Showing posts with label puisi. Show all posts
Showing posts with label puisi. Show all posts

Sunday, October 9, 2011

Kuasa Tuhan

PUISI
Tak sanggup memikirkan.....
Bagaimana Tuhan menjaga lautan begitu tenang, 
Sehingga kapal-kapal bisa menyusurinya, tanpa ada ketakutan....

Tak sanggup membayangkan....
Bagaimana Tuhan menjaga bintang-bintang,  tetap tertata di langit,  menampilkan keindahan, tak akan berjatuhan, dan menghancurkan segalanya.... 

Tak sanggup merenungkan.....
Bagaimana Tuhan menjaga bumi tetap berputar pada porosnya, mengatur pagi dan siang, dan tak pernah lepas dari galaksinya....

Tak sanggup  menjelaskan....
Bagaimana Tuhan, menurunkan hujan, menghidupkan tetumbuhan, menerbitkan mata air, dan memekarkan kembang-kembang....

Tak sanggup mendeskripsikan, 
Bagaimana Tuhan, memberi makan semua makhlukNya, di lautan  dan di daratan, tanpa ada yg terlupakan...

Tuhan yang Esa
Sang Perkasa
Sang Mulia
Sang Pengasih
Sang Pemurah

Yang Awal dan Yang Akhir
Penguasa hari-hari yang indah
Penguasa hari pembalasan....


Jakarta, 9 Oktober 2011

Thursday, April 14, 2011

Selamat Ulang Tahun Anakku

PUISI
Selamat ulang tahun anakku
Empat tahun sudah kita bersama
Mengarungi hidup dengan cara sederhana
Mengarungi pelangi dengan langkah kecil kita

Kuciumi harum nafasmu
Kunikmati paras wajahmu
Berbagi kita tawa
Berbagi kita cerita

Tiada kesedihan sejak hadirmu
Indahmu adalah semangat hidupku
Senyummu adalah kekuatan batinku

Biarpun hati nelangsa
Hilang saat ada di dekatmu
Biarpun hati sedang berduka
Musnah karena gelakmu

Engkaulah matahariku, anakku
Matahari tempat aku menghangatkan hati
Matahari tempat aku menemukan cahaya

Engkaulah hujanku, anakku
Bening menitik saat dahagaku
Lembut berjatuhan dalam sepiku

Engkaulah, kidungku, anakku
Kidung harapan ketika hati lelah
Kidung cinta ketika hati berduka

Engkaulah segalanya bagiku, anakku
Laksana embun di pagi hari
Laksana ombak di laut sunyi
Laksana awan di langit tinggi
Laksana bintang di malam sepi

Mari sini kupeluk erat
Agar engkau mengerti bahwa cintaku begitu lekat
Agar kau sadar bahwa kau adalah rahmat
Agar kau pahami bahwa kasih cintaku abadi
Agar kau mengerti artimu bagi diri ini

Suatu saat, saat kau dewasa
Sambutlah dunia anakku
Dunia yang akan membuatmu menjadi bijak
Dunia yang akan menambah anggunmu dalam melangkah
Dunia yang selalu memberimu kecintaan…
Masa depan dam harapan

Jadilah manusia yang berguna, anakku
Olah pikiran, hati dan jiwamu
Turunkan tanganmu menolong sesama
Jadikan hidupmu berguna dan bermanfaat bagi dunia

Anankku,
Selamat ulang tahun
Empat tahun kita sudah bersama
Akulah ibumu
Aku hanya mengantarmu jadi manusia
Semoga Alloh meridhoi perjalanan kita… Amien

Cinta dan sayang untukmu selamanya
Shabeth Khadijah Kembangwangi (Baby)
(14 April 2007 – 14 April 2011)


Jakarta 14 April 2011

Wednesday, February 9, 2011

Surat Buat Ibunda

PUISI
Ibunda…
Malam begitu sepi
Rintik hujan mengirimkan sunyi dan dingin
Menusuk ke dalam relung jiwaku
Kurapatkan selimutku
Dan kuhirup kopi malamku yang pekat
Kuluruskan kakiku di kursi dan memandangi luar jendela
Terbias cahaya lampu taman
Dan berjuta serangga terbang mengelilinginya

Ibunda…
Sunyi tiba-tiba menggetarkan aku akan sebuah rindu
Dan malam gelap bergambarkan bayangan wajah itu
Wajah ayu yang memancarkan energi illahi
Dan semakin menua oleh berjalannya waktu
Getar ini, semakin kuat mengoyak sukmaku
Lihatlah, alangkah rindu aku akan semua perjalanan waktu yang telah kita lalui bersama dahulu

Ibunda…
Malam ini, apakah Ibunda juga merasakan,
Aku benar-benar tak berdaya, terpenjara oleh semua kenangan itu
Saat kita berdua, dalam keceriaan, dalam kesedihan dan dalam perdebatan-perdebatan
Atau, indahnya saat-saat kita berbicara tentang apa saja
Tentang cita-cita, tentang cinta, tentang manusia dan tentang kehidupan

Ibunda…
Waktu itu, Ibunda menanyakan padaku tentang seorang laki-laki
Aku malu menjawab pertanyaan itu,
tetapi pikiranku terbayang pada lelaki yang telah mencuri hatiku
Lalu aku katakan sebuah keyakinan bahwa dia akan menjadi jodohku
Ibunda terdiam….
Seakan tak setuju dengan kesombonganku
Sorot mata itu isyaratkan bahwa aku tak berhak berbicara apapun mengenai sebuah takdir cinta
Mata Ibunda seperti berkata, Nak, hanya Tuhan yang tahu akan semua jalan takdir cintamu…
Lalu lelaki itu meninggalkanku dalam luka
Dan aku tak pernah berani bercerita lagi kepadamu tentangnya, Ibunda


Ibunda…
Kemudian Ibunda tanyakan tentang cita-citaku
Kukatakan bahwa aku ingin menuliskan apa saja tentang kehidupan manusia
Manusia dengan segala tingkah polahnya
Yang lemah harus dibela dan yang angkara harus di tentang
Ibunda terdiam…
Aku melihat sorot mata itu menjadi begitu cemas
Seakan berkata, hati-hatilah Nak, kau akan menantang bahaya…

Ibunda…
Lalu Ibunda bertanya tentang manusia
Aku berkata bahwa manusia selalu berpijak kepada tingkah lakunya
Mereka yang menjalani kebenaran
Akan menemukan terang seperti terangnya bintang
Dan mereka yang menjalani keburukan
Akan terpenjara dalam nista dan membeku dalam dendam dan hukuman
Ibunda terdiam…
Aku melihat binar itu lagi, seakan berkata, temukan jalan itu, Nak, dan tetaplah dalam kebenaran…”

Ibunda…
Lalu kita berbincang tentang kehidupan
Ku berpendapat bahwa kehidupan ini semacam ujian bagi manusia
Manusia hidup sesekali waktu akan berada di atas
Sesekali waktu akan berada di bawah
Kalau di atas, kataku, jangan bersombong, karena semua yang dimiliki itu hanya titipan dari Tuhan
Sedangkan jika berada di bawah, kataku, jangan pernah merasakan rendah dan nista
Karena Tuhan sedang menguji dan Tuhan tak melihat manusia dari apa yang mereka miliki
Ibunda lagi-lagi terdiam…
Tetapi mata itu seakan berkata, bersiaplah dan tetaplah menjadi kuat, Nak, karena hanya kekuatan akan kau arungi semua kesedihan dan kebahagiaan dengan sempurna


Ibunda…
Malam ini, lihatlah anakmu dicekam oleh gelap malam
Menggigil oleh rindu…
Terbayang saat-saat kita bersama menyusuri kebun-kebun bunga dulu
Berbincang tentang warna-warna bunga yang begitu indah
Dan bayangan mengenai semua keindahan bunga-bunga itu
atau wanginya yang membius nafasku, terngiang sampai kini, Ibunda
Dan Ibunda katakan dalam sorot mata kekaguman…
bunga adalah pesona keagungan Tuhan yang tak tertandingi apapun,
Sambil berdua kita memenuhi keranjang itu dengan bunga-bunga…

Ibunda…
Di luar, langit masih kelam
Gerimis telah usai menyisakan titik-titik air di sudut daun-daunan
Bulan malu-malu bersembunyi di balik awan
Mengingatkan aku akan malam-malam kita merencanakan perayaan-perayaan
Memasak hingga terkuras tenaga dan pikiran
Mengatur bunga-bunga dalam vas dan mengatur piring-piring di meja makan
Tak berhenti aku memuji nikmatnya makanan-makanan buatanmu itu
Atau kue-kue sederhana yang kau buat dengan hikmat
Alangkah rindunya aku akan semua itu

Ibunda…
Atau saat hari raya kita duduk bersama dengan semua saudaraku
dan juga Bapak saat masih ada bersama kita
Satu persatu kami anak-anakmu bersujud di lututmu
Lalu bergantian bersujud pada Bapak
Kami juga mendengarkan petuah pendekmu, Nak, jadilah manusia yang berguna…
Lalu aku selalu mendengar isak tangismu dan ada bulir air mata terjatuh di pipimu..

Ibunda…
Waktu terus berjalan mematangkan hidupku
Keberanian yang kau tanamkan menjadikanku angkuh dan sombong
Kepandaian dan kemahiran yang kau dukung
Menjadikanku lupa segalanya
Kemudian aku terkungkung dalam lingkaran keangkuhanku
Terbius oleh segala puja dan puji
Seakan akulah jagoan yang telah menaklukkan semua kehidupan itu
Aku mulai membantahmu
Aku mulai mendebatmu
Duh, Ibunda.. setan mana yang telah berani mengajariku begitu

Ibunda…
Sampai suatu saat, cahaya itu kembali datang kepadaku
Indahnya seperti sorot mata ketabahanmu
Terangnya seperti kerling indah di sudut mata kelabumu
Hatiku seperti tersentak oleh peringatan itu
Jiwaku terus bergetar mencari jalan menunjumu
Kulawan segala keangkuhan dan kesombonganku
Kusingkirkan segala kekakuan dan kekeraskepalaanku
Aku melawan semua itu dengan sekuat tenagaku

Ibunda…
Aku terus melawan, dan menemukan kesadaran itu
Bahwa hanya Ibunda tumpuan segala gundah dan kegelisahanku
Restumu adalah mata air bagi kehidupanku
Ridomu adalah jalan keluar bagi kemudahanku

Ibunda…
Kini aku akan datang padamu untuk bersujud
Aku ingin menangis di pangkuanmu
Aku ingin sisa-sisa hariku kembali berdamai dengan cahaya matamu
Aku ingin kau kembali padaku dengan lembut sentuhanmu
Dan aku ingin kembali berteduh dalam suci hatimu

Ibunda…
Sambutlah tangan anakmu ini
Marilah kembali kita menyusuri kebun bunga
Dan akan kupetik bunga terindah, hanya untukmu…

Ibunda…
Malam masih gulita
Dan kelelawar-kelelawar bernyanyi dalam lengkingan-lengkingan
Aku masih merindu
Rindu terdalam yang pernah kurasakan
Rindu padamu Ibunda…..
Rindu padamu Ibunda….


Ibunda…
Ibunda…


Jakarta, 10 February 2011

Saturday, September 4, 2010

Terserah-Mu

PUISI
Semua terserah Kamu
hendak Kau bawa langkahku ini
onak duri telah aku lalui
pahit getir telah aku jalani
kakiku terseok oleh lubang dan kerikil

Semua terserah Kamu
suaraku telah sumbang alunkan lagu
lidahku telah kelu nyanyikan syair itu
jiwaku telah beku menghadapi perjalanan Mu

Biarkan diri berdiri sendiri
di tengah badai yang mengguncang hati
di antara kerasnya kehidupan ini
aku harus berani
aku harus bisa

Terserah-Kamu saja
aku akan menyelami sungai kehidupan ini
dengan batu dan ombak-ombaknya
pastikan mendewasakanku jua

Pondok Kacang, 5 September 2010

Sunday, August 29, 2010

Merindui-Mu

PUISI
MerinduMu

Resah hati menunggu pagi
jejak kehidupan buram tersapu kabut sepi
mentari masih enggan berdiri
dan dunia diam kelam terpekur sendiri

Ku bersujud dalam diam
menungguMu di ujung waktuku yang sunyi
memekik jiwa alunkan lagu biru

Tuhanku...
Tuhanku...
ulurkan tanganMu untuk hati nan rapuh ini
genggam aku dalam taliMu
rengkuh aku dalam pelukMu

Karena jiwa telah lelah berlari sepanjang lorong waktu
dan raga lumpuh menantang luka teriris sembilu

Tuhanku...
Tuhanku...
ijinkanlah daku baringkan rasa ini di bahuMu
peluklah daku agar lumat rinduku
biarkan aku rebahkan penatku
biarkan aku tertidur dalam pelukmu

Kemudian aku menemukan cahyamu yang suci
membasuh lukaku kemarin, hari ini dan esok hari....

Tuhanku...
aku merinduMu dalam setiap nafasku....


Pondok Kacang, 30 Agustus 2010

Sunday, April 11, 2010

Keinginan

PUISI
Malam sunyi ini kuterpekur bisu
ada suara mengiang dalam lubuk hatiku
suara itu adalah sepi
yang selalu bergelayut dalam hidupku

Tuhan alam semesta
bebaskanlah aku
lepaskanlah aku dari ikatan kesombongan diri ini
dan jadikanlah aku
seperti bunga-bunga itu
menari oleh angin
berseri demi indahnya alam buana ini
lalu biarkanlah aku menyanyi
mendendangkan suara hati
agar di hari esok, kutak lagi dirundung dendam
pada pahit getirnya kehidupan
dan semakin tegar
menghadapi segala cobaanMu

Wednesday, April 7, 2010

Matahari Merah

PUISI
matahari merah...
matahari sudah memerah di timur, bangunlah anakku....
dan embun pagi sudah jatuh di rerumputan, rabalah lembutnya
hari ini sudah dimulai,dan kau jangan terlalu lelap dengan mimpimu,
masih banyak yang menunggumu untuk sebuah ucapan selamat pagi
Pondok Kacang, 12 Desember 2009

Monday, April 5, 2010

Allah Ampuni Aku

PUISI
Langit biru bersih indah...
luas dan melegakan
kumelihat awan-awan berarak riang
seperti macam-macam bentuk
berubah-ubah oleh arus angin
Aku termangu diam,
menjalani langkahku menyapa batuan di jalan
berilah aku waktu untuk mencintai alan ini
jangan biarkan hatiku terluka
oleh kedukaan panjang
kehidupanku yang gelap pekat
Allah maafkan aku
yang hanya mencoba mencarimu
untuk bersujud dihadapanMu