CINTA YANG NAIF Saat usia pernikahan yang ke 15, penyakit kanker merengut nyawa istriku. Padahal usianya masih muda, waktu itu usia Dian, nama istriku-- masih 40 tahun. Istriku, sudah tak sanggup bertahan. Hampir dua tahun dia melawan penyakit ganas yang menyerang paru-parunya itu. Aku memiliki tiga orang putera puteri, yang pertama berusia 13 tahun, yang kedua berusia 10 tahun dan yang bungsu berusia 6 tahun. Mereka kehilangan ibunya saat usia masih muda. Rasa sedih itu terus menyelimuti diriku, sementara aku sendiri tak mungkin mengurus mereka, karena harus bekerja. Sekarang, aku benar-benar merasakan kehilangan. Aku tahu, anak-anak juga sangat kehilangan ibunya. Untuk sementara nenek dan bibi mereka (adik mendiang istriku) yang mengurusi mereka bertiga. Aku sedikit merasa lebih tenang. Sebetulnya, kesuksesanku akan mempermudah untuk mendapatkan istri yang baru. Liz, Metty dan Silvia, mereka gadis-gadis cantik yang bekerja di kantorku. Kalau aku mau, pasti aku bisa memilih salah satu dari mereka untuk aku nikahi. Tetapi keinginan itu selalu terhambat saat mengingat tiga anakku yang mulai tumbuh remaja. Ketakutan tentang kejahatan ibu tiri kadang menyelimutiku. Mendiang istriku memeliki 5 saudara. Dan adik bungsunya Lita, masih belum menikah meskipun usianya sudah 30 tahunan. Bila dibandingkan dengan istriku, Lita tak lebih cantik. Tubuhnya terlalu kurus, dan sifatnya pendiam seperti batu. Namun begitu, sejak kelahiran anakku yang pertama, Lita sering main ke rumah dan suka sekali menggendong Rendra puteraku. Bukan hanya dengan Rendra dengan dua puteriku Reny dan Risa, dia juga sangat akrab dan sayang. Sepertinya Lita memang menyukai dunia anak-anak. Kelebihan Lita ini, yang kemudian menarik perhatianku untuk meminangnya menjadi istriku. Aku berusaha mengabaikan gadis-gadis cantik yang lain, demi anak-anakku. Kalau aku menikahi Lita, anak-anakku tak akan kesulitan beradaptasi dengan ibu tiri baru, karena mereka sudah akrab dengan Lita sejak kecil. Niat itu makin menguat, demi anak-anak aku pun melamar Lita kepada ibunya, karena ayah Lita sudah tiada. Ibunya menyambut lamaran itu dan merestui. Sebenarnya antara aku dan Lita sendiri tak terlalu akrab, karena dia selalu menjaga jarak dengan aku iparnya. Selama ini aku tak pernah berbicara atau pun mengobrol, biar pun dia sering datang ke rumah. "Aku akan menikahimu, demi anak-anak," kataku. Dia tersenyum, tak menjawab lamaranku. Harap-harap cemas, aku menunggu jawabannya. Beberapa hari kemudian, kepada ibunya dia bilang mau menikah denganku. Hatiku pun merasa lega. Aku memberitahu anak-anak tentang rencana pernikahan itu. Puteraku yang paling besar dan adiknya yang nomor dua setuju. Sementara yang terkecil belum mengerti dengan semua itu. Orang bilang turun ranjang. Kami menikah sederhana di antara keluarga besarku dan keluarga besar Lita. Setahun kemudian, Lita dan aku mendapatkan seorang anak perempuan yang lucu. Jakarta, 10 Oktober 2013
Showing posts with label Cinta Yang Naif. Show all posts
Showing posts with label Cinta Yang Naif. Show all posts
Wednesday, October 9, 2013
Turun Ranjang
CINTA YANG NAIF Saat usia pernikahan yang ke 15, penyakit kanker merengut nyawa istriku. Padahal usianya masih muda, waktu itu usia Dian, nama istriku-- masih 40 tahun. Istriku, sudah tak sanggup bertahan. Hampir dua tahun dia melawan penyakit ganas yang menyerang paru-parunya itu. Aku memiliki tiga orang putera puteri, yang pertama berusia 13 tahun, yang kedua berusia 10 tahun dan yang bungsu berusia 6 tahun. Mereka kehilangan ibunya saat usia masih muda. Rasa sedih itu terus menyelimuti diriku, sementara aku sendiri tak mungkin mengurus mereka, karena harus bekerja. Sekarang, aku benar-benar merasakan kehilangan. Aku tahu, anak-anak juga sangat kehilangan ibunya. Untuk sementara nenek dan bibi mereka (adik mendiang istriku) yang mengurusi mereka bertiga. Aku sedikit merasa lebih tenang. Sebetulnya, kesuksesanku akan mempermudah untuk mendapatkan istri yang baru. Liz, Metty dan Silvia, mereka gadis-gadis cantik yang bekerja di kantorku. Kalau aku mau, pasti aku bisa memilih salah satu dari mereka untuk aku nikahi. Tetapi keinginan itu selalu terhambat saat mengingat tiga anakku yang mulai tumbuh remaja. Ketakutan tentang kejahatan ibu tiri kadang menyelimutiku. Mendiang istriku memeliki 5 saudara. Dan adik bungsunya Lita, masih belum menikah meskipun usianya sudah 30 tahunan. Bila dibandingkan dengan istriku, Lita tak lebih cantik. Tubuhnya terlalu kurus, dan sifatnya pendiam seperti batu. Namun begitu, sejak kelahiran anakku yang pertama, Lita sering main ke rumah dan suka sekali menggendong Rendra puteraku. Bukan hanya dengan Rendra dengan dua puteriku Reny dan Risa, dia juga sangat akrab dan sayang. Sepertinya Lita memang menyukai dunia anak-anak. Kelebihan Lita ini, yang kemudian menarik perhatianku untuk meminangnya menjadi istriku. Aku berusaha mengabaikan gadis-gadis cantik yang lain, demi anak-anakku. Kalau aku menikahi Lita, anak-anakku tak akan kesulitan beradaptasi dengan ibu tiri baru, karena mereka sudah akrab dengan Lita sejak kecil. Niat itu makin menguat, demi anak-anak aku pun melamar Lita kepada ibunya, karena ayah Lita sudah tiada. Ibunya menyambut lamaran itu dan merestui. Sebenarnya antara aku dan Lita sendiri tak terlalu akrab, karena dia selalu menjaga jarak dengan aku iparnya. Selama ini aku tak pernah berbicara atau pun mengobrol, biar pun dia sering datang ke rumah. "Aku akan menikahimu, demi anak-anak," kataku. Dia tersenyum, tak menjawab lamaranku. Harap-harap cemas, aku menunggu jawabannya. Beberapa hari kemudian, kepada ibunya dia bilang mau menikah denganku. Hatiku pun merasa lega. Aku memberitahu anak-anak tentang rencana pernikahan itu. Puteraku yang paling besar dan adiknya yang nomor dua setuju. Sementara yang terkecil belum mengerti dengan semua itu. Orang bilang turun ranjang. Kami menikah sederhana di antara keluarga besarku dan keluarga besar Lita. Setahun kemudian, Lita dan aku mendapatkan seorang anak perempuan yang lucu. Jakarta, 10 Oktober 2013
Thursday, October 3, 2013
Kekasihku Seumuran Ayahku
Wednesday, September 25, 2013
Aku Mencintai Ibunya
Monday, September 23, 2013
Aku Pincang, Dia Pembunuh
CINTA YANG NAIF Kalau aku menikah dengan Satar, memang kenapa? Dia adalah laki-laki yang menjadi cinta pertamaku. Dia sangat baik dan perhatian padaku, dan selalu menjadikanku sebagai ratu. Biarpun dia pembunuh, narapidana, dia adalah penguasa cinta dalam hatiku. Kenalkan, namaku Peni. Umurku 30 tahun. Kaki kananku normal, tetapi kaki kiriku kecil, sehingga tidak seimbang bila ku pakai untuk berjalan. Singkatnya aku perempuan berkaki pincang. Dan aku tahu bahwa aku tak akan laku kawin, mana ada laki-laki yang mau menikahi perempuan pincang. Untuk menutupi rasa putus asaku soal perjodohan, aku menyibukkan diri berjualan di pasar. Sudah sering orang meledek keadaanku. Peni si pincang, begitu aku dijuluki. Seringkali aku mengutuk ibuku yang tidak memberikan aku imunisasi polio, virus polio merengut kaki kiriku saat aku berusia 3 tahun. "Orang pincang gitu mana laku kawin?" kata seseorang. "Iya, yang normal juga banyak..." Sampai suatu hari, ada seorang laki-laki muda mampir di lapakku. Laki-laki itu berkulit hitam, bertubuh kecil, tetapi sekel. Matanya bersinar penuh keberanian dan sedikit nakal. Laki-laki itu menggodaku. Dia adalah Satar, seorang preman kampung yang disegani di kampung kami. "Kalau beli penjualnya, boleh enggak," kata si Satar. "Ih, Mas ini ada-ada saja, nggak boleh dong." "Kok nggak boleh?" "Iya, kan sudah ada yang punya..." "Oh ya? Siapa dia?" "Ayahku..." "Oh, kalu gitu aku lamar ya ke ayahmu?" Hatiku berdebaran. Biarpun hanya preman, Satar berwajah lumayan, tidak jelek. Ada kumis tipis di atas bibirnya. Jujur aku tak bisa menjawab waktu dia mengatakan akan melamarku. Apa kata ayahku kalau aku dilamar preman. Dan aku juga takut, kalau Satar lihat kakiku yang cacat, pasti dia tak sudi lagi kepadaku. "Tapi kakiku, Mas..." aku terisak. Tak kuduga, dia meraih tanganku dan tersenyum lembut. "Aku tahu, aku tak melihat fisikmu, tetapi hatimu..." Itulah untuk pertama kalinya aku berpegangan tangan dengan seorang laki-laki. Pastilah dia tahu kalau kakiku cacat. Semua orang di kampung ataupun di pasar tahu kalau kakiku cacat. Tetapi laki-laki yang ada di depanku ini bilang serius ingin menikahiku. Dia pun kemudian menghadap ayah, dan ayah menerima lamaran itu. Singkat cerita kami menikah. Sampai usia pernikahan ke 3 tak juga dikaruniai anak. Sebagai suami, Satar sangat baik dan tanggungjawab. Selalu memberi uang belanja, biar pun tidak pasti dan tak seberapa. Dan dia juga tak malu membawaku berjalan-jalan ke pasar malam atau tamasya. Dia selalu menggandengku, tak peduli dengan cara berjalanku yang aneh. Malam itu, saat kami bercengkerama di ruang televisi, ada orang mengetuk pintu. Ternyata mereka adalah polisi, mereka akan menjemput suamiku. Satar ketahuan merampok toko dan membunuh pemiliknya. Suamiku tak bisa apa-apa. Dia mengaku dan ditangkap dengan damai. Aku sering menengoknya, memberinya semangat dan makanan. Aku menemuinya, baik selama di tahanan polisi mapun di penjara yang sekarang. Satar dijatuhi hukuman 15 tahun penjara. Berarti aku harus menunggunya sampai 15 tahun ke depan. Namun aku akan jalani semua, aku selalu mengiriminya makanan kesukaannya, tahu dan tempe bacem. Seminggu setidaknya 3 kali aku menengoknya. Sekarang di kampung maupun di pasar aku mendapatkan julukan baru, Peni pincang istrinya pembunuh. Aku hanya diam dan berdoa buat suamiku. Semoga Tuhan selalu menjaga cinta ini, aku tak ingin membiarkannya sendirian, aku sangat mencintainya. Aku tak pernah peduli kata orang tentang perkawinanku ini. Jakarta, 23 September 2013
Friday, September 20, 2013
Aku Ingin Melihat Mayatnya
CINTA YANG NAIF Witing tresno jalaran soko kulino. Begitulah pepatah orang Jawa yang artinya, cinta berawal dari kebersamaan sehari-hari. Demikian juga yang terjadi antara aku dan David. Kenalkan aku Fitri, dan David kekasihku itu adalah teman sekantorku. Dia patner kerjaku sebagai sales di sebuah perusahaan swasta nasional. David berwajah tampan, perlente, baik dan smart. Seorang pria yang memang typeku. Aku juga cantik, berkulit putih, bodyku tinggi mirip foto model dan sudah pasti aku pintar. Karirku membumbung terus di perusahaan itu, karena aku tipe perempuan pekerja keras. Aku sangat mencintai David, demikian juga sebaliknya, kekasihku itu mengaku tak akan sanggup hidup tanpaku. Namun cinta kami tak semulus kelihatannya. Itu karena David sudah beristri dan memiliki dua orang anak. Namun kami berdua tak mau menyerah. Kami terus menjalin hubungan dengan cara sembunyi-sembunyi. Bahkan kemudian kami menikah di bawah tangan, atau menikah siri, dan membeli sebuah aparteman di kawasan elit Jakarta. Aku memutuskan pindah kerja, agar hubungan kami tak tercium oleh orang-orang kantor. Usia setahun pernikahan kami, aku hamil, dan lahirlah dari rahimku seorang bayi perempuan yang cantik. Maka lengkaplah kebahagiaan kami, cinta kami diikat oleh seorang anak yang imut, sehat dan gemuk. Kami bertiga menghabiskan waktu di kota metropolitan itu. Menikmati restoran-restoran mewah, menonton bioskop, dan kesenangan-kesenangan lainnya. Kami adalah keluarga muda yang bahagia. Karir David semakin mantap, aku pun tak kalah dengannya. Tak heran bila kami berdua selalu berganti-ganti mobil mewah. Namun semua itu tak berlangsung lama. ketika puteri kami Vasya berusia 3 tahun, suamiku kecelakaan dan meninggal, sorang sahabat dari kantor memberitahukan melalui blacberry group. Hatiku serasa hancur. Jiwaku berantakan. Aku peluk puteriku satu-satunya sambil membayangkan Davidku terbujur kaku. "Papamu, sayang, papamu meninggalkan kita untuk selamanya..." Aku ingin sekali melihat mayat David untuk terakhir kalinya. Namun tak bisa. Jenazahnya sudah dibawa ke rumah istri pertamanya, dan mereka yang mengurus pemakamannya. Jiwaku meronta. Bahkan untuk melihat jasad kekasihku saja aku tak bisa. Aku hanya terdiam membisu. Aku menelpon teman kantor lama untuk menanyakan kapan David dikebumikan. Aku menelpon dengan alasan untuk memastikan berita di blackberry group tentang kematian David. "Pemakaman nanti siang di tanah kusir," kata sahabatku. "Makasih ya Ra, informasinya..." Pekuburan itu tak pernah sepi. Dengan membawa puteriku, aku datang ke sana. Mengenakan gaun hitam kesayangan dan kerudung pasmina yang aku selempangkan di kepala dan leherku. Untuk menutupi wajah dan menghapus air mata yang berlinangan tiada henti. Pukul dua siang, serombongan pengantar kematian datang, sebuah ambulan hijau tua dibuka, dan dikeluarkan sebuah peti jenazah berwarna coklat. Didalam peti itu terbaring suamiku, tangisku sedih. Pada mobil yang lain, keluarlah istri dan anak-anaknya mengenakan baju serba hitam. Wajah mereka muram. Mereka bergandengan menuju gundukan tanah merah. Lubang kubur telah digali untuk suamiku. Beberapa teman kantor lama juga muncul, berjalan tenang menuju galian itu. Lalu pelayat-pelayat yang lain juga berdatangan, semua berkumpul di situ. Aku memandangi dari kejauhan, bersembunyi di balik sebatang pohon, berlagak sepeti otang yang sedang nyekar. Jiwaku lunglai, hatiku terasa tercabik-cabik, air mata berlinangan, kupeluk erat puteriku yang belum mengerti apa-apa. Ingin sekali kulihat wajah suamiku, kekasihku,belahan jiwaku, untuk yang terakhir kalinya. Ingin memeluknya, pasti kecelakan itu sangat menyakitkannya. Ingin kuucapkan selamat jalan. Namun mendekat pun aku tak berani. Akhirnya aku telan saja keinginan itu, aku mengikuti upacara pemakaman David dari kejauhan saja, karena aku hanya istri kedua. Jakarta, 21 September 2013
Wednesday, September 18, 2013
Dia Istri Sahabatku
CINTA YANG NAIF Inilah aku, panggil saja Martoyo, aku memiliki seorang sahabat bernama Munaf. Kami berdua adalah sahabat karib. Kami berdua berasal dari kota yang berbeda di Jawa Tengah. Merantau ke Jakarta untuk mencari penghidupan. Kami bekerja di sebuah pabrik di Bekasi. Ibaratkan saudara, hidup dan mati kami jalani berdua. Bersama melalui kejamnya kehidupan sebagai buruh. Kami tinggal di rumah petak sempit dan buruk, tak jauh dari pabrik. Ketika masih SMA, Munaf punya pacar, gadis hitam manis itu bernama Emi. Laki-laki kurus itu menyimpan foto gadis itu, dan dia sangat mencintainya. Emi tinggal di sebuah kota di Jawa, dan secara berkala Munaf pulang ke kota itu untuk menemuinya. Pernah aku diajak pulang ke Jawa, dan aku dikenalkan dengan Emi, entah mengapa ada debaran aneh di dadaku. aku merasa gadis itu adalah jodohku, dan aku berusaha mengabaikan pikiran buruk itu. Pernikahan pun akan digelar, Munaf memintaku menjadi salah satu saksi. Maka kembali aku ke Jawa, kali ini demi pernikahan Munaf. Aku bahkan rela berhutang untuk membeli tiket kereta ekonomi. Rasanya ikut bahagia menjadi saksi ketika sahabatku menikahi kekasihnya. Pengantin duduk tenang di mahligai itu. Entah mengapa rasa jiwaku bergetar bila memandangi pengantin wanita. Dan tampaknya dia juga merasakan hal yang sama. Jujur dia adalah pengantin tercantik yang pernah aku lihat. Tiga hari aku di kota itu untuk mengikuti acara pernikahan yang sederhana. Waktu terus berlalu. Tahun berganti tahun, Munaf dan Emi dikaruniai dua orang anak yang cantik-cantik. Kehidupan perkawinan mereka bahagia. Munaf masih kos denganku karena istrinya tinggal di Jawa. Sesekali saja dia datang ke Jakarta untuk menengok suaminya. Malapeta tak bisa di tolak. Saat bekerja, Munaf yang pekerjaannya adalah menjalankan mesin bubut, terseret mesin. Laki-laki itu meninggal di tempat. Seluruh tubuhnya hancur, dan mayatnya di masukkan ke dalam peti. Aku yang mengirimkan jenasah itu kepada keluarganya. Emi dan dua puterinya yang sudah remaja menangis tersedu-sedu menghadapi kematian Munaf. "Sabar ya," kataku pada Emi. "Iya Mas..." Aku kembali ke Jakarta. Emi memberiku nomor telepon. Katanya sudah menganggap aku sebagai saudaranya sendiri. Sampai di Jakarta, aku mengirimkan barang-barang milik Munaf. Sesekali aku menanyakan kabarnya. Komunikasi pun menjadi intens. Apalagi aku bujangan lapuk, usia 40 tahun tetapi belum menikah. Cinta pun bersemi antara kami berdua. Dan setahun setelah kematian Munaf, aku kembali ke Jawa. Kali ini aku akan menikahi Emi. Aku naik kereta, sendirian melawan rasa bahagia yang memuncak. Kami menikah dengan sederhana. Dan dari pernikahan itu kami dikaruniai dua orang anak. Dia istri sahabatku, sejak pertemuan pertama, aku merasa dia adalah jodohku. Ku hanya berharap bisa membahagiakan hidupnya, setelah semua kesedihan yang pernah dialaminya. Jakarta,19 September 2013
Friday, September 13, 2013
Jumi dan Supri
CINTA YANG NAIF Jumi bukanlah seorang anak yang tak beruntung. Ibunya adalah puteri seorang tuan tanah, yang memiliki tanah hampir separo desa. Namun kenapa hidupnya tak beruntung, pertama karena ayahnya pemalas, dan kedua ibunya bodoh, tidak pernah sekolah. Warisan tanah yang dimilikinya dijual untuk makan, setelah habis jatuhlah mereka dalam kemiskinan. Jumi berkulit hitam manis. Tubunya kurus dan tinggi. Dari segi fisik, dia tidak jelek, mungkin karena kakeknya adalah orang kaya. Tetapi kenapa hidupnya kurang beruntung? Kakeknya orang terhormat di desa itu, dia memiliki dua anak Pak De Ji dan Onah, ibunya. Pak De Ji pandai berdagang, warisan yang dimilikinya makin berkembang dan makin kayalah dia. Sementara ibunya menikah dengan Domo. Domo berwajah tampan, sayang sekali dia pemalas. Domo tak pernah sekolah, kerjaannya tiap hari mancing dan mencari kodok di sawah. Untuk menghidupi keluarga, terpaksa ibunya menjual tanah dan sawah sedikit demi sedikit. Jumi memiliki seorang saudara perempuan bernama Siti, setelah lulus SMP, Siti tak sekolah lagi. lalu menikah dengan seorang tukang dan hidup terpisah dengan keluarga itu. Tinggallah Jumi bersama kedua orang tuanya. Jumi bukanlah gadis yang pintar, prestasinya di sekolah pas-pasan. Seperti kakaknya Siti, Jumi pun hanya menyelesaikan sekolah sampai SMP, lalu melamar pekerjaan sebagai buruh di pabrik yang berdiri tak jauh dari rumahnya. Bertahun-tahun Jumi bekerja sebagai buruh, usianya sudah 35 tahun, tetapi tak juga berjodoh. Di kampung sebelah tinggallah seorang pria bernama Supri. Supri bekerja sebagai tukang tagih rentenir. Awalnya dia sering menagih hutang pada ibunya, karena itulah dia sering bertemu Jumi, lalu mereka pun saling tertarik. Sayangnya Supri sudah beristri dan memiliki anak. Mereka tak mungkin menikah. Namun cinta terus menggerus hati. Dua insan dimabuk asmara. Melihat sikon yang tak memungkinkan, Supri tak hilang akal. Dia pun menikahi Jumi secara siri. Jumi menerima keputusan itu dengan hati lapang. Lalu pernikahan sederhana pun digelar. Cinta bukan hanya milik para puteri raja... Jakarta, 14 September 2013
Tuesday, September 10, 2013
Istrinya Selingkuh
CINTA YANG NAIF Kenalkan aku Yatin, perempuan laknat. Anakku dari suami pertama Warto lima orang. Mereka sekarang sudah remaja, dan ada yang sudah menikah. Tetapi ketika anak-anak mulai dewasa, justru perkawinanku hancur. Aku tak tahan, Warto sangat keras kepala. Dan aku terpikat pada Joko, tukang cukur yang sekarang jadi suamiku. Warto kerjanya serabutan. Pernah jualan sate, jualan es keliling dan terakhir jadi pemulung. Kami tinggal di rumah kosong, dengan anak-anak yang berjubel di rumah tanpa tanpa ubin dan kakus yang layak. Hidup kami tergantung dari kebaikan orang. Kalau sudah tak suka, aku dan keluargaku pasti di usir. Kami tak jahat, kami lapar. Namun orang-orang menyebut kami sekeluarga rakus, sebab kami suka mencuri buah-buahan, umbi-umbian dan kayu bakar di kebun mereka. Dan seluruh kampung membenci kami. Masa-masa sulit itu telah berakhir. Hidup seperti tak ada harganya. Dan Warto suamiku yang pemalas lebih banyak menghabiskan waktu dengan kail dan nongkrong di tepi sungai. Hidup tak juga berubah, aku juga letih harus bekerja serabutan mencuci baju atau buruh apa saja. Kebetulan ada tetangga yang kadang menggunakan jasaku mencuci baju. Tetanggaku itu selalu ribut. Pasangan suami istri itu sudah punya dua anak. Rupanya Watimah sang istri hamil dengan orang lain, bukan dengan Joko suaminya. Joko memergoki istrinya selingkuh berkali-kali dan meragukan anak di perutnya. Mereka ribut dan selalu berantem. Joko merasa nelangsa hidupnya. Tukang cukur itu sesekali mengeluh kepadaku. Kami pun menjadi dekat. Tak jarang kami bermesra saat istrinya tak ada. Bahkan kadang kami making love di kios cukurnya. Aku jatuh cinta, awalnya hanya kasihan sama Joko yang ditinggal selingkuh istrinya. Tetapi kurasakan bahwa Joko baik, perhatian dan murah rejeki, meskipun hanya tukang cukur. Kami saling jatuh cinta. Aku telah bermain di belakang suamiku dan aku telah terjatuh dalam cinta terlarang. Saat Watimah tahu hubungan kami, suasana rumah tangga mereka makin kacau. Dan suamiku pun akhirnya juga tahu dari Watimah. Suamiku marah besar lalu mengusirku dari rumah. Pada saat itu aku sadar telah kehilangan keluargaku. Aku menemui Joko. Dia pun memelukku, karena dia juga dalam keadaan tersiksa oleh kehancuran rumah tangganya. Lalu kami kabur ke kota lain dan menikah. Kami menikah tanpa surat nikah. Hanya nikah siri. Suamiku yang baru Joko, membuka kios cukur di pasar. Kami memulai hidup baru, dan sampai hari ini belum dikaruniai anak lagi. Cinta sederhana istri seorang pemulung dan tukang cukur. Jakarta, 10 September 2013
Subscribe to:
Posts (Atom)