Wednesday, August 7, 2013
Tuesday, August 6, 2013
Apakah Kalian Malu Menjadi Seorang Muslim?
Kenapa demikian? Karena wajahnya lebih indah daripada rembulan. Inilah Rasulullah Salallahu ‘alaihi wasallam yang harusnya diikuti seluruh dunia. Umat muslim di abad 21 harus menjadikannya sebagai suri tauladan. Kenapa? Karena semua nabi dan rasul terdahulu dikirimkan hanya untuk satu bangsa, sedangkan Rasulullah Salallahu ‘alaihi wasallam melampaui mereka semua dan dia dikirim untuk seluruh umat manusia.
Tapi kenapa umat muslim merasa malu untuk mengikuti sunnah Muhammad Salallahu ‘alaihi wasallam? Jika mereka tidak malu menumbuhkan bulu ketiak dan bulu diantara selangkangan, dengan begitu kenapa kalian malu menumbuhkan jenggot? Jika mereka tidak malu berjalan setengah telanjang di jalanan, dengan begitu kenapa kalian malu ketika mengenakan hijab atau niqab dengan benar? Jika mereka tidak malu berbuat dosa di muka umum, dengan begitu kenapa kalian malu menunaikan shalat di muka umum? Jika mereka tidak malu telanjang dada ketika menceburkan diri ke kolam renang, dengan begitu kenapa kalian malu melakukan wudhu di wastafel toilet?
Inilah jati diri kalian. Kalian pengikut Muhammad Salallahu ‘alaihi wasallam. Dan jangan meremehkan kekuatan Allah. Karena Allah sesungguhnya telah menguji orang-orang sebelum kalian, Allah telah menguji umat muslim di abad 21. Di luar negeri, orang-orang terbunuh, orang-orang diperkosa. Wanita muslim dipaksa berhubungan intim dengan anaknya sendiri, seorang bapak dipaksa berhubungan intim dengan anak perempuannya sendiri, kulit mereka dikelupas dari tubuh.
Jangan buat Allah menguji kalian dengan cara ini. Kalian bisa mempelajari Islam, berpegang teguh pada sunnah Muhammad Salallahu ‘alaihi wasallam. Patuhi Allah dan Rasul-Nya Salallahu ‘alaihi wasallam.
Inilah jati diri kalian!
Memangnya kenapa jika kita makan dengan tangan? INILAH JATI DIRI KITA!
Memangnya kenapa jika kita berjongkok untuk pipis? INILAH JATI DIRI KITA!
Memangnya kenapa jika kita memanjangkan jenggot? INILAH JATI DIRI KITA!
Memangnya kenapa jika wanita muslim mengenakan hijab atau niqab? INILAH JATI DIRI MEREKA!
Memangnya kenapa jika umat muslim menggunakan kayu siwak untuk menggosok gigi? INILAH JATI DIRI KITA!
Kita adalah muslim dan pengikut Muhammad Salallahu ‘alaihi wasallam. JANGAN PERNAH LUPAKAN INI!
Ayo Subscribe ke YouTube Channel Lampu Islam: youtube.com/arceuszeldfer
Ayo Like Facebook Page-nya: Lampu Islam
Ayo Subscribe ke YouTube Channel Lampu Islam: youtube.com/arceuszeldfer
Ayo Like Facebook Page-nya: Lampu Islam
Monday, August 5, 2013
Ar-Rahman dan Ar-Rahim, Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang
Asy-Syaikh Muhammad Khalil Al-Harras mengatakan, “Keduanya adalah nama yang mulia dari nama-nama Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Kedua nama ini menunjukkan bahwa Allah Subhanahu Wa Ta’ala memiliki sifat rahmat, kasih sayang, yang merupakan sifat hakiki bagi Allah dan sesuai dengan kebesaran-Nya.”Kedua nama Allah Subhanahu Wa Ta’ala ini disebutkan dalam banyak ayat dan hadits Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasallam, diantaranya:
“Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.” (Al-Fatihah: 1)
“Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.” (Al-Fatihah: 3)

Maknanya, menurut Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, “Ar-Rahman artinya Yang memiliki rahmat, kasih sayang yang luas, karena wazan (bentuk kata) fa’lan dalam bahasa Arab menunjukkan makna luas dan penuh. Semisal dengan kata ‘Seorang lelaki ghadhbaan,’ artinya penuh kemarahan.1
Sementara, Ar-Rahiim adalah nama Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang memiliki makna kata kerja dari rahmat (yakni Yang merahmati, Yang mengasihi), karena wazan fa’iil (…..) bermakna faa’il (…) pelaksana, sehingga kata tersebut menunjukkan perbuatan (merahmati, mengasihi).
Oleh karena itu, paduan antara nama Ar-Rahman dan Ar-Rahim bermakna rahmat Allah Subhanahu Wa Ta’ala itu luas dan kasih sayang-Nya akan sampai kepada makhluk-Nya.”
Adakah perbedaan antara nama Allah Subhanahu Wa Ta’ala Ar-Rahman dan Ar-Rahim?
Tentu ada sisi perbedaannya, karena setiap nama punya makna yang khusus. Berikut ini penjelasan sebagian ulama tentang perbedaan diantara keduanya.
Al-Arzami t mengatakan: “Ar-Rahman artinya Yang Maha Pengasih terhadap seluruh makhluk, sedangkan Ar-Rahim artinya Yang Maha Pengasih terhadap kaum mukminin.” (Tafsir Ibnu Jarir Ath-Thabari, Tafsir Basmalah)
Dengan demikian, dikatakan bahwa yang dimaksud dengan Ar-Rahman adalah yang rahmat-Nya meliputi segala sesuatu di dunia, karena bentuk kata/wazan fa’lan itu menunjukkan penuh dan banyak. Sedangkan Ar-Rahim, yang rahmat-Nya khusus terhadap kaum mukimin di akhirat.
Akan tetapi, ada pula yang mengatakan sebaliknya.
Ibnul Qayyim memandang bahwa Ar-Rahman menunjukkan sifat kasih sayang pada Dzat Allah Subhanahu Wa Ta’ala (yakni Allah Subhanahu Wa Ta’ala memiliki sifat kasih sayang), sedangkan Ar-Rahim menunjukkan bahwa sifat kasih sayang-Nya terkait dengan makhluk yang dikasihi-Nya.
Sehingga seakan-akan nama Ar-Rahman adalah sifat bagi-Nya, sedangkan nama Ar-Rahim mengandung perbuatan-Nya, yakni menunjukkan bahwa Dia memberi kasih sayang kepada makhluk-Nya dengan rahmat-Nya, jadi ini sifat perbuatan bagi-Nya.
Apabila Anda hendak memahami hal ini, perhatikanlah firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala: “Dan adalah Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman.” (Al-Ahzab: 43)
“Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada mereka.” (At-Taubah: 117)
Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidak menyebutkan dengan nama Ar-Rahman sama sekali. Dengan itu, Anda tahu bahwa makna Ar-Rahman adalah Yang memiliki sifat kasih sayang dan makna Ar-Rahim adalah Yang mengasihi dengan kasih sayang-Nya. (Syarah Nuniyyah, Ahmad Isa)
Al-Harras mengatakan, ini adalah pendapat yang terbaik dalam membedakan kedua nama tersebut.
Berikut ini kutipan penjelasan Asy-Syaikh Abdurrahman As-Sa’di t tentang keagungan dua nama Allah Subhanahu Wa Ta’ala tersebut.
Ar-Rahman dan Ar-Rahim, adalah dua nama yang menunjukkan bahwa Allah Subhanahu Wa Ta’ala memiliki kasih sayang yang luas dan agung. Kedua nama ini meliputi segala sesuatu dan meliputi segala makhluk. Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah menetapkan kasih sayang yang sempurna bagi orang-orang bertakwa yang mengikuti para nabi dan rasul-Nya. Oleh karena itu, mereka mendapatkan kasih sayang sempurna yang bersambung dengan kebahagiaan yang abadi.
Adapun orang-orang yang selain mereka terhalang dari kasih sayang yang sempurna ini, karena mereka sendiri yang menolaknya dengan cara tidak memercayai berita (Ilahi) dan berpaling dari perintah. Oleh karena itu, janganlah mereka mencela siapapun kecuali diri mereka sendiri.
Mereka (yang bertakwa) mengimani bahwa Allah Subhanahu Wa Ta’ala Maharahman dan Maharahim, memiliki rahmat yang agung, dan rahmat-Nya terkait dengan makhluk-Nya yang dirahmati, sehingga nikmat seluruhnya adalah buah dari rahmat-Nya.
Orang yang memerhatikan nama Allah Subhanahu Wa Ta’ala Ar-Rahman, dan bahwa Allah Subhanahu Wa Ta’ala Mahaluas rahmat-Nya, memiliki kasih sayang yang sempurna, dan kasih sayang-Nya telah memenuhi alam semesta baik yang atas maupun yang bawah, serta mengenai seluruh makhluk-Nya, serta mencakup dunia dan akhirat; juga mentadaburi ayat-ayat yang menunjukkan semacam makna ini: “Dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu.” (Al-A’raf: 156)
“Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia.” (Al-Hajj: 65)
“Maka perhatikanlah bekas-bekas rahmat Allah, bagaimana Allah menghidupkan bumi yang sudah mati. Sesungguhnya (Dzat yang berkuasa seperti) demikian benar-benar (berkuasa) menghidupkan orang-orang yang telah mati. Dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.” (Ar-Rum: 50)
“Tidakkah kamu perhatikan sesungguhnya Allah telah menundukkan untuk (kepentingan)mu apa yang di langit dan apa yang di bumi dan menyempurnakan untukmu nikmat-Nya lahir dan batin.” (Luqman: 20)
“Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya), dan bila kamu ditimpa oleh kemudharatan, maka hanya kepada-Nya-lah kamu meminta pertolongan.” (An-Nahl: 53)
“Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (An-Nahl: 18)
Juga ayat-ayat setelahnya yang menunjukkan pokok-pokok nikmat, dan cabangnya yang mengandung salah satu dari sekian banyak buah rahmat Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Oleh karenanya, Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman di akhirnya: “Demikianlah Allah menyempurnakan nikmat-Nya atasmu agar kamu berserah diri (kepada-Nya).” (An-Nahl: 81)
Lalu mentadaburi surat Ar-Rahman dari awal hingga akhirnya, karena surat itu adalah ungkapan dari penjabaran rahmat Allah Subhanahu Wa Ta’ala; maka semua ragam makna dan corak nikmat yang ada padanya adalah rahmat dan kasih sayang-Nya. Oleh karena itu, Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengakhiri surat itu dengan menyebutkan apa yang Allah Subhanahu Wa Ta’ala siapkan untuk orang-orang yang taat di dalam surga, berupa kenikmatan abadi yang sempurna, yang merupakan buah dari rahmat-Nya. Oleh karenanya, Allah Subhanahu Wa Ta’ala menamai surga dengan rahmat, sebagaimana dalam ayat-Nya: “Adapun orang-orang yang putih berseri mukanya, maka mereka berada dalam rahmat Allah (surga); mereka kekal di dalamnya.” (Ali ‘Imran: 107)
Dalam hadits disebutkan bahwa Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengatakan kepada Al-Jannah:
“Engkau adalah rahmat-Ku yang denganmu Aku merahmati siapa yang Kukehendaki dari hamba-Ku.”
Allah Subhanahu Wa Ta’ala juga berfirman: “Dia adalah Maha Penyayang di antara para penyayang.” (Yusuf: 64)
Dalam hadits shahih disebutkan: “Allah Subhanahu Wa Ta’ala lebih penyayang terhadap hamba-Nya daripada seorang ibu terhadap anaknya.”
Dalam hadits lain disebutkan: “Sesungguhnya Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah menuliskan sebuah tulisan di sisi-Nya, di atas Arsy-Nya ‘Sesungguhnya rahmat-Ku mendahului kemurkaan-Ku’.”
Ringkas kata, Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah menciptakan makhluk dengan rahmat-Nya dan mengutus para rasul kepada mereka karena rahmat-Nya pula. Allah Subhanahu Wa Ta’ala memerintah dan melarang mereka serta menetapkan syariat untuk mereka karena rahmat-Nya. Allah melingkupi mereka dengan kenikmatan lahir dan batin karen rahmat-Nya. Dia l mengatur mereka dengan berbagai aturan dan melindungi mereka dengan berbagai perlindungan karena rahmat-Nya, serta memenuhi dunia dan akhirat dengan rahmat-Nya.
Oleh karena itu, urusan ini tidak akan menjadi baik dan mudah, begitu pula tujuan dan berbagai tuntutan tidak akan terwujud melainkan karena rahmat-Nya. Bahkan, kasih sayang-Nya melebihi semua itu, lebih agung dan lebih tinggi.
Apatah lagi, orang-orang baik dan bertakwa akan mendapatkan bagian terbesar dan kebaikan terbanyak dari rahmat-Nya.
“Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.” (Al-A’raf: 56)
Buah mengimani nama Allah Subhanahu Wa Ta’ala tersebut
Mengimani nama Allah Subhanahu Wa Ta’ala tersebut akan menambah rasa syukur kita kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, karena berbagai nikmat yang dikaruniakan Allah Subhanahu Wa Ta’ala kepada kita, baik yang ada dalam organ tubuh, kebutuhan keseharian, alam sekitar kita, maupun alam semesta ini semuanya, adalah semata-mata buah dari kasih sayang-Nya, yang mengharuskan kita untuk tunduk dan bersyukur kepada-Nya, serta membalasnya dengan ketaatan, bukan dengan kemaksiatan dan kerusakan.
Wallahu a’lam.
1 Wazan (timbangan) فَعْلَانُ fa’lan; kata yang sesuai dengan timbangan ini misalnya رَحْمَانُ ,غَضْبَانُ عَطْشَانُ, dll.
2 Wazan (timbangan) فَعِيلٌ fa’iil; kata yang sesuai dengan timbangan ini misalnya رَحِيمٌ, حَلِيمٌ, كَرِيمٌ, dll
Sumber : Ar-Rahman dan Ar-Rahim,ditulis oleh: Al-Ustadz Qomar Suaidi, Lc ,
Khazanah Edisi 60 http://kebunhidayah.wordpress.com
“Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.” (Al-Fatihah: 1)
“Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.” (Al-Fatihah: 3)
Maknanya, menurut Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, “Ar-Rahman artinya Yang memiliki rahmat, kasih sayang yang luas, karena wazan (bentuk kata) fa’lan dalam bahasa Arab menunjukkan makna luas dan penuh. Semisal dengan kata ‘Seorang lelaki ghadhbaan,’ artinya penuh kemarahan.1
Sementara, Ar-Rahiim adalah nama Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang memiliki makna kata kerja dari rahmat (yakni Yang merahmati, Yang mengasihi), karena wazan fa’iil (…..) bermakna faa’il (…) pelaksana, sehingga kata tersebut menunjukkan perbuatan (merahmati, mengasihi).
Oleh karena itu, paduan antara nama Ar-Rahman dan Ar-Rahim bermakna rahmat Allah Subhanahu Wa Ta’ala itu luas dan kasih sayang-Nya akan sampai kepada makhluk-Nya.”
Adakah perbedaan antara nama Allah Subhanahu Wa Ta’ala Ar-Rahman dan Ar-Rahim?
Tentu ada sisi perbedaannya, karena setiap nama punya makna yang khusus. Berikut ini penjelasan sebagian ulama tentang perbedaan diantara keduanya.
Al-Arzami t mengatakan: “Ar-Rahman artinya Yang Maha Pengasih terhadap seluruh makhluk, sedangkan Ar-Rahim artinya Yang Maha Pengasih terhadap kaum mukminin.” (Tafsir Ibnu Jarir Ath-Thabari, Tafsir Basmalah)
Dengan demikian, dikatakan bahwa yang dimaksud dengan Ar-Rahman adalah yang rahmat-Nya meliputi segala sesuatu di dunia, karena bentuk kata/wazan fa’lan itu menunjukkan penuh dan banyak. Sedangkan Ar-Rahim, yang rahmat-Nya khusus terhadap kaum mukimin di akhirat.
Akan tetapi, ada pula yang mengatakan sebaliknya.
Ibnul Qayyim memandang bahwa Ar-Rahman menunjukkan sifat kasih sayang pada Dzat Allah Subhanahu Wa Ta’ala (yakni Allah Subhanahu Wa Ta’ala memiliki sifat kasih sayang), sedangkan Ar-Rahim menunjukkan bahwa sifat kasih sayang-Nya terkait dengan makhluk yang dikasihi-Nya.
Sehingga seakan-akan nama Ar-Rahman adalah sifat bagi-Nya, sedangkan nama Ar-Rahim mengandung perbuatan-Nya, yakni menunjukkan bahwa Dia memberi kasih sayang kepada makhluk-Nya dengan rahmat-Nya, jadi ini sifat perbuatan bagi-Nya.
Apabila Anda hendak memahami hal ini, perhatikanlah firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala: “Dan adalah Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman.” (Al-Ahzab: 43)
“Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada mereka.” (At-Taubah: 117)
Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidak menyebutkan dengan nama Ar-Rahman sama sekali. Dengan itu, Anda tahu bahwa makna Ar-Rahman adalah Yang memiliki sifat kasih sayang dan makna Ar-Rahim adalah Yang mengasihi dengan kasih sayang-Nya. (Syarah Nuniyyah, Ahmad Isa)
Al-Harras mengatakan, ini adalah pendapat yang terbaik dalam membedakan kedua nama tersebut.
Berikut ini kutipan penjelasan Asy-Syaikh Abdurrahman As-Sa’di t tentang keagungan dua nama Allah Subhanahu Wa Ta’ala tersebut.
Ar-Rahman dan Ar-Rahim, adalah dua nama yang menunjukkan bahwa Allah Subhanahu Wa Ta’ala memiliki kasih sayang yang luas dan agung. Kedua nama ini meliputi segala sesuatu dan meliputi segala makhluk. Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah menetapkan kasih sayang yang sempurna bagi orang-orang bertakwa yang mengikuti para nabi dan rasul-Nya. Oleh karena itu, mereka mendapatkan kasih sayang sempurna yang bersambung dengan kebahagiaan yang abadi.
Adapun orang-orang yang selain mereka terhalang dari kasih sayang yang sempurna ini, karena mereka sendiri yang menolaknya dengan cara tidak memercayai berita (Ilahi) dan berpaling dari perintah. Oleh karena itu, janganlah mereka mencela siapapun kecuali diri mereka sendiri.
Mereka (yang bertakwa) mengimani bahwa Allah Subhanahu Wa Ta’ala Maharahman dan Maharahim, memiliki rahmat yang agung, dan rahmat-Nya terkait dengan makhluk-Nya yang dirahmati, sehingga nikmat seluruhnya adalah buah dari rahmat-Nya.
Orang yang memerhatikan nama Allah Subhanahu Wa Ta’ala Ar-Rahman, dan bahwa Allah Subhanahu Wa Ta’ala Mahaluas rahmat-Nya, memiliki kasih sayang yang sempurna, dan kasih sayang-Nya telah memenuhi alam semesta baik yang atas maupun yang bawah, serta mengenai seluruh makhluk-Nya, serta mencakup dunia dan akhirat; juga mentadaburi ayat-ayat yang menunjukkan semacam makna ini: “Dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu.” (Al-A’raf: 156)
“Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia.” (Al-Hajj: 65)
“Maka perhatikanlah bekas-bekas rahmat Allah, bagaimana Allah menghidupkan bumi yang sudah mati. Sesungguhnya (Dzat yang berkuasa seperti) demikian benar-benar (berkuasa) menghidupkan orang-orang yang telah mati. Dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.” (Ar-Rum: 50)
“Tidakkah kamu perhatikan sesungguhnya Allah telah menundukkan untuk (kepentingan)mu apa yang di langit dan apa yang di bumi dan menyempurnakan untukmu nikmat-Nya lahir dan batin.” (Luqman: 20)
“Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya), dan bila kamu ditimpa oleh kemudharatan, maka hanya kepada-Nya-lah kamu meminta pertolongan.” (An-Nahl: 53)
“Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (An-Nahl: 18)
Juga ayat-ayat setelahnya yang menunjukkan pokok-pokok nikmat, dan cabangnya yang mengandung salah satu dari sekian banyak buah rahmat Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Oleh karenanya, Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman di akhirnya: “Demikianlah Allah menyempurnakan nikmat-Nya atasmu agar kamu berserah diri (kepada-Nya).” (An-Nahl: 81)
Lalu mentadaburi surat Ar-Rahman dari awal hingga akhirnya, karena surat itu adalah ungkapan dari penjabaran rahmat Allah Subhanahu Wa Ta’ala; maka semua ragam makna dan corak nikmat yang ada padanya adalah rahmat dan kasih sayang-Nya. Oleh karena itu, Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengakhiri surat itu dengan menyebutkan apa yang Allah Subhanahu Wa Ta’ala siapkan untuk orang-orang yang taat di dalam surga, berupa kenikmatan abadi yang sempurna, yang merupakan buah dari rahmat-Nya. Oleh karenanya, Allah Subhanahu Wa Ta’ala menamai surga dengan rahmat, sebagaimana dalam ayat-Nya: “Adapun orang-orang yang putih berseri mukanya, maka mereka berada dalam rahmat Allah (surga); mereka kekal di dalamnya.” (Ali ‘Imran: 107)
Dalam hadits disebutkan bahwa Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengatakan kepada Al-Jannah:
“Engkau adalah rahmat-Ku yang denganmu Aku merahmati siapa yang Kukehendaki dari hamba-Ku.”
Allah Subhanahu Wa Ta’ala juga berfirman: “Dia adalah Maha Penyayang di antara para penyayang.” (Yusuf: 64)
Dalam hadits shahih disebutkan: “Allah Subhanahu Wa Ta’ala lebih penyayang terhadap hamba-Nya daripada seorang ibu terhadap anaknya.”
Dalam hadits lain disebutkan: “Sesungguhnya Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah menuliskan sebuah tulisan di sisi-Nya, di atas Arsy-Nya ‘Sesungguhnya rahmat-Ku mendahului kemurkaan-Ku’.”
Ringkas kata, Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah menciptakan makhluk dengan rahmat-Nya dan mengutus para rasul kepada mereka karena rahmat-Nya pula. Allah Subhanahu Wa Ta’ala memerintah dan melarang mereka serta menetapkan syariat untuk mereka karena rahmat-Nya. Allah melingkupi mereka dengan kenikmatan lahir dan batin karen rahmat-Nya. Dia l mengatur mereka dengan berbagai aturan dan melindungi mereka dengan berbagai perlindungan karena rahmat-Nya, serta memenuhi dunia dan akhirat dengan rahmat-Nya.
Oleh karena itu, urusan ini tidak akan menjadi baik dan mudah, begitu pula tujuan dan berbagai tuntutan tidak akan terwujud melainkan karena rahmat-Nya. Bahkan, kasih sayang-Nya melebihi semua itu, lebih agung dan lebih tinggi.
Apatah lagi, orang-orang baik dan bertakwa akan mendapatkan bagian terbesar dan kebaikan terbanyak dari rahmat-Nya.
“Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.” (Al-A’raf: 56)
Buah mengimani nama Allah Subhanahu Wa Ta’ala tersebut
Mengimani nama Allah Subhanahu Wa Ta’ala tersebut akan menambah rasa syukur kita kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, karena berbagai nikmat yang dikaruniakan Allah Subhanahu Wa Ta’ala kepada kita, baik yang ada dalam organ tubuh, kebutuhan keseharian, alam sekitar kita, maupun alam semesta ini semuanya, adalah semata-mata buah dari kasih sayang-Nya, yang mengharuskan kita untuk tunduk dan bersyukur kepada-Nya, serta membalasnya dengan ketaatan, bukan dengan kemaksiatan dan kerusakan.
Wallahu a’lam.
1 Wazan (timbangan) فَعْلَانُ fa’lan; kata yang sesuai dengan timbangan ini misalnya رَحْمَانُ ,غَضْبَانُ عَطْشَانُ, dll.
2 Wazan (timbangan) فَعِيلٌ fa’iil; kata yang sesuai dengan timbangan ini misalnya رَحِيمٌ, حَلِيمٌ, كَرِيمٌ, dll
Sumber : Ar-Rahman dan Ar-Rahim,ditulis oleh: Al-Ustadz Qomar Suaidi, Lc ,
Khazanah Edisi 60 http://kebunhidayah.wordpress.com
Hukum Bercanda dan Bergurau Menurut Pandangan Islam
Dan jika kalian melihat masyarakat kita di zaman sekarang, kalian lihat dimana orang-orang berkumpul dan melempar lelucon, mereka berdusta dan berkata, “Ini hanya lelucon, tenang saja, mari kita tertawa.” Mereka tidak tahu bahwa Allah S.W.T. melarang hal ini dimana hadistnya berbunyi:
“Celakalah bagi orang-orang yang berkata dusta demi membuat orang-orang tertawa. (Abu Dawud, Tirmidzi, An-Nasa’i).
Peringatan ini begitu tegas. Pahamilah, Kalian tidak boleh bergurau kalau gurauan itu didasarkan kebohongan. Apakah kalian paham?. Hukumnya haram. Kalian diperbolehkan bergurau, karena Muhammad S.A.W. suka bergurau, dengan sahabat-sahabatnya, dengan anak-anak kecil, tapi seperti sabdanya dalam hadist sahih: “Aku hanya bicara yang benar.”
Ayo Subscribe ke YouTube Channel Lampu Islam: youtube.com/arceuszeldfer
Ayo Like Facebook Page-nya: Lampu Islam
Ayo Subscribe ke YouTube Channel Lampu Islam: youtube.com/arceuszeldfer
Ayo Like Facebook Page-nya: Lampu Islam
Sunday, August 4, 2013
Bagaimana Keadaan Kita Disaat Malaikat Maut Menjemput?
Ini kisah nyata yang dituturkan oleh seorang Syekh yang terkenal di Mesir. Dia sedang mengendarai mobilnya dan melihat ada mobil di depannya. Di dalamnya ada seorang pemuda dan pacarnya. Mobil itu mengebut dan syekh ini berucap “La haula wa la quwwata illa billah.”Seiring syekh ini mengemudi, dia melihat mobil itu mengalami kecelakaan karena menabrak sebuah truk. Syekh ini keluar dari mobilnya, menghampiri mobil si pemuda yang sudah hancur, kemudian dia menarik keluar pemuda itu. Dia menyadari bahwa pemuda itu sedang sekarat. Darah mengalir dari pelipis si pemuda. Jadi syekh itu menuntunnya “Nak, ucapkanlah La ilaha ilallah.” Tapi pemuda itu malah menengadahkan kepalanya sambil berkata “Aku benci dia." Setelah itu, kepalanya terkulai dan dia meninggal.
Ada insiden lainnya, sekumpulan pemuda Muslim di Mesir. Mereka ingin berpesta dan mabuk-mabukan, tapi mereka lupa membawa khamr-nya (minuman memabukkan). Jadi mereka memutuskan kembali untuk mengambil khamr (minuman memabukkan) itu. Tapi kecelakaan terjadi, dan dua orang di antara mereka berhasil keluar dari mobilnya. Salah seorang dari mereka melihat temannya, dan temannya terlihat baik-baik saja, tapi tiba-tiba dia mulai berkata “Aku tidak bisa menemui-Nya, aku tidak bisa menemui-Nya!” Temannya bertanya “Siapa?” Dia menjawab “Allah”, kemudian dia meninggal.
Sebuah kisah nyata lainnya, seorang businessman di pesawat. Tiba-tiba dia tidak bisa bernapas. Orang disampingnya merasa khawatir. Si businessman mulai memegangi kopernya, keadaannya semakin memburuk karena tidak bisa bernapas. Orang di sampingnya menyadari bahwa dia akan meninggal, sehingga dia berkata “Ucapkanlah La ilaha ilallah.” Tapi orang itu malah berkata “berikan aku kopernya! Berikan aku kopernya!” Orang di sampingnya menuntunnya lagi “Ucapkan La ilaha ilallah.” Tapi dia malah berkata “Tidak, berikan aku kopernya, segalanya ada di dalam koper itu, kekayaanku dan semuanya.” Dan ketika dia sudah mendapatkan kopernya, dia melihat orang disampingnya “Wahai saudaraku, kapanpun aku ingin mengucapkan kata-kata itu, aku tidak bisa mengucapkannya.” Kemudian dia meninggal.
Pada saat menjelang ajal, setan mendatangi kita dan kita melihat amal buruk kita. Jika kita banyak berbuat kejelekan ketika hidup, maka mungkin kita akan berkata “Aku tidak bisa bertemu Allah dengan amal ini, aku tidak bisa menemui-Nya seperti ini. Aku belum bertaubat, aku tidak ingin mati.” Dan apa kata-kata terakhir yang akan kita ucapkan? “Jangan, jangan, tunggu dulu, aku tidak mau bertemu dengan Allah, aku belum siap.”
Sebaliknya, orang-orang dengan akhir yang baik meninggal dengan begitu damai. Aku akan memberikanmu contohnya, yaitu Syekh Sharaawy dari Mesir. Dia seorang syekh yang terkenal, menjalani hidupnya untuk menyerukan orang-orang agar beriman dan bertakwa kepada Allah dan Rasul-Nya. Dia mencintai Rasulullah S.A.W. dan mengajarkan orang-orang agar mencintai Rasulullah S.A.W.
Anaknya bercerita bahwa pada saat Syekh Sharaawy menjelang wafat, dia melihat ke atas dan mengucapkan "Asyhadu an la ilaha ilallah (Aku bersaksi bahwa tiada tuhan yang patut disembah kecuali Allah)", kemudian dia tersenyum. Lalu dia mengucapkan"Wa ashyadu anna muhammadan rasulullah marhaban bi rasulillah (Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah, selamat datang wahai Rasul Allah)", kemudian barulah dia wafat.
Jika kata-kata terakhir yang kita ucapkan adalah La ilaha ilallah, maka Alhamdulillah, tapi apakah itu kata-kata yang akan mengalir dari bibir kita?
Ayo Subscribe ke YouTube Channel Lampu Islam: youtube.com/arceuszeldfer
Ayo Like Facebook Page-nya: Lampu Islam
Ayo Subscribe ke YouTube Channel Lampu Islam: youtube.com/arceuszeldfer
Ayo Like Facebook Page-nya: Lampu Islam
Ramadhan, Mudik dan Kedermawanan
Blogers senyumku dakwahku yang Bersahaja - Seperti biasa, setiap akhir Ramadhan terjadi pergerakan masa yang sangat luar biasa dalam rangka mudik; dari kota ke desa, atau dari kota ke kota.
Jutaan orang pulang ke kampung halaman untuk merayakan kebahagiaan bersama keluarga. Satu peristiwa yang tidak lagi hanya bernuasa religius, tetapi juga memiliki nilai sosial, budaya, ekonomi, bahkan politik.
Dalam konteks berbeda, pada bulan Ramadhan, tepatnya tanggal 20, tahun kedelapan hijriah Nabi bersama para Sahabatnya pernah mudik, setelah hampir delapan tahun dipaksa keluar (terusir) dari kampung halaman, Mekkah.
Nabi yang terusir dari kampungnya itu sudah diprediksi jauh-jauh hari oleh seorang pendeta, Waraqah bin Naufal, sebagai tanda kenabian. Pada hari itu, Nabi memasuki kembali kota Makkah dengan kemenangan sesuai janji Allah.
Sebelum itu, saat masih di Mekkah berjuang menyebarkan Islam, Allah pernah menurunkan sebuah ayat: Sesungguhnya (Allah) yang mewajibkan engkau (Muhammad) untuk (melaksanakan hukum-hukum) Al-Qur'an, benar-benar akan mengembalikanmu ke tempat kembali (QS. Al-Qashash : 85).
Tempat kembali (al-ma`aad) pada ayat tersebut dipahami oleh banyak ahli tafsir sebagai kota Mekkah, dan ini merupakan pertanda bahwa suatu saat Nabi akan keluar dari Mekkah dan kembali dengan kemenangan. Janji Allah terwujud saat Fath Makkah.
Hari kembali itu disebut sebagai yawm birr wa wafaa, hari kebajikan dan kesetiaan. Nabi kembali tidak untuk balas dendam kepada penduduk Mekkah, terutama para tokoh masyarakat yang pernah menyakitinya.
Justru kebaikan yang mereka dapat dari Nabi, bahkan mereka mengakuinya sebagai akhun kariim (saudara yang mulia) dan ibnu akhin kariim (putra saudara yang mulia).
Sembilan belas hari lamanya Nabi mudik merayakan kemenangan Fath Makkah, kota kelahirannya, dan setelah itu kembali lagi mudik ke Madinah, kampung halamannya yang kedua, tempat ia mengembangkan risalah dan tempat ia menjumpai Tuhannya.
Saat akan kembali Nabi mengingatkan penduduk Mekkah, “tidak ada lagi hijrah ke Madinah sejak kemenangan di Mekkah, yang ada tinggal niat yang tulus (melakukan kebajikan) disertai jihad (perjuangan mewujudkannya).” (HR. Bukhari dan Muslim).
Dua peristiwa yang berbeda; mudik saat lebaran dan fathu Makkah, tetapi sama-sama terjadi di penghujung Ramadhan untuk merayakan kemenangan, menebar kebaikan dan mewujudkan kesetiaan.
Memang, Ramadhan, dengan pelbagai amal ibadah yang wajib dan yang sunnah, adalah sebuah media untuk mempersiapkan landasan berupa jiwa yang suci. Pengantin yang sesungguhnya di bulan itu adalah Al-Qur`an dengan petunjuk-petunjuk yang terdapat di dalamnya.
Seperti halnya tanah harus dipersiapkan sebelum ditanami, maka hati pun perlu ditata dan dibersihkan sebelum menerima ilmu dan petunjuk Al-Qur`an. Hati yang suci akan mudah menerima pantulan cahaya Ilahi.
Selanjutnya, cahaya tersebut akan mengalir ke dalam darah dan menggerakkan organ tubuh untuk melakukan amal kebajikan. Salah satu indikator pantulan cahaya tersebut adalah kedermawanan.
Sebuah hadis Nabi menggambarkan keterkaitan antara Ramadhan, Al-Qur`an dan kedermawanan. Ibnu Abbas RA menceritakan, Rasulullah adalah sosok manusia yang paling baik dan dermawan, lebih-lebih di bulan Ramadhan, saat ditemui Malaikat Jibril.
Jibril biasa mendatangi beliau di bulan Ramadhan pada setiap malam, mengajaknya bertadarus Al-Qur`an. Saat itulah Rasulullah begitu sangat baik melebihi angin yang bertiup kencang. (HR. Al-Bukhari).
Keterkaitan itu menunjukkan, jiwa yang terlatih dan terjaga kesuciannya, jika diisi dengan Al-Qur`an akan melahirkan sikap dan perilaku terpuji, yang salah satu indikator kuatnya adalah kedermawanan.
Itulah mengapa dalam hadis lain Rasulullah menyatakan, al-shadaqatu burhân (sedekah adalah petunjuk/ bukti). Kita berharap, di penghujung Ramadhan dan saat merayakan idul fitri, kedermawanan sebagai cerminan jiwa yang tersucikan dapat dirasa, bukan hanya sesaat, tetapi yang berkelanjutan.
Potensi ekonomi mudik sangat besar. Tidak berlebihan jika ada yang menyebutnya sebagai mudiknomics Indonesia. Ekonomi di daerah menggeliat dengan mengalirnya uang ke daerah-daerah di tanah air.
Sebagian mengalir lewat aktifitas mudik, dan sebagian lain melalui proses transfer. Salah satu harian nasional menyebut, sedikitnya Rp 50 triliun uang mengalir ke daerah.
Analisis dari Pusat data Kemiskinan Dompet Dhuafa menunjukkan potensi aliran uang mudik dari kota ke desa atau dari kota ke kota mencapai Rp 90,08 triliun.
Dengan dana sebesar itu, ekonomi di daerah-daerah seharusnya bisa ditingkatkan dalam jangka panjang, tidak hanya dalam jangka pendek saat mudik terjadi.
Menjadi kebahagiaan tersendiri bagi para pemudik ketika bisa menikmati hasil jerih payah bekerja selama satu tahun di rantau bersama keluarga dan sanak kerabat.
Ada yang membawa oleh-oleh dalam bentuk barang. Ada yang menyiapkan angpao untuk keponakan atau sanak saudara lainnya. Kebaikan dan kedermawanan terasa mengalir dari hulu sampai ke hilir. Semua bisa merasakan kebahagiaan berbagi di hari raya fitri.
Sayangnya, kondisi ini setiap tahun terjadi hanya bersifat jangka pendek. Kebanyakan pemudik menghabiskannya untuk hal-hal yang bersifat konsumtif; transportasi, rekreasi, makan dan belanja bersama keluarga, nyangoni keponakan dan lainya. Hanya sedikit yang menggunakan uangnya untuk berinvestasi di kampung halamannya.
Dengan semakin menjamurnya ritel-ritel di perkampungan dan besarnya biaya telekomunikasi bisa diduga uang yang dibawa ke daerah akan kembali tersedot ke pusat. Inilah yang membuat geliat ekonomi di daerah terkesan hanya sesaat.
Saatnya pemerintah dan masyarakat mencari pola pemberdayaan yang lebih produktif dan berdaya guna untuk kepentingan jangka panjang. Salah satu yang berpotensi adalah dana zakat para pemudik yang jumlahnya diperkirakan sangat besar.
Riset Dompet Dhuafa menemukan 52 persen lebih pemudik memilih menunaikan zakatnya di kampung halaman. Dengan potensi aliran uang mudik sebesar Rp 90,08 triliun, maka potensi zakatnya diperkirakan 14,7 triliun.
Penyaluran zakat di daerah akan lebih cepat sampai dan dirasa langsung oleh para mustahik, selain dapat memupuk rasa kesetiakawanan dan hubungan silaturahim.
Bukankah Nabi juga mengajarkan, sedekah kepada sanak kerabat yang membutuhkan akan membuahkan dua kebaikan; pahala sedekah dan pahala menyambung silaturahim.
Lembaga-Lembaga Amil Zakat (LAZ) bisa memfasilitasi penerimaan zakat di daerah dan memberdayakannya melalui kegiatan-kegiatan produktif. Pemerintah daerah pun bisa memfasilitasi potensi ekonomi mudik tersebut dengan membentuk dana investasi daerah.
Bila itu terjadi, pemerataan ekonomi bukan lagi sekadar teori. Saat itulah, para pemudik bisa mengatakan kepada sanak kerabat di kampung, “tidak ada lagi hijrah (urbanisasi) ke kota, sejak ada pemerataan ekonomi di daerah, yang ada tinggal niat yang tulus (melakukan kebajikan) disertai jihad (perjuangan mewujudkannya)”. Demikian, wallahua`lam.
REPUBLIKA.CO.ID, Oleh : Muchlis M Hanafi
Redaktur : Damanhuri Zuhri
Dikutip Ulang oleh : Senyumku Dakwahku ~ http://senyumkudakwahku.blogspot.com/
Jutaan orang pulang ke kampung halaman untuk merayakan kebahagiaan bersama keluarga. Satu peristiwa yang tidak lagi hanya bernuasa religius, tetapi juga memiliki nilai sosial, budaya, ekonomi, bahkan politik.
Dalam konteks berbeda, pada bulan Ramadhan, tepatnya tanggal 20, tahun kedelapan hijriah Nabi bersama para Sahabatnya pernah mudik, setelah hampir delapan tahun dipaksa keluar (terusir) dari kampung halaman, Mekkah.
Nabi yang terusir dari kampungnya itu sudah diprediksi jauh-jauh hari oleh seorang pendeta, Waraqah bin Naufal, sebagai tanda kenabian. Pada hari itu, Nabi memasuki kembali kota Makkah dengan kemenangan sesuai janji Allah.
Sebelum itu, saat masih di Mekkah berjuang menyebarkan Islam, Allah pernah menurunkan sebuah ayat: Sesungguhnya (Allah) yang mewajibkan engkau (Muhammad) untuk (melaksanakan hukum-hukum) Al-Qur'an, benar-benar akan mengembalikanmu ke tempat kembali (QS. Al-Qashash : 85).
Tempat kembali (al-ma`aad) pada ayat tersebut dipahami oleh banyak ahli tafsir sebagai kota Mekkah, dan ini merupakan pertanda bahwa suatu saat Nabi akan keluar dari Mekkah dan kembali dengan kemenangan. Janji Allah terwujud saat Fath Makkah.
Hari kembali itu disebut sebagai yawm birr wa wafaa, hari kebajikan dan kesetiaan. Nabi kembali tidak untuk balas dendam kepada penduduk Mekkah, terutama para tokoh masyarakat yang pernah menyakitinya.
Justru kebaikan yang mereka dapat dari Nabi, bahkan mereka mengakuinya sebagai akhun kariim (saudara yang mulia) dan ibnu akhin kariim (putra saudara yang mulia).
Sembilan belas hari lamanya Nabi mudik merayakan kemenangan Fath Makkah, kota kelahirannya, dan setelah itu kembali lagi mudik ke Madinah, kampung halamannya yang kedua, tempat ia mengembangkan risalah dan tempat ia menjumpai Tuhannya.
Saat akan kembali Nabi mengingatkan penduduk Mekkah, “tidak ada lagi hijrah ke Madinah sejak kemenangan di Mekkah, yang ada tinggal niat yang tulus (melakukan kebajikan) disertai jihad (perjuangan mewujudkannya).” (HR. Bukhari dan Muslim).
Dua peristiwa yang berbeda; mudik saat lebaran dan fathu Makkah, tetapi sama-sama terjadi di penghujung Ramadhan untuk merayakan kemenangan, menebar kebaikan dan mewujudkan kesetiaan.
Memang, Ramadhan, dengan pelbagai amal ibadah yang wajib dan yang sunnah, adalah sebuah media untuk mempersiapkan landasan berupa jiwa yang suci. Pengantin yang sesungguhnya di bulan itu adalah Al-Qur`an dengan petunjuk-petunjuk yang terdapat di dalamnya.
Seperti halnya tanah harus dipersiapkan sebelum ditanami, maka hati pun perlu ditata dan dibersihkan sebelum menerima ilmu dan petunjuk Al-Qur`an. Hati yang suci akan mudah menerima pantulan cahaya Ilahi.
Selanjutnya, cahaya tersebut akan mengalir ke dalam darah dan menggerakkan organ tubuh untuk melakukan amal kebajikan. Salah satu indikator pantulan cahaya tersebut adalah kedermawanan.
Sebuah hadis Nabi menggambarkan keterkaitan antara Ramadhan, Al-Qur`an dan kedermawanan. Ibnu Abbas RA menceritakan, Rasulullah adalah sosok manusia yang paling baik dan dermawan, lebih-lebih di bulan Ramadhan, saat ditemui Malaikat Jibril.
Jibril biasa mendatangi beliau di bulan Ramadhan pada setiap malam, mengajaknya bertadarus Al-Qur`an. Saat itulah Rasulullah begitu sangat baik melebihi angin yang bertiup kencang. (HR. Al-Bukhari).
Keterkaitan itu menunjukkan, jiwa yang terlatih dan terjaga kesuciannya, jika diisi dengan Al-Qur`an akan melahirkan sikap dan perilaku terpuji, yang salah satu indikator kuatnya adalah kedermawanan.
Itulah mengapa dalam hadis lain Rasulullah menyatakan, al-shadaqatu burhân (sedekah adalah petunjuk/ bukti). Kita berharap, di penghujung Ramadhan dan saat merayakan idul fitri, kedermawanan sebagai cerminan jiwa yang tersucikan dapat dirasa, bukan hanya sesaat, tetapi yang berkelanjutan.
Potensi ekonomi mudik sangat besar. Tidak berlebihan jika ada yang menyebutnya sebagai mudiknomics Indonesia. Ekonomi di daerah menggeliat dengan mengalirnya uang ke daerah-daerah di tanah air.
Sebagian mengalir lewat aktifitas mudik, dan sebagian lain melalui proses transfer. Salah satu harian nasional menyebut, sedikitnya Rp 50 triliun uang mengalir ke daerah.
Analisis dari Pusat data Kemiskinan Dompet Dhuafa menunjukkan potensi aliran uang mudik dari kota ke desa atau dari kota ke kota mencapai Rp 90,08 triliun.
Dengan dana sebesar itu, ekonomi di daerah-daerah seharusnya bisa ditingkatkan dalam jangka panjang, tidak hanya dalam jangka pendek saat mudik terjadi.
Menjadi kebahagiaan tersendiri bagi para pemudik ketika bisa menikmati hasil jerih payah bekerja selama satu tahun di rantau bersama keluarga dan sanak kerabat.
Ada yang membawa oleh-oleh dalam bentuk barang. Ada yang menyiapkan angpao untuk keponakan atau sanak saudara lainnya. Kebaikan dan kedermawanan terasa mengalir dari hulu sampai ke hilir. Semua bisa merasakan kebahagiaan berbagi di hari raya fitri.
Sayangnya, kondisi ini setiap tahun terjadi hanya bersifat jangka pendek. Kebanyakan pemudik menghabiskannya untuk hal-hal yang bersifat konsumtif; transportasi, rekreasi, makan dan belanja bersama keluarga, nyangoni keponakan dan lainya. Hanya sedikit yang menggunakan uangnya untuk berinvestasi di kampung halamannya.
Dengan semakin menjamurnya ritel-ritel di perkampungan dan besarnya biaya telekomunikasi bisa diduga uang yang dibawa ke daerah akan kembali tersedot ke pusat. Inilah yang membuat geliat ekonomi di daerah terkesan hanya sesaat.
Saatnya pemerintah dan masyarakat mencari pola pemberdayaan yang lebih produktif dan berdaya guna untuk kepentingan jangka panjang. Salah satu yang berpotensi adalah dana zakat para pemudik yang jumlahnya diperkirakan sangat besar.
Riset Dompet Dhuafa menemukan 52 persen lebih pemudik memilih menunaikan zakatnya di kampung halaman. Dengan potensi aliran uang mudik sebesar Rp 90,08 triliun, maka potensi zakatnya diperkirakan 14,7 triliun.
Penyaluran zakat di daerah akan lebih cepat sampai dan dirasa langsung oleh para mustahik, selain dapat memupuk rasa kesetiakawanan dan hubungan silaturahim.
Bukankah Nabi juga mengajarkan, sedekah kepada sanak kerabat yang membutuhkan akan membuahkan dua kebaikan; pahala sedekah dan pahala menyambung silaturahim.
Lembaga-Lembaga Amil Zakat (LAZ) bisa memfasilitasi penerimaan zakat di daerah dan memberdayakannya melalui kegiatan-kegiatan produktif. Pemerintah daerah pun bisa memfasilitasi potensi ekonomi mudik tersebut dengan membentuk dana investasi daerah.
Bila itu terjadi, pemerataan ekonomi bukan lagi sekadar teori. Saat itulah, para pemudik bisa mengatakan kepada sanak kerabat di kampung, “tidak ada lagi hijrah (urbanisasi) ke kota, sejak ada pemerataan ekonomi di daerah, yang ada tinggal niat yang tulus (melakukan kebajikan) disertai jihad (perjuangan mewujudkannya)”. Demikian, wallahua`lam.
REPUBLIKA.CO.ID, Oleh : Muchlis M Hanafi
Redaktur : Damanhuri Zuhri
Dikutip Ulang oleh : Senyumku Dakwahku ~ http://senyumkudakwahku.blogspot.com/
Saturday, August 3, 2013
Malaikat Juga Ikut Mendo'akan Kita
Banyak orang yang ketika shalat hanya berdo’a untuk kebaikan di dunia. Mereka hanya berdo’a ketika ditimpa masalah. Tapi jika seorang hamba berdo’a kepada Allah sepanjang waktu, maka para malaikat juga akan mendo’akan orang itu: “Ya Allah, kami mengenal suara itu. Dia selalu berdo’a kepada-Mu. Ya Allah, dia ditimpa masalah, berikanlah kasih sayang-Mu, berikan dia kemudahan dan kebaikan.”
Namun ketika seseorang jarang berdo’a kepada Allah, maka ketika Allah memberikan orang-orang kebaikan di dunia ini, mereka menjadi tidak patuh kepada Allah, mereka berkata “Siapa Allah? Ini semua karena pengetahuan dan kerja kerasku, bukan Allah yang memberikanku semua ini.”
Tapi ketika mereka mengalami masalah dan kesulitan, barulah mereka berdo’a kepada Allah. Dan para malaikat akan berkata “Siapa orang ini? Kami belum pernah mendengar dia berdo'a sebelumnya.”
Manusia seharusnya berdo’a kepada Allah secara kontinyu, ketika mereka bahagia, maka mereka bersyukur kepada Allah, ketika mereka terkena masalah, maka mereka sabar.
Kita tidak boleh membiarkan setan menipu kita, dan membuat kita berpikir “Semuanya kudapatkan karena hasil kerja kerasku, karena aku sudah mandiri.” Tapi hanya Allah-lah satu-satunya yang mandiri secara mutlak, yang tidak membutuhkan sesuatu sama sekali.
Dia tidak butuh rumah, Dia tidak butuh tempat tinggal, Dia tidak butuh pakaian. Dia memberi makan seluruh makhluk, tapi tidak ada yang bisa memberi makan Allah. Tidak ada orang yang dapat mempertanyakan Allah, tapi Allah akan mempertanyakan semua makhluk.
Allahu Akbar, andai saja kita tahu apa yang akan menimpa kita, namun kita tidak tahu, kadang kita juga tidak peduli.
Kita melihat dalam kehidupan sehari-hari, orang-orang menumpuk harta, tidak peduli darimana datangnya harta itu, meskipun mereka mendapatkannya dari jalan yang haram. Kekayaan telah menjadi tuhan bagi orang-orang.
Mereka merampas harta dari orang miskin. Uang itu tidak didistribusikan kepada orang-orang yang membutuhkan!
Ali R.A. berkata “Siapapun yang bergantung kepada kecerdasannya, maka Allah akan membuatnya gila. Siapapun yang bergantung kepada pengetahuannya, maka Allah akan menyasarkannya. Siapapun yang bergantung pada kekuasaannya, maka Allah akan menghinakannya. Siapapun yang bergantung pada kekayaannya, maka kekayaannya akan membuatnya jatuh. Dan siapapun yang bergantung pada Allah, maka Allah tidak akan membiarkannya jatuh, Allah tidak akan membiarkannya tersesat, Allah tidak akan membiarkannya kekurangan rezeki, Allah tidak akan membuatnya gila, Allah tidak akan menghinakannya, Allah akan menaikkan derajatnya di dunia ini dan di akhirat.”
Waktu menjadi semakin sulit, tidak mudah hidup sebagai seorang muslim. Kalian pikir dengan menjadi muslim maka Allah langsung memerintahkan para malaikat untuk menggelar karpet merah untuk kalian, kemanapun kalian pergi? Tidak. “Allah sesungguhnya akan menguji kalian, untuk melihat siapa yang bertakwa dan siapa yang pembohong.”
Kita semua butuh mendekatkan diri kepada Allah S.W.T. Semoga Allah selalu menuntun kita di jalan yang lurus.
Ayo Subscribe ke YouTube Channel Lampu Islam: youtube.com/arceuszeldfer
Ayo Like Facebook Page-nya: Lampu Islam
Ayo Subscribe ke YouTube Channel Lampu Islam: youtube.com/arceuszeldfer
Ayo Like Facebook Page-nya: Lampu Islam
Subscribe to:
Posts (Atom)
