Showing posts with label cerpen. Show all posts
Showing posts with label cerpen. Show all posts

Saturday, July 20, 2013

Kunang-Kunang di Tepi Jendela

Kunang-Kunang di Tepi Jendela
Oleh: Ririn Widiya


Mendung itu seakan tahu isi hatiku dalam kesendirian ini. Aku duduk termenung menatap langit dari balik jendela. Rintik hujan perlahan-lahan membasahi bumi. Aku menunggu kunang-kunang yang setia menemaniku setiap malam. Secercah air hujan membasahi mukaku. Segar kurasakan perlahan. Aku tersadar, ini masih sore, hanya gelap karena mendung seakan mirip malam hari. Dingin semakin menusuk. Aku segera beranjak pergi menuju taman.
Masih kuingat tepat jam 4 sore di taman ini sebulan yang lalu dia memutuskan sepihak hubungan yang sudah dibangun selama 3 tahun denganku. Dia “Ardhani” tanpa alasan yang jelas pergi meninggalkanku. Aku duduk di taman saat sebulan yang lalu Aku bertemu dengannya. Hujan semakin deras Aku tidak peduli. Sungguh Aku tidak peduli. Apakah ini yang dinamakan “Patah Hati”. Aku ditemani hujan deras, menggigil kedinginan.
Tiba-tiba datang sesosok pria misterius dari ujung jalan sambil berteriak. “Hai, siapa disana! Ini tempatku, bukankah tiap hari jumat jam 4 sore Aku standbay disini! Pergilah.” kata pria itu dengan tidak sopan. “Apa maksudmu, ini taman milik pemerintah. Tempat umum, apa kamu yang membeli tempat ini. Jangan sembarangan ya? Aku warga sini jadi aku berhak duduk disini”, jawabku kesal.
Hujan mulai reda, hanya sedikit rintik membasahi bumi. “Kalau dipikir-pikir ngapain ya seorang gadis sore menjelang malam di sini, kecuali gadis itu sedang stress” katanya sambil senyum-senyum menggodaku. “Kurang ajar sekali kau, terserah apa katamu, aku akan tetap duduk di sini”, jawabku santai. Entah apa yang akan dilakukannya, sebenarnya aku penasaran juga tetapi aku malas bertanya padanya. Hampir setiap hari aku ke sini. Semakin hari, hatiku semakin sakit. Apalagi saat mengingat kenangan indah bersamanya. Aku masih melamun ditemani sisa rintik air hujan. “Heiii, kau dengar aku tidak?” celotehnya sambil teriak ke arahku.
Aku diam, masa bodoh dengan permintaannya agar aku pergi dari sini. Aku pun tak menolehnya. Aku bagaikan orang stress dengan pikiran kosong. Baru kali ini aku pacaran dan baru kali ini aku sakit hati. Kalau tidak ingat dosa, tidak ingat orangtua mungkin aku sudah bunuh diri. Oh tidak, bodohnya kalau aku melakukan hal itu.
“Kau sedang patah hati ya?” ujarnya sambil memandang ke arahku. Tiba-tiba dia duduk di kursi taman tempatku duduk. “Bukan urusanmu,” jawabku ketus. “Iya kan, benar kan?” ujarnya sambil sedikit menggodaku. “Kalau iya kenapa? Apa kau bisa menyembuhkan luka di hatiku,” jawabku sambil teriak ke arahnya.
“Aku juga pernah mengalaminya,” katanya perlahan. “Siapa namamu?” tanyaku penasaran. “Namaku David, siapa namamu?” katanya sambil mengajakku bersalaman. “Namaku Rena, Rena Pramitha,” jawabku sambil bersalaman. “Maafkan aku telah menggunakan tempatmu,” kataku menunduk. “Eh, lihat ada pelangi! Indah sekali padahal matahari sudah tidak kelihatan, tetapi langit begitu cerah ditambah hiasan pelangi menambah indahnya panorama alam.”
Kami terdiam sambil memandang pelangi yang sangat indah. Tiba-tiba David membuka tasnya yg ternyata berisi biola. Jadi selama ini tempat ini menjadi sarana bermain biola untuknya. “Kalau kau tidak suka mendengarkan biola, pergilah, tidak apa-apa” katanya perlahan. “Aku suka mendengarkan biola, apalagi di saat suasana hatiku sedang kacau. Ambil alat gesekmu, mainkanlah” kataku sambil memperhatikannya. Ternyata David begitu rupawan. Cakep banget, mirip “Won Bin” aktor korea yang main di serial “Endless Love” hanya perasaanku atau memang benar adanya. Aku memandanginya sambil tersenyum.
Tiba-tiba David memainkan alat musiknya dengan sangat indah sekali. Alunan nada khas biola yang begitu merdu. Dia memainkan instrument dari film “Endless Love”, aku pikir biola cocok sekali dengannya dengan perawakan tinggi kulit kuning. Aku mendengarkan sambil memandang wajahnya. Sungguh indah sekali, tak terasa air mataku menetes perlahan. Dia masih terus memainkan. Dia sangat menikmati biolanya. Aku mengkhayal bebas membayangkan berada di suatu pentas musik bersamanya.
“Pulanglah, sudah hampir maghrib, tidak baik bagi wanita berada di tempat ini,” katanya memecah lamunanku sambil menghentikan musik biolanya. “Aku masih ingin disini. Aku tidak mau pulang. Aku senang bersamamu meskipun kita baru saja kenal. Aku merasa kita sudah kenal lama sekali” jawabku. “Aku juga merasakan hal yang sama,” katanya sambil tersenyum. Dia jauh lebih baik dari Ardhian. Sepertinya aku terlalu bodoh hingga mau memilih Ardhian si dekil item jelek tukang selingkuh itu. Aku sangat menyesal, seandainya waktu bisa diputar.
“David, aku hampir setiap hari kesini kenapa baru kali ini aku berjumpa denganmu? Apa kita pernah bertemu sebelumnya?” tanyaku mengagetkannya. “Aku melihatmu sudah sejak lama. Aku kasihan padamu, bahkan saat melihatmu seminggu yang lalu saat kau mau mencoba bunuh diri rasanya aku ingin melindungimu.” jawabnya. Aku kaget, bahkan dia tahu aku sempat hampir bunuh diri. Aku sangat malu padanya.
“Dimana rumahmu David, boleh aku main ke tempatmu?” tanyaku mengagetkannya. “Jalan anggrek, no.18.” jawabnya pelan. “Kamu kenapa? Apa aku tidak boleh maen ke tempatmu?” kataku lirih. David pun mengajakku pergi. “Pulanglah, nanti orangtuamu mengkhawatirkanmu.” pintanya. David berlari pergi sambil berteriak. “Aku pulang ya, nanti malam aku akan mengirim pesan ke rumahmu melalui kunang-kunang, daaa”. Kunang-kunang, aku jadi teringat kunang-kunang yang setiap malam menemaniku di tepi jendela. Apakah itu kunang-kunang darinya. Hari hampir petang aku masih memandang ke langit. Tiba-tiba ibu menelponku dan membuyarkan lamunanku, ibu menyuruhku untuk pulang. Tadi aku mimpi apa tidak ya. David oh David kau sungguh mempesona.
            Hari ini hatiku lumayan tenang karena bertemu sesosok pria romantis yang baik hati. Mudah sekali aku jatuh cinta padanya. Rasanya sakit di hatiku sudah berkurang. Ibu pun terheran-heran dengan sikapku. Ah sepertinya aku jatuh cinta padanya jatuh cinta yang kedua dan ini lebih dalam dari sebelumnya, hmmm namanya “David”. Aku akan ke rumahnya besok. Aku duduk di tepi jendela menunggu kunang-kunang yang setiap malam menemaniku untuk mengucapkan selamat malam. Ye ye ye, kunang-kunang itu sudah datang. Selamat malam kunang-kunang, ini waktuku untuk tidur karena besok aku akan bertemu dengan David pagi hari gumamku dalam hati.
***
“Ibu aku pergi dulu ya,” kataku dengan wajah ceria. “Mau kemana, pagi-pagi begini, ayo sarapan dulu,” jawab ibu sambil membawakan makanan untukku. “Nanti David keburu pergi ke kampus bu, aku ingin ke rumahnya?” jawabku sambil berlalu pergi dengan mengayuh sepeda. “David siapa?” Tanya ibu. “Daaa ibu, nanti pulang aku cerita deh, oke”. Hatiku berbunga-bunga, hari ini aku akan bertemu David lagi. Sambil membayangkan sosok David yang begitu rupawan. Seandainya dia benar-benar menyukaiku gumamku sambil berkhayal.
            Pagi yang cerah secerah hatiku. Sambil mengayuh sepeda dengan kencang aku berangkat pergi ke perumahan kota di dekat taman. Mencari Jalan anggrek, itu kan perumahan orang-orang elit. Kebanyakan yang tinggal disitu adalah para pejabat dan para pengusaha yang jelas berduit gumamku dalam hati. Nah, ini dia Jl.Anggrek No.18. Saat aku lihat rumahnya besar sekali. Rupanya si David anak orang kaya. Mendadak minder antara ragu dan keinginan untuk bertemu David. Nekat aku pencet bel. “Ding Dong” (memencet bel sambil memejamkan mata).
            Seorang satpam berbaju rapi membukakan pintu gerbang untukku. “Mau bertemu dengan siapa nona?”, Satpam itu mengagetkanku seketika aku langsung membuka mata “Saya Rena pak, temannya David?” jawabku sambil tersenyum. “Tapi nona, tuan David..” kata satpam itu dengan wajah sendu. “Siapa pak hendri?” tiba-tiba dari seberang teras seorang wanita setengah baya keluar dari rumah mewah itu. “Non Rena nyonya,” jawab satpam pada majikannya. “Biarkan dia masuk saya ingin bicara dengannya?” jawabnya halus.
            “Silahkan duduk Rena,” jawab wanita paruh baya yang masih kelihatan cantik dan keibuan, sepertinya ini mamanya David. “Saya mamanya David, panggil saya Tante Mer. Sejak dua tahun yang lalu David selalu bercerita tentangmu, dia sangat menyukaimu.” katanya mengagetkanku. “Maksud tante, David sudah tahu aku sejak dua tahun yang lalu?” jawabku kaget. Senangnya ternyata David adalah “The Secret Admirer” dia pengagum rahasiaku seperti mimpi, kenapa tidak bilang dari dulu sih David. “Iya, kamu gadis yang manis tapi sayang kamu sudah memiliki kekasih sehingga David tidak berani mengungkapkan perasaanya padamu?” jawabnya membuatku terhenyak.
            “Tante, aku habis di putus sepihak dengan kekasihku. Dia sangat jahat, sudah dua tahun ini dia selingkuh di belakangku. Aku juga menyukai David tante. Kenapa baru kemarin aku bertemu dengannya. Dia pria yang baik. Dimana David sekarang tante?” jawabku nerocos sambil penasaran karena dari tadi David tidak muncul juga. Padahal aku sudah dandan begitu cantik begini. “Apa!!! kamu bertemu David kemarin? Itu tidak mungkin! mungkin kamu sedang berkhayal” jawab tante Mer kaget. “Kenapa tidak mungkin tante.” jawabku kaget.
            “Rena sayang, David… David sudah meninggal 40 hari yang lalu karena kecelakaan,” kata tante sambil meneteskan air mata. “Apa???, Benarkah tante???” jawabku shock dan setelah itu akupun pingsan. Setelah sadar, tante menceritakan semuanya dan memberikan sebuah buku diary miki David. Sebuah buku yang dipesankan David sebelum meninggal agar diberikan padaku. Jadi, siapa yang aku temui kemarin, ini khayal, tidak mungkin.
            Sepanjang perjalanan pulang aku menangis. Aku menangis tiada henti. Sesekali aku melihat lalu lalang orang beraktivitas. Saat melewati taman kota aku tak melihat siapa-siapa disana. Aku terus berjalan mengayuh sepedaku sampai ke rumah. Aku menangis sambil memeluk ibuku. Aku menceritakan semuanya pada ibuku. Kenapa David harus pergi, kenapa bukan Ardhian saja yang meninggal. Lalu siapa yang aku temui kemarin. Kata-kata yang terlontar spontan dari mulutku.
            Malam ini aku membaca diary di halaman pertama: “Pertama kali melihat gadis ini duduk di taman menunggu kekasihnya. Padahal baru saja aku melihat kekasihnya jalan dengan gadis lain. Gadis itu sangat manis dan lugu. Ingin rasanya aku melindunginya, tapi siapa aku.” Aku membaca sambil meneteskan air mata. Bahkan David tahu siapa sebenarnya Ardhian. Aku melihat ke jendela kunang-kunang yang aku tunggu masih belum datang.
            Aku melanjutkan membaca catatan demi catatan “Gadis itu berangkat ke sekolah sangat pagi sekali sambil mengayuh sepeda. Demi bisa tahu siapa dia aku pun ikut naik sepeda di pagi hari. Aku bertanya pada siswa-siswa yang sedang ada disana. Akhirnya dapat informasi, dia bernama Rena. Ingin sekali aku berkenalan dengannya. Sungguh dilemma buatku karena dia sudah punya kekasih.” Kenapa, kenapa semua ini terjadi padaku. Aku menangis menyesali semua yang terjadi. Aku masih terus melanjutkan membaca diarynya. Aku tidak peduli air mataku menetes terus menerus.
            “Aku bertemu lagi dengan gadis ini waktu pulang kuliah. Dia masih duduk di bangku SMA. Sepertinya dia baru saja menerima kelulusannya. Dia pulang sambil mengayuh sepeda. Aku mengikuti di belakangnya. Dia tidak melihatku karena aku ada di dalam mobil.” Akupun mengingat-ingat peristiwa ini. Aku ingat waktu itu ada mobil mercy hitam yang mengikutiku. Aku pikir dia penculik karena waktu itu sedang maraknya penculikan gadis di TV. Akupun melewati gang-gang kecil yang tidak bisa dilewati mobil. Ternyata itu kamu David. Seandainya aku tahu.
            Malam ini aku masih melanjutkan membaca catatan-catatan yang masih belum aku baca. Aku sangat mengkhayati catatannya. Dia pria yang sangat baik meskipun dia belum pernah pacaran. Dia sangat setia pada orang yang di cintainya. Aku sangat menyayanginya, tapi Tuhan lebih menyayangi dia. Begitu cepat Tuhan mengambilnya. Sampai malam ini belum ada kunang-kunang yang menghampiriku.
            Hampir selesai aku membaca diarynya, mungkin malam ini selesai. Aku kembali duduk di samping jendela menunggu kunang-kunang yang akan memberikan pesan David untukku. Yeaaaa, akhirnya kunang-kunang itu datang merapat di tepi jendela. Aku mengambilnya dengan penuh kerinduan seakan kunang-kunang itu bicara menyampaikan pesan David untukku: “Aku bahagia disini Rena, setidaknya aku sudah menyampaikan semua isi hatiku di buku diaryku. Aku meminta ibuku memberikannya padamu. Terimakasih telah membuatku mengerti apa arti cinta. Sampai jumpa Rena. Aku mencintaimu” (sama seperti kata-kata terakhir di buku diarynya). Terimakasih David telah memberikan cinta terakhirmu untukku.
Aku menangis tiada henti sepanjang malam. Tidak pernah aku merasakan kebahagiaan bersama Ardhian. Tetapi dengan David walau hanya sesaat dan sangat singkat, bisa membuatku benar-benar bahagia. Aku telah jatuh cinta padanya. Tuhan cobaan ini begitu berat untukku. Mungkin ini sudah suratan takdirku. Aku harus menerimanya dengan ikhlas.
Besok adalah hari pertamaku masuk kuliah. Aku harus bersemangat. Aku yakin suatu saat nanti Tuhan pasti akan memberikan pasangan terbaik untukku seperti David mungkin atau bahkan lebih. Kunang-kunang itu masih menemaniku di tepi jendela. Hingga aku terlelap. Selamat malam kunang-kunang.
            Duhai ladang kehidupan yang menciptakan beribu hikmah tiada tara. Duhai keindahan bagi yang bisa menangkapnya. Mungkin ini salah satu karunia yang tiada akhirnya. Meskipun kadang kudapati diriku tak lagi menemukan keindahan yang bisa kuterpakan dalam ruang kalbuku.
Bersama potongan-potongan kehidupan mungkin aku ingin berkata. Suatu saat mungkin kita akan kembali bersama. Sebagaimana sungai semua akan kembali bersama. Menyatu bersama deburan ombak dan kemilau cahayanya.

Terimakasih atas percintaan tanpa sepotong pertemuan pun. Tanpa tanganmu menyentuh  jemariku, atau bibirmu hinggap di keningku. 
(Cerpen tulisan pribadi saat masih kuliah dulu semoga menginspirasi  ^_^ ) 

Saturday, March 23, 2013

Papaku Tersangka

CERPEN
Aku sangat takut pada siapapun yang memandangku. Semua orang seakan melihat diriku dengan jijik. Dua minggu sudah aku tinggal di sini, di rumah nenek yang jauh dari Jakarta. Sebuah kota kecil yang sejuk dan namun sepi. Aku pindah ke sini, setelah Papaku dijadikan tersangka korupsi.
Sekolahku yang baru sebuah SMP yang berada di lereng gunung. Gedungnya bercat putih, dari kejauhan seperti kotak-kotak balok mainan. Sekolah itu di tengah pesawahan, tidak terawat dengan rumput liar di segala sudutnya. Sampah juga bertebaran di mana-mana. Benar-benar sekolah kampung yang menyebalkan.
Pertama kali masuk sekolah, aku diantar sedan mewah milik Kakek. Semua murid yang ada di sekolah itu melihat dan menyaksikan kami datang. Jantungku berdebar. Untung Nenek menenangkanku.
"Mereka melihat mobil kakek, di kota ini hanya ada satu mobil seperti ini."
Hatiku lega.
Namaku Idham. Bulan depan, umurku 14 tahun. Aku anak sulung dari tiga bersodara, aku yang menjadi kesayangan Papa dan Mamaku. Karena aku berwajah tampan, dan aku pandai di sekolah. Selain itu gayaku trendi, seperti ABG Jakarta yang selalu modis dan keren.
Tetapi di sini, tinggal di kota kecil ini, adalah pilihan buruk dari yang terburuk. Mamaku bilang hanya sementara, kalau situasinya sudah normal kembali, aku akan kembali di sekolahku di Jakarta. Tetapi sampai kapankah?
Tiga minggu yang lalu, Papaku dinyatakan tersangka oleh KPK. Papaku dianggap mendapatkan gratifikasi saat menjabat sebagai anggota DPR. Saat aku membuka twitterku, nama Papaku disebut-sebut. Ramai sekali, ada pujian, ada caci maki, ada umpatan. Aku tak mengerti apa maksud kata-kata para orang dewasa itu. Yang jelas kata Mamaku, Papa tidak bersalah, Papaku difitnah.
Aku ingin meampercayai Mama. Aku menutup komputerku dan menutup mata dari semua tuduhan yang ditujukan kepada Papaku tersebut. Aku capek melihat media masa online dan orang-orang di twitter saling serang.
"Abaikan semua itu, fokus pada pelajaranmu," kata Papa waktu aku tanya semua itu.
"Apa yang sudah Papa lakukan?"
"Semua itu fitnah, Nak, kalau semua itu benar, kita pasti sudah kaya raya sekarang," ujar Papa.
"Papa tidak korupsi?"
"Enggak Nak."
"Papa bohong..."
Aku memukuli Papa yang membuat pikiranku kacau seperti ini. Bahkan rasanya hampir gila. Mama memegangiku lalu memelukku erat-erat. Aku menangis terisak-isak, aku tak peduli biar pun aku anak laki-laki, aku terus saja menangis.
Sehari setelah Papaku jadi tersangka, ada perasaan enggan berangkat ke sekolah. Aku takut sekali. Dan Mama memahamiku, beliau mengijinkan aku tidak masuk sekolah hari itu. Di rumah aku membenamkan diri di kamar, keluar kamar hanya saat mandi dan makan saja.
Lusanya, aku berangkat sekolah, semua karena bujukan Mama. Aku enggak tega melihat wajah Mama yang begitu baik dan sabar. Turun dari bus kota, lalu aku masuk ke gerbang sekolah dengan berjalan secepatnya ke kelas. Jaraknya lumayan.
Sepanjang koridor itu semua orang memandangku. Memandangku dengan jijik. Seorang murid yang nakal menyindir dengan suara keras:
"Anak koruptor, anak koruptor," semua yang mendengarkan tertawa.
Aku sampai di kelas lalu berdiam diri saja, rasanya ingin menangis. Tubuhku lunglai tanpa kekuatan. Tuhan apakah salahku, hingga harus menanggung ini. Bel sekolah rasanya lama tak juga berdering. Aku duduk pura-pura membaca buku.
Seluruh isi kelas itu mendiamkanku. Tak ada satu teman pun yang menyapaku. Pasti mereka jijik melihat diriku ini. Semua mata itu melihatku dengan cibiran. Dan sesekali kudengar bisikan yang ditujukan kepadaku. Aku benar-benar terhina.
Ketika pulang, aku berjalan cepat menuju halte. Aku melihat Sonya, gadis yang selama ini jatuh cinta padaku, dan aku juga tertarik padanya. Biasanya Sonya sangat antusias bila bertemu denganku. Tetapi, hari itu, Sonya tak menyapaku, bahkan tak membalas senyumanku. Dunia serasa kiamat.
Aku ceritakan semua itu kepada Mama. Mama pun memberiku pilihan-pilihan. Bahwa Papa akan diadili. Dan di pengadilan itu, Papa akan membuktikan bahwa dia tak bersalah. Tetapi pengadilan itu memakan waktu lama, bisa bertahun-tahun. Apalagi kalau kasus Papa bermuatan politis.
"Mama yakin Papa tidak bersalah?"
"Iya."
"Terus aku harus bagaimana Ma, aku nggak betah di sekolah itu, semua orang sudah tahu soal Papa."
"Kalau untuk sementara kamu sekolah di rumah nenek gimana?"
"Nggak mau."
"Di sana banyak anak-anak yang baik, tidak tahu kamu anak Papa..."
"Entahlah."
Aku memandangi wajah Mama yang cantik. Meskipun wajah itu menyimpan beban. Sejak semua peristiwa itu, Mama dengan sabar merayuku.
"Hanya semnetara, kalau nanti semua masalah selesai, kamu balik lagi ke sini."
"Aku pikir-pikir dulu ya Ma."
Esoknya aku memutuskan pindah sekolah. Dengan diantar Mama aku terbang ke rumah Nenek. Selama perjalanan aku menutup wajahku dengan masker. Di bandara pun, orang memandangi kami. Mereka sudah hapal dengan wajah Mama yang akhir-akhir ini sering nongol di media massa. Itu adalah pengadilan yang kejam bagi kami.
***
Pagi itu seperti biasa aku masuk sekolah. Di sekolahku, murid-muridnya berangkat sekolah dengan jalan kaki atau bersepeda. Sebagian diantar dengan sepeda motor. Aku satu-satunya murid yang diantar dengan mobil. Semua itu hanya untuk keamanan, karena aku belum paham wilayah itu.
Aku duduk menunggu bel pagi. Beberapa teman menyapaku dengan malu-malu. Dari pintu aku memandangi bunga-bunga yang mekar diantara ilalang. Angin menghembusnya perlahan selembut embun pagi. Aku rindu rumah, rindu Papa, mama dan adik-adikku, dan aku sebenarnya bosan dengan pedesaan ini, tetapi aku harus jalani.
Jakarta, 24 Maret 2013

Tuesday, March 5, 2013

Pesta

CERPEN
Tahun ajaran baru yang menyenangkan. Adam anakku naik ke kelas tiga. Karena terbatasnya ruang kelas, murid kelas tiga dan kelas empat masuk siang. Mulai dari jam satu sampai jam lima sore.
Waktu menunjukkan pukul lima sore, anak-anak usia sembilan tahunan menghambur riang dari kelas. Mereka adalah murid-murid Sekolah Dasar Negeri yang sedang bubaran sekolah.
Aku duduk di dekat penjual minuman dengan Sri Wiyani. Ibu Nadia, teman sekelas Adam anakku. Sejak kedua anak kami kelas satu, aku dan dia menjadi akrab. Sri adalah ibu yang perhatian terhadap pendidikan anaknya. Dari dia aku selamat karena Adam sering ketinggalan kalau menulis soal untuk PR. Aku cukup menelponnya, dan dia memberi tahu semua soal PR-nya. Maklum anak laki-laki terlalu sembrono dan tidak teliti.
"Adam, sayaang," kataku pada anakku sambil memeluknya ketika dia setengah berlari menghambur dari kelas.
Seperti biasa aku membuka buku PR-nya dan memeriksanya. Setelah kelas tiga, dia sudah tidak sembrono lagi, semua soal sudah dicatat dengan rapi.
Sri juga sedang memeriksa buku-buku Nadia. Dulu aku kurang perhatian seperti itu, setiap menjemput Adam, langsung pulang tanpa memeriksa buku PR. Sri yang memulainya, aku ikut-ikutan. Setelah kebiasaan Sri berpindah padaku, anakku sudah tak pernah lagi menunggak PR seperti dulu. Aku melirik ke arahnya, sambil bertanya.
"Sudah lengkap PR-nya Sri?" tanyaku.
Sekejap aku kaget melihat buku tulis latihan dan buku tulis PR milik Nadia. Buku itu sudah kucel, dan jelek karena buku lama.
"Buku anakmu kenapa?" tanyaku.
"Ini buku lama, bagian belakang yang masih kosong aku gabung jadi satu," katanya.
"Ya Alloh, Sri..." leherku serasa tersekat.
"Aku tak punya cukup uang, untuk membeli buku tulis baru," kata Sri.
Aku membuka dompetku dan mengeluarkan uang dua ratus ribu. Uang itu kemudian ku ulurkan pada Sri.
"Untuk membeli buku Nadia dan Widya," kataku.
Dia memandangku. Matanya berkaca-kaca. Tetapi uang itu belum diterimanya.
"Sepatu Widya rusak, sudah aku bawa ke tukang sol, tetapi dia menyerah, sudah hancur, jadi aku utamakan untuk membeli sepatu baru, " katanya.
"Terimalah uang ini, belikan anak-anakmu buku tulis baru," kataku meraih tangannya lalu aku taruh uang itu di telapak tangannya.
"Aku pinjam dulu ya, Bunda," katanya.
"Tidak, pakai saja," kataku.
"Terima kasih, Bun," ujarnya berkaca-kaca.
***
Suamiku memarkir mobil di depan sekolahan. Aku berpamitan sama Sri, dan bergegas menuju parkiran. Tergopoh aku membawa tas sekolah Adam, dan menggandeng tangan anak itu.
"Kita pulang dulu?" tanyaku pada suami.
"Langsung aja, bolak balik capek," jawabnya.
"Tetapi bajuku seperti ini...." kataku.
"Nggak masalah," katanya, "hanya pesta rumahan."
Pesta ultah perkawinan itu dari luar terkesan sederhana. Tetapi saat aku masuk, benar-benar tatanan pesta yang mewah. Undangan memang hanya kalangan terbatas, tidak banyak tetapi juga tidak sedikit. Bahkan mereka mengundang anak-anak yatim.
Aku menemui Viera yang sedang asyik menyambut tamunya. Begitu melihat aku dan suamiku datang, Viera memanggil Susilo suaminya. Susilo dan Viera adalah sahabat keluarga kami. Susilo aktif di politik dan sekarang menjadi walikota. Mereka berdua menyambut kami.
"Miriam..." kata Viera membuka tangan lalu memelukku.
Susilo bersalaman denganku, menyalami suamiku, lalu mereka berangkulan meninggalkan aku dan Viera.
"Kau terlihat cantik," kataku pada perempuan berdandan menor itu.
Penampilan Viera sungguh berbeda dengan jaman dahulu. Perempuan sederhana dengan senyum yang indah itu telah menjadi seorang istri pejabat. Aku tahu semua dandanan itu adalah manifestasi dari kedudukan suaminya.
"Kamu juga Mer, kamu tak berubah, alangkah rindunya aku, aku terlalu sibuk dengan segala tetek bengek ini, " ujarnya.
Tak beberapa lama muncul tiga perempuan cantik menemui kami. Viera memperkenalkan aku pada para perempuan itu.
"Kenalkan, ini Miriam sahabatku waktu kuliah," kata Viera.
"Endang Palupi," kata seorang perempuan berbaju merah penuh manik-manik.
"Ini suaminya pejabat eselon," kata Viera.
"Miriam," jawabku senyum.
"Retno Sinar Wulan," kata yang lain lagi.
"Ini nyonya anggota DPR," kata Viera.
"Miriam," jawabku.
"Fitri Nining Damayanti," sapa satunya lagi.
"Ini suaminya jenderal," kata Viera bangga.
"Miriam," kataku.
"Dia ini penulis novel," kata Viera. Sontak wajah mereka berubah. Ekspresinya menjadi aneh. Girang, senang, melonjak-lonjak seperti histeris.
"Oh my God," teriak Fitri.
"Wonderful...." Endang berseri-seri.
"Hebaaaat..." kata Retno Wulan angkat jempol.
"Terima kasih, biasa saja kok," kataku.
Pengajian dimulai. Para perempuan dengan dandanan seperti topeng itu, memasang wajah khusyuk duduk dengan rapi penuh sopan santun. Aku duduk di pojok sambil memangku anakku. Viera ada di antara mereka. Mengangguk-angguk ketika sang ustad menebarkan nasehat.
Adam ingin pipis, akhirnya aku berjalan diantara para jamaah dan menuju toilet di sudut ruangan. Membuka celana Adam, dan menyuruhnya pipis sendiri. Toilet itu luas, biarpun hanya toilet rumah, di desain seperti hotel. Seseorang masuk dan berdiri di depan wastafel. Oh Retno Sinar Wulan.
"Isi pengajiannya bagus ya," sapaku pada perempuan itu. Dia tak diam tak bereaksi.
"Ustadnya lumayan ya," kataku sambil memandangi wajahku di cermin.
Perempuan itu menoleh ke arahku. Wajahnya aneh, tidak tersenyum, tidak bicara. Seperti orang yang tidak kenal. Melengos, memasukkan make up nya ke tas dan meninggalkan ruangan itu.
"Oh, ternyata menderita amnesia akut ya," kataku pada bayanganku di cermin.
Padahal beberapa menit yang lalu dia begitu heboh memujiku. Sekarang sudah tak kenal. Masak sih lupa.
Setelah Adam selesai pipis, aku kembali ke ruangan. Acaranya makan-makan. Aku mengambil sepirimg nasi dan lauk untuk Adam. Aku sendiri hanya makan salad buah-buahan. Viera mengajakku bergabung semeja dengan dia dan teman-temannya itu. Aku tak menolak. Tetapi aku asyik dengan mangkukku. Para perempuan itu lagi yang harus aku temui. Sedihnya, saat aku bersama Viera, mereka begitu ramah. Kalau tertawa kurasa giginya pada rontok, kalau tidak dipasang kawat gigi.
Mereka membicarakan barang-barang mahal. Mereka membicarakan sekolah anak-anak mereka yang mewah. Membicarakan cafe-cafe langganan. Butik-butik, salon-salon dan juga bank-bank yang bagus buat menyimpan uang mereka.
Hatiku teriris. Para istri pejabat ini, sedang berhura-hura dengan jabatan suaminya. Mereka penuh kepalsuan dan seperti monster yang menjijikkan. Air mataku menetes, dan segera kuhapus dengan punggung tanganku. Aku terbayang wajah Sri. Terbayang buku anak-anaknya yang kucel itu. Aku merasa begitu sendiri, di tengah pesta ini.
Jakarta, 23 Juli 2011

Sunday, February 24, 2013

Pada Sebuah Tempat di Surga

CERPEN
Mata Senja menyusuri taman-taman surga yang indah. Dengan mobil atap terbuka merah yang super wah. Mobil yang selalu meluncur lembut nyaris tanpa suara. Kendaraan impian ketika Mata Senja masih hidup di dunia. Perempuan itu terus meluncur, menyusuri jalan-jalan yang berkilauan indah diterpa sinar matahari, yang hangat, tidak terlalu terang dan membuat hati terasa nyaman.
Jalanan di surga penuh dengan pepohonan warna-warni di pinggirnya. Bunga-bunga seperti mengambang dan tersenyum kepada siapapun yang melihatnya. Suasana sunyi, tetapi tidak terasa sepi di dalam dada. Semua serasa tenang, damai, penuh keramahan dan menyenangkan.
Mobil yang dikendalikan dengan remote berbentuk hati itu terus meluncur perlahan, setiap pohon yang dilewati menyapanya dengan ramah. Atas perintah tuannya, mobil itu kemudian berhenti di sebuah taman yang indah. Banyak penghuni surga yang lain di situ. Suara tawa renyah terdengar di segala sudut yang dipenuhi dengan warna-warni bunga. Wanginya menyeruak di segala sudut ruangan, dan bunga-bunga itu akan menghampiri bila seseorang menyapa.
Mata Senja berjalan dan terus berjalan dengan sepatu indahnya. Gaunnya melambai lembut karena terbuat dari sutera halus dengan manik-manik di segala sudutnya. Setiap dia melangkah sekuntum bunga akan tumbuh di bekas jejak kakinya.
Terkejutlah dia, ketika di suatu sudut taman, terlihat seseorang, seseorang yang rasanya pernah dia kenal sebelumnya. Dia mengenal sorot matanya, mengenal senyuman dan juga gerak-gerik tubuhnya. Oh bukankah dia Irawanto begitu hatinya bisa menjawab. Apa yang dilakukannya di sini? Lalu dia pun menghampiri laki-laki itu.
"Hai," sapanya dengan senyuman.
"Oh, hai juga, siapa kamu? " tanya laki-laki itu.
"Bagus, ternyata kau telah melupakanku ya," ujarnya menahan kesal.
"Oh, aku ingat sekarang, bukankah kau Amelia," kata laki-laki itu kemudian.
"Aku sekarang bernama Mata Senja, Amelia adalah namaku ketika aku hidup di dunia," jawab perempuan itu masih dengan nada kurang menyenangkan.
"Oh, gitu, kalau begitu kenalkan, namaku Rajawali Emas, itulah nama surgaku!" kata laki-laki itu.
"Kau tak pantas menyandang nama itu, kau lebih pantas dipanggil Air Comberan, atau Kotoran Kuda," kata Mata Senja dengan nada kesal.
"Mata Senja jangan marah-marah, ini di surga," kata Rajawali Emas dengan nada rendah.
"Kupikir, dan aku berharap tidak akan menemukanmu di sini, neraka adalah tempat yang tepat untukmu, Air Comberan," kata perempuan itu lagi.
"Oh, kau masih marah-marah rupanya," kata Rajawali itu mencoba bersabar.
"Iya, kau adalah laki-laki yang terjahat yang pernah aku kenal," ujar Mata Senja.
"Maafkan aku," kata Rajawali.
Lalu Mata Senja mengeluarkan sebuah kotak kecil, berrbentuk persegi, dari tas tangannya. Kalau di dunia, benda semacam itu namanya telepon genggam. Lalu dia berbicara dengan benda berbentuk indah itu.
"Memori masa lalu," ujarnya.
Segera saja benda itu mengeluarkan suara berdesing, tetapi tak menyakitkan telinga. Mata Senja mengarahkan benda itu ke langit luas yang ada di atasnya. Benda kotak berwarna pink itu mengeluarkan cahaya berkilauan. Dari cahaya itu kemudian membentuk seperti kotak layar yang besar.
"Sakit," kata Mata Senja.
Layar itupun kemudian memunculkan gambar seperti bioskop kalau di dunia dan muncullah seperti sebuah kamar. Seorang perempuan muda berbaring disana. Perempuan itu begitu lemah. Perempuan itu berwajah pucat pasi.
"Lihat itu, Air Comberan, itu adalah gambaran ketika aku sakit, tetapi sama sekali kau tak menengokku, kau pergi entah kemana tanpa memberikan pesan dan kabar," Mata Senja mencucurkan air mata.
"Ya itu salahku, " kata Rajawali.
Lalu Mata Senja berbicara kepada kotak itu lagi,
"Pecat."
Layar itu berubah lagi, menggambarkan sebuah ruangan yang mewah. Banyak orang berlalu lalang di sana. Rupanya itu sebuah kantor. Seorang perempuan duduk sendiri di meja kerjanya, air mukannya sangat sedih. Air mata berlinanga di dua pipinya.
"Itu saat aku dipecat dari pekerjaan, kau dimana, bersenang-seneng dengan perempuan lain?" tanya Mata Senja.
"Oh, aku di rumah, aku malas menemuimu waktu itu, jengkel karena perilakumu," ujarnya.
"Masih ada beberapa lagi gambaran masa lalu, dimana kau selalu tak ada ketika aku masih berada dalam kesulitan. Kau tak ada ketika hatiku bersedih, ketika hatiku merana, kau selalu tak ada, " perempuan itu menangis.
"Maafkan aku," kata Rajawali Emas.
"Maafkan? Kau kira semua sakit hati ini bisa selesai dengan kata maaf?" ujar Mata Senja masih menangis.
"Aku juga punya gambaran kekejamanmu. Semua penghianatanmu dengan perempuan lain. Merayu-rayu dan berkasih mesra dengan perempuan gatal di belakangku. Semua kau lakukan dengan tenang tanpa peduli dengan perasaanku. Kau ini benar-benar kotoran yang tak berguna..."
"Maafkan aku, Mata Senja," kata Rajawali Emas.
Perempuan itu terus menangis. Bunga-bunga surga mencoba menghiburnya dengan menari-nari di sekitarnya. Berputar indah, mengambang mengelilingi tubuh langsingnya yang indah. Sementara laki-laki itu hanya diam. Membisu dengan muka pucat pasi, menahan kesedihan.
"Aku tidak terima, Air Comberan, kau tak layak hidup di sini, aku akan menghubungi malaikat, aku akan protes," kata Mata Senja.
Lalu dia mengangkat kotak semacam telepon genggam itu di depan wajahnya. Benda itu bekerja memang tidak perlu di sentuh seperti telepon genggam layar sentuh, atau dengan mengetik sesuatu seperti Blackberry yang ada di dunia. Pemiliknya cukup memerintahkan dengan ucapan kepadanya.
"Hubungkan denga malaikat penjaga surga," katanya.
Ada semacam gerakan berputar di layar kotaknya. Lalu layar itu terus berputar dan berakhir dengan sebuah cahaya indah, tidak menyilaukan, tetapi sangat menyenangkan dan sedap dipandang mata. Tak beberapa lama muncul wajah malaikat, dan tersenyum lembut dia bertanya.
"Ada apa, Mata Senja?" tanya si malaikat.
"Kayaknya ada laki-laki yang salah masuk ke sini," kata Mata Senja.
"Oh, benarkah, katakan siapa namanya?" tanya di malaikat.
"Dia mengaku bernama Rajawali Emas, tetapi menurutku dia lebih cocok bernama Air Comberan," ujar Mata Senja.
"Baik, sebentar aku cari datanya ya..." kata sang malaikat.
Sejenak menunggu.
"Nah, ini ketemu, Rajawali Emas, nama di dunia Irawanto. Kejahatan nol," kata malaikat.
"Tidak mungkin, dia pernah menyakitiku, menyiksaku, menghianatiku, orang yang sangat mencintainya," kata Mata Senja lagi.
Rajawali diam saja, menggigil ketakutan. Takut, bahwa memang benar keputusan masuk surga ini adalah kesalahan semata.
"Duhai malaikat yang terhormat, apa yang dilakukan penjahat ini hingga bisa masuk surga, cepat katakan, jangan berbuat kesalahan, orang semacam dia seharusnya mendapatkan balasan yang setimpal, dan merangkak di neraka," kata Mata Senja.
"Baik," kata sang malaikat.
"Cepat, katakan," ujar Mata Senja tak sabar.
"Dia menghabiskan sisa hidupnya untuk menyesali kesalahannya, lalu dia selalu mendoakan Amelia Pusparini, untuk mendapatkan tempat terindah di surga," kata malaikat.
"Oh..."
Mata Senja terkulai lemas. Dimatikan ponsel surgawi itu, setelah sebelumnya berterima kasih pada sang malaikat. Dipandanginya Rajawali yang diam terpaku.
"Aku tak mau membahasnya sekarang, sampai ketemu di lain waktu," katanya.
"Masih marahkah kamu, ini di surga, kurang apa lagi," kata Rajawali.
"Aku akan cari pengacara, aku tahu jatahmu di neraka..." ujarnya menaiki mobilnya, lalu memerintahkam mobil merah menyala itu meninggalkan tempat itu.
"Dasar perempuan, tetap saja tak punya otak, hahaha...." ujar Rajawali, sambil menghampiri para bidadari di sekelilingnya.
Jakarta, 13 Juli 2011

Friday, October 19, 2012

Sopir Jemputan

CERPEN
Bang Muis memandangi mobil kijang tua itu. Bercat biru yang sudah lusuh. Dan juga ada goresan di sana-sini. Sudah lima tahun mobil itu bersamanya mengantar anak-anak pulang pergi sekolah. Mobil jemputan tersayang yang sebentar lagi akan pensiun.
Sebelumnya dia memiliki mobil Hijet biru, yang juga sudah sangat tua. Dari bunyi mesinnya saja terdengar seperti keledai lapar yang berteriak sumbang. Tetapi hijet tua itu sudah menemaninya hampir 20 tahun mengantar anak-anak pulang pergi sekolah.
Ada rasa aneh menyelinap di dalam hatinya. Pensiun sebagai tukang jemputan sekolah, ah sungguh menyakitkan. Anak-anak itu, berganti-ganti dari tahun ke tahun. Dan mereka sangat berbeda-beda, mulai dari yang usil, yang cengeng, yang nakal sampai yang pendiam sepeti batu.
“Aku akan merindukan mereka,” bisiknya dalam hati.
Dielusnya mobil itu. Sungguh, dia belum siap untuk pensiun. Dia ingin tetap bersama anak-anak itu, mengantar mereka ke sekolah dengan selamat. Menghibur mereka bila jalanan Jakarta macet, atau sekedar menggoda mereka dengan teka-teki lucu.
Bahkan Devina, anak kelas satu itu tidak mau sekolah kalau tidak diantar mobil jemputannya. Padahal orang tuanya memiliki mobil yang lebih bagus. Awalnya karena Ibunya ada keperluan mendadak. Lalu perempuan itu menelponnya, untuk sekalian mengantar Devina pulang.
“Titip Dev ya, Bang, saya ada perlu sebentar, daripada dia menunggu lama,” katanya.
“Iya, Bu," balas Bang Muis.
Gadis kecil itu diam di kelas sendirian. Wajahnya menahan tangis. Ketakutan karena hanya tinggal dirinya yang belum di jemput. Bang Muis kemudian menggendongnya dan bilang akan mengantarnya pulang. Karena bukan siswa pelanggan, Bang Muis mendudukkan Devina di jok depan di sampingnya.
Mobil jemputan memang mengantarkan siswa ke rumah mereka satu persatu. Dan harus bersabar karena letak rumah siswa yang berpencar di sana-sini. Salah satu rute yang harus ditempuh adalah melewati sebuah danau buatan di sebuah pinggiran bukit. Saat melewati danau itu, Devina begitu terpesona oleh air yang melimpah ruah biru membentang. Ada beberapa perahu yang mengapung disana.
“Kapallll...” seru Devina.
Siswa yang sudah langganan naik jemputan itu menertawakan gadis kecil kelas satu yang terlihat cengeng itu.
“Baru tahu ya, keciaan...” kata Donny siswa kelas 4 yang memang usil.
Melihat kekaguman Devina pada danau itu, Bang Muis menghentikan mobil jemputan itu dan membiarkan Devina dan semua anak turun untuk memandangi danau. Siswa yang lain ada yang senang tetapi ada juga yang protes.
“Biarkan saja, Nak, Devina kan baru kali ini melihat danau ini," kata Bang Muis pada murid lain.
Setelah gadis itu puas, Bang Muis meminta semua anak masuk kembali ke mobil. Dan Devina kembali ke tempat duduknya dan mulai menjalankan mobilnya.
“Setiap hari lewat sini ya Bang?” tanya Devina.
“Iya Nak...”
Besoknya pagi-pagi ibunya Devina menelpon dan meminta Bang Muis menjemput puterinya. Dia tidak mau sekolah kalau tidak naik jemputan itu. Dan mulai hari itu bertambah satulah pelanggan jemputannya.
Bang Muis nyaris menangis bila ingat semua itu. Semua siswa yang ikut jemputannya memberikan makna bagi dirinya. Baginya mengantarkan dan menjemput anak-anak itu bukan hanya sekedar pekerjaan agar dapat menghidupi keluarga. Tetapi ada kepuasan batin karena anak-anak itu. Cerita-cerita tentang anak-anak itu membuatnya bahagia.
Dan sekarang dia akan pensiun. Sekolah akan mengganti mobil baru. Dia sudah terlalu tua untuk menjalani profesi sebagai tukang antar jemput sekolah. Hatinya kembali perih. Bukan apa-apa, selalu ada rasa bilakah anak-anak itu akan terlantar setelah dia berhenti. Kegetiran itu bukan tanpa alasan.
Beberapa bulan yang lalu, Bang Muis sakit. Tentu saja harus ada yang mengantarkan anak-anak itu pergi ke sekolah. Namun adakah yang bisa sepertinya, menjadi tukang jemputan dengan sepenuh hati.
Akhirnya dimintalah si bekas sopir angkota Rusli menggantikannya untuk beberapa hari. Selama mobil jemputan disopiri Rusli, hampir semua ibu pelanggannya komplain. Ada yang anaknya ketakutan karena ngebut. Ada yang nyaris tertabrak motor, karena disuruh turun sendiri oleh Rusli dan ada yang tasnya hilang entah kemana.
Bang Muis meminta maaf kepada semua ibu itu atas semua yang terjadi. Dia benar-benar trauma dengan peristiwa itu. Menjadi sopir jemputan tidak bisa seperti sopir angkot, yang penting penumpang sampai tujuan. Mereka ini mengnagkut anak-anak kecil yang mesti dijaga dengan penuh tanggungjawab.
Setiap mobil jemputan akan berangkat, semua anak harus sudah komplit. Bang Muis juga selalu memeriksa barang bawaan anak-anak itu, terutama tas sekolah mereka. Seringkali dia juga melihat apakah mereka masih bersepatu, ataukah sepatunya dilepaskan entah dimana. Pernah seatu ketika seorang anak sepatunya tertinggal, sudah mau berangkat mobil jemputan itu, tetapi anak itu bercanda dengan teman-temannya, tanpa sepatu. Ketika ditanya dimana sepatunya, dia bilang nggak tahu. Terpaksa Bang Muis kembali ke sekolah dan mencari sepatunya.
Anak-anak kelas satu dan kelas dua yang paling butuh perhatian ekstra. Mereka seringkali lupa barang bawaan dan minta digandeng ataupun di gendong menuju mobil jemputan. Dan Bang muis dengan senang hati melakukan tugas itu sebagai tanggungjawab hidupnya.
Dan sekarang dia akan pensiun. Dia akan kehilangan semuanya itu. Tak ada lagi siswa yang menggelendot di pundaknya. Tak ada lagi anak-anak yang begitu ceriwis di sepanjang jalan. Atau seperti Khalil yang terus menerus menggoda murid-murid perempuan sampai mereka menangis menjerit-jerit karena dibuka roknya untuk dilihat warna celana dalamnya.
“Bu...” Bang Muis memanggil istrinya.
“Iya Pak,’ jawab istrinya.
“Buatkan kopi...”
“Iya Pak...”
Tak beberapa lama istrinya datang dengan secangkir kopi. Bang Muis duduk di beranda depan masih memandangi mobil tua itu. Memandangi rodanya, lampu-lampunya, atap dan semuanya. Benda itu telah mengantarkannya pada sebuah kehidupan yang dijalaninya dengan sepenuh hati.
Bukan pekerjaan yang hebat. Hanya sopir jemputan. Bila ada kesalahan sedikit saja, akan menjadi gossip bagi ibu-ibu bawel yang resek di sekolah. Benar-benar harus bertanggungjawab menjaga anak-anak itu dari rumah mereka sampai sekolah, lalu mengembalikan mereka ke rumah dengan selamat tanpa kurang suatu apa.
Pekerjaan ini bukan pekerjaan impian banyak orang. Kalau menyupir angkota, sehari pasti akan mendapatkan uang lebih banyak lagi. Atau sopir taksi yang gagah mengantarkan orang-orang kaya kemana-mana. Dia hanya sopir jemputan. Tanggungjawabnya terhadap anak-anak sangat besar, tetapi sering dipandang sebelah mata.
Dihirupnya kembali kopi dihadapannya. Sore telah jatuh, siang berganti malam. Mentari silih berganti dengan malam, mengambil usianya. Dan dengan secangkir kopinya dia menunggu saat-saat untuk pensiun. Sungguh, dia benar-benar akan merasa kehilangan...
Jakarta, 19 Oktober 2012

Wednesday, September 12, 2012

Tentang Adelia

CERPEN
PING!!!
PING!!!
PING!!!
Buru-buru Adel membuka Blackberrynya. Sapa nih, pang ping pang ping melulu, pikirnya. Dibukanya BLackberry Massenger yang bertanda bintang merah itu. Berharap ada bintang jatuh.
M4D4:
Ada apa, kenapa status BB loe kayak gitu?
ADELiA:
Kenapa elo tiba-tiba sewot begini, Da...
M4D4:
Status loe
Adel membaca statusnya di BB putih itu: "Qu ingin berjalan di tengah hujan, jadi nggak ada yang melihat Qu menangis..."
PING!!!
ADELiA:
Apa sih?
M4D4:
Kenapa elo menangis dalam hujan?
ADELiA:
Apa urusan elo sama status gue, suka-suka gue dong!!!
M4D4:
Elo baik-baik saja Adel?
ADELiA:
Tidak gue tidak baik-baik saja, Da, gue drop....
M4D4:
Bisa ditebak!!! Oke, temui gue jam makan siang, SEvEL, sektor IX jangan tidak...
ADELiA:
Ok!!!
Siang membakar hari. Jakarta kering kerontang. Sudah hampir 2 bulan tidak hujan. Debu-debu berlarian di jalanan. Dan orang-orang berpeluh dalam perjalanan masing-masing. Gadis cantik itu, melarikam sedan jazz-nya perlahan. Menahan air mata agar tak meluncur di pipi, malu kalau sampai terlihat orang.
Mada sudah duduk di teras luar Sevel. Adel memarkir dan sekilas tersenyum kepadanya. Cowok itu mantan pacarnya. Tetapi sekarang sudah menjadi sahabat. Adel memilih begitu karena memang tidak ada rasa apapun di hati terhadapnya. Tetapi rasa sayang menggerakkannya untuk tetap menjalin hubungan persahabatan. Dan Adel selalu meminta Mada untuk mengimbangi niat baiknya, tidak ada cinta.
"Kamu terlihat cantik," kata cowok tampan itu sambil memandang Adel.
"Makasih, Da..."
Adel duduk di hadapannya. Memandangi Mada yang sudah memilih makan siangnya. Setangkup burger dengan keju melintas di lapisannya. Mada terlalu lama tinggal di Amerika, jadi menyukai makanan begituan.
"Pengen makan apa, Adel?"
"Gue nggak nafsu makan, Da," katanya.
"Jangan sampai perutmu kosong, tadi pagi sudah sarapan?" Adel menggeleng. Lalu Mada berdiri.
"Gue ambilkan lasagna ya?"
"Nggak usah, kopi aja..."
"Kasihan lambung lu, nanti sakit, baik lasagna sama kopi, deal, gue memaksa," kata Mada.
Adel mengangguk.
"Gimana penjualan kaset loe?"
"Lumayan, minggu depan tour tiga kota," kata Adel.
"Lalu apa yang elu sedihkan? Manager elu?" Adel menggeleng.
"Kurasa gue tahu, pasti laki-laki brengsek itu, ini soal Nikholas kan?"
Adel terisak. Entah mengapa air mata tak bisa dibendungnya.
"Kenapa dia?"
"Dia meninggalkan gue begitu saja, tanpa pamit," kata Adel.
"Ada perempuan lain?"
Adel menggeleng.
"Gue enggak tahu, mungkin iya, gue tidak tahu pasti, Da," ujar Adel.
"Gue pikir, kalian baik-baik saja, ada masalah apa sih?"
"Apa gue belum cerita, Nikholas itu cemburuan, terutama sama fans-fans gue. Gue nggak ada hubungan apa-apa sama mereka, gue harus memperlakukan mereka dengan baik," kata Adel.
"Iya sih," kata Mada.
"Gue benar-benar terpukul, dia sangat berarti buat gue, dia motivasi gue, gue hancur tanpanya," ujar Adel.
"Sabar, Del," kata Mada.
"Apakah artinya semuanya ini tanpa Nikho di sisi gue, semua keramahan itu hanyalah bagian dari profesionalitas, gue setia, dan gue tak pernah mendua, kenapa dia tak juga mengerti profesi gue sebagai menyanyi," ujar Adel. Mada diam.
"Rasanya seperti mati," kata Adel.
"Telepon dia, Del!"
"Percuma, Gue takut," kata Adel.
"Coba dulu," ujar Mada.
"Enggak, dia sudah menolak gue..."
"Telepon sekarang, ayo, gue memaksa," kata Mada.
Adel mengontak salah satu nomor telepon yang tercatat di Blacberrynya. Tetapi tidak diangkat. Telepon itu berfungsi, masih berfungsi tetapi tidak diangkat.
"Tidak diangkat," kata Adel.
"Lagi! Jangan menyerah!"
Adel mengontak lagi. Tidak diangkat. Dia menggeleng. Sampai akhirnya pada panggilan entah ke berapa Nikholas mengangkat teleponnya.
"Ada apa?" katanya.
"Elu dimana?"
"Tidak penting di mana gue berada, iya kan, urusi saja itu fans-fans elu, teman-teman elu, mereka lebih penting kan?"
"Tidak Nikho, elu-lah yang terpenting dalan hidup gue..."
"Urusi saja karir elu, gue lebih tenang tanpa elu..."
"Maksud lu, gue mesti lepaskan semuanya ini, karir dan cita-cita gue. Yang gue heran, kenapa lu enggak pernah ngerti kerjaan gue, nggak ngerti profesi gue, gue juga punya cita-cita, padahal gue selalu nerima profesi elu...."
"Omong kosong!"
"Baik kalau begitu, gue akan berhenti menyanyi, gue tinggalin fans gue, persetan dengan cita-cita gue, semua itu nggak penting, yang penting elu selalu di sisi gue..."
Nikholas diam.
"Sumpah demi Tuhan, gue nggak akan pernah ninggalin elu, jadi apapun gue, gue pengen tetap bersama elu. Semua ini nggak penting, elu lah yang paling penting bagi gue, Nik," ujar Adel.
Nikholas tak menjawab. Lalu menutup teleponnya.
Adel menangis. Gadis berdiri dan berjalan ke arah Mada.
"Peluk!"
Mada berdiri dan memeluk gadis itu.
"Sabar, dia butuh waktu," bisik Mada.
Air mata berucuran.
Jakarta 12 September 2012

Wednesday, September 5, 2012

Selingkuh

CERPEN
Perempuan itu duduk menghadap jendela. Malam begitu kelam, dan beberapa bintang bergayut di langit. Angin meniup memburai dan wewangian aroma tanah bercampur baur dengan rindu di dadanya. Malam-malam seperti ini, biasanya dia bersama suaminya. Bercengkerama indah sambil menikmati kopi atau mendengarkan musik bersama. Tetapi semua itu berlalu, semenjak suaminya meninggalkannya pergi dengan perempuan lain.
Sabina mengusap air matanya yang meleleh lembut di pipinya yang tirus. Mencoba untuk menahan agar tiada air mata yang bergerai lagi, karena memang takdirnya hari ini adalah sendiri.
“Engkau dimana sayang, sedang apa sayang, dengan siapa sayang,” bisiknya dalam hati.
Perih menusuk di dadanya. Dan selalu saja berusaha mencari kesalahan dalam dirinya, sehingga suaminya berpaling darinya. Apakah aku ini kurang cantik, begitu kata hatinya. Apakah aku ini membosankan, apakah aku ini kurang baik? Sabina tersedu lagi.
Kecurigaan Sabina muncul ketika, suaminya mulai tidak antusias terhadap semua pembicaraan-pembicaraan saat berdua. Dia mengatakan sedang memikirkan pekerjaan, sehingga nggak bisa berkonsentrasi kepada semua cerita yang diungkapkan.
“Ya sudah sayang, tidurlah, himpunlah kekuatan untuk kerja esok,” begitu kata Sabina.
Suaminya seringkali tak manyapanya ketika selesai kerja. Hanya berlalu saja, seakan tidak ada dirinya dan mulai bersikap tidak peduli.
“Airlangga, ada apa sebenarnya?” tanya Sabina.
“Tidak apa-apa, aku mau tidur,” ujarnya.
“Baik, istirahat ya sayang,” ucap Sabina getir.
“Aku baik-baik saja, mengertilah dengan kondisiku ya, jangan berfikir macam-macam,” begitu kata Airlangga.
Hati tiada bisa berbohong. Ada rasa aneh yang menyelubungi. Ada perubahan yang terjadi, Sabina bisa merasakan hal itu. Tuhan berilah aku petunjuk. Berilah jawaban apa yang sebenarnya terjadi, bisiknya lembut kepada Tuhan.
Sampai akhirnya suatu pagi, Tuhan menjawab doanya. Sabina menemukan foto perempuan di tas kerja suaminya. Diam-diam dia meraih telepon genggam yang tersimpan rapi di tas itu. Dibukanya telepon genggam itu, dan dia kaget membaca pesan-pesan di dalamnya. Oh, jadi inikah yang selama ini membuatmu sok sibuk. Sabina menemukan kata-kata menjijikkan, pembicaraan sangat mesra antara suaminya dengan seorang perempuan.
“Sungguh sayang, aku sudah tak mencintai Sabina, aku hanya mencintaimu, cintaku utuh,” kirim suaminya.
“Benarkah sayang, aku juga sangat mencintaimu, biarpun aku bersuami,” kata perempuan itu.
“Percayalah, aku mengagumimu, aku jatuh cinta kepadamu,” tulis suaminya lagi.
“Aku juga selalu rindu,” balas perempuan itu.
Hueeek...... Sabina muntah.
Dimasukkannya telepon genggam dan foto perempuan itu kembali ke dalam tas suaminya. Lalu dia ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
“Sabina, kamu baik-baik saja?”
Sabina keluar dari kamar mandi dan menemui Airlangga sudah siap berangkat kerja. Dihampiri laki-laki tampan itu dan ditamparnya dengan keras. Airlangga kaget. Ketika akan menampar untuk yang kedua kali, Airlangga menahan tangannya.
“Ada apa sih?” tanya Airlangga.
“Harusnya aku yang bertanya begitu, play boy,” ujar Sabina kesal.
“Tenang, Sabina, kita bicarakan baik-baik,” ujar Airlangga.
“Aku jijik melaihat kalian,” kata Sabina.
“Kalian? Siapa?” tanya Airlangga masih belum mengerti.
“Jangan pura-pura bodoh, siapa perempuan di foto itu?” tanya Sabina.
Muka Airlangga memerah. Dia tak menjawab.
“Siapa perempuan jalang itu?”
“Diaam...!” bentak Airlangga.
“Siapa lagi korbanmu, bagaimana kalau ketahuan lagi sama suaminya! Kamu ini tidak kapok-kapok ya?” Sabina berteriak sambil menangis.
Airlangga masih tidak bergeming.
“Dasar buaya, ketemu perempuan gatel...”
“Tutup mulutmu, jangan menghina...” Airlangga mendorong Sabina agar mundur.
Sabina kaget. Terseok lalu jatuh karena kuatnya dorongan suaminya. Tiba-tiba seluruh tenaganya seperti hilang. Dan dia pun terkulai lemas. Pingsan. Ketika terbangun, disampingnya duduk Raya adiknya. Langit-langit kamar serasa berputar. Dan Sabina mencoba duduk tetapi kepala terasa berat.
“Peluk,” katanya pada Raya.
Raya mendekat, lalu memeluknya. Sabina menangis sejadi-jadinya.
“Airlangga punya kekasih baru, Dik,” kata Sabina.
“Sabar, Kak, semua akan baik-baik saja...”
Sejak hari itu, Airlangga tak pernah pulang lagi. Bila ditelepon, tidak dijawab. Beberapa hari kemudian, nomor telepon itu tidak berfungsi lagi. Sabina lemas. Hatinya perih, jiwanya meronta. Siapa perempuan itu. Dan bila mengingat wajah perempuan itu, Sabina langsung muntah karena merasa jijik. Hari-hari terasa panjang dilaluinya dengan doa.
“Sanggupkah aku memaafkannya?” katanya pada Tuhan.
“Semua ini terlalu menyakitkan, Tuhan,” ucapnya lagi.
Entah sudah berapa hari dia sendiri. Entah sampai kapan dia begini. Mungkin akan sampai mati. Tetapi kemudian Sabina yakin bahwa itu hanya cinta sesaat. Semua akan kembali seperti sedia kala. Dan dia yakin Tuhan selalu berpihak kepadanya. Karena ini bukan kali pertama Airlangga berselingkuh.
Bintang-bintang menari di angkasa. Beberapa kelelawar beterbangan di antara pepohonan. Angin memburai rambut panjangnya. Sabina mengusap air mata rindu dengan jemarinya. Dadanya penuh dengan debaran doa.
“Tuhan, jagalah dia,” bisiknya lembut.
Air mata bergulir lagi.
“Aku tak bisa membencinya, dia hanya khilaf, semoga dia akan segera sadar akan kesalahannya,” katanya dalam hati.
“Tuhan, aku memaafkannya, itulah cinta terbaik yang bisa kuberikan kepadanya,” katanya menatap langit.
Para bidadari menari-nari di antara gemintangan. Mengantarkan doa seorang yang teraniaya, kepada Tuhan yang Maha menyembuhkan luka. Dan perempuan itu menunduk. Mengingat janji-janji Tuhan yang pernah dibacanya dalam kitab-kitab suci. Pipi tirusnya basah oleh air mata.
“Pulanglah sayang, tempatmu di sini....”
Jakarta, 6 September 2012

Thursday, August 23, 2012

Si Tengik dan Si Sabar

CERPEN
Jam dinding menunjukkan pukul 10 pagi, Satri sudah selesai mandi. Lalu dia duduk di pinggir tempat tidur kayu untuk berdandan. Ibunya berbaring di sisinya, dua hari ini, seluruh tubuhnya lunglai dan sakit bila digerakkan. Mungkin karena faktor usia. Dua dari tiga anaknya bersekolah, dan mereka sudah dilatih untuk mandiri. Untung saja sekolahnya tidak jauh, jadi Wendi dan Yogi pulang pergi sekolah jalan kaki.
"Makanan untuk anak-anak di lemari, Mak, biar mereka mengambil sendiri. Mak, tiduran saja biar cepat baikan, nanti aku tebus obat yang separonya ya," kata Satri pada emaknya.
"Aku ini mikir Juned, suamimu itu, di manakah dia sekarang," kata emaknya.
"Sudahlah Mak, biarkan saja dia, tak usah dipikir, nanti penyakit Emak tambah parah," ujar Satri sambil berdiri.
Dia mengambil tas, memasukkan kotak ransum, dan mencangklongkannya di pundaknya, Bayangan Juned suaminya muncul. Satri mengibaskan kepalanya untuk menepiskan bayangan itu.
Sudah hampir 10 tahun, Juned meninggalkan rumah. Dia pergi begitu saja ketika Yogi, anak bungsunya berusia 2 tahun. Tiga tahun kemudian, seorang perempuan hamil datang ke rumahnya minta ongkos melahirkan. Perempuan itu datang dari Kerawang, mengaku hamil anaknya Juned.
"Dia cuma memberi ini," perempuan itu menunjukkan sebuah kartu nama. "Lalu dimana laki-laki itu?" tanya Satri, sambil membaca kartu nama bertuliskan alamat rumahnya.
"Dia pergi sejak sebulan lalu, dan hanya meninggalkan alamat ini, katanya alamat ibunya, dan saya dimintanya meminta ongkos melahirkan kepada ibunya," jawabnya.
"Ini rumah istrinya, saya istrinya, dan itu ibuku, mertuanya, ibunya tidak di sini tetapi di Klender," jawab Satri.
Itu adalah kejadian paling traumatis yang pertama kali dihadapinya. Benar-benar gila, seorang perempuan mengaku dihamili suaminya. Dengan menahan amarah di dada, Satri memberikan sedikit uang untuk perempuan itu, dan menyuruhnya pergi.
Udara Jakarta panas, ini sudah musim kemarau. Satri berdiri di halte menunggu bus kota yang akan membawanya ke pasar. Dia bekerja di sebuah toko kelontong. Beberapa perempuan berbaju modis juga berdiri di halte itu. Mereka tentu kerja kantoran. Tidak seperti dirinya yang hanya bekerja di toko kelontong. Ah, yang penting bisa menghidupi keluarga.
Apalagi dua anaknya Wendi dan Yogi sudah mulai banyak kebutuhan sekolahnya, mulai dari buku pelajaran, les di sekolah serta kebutuhan yang lain. Sedangkan anak sulungnya, Hasan, dirawat dan di sekolahkan mertuanya sejak suaminya kabur. Toh, tetap saja dia memberi jatah untuk setiap bulannya.
Sebuah bus kopaja menepi. Satri dengan tubuh suburnya, bergerak cepat naik ke angkutan umum itu. Lalu duduk di bangku belakang yang masih kosong, dan menyiapkan ongkos 2000 rupiah.
"Sebaiknya kamu minta cerai, kamu masih muda, dan cantik," kata Emak suatu hari.
"Kalau orangnya di sini, aku bisa minta itu, Mak, masalahnya keberadaan Juned tidak ada yang tahu, bahkan keluarga mertua juga tidak tahu," jawab Satri.
Ketiga anaknya, Hasan, Wendi, dan Yogi, juga sudah mulai memahami apa yang terjadi di rumah itu. Ayahnya kabur entah kemana, tidak ketahuan juntrungnya.
"Kalau Ayah di sini, aku akan memukulinya sampai bonyok," kata Hasan.
"Betul, Bang, aku juga ikut," tambah Wendi.
"Aku akan tendang dia," sambung Yogi.
"Kalian ini bicara apa, nggak boleh begitu, biar bagaimana pun dia adalah Ayahmu, biarkan saja dia, tak usah dipikirin, kalian sekolah saja yang rajin," kata Satri pada anak-anaknya.
Bus terus melaju menembus kesibukan kota Jakarta, yang mulai hangat oleh mentari. Sepasang laki-laki perempuan yang duduk di depannya terus mengobrol dengan mesra. Pemandangan itu memunculkan wajah suaminya. Juned adalah mantan seorang polisi, karena sering berbuat kasar, akhirnya desersi.
Pada awalnya perkawinan mereka sangat harmonis. Setelah suaminya desersi, hari-hari indah itu berlalu. Dan sekarang semuanya rasanya hanya seperti sekejab.
Setelah perempuan pertama itu, perempuan kedua juga muncul ke rumahnya. Kali ini dengan membawa seorang balita. Perempuan itu mengaku kumpul kebo dengan Juned dan dikaruniai seorang anak. Tetapi Juned kemudian meninggalkan dia dan anaknya dan memberinya kartu nama bertulis alamat itu lagi. Untuk yang kedua kali Satri terpukul.
"Sudah berapa lama menghilang?" tanya Satri.
"Sebulan, tidak pulang lagi," kata perempuan itu.
Kemudian Satri memberinya ongkos untuk pulang ke rumah orang tua perempuan itu di Banten. Tadinya perempuan itu ingin menitipkan anaknya di rumah Satri, karena itu adalah anak Juned. Tetapi Satri menolak dengan alasan hidupnya pun pas-pasan dan itu pun harus membesarkan tiga orang anak. Perempuan teman kumpul kebo suaminya itu kemudian marah-marah dan meninggalkan rumah Satri dengan kesal.
"Kok dia yang sewot, harusnya kan aku yang sewot," ujar Satri pada Emaknya.
Dan itu bukanlah perempuan terakhir yang mengaku dihamili Juned. Ada lima perempuan yang meminta pertanggungjawaban, dan tak ada seorangpun tahu keberadaan laki-laki itu.
Suatu hari, Darlan, seorang pedagang pasar, tergopoh-gopoh menghampirinya. Laki-laki itu dengan buru-buru menghampiri Satri yang sedang melayani pembeli di pasar.
"Juned ada di terminal, cepat kita kejar dia," katanya.
"Iya..." jawab Satri bersemangat, lalu dia menitipkan toko pada pedagang di sebelahnya.
Satri dan Darlan berboncengan menuju terminal yang jaraknya sekitar 500 meter dari pasar. Sesampai di terminal Darlan mengisyaratkan para preman, teman-temanya untuk membekuk Juned. Tetapi Juned tidak berhasil ditemukan. Laki-laki itu berhasil kabur atau sembunyi di suatu tempat di terminal itu. Dan untuk pertama kalinya Satri nggak bisa membendung air matanya.
"Kami mengobok-obok terminal, tetapi tidak ketemu," kata Satri pada mertua perempuannya.
"Sabar ya, Nak, Ibu juga ikut prihatin atas semua kejadian ini, kami tidak bisa menolongmu, karena kami tak tahu dimana Juned berada," mertuanya tersedu sedih.
Bus berhenti di depan pasar. Satri turun dan berjalan menuju kiosnya. Bu Jumini sudah bersiap pulang. Kalau Satri sip siang, Bu Jumini sip pagi. Satri menyapanya denga ramah. Lalu dia mulai menata beberapa barang yang berantakan. Bismillah, dia mulai melayani pembeli. Sesekali wajah suaminya muncul di pikirannya, ditepiskannya. Untuk urusan itu, rasanya dia tak sanggup menyelesaikan sendiri, dia sudah serahkan kepada Yang Maha Pencipta.
***
Beberapa tahun kemudian.
Satri sudah memiliki toko sendiri di pasar. Rumah mereka sudah direnovasi dan terlihat lebih bagus. Ibunya lebih terlihat sehat dan terawat. Hasan sudah menjadi kepala polisi seperti cita-citanya yang ingin seperti ayahnya. Wendi sudah menjadi ahli IT dengan gaji dollar. Sedangkan Yogi masih harus menyelesaikan kuliahnya di sebuah perguruan tinggi negeri favorit di Jakarta.
Malam itu, seluruh keluarga besar berkumpul. Hasan sudah menikah dan memiliki seorang putera. Wendi, datang bersama kekasihnya yang cantik dan Yogi adalah rajanya, karena pesta malam itu adalah pesta ulang tahunnya.
Semua orang duduk di ruang tengah dengan memakai baju bagus. Makanan dan kue ulang tahun bergeletakan di meja. Mereka mengobrol dan tertawa-tawa riang. Apalagi ada Tian, anaknya Hasan yang berusia tiga tahun dan tingkahnya menggemaskan.
Pintu diketuk. Ada sebuah mobil ambulan berhenti di depan rumah. Dua orang berseragam hijau mendorong sebuah tempat tidur beroda. Seorang laki-laki berwajah lelah berdiri di depan pintu ketika Hasan membuka gerendelnya.
"Saya mau menemui tuan rumah di sini," kata orang itu.
"Ada apa ya, Pak?" tanya Hasan.
Lalu laki-laki itu merogoh sesuatu dari kantongnya. Sebuah kartu nama yang sangat kumal di sodorkan. Hasan memanggil ibunya. Dan perempuan bertubuh subur itu tergopoh menghampiri mereka. Hasan menyodorkan kartu nama itu pada ibunya.
Dua orang yang mendorong bed beroda itu memarkir bed itu di belakang laki-laki pengetuk pintu. Hasan berpandangan dengan ibunya.
"Kami dari dinas sosial, kami menemukannya sudah mati di bawah jembatan, dan di saku bajunya kami menemukan kartu nama itu," laki-laki itu. Hasan dan Satri mendekati bed beroda itu. Lalu membuka selimut garis-garis yang menutupinya.
"Ayah..." guman Hasan,
Wajahnya biru. Tubuhnya sangat kurus. Kulitnya kasar dan kehitaman. Rambutnya seleher sangat kotor. Sisa-sisa ketampanan sudah menghilang dari wajah itu. Satri menahan nafas. Air mata bergulir di pipinya. Sudah sekian tahun, baru kali ini dia melihat lagi wajah suaminya.
"Astagfirlloh..." bisiknya. Seluruh keluarga keluar untuk melihat mayat laki-laki itu. Tangan kiri Satri gemetar memegangi kartu nama kusam itu. "Astagfirlloh..." gumannya lagi.
Lalu dia mengucapkan terima kasih kepada pengantar jenasah itu. Mereka kemudian berlalu dengan mobil ambulan itu. Satri meminta Hasan menghubungi pak RT. Dan memerintahkan Wendi dan Yogi mengeluarkan meja makan untuk memandikan ayah mereka.
"Anak-anak, kita rawat baik-baik mayat ayah kalian ini, kita hormati dia, betapapun telah menyakiti kita, Ibu yakin beberapa tahun belakangan ini, pasti hidupnya sangat menderita di luar sana..."
Rumah itu lalu benderang dengan doa-doa.(Kisah ini terinsiprasi dari kisah nyata)
Jakarta 22 Agustus 2012

Thursday, August 16, 2012

Rumah Panas

CERPEN
Jujur saja, kalau tidak ada gempa tektonik di Jogja beberapa tahun yang lalu, aku tak akan pernah memiliki rumah ini. Aku seorang pejabat teras, yang berkuasa atas dana bantuan pemerintah untuk korban gempa waktu itu. Sebuah tempat yang basah, dan aku tak sedikit pun melalaikan anugerah itu.
Aku membangunnya dengan menghabiskan hampir 20 miliar. Rumah impian setiap manusia yang hidup di dunia ini. Rumah ini, berdiri di sekitar 2 hektar tanah. Pintu gerbang ke rumah ini, sekitar 500 meter. Dan di depan pintu gerbang di pasang kamera CCTV, agar satpam-satpam yang berjaga bisa melihat siapa saja yang berkunjung ke rumahku.
Dari pintu gerbang, tamu akan melewati hutan kecil buatan, tempat hidup beberapa ekor rusa yang kupesan dari teman di Kalimantan. Rusa-rusa itu berkembang pesat dan dari dua pasang, sekarang telah ada sekitar 15 ekor rusa. Untuk merawatnya, aku membayar satu orang khusus, dari kebun binatang kota. Rumah itu ada di tengah-tengah hamparan hutan kecil dengan berbagai tanaman pilihan.
Memasuki meter ke 300, genting merah itu sudah kelihatan. Sungguh megah di antara pohon cemara yang rapi berjajar. Ketika sampai di halaman, akan disambut jembatan kecil yang akan menghubungkan halaman dan pintu utama depan. Teras depan dipenuhi dengan pepohonan yang ditata di pot-pot cantik berbahan keramik. Lantainya mengkilat, wajahmu pun bisa terlihat dari pantulan keramik berwarna coklat itu. Siapa pun yang berkunjung ke rumah itu berdecak kagum.
"Luar biasa!"
Awal-awal tahun selesai dibangunnya rumah itu, kami sekeluarga menikmati dengan tenang. Kami pindah dari rumah dinas yang berada di tengah kota, ke rumah itu. Anak-anak memilih kamarnya sendiri-sendiri. Dan istriku beberapa kali mengadakan pesta dengan teman-temannya untuk memamerkan rumah kami.
Beberapa staf di kantor pun meminta untuk sesekali mengadakan rapat di rumahku. Para pembantu sibuk membuat makanan. Istriku sibuk belanja untuk membeli keperluan tambahan agar wah. Buah-buahan impor, segala macam snack bermerek, minuman kalengan dan juga yang sedikit beralkhohol.
Waktu terus berlalu, rumah indah yang nyaman itu mulai berulah. Suatu ketika, aku sedang berada di luar negeri untuk sebuah acara dinas. Dan di rumah hanya ada istriku, anak-anakku, beberapa pembantu rumah tangga dan para satpam dan sopir.
Awal kali pertama, adalah ketika seekor rusa mati di teras rumah. Istriku menjerit melihat rusa itu terkulai dengan mulut penuh busa. Entah makanan apa yang baru saja dimakannya. Selang beberapa hari, seekor rusa mati lagi, sampai akhirnya sekitar 15 ekor yang hidup di hutan buatan kami mati satu per satu.
Peristiwa kedua, ketika anak perempuanku menjerit-jerit di malam hari. Dia berteriak, mengaku melihat hantu besar yang menarik-narik tangannya. Biar pun sudah SMA, dia ketakutan juga dikejar halusinasi, monster berbulu lebat itu. Akhirnya dia tidur di kamar utama bersama istriku dan tak berani menginjak lagi kamarnya sendiri.
Peristiwa ketiga, dua pembantu perempuan kejatuhan genteng yang melorot. Untung saja tidak kejatuhan di kepala mereka melainkan tepat di depan kaki mereka. Entah mengapa, genting teras belakang tiba-tiba melorot jatuh. Selain itu dia sering menemukan hal-hal aneh seperti air yang berbau sangat amis atau makanan yang baru dimasak yang langsung basi. Akhirnya mereka minta keluar.
Peristiwa ke empat, tukang kebun yang tinggal di paviliun para pembantu, mengaku dikejar-kejar kuntilanak yang datang setiap malam menjelang. Mereka juga heran karena di paviliun yang berderat di belakang rumah utama itu, sering tercium bau wangi atau sebaliknya, bau yang sangat amis. Akhirnya para penghuninya, yaitu para satpam, tukang kebun, sopir dan keluarganya meninggalkan paviliun bersama keluarganya.
Peristiwa ke lima, anak laki-lakiku terjatuh di tangga. Kata dia pegangan tangga yang melingkar dan berujung di ruang tenagh itu tiba-tiba meliuk seperti ular. Apakah seorang mahasiswa akan berbicara ngawur. Dia melihat pasti pegangan itu mengombang-ambingkannya sehingga dia terjatuh dari tangga. Jatuhnya tidak seberapa, tetapi bayangan tubuh seperti ular dipegangan tangga itu menjadi trauma baginya, sampai-sampai tidak berani naik ke lantai dua, dan tidur di kamar utama bersama istriku dan anak perempuanku.
Peristiwa ke enam, istriku sendiri yang mengalami. Suatu siang, selepas dari berbelanja mobilnya memasuki gerbang. Gerbang sudah tidak ada satpam, dan sopirnya sudah berhenti. Istriku nyetir sendiri, tetapi saat berada di tengah hutan, dia seperti tak bisa mengendalikan setir, dan terus menerobos pepohonan yang rapat, keluar dari jalan aspal. Mobil itu belum setahun dibeli, tetapi sudah bopeng sana sini, dan nyaris hancur. Anehnya istriku tidak apa-apa, lecet pun tidak. Cuma dia merasakan ada yang aneh ketika mobil memasuki halaman rumah. Mobil itu seperti jalan sendiri, dan sejak saat itu, istriku tidak berani menaikinya lagi, dia menyebutnya mobil setan.
Sebetulnya sudah seminggu ini, istri dan anak-anakku tidur di rumah mertuaku. Aku sudah selesai kunjungan dinasku dan kembali ke rumah. Rumah itu sudah kosong, dan malam itu aku tidur sendirian di kamar. Aku berusaha menikmati seluruh kemewahan di rumah itu sambil menghilangkan sisa penat yang ada.
Pagi itu aku bangun karena kehausan. Masih pukul lima pagi, masih gelap, biasanya aku bangun pukul enam, entah mengapa kali inj, aku merasa sangat haus. Aku berjalan ke dapur untuk mengambil minuman. Saat aku berjalan di koridor, tiba-tiba ada puing-puing jatuh dari langit-langit rumah. Itu tidak mungkin karena genting dan bahan bangunan rumah ini dibuat dengan rancangan terbaik, dan bahan-bahan kualitas nomor satu.
Aku mundur untuk menghindari reruntuhan itu. Lalu melipir melintasi debu yang terus menerus mengalir ke bawah.
Aku melangkah ke dapur dengan rasa was was. Saat melewati ruang makan, ada suara keras, meja makan mahalku tiba-tiba ambruk. Seperti ada yang menginjak bagian atasnya. Aku kaget dan mundur. Tetapi lantai seperti bergoyang. Apakah sedang terjadi gempa? Langit-langit ruang makan juga menghamburkan debu-debu semen, seperti di koridor tadi, dinding-dinding bergerak-gerak.
Belum sampai di dapur, pintu dapur ambruk nyaris mengenaiku. Kusen pintu dan jendela ikutan berhamburan. Aku mundur, lalu mencoba berlari keluar dari ruangan itu. Puing-puing terus berjatuhan ke lantai. Masih dengan piyama aku menuju pintu garasi tidak jauh dari dapur. Kunci tergantung di salah satu dinding langsung kuraih dan kubuka pintu garasi otomatis.
Kunyalakan mobilku tetapi mobil mewah kesayanganku itu tak juga mau menyala. Sementara garasi itu seperti sudah mau ambruk. Aku pun berusaha keluar dari mobil. Tanah seperti bergoyang, dan sekuat tenaga aku mencoba bertahan dengan berpegangan pada mobilku. Lalu berlari menghambur keluar dari rumah itu.
Herannya di luar rumah, tidak ada goyangan mirip gempa itu. Langit tenang, pepohonan ranum menghijau oleh sinar matahari pagi. Aku terus berlari, dan berhenti keget saat mendengar suara gedebum luar biasa keras. Aku menengok ke belakang, kulihat rumah mewah itu ambruk, rata dengan tanah. Aku kucek-kucek mataku masih tak percaya. Rumah kebanggaan itu telah berubah menjadi puing-puing. Dan aku hanya melompong.
***
Di sebuah desa nan jauh di kawasan Klaten Jawa Tengah. Sekitar enam tahun yang lalu, saat ada gempa tektonik menggoyang dahsyat, seluruh kabupaten itu hancur berantakan. Hanya ada satu dua bangunan rumah milik masyarakat yang tersisa.
Salah satu keluarga yang menjadi korban gempa yang maha dahsyat itu adalah keluarga Purwanto. Purwanto seorang petani, yang hidup dengan seorang istri dan dua orang anak laki-laki yang sudah mentas dan tidak tinggal di situ lagi.
Pas gempa itu terjadi, Purwanto sedang bercengkerama dengan istrinya. Begitu gempa datang, rumah seperti digoyang-goyang oleh tenaga yang luar biasa. Mereka lari keluar rumah dan menyaksikan rumah mereka, yang dibangunnya sedikit demi sedikit itu ambruk, rata dengan tanah.
Kampung itu ramai, jeritan dan keluhan warga yang sedang shock menyaksikan rumah mereka ambruk berhamburan di segala sudut desa. Dia berpegangan dengan istrinya tanpa bisa apa-apa.
Setelah gempa reda, mereka mencoba mencari barang-barang yang bisa diselamatkan. Baju-baju di dalam lemari tertimbun reruntuhan. Segala macam piring gelas dan perabotan berantakan dan pecah dimana-mana. Beberapa panci aluminium bisa diselamatkan. Dan kemudian Pur tinggal di kamp-kamp pengungsian dengan seluruh penduduk kampung.
Sebulan dua bulan, tetap tinggal di situ dilayani oleh beberapa orang aktivis. Makan minum seadanya, antri kamar mandi dan toilet dengan lingkungan kamp yang kumuh. Para aktivis terus memperjuangkan ganti rugi. Pemerintah terus ditekan, untuk segera memberikan ganti rugi untuk korban gempa. Berita gembira pun datang. Pemerintah mengumumkan bahwa setiap keluarga akan mendapatkan ganti rugi sebesar 50 juta rupiah. Itu artinya mereka bisa membangun rumah kembali.
Hari terus berlalu, dari penantian ke penantian, dari harapan ke harapan. Sampai akhirnya Pur dan pengungsi yang lain, dikumpulkan di kantor kepala desa, yang juga hancur karena gempa. Semua pengungsi korban gempa bersila di tikar-tikar. Kepala desa dan pejabat-pejabat lain, juga stafnya duduk menghadap penduduk yang kusut masai karena keadaan.
Entah mereka bicara apa. Sahut menyahut antara petugas dan para aktifis LSM. Tetapi bagi Pur, yang penting ada bantuan dana seperti yang dikatakan pemerintah di televisi, dan bisa membangun kembali rumahnya dan hidup dengan layak seperti sedia kala.
Setelah rapat selesai, pengungsi dipanggil satu per satu oleh petugas berseragam. Mereka tanda tangan menerima bantuan. Setiap orang mendapatkan 13 juta rupiah.
"Kok hanya 13 juta," kata Pur pada seorang aktifis.
"Orang-orang gila, 50 juta dipotong sana sini tinggal 13 juta," kata aktifis itu dengan marah dan kesal.
Semua pulang ke rumah membawa dana bantuan untuk membangun rumah senilai 13 juta. Uang itu dibelikan dinding bambu dan genteng. Lumayan untuk berteduh. (Fiksi ini, terinspirasi dari kisah nyata)
#Kado ulang tahun buat almarhum Bapak... Rindu dan cinta dari anak perempuanmu.
#Selamat ulang tahun juga untuk Indonesia-ku.
Jakarta 17 Agustus 2012

Wednesday, July 25, 2012

Kuli Panggul vs Buruh Pabrik

CERPEN
Suwandi memandangi tangan kanannya yang terkilir. Ada memar hitam di lengannya. Gara-gara salah urat, Suwandi mesti bolak balik ke tukang urut. Tetapi rasa nyeri itu tak juga hilang dari tangannya. Sebelumnya, dia pernah terkilir, bahkan sering terkilir, tetapi kali ini yang terparah. Mungkin karena usianya yang sudah tua.
Istrinya Sul, datang membawakan kopi pagi itu. Rambutnya yang panjang seperti ekor kuda di belakang. Menari oleh gerakan tubuh perempuan bertubuh subur itu.
"Masih sakit, Pak?" tanya istrinya.
"Masih, mungkin aku sudah terlalu tua, jadi otot-ototku tak kuat lagi seperti dulu," jawab Wandi sambil meringis.
Diambilnya selembar koyo, dan dibubuhkan di lengan yang hitam itu. Pikirannya melambung membayangkan anak sulungnya Wanto. Anak sulungnya ini, memiliki tubuh yang gempal, seperti dirinya. Kaki-kakinya besar dan kokoh. Lengannya berotot dan besar seperti lengan seorang super hero. Dan jemari tangannya yang besar-besar, mampu mencengkeram dengan erat.
Wanto memiliki tiga orang adik perempuan, mereka juga bertumbuh subur seperti ibunya. Bahkan si bungsu yang sekarang sudah remaja, persis dengan ibunya. Diantara empat anaknya ini, Wantolah yang menjadi harapannya untuk menjadi penerusnya sebagai kuli panggul di pasar.
"Dia masih marah, Bu?" tanya Wandi.
"Masih," jawab istrinya.
Beberapa hari lalu Wandi bersitegang dengan Wanto. Sudah duapuluh lima tahun dia menjalani profesinya sebagai kuli panggul. Bahkan sebelum menikahi Sul, yang waktu itu adalah penjual kerupuk di pasar. Tidak mudah untuk mendapatkan lisensi kuli panggul di pasar itu. Selama 25 tahun itu, keanggotaannya hanya 15 orang tidak boleh ditambah lagi. Lisensi itu bisa diwariskan ataupun dijual.
"Sebaiknya jangan dipaksa, Pak," kata istrinya menghiba.
"Sayang, Bu, banyak yang menginginkan bagianku, kalau sampai ke jual, habislah sejarah kelu
arga kita di pasar itu," ujar Wandi.
Matanya menerawang sore itu. Wanto usai melamar kerja di sebuah pabrik yang lagi dibangun di pinggiran kota kecamatan itu. Wanto sangat ingin bekerja di pabrik, seperti anak-anak kampung sebayanya. Bagi kalangan remaja di kampung itu, menjadi buruh pabrik adalah wajib. Sebuah harga diri yang nilainya tiada tara.
"Kalau tidak diterima jangan sedih, kamu bisa menggantikan Bapak di pasar," ujar Wandi.
"Tidak, Pak, Wanto harus diterima," jawab remaja yang sudah dua tahun menganggur setelah menamatkan sekolah kejuruan atas itu.
"Sainganmu kan banyak, bahkan banyak yang dari luar kota ini," ujarnya menenangkan anaknya.
"Iya Pak, itu yang membuatku resah, saingan..."
"Ya nanti kalau tidak diterima, kamu gantikan Bapak saja di pasar, Bapak kan sudah tua," ujar Wandi.
"Tidak Pak, maksud Bapak apa, aku tidak mau menjadi kuli panggul, Pak, bukankah aku sering katakan itu," Wanto ngotot sambil menantang Bapaknya.
"Maksud Bapak sambil menunggu ada pembukaan lagi di pabrik!"
"Jangan memaksaku Pak, aku nggak mau jadi kuli," Wanto meninggalkan bapaknya dengan marah. Dan hari ini, adalah hari kedua dia tak menyapa Bapaknya.
Wandi memijat memar itu, aachh... Terasa nyeri. Yang lebih membuatnya perih, bahwa kenyataan Anaknya tak mau mewarisi lisensinya sebagai kuli panggul di pasar itu yang selalu menjafi kebanggannya.
Daripada bekerja di pabrik, mengenakan seragam tolol itu, bekerja siang dan malam, tergantung sif. Jadwal diatur oleh mandor, dan tidak boleh terlambat, apa enaknya. Sudah gitu harus menghadapi mesin yang terus memproduksi barang-barang. Mesin besar seperti raksasa yang siap menelan siapa saja.
Seperti suaminya Atun. Pulang dari Jakarta di masukkan ke peti, karena tubuhnya hancur digilas oleh mesin. Bukan hanya nyawa yang tak ada harganya, matipun menjadi serpihan-serpihan daging tanpa bisa terlihat wajahnya secara utuh.
Tetapi pada kenyataannya, anaknya Wanto menginginkan pekerjaan itu melebihi apapun. Bahkan melebihi rasa hormat kepada Bapaknya. Padahal, sudah banyak yang mengincar statusnya sebagai kuli panggul dan siap membayar jutaan untuk mendapatkan lisensi ini.
Bejo, si tukang sayur, kemarin sudah menanyakan hal itu pada istrinya. Katanya penghasilanya sebagai tukang sayur pas-pasan. Setiap hari harus berhadapan dengan para ibu yang mati-matian menawar apapun yang dijualnya, meskipun dia hanya mengambil untung lima ratus rupiah. Kemudian Paidi, Paidi si tukang becak juga suadh bosan mengayuh becak. Kalah dengan becak mesin, sementara penumpang berkurang karena kredit motor yang murah. Juga beberapa orang sekampungnya yang mengincar jabatannya sebagai kuli panggul di pasar. Mereka seperti tahu kalau dia mulai tua dan sering masuk angin.
Memang sih menghasilan sebagai kuli panggul lumayan. Biarpun kerja otot, tetapi tak jarang Wandi mengantongi uang seratus ribu rupiah sehari bersih. Uang hasil kerjnya pula yang membuat dia mampu membeli rumah kecil sederhana untuk hidup dia, istri dan tiga anaknya.
Beberapa hari kemudian, Wanto tampak berdiri di depan cermin untuk mematut seragam pabriknya. Hemnya berwarna hijau telur, dan celanyanya hijau senada. Wandi memandangnya dengan perasaan galau. Anaknya akan seperti pemuda-pemuda sekitar bekerja di depan mesin-mesin besar sambil melontarkan kata-kata jorok kepada buruh perempuan.
Pulang kecapaian dengan wajah tegang karena kepala pening, seharian harus mendengarkan deru gemeluduk mesin yang kasar. Anaknya melirik ke arah laki-laki itu. Wandi berusaha menghindar tetapi, mereka berdua terlanjur bertatapan. Lalu Wanto kembali menatap cermin itu. Tanpa menoleh kepada ayahnya, dia ngeloyor pergi untuk kerja di hari pertamanya.
Wandi menahan sesak didadanya. Lalu dia menuju kamar dan membuka lemari baju. Dikeluarkannya sebuah stop map kertas, dan disitu tersimpan lisensi sebagai kuli di pasar kecamatan. Dipandanginya dengan wajah nanar. Tubuhnya sudah loyo dan tak sanggup lagi otot-ototnya menahan beban. Dia kapitnya stop map itu di ketiaknya, lalu dia berjalan ke luar rumah. Dia akan menawarkan lembaran kertas itu kepada beberapa temannya. Kalau harganya cocok uangnya akan digunakan untuk usaha.
Anaknya sudah tak mau mewarisi profesinya, dia lebih bangga menjadi hamba mesin dari pada menjadi seorang kuli panggul, seperti Bapaknya.
Jakarta, 25 Juli 2012