Sunday, October 16, 2011

***Rintik-Rintik Itu Merindukan Kami Lagi...^_^ ***

Bismillaah....

Assalamu'alaikum Warahmatullah Wabarakaatuh...
**Ahad, 09 oktober 2011

Subhanallah....

Masih teringat beberapa bulan lalu,, di hari yang sama, pagi itu hatiku masih diselimuti dengan perasaan yang begitu was-was, apakah pertemuan yang telah ditunggu-tunggu selama itu akan bisa kurasakan hangatnya? pertemuan dengan kawan-kawan pelangi yang ku rangkai sendiri, si-Ungu, Merah, Orange, Jingga, Tosca, dan semua warna-warna uniq itu....

Dan ternyata..
akupun mampu meneropong mereka, satu-persatu... Ya Rabbi..Kesempatan yang sungguh begitu indah bagiku.. bertemu dengan mereka rasanya, bagaikan bertemu dengan semangat baru..!!! yang tanpa aku sadari, akupun menjadi sangat menyayangi mereka karena Allah, layaknya menyayangi diriku sendiri ^_^ Subhanallah...

Pertemuan itu, adalah pertemuan pertama yang menyisakan banyak rasa, yang sebenarnya tak mudah kuhapus hingga saat ini.. mulai dari deg-degan,, penasaran, haruu..dan bagahia.. intinya aku hanya ingin pertemuan selanjutnya, itu saja..Meskipin kala itu pertemuan kami ditemani oleh rintik-rintik ^_^

 (KOPDAR PART#1 @ KEBUN RAYA BOGOR. Ahad, 17 Juli 2011)


Sempat aku mengira bahwa, pertemuan pertama itu adalah pertemuan yang mungkin hanya terjadi untuk tahun ini. dan akan kembali terulang di tahun berikutnya,, tapi ternyata...TIDAK....!!!!

                                                        ****Flashbackceritanya:)****

KOPDAR....KOPDAR....KOPDAR...!!!!

Hahaha...
Ternyata, kata-kata itu masih belum bosan menghampiri memory otak kami para RMers, memenuhi setyap postingan atau inbox di Rumah 1, maupun Rumah ke-2 kami ^_^
haha.. jika kopdar pertama sang provokatornya adalah kang Aditya Matahari, ternyata untuk kali ini, si teteh Orange lah sang provokatornya...xixiix Teh Rhepiana Merli..
dengan jarak waktu secepat itu. yaitu antara bulan Juli dan bulan Oktober, KOPDAR part#2 akan segera kami gelar....!!!!

Wuiihh... Rameeennyyaa...
Dengan ke-sigappannya panitia acara KOPDAR part#2 pun segera disusun. mulai dari, Ketua Umum kita Kang Muhammad Taufik N.a, seksi konsumsi Teh Rhepiana Merli, seksi kreative Kang Miftahul falah dan teh Bonit Notz, serta seksi sibuk saya sendiri.. Anna AQyuan Nies..
Team berusaha semaximal mungkin menyusun acara sedemikian rupa, agar KOPDAR kali ini berjalan jauh lebih baik dan jauh lebih berkesan dari KOPDAR sebelumnya, para panitia memusyawarahkan semua sisi, mulai dari survey tempat oleh Pak KetUm sendiri, kang Opik, konsumsi yang alhamdulillah langsung di-handle oleh Teh Rhepi,, spanduk oleh kang Miftah serta teh Bonit, sertivikat RUMI AWARDs oleh teh Bonit, dan souvenirjuga oleh teh Rhepi..(hmmm...kalau difikir kembali ana malu tidak bisa membantu apa-apa selain do'a... :(


Beberapa kali syuro kecil-kecilan digelar, meski jarang sekali langsung bergabung serempak dalam satu media dikarenakan beberapa hal. kami tetap melaksanakannya dengan berbagai cara, mulai dari sms, telp, YM, inbox FB pokonya gedar-gedor sana sini....
Beberapa x ada gedor-gedor dari teh Bon "Tink Tonk..Tink Tonk.....Niiiinniiiiiss.....!!!
ada juga dari teh Rhepi "Ukhtiii Maniiisss....!!!
xixiixi LUcu.. :D

Beberapa pekan sebelum hari H kami mencoba memikirkan kira-kira selipan acara seperti apa yang bisa membuat acara ini lebih berkesan dari kopdar sebelumnya.. ide-ide itu lambat laun mulai muncul..bahkan di waktu-waktu terakhir menjelang hari H. beberapa ide itu adalah.. #RUMI AWARDS# dan #RM's GOT TALENT'S#
Acara-acara seperti diatas mulai dipostingkan ke group WRM (sekarang diganti nama sama pak RT nya, jd Ruang Muslim aja. eh Ruang Muslim. tanpa aja.. ^_^

Sebenarnya beberapa hari sebelum hari H, kamu khususnya aku sendiri optimis sekali acara ini akan sukses dan ramai. karna belum sepekan undangan disebar sudah ada yg izin untuk tidak hadir, mulai dari kang Rusyda, Teh Chaca, Teh Ayu dan lain-lain.... hikz rasanya sediiihh bangett... dan satu hal yang membuat kami sedih adalah karena dana untuk acara ini belum ada yang masuk ke Rek panitia sama sekali, rabbi bagaimana ini :( namun teh bonit selalu menyemangati.."LANJUTKAAAANNNNN....!!!!"
Okke, aku pun berusaha untuk fokus untuk persiapan acara, dan juga fokus pada RUMI AWARDS yang aku handle. dan disinilah hiburan selanjutnya aku dapatkan...
bagaimana tidak, beberapa kali RMer yg memberikan suaranya untuk RUMI AWARDs ini nama ku hampir selalu muncul, dan anehnya hampir di semua kategori kecuali misterius... owalah.. xixiix katanya ana Heboh, tp ada yg bilang ana pemalu, katanya ana gokil, tp ada yang bilang ana pendiam, katanya ana polos, tp ....katanya ana... tapii....katanya....dan katanya........tapiiiiiiiiiiii................xixiixix.......^_^
biarlah, ketika kalian melihat aku secara langsung, atau berkomunikasi dengan ku lebih dekat mungkin kalian akan tau aku seperti apa... ^_^
okke meskipin begitu, ana berhasil menyimpulkan dan memutuskan, siapakah pemenang para RM per kategori itu ^_^ (nanti yah pengumumannya secara resmi, ana masih belum sempat Aasif yah ^_^ )


*****Ahad pagi nan dinanti...

Pagi ini, aku tidak bisa langsung berangkat menuju tempat acara. karena jam 06.30 aku harus memenuhi jadwal Liqo dengan MR dan kawan2 ku yang lain... selama halaqoh jujur ana agak kurang konsentrasi, karena ada beberapa sms dan telp yang masuk, aduuhhh Aasif Jidan ya Ummu.... gak-gak lagi ko... :D

alhamdulillah halaqoh kami selesai jam 09.30.. hehe 30 menit lewat dari jam mulainya acara kopdar. Afwan jidan ya semua, selama perjalanan pulang tanganku tak lepas-lepas dari genggaman HP dan titattitut suara tombol HP karena membalas sms dari beberapa kawan.

Eehh..sang Ketu sudah sampai "Assalamu'alaikuum sudah dimana.....de-el-ell..." ana cuma bisa jawab "Wa'alaikumsalam warahmatullah Afwan ana baru selesai liqo, ini baru akan segera menuju Ragunan.." haduuuuh jujur ana gak tega sms bgt, tp bgaimana... 
sms berikutnya pun bermunculan, mulai dari teh Rhepiii...Teh Boniit....sampai salah satu RMers yg tidak hadir "Assalamu'alaikum teh, sudah dimulai acaranya? banyak yg hadir g?" wah sms yang mngejutkan buatku... dengan sigap aku balas yg intinya "antum mau nyusul yaah :D?" namun sayang jawabannya "Ndak teh, afwan salam untuk semua RMers ya" hheemmm.... ya sudah.. :)

jam 10.00 tepat aku mulai melangkahklan kaki dari rumah menuju tempat tujuan, dengan persiapan yg sedikit repot, ana sangat memaksakan diri ingin mengenakan pakaian hijau kali ini... jadi ngobrak-ngabrik lemari deh.. xixi (gak segitunya sih :D )

"Motor..???" ucapku dengan sedikit kaget, motor pada kemana? oh Rabbi............



********************************* TO BE CONTINUED**************************** 



##AnnaAQyuan^_^



Saturday, October 15, 2011

Kebaikan Akhlak Cicit Rasulullah

Jakfar Al Mansur adalah salah seorang khalifah dari dinasti Abbasiyah, dan ternyata dia memiliki dendam kepada Hisyam bin Abdul Malik.
Suatu saat ia bertemu dengan Muhammad bin Hisyam, Jakfar pun ingin membalas dendam. Hal ini membuat Hisyam cemas, namun pada akhirnya Hisyam diselamatkan oleh Muhammad bin Zaid, cicit Rasulullah SAW.


Kisahnya.
Pada suatu hari, Jakfar menunaikan ibadah haji. Ketika sedang menjalankan ibadah di Masjidil Haram, tiba-tiba ia melihat ada seseorang yang memperlihatkan mutiara indah yang bernilai sangat mahal. Langsung saja ia teringat bahwa mutiara itu milik Hisyam bin Abdul Malik bin Marwan Al-Umawi.

"Aku sekarang ingat, mutiara itu milik pembunuh ayahku," katanya dalam hati.
Karena pemegang mutiara itu adalah anak muda, maka ia berfikir bahwa anak muda itu pastilah anak Hisyam.
Menurut orang yang duduk di sebelahnya, anak muda itu bernama Muhammad bin Hisyam. Setelah mengetahui pemilik mutiara itu, darah Jakfar langsung tersirap di sekujur tubuhnya, dendamnya terhadap keturunan Dinasti Umayyah bangkit.
Karena itulah ia berniat mengambil mutiara itu dengan kekerasan, dan tak lama kemudian ia memanggil ajudannya yang bernama Rabi.

"Besok pagi aku akan melaksanakan shalat berjamaah di Masjidil Haram. Kalau seluruh hadirin sudah berkumpul, maka kuncilah seluruh pintu dan panggillah sekelompok orang kepercayaan untuk menjaga pintu keluar. Pintu yang dibuka hanya satu saja serta perhatikan pula setiap orang yang keluar dari pintu itu, dan jika kamu menemukan orang yang bernama Muhammad bin Hisyam, segeralah dia kamu bawa ke hadapanku," pesan Jakfar kepada Rabi.

Akan Dibunuh.
Pada pagi harinya, perintah Jakfar ini langsung dikerjakan oleh Rabi.
Semua pintu Makkah ditutup, dan menyisakan hanya satu pintu saja yang dibuka. Muhammad bin Hisyam merasa terancam, namun tanpa diduga, ada seseorang yang mendekati, beliaulah Muhammad bin Zaid bin Ali bin Husein bin Ali (cucu Fatimah Az-Zahra, Puteri Rasulullah SAW).




Setelah duduk dan berdekatan, cucu Fatimah ini membuka pembicaraan,
"Ada apa Tuan?" tanya cucu Fatimah.
"Oh, tidak, tidak ada apa-apa," sahut Muhammad bin Hisyam dengan muka pucat.
"Ceritakanlah kepadaku dengan terus terang, engkau akan aku lindungi," ujar cucu Fatimah lagi.
"Siapakah Anda, saya belum pernah mengenal Anda?" tanya Muhammad bin Hisyam.
"Aku adalah Muhammad bin Zaid bin Ali bin Husein, cucu Fatimah binti Rasulullah SAW.

Mendengar jawaban itu, tubuh Muhammad bin Hisyam langsung menggigil ketakutan. Keringat dingin langsung bercucuran membasahi pakaiannya. Muhammad bin Hisyam mengira bahwa tamatlah riwayatnya kali ini, karena ayahnyalah yang membunuh ayah cucu Fatimah ini. Namun semua perasaan Muhammad bin Hisyam sebenarnya keliru, cucu Fatimah ini sungguh mulia dan baik hatinya. Muhammad bin Hisyam mengira pula bahwa cucu Fatimah ini akan membalas dendam, namun dugaannya salah.

Setelah melihat hal yang demikian, cucu Fatimah ini berusaha menghibur,
"Janganlah engkau takut dan khawatir, kamu bukanlah pembunuh bapak dan kakekku. Demikian itu tidak beralasan jika aku merasa dendam kepadamu. Namun Insya Allah aku akan berusaha melepaskanmu dari bahaya yang tengah engkau hadapi ini," jelas cucu Fatimah.

"Alhamdulillah, terserah kepada Anda, akan aku terima segala perlakuanmu kepadaku," sahut Muhammad bin Hisyam yang mulai agak tenang.

Akhirnya Selamat.
Setelah itu, segera saja cucu Fatimah Az-Zahra ini membebatkan baju luarnya ke muka Muhammad bin Hisyam. Dengan siasat tertentu, kepala Muhammad bin Hisyam ditundukkan kemudian diseret keluar dengan kasar. Dan setelah sampai di depan pintu, ajudan Jakfar memperhatikan keduanya.

Namun, cucu Fatimah ini segera membuat siasat baru lagi. Muhammad bin Hisyam segera saja ditempelng berulang kali seraya berkata,
"Wahai Rabi, orang jahat ini pemilik unta sewaan dari Kuffah. Di saat ini aku telah membayar uang sewa kepadanya, dia malah kabur dan menyewakannya kepada orang lain, yaitu orang Kurasan. Sekarang dia baru aku jumpai dan akan aku tahan," begitu ucap cucu Fatimah ini.

Kemudian cucu Fatimah ini langsung membebatkan kembali bajunya ke kepala Muhammad bin Hisyam sehingga mukanya tertutup kembali.
Setelah jauh dari pandangan Rabi, cucu Fatimah ini melepaskan Muhammad bin Hisyam.
"Segeralah kamu pergi dan mencari tempat berlindung," kata cucu Fatimah.

"Wahai cucu Fatimah Puteri Rasulullah SAW, aku sangat berterima kasih atas jasa Anda, jika Anda berkenan, terimalah benda ini sebagai cinderamata dan kenangan atas kebajikan yang telah Anda berikan kepadaku," ujar Muhammad bin Hisyam sambil menyodorkan mutiara yang dipunyainya.

"Ambillah kembali, dan bawalah kekayaanmu itu. Kami merupakan Ahlul Bait Rasulullah SAW, tidak boleh menerima atas kebajikan yang telah kami lakukan. Jagalah dirimu dari orang yang kini berusaha menangkapmu," kata cucu Fatimah.
Maka pergilah Muhammad bin Hisyam dengan penuh keharuan. Dia bersyukur atas nikmat Allah SWT yang telah diberikan karena baru saja telah ditolong dan dipertemukan dengan anak turun Nabi dan Rasul akhir zaman, Cicit Nabi Muhammad SAW.

Friday, October 14, 2011

Ludah Rasulullah Penawar Bisa Ular

Rasulullah SAW memiliki banyak mukjizat dan kali ini salah satunya adalah ludah Rasulullah SAW yang bisa menjadi obat penawar bisa ular.
Mukjizat itu dibuktikan sendiri oleh sahabatnya, Abu Bakar ketika menemani Rasulullah SAW bersembunyi di Gua Tsur.

Kisahnya.
Ketika Rasululah SAW diburu orang kafir Quraisy dan hendak dibunuh, beliau bersembunyi di Gua Tsur dengan ditemani Abu Bakar. Sebelum masuk gua, Abu Bakar meminta izin masuk terlebih dahulu supaya dapat membersihkan gua itu serta menutup lubang-lubang yang ada di gua itu.

Tak lama kemudian, setalah gua menjadi bersih, Rasulullah SAW masuk dan membaringkan tubuhnya di atas tanah dengan kepalanya berbantalkan paha Abu Bakar. Karena terlihat cukup letih, Rasulullah SAW tertidur di gua itu. Abu Bakar duduk dan tidak berani bergerak karena tidak ingin mengganggu tidur Rasulullah SAW. Abu Bakar memilih tetap waspada dari kejaran kafir Quraisy.

Namun, tak lama berselang, Abu Bakar melihat seekor ular berbisa hendak keluar dari salah satu lubang yang tidak sempat ditutup. Dengan cekatan, Abu Bakar menutup lubang itu dengan salah satu kakinya. Tiba-tiba saja ular itu menggigit kaki Abu Bakar, dan dalam waktu sekejap saja bisa ular itu menjalar ke seluruh tubuh Abu Bakar.


Gigitan Ular Mematikan.
Meskipun demikian, Abu Bakar tidak menjerit. Ia tidak ingin Rasulullah akan terbangun dari tudur akibat jeritannya. Semakin lama bisa ular itu melemahkan tubuh Abu Bakar dan membuatnya menangis. Secara tidak sengaja, tetesan air matanya jatuh mengenai tubuh Rasulullah SAW.




"Mengapa engkau menangis wahai Abu Bakar? Apakah kamu merasa takut dengan orang kafir Quraisy yang mengancam nyawamu?" tanya Rasulullah yang terbangun akibat tetesan air mata Abu Bakar.
"Ya Rasulullah, aku tidak pernah takut mati demi membela agama Allah," jawab Abu Bakar dengan suara melemah.

"Lalu apa yang terjadi hingga kamu menangis?" tanya Rasulullah lagi.
"Kakiku telah digigit ular, tubuhku lemas, aku menangis karena takut tidak akan bisa menjagamu lagi," kata Abu Bakar yang kemudian bersimpuh di hadapan Rasulullah SAW.

Rasululah SAW segera memeriksa telapak kaki Abu Bakar. Setelah melihat adanya bekas gigitan ular, beliau langsung meludahinya.
Ajaib...serta merta rasa sakit di kaki Abu Bakar langsung sirna, hilang serta merta. Tidak lama kemudian Abu Bakar sudah merasa bugar lagi seperti sedia kala.

Sementara itu, para pemuda kafir Quraisy yanmg mencari Rasulullah SAW dan Abu Bakar, akhirnya tiba juga di Gua Tsur. Akan tetapi Allah SWT membantu dengan mengarahkan laba-laba untuk menutupi mulut gua dengan sarangnya. Keadaan sarang laba-laba yang utuh tidak terusik itu menyebabkan mereka yang memburu Rasulullah SAW berpikir, tidak mungkin ada orang di dalam gua itu.

"Janganlah berduka wahai sahabatku, sesungguhnya Allah SWT bersama kita," kata Rasulullah SAW kepada Abu Bakar.
Itulah rangkuman kisahnya kawan.

Tepati Nazar Selamat dari Musibah

Karena menepati nazarnya yang tidak akan memakan daging gajah, akhirnya Abu Abdillah Alqalanisi selamat dari tenggelamnya kapal yang ditumpanginya.
Ahli zikir ini selamat pula dari kelaparan karena ditolong oleh seekor gajah.

Kisahnya.
Dalam kitab Hilyatul Awliya' diceritakan bahwa pada suatu saat Abu Abdillah Alqalanisi dalam sebuah perjalanan ke negeri seberang. Tidak ada transportasi lain selain naik kapal. Akan tetapi pada malam harinya cuaca di tengah lautan tidak bersahabat. Angin kencang tiba-tiba saja datang bersamaan dengan ombak yang begitu besar menghantam kapal tersebut berkali-kali. Seluruh penumpang pun berdoa dengan khusyuk demi keselamatan mereka sambil mengucap nazar.

"Kamu semua sudah bernazar agar Allah SWT menyelamatkan kami. Maka hendaknya kamu juga bernazar kepada Allah," kata salah seorang penumpang kepada Abdillah.
"Aku ini orang yang tidak peduli dengan dunia, aku tidak perlu bernazar," jawab Abdilah singkat.


Kapal Tenggelam.
Penolakan Abdillah ini nampaknya diprotes oleh seluruh penumpang kapal. Mereka takut penolakan itu benar-benar akan mendatangkan bencana bagi mereka. Dengan berbagai alasan, akhirnya mereka memaksa Abdillah untuk bernazar.
"Baiklah, Demi Allah, sekiranya Allah SWT menyelamatkanku dari musibah yang menimpaku ini, maka aku tidak akan makan daging gajah," kata Abdilah sekenanya bernazar.

Semua penumpang kapal heran dengan nazar yang diucapkan oleh Abdillah, karena nazar tesebut sangat asing bagi mereka.
"Apakah boleh bernazar seperti itu? Apakah ada orang yang mau makan daging gajah?" tanya mereka.
"Itulah pilihanku, semoga Allah memberi ganjaran atas lisanku yang mengucapkan kata-kata itu," ucap Abdillah.

Tak lama kemudian, kapal yang mereka tumpangi pecah, tapi anehnya para penumpang semuanya selamat dan terdampar di sebuah pantai yang tanpa ada sesuatu pun yang bisa dimakan.
Ketika semua penumpang merasakan lapar yang amat sangat, tiba-tiba ada seekor anak gajah yang melintas. Mereka langsung menangkap anak gajah itu lalu disembelih. Dagingnya dipotong kecil-kecil lalu disantap beramai-ramai kecuali Abdillah.

Penumpang lainnya mengajukan alasan, bahwa Abdillah dalam keadaan terpaksa, sehingga diperbolehkan untuk membatalkan nazarnya. Namun Abdillah tetap menolak alasan mereka dan Abdillah bersikukuh untuk memenuhi sumpahnya. Setelah makan, para penumpang yang terdampar itu merasa kenyang lalu mereka dapat tidur dengan pulas.




Diselamatkan Gajah.
Pada saat mereka tidur, induk gajah datang mencari anaknya, ia berjalan mengikuti jejak anaknya sambil mengendus-endus. Hingga akhirnya ia menemukan potongan tulang anaknya. Induk gajah itu pun sampai di tempat Abdillah dan para penumpang kapal yang terdampar itu.
Satu orang demi satu orang dia ciumi, dan setiap kali ia mencium bau daging anaknya pada orang itu, maka orang itu diinjak dengan kakinya sampai mati. Akibatnya mereka semua mati dan hanya menyisakan Abdillah.

Tiba saatnya induk gajah mendekati Abdillah. Tetapi karena Abdillah tidak memakan daging gajah, tubuhnya tidak diinjak oleh induk gajah itu. Anehnya, induk gajah itu menggerakkan tubuh bagian belakangnya dan memberi isyarat, kemudian mengangkat ekor dan kakinya.

Dari gerakan tubuh gajah itu, Abdillah mengerti bahwa ia menghendaki dirinya untuk menungganginya. Lalu Abdillah pun naik, duduk di di atasnya. Kemudian gajah itu berlari kencang menuju sebuah perkebunan lalu menurunkannya. Kemudian gajah itu berlari menuju tengah hutan lagi.

Di pagi hari, Abdillah menyaksikan hamparan sawah, perkebunan dan sekelompok orang. Orang-orang tersebut lantas membawanya ke rumah kepala suku. Juru bicara suku itu memintanya untuk bercerita tentang yang dialaminya.
"Tahukah kamu, berapa jauh jarak perjalananmu dengan seekor gajah?" tanya kepala suku.
"Tidak tahu," jawab Abdillah.
"Sejauh perjalanan selama 8 hari, sementara gajah itu membawamu lari hanya dalam satu malam saja," jelas kepala suku.
Selanjutnya Abdillah diperkenankan tinggal bersama penduduk di desa tersebut sehingga ia mendapat pekerjaan. Setelah itu, ia pun pulang ke kampungnya.

Thursday, October 13, 2011

Istri Nabi Mandul bisa Hamil Berkat Doa

Tidak ada yang mustahil bila Allah SWT menghendaki sesuatu.
Hal itu terjadi pada diri Isya' binti Faqudz, istri Nabi Zakaria a.s.
Betapa tidak, ia yang semula divonis sebagai wanita mandul, ternyata bisa mengandung dan melahirkan seorang bayi bernama Yahya.


Kisahnya.
Kisah Kebesaran Allah SWT tersebut terjadi pada zaman Nabi Zakaria a.s. Pemilik nama lengkap Zakaria bin Berkhiya tersebut diutus Allah SWT untuk menjadi nabi-Nya kaum Bani Israil. Kala itu, ketauhidan Bani Israil memang parah dan bobrok.

Bani Israil meninggalkan ajaran para Nabiyullah dan hidup berdasarkan aturan yang mereka ciptakan sendiri. Ironisnya, peraturan yang mereka buat telah melegalkan sesuatu yang diharamkan Allah SWT.
"Kembalilah menuju ajaran Allah dan tinggalkan hukum ciptaan kalian yang penuh maksiat itu," kata Nabi Zakaria kepada Bani Israil.
"Kami telah nyaman dengan aturan kami sendiri, jangan engkau menipu kami semua," jawab pemuka Bani Israil menantang.
"Demi Allah, sesungguhnya aku tidak menipu kalian," ujar Nabi Zakaria lagi.

Berulang-ulang kali Nabi Zakaria menyampaikan kebenaran, namun selalu kandas. Tidak banyak kaum Bani Israil yang menyatakan keimanan kepada Allah dan Zakaria sebagai Nabi-Nya. Dan diantara yang sedikit tersebut adalah Isya' binti Faqudz, hingga akhirnya Zakaria menikah dengannya.
Meskipun telah menikahi salah satu wanita dari Bani Israil tersebut, dakwah Nabi Zakaria tak kunjung berhasil.
Bani Israil masih sulit menerima hidayah berupa agama Allah SWT, bahkan Bani Israil sudah mulai nyaman dengan segala kemaksiatan dari aturan yang dibuatnya sendiri.

Petunjuk Allah SWT.
Karena lemahnya iman Bani Israil tersebut, Nabi Zakaria mulai merasa khawatir terhadap keselamatan diri dan keluarganya. Dari sekian kekhawatiran itu, beliau memohon kepada Allah SWT untuk diberi seorang anak sebagai penerus dakwahnya.
"Ya Tuhanku, berikanlah aku seorang putra yang akan mewarisi sebagian dari keluargaku yang akan meneruskan pimpinan dan tuntunanku kepada Bani Israil," doa Nabi Zakaria pada suatu malam saat bermunajat kepada Allah SWT.




Doa beliau rupanya didengar oleh Allah SWT.
Dalam Al Qur'an,Allah SWT berfirman,


هُنَالِكَ دَعَا زَكَرِيَّا رَبَّهُ قَالَ رَبِّ هَبْ لِي مِنْ لَدُنْكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً إِنَّكَ سَمِيعُ الدُّعَاءِ
فَنَادَتْهُ الْمَلائِكَةُ وَهُوَ قَائِمٌ يُصَلِّي فِي الْمِحْرَابِ أَنَّ اللَّهَ يُبَشِّرُكَ بِيَحْيَى مُصَدِّقًا بِكَلِمَةٍ مِنَ اللَّهِ وَسَيِّدًا وَحَصُورًا وَنَبِيًّا مِنَ الصَّالِحِينَ

Artinya:
"Di sanalah Zakariya mendoa kepada Tuhannya seraya berkata: "Ya Tuhanku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar doa".
"Kemudian Malaikat (Jibril) memanggil Zakariya, sedang ia tengah berdiri melakukan shalat di mihrab (katanya): "Sesungguhnya Allah menggembirakan kamu dengan kelahiran (seorang puteramu) Yahya, yang membenarkan kalimat (yang datang) dari Allah, menjadi ikutan, menahan diri (dari hawa nafsu) dan seorang Nabi Termasuk keturunan orang-orang saleh".



Tentu saja kabar gembira itu disyukuri Nabi Zakaria. Beliau kemudian meminta kepada Allah SWT untuk memberitakan tanda mengenai kehamilan istrinya. Nabi Zakaria tahu jika istrinya sebenarnya adalah wanita mandul, namun beliau juga sangat yakin kalau Allah SWT berkuasa atas semuanya.

Doa Punya Anak.
Kemudian Malaikat Jibril diutus Allah SWT untuk menenemui Nabi Zakaria. Malaikat Jibril mengatakan bahwa tidak ada yang mustahil jika Allah SWT menghendaki sesuatu. Semuanya adalah mudah bagi Allah SWT.

Akhirnya, Malaikat Jibril mengatakan bahwa pertanda yang dimaksud berupa kebisuan Nabi Zakaria selama tiga hari tiga malam. Dalam kurun waktu itu, beliau hanya bisa berzikir dan menyebut nama Allah dengan isyarat.

Maka apa yang telah diputuskan Allah menjadi kenyataan.
Nabi Zakaria mendadak tidak dapat berbicara dengan siapapun selama 3 hari 3 malam. Isya' binti Faqudz pun benar-benar mengandung, Beberapa bulan berikutnya, ia melahirkan anak laki-laki yang diberi nama Yahya.
Yahya telah disebutkan Allah mempunyai sifat dan akhlak yang sangat terpuji. Ia lahir ketika Nabi Zakaria berumur 120 tahun dan istrinya berumur 98 tahun.

Kisah tersebut diabadaikan dalam Al Qur'an.

وَزَكَرِيَّا إِذْ نَادَى رَبَّهُ رَبِّ لا تَذَرْنِي فَرْدًا وَأَنْتَ خَيْرُ الْوَارِثِينَ

Artinya:
"Dan (ingatlah kisah) Zakaria, tatkala ia menyeru Tuhannya: "Ya Tuhanku janganlah Engkau membiarkan aku hidup seorang diri[1] dan Engkaulah waris yang paling Baik[2].

[1] Maksudnya: tidak mempunyai keturunan yang mewarisi
[2] Maksudnya: andaikata Tuhan tidak mengabulkan doanya, Yakni memberi keturunan, Zakaria menyerahkan dirinya kepada Tuhan, sebab Tuhan adalah waris yang paling baik.


Ayat tersebut juga kerap kali diamalkan oleh pasangan suami istri yang mendambakan lahirnya seorang anak.

Tuesday, October 11, 2011

Belajar Akhlak dari Keledai

Adalah Luqman Hakim yang telah memberikan teladan yang baik sebagai orang tua.
Ia menanamkan nilai-nilai kebajikan kepada anaknya dan salah satunya adalah larangan menyekutukan Allah SWT.


Kisahnya.
Di dalam Al Qur'an terdapat beberapa ayat yang menyebutkan nama Luqman Hakim.
Allah SWT berfirman,

وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

Artinya:
"Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar".
(QS. Luqman: 13).

Dalam sebuah riwayat yang diceritakan, pada suatu hari Luqman Hakim mengadakan perjalanan ke luar kota bersama putranya sambil menaiki seekor keledai. Pada saat ia masuk ke dalam pasar, anaknya mengikutinya dari belakang. Melihat tingkah laku Luqman itu, sebagian orang berkata,
"Lihat, itu orang tua yang tidak tahu diri, dia enak-enakan naik keledai, sementara anaknya dibiarkan berjalan kaki."

Naik Keledai.
Luqman kemudian berhenti sejenak sambil memperhatikan perkataan orang yang didengarnya.
Kemudian Luqman turun dari keledainya, lalu diletakkan anaknya di atas keledainya. Ia kemudian melanjutkan perjalanannya kembali.

Di tengah perjalanan, kembali beberapa orang melihatnya. Kemudian mereka pun usil dengan mengomentari keberadaan Luqman.
"Lihat, orang tuanya berjalan kaki sedangkan anaknya enak-enakan menaiki keledai, sungguh kurang ajar anak itu," kata orang tersebut.

Mendengar kata-kata itu, Luqman kembali berhenti sebentar. Ia kemudian ikut menaiki keldai itu bersama anaknya. Namun demikian beberapa orang yang lain kembali mengoloknya.
"Lihat itu, dua orang menaiki seekor keledai, sungguh tidak punya rasa kasihan menyiksa keledai itu," kata orang yang lain.

Luqman sedikit kesal dengan komentar orang-orang yang ditemuinya.
Ia merasa tidak pernah merasa benar di mata orang-orang itu. Tetapi, untuk kesekian kalinya, Luqman dapat menerima ejekan itu.

Ia kemudian berhenti lagi dan turun dari keledai bersama anaknya. Luqman dan anaknya berjalan kaki sedangkan keledainya hanya dituntun saja. Akan tetapi belum jauh ia melangkah, ungkapan miring kembali diterimanya.
"Sungguh dua orang aneh berjalan kaki, padahal mereka membawa seekor keledai, kenapa tidak dikendarai saja," komentar orang yang lain lagi.

Nasehat Bijak.
Luqman dapat mengambil hikmah dari komentar orang-orang tersebut.
Dirinya kemudian menasehati anaknya tentang berbagai sikap manusia dan sesuatu yang diucapkannya.

"Sesungguhnya tiada terlepas seseorang itu dari percakapan amnusia. Maka bagi ornag yang berakal, tiadalah dia mengambil pertimbangan melainkan hanya kepada Allah SWT saja. Barang siapa mengenal kebenaran, itulah yang menjadi pertimbangannya dalam tiap-tiap masalah," tutur Luqman kepada anaknya.

Kemudian Luqman Hakim berpesan kepada anaknya,
"Wahai anakku, tuntutlah rezeki yang halal supaya kamu tidak menjadi fakir. Sesungguhnya tiadalah orang fakir itu melainkan tertimpa kepadanya tiga perkara, yaitu tipis keyakinan (iman) tentang agamanya, lemah akalnya (mudah tertipu dan diperdayaiorang), dan hilang kemuliaan hatinya (kepribadiannya), dan lebih celaka lagi daripada tiga perkara itu adalah orang-orang yang suka merendah-rendahkan dan meringan-ringankannya."

Dalam kesempatan lain, Luqman juga berpesan kepada anaknya aga tidak menyekutukan Allah SWT, sesungguhnya ia telah berada pada kezaliman yang besar.