Showing posts with label Flash Fiction. Show all posts
Showing posts with label Flash Fiction. Show all posts

Thursday, November 21, 2013

Endapan Cinta

FLASH FICTION
Ketika pesawat mendarat di bandara A. Yani Semarang, hari masih pagi. Lala menyeret kopor birunya dengan perasaan senang. Suaminya berjalan santai di belakangnya, menyusuri koridor pesawat. Seorang pramugari berkulit hitam manis berdiri di dekat pintu keluar sambil mengucapkan selamat jalan.
Kabut tipis membelai sayap-sayap pesawat Boeing yang kokoh itu. Lala memandangi sekitar. udara pantai yang dingin tapi kering. Matahari masih belum kelihatan, dan di ufuk cakrawala ada coretan kemerahan. Begitu indahnya.
Mereka berjalan berduaan melintasi aspal hitam yang basah oleh embun. Lala melihat wajah Haris suaminya begitu sumringah. Tiba-tiba mobil bagasi melintasi mereka. Haris terkaget-kaget dan marah.
"Hei, hati-hati, nggak liat orang jalan ya?" serunya kesal.
Lala yang juga kaget, spontan memegangi lengan suaminya.
"Septi sangat benci suara mengaggetkan," kata Haris.
Lala melepas pegangan tangannya. Nama itu lagi. Septi adalah mantan kekasih Haris yang bertahun pacaran. Sayang, hubungan mereka tak disetujui keluarga Septi dan mereka pun putus. Sudah setahun ini Haris dan Lala menikah, kata Haris luka hatinya telah sembuh setelah bertemu Lala.
Lalu mereka duduk di ruang tunggu sambil menunggu sopir ayah Haris datang. Di sekitar itu banyak kafe-kafe yang menyediakan kopi. Haris menggandeng tangan Lala menuju sebuah kafe. Mereka disambut ramah oleh seorang pelayan.
"Itu bangku favorit Septi, tapi aku tak suka karena terlalu dekat dengan pintu," kata Haris sambil menunjuk sebuah bangku di dekat pintu balkon.
Lala menahan nafas.
Mereka duduk di bangku pilihan Haris, dan mulailah mereka membuka-buka menu makanan. Lala memilih kopi hitam dan croisant isi daging panggang. Haris memilih teh tarik dengan sedikit gula.
"Septi juga pecinta kopi hitam, aku selalu melarangnya terlalu banyak minum kopi," ujar Haris.
Lala mendidih. Namun dia bertahan diam.
Pak Darso, si supir datang, dan pasangan muda itu segera meluncur bersama Kijang Inova Mewah itu menuju kawasan Semarang atas. Kota Semarang mulai menggeliat. Jalanan mulai ramai dan udara mulai menghangat.
"Lihat gang itu, itu jalan menuju kosan Septi," kata Haris.
"Oh, seperti apakah Septi itu, sampai kau tergila-gila seperti ini," ucap Lala dingin.
"Tergila-gila? Dia hanya masa laluku sayang."
Impian Lala untuk menikmati cuti di Semarang bersama suami tercinta sudah hancur berkeping-keping. Pagi siang, malam, yang dibicarakan Haris hanya kenangan-kenangan mengenai Septi. Lala mencoba bersabar, apalagi dia hanya tamu. Perempuan bermata indah itu juga ingin menjaga perasaan mertuanya yang begitu baik.
Tetapi setelah tiga hari di rumah itu, Lala sudah tak sanggup lagi. Pagi itu Haris menemukan istrinya sudah siap dengan tas besarnya.
"Ada apa ini, kita kan masih punya waktu tiga hari di sini sayang," kata Haris.
"Aku akan balik ke Jakarta dengan penerbangan pertama," kata Lala.
"Kenapa? Ada apa, bukankah kau begitu antusias untuk menikmati Semarang?"
"Tidak, di sini aku lelah, karena orang yang kucintai malah menghabiskan waktunya mengenang kekasihnya," ujar Lala.
"Maksudmu?"
"Septi. Setiap kalimatmu selalu menyebutkan nama itu, lama-lama aku muak."
"Itu kan hanya cerita."
"Apa tak ada cerita yang lain? Kenapa hanya Septi yang ada di kepalamu?"
"Oh, sayang, kau salah sangka, aku hanya tak ingin menutup-nutupi soal Septi, tetapi dia hanya masa lalu, aku hanya mencintaimu."
"Aku sudah memutuskan."
"Maksudmu apa sayang?"
"Sampai bertemu di Jakarta, kita urus perceraian di sana."
"Oh, apa yang terjadi, apa salahku?"
"Kau masih mencintainya, namanya sudah mengendap di jiwamu, mengalir bersama aliran darahmu, aku mengalah..."
"Kau ini kenapa sayang?"
"Aku hanya ingin cerai, selama setahun ini, tak berhenti-brentinya kau menyebut nama itu, menceritakan segala tetek bengek tentang dia, mulai caranya berpakaian, caranya berjalan, caranya makan, caranya mencintai dan memperhatikanmu. Setahun ini aku sudah menahan diri, tetapi hari ini puncaknya, aku tak sanggup hidup bersama masa lalumu."
"Plis Lalaku, itu hanya cerita."
Suara klakson terdengar nyaring. Menyusup di antara dengungan adzan subuh.
"Oh taksiku sudah datang."
Lala menarik tas besar itu dengan tangan kanannya, dan berjalan ke luar.
"Bagaimana dengan Ayah dan Ibu?"
"Katakan aku ada tugas mendadak, selamat menikmati kenangan indahmu, aku tak mau campur tangan lagi."
"Lalaaaa tungguuu..."
Perempuan itu tak peduli teriakan suaminya, terus melangkah dan berlalu ditelan kabut. Air matanya berlinangan, entah apa yang harus dilakukan setelah ini, yang jelas dia harus segera meninggalkan kota tua ini. Masa lalu suaminya terlalu mencabik-cabik hatinya. Harga dirinya sebagai istrinya hancur.
"Aku benar-benar merasa tak berharga," desisnya pedih.
Jakarta, 221113

Wednesday, November 13, 2013

Tamu Pagi

FLASH FICTION
Pagi nan cemerlang. Pepohonan ranum bermandikan cahaya matahari. Alam terbuka indah dalam pelukan cakrawala. Burung-burung bercengkerama dalam nyanyian lagu paginya. Embun pun tak mau kalah, menari, berdansa di antara perdu, melagu-lagu.
Perempuan yang cantik menawan itu masih mengaduk-aduk tanah. Kemudian tanah yang gembur itu dimasukkan ke dalam pot keramik yang sudah berisi pupuk di dalamnya. Sesekali air mata menetes di tanah itu. Lalu diusapnya pelan dengan punggung tangannya.
"Pohon apa lagi yang kau tanam?"
Perempuan itu kaget. Sebuah suara berat yang tak asing baginya menyapa. Dia menyibakkan rambutnya yang panjang. Mengangkat wajahnya dan menoleh ke arah suara itu berasal, rupanya di balik pagar. Seorang laki-laki tampan berdiri di sana. Diusapnya sisa air mata.
"Kau menangis?"
Perempuan itu tak menjawab. Lalu berdiri, dan berjalan ke arah laki-laki itu.
"Untuk apa kau kemari?"
"Aku merindukanmu?"
"Hahaha... merindukanku? Enggak deh, sebaiknya kau pergi..."
"Tidak, aku tak akan pergi, bolehkah aku masuk?"
"Kurasa tidak, lupakan aku selamanya?"
"Justru karena itu, aku kemari, aku tak bisa melupakanmu, walau dalam satu tarikan nafasku..."
"Kurasa semuanya tak semudah itu, setelah semua yang kau lakukan, seenaknya saja kau bilang rindu," ketus perempuan itu.
"Dia tak seperti yang aku kira, bukan dia cintaku yang sesungguhnya," laki-laki itu masih ngotot.
"Kau pikir bisa permainkan perasaanku? Kau datang dan pergi sesuka hatimu?"
"Tetapi kali ini tidak, aku bisa merasakan begitu kuat cintaku padamu, menjeratku, aku tak bisa mencintai orang lain, Maria."
"Kata-katamu manis, maafkan aku, aku tidak bisa menerimamu, aku terluka, itu semua juga karena ulahmu sendiri..."
"Dengarkan aku sayang, ampuni aku..."
"Hahaha... berapa perempuan yang kau rayu?"
"Terimalah aku kembali..."
"Enyahlah selamanya dari hidupku..."
Perempuan itu berbalik. Manaiki tangga teras rumah, bergegas masuk dan menutup pintu. Dari balik kaca jendela, dia masih melihat laki-laki itu di tempat yang sama. Begitu tampan di kilauan cahaya pagi. Hatinya ingin menjerit. Dipukul-pukulnya pintu kayu jati itu. Rindu, kesal, marah, cemburu dan cinta berbaur menjadi satu.
Jakarta, 14 November 2013

Sunday, June 9, 2013

Kelopak Asoka

FLASH FICTION
Perempuan itu mengatur bunga-bunga yang baru dipetiknya di vas kaca. Angin pagi memburaikan rambutnya yang panjang sepinggang. Ada kupu-kupu hilir mudik di antara senandungnya. Matanya menatap redup pada kenangan itu.
"Bunga-bunga di taman itu telah luluh lantak oleh kesombonganmu," bisiknya dalam hati.
Bayangan wajah laki-laki itu menggenang di pelupuk matanya, seakan tak pernah mau pergi. Kenangan pahit yang sudah ditorehkan, luka yang sudah dihunjamkan, senantiasa kembali membayang.
"Semua yang telah kamu tuduhkan kepadaku, telah berbalik kepadamu, berkacalah, kamu begitu keji dan penuh dengan kemunafikan," perempuan itu berkata dengan berani.
"Maafkan aku," jawab laki-laki itu.
"Dulu selalu kau tuduh aku tak setia, kau katakan aku menghianatimu, dan semua tuduhan itu tidak benar," ucap perempuan.
Laki-laki itu menunduk.
"Tak kusangka, kau berselingkuh dengan perempuan gendut itu, kamu telah termakan bicaramu sendiri, bukankah selama ini kau membenci perempuan gendut?" perempuan itu kesal.
"Aku khilaf, sayang..."
"Kamu tahu bahwa perselingkuhan itu teramat menyakitkan? Kamu tahu bahwa menjaga kesetiaan itu begitu berat, tetapi semua kulakukan untuk menjaga taman yang telah kita rawat bersama ini..."
"Ya aku tahu..."
"Lalu kenapa kau berselingkuh, kenapa kau khianati kesetiaanku, teganya dirimu kepadaku..."
"Entahlah..."
"Kalau kau tak suka padaku, kalau cintai hilang dari hatimu, katakan terus terang, jangan bermain di belakangku..."
Air mata berbulir di kelopak asoka itu. Kelopak itu mengayun lembut dan air mata itu jatuh di atas meja. Lalu perempuan itu kembali bersenandung. Melagukan hatinya yang terluka. Meredam dendam dan sakit hati. Tuhan jagalah hatiku, kuyakin pasti akan ada jalan, bisik hatinya.
Jakarta, 10 Juni 2013

Sunday, December 16, 2012

Bayangan Gelap

FLASH FICTION
Kamu menghampiriku di taman, lagi-lagi tanganmu mengamit setangkai kembang. Angin masih mendesir lembut. Dan langit begitu mewah dengan warna-warna keemasan.
"Ini untukmu, untuk semua kesalahanku selama ini," ujarmu.
Aku mengulurkan tanganku dan mengangguk, lalu kuterima rose merah itu:
"Terima kasih."
"Alangkah bodohnya aku telah menyia-nyiakanmu. Kini kusadari hatimu begitu putih," katamu.
"Ah sudahlah..."
Tiba-tiba semua membatu. Ada ribuan pentanyaan di kepalaku, tetapi kuurungkan niatku untuk bertanya kepadamu. Dan wajah perempuan itu, sekilas hinggap di kepalaku.
"Jangan berfikir macam-macam lagi," katamu.
Sepertinya kamu membaca apa yang ada dalam pikiranku.
"Ya, memang tak perlu dibahas lagi," ujarku.
"Berilah kesempatan, aku berjanji tak akan menyakitimu lagi..."
"Baik, kuharap kau akan pegang janjimu..."
Langit campur aduk antara bahagia dan getir. Harapan, kecewa dan cemburu. Aku menarik nafas dalam-dalam. Dan tak jauh dariku berdiri makhluk yang menyita semua energi perasaanku selama ini.
"Kenapa diam?"
"Ah enggak..." sahutku cepat.
"Maafkanlah dengan sepenuh jiwamu..."
"Iya..."
Hanya saja bayangan gelap semua peristiwa itu seringkali mengotori seluruh pikiranku. Aku ingin beranjak dan pergi dari semua bayangan gelap penghianatanmu itu. Yang selalu saja membuatku menangis, sedih dan pilu. Mungkin aku hanya butuh waktu.
Tiba-tiba kau bersimpuh di hadapanku. Kau tundukkan kepalamu dalam-dalam. Aku mendengar sesayup isakan tangismu.
"Aku benar-benar menyesali semuanya, ampuni aku..."
Aku diam. Aku raih tanganmu. Kubawa kau bangkit di hadapanku.
"Aku sudah memaafkanmu, sayang..."
Biarkanlah bayangan gelap itu aku telan sendiri. Melintas di pintu-pintu misteri jiwaku. Setiap manusia pernah melakukan keksalahan. Kesalahan memberikan kesempatan untuk terbukanya surga pemafaan.
Aku genggam tanganmu. Aku tatap tajam-tajam matamu. Kuharap menemukan kejujuran di telaga mata itu. Dan aku tersenyum, seraya berbisik I love you.
"I love you too, I will always love you..." ujarmu.
Kami berpelukan lagi.
Jakarta 17 Desember 2012

Saturday, December 15, 2012

Cintailah Orang Lain, Demi Aku

FLASH FICTION
Bahkan aku telah menyakiti Farhan demi Elang. Farhan adalah orang paling baik yang pernah aku kenal di dunia ini. Santun, lembut, manis dan sangat menarik budi bahasanya. Selain itu, dia tak pernah letih mencintaiku.
Air mata sudah mengambang di pelupuk mataku, saat aku menemuinya di batas senja itu. Dia berdiri terpaku seperti patung. Aku sendiri menahan gugup dan takut. Karena aku yakin aku akan menyakiti hatinya.
"Jaga dirimu baik-baik," kata laki-laki itu.
"Iyaa..."
"Ingat aku di sini tetap mencintaimu..." paparnya getir.
Air mataku jatuh. Jiwaku menahan gejolak dilema. Tetapi kata hatiku telah memutuskan.
"Aku akan selalu merindukanmu," ujar Farhan lagi.
"Sebaiknya jangan," kataku sembari melihat matanya yang berkaca-kaca.
"Tidak, aku akan menunggumu sampai aku mati..."
"Katakan selamat tinggal..." kataku tegas.
Farhan tak bergeming. Kulihat tangannya bergetaran menahan emosinya, pasti dia marah dan jengkel. Tetapi aku harus mengatakan kepadanya bahwa aku tak akan sekalipun kembali padanya. Aku telah berjanji kepada Elang.
"Maafkan aku, aku telah berjanji, dan aku tak akan pernah mengingkari janji," ujarku lagi.
"Apakah mencintaimu sebuah kesalahan?"
"Tidak, cinta bukanlah kesalahan, cinta adalah anugerah Yang Maha Kuasa..."
"Lalu kenapa kau tak mengijinkan aku mencintaimu?"
"Karena aku hanya mencintai Elang, terima kasih untuk cinta ini," kataku.
Farhan diam.
"Datanglah kalau hatimu terluka," kata Farhan.
"Tidak, Elang tak akan melukai aku lagi," kataku.
"Dia pria brengsek, selalu dan selalu membuatmu bersedih, bukalah matamu sayang," katanya lagi.
Aku terisak.
"Farhan, pergilah..."
"Tidak, berjanjilah sesuatu padaku..."
"Janji soal apa, aku sudah kukuh dengan pendirianku..."
"Kemarilah bila Elang menyakitimu..."
"Tidak, dia tak akan pernah menyakitiku lagi..."
"I love you...."
Aku memalingkan wajah.
"Farhan, boleh aku meminta?"
"Apa itu?"
"Cintailah orang lain demi aku..."
Farhan mendengus. Air mata nyaris jatuh dari matanya. Aku bahkan tak tega memandang mata itu.
"Please..." desakku.
"Good bye, cintaku..." katanya kemudian.
Sebelum aku menjawab, dia berbalik dan berjalan. Ujung cakrawala memerah menelan bayangan laki-laki itu. Aku masih berdiri terpaku. Air mataku berlinangan.
Jakarta 16 Desember 2012

Tuesday, December 4, 2012

Dadaku Sesak Oleh Nikotin

FLASH FICTION.
Telepon genggamku berdering. Ada perempuan terisak di sana. Aku tahu dia Naira.
"Naira, ada apa?" tanyaku.
Perempuan itu tak menjawab, tetapi malah tambah menangis.
"Baik, aku ke situ, kamu di rumah kan?" ujarku.
Aku kenakan celana jins dan kaos, lalu keluar kos, menuju halte. Sepuluh menit kemudian aku sudah sampai di apartemen Naira.
Mata gadis itu bengkak, karena terlalu banyak menangis. Aku biarkan dia terus menghabiskan tangisnya. Asbak di hadapannya sudah penuh putung rokok. Dua bungkus rokok mild tak jauh dari asbak itu.
"Dadaku ini rasanya sudah penuh dengan asap rokok," katanya memulai pembicaraan.
Jemarinya yang lentik mengambil satu batang rokok lagi, menyelipkan di bibirnya dan tangan kanannya menjentikkan korek di ujung rokok itu.
"Ada apa? Pasti soal Ben kan?" aku bertanya.
Dia mengangguk.
"Laki-laki brengsek!"
"Kali ini apa ulahnya?"
"Juni, dia mencampakkanku seperti sampah..."
Ketika berbicara, ada butiran air mata luruh di pipinya.
"Ada perempuan lain?"
"Entah..."
"Tetapi tak seharusnya kamu merusak diri sendiri. Sudah berapa kotak rokok kamu habiskan sepagi ini?"
"Biarin aja, Jun, semua ini terlalu menyakitkan. Aku benar-benar telah hancur," Naira tersedu lagi.
"Ya sudah, terserah..."
"Aku butuh waktu, Juni..."
"Aku tahu, alihkan ke hal positif, kalau terus menerus merusak dirimu, itu artinya kamu sudah kalah..."
"Aku sudah nggak ada semangat hidup lagi..."
"Hahaha... Bercanda kamu, Ra, alihkan, lawan semua kesedihanmu..."
"Aku sudah tak tahu lagi mesti bagaimana..."
"Jangan merusak diri..."
"Ben selalu berpesan agar aku tidak cengeng, tetapi sekarang dia sudah tak ada lagi disisiku, aku hancur tanpanya..."
"Lawan, Ra, lawan," kataku bersemangat.
Naira tak menjawab. Dia memadamkan rokoknya lalu mendatangiku. Aku berdiri dan memeluknya.
"Masa depanmu masih panjang, masih banyak peluang di depanmu," kataku.
"Andai aku bisa..."
"Semua butuh waktu, tetapi kamu pasti bisa," ujarku menyemangati.
"Ini tak adil, Jun..."
"Aku tahu," jawabku.
"Kesakitan ini, mengiris..."
"Dia tak boleh menyakitimu, biarkan dia menerima balasannya," tambahku.
"Dadaku sudah sesak oleh nikotin..."
"Jalani saja kesedihanmu, Tuhan tahu segalanya..."
Lalu aku peluk erat tubuh kurusnya. Dia masih menangis.
"Semua akan baik-baik saja, Ra, yang baik akan menemukan kebaikan, dan yang jahat akan mendapatkan karmanya, percaya kepadaku."
Naira mengangguk. Masih sesengukan.
Jakarta, September 2012

Sunday, October 21, 2012

Egois

FLASH FICTION
"Kenapa kau murung?" tanyamu.
"Nggak apa-apa kok..."
"Jangan membodohiku," katamu lagi.
"Sudah selesaikah pekerjaanmu, Mas?"
"Sudah..."
"Syukurlah..."
"Kenapa murung?" kamu mengulangi pertanyaan yang tadi.
"Nggak apa-apa..."
"Kau memikirkan keburukan-keburukanku kan? Kamu menyesal hidup bersamaku?"
"Jangan berprasangka," sergahku, "semua itu sama sekali salah."
"Ow, mulai membantahku ya?"
Aku membetulkan dudukku. Dan kamu yang terus menghujaniku dengan pertanyaan, seakan tiada peduli dengan kegundahanku, kegalauanku. Kuhimpun kekuatan. Mungkin inilah saatnya semua keinginan itu aku ungkapkan.
"Apakah Mas tahu bahwa kadang-kadang aku ingin diperhatikan"
"Maksudmu?"
"Kurasa Mas selama ini hanya memikirkan diri sendiri, marah-marah tanpa alasan, cemburu buta, menghardikku, menyalahkanku, aku ini jadi serba salah..."
Kamu diam. Matamu berkaca-kaca.
"Aku ingin sekali saja Mas peduli padaku, memperhatikanku, menyayangiku," tambahku.
Kali ini kamu terlihat menahan emosi. Tak marah dan tak menyalahkanku. Atau mungkin belum. Pikiranmu sedang mencerna kata-kataku.
Lalu tiba-tiba kamu menangis. Berdiri dan berjalan keluar. Sudah kuduga, pasti kamu akan tersinggung dengan kejujuranku.
Aku benamkan wajahku di meja makan. Aku menangis sejadi-jadinya. Kutumpahkan segalanya. Lenganku basah oleh air mata.
Dalam lagu air mata itu, dalam keputusaanku, ada sentuhan di pundakku. Kuusap sisa air mata. Lalu aku menoleh ke belakang. Aku melihatmu berdiri di belakang kursiku. Rasa takutku kembali menyerang.
Aku berdiri menghadapanmu. Bersiap menghadapi apapun amarahmu. Kadang-kadang berkata jujur padamu adalah bukan pilihan yang tepat.
"Sayang," panggilmu.
Nadanya tidak marah. Tenang. Aku angkat wajahku, menatap lekat wajahmu.
"Iyaa," jawabku.
"Memang aku yang salah, aku memang tak pernah peduli padamu," katamu.
"Maafkan kata-kataku, Mas..."
"Aku memang brengsek, tetapi jangan pernah ragukan cintaku..."
"Cinta itu yang selalu menuntunku padamu..." ujarku.
"Ya, berilah aku kesempatan," katamu.
"Tak perlu Mas meminta itu," jawabku.
"Terima kasih, cintaku..."
"Segalanya akan baik-baik saja," jawabku.
Aku melihat sepasang mata berbinaran. Indah, seperti mentari pagi, yang berdansa dengan cakrawala kemerahan. Menyemarakkan dua hati yang tengah kasmaran.
Jakarta, 21 Oktober 2012

Saturday, October 20, 2012

Karena Hatimu

FLASH FICTION
Aku terdiam dalam ketakutan. Wajahmu memerah menahan marah. Saat begini, saat kau sangat marah begini, aku memilih diam. Aku berdoa dan menunduk, membiarkan waktu mengalirkan amarah itu pergi.
"Berapa lama kamu bersamanya?" gertakmu.
Aku tak menjawab. Mengusap air mata yang luruh di pipiku perlahan. Aku tak ingin kamu melihatku menangis. Aku harus tetap tegar dan sabar.
"Jawab!"
Aku menatap matanya. Aku memandangi ada darah mengalir di kepalanya dengan deras. Aku membetulkan duduk-ku untuk menghalau ketakutan yang kupendam.
"Dia hanya mengantarkan sepiring makanan buatannya, lalu pergi..." jawabku.
"Kau berbincang apa?"
"Hanya basa-basi..."
"Basa basi apa?"
"Dia bilang sedang mencoba resep baru, dan ingin aku mencobanya..."
"Terus?"
"Aku berterima kasih kepadanya..."
"Hanya itu?"
"Iyaa..."
"Bohooong!"
"Tidak, Mas, aku tidak bohong..."
"Dasar pelacur..."
"Lihat mataku...!"
Aku mendekatinnya. lalu aku tatap matanya tajam-tajam. Kami bersitatap. Mata marah itu mulai meremang. Aku meraih tangannya. Lalu aku peluk dengan erat tubuhnya.
"Aku tak pernah membohongimu..."
Dia membuka tangan dan memelukku dengan tenang. Aku merasakan dengup di dadanya sudah mulai teratur.
"Maafkan aku, sayang..."
"Iya..."
"Kenapa aku ini, kenapa aku begitu cemburu pada apapun di dekatmu..."
"Itu membuatku begitu berharga," jawabku.
"Dan sifat burukku, kenapa tak pernah membuatmu menyerah..."
"Aku mencintaimu bukan karena kelebihanmu, juga bukan karena kekuranganmu, aku mencintaimu karena hatimu," kataku kemudian.
Kami berpelukan semakin erat. Jiwa resah di hadapanku ini kemudian mulai mendingin dan tenang. Biarpun kamu pemarah, tetapi aku tahu bahwa hatimu baik. Langit malam indah menawan, dan tak ada yang lebih indah selain hanyut dalam pelukan cintamu.
Jakarta, 21 Oktober 2012

Thursday, October 18, 2012

Cinta itu Penguatan

FLASH FICTION
Aku memandangi wajahmu dengan tekun. Dan dirimu masih mencoba memendam resah. Aku tahu dan bisa merasakan bahwa kegelisahan menguasai dirimu.
"Minum kopinya..." kataku.
"Oh, iyaa..." katamu gugup sambil meraih cangkir itu.
Lalu kulihat dirimu mencoba mencecap minuman itu dengan penuh perasaan. Mencoba untuk tetap tenang dan tegar.
"Kenapa masti aku yang kena musibah ini," katamu kemudian.
Aku diam.
"Aku bekerja siang dan malam, aku tidak menipu dan aku loyal, sedangkan dia yang serakah dan munafik justru yang menang..."
Aku mengerti kamu membicarakan tentang pekerjaan. Persaingan dan ketidakadilan. Aku menunggu sambil terus menatap matamu. Lelaki selalu gelisah dalam persaingan yang tidak sehat.
"Terus?"
"Aku jengah..."
Aku mendekatimu. Lalu aku berdiri di belakang kursimu. Aku peluk erat-erat. Aku sandarkan kepalaku di pundakmu. Dan bergelayut di sana. Kamu pun memegangi tanganku dengan ragu.
"Tuhan sedang menjagamu..." kataku.
Kamu tak menjawab. Mendesah, menarik nafas panjang.
"Sungguh tidak adil..."
Aku usap kepalamu dengan lembut.
"Biarkan waktu berjalan. Hanya waktu yang akan mengatakan segalanya..."
Lalu kamu berdiri berbalik menghadapku. Meraihku dan memelukku dengan lembut namun erat. Aku pasrah.
"Aku tak mau sendiri menunggu jawaban itu..."
"Aku di sini bersamamu, kita hadapi berdua, kita lihat hikmah apa di balik ini semua..."
"Semoga kau benar..." kamu masih ragu.
Kamu eratkan pelukkan itu. Aku mengeratkan pelukanku padamu. Untuk saat ini, hanya itu jawaban untuk gundahmu. Dan aku terus memelukmu.
"Aku mencintaimu..." bisikku.
"Aku juga mencintaimu..."
Langit biru bersih. Burung-burung mematuki kerikil di jalanan. Bunga-bunga bermekaran. Dan dua hati menghimpun kekuatan untuk menghadapi ujian-ujian kehidupan...
Jakarta, 19 Oktober 2012

Tuesday, October 16, 2012

Kembali

FLASH FICTION
Aku melihatmu berdiri di ujung jalan, dengan wajah kusam. Aku melambaikan tangan, sekilas kau tersenyum, hambar...
"Ada apa?" aku menghampiri.
Wajahmu memucat, lalu tersenyum lagi, masih hambar...
"Bolehkah aku pulang?" tanyamu.
Aku mendekatinya, aku ulurkan tanganku kepadanya...
"Tentu saja, ini kan rumahmu," ucapku.
"Masihkah engkau marah?" Aku menggeleng.
"Kenapa aku selalu menyakitimu," katamu lagi.
"Sudahlah..."
Matamu berkaca-kaca. Aku melihat air mata. Nyaris jatuh...
"Tuhan saja memaafkan, kenapa aku manusia tak memaafkan," kataku kemudian.
Aku menuntunnya berjalan. Daun-daun berserakan diantara bebatuan. Langkahmu ragu. Ada nyanyian sumbang yang menderamu.
Lepaskanlah...
Lepaskanlah...
Jakarta, 17 Oktober 2012