Showing posts with label Wartawan Badung. Show all posts
Showing posts with label Wartawan Badung. Show all posts

Friday, May 10, 2013

Yuniawan dan Speed Boat

WARTAWAN BADUNG
Kita pasti ingat Yuniawan Wahyu Nugroho (Mas Wawan) wartawan yang meninggal di rumah Mbah Marijan, juru kunci Gunung Merapi. Mas Wawan meninggal diterjang wedhus gembel saat Merapi meletus dua tahun silam. Dia adalah salah satu sohibku, kami sering bersama pada liputan-liputan politik.
Mas Wawan berpostur tinggi, berkulit bersih dan termasuk wartawan yang ganteng. Namun begitu, dia sederhana dan berhati baik. Waktu itu, Mas Wawan yang juga tetanggaku di Ambarawa ini adalah wartawan Suara Pembaruan.
Pagi itu kami, dan rombongan PAN, menunju Pulau Seribu untuk mengawal Pak Amien Rais berkampanye. Kami berangkat dari Pantai Marina Ancol dan sudah disiapkan beberapa kapal di sana. Singkat cerita kami sampai di Pulau Seribu.
Acara berlangsung meriah, para petinggi PAN, duduk di depan dengan para istri mereka. Suasana pedesaan masih lekat di pulau itu. Karena acara yang begitu lama, aku menyempatkan berjalan-jalan di pantai berdua dengan Mas Wawan. Dan kemudian beberapa wartawan ikut bergabung.
Sampai akhirnya sore menjelang, saatnya kami kembali ke Jakarta. Mas Wawan mengajakku cepat-cepat, agar bisa mengejar dead line. Lalu kami naik di sebuah speed boat, dan mencari tempat duduk. Saat enak duduk-duduk, ada orang partai menegur kami.
"Mas Mbak ini siapa?" tanyanya.
"Kami wartawan Pak," jawab Mas Wawan.
"Oh wartawan silakan naik kapal yang itu," katanya menunjuk sebuah kapal biasa.
"Boleh pindah sini nggak Pak, kami buru-buru, mengejar dead line," kata Mas Wawan.
"Iya..." dukungku.
"Wah nggak bisa Mas, ini khusus untuk petinggi partai," kata laki-laki itu lagi.
"Ya udah," kata Mas Wawan lalu menolongku keluar dari kapal.
Akhirnya kami naik kapal yang lain. Di situ sudah banyak wartawan yang lain. Mereka menertawai kami yang nggak boleh naik kapal speed boat itu.
"Kasihan deh lu," kata salah satu wartawan.
"Tau tuh, padahal ini juga petinggi partai," kata Mas Wawan menunjukku.
"Hahaha..." semua tertawa.
Sore itu kami berayun di selat Jawa sambil memandangi sun set yang indah. Kapal itu lebih lambat jalannya, meskipun ketar-ketir dikejar dead line, kami berusaha menikmati senja. Sore yang indah bersama almarhum Mas Wawan tercinta, dan juga wartawan lainnya.
Jakarta, 11 Mei 2013

Wednesday, May 8, 2013

Wong Jogja Badung

WARTAWAN BADUNG
Edu waktu itu wartawan baru di Jawa Pos biro Jakarta. Kebetulan dia ditugasi meliput kegiatan unjuk rasa mahasiswa denganku. Suasana Jakarta masih tegang oleh reformasi. Pemerintahan Habibie yang menggantikan Soeharto terus menerus dikecam mahasiswa.
Aku diuntungkan karena Edu memiliki motor. Selama ini kemana pun pergi aku mengandalkan angkutan umum, bus kota, atau angkot. Karena berpatner dengan Edu, aku tinggal memboncengnya kemanapun meliput acara demontrasi. Motor Edu berplat AB (Jogja), jadi terlihat berbeda di lalu lintas Jakarta yang ramai.
Suatu hari, kami harus melewati Bunderan Semanggi. Kami kalau enggak salah dari arah blok M menuju ke Tebet. Aturannya harus berputar cukup jauh di jembatan Jakarta convention Center.
Kami buru-buru, dan Edu langsung aja berputar di salah satu lingkaran di Bunderan peninggalan Bung Karno itu. Kami pun disemprit oleh polisi. Kami berdua turun, Edu yang kurus dan masih kucel mirip mahasiswa, senyum-senyum.
"Anda tahu, motor tidak boleh berputar di sini?"
"Enggak pak," jawab Edu nyengir.
"Plat Jogja ya?"
"Iya Pak, masih baru di Jakarta, Pak," kata Edu lagi.
"Anda mau kemana?" tanya polisi itu lagi.
"Liputan demo Pak," kata Edu menunjukkan keplek Jawa Pos.
Polisi memandangi keplek itu. Wajahnya masih marah dan terlihat galak.
"Ya udah sana, lain kali nggak boleh ya muter ke sini," katanya.
"Iya Pak, maaf nggak tahu," jawab Edu.
Lalu kami naik motor kembali dan melanjutkan perjalanan. Sepanjang perjalanan kami tertawa. Diselamatkan oleh plat Jogja, hahaha.
Jakarta, 9 Mei 2013

Thursday, May 2, 2013

Sopir Pak Harto

WARTAWAN BADUNG
Pak Lukman, kiai dari Tulung Agung, juga pengajar di Universitas Paramadina, berkata: Gie. kalau kamu berada di suatu tempat, pesta, acara tertentu, terus kamu melihat ada orang yang minder, menyendiri, dekatilah dan ajaklah dia berbicara. Itu akan membantu menyemangatinya, dan kamu nggak akan kehabisan teman.
Nasehat ini sebetulnya aku banget. Dan banyak keuntungan dari cara pandang seperti ini. Salah satunya aku tak pernah kekurangan teman ngobrol. Dan sampai sekarang tukang-tukang parkir, satpam, pembantu, buruh, tukang sayur, kuli dan wong-wong cilik banyak yang menjadi temanku.
Kita pasti ingat peristiwa ketika Pak Harto sakit. Semua media masa heboh meliput kondisi mantan penguasa Orde Baru itu. Waktu itu Pak Harto di rawat dirawat di rumah sakit Pertamina di kawasan Blok M. Aku pun tidak kalah antusiasnya meliput Pak Harto.
Siang, malam wartawan menunggui di teras depan rumah sakit. Menunggu semua peristiwa dan mencatat siapa saja yang datang menengok Pak Harto. Ternyata sakitnya berhari-hari. Dan wartawan yang meliput sedikit demi sedikit berkurang.
Karena jarang ada tamu, dan di situ mengganggu pengunjung lain, para wartawan pun berpindah tempat. Sebelumnya nunggu di depan pintu masuk, sekarang, berpindah ke pintu belakang, dekat parkir. Dan ternyata, keluarga Pak Harto selalu masuk lewat pintu ini. Tommy, Bambang, Mbak Tutut, semua datang melalui pintu belakang, alasanya tentu saja untuk menghindari wartawan.
Malam itu ada beberapa wartawan nongkrong di pintu belakang. Aku pun bergabung dengan mereka. Kami bercanda tertawa untuk menghilangkan kejenuhan. Namun pandanganku tertuju pada sebuah kursi dekat parkiran. Ada seorang laki-laki bertubuh gempal, berkumis dan berambut cepak. Dari pemanpilannya, dia pasti sopir pejabat. Mengenakan safari gelap dan rapi. Aku pun berjalan menghampiri laki-laki itu dan menyapanya.
"Sendirian Pak?" tanyaku.
"Iya, Mbak wartawan ya?"
"Iya, jaga malam," kataku sambil duduk disebelahnya.
Terjadilah obrolan. Biar pun bertampang militer, ternyata dia ramah juga. Mungkin jenuh juga berhari-hari dia duduk di situ sendirian.
"Acara apa di sini, Pak?" tanyaku.
"Saya mengantar Pak Harto," jawabnya.
"Ooh, berarti dah berapa hari di sini?"
"Dari hari pertama, Mbak," katanya.
"Udah lama ya jadi sopir Pak Harto?"
"Ya semenjak jadi Presiden."
"Wah 30 tahun lebih, mantap dong."
Dia tersenyum, "Sampai pensiun pun Pak Harto tidak mau diantar sopir lain, Mbak."
"Pernah nggak diajak ngobrol sama Pak Harto atau Bu Tien?"
"Pernah, saya ditanya ikut KB nggak?"
"Terus?"
"Ya saya jawab ikut, anak saya dua, waktu itu yang tanya Bu Tien," katanya.
"Terus Pak Hartonya?"
"Dia bilang bagus-bagus..."
"30 tahun hanya ngomong begitu?"
"Iya mbak, namanya juga sopir, tetapi mereka baik Mbak, nggak pernah marah-marah, atau ngomel-ngomel..."
Sampai jam 2 malam aku mengobrol dengan dia. Beberapa wartawan juga ikut nimbrung. Karena kecapaian, aku kemudian berpamitan pulang, malam sudah teramat larut. Beberapa hari berikutnya aku juga bertemu dengannya. Sayangnya aku lupa menanyakan namanya.
Jakarta 3 Mei 2012

Monday, April 29, 2013

Subuh di Rumah Rozy Munir

WARTAWAN BADUNG
Para pejabat dan selebritis biasanya sulit ditemui wartawan kalau tertimpa kasus. Kalau mereka pengen naik daun atau ngetop mereka begitu baik sama wartawan, bersikap menyenangkan, dan mencari-cari wartawan. Namun kalau sudah ketahuan melakukan sesuatu yang tak baik di mata publik, mereka akan ngumpet-ngumpet dari wartawan.
Menteri BUMN Rozy Munir salah satunya. Saat tersiar kabar bahwa dia mendapatkan mobil-mobil mewah, menteri masa pemerintahan Gus Dur itu sulit ditemui. Padahal aku mendapatkan tugas dari kantor untuk mewawancarai dia sehalaman penuh.
Kebetulan asisten pribadinya Siane adalah mantan wartawan juga. Aku pun melakukan pendekatan kepadanya untuk meminta waktu wawancara khusus. Namun waktu yang diberikan sangat pendek. Aku nggak yakin bisa wawancara sehalaman koran Jawa Pos, hanya dengan waktu setengah jam sebelum sholat Jumat.
Aku pun mencari akal. Deadline tinggal dua hari. Besok sudah hari Jumat, padahal akan dimuat untuk rubrik wawancara tokoh untuk hari minggu. Aku mencari akal, untuk bisa menemui Rozy dan bisa wawancara panjang. Aku mendapatkan ide, setelah subuh, pasti ada waktu luang seorang menteri untuk diwawancarai.
Esoknya, Jumat pagi, sebelum subuh aku sudah berangkat. Dari kosku di Rawa Belong, aku harus naik angkot dua kali menuju Perumahan Dosen UI di Ciputat, tempat Rozy Munir tinggal.
Aku mengetuk pintu. Pembantunya yang membukakan pintu. Aku bilang wartawan Jawa Pos, mau wawancara Pak Rozy. Yang keluar malah istrinya dengan wajah cemberut plus marah-marah. Aku pun didampratnya.
"Yang bener aja, ini masih subuh, mau wawancara, Bapak saja belum mandi," begitu katanya.
Aku diam tak menjawab. Galak dan sombong benar. Mentang-mentang istri pejabat ni yee.
"Nanti saja di kantor," katanya lagi.
Aku tetap diam. Tidak bergeming di depan pintu. Istri Rozy berkacak pinggang dengan wajah marah. Waktuku mepet untuk mengisi halaman tokoh minggu itu. Hari ini sudah jumat pagi. Aku melirik ke dalam tanpa peduli istri menteri itu marah-marah. Nah kulihat ada Rozy di ruang tengah. Kebetulan dia tatapan mata denganku. Aku tersenyum. Dia pun menghampiri kami.
"Ada apa ini," katanya pada kami.
"Wartawan nggak sopan, jam segini mau wawancara," kata istrinya.
"Boleh ya Pak," kataku pada Rozy.
Rozy menatapku. Lalu dia menyuruh istrinya masuk. "Ya sudah, bentar aja ya," katanya.
Malangnya saat mau memulai wawancara tape rekamanku ngadat. Aku bilang tapenya baterainya habis. Wawancara panjang begini, nggak mungkin tanpa pertolongan rekaman dari tape. Lalu Rozy menyuruh pembantunya membeli baterai ke warung dekat rumah. Kami menunggu sambil mengobrol ringan. Subuh itu wawancaraku sukses besar. Hidup perlu perjuangan Bok. Hehehe.
Jakarta, 30 April 2013

Sunday, April 28, 2013

Copet Bus Kota

WARTAWAN BADUNG
Malam itu aku dan Nur Khoiri Media Indonesia, selesai mewawancarai mantan penyanyi cilik Chicha Koeswoyo. Kami berdua naik bus kota dari rumah puteri Nomo Koeswoyo yang berada di kawasan Blok M.
Kami akan kembali ke kantor dengan kendaraan umum. Kebetulan kantor kami berada di jalur yang sama. Aku di Rawa Belong dan Khoiri di Kebun Jeruk. Kami naik bus kota dari terminal Blok M jurusan Grogol.
Malam mulai gelap. Bus kota tidak terlalu penuh, tetapi tempat duduk terisi semua. Aku dan Khoiri berdiri di dekat pintu belakang. Biar mudah kalau turun di daerah Slipi nantinya dan ganti angkot menuju kantor kami masing-masing.
Bus belum meninggalkan terminal, ketika serombongan laki-laki kantoran masuk. Rombongan itu sekitar 6 orang dan menggerombol di dekat kami berdua. Bus terus melaju. Namun salah seorang laki-laki mendorongku dan terus mendorongku. Aku tak terima kenapa berdesakan di situ sementara lorong bangku itu kosong.
"Geser dong," kataku.
Tetapi mereka tidak mau bergeser depan. Bahkan terus mendorong seirama dengan ayunan bus kota. Aku pun makin sewot, dan menyuruh Khoiri bergeser. Khoiri mengajakku ke tengah lorong saja daripada berdesakan di situ.
"Permisi..." kataku pada gerombolan laki-laki itu untuk minta jalan.
Namun tanpa sengaja ada yang memasukkan tangannya ke tasku. Langsung saja aku pelototin laki-laki itu.
"Heiii, ngapain tangannya?"
Orang itu mengeluarkan tangannya. Lalu mundur dan bergabung dengan teman-temannya. Aku baru sadar mereka itu gerombolan copet bus kota. Saat melihat ke bawah, tanpa kusadari aku melihat dompet make up merahku di sana. Dompet itu berisi peralatan kecantikan seperti lipstik, bedak, lotion sunscreen dan semacamnya. Kuambil dompet itu lalu aku acungkan pada para copet itu.
"Apa lagi yang kalian ambil dari tasku, ayo kembalikan," kataku.
Para copet itu saling berpandangan. Khoiri menarik tanganku agar menjauh dari mereka, sambil membisikiku bahwa mereka itu copet semua, berdandan ala orang kantoran. Aku mengangguk. Lalu di depan mereka aku sengaja membuka tasku dan memeriksa satu-satu. Lalu aku keluarkan kamera poketku.
"Kalian turun ya, atau aku foto dan aku masukkan Pos Kota?"
Mereka nggak berani melihatku. Memalingkan muka ke tempat lain. Khoiri terus menarik-narik tanganku agar menjauhi gerombolan itu.
"Aku ini wartawan tau, aku ingat muka kalian semua, cepat turun atau aku laporkan ke polisi," kataku pada mereka lagi dengan galak.
Pada halte berikutnya, kalau enggak salah halte Polda, mereka turun. Khoiri memarah-marahi aku.
"Lo ini nekad Gie, mereka itu copet semua tau,"
"Gw tau, pengen uji nyali aja, Hahaha..."
Jakarta 27 April 2013

Wednesday, April 24, 2013

Beasiswa Gus Dur

WARTAWAN BADUNG
Salah satu rumah tokoh negeri ini yang selalu ramai pengunjung adalah rumah mantan Presiden RI KH Abdurachman Wahid alm, atau Gus Dur. Rumah beliau tak pernah sepi orang. Mereka datang dari berbagai penjuru kota.
Dari kantorku yang berlokasi di Kebayoran Lama, rumah Gus Dur lumayan jauh.Pertama aku naik angkot ke Slipi. Dari Slipi naik bus kota jurusan Dapok, turun di Pasar Minggu. Dari Pasar Minggu naik angkot, jurusan Ciganjur. Sampai mentok. Di pertigaan Ciganjur itu masih mencari ojek. Bilang aja ke rumah Gus Dur, tidak bakalan nyasar.
Waktu itu, aku ke rumah Gus Dur bukan untuk wawancara pentolan NU itu. Tetapi untuk menemui dan mewawancarai ibunda Shinta. Aku adalah wartawan wedokan --istilah rubrik Jawa Pos yang memuat kisah tokoh wanita. Kebetulan aku satu-satunya wartawan perempuan, jadi selalu ditugasi untuk mengejar sumber perempuan.
Bu Shinta sedang keluar rumah, jadi aku harus menunggu. Awalnya aku menunggu di ruang tamu. Tetapi lama-lama jenuh ngelamun sendirian. Di luar rumah ramai orang, terutama di masjid depan rumah Gus Dur.
Mereka duduk santai di masjid, ada yang tiduran, ada yang membuat forum diskusi kecil-kecilan. Para tamu Gus Dur ini dari berbagai kalangan. Mulai para santri, politisi, pedagang, mahasiawa, kiai maupun aktifis. Rumah itu memang makmur, tak pernah sepi dari tamu.
Para tamu ini tujuannya macam-macam. Ada yang minta doa, ada yang minta nasehat, dan ada juga yang minta doa restu, tak jarang ada yang meminta nama untuk anak. Dalam hati aku geli, Gus Dur udah kayak dukun aja nih, hahaha...
Saat aku duduk-duduk sendirian, seorang anak muda laki-laki mendatangiku dengan senyuman. Aku membalas senyuman itu. Lalu dia duduk di sebelahku dan kami pun mulai mengobrol. Rupanya dia seorang mahasiswa.
"Mbak nunggu giliran ketemu Gus Dur juga?' tanyanya.
"Enggak kok, aku mau wawancara Bu Shinta," jawabku.
"Emang bu Shintanya kemana?"
"Masih keluar," jawabku.
Lalu obrolan berganti dengan masalah politik. Mahasiswa itu memang pandai dan paham soal gerakan mahasiswa dan politik. Aku dengerin saja, karena sebenarnya hatiku cemas menunggu bu Shinta yang tak juga muncul.
"Terus kamu ke sini mau ngapain?" tanyaku.
"Gini Mbak, aku nyaris DO, sudah tak ada biaya untuk kuliah lagi. Aku mau minta beasiswa dari Gus Dur?"
"Oh, masih sodara sama Gus Dur?"
"Ya enggaklah. Namanya juga usaha Mbak, siapa tahu Gus Dur mau kasih uang kuliah, Gus Dur kan orangnya baik, tanggung tinggal dikit lagi lulus," ujarnya memelas.
"Iya sih, apa salahnya mencoba, tetapi betul kan buat bayar kuliah?"
"Ya iyalah, masak aku mau bohongin Gus Dur..."
Aku mengangguk-angguk. Kupandangi wajah mahasiswa itu. Matanya balik menatapku. Itu artinya dia berkata jujur. Dalam hatiku berbisik, Duh Gus Dur sampai segitunya beliau dicintai masyarakat. Miss you so much, Gus.
Jakarta, 25 April 2013

Tuesday, April 23, 2013

Kaca Mata Renang Ian Surya

WARTAWAN BADUNG
Saat-saat menjelang runtuhnya Orde Baru, Jakarta diwarnai unjuk rasa secara terus menerus. Mahasiswa semakin berani dan kompak dalam melakukan demontrasi. Wartawan pun juga dibikin sibuk oleh kegiatan ini.
Salah satu sohibku meliput unjuk rasa adalah Ian, seorang wartawan Harian Surya. Ian wartawan yang tangguh dan pemberani. Saat meliput unjuk rasa selalu berada di depan sendiri.
Unjuk rasa mahasiswa yang besar tak jarang terjadi bentrokan. Aparat keamanan yang menghadang pun kadang jumlahnya ribuan. Bahkan mereka kadang menggunakan senjata mereka untuk menembaki mahasiswa dan menyemprotkan gas air mata.
Ian bertubuh kurus, tinggi, berambut gondrong. Gayanya nyeniman habis. Bicara soal politik pinter banget. Aku selalu bersemangat kalau bertemu Ian saat meliput demontrasi. Mesti jadi tidak membosankan. Ian selalu tahu bagaimana caranya biar aman saat meliput demontrasi.
"Lu jangan di posisi mahasiswa, Gie, bisa-bisa kena peluru nyasar," katanya.
"Terus di mana dunk?"
"Ya di antara aparat dan mahasiswa," katanya.
"Oh gitu ya."
"Jangan pula di posisi aparat, ntar malah dikirain pro penguasa..."
Demontrasi terus marak, tempatnya berpindah-pindah. Sehari setelah tertembaknya 4 mahasiswa Universitas Trisakti, mahasiswa akan merunjuk rasa ke gedung DPR, mereka berkumpul di kampus yang berlokasi di Grogol itu. Aku pun ke sana.
Suasana mencekam. Aroma gas air mata kental sekali. Membuat mata menjadi pedih. Mahasiswa berkumpul di dalam kampus. Kali ini mereka akan berjalan menuju gedung DPR RI. Semua yang masuk kampus diperiksa oleh petugas dari kalangan mahasiswa. Syaratnya harus mengenakan jaket almamater kampus masing-masing atau menunjukkan kartu mahasiswa.
Di luar kampus, aparat sudah berjaga-jaga. Mereka juga menyiapkan panser gas air mata. Saat aku akan masuk ke kampus, aku melihat Ian di dalam kampus. Dia memberikan isyarat agar aku masuk. Setelah menunjukkan Id card wartawanku pada penjaga, dan diijinkan masuk, setengah berlari aku menghampiri Ian.
Kulihat Ian berpenampilan aneh. Dia mengenakan kacamata renang yang bingkainya berwarna biru. Dia tersnyum senang melihatku datang.
"Kacamatamu," kataku.
"Lho gimana sih, biar mata nggak pedih kalau kena gas air mata," ujarnya.
"Owh," kataku mengucek mataku yang pedih.
"Tuh pedih kan, nih kasih di bawah mata," katanya menyodorkan pasta gigi.
Ragu-ragu aku menerimanya.
"Kok?"
"Cepetan, kasih," katanya.
Aku pun menurut. Kuoles tipis-tipis mataku dengan pasta gigi itu. Ajaib. Rasa pedih itu pun berkurang. Ian, dimanakah kau sekarang?
Jakarta, 24 April 2003

Monday, April 22, 2013

Mbak Mega dan Ulat

WARTAWAN BADUNG
Sebagai wartawan politik, aku biasa mengunjungi rumah tokoh-tokoh penting Indonesia, saat mereka punya acara. Salah satunya adalah rumah puteri proklamator Bung Karno, Mbak Mega, di Kebagusan. Waktu itu Mbak Mega belum menjadi Presiden, masih menjadi Ketum PDI Perjuangan.
Malam itu, via bus kota aku menuju ke rumah beliau. Rumahnya memang agak ke dalam jadi harus sambung angkot dan ojek. Aku lupa acara apa, tetapi rumah Mbak Mega sudah penuh dengan tamu.
Mataku langsung tertuju di sebuah sudut dekat taman. Di situ menggerombol para kuli tinta yang sedang menikmati snak. Aku langsung bergabung di situ. Mereka adalah sohib-sohib yang sudah sering bertemu dalam liputan-liputan. Ada reporter televisi, ada wartawan radio, wartawan online, wartawan media cetak, maupun wartawan foto.
"Haiiii..." sapaku pada mereka.
Acara tengah berlangsung. Aku pun duduk di antara gerombolan itu sambil menikmati snak yang disodorin panitia. Di tengah asyiknya ngobrol (para wartawan badung nih, nggak ngikutin acara, malah ribut sendiri), aku melirik pada sebuah tanaman bunga. Ada makhluk kecil berwarna kecoklatan bergerak-gerak.
Keringat dingin langsung mengucur di tubuhku. Tanganku dingin dan gemeteran. Kotak makanan kecil yang aku pegang jatuh dari pangkuan. Merinding, deg-degan, lemes. Aku pun berteriak.
"Ulaaaaaattttt..."
Aku lari meninggalkan bangkuku. Semua orang menoleh ke arahku. Seorang wartawan pria, sory bro lupa siapa, berdiri dan bertanya.
"Ada apa Gie?"
"Ulaaaaat," aku menunjuk pohon bunga di pot tanpa berani menatap tanaman itu.
"Manaaa?" tanyanya lagi.
"Di situ, cepet buang, dah lemes nih badanku," kataku merasakan kakiku yg menjadi ga berasa.
Beberapa wartawan pria langsung mengobok-obok tanaman bunga Mbak Mega itu untuk mencari ulat. Mereka, menginjak makhluk-makhluk kecil itu di bawah pot. Aku tak berani melihat mayat-mayat bergelimpangan itu dan mencari tempat duduk agak jauh.
"Masya Allah, Gie, wartawan Politik Jawa Pos, takut sama ulat," kata seorang wartawan. Disambut tawa yang lainnya.
"Geli sih," jawabku masih merinding.
Jakarta, 23 April 2003

Sunday, April 21, 2013

Bertemu Soeharto

WARTAWAN BADUNG
Aku adalah salah satu wartawan Jawa Pos, yang ngepos di Jakarta. Tetapi sekarang sudah mantan. Kenangan-kenangan waktu itu begitu membekas. Dan aku menikmati pekerjaan sebagai kuli tinta, meskipun banyak tantangannya, terutama saat mengejar nara sumber.
Aku dilahirkan di masa Orde Baru. Anggie kecil sangat akrab dengan nama Soeharto. Mungkin karena saking lamanya pentolan Orde Baru itu memerintah di Indonesia. Nama Soeharto begitu akrab di hati si Anggie kecil. Bahkan ketika SD sempat menulis surat kepadanya dan dibalas, namun balasan surat itu sudah hilang entah kemana. Jujur waktu kecil aku sangat ingin bertemu Pak Harto.
Waktu bergulir, pembelajaran politik selalu berkembang alamiah dalam diriku. Apalagi mendiang Bapak, juga sangat suka mengobrol politik, maka wawasan politikku pun berkembang. Di tambah lagi, setelah aku menjadi mahasiswa, aku masuk organisasi mahasiswa yang suka diskusi politik dan mulai aku melawan Soeharto. Dengan teman-teman aktifis kampus lainnya aku sering mendemo pemerintahan Orde Baru.
Selepas kuliah aku memilih menjadi wartawan. Itu karena dulu aku memang aktifis pers kampus dan tergabung di PPMI (Persatuan Pers Mahasiswa se-Indonesia). Jiwa petualangku makin mengental dan kebetulan aku diterima bekerja di Jawa Pos biro Jakarta.
Aku selalu tertantang untuk mewawancarai tokoh-tokoh di Indonesia. Nanti akan aku ceritakan pengalaman-pengalaman itu di sini, secara beseri.
Dan saat menjadi wartawan inilah aku bertemu Soeharto untuk pertama kalinya. Untuk wawancara Presiden, harus menjadi wartawan istana. Sebagai wartawan pemula, tentu saja aku tidak terpilih menjadi wartawan istana. Dan kisah bertemu Soeharto ini, terjadi sekitar 2 bulan sebelum dia dilengserkan mahasiswa.
Waktu itu, ada sebuah acara di Jakarta Convention Centre (JCC), aku lupa acara apa. Aku bertugas meliput acara yang lain, bukan meliput acara yang menghadirkan Pak Harto. Saat aku nongkrong di lobby, rombongan Soeharto datang. Aku yang belum pernah melihatnya langsung mendekat, ingin tahu.
Pengawalan ketat, para paspampres itu bermuka masam dan kejam. Pak Harto sendirian, tidak ditemani Mbak Tutut yang biasanya selalu mendampingi setelah Bu Tien wafat. Aku terus berusaha mendekat ke karpet merah, tapi didorong keras oleh seorang paspampres sampai jatuh. Tetapi kemudian aku bangkit lagi dan mengejar rombongan.
Tangan kananku bergegas mengambil kamera poket di tas. Aku harus memotret Pak Harto, dan nanti akan kupamerkan pada Bapak dan Ibu di kampung, begitu pikirku. Rombongan jalannya sedikit tergesa. Paspampres dimana-mana. Aku lari ke depan dan berdiri di depan pintu tempat acara pembukaan itu.
"Gocha..."
Saat berjarak sekitar 2 meter aku sudah siap dengan kamera. Seorang Paspampres mendatangiku dengan wajah sangar. Tetapi terlambat. Klik, aku sudah memotret penguasa Orde Baru itu dengan kameraku.
Jendral tua itu rupanya tahu gelagatku. Namun wajahnya tak menunjukkan rasa marah atau geram. Bahkan sempat berhenti, tersenyum dan melambaikan tangan ke padaku. Aku pun tersenyum kepadanya dan membalas lambaian tangan itu. Semua orang diam memandangi kami. Tidak lama kemudian Pak Harto jalan kembali masuk ke ruangan dan seorang paspampres berwajah galak menyeretku menjauh dari rombongan.
Jakarta, 22 April 2013