Sunday, October 9, 2011

Kuasa Tuhan

PUISI
Tak sanggup memikirkan.....
Bagaimana Tuhan menjaga lautan begitu tenang, 
Sehingga kapal-kapal bisa menyusurinya, tanpa ada ketakutan....

Tak sanggup membayangkan....
Bagaimana Tuhan menjaga bintang-bintang,  tetap tertata di langit,  menampilkan keindahan, tak akan berjatuhan, dan menghancurkan segalanya.... 

Tak sanggup merenungkan.....
Bagaimana Tuhan menjaga bumi tetap berputar pada porosnya, mengatur pagi dan siang, dan tak pernah lepas dari galaksinya....

Tak sanggup  menjelaskan....
Bagaimana Tuhan, menurunkan hujan, menghidupkan tetumbuhan, menerbitkan mata air, dan memekarkan kembang-kembang....

Tak sanggup mendeskripsikan, 
Bagaimana Tuhan, memberi makan semua makhlukNya, di lautan  dan di daratan, tanpa ada yg terlupakan...

Tuhan yang Esa
Sang Perkasa
Sang Mulia
Sang Pengasih
Sang Pemurah

Yang Awal dan Yang Akhir
Penguasa hari-hari yang indah
Penguasa hari pembalasan....


Jakarta, 9 Oktober 2011

Friday, October 7, 2011

Ongkos Mandi Akhirat

Pada suatu hari,Ibrahim bin Adham, seorang tokoh sufi besar mencoba memasuki sebuah tempat pemandian umum. Penjaganya meminta uang untuk membayar tiket masuk. Ibrahim menggeleng dan mengaku bahwa ia tidak punya uang untuk membeli karcis masuk.

Penjaga pemandian kemudian berkata,
"Jika engkau tidak punya uang, maka engkau tidak boleh masuk."
Seketika itu Ibrahim menjerit dan tersungkur di atas tanah. Dari mulutnya terdengar ratapan-ratapan kesedihan. Para pejalan kaki yang lewat berhenti dan berusaha menghiburnya.

Seseorang bahkan ada yang menawarinya uang agar ia dapat masuk ke tempat pemandian.
Ibrahim menjawab,
Aku menangis bukan karena ditolak masuk ke tempat pemandian ini atau karena aku tidak bisa masuk, ketika si penjaga meminta ongkos untuk membayar karcis masuk.

Melainkan aku langsung teringat pada sesuatu yang membuatku menangis. Jika aku tidak diizinkan masuk ke pemandian dunia ini karena tidak mampu membeli tiket masuk, lalu harapan apa yang dapat kumiliki agar aku diizinkan memasuki surga?

Apa yang akan terjadi kepadaku jika mereka menuntut, amal saleh apakah yang telah aku bawa?
Apa yang telah engkau kerjakan cukup berharga?

Sama seperti ketika aku diusir dari pemandian karena tidak mampu membayar, aku tentu tidak akan diperbolehkan memasuki surga jika aku tidak mempunyai amal saleh sedikitpun.
Itulah sebabnya aku menangis dan meratap.

Orang-orang yanga ada di sekitarnya begitu mendengar ucapan Ibrahim langsung terjatuh dan menangis bersama Ibrahim.

Thursday, October 6, 2011

Tobatnya Putra Raja

Ibrahim bin Adham meninggalkan semua kemewahan istana setelah menyaksikan keajaiban dari pedagang yang jujur. Meskipun tangan dan kaki pedagang itu terikat, ia masih bisa makan dan minum dari seekor burung gagak.

Kisahnya.
Menjadi putra mahkota dengan sejumlah fasilitas mewah dan perlakuan istimewa tak membuat hati Ibrahim bin Adham merasa damai. Karenanya, ia memutuskan untuk meninggalkan semua kemewahan itu. Seluruh hartanya ia wakafkan, hanya menyisakan satu potong baju saja untuk melakukan shalat.

Saat makan pun ia tidak berlebihan, hanya untuk mengganjal perutnya dari rasa lapar. Namun, dibalik semua keterbatasan itu, Ibrahim malah merasakan kedekatannya dengan Allah SWT.

Semua itu dirasakan Ibrahim dari perjalanan yang sangat panjang. Saat menjadi putra mahkota, Ibrahim menjadi pemuda yang sombing dan kerap menganiaya yang lemah.
Pada suatu hari, di kamar tidurnya ditiduri oleh seorang pembantunya. Melihat hal itu, Ibrahi sangat marah dan ia tidak rela kamarnya yang harum dan bertebaran bunga mawar dituduri seorang pembantu yang lusuh dan kotor.
Secepat kilat Ibrahim memukul pembantunya itu sampai puas.

"Mohon ampun, hamba tidak sengaja," kata pembantunya meminta maaf.
Ibahim tidak mengndahkan permintaan maaf itu. Sebaliknya, ia makin keras memukul hingga pembantunya terbaring lemah dan lumpuh.

Bertemu Seorang yang Mencari Onta.
Perilaku kejam Ibrahim mulai sedikit berubah setelah diingatkan oleh seorang pemilik onta. Kala itu, si pemilik onta memanjat ke atas genting istananya dengan mengendap-endap.
"Hai, apa yang akan kau curi di istanaku?" gertak Ibrahim yang tengah mengetahui keberadaan orang asing itu.
"Aku sedang mencari untaku yang hilang," jawab orang asing itu.
"Apakah Anda sudah gila dengan mencari unta di atap istana?" kata Ibahim yang mulai marah.
"Hai putra raja, jika begitu, Anda juga gila. Anda juga mencari Tuhan dengan kemewahan dalam istana," kata orang asing itu lalu melartuikan diri.

Kata-kata terakhir dari pemilik unta itu membuat Ibrahim termenung. Ia mencoba mencerna ucapan yang penuh makna itu. Akhirnya Ibrahim memutuskan untuk meninggalkan istana. Ia berusaha mencari guru agama untuk memperkaya batinnya.

Dalam perjalanan, ia duduk istirahat di bawah sebuah pohon yang rindang sambil menikmati makanan. Tiba-tiba saja ada seekor burung gagak mendekat dan mengambil secuil makanannya itu
Namun anehnya, burung gagak itu tidak langsung memakan makanan itu, burung itu hanya mengapit makanan di paruhnya kemudian terbag lagi.
"Aneh, mengapa burung itu hanya mengambil makananku tanpa langsung memakannya?" pikir Ibrahim.

Ibrahim Bertobat.
Ibrahim memutuskan untuk mengikuti burung itu. Burung itu ternyata berhanti di depan seorang pria yang tangan dan kakinya terikat di sebuah pohon. Dengan menggunakan paruhnya, burung itu memberi makan pria itu.
Tak berapa lama, Ibrahim mendekati pria yang terikat di pohon.
"Wahai saudarku, mengapa kamu diikat seperti ini?" tanya Ibrahim.
"Aku kehilangan barang dagangan karena dirampok," jawab pria itu.
"Kapan engkau dirampok?" tanya Ibrahim lagi,
"Seminggu yang lalu dan selama ini, burung gagak itulah yang memberikan makan dan minum kepadaku," jawab pria itu.

"Subhananllah...apa yang telah engkau perbuat sehingga Allah masih memberikan rezeki meskipun tangan dan kakimu diikat?" tanya Ibrahim penasaran.
"Wahai pemuda, aku selalu jujur dalam berdagang. Dan perutku tak pernah memakan makanan yang subhat (tidak jelas), maupun makanan haram," jelas pedagang itu.

Sejak saat itulah Ibrahim benar-benar bertobat kepada Allah swt. Ia menempuh jalan sufi dan zuhud. Ia belajar agama kepada para tokoh sufi dan diantaranya adalah Imam Hanifah.

Dibalik Pahitnya Jambu Merah

Pada sebuah teras rumah, ada seorang gadis manis. Dia menggerutu lirih,
"Sepertinya aku selalu merepotkan kakak-kakakku saja," desahnya.
"Begitu juga aku sering merepotkan orang lain," sambungnya.

Kemudian gadis kecil ini membayangkan sederet artis idola yang pernah dilihatnya di televisi.
"Mereka manis-manis dan hebat, aku ingin seperti mereka."
"Seandainya bisa, aku ingin menjadi salah satu dari mereka," sambungnya lirih.

Tanpa disadari, kebetulan ada seorang kakaknya yang sedang berada di balik jendela mendengarnya.
Mendengar suara itu, sang kakak lalu menghampiri adiknya. Kemudian diberikannya sebuah jambu dan sebuah permen pada adiknya itu.
"Adikku, makanlah jambu merah ini," kata kakaknya.
Lalu jambu merah itu dimakan oleh sang adik.
"Gimana rasanya jambu itu dik?" tanya sang kakak.
"Rasanya sepet kak," jawab si adik.
"Walaupun sepet, tapi kamu suka kan?"
"Iya kak."

"Selain dirimu, di luar sana masih banyak puluhan bahkan ribuan orang yang suka dengan jambu merah ini. Ingat walaupun rasanya sepet," kata kakak.
"Nah, begitu pula perihal dirimu dik. Dirimu itu ibarat sebuah jambu merah kamu mungkin rasanya sepet. Walaupun engkau merasa dirimu merepotkan kakakmu, dia akan tetap menyukaimu, menyayangimu. Di luar sana masih ada puluhan orang atau bahkan ratusan orang yang kamu kenal akan tetap menyukaimu dengan rasamu yang sepet itu," jelas sang kakak.

"Jadilah dirimu sendiri, engkau tidak perlu menjadi permen agar terlihat manis," ujar kakanya sembari menunjuk permen yang dipegang adiknya.
"Walaupun permen ini rasanya manis, banyak ibu-ibu yang nggak suka anaknya makan permen. Kakak kira bukan ibu-ibu saja, banyak orang dewasa yang tidak suka makan permen," imbuh kakaknya.
"Tetaplah menjadi jambu merah bagi kakakmu ini, karena pasti orang tidak akan melarang kita menyukai sebuah jambu," ujar kakanya sambil memeluk adiknya.

"Aku yakin, suatu saat nanti, waktu dan pengalaman yang akan mematangkan pribadimu," nasehat sang kakak.
Si adik sangat terharu mendengar nasehat kakaknya. Mereka berdua saling tersenyum lirih.
Lalu, sambil tertawa riang, mereka berlari keluar halaman untuk bermain di lapangan dekat rumahnya.

NB:
Untuk adikku tersayang yang ada di kampung sana, tak apa andai kamu selalu merepotkanku, jangan pernah membebani pikiranmu ya, Luv You Forever.

Wednesday, October 5, 2011

Dialog Rasulullah dengan Iblis

Rasulullah SAW pernah bertanya kepada Iblis,
"Wahai Iblis, apakah ikhtiarmu atas umatku. Aku telah dibangkitkan untuk menyelamatkan manusia agar beriman kepada Allah SWT."
"Ya Rasulullah, demi kemuliaanmu aku akan bersungguh-sungguh menyesatkan umat manusia dari mengikuti ajaranmu. Aku akan mencampurkan lelaki dengan wanita supaya mudah aku menyelah di tengahnya," jawab Iblis.

"Wahai Iblis, apalagi yang engkau musykilkan?" tanya Rasulullah SAW.
"Ya Muhammad, sebenarnya aku amat heran dengan sikap umatmu dalam dua perkara, yaitu mereka mencintai Allah SWT, tapi pada masa yang sama mereka masih melakukan maksiat dan perbuatan munkar. Kedua, mereka sangat benci akan tabiatku, tetapi mereka masih mau mengikuti hasutanku," jawab Iblis.




Firman Allah SWT kepada Iblis,
"Sesungguhnya engkau adalah makhluk terkutuk, demi kemuliaanKu, akan Aku berikan kepada umat Muhammad dua kegembiraan, yaitu kecintaan mereka terhadapKu dan Aku jadikan penebus dosa di atas kesalahan yang telah mereka lakukan. Kedua, marahnya mereka terhadapmu akan Aku jadikan penebus dosa bagi maksiat yang telah mereka lakukan.."

Maka tercenganglah Iblis mendengar penjelasan sedemikian rupa dari Allah SWT.
Sadarlah Iblis bahwa umat Muhammad adalah umat yang disayangi Allah SWT Yang Maha Pengampun lagi Maha Mengasihi.

Sunday, October 2, 2011

Download Smadav 8.7 Pro Key Full





"Kemudian bagaimana dengan golongan yang kedua," tanya Nabi Yahya a.s.
Iblis kemudian menjelaskan bahwa golongan anak cucu Adam yang kedua adalah orang yang lalai atas perintah Allah SWT.
"Mereka itu di tangan-tangan kami seperti bola yang ada di tangan anak-anak kalian, kami menyambar dengan cepat sekehendak kami, sungguh kami telah menguasai mereka," jawab Iblis.

Kemudian bagaimana dengan golongan yang ketiga," tanya Nabi Yahya a.s lagi.
"Golongan yang ketiga itu adalah orang-orang yang sepertimu, yang terjaga dari kesalahan (maksum), kami tidak berkuasa sama sekali atas orang-orang yang memiliki kelebihan seperti dirimu," jawab iblis.

"Apakah engkau benar-benar tidak kuasa atas diriku?" tanya Nabi Yahya a.s.
"Tidak, kecuali satu kali saja, yaitu pada saat kamu mendatangi makanan dan memakannya, kami tak henti-hentinya menyenangkan kamu makan melebihi batas dan diluar kebutuhan, maka malam itu engkau tidur nyenyak dan tidak shalat malam seperti biasanya," jawab iblis.

Orang yang paling disenangi dan dibenci Iblis.
"Tak diragukan lagi iblis, aku tidak akan makan kenyang karena makanan selamanya," ucap Nabi Yahya a.s.
"Sudah tentu, aku tidak akan menasehati anak cucu Adam sesudahmu," ujar iblis balik.

Dalam riwayat lain, dalam kitab Aakamul Marjan juga dijelaskan melalui Ibn Abi Dunya dengan sanadnya dari Abdillah bin Khuaibiq.
Ketika iblis bertemu dengan Nabi Yahya a.s, Nabi Yahya berkata,
"Hai iblis, kabarkanlah kepadaku manusia yang paling kamu senangi dan yang paling kamu benci."
Iblis tidak dapat melarikan diri dari pertanyaan itu, hingga dijawabnya dengan jujur.

"Manusia yang paling aku senangi adalah seorang mukmin yang bakhil dan manusia yang paling aku benci adalah mereka yang dermawan," jawab iblis.
"Kenapa begitu, katakanlah wahai iblis," ujar Nabi Yahya a.s.
"karena orang yang bakhil itu, bakhilnya mencukupi kepadaku (menyesatkan manusia), dan orang yang dermawan itu, aku khawatir Allah memperlihatkan kedermawanannya lantas menerimanya," jawab iblis.

"Andai bukan karena engkau Wahai nabi Yahya kekasih Allah, aku tidak akan mengabarkannya," ujar iblis lebih lanjut.
Setelah itu, iblis pergi dari hadapan Nabi Yahya a.s.