasi labilnya emosi peserta didik agar proses pembelajaran dapat berjalan dengan baik dan perkembangan peserta didik berjalan dengan normal tanpa mengalami gangguan. Makalah ini memberikan sedikit gambaran bagaimana perkembangan emosi pada masa remaja, yang nantinya dapat diimplementasikan dalam proses pendidikan. Dengan mengetahui tentang perkembangan emosi remaja dapat menjadi bekal kita untuk mengenal pesert didik kita secara baik, sehingga dapat menjadi pengetahuan bagi kita semua dalam menjadi seorang pendidik yang baik.
B.     PEMBAHASAN
1.    Pengertian Perkembangan Emosi
Setiap individu selalu mengalami pertumbuhan dan perkembangan dalam hidupnya. Tingkat pertumbuhan dan perkembangan yang dialami oleh tiap-tiap individu akan berbeda satu dengan yang lainnya dan tingkat perkembangan ini akan berbeda-beda sesuai dengan tingkatan umur dari tiap individu. Dengan bertambahnya usia individu, manusia senantiasa tumbuh dan berkembang yang akan membawa individu menuju pada suatu kematangan fisik dan psikis.
Pertumbuhan dan perkembangan merupakan dua hal yang berbeda. Pertumbuhan adalah perubahan secara fisiologis sebagai hasil dari proses pematangan fungsi-fungsi fisik yang berlangsung secara normal pada anak yang sehat pada waktu yang normal. Pertumbuhan dapat juga diartikan sebagai proses transmisi dari konstitusi fisik (keadaan tubuh atau keadaan jasmaniah) yang herediter dalam bentuk proses aktif secara berkesinambungan. Jadi, pertumbuhan berkaitan dengan perubahan kuantitatif yang menyangkut peningkatan ukuran dan struktur biologis.
Sedangkan perkembangan menunjuk pada perubahan-perubahan dalam bentuk bagian tubuh dan integrasi pelbagai bagiannya ke dalam satu kesatuan fungsional bila pertumbuhan itu berlangsung. Intinya bahwa pertumbuhan dapat diukur sedangkan perkembangan hanya dapat dilihat gejala-gejalanya. Perkembangan dipersyarati adanya pertumbuhan.
Masa remaja atau masa adolensia merupakan masa peralihan atau masa transisi antara masa anak ke masa dewasa. Pada masa ini individu mengalami perkembangan yang pesat mencapai kematangan fisik, sosial, dan emosi. Salah satu perkembangan yang dialami oleh remaja adalah perkembangan emosi.
Secara sederhana dapat dikatakan bahwa emosi adalah suatu keadaan kejiwaan yang mewarnai tingkah laku. Emosi dapat juga diartikan sebagai suatu reaksi psikologis yang ditampilkan dalam bentuk tingkah laku gembira, bahagia, sedih, berani, takut, marah, haru dan sejenisnya.
Biasanya emosi muncul dalam bentuk luapan perasaan, dan surut dalam waktu yang singkat. Hathersall (1985), merumuskan pengertian emosi sebagai situasi psikologis yang merupakan pengalaman subjektif yang dapat dilihat dari reaksi wajah dan tubuh. Menurut James & Lange , bahwa emosi itu timbul karena pengaruh perubahan jasmaniah atau kegiatan individu. Misalnya menangis itu karena sedih, tertawa itu karena gembira. Sedangkan menurut Lindsley bahwa emosi disebabkan oleh pekerjaan yang terlampau keras dari susunan syaraf terutama otak, misalnya apabila individu mengalami frustasi, susunan syaraf bekerja sangat keras yang menimbulkan sekresi kelenjar-kelenjar tertentu yang dapat mempertinggi pekerjaan otak, maka hal itu menimbulkan emosi. Jadi emosi adalah pengalaman afektif yang disertai penyesuaian dari dalam diri individu tentang keadaan mental dan fisik dan berwujud suatu tingkah laku yang tampak. Jadi emosi adalah pengalaman afektif yang disertai penyesuaian dari dalam diri individu tentang keadaan mental dan fisik dan berwujud suatu tingkah laku yang tampak.
Emosi sering didefinisikan dalam istilah perasaan (feeling): misalnya pengalaman-pengalaman afektif, kenikmatan atau ketidaknikmatan, marah, takut, bahagia, sedih dan jijik. Emosi juga sering berhubungan dengan ekspresi tingkah laku dan respon-respon fidiologis.
Berasarkan sebab dan reaksi yang ditimbulkan, emosi dikelompokkan menjadi tiga, yaitu :
1.      Emosi yang berkaitan dengan perasaan (syaraf-syaraf jasmaniah), misalnya perasaan dingin, panas, hangat, sejuk dan sebagainya. Munculnya emosi seperti ini lebih banyak dirasakan karena faktor fisik diluar individu, misalnya cuaca, kondisi ruangan dan tempat dimana individu itu berada.
2.      Emosi yang berkaitan dengan kondisi fisiologis, misalnya sakit, meriang dan sebagainya. Munculnya emosi sepertinini lebih banyak dirasakan karena faktor kesehatan.
3.      Emosi yang berkaitan dengan kondisi psikologis, misalnya cinta, rindu, sayang, benci dan sejenisnya. Munculnya emosi seperti ini lebih banyak dirasakan karena faktor hubungan dengan orang lain.


2.    Karakterisitik Perkembangan Emosi Remaja
Masa remaja atau masa adolensia merupakan masa peralihan atau masa transisi antara masa anak ke masa dewasa. Pada masa ini individu mengalami perkembangan yang pesat mencapai kematangan fisik, sosial, dan emosi. Pada masa ini dipercaya merupakan masa yang sulit, baik bagi remaja sendiri maupun bagi keluarga dan lingkungannya.
Perubahan-perubahan fisik yang dialami remaja juga menyebabkan adanya perubahan psikologis. Oleh Hurlock (2002) dalam rahmat  (http://r4hmatdocuments.blogspot.com), disebut sebagai periode heightened emotionality, yaitu suatu keadaan dimana kondisi emosi tampak lebih tinggi atau tampak lebih intens dibandingkan dengan keadaan normal. Emosi yang tinggi dapat termanifestasikan dalam berbagai bentuk tingkah laku seperti bingung, emosi berkobar-kobar atau mudah meledak, bertengkar, tak bergairah, pemalas, membentuk mekanisme pertahanan diri. Emosi yang tinggi ini tidak berlangsung terus-menerus selama masa remaja. Dengan bertambahnya umur maka emosi yang tinggi akan mulai mereda atau menuju kondisi yang stabil. Emosi yang tinggi pada masa remaja sebaiknya tidak dibiarkan begitu saja, tetapi perlu mendapat penyaluran atau penanganan yang baik agar tidak menimbulkan hal-hal yang merugikan.
Pola emosi masa remaja hampir sama dengan pola emosi masa kanak-kanak. Jenis yang secara normal dialami adalah : cinta atau kasih sayang, gembira, amarah, takut, sedih dan lainnya lagi. Perbedaannya terletak pada macam dan derajat rangsangan yang membangkitkan emosinya dan khususnya pola pengendalian yang dilakukan individu terhadap ungkapan emosi mereka.
Menurut Biehler (1972) dalam http://shizukaumrilockhart.blogspot.com, membagi ciri-ciri emosional remaja menjadi dua rentang usia, yaitu usia 12-15 tahun dan usia 15-18 tahun.
1.      Ciri-ciri emosional usia 12-15 tahun
·      Cenderung banyak murung dan tidak dapat diterka
·      Bertingkah laku kasar untuk menutupi kekurangan dalam hal rasa percaya diri
·      Kemarahan biasa terjadi
·      Cenderung tidak toleran terhadap orang lain dan ingin selalu menang sendiri
·      Mulai mengamati orang tua dan guru-guru mereka secara objektif
2.      Ciri-ciri emosional remaja usia 15-18 tahun
·      “Pemberontakan” remaja merupakan ekspresi dari perubahan yang universal dari masa kanak-kanak menuju dewasa
·      Banyak remaja mengalami konflik dengan orang tua mereka
·      Sering kali melamun, memikirkan masa depan mereka
Luella Cole  dalam http://shizukaumrilockhart.blogspot.com mengemukakan tiga jenis emosi, yaitu :
1.      Emosi marah
Emosi marah lebih mudah timbul apabila dibandingkan dengan emosi lainnya dalam kehidupan remaja . penyebab timbulnya emosi marah pada diri remaja ialah apabila mereka direndahkan, dipermalukan, dihina dan lainnya. Remaja yang sudah cukup matang menunjukkan rasa marahnya tidak lagi dengan berkelahi tapi lebih memilih mengerutu, mencaci atau dalam bentuk ungkapan verbal lainnya.
2.      Emosi takut
Jenis emosi lain yang sering muncul pada diri remaja adalah emosi takut. Menjelang seorang anak mencapai remaja, dia telah mengalami serangkaian perkembangan yang mempengaruhi pasang surut berkenaan dengan rasa ketakutannya.  Remaja seperti halnya anak-anak dan orang dewasa, seringkali berusaha untuk mengatasi ketakutan yang timbul dari persoalan kehidupan. Ketakutan tersebut banyak menyangkut dengan ujian yang akan diikuti seperti rendahnya prestasi, sakit, kesepian dan lain-lain. Satu-satunya cara untuk menghindarkan diri dari rasa takut adalah keberanian menghadapi rasa takut tersebut.
3.      Emosi cinta / kasih sayang
Jenis emosi ketiga yang sering muncul pada diri remaja adalah emosi cinta/kasih sayang, emosi ini telah ada sejak bayi dan terus berkembang sampai dewasa. Faktor ini penting dalam kehidupan remaja adalah untuk mencintai orang lain dan kebutuhannya untuk mendapatkan cinta dari orang lain. Kemampuan untuk menerima cinta sama pentingnya dengan kemampuan untuk memberinya. Walaupun remaja bergerak ke dunia pergaulan yang lebih luas, dalam dirinya masih terdapat sifat kekanak-kanakanya. Remaja membutuhkan kasih sayang di rumah yang sama banyaknya dengan apa yang mereka alami pada tahun-tahun sebelumnya. Karena alasan inilah sikap menentang mereka, menyalahkan mereka secara langsung, mengolok-olok mereka pada waktu pertama kali karena mencukur kumisnya, adanya perhatian terhadap lawan jenisnya, merupakan tindakan yang kurang bijaksana.
Pada masa remaja rasa cinta mulai diarahkan kepada lawan jenis. Menurut Cole kecenderungan remaja wanita tertarik terhadap sesama jenis berlangsung lebih lama. Keadaan ini terlihat pada sikap kasih sayang terhadap sesama wanita seperti kepada kakak, adik.

3.    Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Emosi
Dengan bertambahnya umur, menyebabkan terjadinya perubahan dalam ekspresi emosional. Bertambahnya pengetahuan dari lingkungan serta sekolah dan pemanfaatan media massa berpengaruh terhadap perubahan-perubahan emosional ini. Beberapa faktor yang mempengaruhui perkembangan emosi pada masa remaja, antara lain:
a.       Perubahan jasmani atau fisik
Perubahan atau pertumbuhan yang berlangsung cepat selama masa puber menyebabkan keadaan tubuh menjadi tidak seimbang. Ketidakseimbangan ini mempengaruhi kondisi prikis remaja. Tidak setiap remaja siap menerima perubahan yang dialami, karena tidak semuanya menguntungkan. Terutama perubahan tersebut mempengaruhi penampilannya. Hal ini menyebabkan rangsangan didalam tubuh remaja yang sering kali menimbulkan masalah dalam perkembangan psikisnya, khususnya perkembangan emosinya.
b.      Keadaan anak
Keadaan individu pada anak, misalnya cacat tubuh ataupun kekurangan pada diri anak akan sangat mempengaruhi perkembangan emosional, bahkan akan berdampak lebih jauh pada kepribadian anak. Misalnya: rendah diri, mudah tersinggung, atau menarik diri dari lingkunganya.
c.       Perubahan dalam hubungan dengan teman-teman
Pada awal remaja biasanya mereka suka membentuk gang yang biasanya pula memiliki tujuan yang positif untuk memenuhi minat bersama mereka, namun jika diteruskan pada masa remaja tengah atau remaja akhir para anggota mungkin membutuhkannya untuk melawan otoritas atau untuk melakukan yang tidak baik. Yang paling sering mendatangkan masalah adalah hubungan percintaan antar lawan jenis dikalangan remaja. Percintaan dikalangan remaja juga terkadang manimbulkan konflik dengan orang tua, karena ada kekhawatiran dari pihak orang tua kalau terjadi hal-hal yang diluar batas sehingga mereka melarang anaknya pacaran.
d.      Perubahan dalam hubungannya dengan sekolah
Menginjak remaja mungkin mereka mulai menyadari betapa pentingnya pendidikan untuk kehidupan dimasa mendatang. Hal ini sedikit banyak dapat menyebabkan kecemasan sendiri bagi remaja. Lebih lanjut berkaitan dengan apa yang akan mereka lakukan setelah lulus.
e.       Perubahan atau penyesuaian dengan lingkungan baru.
1)   Perubahan yang radikal menyebabkan perubahan terhadap pola kehidupannya.
2)   Adanya harapan sosial untuk perilaku yang lebih matang.
3)   Aspirasi yang tidak realistis.
f.       Faktor belajar
Pengalaman belajar anak akan menentukan reaksi potensial mana yang mereka gunakan untuk marah. Pengalaman belajar yang menunjang perkembangan emosi antara lain:

1)      Belajar dengan coba-coba
Anak belajar dengan coba-coba untuk mengekspresikan emosinya dalam bentuk perilaku yang memberi pemuasan sedikit atau sama sekali tidak memberi kepuasan.
2)      Belajar dengan meniru
Dengan cara meniru dan mengamati hal-hal yang membangkitkan emosi orang lain, anak bereaksi dengan emosi dan metode yang sama dengan orang-orang yang diamati.
3)      Belajar dengan mempersamakan diri
Anak meniru reaksi emosional orang lain yang tergugah oleh rangsangan yang sama dengan rangsangan yang telah membangkitkan emosi orang yang ditiru. Disini anak hanya meniru orang yang dikagumi dan mempunyai ikatan emosional yang kuat dengannya.
4)      Belajar melalui pengondisian
Dengan metode ini objek, situasi yang mulanya gagal memancing reaksi emosional kemudian berhasil dengan cara asosiasi. Pengondisian terjadi dengan mudah dan cepat pada awal-awal kehidupan karena anak kecil kurang menalar, mengenal betapa tidak rasionalnya reaksi mereka.
5)      Belajar dengan bimbingan dan pengawasan.
Anak diajarkan cara bereaksi yang dapat diterima jika suatu emosi terangsang. Dengan pelatihan, anak-anak dirangsang untuk bereaksi terhadap rangsangan yang biasanya membangkitkan emosi yang menyenangkan dan dicegah agar tidak bereaksi secara emosional terhadap rangsangan yang membangkitkan emosi yang tidak menyenangkan.
g.       Lingkungan keluarga
Salah satu fungsi keluarga adalah sosialisasi nilai keluarga mengenai bagaimana anak bersikap dan berperilaku. Keluarga adalah lembaga yang pertama kali mengajarkan individu (melalui contoh yang diberikan orang tua) bagaimana individu mengeksplorasi emosinya.
Keluarga merupakan lingkungan pertama dan utama bagi perkembangan anak. Keluarga sangat berfungsi dalam menanamkan dasar-dasar pengalaman emosi, karena disanalah pengalaman pertama didapatkan oleh anak. Keluarga merupakan lembaga pertumbuhan dan belajar awal (learning and growing) yang dapat mengantarkan anak menuju pertumbuhan dan belajar selanjutnya.
Gaya pengasuhan keluarga akan sangat berpengaruh terhadap perkembangan emosi anak. Apabila anak dikembangkan dalam lingkungan keluarga yang emosinya positif, maka perkembangan emosi anak akan menjadi positif. Akan tetapi, apabila kebiasaan orang tua dalam mengekspresikan emosinya negatif seperti, melampiaskan kemarahan dengan sikap agresif, mudah marah, kecewa dan pesimis dalam menghadapi masalah, maka perkembangan emosi anak akan menjadi negatif.
Keterkaitan secara antara lingkungan keluarga dengan pengungkapan emosi terjadi sejak awal yaitu pada masa anak-anak. Cara-cara yang digunakan orang tua untuk menangani masalah anaknya memberikan pelajaran yang membekas pada perkembangan emosi anak. Gaya mendidik orang tua yang mengabaikan perasaan anak, yang tercermin pada persepsi negatif orang tua terhadap emosi, emosi anak dilihat sebagai gangguan atau sesuatu yang selalu direspon orang tua dengan penolakan. Pada masa dewasa, anak tersebut tidak akan menghargai emosinya sendiri yang menimbulkan keterbatasan dalam mengungkapkan emosinya. Sebaliknya, pada kelurga yang menghargai emosi anak yang dibuktikan dengan penerimaan orang tua terhadap ungkapan emosi anak, pada masa dewasa nanti anak akan menghargai emosinya sendiri sehingga ia mampu mengungkapkan emosinya pada orang lain.
Selain hal-hal yang telah disebutkan diatas, kiranya masih banyak faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan emosi remaja atau peserta didik. Namun dari yang telah diuraikan diatas rasanya telah cukup banyak faktor yang mempengaruhi perkembangan emosi remaja.



4.    Perbedaan Individual dalam Perkembangan Emosi
Individu mengalami proses perkembangan emosi selama hidupnya, mulai dari bayi sampai dewasa. Banyak faktor yang mempengaruhi perkembangan emosi remaja individu. Kepribadian, lingkungan, pengalaman, kebudayaan, pendidikan, pendidikan, merupakan variabel yang sangat berperan dalam perkembangan emosi individu.
Perbedaan individu juga dapat dipengaruhi oleh adanya perbedaan kondisi atau keadaan individu yang bersangkutan, antara lain yaitu:
a.       Kondisi dasar individu
Berkaitan dengan struktur pribadi individu. Misalnya, ada yang mudah marah, ada juga yang susah marah.
b.      Kondisi psikis individu pada suatu waktu
Misalnya, saat sedang kalut, seseorang mudah tersinggungdibanding dalam keadaan normal.
c.       Kondisi jasmani individu
Pada saat sedang sakit biasanya lebih mudah perasa atau lebih mudah marah.

5.    Implementasi Perkembangan Emosi dalam Pendidikan
Telah diketahui bahwa pada masa remaja, individu mengalami massa dimana kondisi emosinya meningkat. Emosi yang ada dalam diri remaja ada emosi positif dan emosi negatif. Kedua emosi itu berkembang dalam diri remaja . Emosi negatif pada dasarnya dapat diredam sehingga tidak menimbulkan efek negatif dan emosi positif perlu dikembangkan. Beberapa cara untuk meredam emosi negatif itu adalah :
a.       Berpikir positif dalam arti mencoba melihat sesuatu peristiwa atau kejadian dari sisi positifnya.
b.      Mencoba belajar memahami karakteristik orang lain. Memahami bahwa orang lain memang berbeda dan tidak dapat memaksakan orang lain berbuat sesuai dengan keinginan diri sendiri.
c.       Mencoba menghargai pendapat dan kelebihan orang lain. Mereka mendengarkan apa yang dikemukakan orang lain dan mengakui kelebihan orang lain.
d.      Introspeksi dan mencoba melihat apabila kejadian yang sama terjadi pada diri sendiri, mereka dapat merasakannya.
 Peran orang tua, sekolah dan masyarakat sangat diharapkan dalam rangka membantu para remaja untuk mengontrol dan mengelola emosinya kepada penyaluran yang positif.
a.    Orang Tua
Orang tua diharapkan dapat memberikan perhatian dan kasih sayang, meningkatkan komunikasi dua arah, siap menerima keluhan dan mencarikan jalan keluar terhadap permasalahan yang dialami remaja akan memberikan suasana yang sejuk bagi remaja.
Tidak memeberikan tuntutan yang berlebihan dan mnghindari larangan yang tidak terlalu penting serta memberikan pengawasan dan pengarahan secukupnya merupakan hal yang menyenangkan bagi remaja. Pembatasan dan tuntutan terhadap remaja hendaknya disesuaikan dengan kondisi dan kemampuan remaja. Memberikan tugas dan tanggung jawab sesuai dengan posisinya.
Penegakan disiplin dilakukan dengan bijaksana. Penerapan disiplin yang mendidik disertai dengan suatu pengertian terhadap makna displin tersebut merupakan pilihan yang baik. Disiplin yang terlalu keras dan kaku, disertai hukuman badan dapat menimbulkan pemberontakan atau penolakan dari remaja. Hal ini tentu saja dapat menimbulkan hal-hal yang tidak diinginkan semua pihak
Hal penting lainnya yang perlu diperhatikan adalah sikap konsisten dari orang tua. Ketidakkonsistenan orang tua dapat menimbulkan kebimbangan remaja dalam perilakunya. Remaja akan mengalami kesulitan dalam menarik kesimpulan atau mengambil pelajaran dari apa-apa yang telah diajarkan oleh orang tuanya. Selain itu diperlukan pula sikap yang tenang, berwibawa, dan arif bijaksana dalam menghadapi luapan emosi oleh para orang tua maupun pendidik.


b.    Sekolah
Sekolah, tempat dimana remaja menghabiskan sebagian waktunya juga diharapkan dapat menyediakan tempat untuk mentransfer ilmu pengetahuan, sekolah diharapakan mSekolah, tempat dimana remaja menghabiskan sebagian waktunya juga diharapkan dapat menyediakan tempat untuk mentransfer ilmu pengetahuan, sekolah diharapakan mampu menjadi tempat menyenangkan bagi remaja dengan menyediakan fasilitas yang bersifat rekreatif dan positif, sehingga remaja dapat menyalurkan aktifitasnya. Demikan juga pembuatan peraturan-peraturan dan penegakan disiplin di sekolah diharapkan dapat dilakukan dengan bijaksana sehingga mendapat tanggpan yang positif dari peserta didiknya. Tak ketinggalan peran para guru di sekolah. Guru diharapkan dapat menjadi orang tua kedua di sekolah. Di samping memberikan ilmu pengetahuan juga memberikan teladan yang baik. Membina hubungan yang baik dengan peserta didik, sabar, pengertian, siap membantu peserta didik yang mengalami kesulitan tau permasalahan, tidak arogan, tidak sewenang-wenang merupakan sikap yang didambakan oleh peserta didik untuk melakukan tugas dan kewajibannya dalam rangka mencapai prestasi yang tinggi.
c.    Masyarakat
Masyarakat diharapkan dapat menjadi wahana yang baik bagi perkembangan emosi remaja. Menyediakan fasilitas untuk penyaluran emosi remaja secara positif dan memberi contoh yang baik atau memberikan norma-norma dalam mengontrol dan mengelola emosi.









C.    PENUTUP
1.    Kesimpulan
Sudah tidak dapat dipungkiri, bahwa perkembangan emosi remaja dalam tumbuh kembangnya memberikan pengaruh yang besar dalam kehidupannya.Dengan adanya ciri-ciri serta usaha untuk mengembangkan emosi remaja secara tepat, secara bertahap diharapkan seorang remaja mampu mengaktualisasikan dirinya sebagai generasi harapan bangsa. Untuk itu hendaknya orang tua, guru dan lingkungan masyarakat harus benar-benar dapat memahami bagaimana tumbuh kembang remaja termasuk emosinya. Pembentukan emosi remaja yang sehat yang bertolak pada pembangunan karakter remaja hendaklah dilaksanakan selain jalur pendidikan, keluarga dan sekolah juga dilaksanakan pada lingkungan.

2.    Saran
Dengan mengetahui keadaan emosi remaja dan perkembangannya di harapkan kita mampu memahami serta menemukan cara-cara yang terbaik dalam menghadapi remaja yang baru beranjak dewasa.





DAFTAR PUSTAKA

http://r4hmatdocuments.blogspot.com diakses pada tanggal 25 Oktober 2012
http://shizukaumrilockhart.blogspot.com diakses pada tanggal 26 Oktober 2012
http://kawan-jagoest.blogspot.com diakses pada tanggal 26 Oktober 2012
http://abarokah18.blogspot.com diakses pada tanggal 26 Oktober 2012
http://anharululum.blogspot.com diakses pada tanggal 27 Oktober 2012