Showing posts with label Shalat. Show all posts
Showing posts with label Shalat. Show all posts

Sunday, September 15, 2013

Pentingnya Shalat Bagi Umat Muslim

Rasulullah S.A.W. bersabda “Ajarkan anak-anakmu shalat di umur 7 tahun, dan hukum mereka (jika tidak mau shalat) di umur 10 tahun.” Shalat adalah ibadah yang paling utama bagi umat Muslim. Dalam Al-Qur'an, Allah berfirman agar kita selalu memelihara shalat kita dalam surat Al-Baqarah ayat 238 yang berbunyi:

"Peliharalah semua shalat(mu), dan (peliharalah) shalat wusthaa. Berdirilah untuk Allah (dalam shalatmu) dengan khusyu'." (Q.S. Al-Baqarah:238)

Dan berikut ini adalah penjelasan mengenai pentingnya kedudukan shalat bagi kita:

1. Shalat adalah Tiang Agama

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Kepala segala urusan adalah Islam, dan tiangnya adalah shalat, sementara puncaknya adalah jihad.” (HR At Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad, shahih)

2. Shalat adalah Amal yang Pertama Kali Dihitung di Akhirat

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Yang pertama kali ditanyakan kepada seorang hamba pada hari kiamat adalah perhatian kepada shalatnyaa. Jika shalatnya baik, dia akan beruntung (dalam sebuah riwayat disebutkan: dia akan berhasil). Dan jika shalatnya rusak, dia akan gagal dan merugi.” (HR Ath Thabrani, shahih)

3. Shalat adalah Ibadah yang Terakhir Hilang dari Agama

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Tali-tali Islam akan lepas sehelai demi sehelai. Setiap kali sehelai tapi itu lepas, umat manusia akan berpegangan pada tali berikutnya. Yang pertama kali terlepas adalah hukum, dan yang paling terakhir adalah shalat.” (HR Ahmad, shahih)

Dalam riwayat lain, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Yang pertama kali dihilangkan dari umat manusia adalah amanat, dan yang tersisa paling akhir adalah shalat. Berapa banyak orang yang mengerjakan shalat tanpa ada kebaikan di dalamnya sama sekali di dalam dirinya.” (HR Ath Thabrani, hasan)

4. Shalat adalah Wasiat Terakhir Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam

Ummul Mu’minin Ummu Salamah, berkata, “Wasiat yang terakhir kali disampaikan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah shalat, shalat, dan budak-budak yang kalian miliki.” Sehingga Nabiyullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyembunyikannya di dalam dada dan tidak beliau sebarluaskan melaluinya. (HR Ahmad, shahih)

5. Allah Memuji Orang yang Mengerjakan dan Mengajak Keluarganya Shalat

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Al Quran Surat Maryam ayat 54-55:

“Dan ceritakanlah (hai Muhammad kepada mereka) kisah Ismail (yang tersebut) di dalam Al Qur’an. Sesungguhnya ia adalah seorang yang benar janjinya, dan dia adalah seorang rasul dan nabi. Dan ia menyuruh keluarganya untuk bersembahyang dan menunaikan zakat, dan ia adalah seorang yang diridai di sisi Tuhannya.” 
(Q.S. Maryam:54-55)

6. Allah Mencela Orang yang Malas Shalat

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Al Quran Surat Maryam ayat 59:

“Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan salat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan.”

Juga di dalam Surat An Nisa’ ayat 142:

“Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk salat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan salat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali.” (Q.S. An-Nisa':142)

7. Shalat adalah Rukun Islam Kedua

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Islam dibangun di atas lima pondasi, bersaksi bahwa tiada Rabb selain Allah dan Muhammad sebagai utusan Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, melaksanakan ibadah haji, serta berpuasa pada bulan Ramadhan.” (HR Al Bukhari dan Muslim)

8. Allah Mewajibkan Shalat Tanpa Perantaraan Jibril

Allah Subhanahu wa Ta’ala mewajibkan ibadah shalat tidak seperti ibadah yang lain. Ibadah-ibadah lain, seperti puasa, zakat, haji dan sebagainya diwajibkan kepada umat Islam melalui perantaraan Jibril ‘Alaihis Salam di bumi. Terkhusus untuk ibadah shalat, Allah sendiri yang memerintahkan ibadah ini dengan mengangkat Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ke langit ke tujuh dalam peristiwa Isra’ Mi’raj, di Sidratul Muntaha.

Anas bin Malik Radhiyallahu ‘Anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda; “Kemudian ia membawaku ke Sidratul Muntaha. Tiba-tiba aku melihat dedaunnya yang laksana telinga gajah dan buah-buahnya seperti mutiara.”

Beliau melanjutkan, “Maka tatkala ia tertutup berkat perintah dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, ia (Sidratul Muntaha) pun berubah dan tidak satu pun makhluk Allah yang dapat menggambarkan keindahannya. Kemudian Allah memberikan wahyu kepadaku dan Dia mewajibkan lima puluh shalat dalam sehari semalam kepadaku…. (HR Bukhari dan Muslim)

9. Awalnya, Allah Memerintahkan Shalat 50 Shalat Sehari

Dalam lanjutan hadits dari Anas bin Malik Radhiyallahu ‘Anhu tersebut:

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata, “Aku lalu kembali dengan membawa kewajiban itu hingga kulewati Nabi Musa ‘Alaihis Salam, kemudian ia (Musa ‘Alaihis Salam) berkata kepadaku, ‘Apa yang diwajibkan Allah atas umatmu?’

Aku menjawab, ‘Dia mewajibkan lima puluh kali shalat (dalam sehari semalam).’

Musa ‘Alaihis Salam berkata, ‘Kembalilah kepada Rabb-mu dan mintalah keringanan kepada-Nya, karena umatmu tidak akan mampu melaksanakan hal yang demikian itu.’

Maka aku pun kembali menghadap Allah, lalu Dia memberi keringanan kepadaku dengan menghapuskan lima kali shalat…’

Beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, ‘dan aku terus kembali menghadap Allah dan turun kepada Nabi Musa ‘Alaihis Salam hingga Allah berfirman, ‘Wahai Muhammad, itulah shalat lima waktu sehari semalam. Setiap satu shalat bernilai sepuluh kali shalat. Dengan demikian, pahalanya sama dengan lima puluh kali shalat.’” (HR Al Bukhari dan Muslim)

10. Allah Membuka dan Menutup Amal Orang Beriman yang Beruntung dengan Menyebutkan Shalat

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Al Quran Surat Al Mu’minun ayat 1-9:

“Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam salatnya, dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna, dan orang-orang yang menunaikan zakat, dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. Barang siapa mencari yang di balik itu maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas.Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya,dan orang-orang yang memelihara sembahyangnya.” 
(Q.S. Al-Mu'minun:1-9)

11. Allah Menyuruh Muhammad, dan Pengikutnya Agar Menyruh Keluarganya Shalat

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Al Quran Surat Thaha 132:

“Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan salat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kami lah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa.”
(Q.S. Thaha:132)

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Suruh anak-anak kalian mengerjakan shalat ketika berusia tujuh tahun. Dan pukullah mereka karena tidak mengerjakannya pada saat mereka berusia 10 tahun. Serta pisahkanlah mereka di tempat tidur.” (HR Abu Dawud dan Ahmad, shahih)

12. Orang yang Tidur dan Lupa Diperintahkan Mengganti Shalatnya

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Barangsiapa yang lupa mengerjakan shalat, hendaknya dia mengerjakannya pada saat teringat. Tidak ada kafarat baginya, kecuali hanya itu saja.” (HR Al Bukhari)

Dalam riwayat lain, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Barangsiapa lupa mengerjakan shalat atau tertidur sehingga tidak mengerjakannya, maka kafaratnya adalah mengerjakannya ketika ia mengingatnya.” (Muttafaqun ‘Alaih)

referensi: firmadani

YouTube Channel Lampu Islam: youtube.com/ArceusZeldfer
Facebook Page: facebook.com/LampuIslam

Saturday, August 31, 2013

Kisah Kehebatan Shalat Dhuha

 
Bismillahir-Rahmaanir-Rahim ... Melaksanakan Sholat Dhuha Mempermudah Datangnya Rizki, Sebuah testimoni tentang kehebatan sholat Dhuha, ikuti kisahnya sebagai berikut: Lelaki yang akan diceritakan dibawah ini hanyalah seorang yang tidak tammat SD. Sekolahnya hanya kelas 3 SD saja.

Ia pergi ke kota untuk mengadu nasib sebagai tukang pipa air. Keahlian sebagai tukang pipa air ini diperolehnya dari kakak iparnya. Di kota besar ia berkeliling naik sepeda angin menawarkan jasanya ke rumah-rumah. Hal itu ia lakukan selama dua tahun.

Suatu hari, ketika waktu dhuhur ia berhenti di sebuah masjid untuk melakukan sholat. Kebetulan disana ada pengajian singkat. Dia mengikutinya. Ceramah yang ia dengarkan tentang kemuliaan sholat dhuha. Semenjak itu, ia tidak pernah meninggalkan sholat dhuha.

Waktu demi waktu, pekerjaan sebagai tukang pipa air dan sumur bor semakin hari semakin ramai. Ia memiliki anak buah. Semakin lama semakin ia rasakan kemajuan. Meskipun tenggelam dalam kesibukan di kota, namun ia tidak pernah mengabaikan sholat dhuha.

Pada suatu hari ia bertemu dengan seorang kontraktor perumahan. Ia mendapat penawaran dari kontraktor itu untuk membuat 5000 sumur bor.

Mulanya ia ragu-ragu karena tidak punya modal. Namun setelah mengeluh kepada Allah setelah sholat dhuha, ternyata ada jalan lapang yaitu Kontraktor tersebut berkenan mambayar uang muka 50 % persen dari total biaya yang telah disepakati dan 50 % lagi akan dilunasi saat sumur bor telah selesai pengerjaannya.

Proyek selesai dan ia mendapatkan keuntungan besar. Semenjak itu ia berkeliling tidak lagi menggunakan sepeda angin tetapi ia telah dapat membeli mobil dan rumah. Pekerjaan cukup diserahkan kepada anak buah.

Dalam kurun 2 tahun, ia menjadi miyarder. Proyek besar berpihak kepadanya dengan memenangkan tender. Hingga suatu hari sebuah perusahaan rokok terkenal memberi proyek pengeboran air tanah. Sebenarnya sudah sepuluh kontraktor lain telah mencobanya tetapi selalu gagal.

Mulanya ia ragu menerima tawaran besar itu, namun akhirnya diserahkan nasib dan semua urusan kepada Allah. Ia mengerjakan pekerjaan tersebut. Sebelum memulai pekerjaan, semua anak buahnya diminta untuk terlebih dahulu mengerjakan sholat dhuha.

Hasilnya luar biasa. Setelah pengeboran berlangsung satu minggu, air tanah yang berkualitas didapatinya. Pemilik perusahaanpun merasa puas.

Tahukan anda berapa ia mendapat pembayaran itu ? Dua lobang sumur bor berikut dengan jaringannya, ia menerima uang sebanyak dua milyar. Pekerjaan itu hanya butuh waktu dua bulan. Subhanallah ... Luar biasa ..

(Dikutip dari Buku :Bertambah Kaya Lewat Sholat Dhuha)

.... Segala puji bagi Allah, yang dengan nikmat-Nya sempurnalah semua kebaikan ....
 
YouTube Channel Lampu Islam: youtube.com/ArceusZeldfer
Facebook Page: facebook.com/LampuIslam

Wednesday, August 21, 2013

Lebih Memilih Mercedez Benz daripada Shalat Fajar

Bayangkanlah misalnya kita membeli sebuah mobil Mercedes Benz C-Class atau Mercedes Benz S-Class. Kedua mobil ini merupakan mobil mewah dengan segala fitur-fiturnya seperti kursi yang nyaman,  setir yang nyaman, dan sebagainya. Mobil itu kita parkir di halaman rumah kita. 

Tiba-tiba pada hari berikutnya, mobilnya hilang. Jadi secara otomatis kita akan menghubungi pihak asuransi. Namun jika mobilnya tidak diasuransikan, maka hati kita merasa hancur, bahkan kita akan menangisi hilangnya mobil kita.

Padahal kita sendiri telah meninggalkan shalat sunnah fajar selama sepuluh tahun, tapi kita sama sekali tidak tersentuh karenanya. Rasulullah S.A.W pernah bersabda “dua raka’at shalat sunnah fajar lebih baik daripada dunia seisinya.”

Tapi kita lihat umat Muslim zaman sekarang tidak melakukannya hari demi hari. Kita menganggapnya bukan masalah, karena ini hanya shalat sunnah. Tapi jika mobil atau harta benda kita dicuri seseorang, terasa begitu menyakitkan. Kenapa bisa begitu? Karena hati ini telah terisi dengan cinta kepada dunia, tapi tidak pernah terisi dengan cinta kepada Allah.

Ayo Subscribe ke YouTube Channel Lampu Islam: youtube.com/arceuszeldfer
Ayo Like Facebook Page-nya: Lampu Islam

Tuesday, August 13, 2013

Hubungan Seorang Hamba dengan Allah Ketika Shalat

Siapa pun tidak boleh meninggalkan shalat, karena dalam shalat, ada permintaan dari Allah. Ketika shalat, hanya ada antara Allah dan diri kita, tidak ada orang lain. Aku akan memberikan contohnya.

Ketika istri kita berbicara dengan kita dan handphone kita tiba-tiba berdering, istri kita berkata “Benar-benar mengganggu. Kapan kau mau mematikannya?"

Ambil contoh lainnya, ada gelas yang kosong. Ketika gelas itu kita balikkan, apakah ada air yang tumpah? Inilah yang disebut Faaragh dalam bahasa Arab: Mengosongkan sesuatu hingga tidak ada yang tersisa.

Jadi Allah berfirman: “Jika kau datang kepada-Ku, kosongkanlah hatimu seperti ini.” Dan apakah kalian tahu kepada siapa Dia berfirman? Kepada nabi-Nya terkasih, Muhammad S.A.W.

Nabi Muhammad S.A.W. tidak boleh memikirkan dunia, tidak boleh memikirkan istrinya atau anak-anaknya ketika shalat, selain Allah tidak ada siapapun.

Para ulama menulis, di dalam hati Rasulullah S.A.W., ada satu kesedihan. Dan itulah kesedihan karena menginginkan manusia mengikuti petunjuk dari Allah. Karenanya, dia sering menangis. Allah berfirman bahwa Nabi Muhammad boleh mengkhawatirkan keselamatan umat manusia dan berduka untuk orang-orang kafir, namun ketika shalat, bahkan hal tersebut harus dikosongkan dari hatinya.

Ada sebagian orang yang tidak shalat sama sekali. Dan sayangnya bagi orang yang melakukan shalat, mereka sama sekali tidak punya keinginan untuk memperbaiki shalatnya. Keinginan seorang wanita adalah agar rumahnya dihias. Karangan bunganya harus diletakkan seperti ini, disana harus ada meja, harus ada sofa, harus ada vas bunga, harus ada lukisan yang terpajang di dinding. Bahkan para pria juga ingin macam-macam: ingin pekerjaan yang bagus, ingin mobil yang bagus, ingin jas yang bagus.

Allah juga berkata, mari kita hubungkan dengan hadist... “Wahai keturunan Adam, lihatlah bagaimana kalian mempercantik diri untuk orang lain. Percantiklah juga diri kalian untuk-Ku.”

Ketika kita pergi menemui orang, kita berpakaian yang bagus. Jika kita mau, kita bisa datang dengan bajuku yang biasa, apa bedanya? Kalian datang untuk bertemu orangnya, bukan bajunya. Tapi dalam pikiran seseorang: “Aku akan bertemu orang-orang, jadi aku harus berpakaian rapi.” Jadi Allah menegur kita “Wahai ciptaan-Ku, kalian mempercantik diri untuk orang lain, percantik jugalah dirimu untuk-Ku.”

Setiap helai dedaunan memuji Allah. Ketujuh langit dipenuhi oleh malaikat yang bersujud kepada-Nya. Tapi Allah berfirman kepada kita “Kalian (manusia) sujudlah kepada-Ku, karena sujud kalian paling menyenangkan bagi-Ku. Ketika kalian menempatkan kepala di lantai dan berkata Subhana rabbiyal a’laa, maka Aku menjadi bahagia.” Apa yang diminta dari setiap pria dan wanita? Lakukanlah ibadah kalian dengan pikiran yang kosong dari hal-hal duniawi. Shalat seperti ini harus dipelajari. Mereka yang tidak khusyuk tidak sadar sedang berdiri di hadapan siapa.

Kesimpulan dari kehidupan Rasulullah adalah 2 hal yang dia ucapkan sebelum meninggalkan dunia ini. “Wahai umatku, jangan lupakan shalat.” Perkara lainnya dilakukan perlahan-lahan, tapi 2 hal yang harus kalian pelajari dan lakukan, agar keimanan menjadi penuh adalah:

1. Melakukan shalat
2. Menyempurnakan akhlaq.

YouTube Channel Lampu Islam: youtube.com/ArceusZeldfer
Facebook Page: facebook.com/LampuIslam

Friday, August 9, 2013

Ketika Iblis Menggunakan Sajadah untuk Mengganggu Manusia

Siang menjelang Dzuhur. Salah satu Iblis ada di Masjid. Kebetulan hari itu Jum'at, saat berkumpulnya orang. Iblis sudah ada dalam Masjid. Ia tampak begitu khusyuk. Orang mulai berdatangan. Iblis menjelma menjadi ratusan bentuk & masuk dari segala penjuru, lewat jendela, pintu, ventilasi, atau masuk lewat lubang pembuangan air.

Pada setiap orang, Iblis juga masuk lewat telinga, ke dalam syaraf mata, ke dalam urat nadi, lalu menggerakkan denyut jantung setiap para jamaah yang hadir. Iblis juga menempel di setiap sajadah. “ "Hai, Blis!", panggil Kiai, ketika baru masuk ke Masjid itu. Iblis merasa terusik: “ "Kau kerjakan saja tugasmu, Kiai. Tidak perlu kau larang-larang saya. Ini hak saya untuk menganggu setiap orang dalam Masjid ini!", jawab Iblis ketus.

“Ini rumah Tuhan, Blis! Tempat yang suci, Kalau kau mau ganggu, kau bisa diluar nanti! “ , Kiai mencoba mengusir.“ 

"Kiai, hari ini, adalah hari uji coba sistem baru. Saya sedang menerapkan cara baru, untuk menjerat kaummu."
“"Dengan apa?"“ 
"Dengan sajadah!"
"Apa yang bisa kau lakukan dengan sajadah, Blis?"
"Pertama, saya akan masuk ke setiap pemilik saham industri sajadah. Mereka akan saya jebak dengan mimpi untung besar. Sehingga, mereka akan tega memeras buruh untuk bekerja dengan upah di bawah UMR, demi keuntungan besar!"
"Ah, itu kan memang cara lama yang sering kau pakai. Tidak ada yang baru,Blis?"
"Bukan itu saja Kiai..."
"Lalu?"
"Saya juga akan masuk pada setiap desainer sajadah. Saya akan menumbuhkan gagasan, agar para desainer itu membuat sajadah yang lebar-lebar."
"Untuk apa?"
"Supaya, saya lebih berpeluang untuk menanamkan rasa egois di setiap kaum yang kau pimpin, Kiai! Selain itu, Saya akan lebih leluasa, masuk dalam barisan sholat. Dengan sajadah yang lebar maka barisan shaf akan renggang. Dan saya ada dalam kerenganggan itu. Di situ Saya bisa ikut membentangkan sajadah."

Dialog Iblis dan Kiai sesaat terputus. Dua orang datang, dan keduanya membentangkan sajadah. Keduanya berdampingan. Salah satunya, memiliki sajadah yang lebar. Sementara, satu lagi, sajadahnya lebih kecil.

Orang yang punya sajadah lebar seenaknya saja membentangkan sajadahnya, tanpa melihat kanan-kirinya. Sementara, orang yang punya sajadah lebih kecil, tidak enak hati jika harus mendesak jamaah lain yang sudah lebih dulu datang. Tanpa berpikir panjang, pemilik sajadah kecil membentangkan saja sajadahnya, sehingga sebagian sajadah yang lebar tertutupi sepertiganya.

Keduanya masih melakukan sholat sunnah.

“"Nah, lihat itu Kiai!", Iblis memulai dialog lagi.
“"Yang mana?"
"Ada dua orang yang sedang sholat sunnah itu. Mereka punya sajadah yang berbeda ukuran. Lihat sekarang, aku akan masuk diantara mereka."

Iblis lenyap. Ia sudah masuk ke dalam barisan shaf.

Kiai hanya memperhatikan kedua orang yang sedang melakukan sholat sunah. Kiai akan melihat kebenaran rencana yang dikatakan Iblis sebelumnya. Pemilik sajadah lebar, rukuk. Kemudian sujud. Tetapi, sembari bangun dari sujud, ia membuka sajadahya yang tertumpuk, lalu meletakkan sajadahnya di atas sajadah yang kecil. Hingga sajadah yang kecil kembali berada di bawahnya. Ia kemudian berdiri. Sementara, pemilik sajadah yang lebih kecil, melakukan hal serupa. Ia juga membuka sajadahnya, karena sajadahnya ditumpuk oleh sajadah yang lebar. Itu berjalan sampai akhir sholat.

Bahkan, pada saat sholat wajib juga, kejadian-kejadian itu beberapa kali terihat di beberapa masjid. Orang lebih memilih menjadi di atas, ketimbang menerima di bawah. Di atas sajadah, orang sudah berebut kekuasaan atas lainnya. Siapa yang memiliki sajadah lebar, maka, ia akan meletakkan sajadahnya diatas sajadah yang kecil. Sajadah sudah dijadikan Iblis sebagai pembedaan kelas.

Pemilik sajadah lebar, diindentikan sebagai para pemilik kekayaan, yang setiap saat harus lebih di atas dari pada yang lain. Dan pemilik sajadah kecil, adalah kelas bawah yang setiap saat akan selalu menjadi sub-ordinat dari orang yang berkuasa.

Di atas sajadah, Iblis telah mengajari orang supaya selalu menguasai orang lain. “ Astaghfirullahal adziiiim “ , ujar sang Kiai pelan.

Sumber: milis An-Nuur

Saturday, July 27, 2013

Melaksanakan Shalat Hingga Nafas Terakhir Kita

Bagaimana Umar ibn Khatab R.A.meninggal? Dia ditusuk ketika sedang mengimami shalat subuh. Riwayatnya mengatakan bahwa Umar R.A. perutnya terluka sangat parah, perutnya bolong. Dan dia terbaring dan terus berdarah, dia berulangkali kehilangan kesadaran.

Kemudian ketika dia sedang berada dalam kondisi seperti itu, dia mendengar suara adzan. Dan dia mulai bangkit! Semua orang di sekitarnya terkejut “Tunggu dulu. Kau mau kemana?” Dia berkata “Aku harus pergi shalat. Sudah adzan!” Dan mereka berkata “Tapi kau sedang sekarat! Perutmu berlubang! Apa maksudmu kau mau shalat?” Umar berkata “Aku ingat bahwa Rasulullah S.A.W. bersabda “tidak ada agama bagi orang yang tidak shalat.” Bahwa shalat bagaikan kepala dari tubuh. Jadi aku harus pergi dan shalat.”

Inilah komitmen yang dimiliki orang-orang terdahulu, mereka harus shalat. "Selama aku hidup, aku harus melakukan shalat." Itulah komitmen dan koneksi yang mereka miliki berkenaan dengan shalat.
Aku akan mengutip ayat dari surat Maryam, ayat 31:

“dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) shalat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup.”

Inilah yang diucapkan oleh Isa A.S. Ini merupakan sebuah pengingat yang sangat kuat, tentang bagaimana caranya bersikap terhadap shalat, bagaimana kita berpikir tentang shalat, dan bagaimana kita melaksanakan shalat dalam hidup kita.

Kalian lihat sendiri, kita diperintahkan beribadah, ayatnya “selama aku hidup” Hingga nafas terakhirku, maka aku harus shalat. Ini berarti tidak peduli apa yang menimpa, shalat adalah sesuatu yang harus aku lakukan hingga nafas terakhirku. Aku akan terus melakukan shalat hingga maut menjemput.

Dan Rasulullah S.A.W. mencontohkan hal ini, dia sendiri melakukannya.Jadi ini bukan hanya kata pepatah yang indah, bukan hanya sebuah slogan yang indah, karena Nabi Muhammad S.A.W. melakukannya.

Sekitar seminggu sebelum Rasulullah S.A.W. meninggal, dia sakit parah. Dan Rasulullah S.A.W. tidak bisa berdiri, apalagi berjalan. Jadi Rasulullah S.A.W., apa yang dilakukannya? Rasulullah mengirim dua orang sahabat, yang datang ke rumahnya. Mereka membawanya, mereka menaruh melingkarkan tangannya di pundak mereka, dan mereka benar-benar membawa Rasulullah untuk menunaikan shalat. Jadi Rasulullah tetap pergi shalat dalam kondisi seperti ini. Hal ini mengajarkan kita, bahwa kita harus shalat hingga nafas terakhir.


Ayo Subscribe ke YouTube Channel Lampu Islam: youtube.com/arceuszeldfer
Ayo Like Facebook Page-nya: Lampu Islam

Saturday, July 13, 2013

Manfaat dan Keutamaan Shalat Tarawih

Hukum dan Keutamaan Shalat Tarawih

Seluruh ulama sepakat menyatakan bahwa shalat tarawih hukumnya sunnah, bahkan menurut Hanafiyah, Hanabilah dan beberapa Malikiyah hukumnya sunnah muakkadah (ditekankan). Hukum itu mencakup laki-laki dan perempuan.

Shalat tarawih termasuk salah satu syiar agama Islam. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Sesungguhnya Allah mewajibkan puasa Ramadan dan aku menyunnahkan bangun (shalat di malam hari)nya.” Abu Hurairah berkata, “Dahulu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menganjurkan shalat tarawih tanpa memaksa.” Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa bangun pada bulan Ramadan dengan penuh keimanan dan rasa harap, maka Allah akan mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu." 

Tarawih Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam

Imam As-Suyuthi rahimahullah berkata, “Hadis-hadis yang shahih dan hasan menunjukkan perintah dan anjuran untuk shalat tarawih tanpa dibatasi berapa jumlah rakaatnya. Tidak ada yang menyebutkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam shalat tarawih sebanyak 20 rakaat. Beliau hanya melakukan shalat pada malam-malam Ramadan tanpa disebutkan berapa jumlah rakaatnya.”

Ibnu Hajar Al-Haitami rahimahullah juga mengungkapkan pernyataan senada, “Tidak ada riwayat shahih bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam shalat tarawih sebanyak 20 rakaat. Riwayat yang menyebutkan bahwa beliau shalat tarawih sebanyak 20 rakaat sangatlah lemah.”


Niat Melaksanakan Shalat Tarawih

Jika anda akan melaksanakan Shalat Tarawih maka harus berniat. Niatnya sebagai berikut:

Ushalli sunnatat taraawiihi rakataini (mamuman/imaaman) lillahi taaalaa
Artinya: Aku niat Shalat Tarawih dua rakaat ( menjadi makmum/imam) karena Allah Taala


Keutamaan Shalat Tarawih di Bulan Ramadhan

Sayyidina Ali bin Abi Thalib berkata bahwa Nabi pernah ditanya tentang Keutamaan Shalat Tarawih Di Bulan Ramadhan. Nabi menjawab dengan sabdanya sebagai berikut :

1. Di malam pertama, Orang mukmin keluar dari dosanya , seperti saat dia dilahirkan oleh ibunya.
2. Di malam kedua, ia diampuni, dan juga kedua orang tuanya, jika keduanya mukmin
3. Di malam ketiga, seorang malaikat berseru dibawah Arsy: Mulailah beramal, semoga Allah mengampuni dosamu yang telah lewat.
4. Di malam keempat, dia memperoleh pahala seperti pahala membaca Taurat, Injil, Zabur, dan Al-Furqan Al-Quran.
5. Di malam kelima, Allah Taala memeberikan pahala seperti pahala orang yang shalat di Masjidil Haram, masjid Madinah dan Masjidil Aqsha.
6. Di malam keenam, Allah Taala memberikan pahala orang yang berthawaf di Baitul Makmur dan dimohonkan ampun oleh setiap batu dan cadas.
7. Di malam ketujuh, seolah-olah ia mencapai derajat Nabi Musa a.s. dan kemenangannya atas Firaun dan Haman.
8. Di malam kedelapan, Allah Taala memberinya apa yang pernah Dia berikan keDi Nabi Ibrahim as
9. Di malam kesembilan, seolah-olah ia beribadat keDi Allah Taala sebagaimana ibadatnya Nabi saw.
10. Di malam kesepuluh, Allah Taala mengaruniai dia kebaikan dunia dan akhirat.
11. Di malam kesebelas, ia keluar dari dunia seperti saat ia dilahirkan dari perut ibunya.
12. Di malam kedua belas, ia datang pada hari kiamat wajahnya bagaikan bulan di malam purnama.
13. Di malam ketigabelas, ia datang Di hari kiamat dalam keadaan aman dari segala keburukan.
14. Di malam keempat belas, para malaikat datang seraya memberi kesaksian untuknya, bahwa ia telah melakukan shalat tarawih, maka Allah tidak menghisabnya Di hari kiamat.
15. Di malam kelima belas, ia didoakan oleh para malaikat dan para penanggung (pemikul) Arsy dan Kursi.
16. Di malam keenam belas, Allah menerapkan baginya kebebasan untuk selamat dari neraka dan kebebasan masuk ke dalam surga.
17. Di malam ketujuh belas, ia diberi pahala seperti pahala para nabi.
18. Di malam kedelapan, belas, seorang malaikat berseru, Hai hamba Allah, sesungguhnya Allah ridha kedirimu dan ke ibu bapakmu.
19. Di malam kesembilan belas, Allah mengangkat derajat-derajatnya dalam surga Firdaus.
20. Di malam kedua puluh, Allah memberi pahala para Syuhada (orang-orangyang mati syahid) dan shalihin (orang-orang yang saleh).
21. Di malam kedua puluh satu, Allah membangun untuknya gedung dari cahaya.
22. Di malam kedua puluh dua, ia datang Di hari kiamat dalam keadaan aman dari setiap kesedihan dan kesusahan.
23. Di malam kedua puluh tiga, Allah membangun untuknya sebuah kota di dalam surga.
24. Di malam kedua puluh empat, ia memperoleh duapuluh empat doa yang dikabulkan.
25. Di malam kedua puluh lima, Allah Taala menghapuskan darinya azab kubur.
26. Di malam keduapuluh enam, Allah mengangkat pahalanya selama empat puluh tahun.
27. Di malam keduapuluh tujuh, ia dapat melewati shirath Di hari kiamat, bagaikan kilat yang menyambar.
28. Di malam keduapuluh delapan, Allah mengangkat baginya seribu derajat dalam surga.
29. Di malam kedua puluh sembilan, Allah memberinya pahala seribu haji yang diterima.
30. Di malam ketiga puluh, Allah ber firman : Hai hamba-Ku, makanlah buah-buahan surga, mandilah dari air Salsabil dan minumlah dari telaga Kautsar. Akulah Tuhanmu, dan engkau hamba-Ku.

YouTube Channel Lampu Islam: youtube.com/arceuszeldfer
Facebook Page: facebook.com/LampuIslam

Sumber: kaskus

Sunday, July 7, 2013

Manfaat Shalat Tahajjud

Bagi umat Muslim mungkin sudah tidak asing lagi dengan ‘shalat tahajud’. Tiap kali ditanya apa itu shalat tahajud pasti dijawab “shalat tahajud adalah shalat yang dilakukan sepertiga malam”. Itu betul sekali, namun yang pasti bukan masalah pengertian tahajud yang ingin dibahas dalam tulisan ini melainkan manfaat dari shalat tahajud itu sendiri.

Sangat disayangkan jika pemahaman Muslim tentang shalat tahajud hanya dianggap sebagai suatu ibadah saja tanpa mengetahui adanya kebaikan dan kelebihan yang bisa diperoleh oleh kita. Lalu apakah kebaikan dan kelebihan yang kita peroleh dari mengerjakan sholat tahajud sementara yang lain sedang nyenyak tidur?
Dari sisi logis, mungkin kita tidak mengerti bahwa perintah Allah itu mendatangkan kebaikan. Sesungguhnya Shalat tahajud meneguhkan iman kita, jiwa kita, mental kita untuk menghadapi masalah hidup duniawi dan lain-lain.

Kemudian dari sisi sains pengobatan, kita akan menghirup oksigen di atmosfer bumi sekitar pukul 03.00 hingga terbit matahari sehingga ketika menggerakkan otot-otot yang berada dalam tubuh kita maka akan membuat badan kita segar dan melancarkan aliran darah di tubuh kita. Oksigen akan hilang dari atmosfer bumi selepas matahari terbit dan tidak datang lagi sampai besok pagi. Hanya manusia yang bangun pada waktu ini yang dapat menikmati oksigen tersebut.

Coba kita kaji pergerakan otot-otot kita ketika shalat.
Secara kasar, pertama kita berdiri tegak kemudian mengangkat kedua tangan (bertakbir) dan meletakkan tangan di atas dada. Gerakan-gerakan tersebut telah membesarkan rongga dada kita sehingga paru-paru akan terasa lapang.

Ketika sujud, seluruh berat badan tertumpu sepenuhnya di atas otot-otot kedua tangan, kaki. Dalam gerakan ini banyak otot persendian yang kita gerakan diantaranya dada, perut, punggung, leher dan otot-otot kaki.

Setelah itu kita bangkit dari sujud. Kita duduk, kemudian kita sujud lagi dan sesudah itu kita berdiri kembali. Dalam gerakan kali ini secara otomatis kita telah menggerakkan sejumlah besar otot-otot di dada , bahu, lengan, perut, punggung, paha, kaki bagian bawah dan otot-otot lainnya.

Selain itu kita juga melakukan dua jenis duduk, pertama duduk antara dua sujud dan kedua duduk tasyahud. Kedua jenis duduk ini menggerakkan tumit , pangkal paha, selangkangan, jari-jari kaki dan lain-lain. Ketika kita memberi salam, kita menggerakkan otot-otot leher tengkuk dan lain-lain.

Kalau kita lihat dari dua hal di atas yaitu menghirup oksigen yang keistimewaan gerakan-gerakan shalat, semuanya itu sudah tentu akan menyehatkan tubuh kita. Shalat Tahajud bisa juga menjauhkan penyakit pinggang yang selalu menyerang orang yang banyak tidur dan bangun lewat dari tidur malam.

--- Semoga Bermanfaat ---
 
Sumber: Sudah Tahukah Anda
 
YouTube Channel Lampu Islam: youtube.com/arceuszeldfer
Facebook Page: Lampu Islam

Wednesday, July 3, 2013

10 Orang yang Shalatnya Tidak Diterima Allah S.W.T.

Rasulullah S.A.W. telah bersabda : "Sesiapa yang memelihara shalat, maka shalat itu sebagai cahaya baginya, petunjuk dan jalan selamat dan barangsiapa yang tidak memelihara shalat, maka sesungguhnya solat itu tidak menjadi cahaya, dan tidak juga menjadi petunjuk dan jalan selamat baginya." (Tabyinul Mahaarim)

Rasulullah S.A.W telah bersabda bahawa : "10 orang shalatnya tidak diterima oleh Allah S.W.T, antaranya:

1. Laki-laki yang solat sendirian tanpa membaca sesuatu.

2.
Laki-laki yang mengerjakan shalat tetapi tidak mengeluarkan zakat.

3.
Laki-laki yang menjadi imam, padahal orang yang menjadi makmum membencinya.

4.
Laki-laki yang melarikan diri.

5.
Laki-laki yang minum arak tanpa mahu meninggalkannya (Taubat).

6. Wanita yang suaminya marah kepadanya.

7.
Wanita yang mengerjakan solat tanpa memakai tudung.

8. Imam atau pemimpin yang sombong dan dzalim menganiaya.

9. Orang-orang yang suka makan riba'.

10. Orang yang shalatnya tidak dapat menahannya dari melakukan perbuatan yang keji dan mungkar."

Sabda Rasulullah S.A.W : "Barangsiapa yang shalatnya itu tidak dapat menahannya dari melakukan perbuatan keji dan mungkar, maka sesungguhnya shalatnya itu hanya menambahkan kemurkaan Allah S.W.T dan jauh dari Allah."

Hassan r.a berkata : "Kalau shalat kamu itu tidak dapat menahan kamu dari melakukan perbuatan mungkar dan keji, maka sesungguhnya kamu dianggap orang yang tidak mengerjakan shalat. Dan pada hari kiamat nanti shalatmu itu akan dilemparkan semula ke arah mukamu seperti satu bungkusan kain tebal yang buruk."




Ayo Subscribe ke YouTube Channel Lampu Islam: youtube.com/arceuszeldfer
Ayo Like Facebook Page-nya: Lampu Islam

Thursday, May 30, 2013

Agar Shalat Kita Khusyuk

Shalat berkenaan dengan masalah rohaniah. Shalat harus datang dari hati dan pikiran kita. Seorang muslim yang sukses seperti yang difirmankan Allah:

“Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu' dalam sembahyangnya." (Q.S. Al-Mu’miinun:1-2)

Mereka menunaikan shalat dengan benar dan khusyu’. Untuk mencapai khusyu’, kita harus tahu di hadapan siapa kita berdiri dan kata-kata apa yang kita ucapkan. Semua perasaan ini harus datang dari hati kita. Semakin banyak rasa ini tertanam dalam hati kita, maka akan semakin baik shalat kit. Sebaliknya, semakin lemah rasa dan pikiran ini, maka akan semakin lemah shalat kita.

Kebanyakan dari kita mengkhayal ketika shalat. Seharusnya pemikiran kita tidak boleh bercabang ketika shalat. Kenapa? Karena keinginan kita untuk shalat menjadi hilang, konsentrasi juga hilang, dan kita tidak memahami apa yang kita baca.

Cara memperkuat kekhusyukan adalah dengan memahami siapa Allah S.W.T. Kita harus sadar di hadapan siapa kita menghadap?

Allah S.W.T. tidak membutuhkan kita. Allah S.W.T. Maha Besar. Dia tidak perlu ibadah kita, Dia tidak perlu khusyuk kita, Allah tidak menunggu amal dari kita. Kerajaan dan kekuasaan Allah tidak bertambah karena dzikir, tasbih, rukuk, dan sujud kita. Kitalah yang butuh Allah. Kita seharusnya merasa terhormat. 

Pada saat kita mengucapkan takbir, seharusnya kita merasa terhormat karena Allah S.W.T. telah memberikan kita kesempatan untuk berbicara kepada-Nya. Inilah mengapa para ulama mengatakan “Siapapun yang mau berbicara dengan Allah, maka dia harus shalat.” Ketika kalian shalat, maka tidak ada pembatas antara kalian dengan Allah. 

Rasulullah S.A.W. bersabda dalam sebuah hadist sahih

“Tidak ada tempat untuk keempat jari di seluruh jagat raya ini, melainkan ada seorang malaikat yang sedang bersujud di hadapan Allah S.W.T.”

Di setiap empat jari, bermilyar-milyar malaikat terus-menerus memuji Allah S.W.T.

Allah S.W.T. berfirman bahwa ketujuh langit beserta isinya memuji Allah, baik itu butiran tanah, pepohonan, dan lain-lain. Tapi kita tidak mengerti, kita tidak bisa memahami dan mendengar pujian mereka.

Allah tidak membutuhkan kita, karena kebanyakan dari kita merasa berkewajiban untuk mengerjakan shalat. Kebanyakan dari kita shalat untuk memenuhi kewajiban kita.

Jika kalian berdiri di hadapan Allah dengan keinginan seperti ini, apakah kalian tidak sadar bahwa Allah S.W.T. mengetahui dengan jelas apa keadaan hati kalian pada saat itu? Rasa yang membuat kita merasa terbebani dengan kewajiban shalat bukanlah rasa yang benar. Kalian seharusnya merasa terhormat.

Demi Allah, ketika kita berdiri di hadapan orang yang kita takuti, misalnya hakim di pengadilan, seorang presiden, atau seorang perdana menteri. Ketika kita berhadapan dengan mereka, yang terjadi adalah, hati kalian mulai berdebar-debar. 

Ketika kalian berdiri di hadapan hakim dan dia akan memutuskan perkaranya, maka hati kalian mulai berdebar-debar. Kenapa? Karena kita sadar tentang siapa orang ini. “Aku tahu siapa dia, aku tahu apa wewenangnya, dia dapat menghancurkan hidupku.” Dan karena kita mengetahuinya, maka perasaan/emosi kita mulai meningkat.

Tapi masalahnya ketika kita berhubungan dengan Allah, maka perasaan ini tidak timbul. Kita berdiri di hadapan Allah, tapi malah berkhayal. Kita tahu bahwa Allah mengetahui apa yang ada di dalam hati kita. Tapi hal itu tidak menggerakkan apapun di dalam diri kita.

Ketika kita bermuram durja, ketika cobaan menerpa, maka shalat kita baru menjadi khusyuk. Selain daripada itu, shalat kita melenceng jauh dari yang seharusnya. Kenapa? Karena kita tidak sadar sedang berdiri di hadapan siapa.

Pemahaman bahwa Allah S.W.T. telah memberikan kalian kesempatan untuk berbicara dengan-Nya. Demi Allah saudara/saudariku, kita melihat umat muslim di dunia ini, ketika mereka bertemu dengan seorang aktor/aktris, maka mereka sangat bahagia karena bisa mendapatkan tanda tangannya. Mereka sangat terharu. 

Subhanallah, memangnya siapa orang ini? Bayangkan jika kalian bisa bertemu dengan Muhammad S.A.W., bagaimana perasaan kalian? Bayangkanlah Rasulullah S.A.W. bersabda “Aku akan memberikanmu 5 menit waktuku, datanglah temui diriku.” Apa yang akan kalian pikirkan? Akankah kalian mengkhayal? Akankah kalian duduk bersama Rasulullah tapi pikiran kalian memikirkan istri kalian? Akankah kalian duduk bersama Rasulullah S.A.W. tapi pikiran kalian tertuju kepada pekerjaan? Jelas tidak mungkin. Kenapa? Karena Nabi Allah ada disini. Kalian akan terbawa suasana, kalian akan fokus dalam situasi itu.

Tapi Subhanallah, kita berdiri di hadapan Allah 5 kali dalam sehari, tapi malah mengkhayal. Kenapa? Karena kita tidak sadar tentang siapa Allah sebenarnya. 

Dan betapa sabarnya Allah. Betapa Pengampunnya Allah S.W.T. Bayangkanlah, Allah S.W.T. mengetahui apa yang ada di hati kalian, tapi Dia memberi kalian segalanya. Dia memberikan kalian istri yang membuat kalian jadi sibuk, Dia memberikan kalian suami yang membuat kalian sibuk, Dia memberikan kalian pekerjaan yang membuatmu memikirkannya, Dia memberikan segala yang kalian pikirkan, yang menjauhkan kalian dari-Nya. Dia mengetahui itu, tapi Dia tetap sabar dengan kalian.

Sekarang, bayangkan seorang perdana menteri mengizinkan seorang rakyat jelata untuk menemuinya selama 5 menit. Tapi ketika rakyat jelata itu datang, dia masuk ke ruang kantornya, tapi dia malah bermain-main dengan barang-barang di kantornya dan melupakan sang perdana menteri. Apa yang akan terjadi setelahnya? Dia akan di blacklist. Dia tidak akan mendapatkan kesempatan untuk bertemu dengan sang perdana menteri lagi, karena dia telah diberi kesempatan, tapi tidak mau mengutarakan permasalahannya. Dia malah sibuk dengan hal lainnya. 

Begitu juga, bayangkanlah Allah S.W.T. Sang Raja dari segala raja. 5 kali dalam sehari menyediakan kalian kesempatan untuk berbicara dengan-Nya, untuk mengutarakan masalah kalian dengan-Nya, untuk memohon kepada-Nya, tapi kalian malah mengkhayal. Tapi Allah S.W.T. masih mempersilahkan kalian. Allah tidak mem-blacklist kalian. Allah Maha Sabar, Allah tetap menunggu kalian. 

Pembicara: Syekh Omar Elbana


Ayo Subscribe ke YouTube Channel Lampu Islam: youtube.com/arceuszeldfer
Ayo Like Facebook Page-nya: Lampu Islam

Saturday, January 26, 2013

Yang Harus Dilakukan Jika Meninggalkan Shalat Fardhu Karena Tertidur atau Lupa

Jika Saya Meniggalkan Satu Shalat Fardhu Atau Lebih Karena Tertidur Atau Lupa, Bagaimana Cara Saya Mengqadha' Shalat Yang Tertinggal? Apakah Saya Harus Mengerjakannya Ataukah Tidak, Atau Cukup Mengerjakan Shalat Yang Belum Tertinggal Waktunya, Ataukah Sebaliknya?

Jawaban:
Pertama kamu harus mengerjakan dulu shalat-shalat yang tertinggal itu kemudian baru mengerjakan shalat yang belum tertinggal waktunya dan tidak boleh kamu akhirkan pengqadha'annya. Telah menyebar di kalangan umum, jika ada orang yang ketinggalan shalat fardhu, dia mengqadha'nya bersama shalat fardhu yang sama pada hari berikutnya. Ini salah kaprah dan bertentangan dengan petunjuk Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam, baik petunjuk yang berupa perkataan maupun perbuatan.

Petunjuk Nabi yang berupa perkataan adalah diriwayatkan bahwa beliau Shallallahu Alahi wa Sallam bersabda, "Barangsiapa yang meninggalkan shalat karena tertidur atau lupa, maka hendaklah dia mengerjakannya ketika ingat."

Beliau tidak mengatakan, hendaklah dia mengerjakannya pada hari kedua jika datang waktunya, tetapi beliau bersabda, "Hendaklah dia mengerjakanya ketika ingat."

Sedangkan petunjuk Nabi yang berupa perbuatan adalah ketika beliau tertinggal beberapa shalat pada waktu Perang Khandaq, maka beliau mengerjakannya dulu sebelum mengerjakan shalat yang waktunya belum tertinggal. Ini menunjukkan bahwa jika seseorang memiliki tanggungan shalat yang tertinggal, maka dia harus mengerjakan dulu shalat yang tertinggal itu kemudian baru mengerjakan shalat yang waktunya belum tertinggal. Tetapi jika dia lupa sehingga telah mengerjakan dulu shalat yang waktunya belum tertinggal itu daripada shalat yang sudah tertinggal waktunya, atau karena tidak tahu, maka shalatnya tetap sah karena itu udzur baginya.

Pada kesempatan ini saya ingin mengatakan bahwa cara mengqadha' shalat itu dibagi menjadi tiga cara:
Pertama, mengerjakan langsung setelah udzurnya hilang; yaitu udzur mengakhirkan shalat lima waktu. Artinya jika udzur mengakhirkan shalat lima waktu itu hilang, maka dia wajib langsung mengqadha'nya.
Kedua, jika ketinggalan maka tidak dikerjakan tetapi dikerjakan penggantinya, yaitu shalat Jum'at. Jika seseorang datang ke masjid setelah imam selesai rakaat kedua, maka dia harus mengerjakan shalat Dzuhur, atau dia shalat bersama imam dengan niat shalat Dzuhur. Begitu juga orang yang datang setelah imam membaca salam, maka dia harus shalat Dzuhur. Adapun orang yang bisa mendapati rukuknya imam pada rakaat kedua, maka dia masih menemui shalat Jum'at atau menyempurnakan rakaat berikutnya setelah imam membaca salam.

Masalah ini tidak banyak diketahuhi manusia, karena itu, sebagian manusia ada yang datng ke masjid untuk shalat Jum'at ketika imam sudah selesai mengerjakan rakaat kedua, kemudian dia mengerjakan shalat dua rakaat dan menganggap dirinya mengerjakan shalat Jum'at, ini tidak benar. Tetapi jika seseorang datang setelah imam selesai mengerjakan rakaat kedua, maka dia tidak menemui shalat Jum'at, sehingga dia harus mengerjakan shalat Dzuhur, karena Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam bersabda,

"Barangsiapa yang sempat sembahyang satu rakaat bersama imam, maka berarti dia sudah mendapat ganjaran pahala sembahnyang tersebut (pahala sembahyang berjamaah)."
 (Al-Bukhari. Ditakhrij oleh Al-Bukhori, kitab Mawaqit Ash-Shalah, bab "Man Adraka min Ash-Shalah Rak'atan ", dan Muslim, kitab Al-Masajid, bab "Man Adraka Rak'atan.")

Artinya orang yang hanya sempat sembahyang lebih sedikit dari satu rakaat bersama imam maka dia tidak mendapat ganjaran pahala sembahyang berjamaah tersebut. Jika seseorang tidak menemui shalat Jum'at maka harus mengqadha'nya dengan shalat Dzuhur. Maka dari itu, diwajibkan bagi wanita-wanita di rumah dan orang-orang yang sakit sehingga tidak bisa shalat Jum'at, agar mereka mengerjakan shalat Dzuhur, bukan shalat Jum'at. Jika mereka shalat Jum'at dalam keadaan seperti itu, maka shalatnya batal dan tertolak.

Ketiga, shalat yang apabila ketinggalan, tidak diqadha' kecuali pada waktu yang sama pada hari pada hari berikutnya, yaitu shalat 'Ied jika tidak diketahui kecuali setelah matahari condong ke barat, maka menurut ahlul ilmi, harus dikerjakan pada hari berikutnya pada hari yang sama.

Dengan demikian, cara mengqadha' shalat itu ada tiga,
Pertama, shalat yang diqadha' langsung setelah uzurnya hilang yaitu shalat lima waktu, shalat witir, dan shalat sunnah lainnya yang dibatasi dengan waktu.

Kedua, shalat yang diqadha' dengan cara mengerjakan penggantinya, seperti shalat Jum'at jika ketinggalan maka diqadha dengan shalat Dzuhur.

Ketiga, diqadha' dengan shalat yang sama tetapi pada hari berikutnya dia waktu yang sama, yaitu shalat 'Ied, jika ketinggalan hingga matahari condong ke barat, maka dikerjakan pada hari berikutnya di waktu yang sama.

Sumber: Syaikh Muhammad bin Shaleh Al-Utsaimin, Fatawa arkaanil Islam atau Tuntunan Tanya Jawab Akidah, Shalat, Zakat, Puasa, dan Haji, terj. Munirul Abidin, M.Ag. (Darul Falah 1426 H.), hlm. 308
Ayo Subscribe ke YouTube Channel Lampu Islam: youtube.com/arceuszeldfer
Ayo Like Facebook Page-nya: Lampu Islam

Baca juga:
Hukum Tidak Selesai Membaca Al-Fatihah dalam Shalat Karena Imam Telah Rukuk