Showing posts with label First Love. Show all posts
Showing posts with label First Love. Show all posts

Saturday, February 9, 2013

Istriku Cinta Pertamaku (Dua)

FIRST LOVE
Adalah Jeny, seorang gadis tomboi yang menyenangkan. Tingkahnya Polos dan suka sekali bergurau. Gadis itu sering bercerita tentang Gina. Menurutku Gina cantik dan menarik. Ketika SMA, Jeny selalu menyanpaikan salam dari Gina untukku.
Aku sendiri merasa Gina menyukaiku. Tetapi mengapa lewat orang lain. Aku tak suka dengan cara begitu. Lama-lama Gina menghindariku. Aku tak tahu mengapa dia tak mau bertemu denganku.
Belakangan aku tahu, dia tak mau menemuiku karena malu telah kutolak cintanya. Jeny bilang, Gina sekarang sangat tidak suka padaku. Dan aku tahu itu, setelah aku menikah. Jujur saja aku sebetulnya tertarik dengan Gina.
"Dia sangat mencintaimu. Kamu sih cuek-cuek saja," kata Jeny di telepon.
"Kenapa dia tak bilang padaku?"
"Lha sudah gitu lho, lewat aku..."
"Aku sebetulnya juga menyukainya, aku menunggunya, kalau dia mengatakan cinta padaku pasti aku terima..."
"Kau ini gila, mana mungkin cewek mau ungkapkan cinta, cewek itu menunggu..."
"Tetapi bagiku, tidak begitu, cewek harus duluan mengungkapkan cinta..."
***
Hal itu juga yang mempertemukanku dengan istriku. Wenny sebetulnya bukan typeku. Dia gadis yang teramat bebas. Berantakan sekali. Secara penampilan fisik dia tidak menarik. Tetapi dia memiliki kelebihan, tidak malu mengungkapkan cintanya.
Wenny, mengaku mencintaiku pada pandangan pertama. Lalu terus mengikuti semua kegiatan dan apapun yang aku lakukan di kampus. Awalnya Wenny juga tak peduli karena sikap cuekku dan terkesan sombong pada cewek. Tetapi Wenny tidak menyerah.
"Aku mencintaimu, Dudi, kuharap kau tahu," begitu kata Wenny.
Aku suka sekali pernyataan itu. Cewek yang terus terang adalah cewek yang menarik. Setelah pernyataan itu, kami berpacaran. Dan kemudian menikah seusai kami berdua sama-sama diwisuda.
Aku menjalani saja hidupku seperti itu. Aku memang beginilah adanya. Aku terima istriku apa adanya. Kami punya komitmen, untuk saling menjaga hubungan ini. Bahkan aku tidak tahu, apakah sebenarnya aku mencintainya atau tidak. Kuyakin dia memang dikirimkan Tuhan bagiku, lelaki yang takut pada perempuan. (Tamat)

Friday, February 8, 2013

Istriku Cinta Pertamaku (Satu)

FIRST LOVE
Kenalkan, aku Dudi, aku seorang direktur sebuah perusahaan swasta. Aku tinggal di Jakarta bersama dua orang anak dan seorang istri. Teman-temanku bilang, aku adalah seorang pria yang kaku. Hitam putih. Tetapi itulah aku. Aku telah mendapatkan kesuksesan dalam karir, tetapi aku sebetulnya adalah seorang penakut, terutama dalam urusan cinta.
Ketika Anggie bertanya, siapa cinta pertamaku? Aku jawab istriku. Tumben Anggie tidak menertawakanku. Biasanya kalau ada yang menanyakan siapa cinta pertamaku, lalu kujawab istriku, mereka akan tertawa mengejekku.
"Ah, nggak mungkin, becanda kamu Di..." kata orang itu.
"Emang kenapa?"
"Nggak ada cinta pertama yang sampai pada titik pernikahan!"
"Ada, akulah orang itu, aku hanya memiliki satu perempuan seumur hidupku..."
Aku sebenarnya tak paham dengan definisi cinta pertama. Dari setiap orang yang aku kenal, mereka kebanyakan menjalin cinta lebih dari satu. Mereka memiliki begitu banyak cinta. Berbeda dengan diriku. Aku adalah seorang laki-laki yang hanya memikirkan pekerjaan. Dan dibalik semua itu, sebetulnya aku takut pada perempuan.
Aku memiliki postur tubuh yang tinggi dan tegap. Kulitku kuning langsat dengan rambut lurus selalu dipotong dengan rapi. Gayaku semi militer, dan aku selalu mendapatkan prestasi akademik yang bagus di sekolah. SMA Favorit, dan universitas favorit bisa aku raih karena kepintaranku.
Saat masih SMP, aku dikenal cuek dengan cewek. Tetapi aku hebat dalam kegiatan ekstra kurikuler. Dan ketika SMA aku terpilih menjadi salah satu wakil paskibraka propinsi. Tetapi aku sebetulnya kesepian.
Aku ingin seperti teman-teman sebayaku yang memeiliki kekasih. Saling mengirimkan surat cinta, berduaan makan bakso, atau berkencan di malam minggu. Hari-hari di masa remajaku lebih banyak habis di rumah teman, atau di kamar mendengarkan lagu atau main komputer.
Lalu adakah gadis yang menyukaiku? Kurasa ada. Aku deket dengan perempuan-perempuan cantik dan pintar. Tetapi selalu saja ada hambatan ketika aku ingin lebih dekat dengan salah satu dari mereka. Aku termasuk orang yang tak berani mengutarakan perasaan cinta.
Gejolak masa remaja kulewati dengan perasaan takut itu. Sehingga kekaguman pada seseorang hanya bisa aku pendam di dalam hati saja. Kenapa para perempuan yang menyukaiku itu, hanya berbisik-bisik di depanku. Kenapa tidak ada yang mengutarakan cinta padaku? (Bersambung)

Tuesday, February 5, 2013

Kasih Tak Sampai (Lima)

FIRST LOVE
Aku menemui Sinta di kantornya siang itu. Aku ingin mengungkapkan perasaan yang menggelayut di jiwaku. Ku himpun kekuatan agar bisa mengatakan semua itu. Aku mengenakan hem paling kusayang. Aku menghias diriku sebaik mungkin agar Sinta tertarik kepadaku. Aku berharap tak bertemu Ridho, agar semua rencanaku tak hancur oleh cemburu.
Aku mengajaknya makan siang di sebuah mall yang berada tak jauh dari kantornya. Kukatakan aku ingin bicara empat mata saja, agar dia tak mengajak Ridho. Sinta menanggapinya dengan suka cita.
Aku sudah menunggunya di restoran dan memesan makanan. Biarpun makanan itu sudah tersaji, tidak ada nafsu makan yang membuatku bergairah menyantapnya. Pikiranku hanya pada Sinta saja.
Gadis itu muncul dengan langkahnya yang ringan. Senyumnya mengembang seindah bunga mawar merah di pagi berembun. Sangat cantik. Bagiku tiada satu perempuan yang sanggup memikat hatiku seperti Sinta. Dia langsung mengambil posisi duduk di depanku. Bebasa-basi lalu memanggil waiters untuk memesan makanan.
"Sinta, ada sesuatu yang ingin kukatakan kepadamu," ujarku.
"Apa itu Tian?"
"Kita sudah saling kenal sejak kecil, sekolah bersama, bermain bersama, aku senang bila sedang bersamamu..."
"Aku juga suka berteman denganmu Tian, kamu baik dan suka menolong..."
"Biasa aja, Sin, orang hidup memang harus tolong menolong, kan..."
"Iya sih..."
"Papamu pernah berpesan kepadaku..." bicaraku terputus, leherku serasa tercekat.
"Pesan apa itu?"
"Sesuatu yang penting, karena itu aku ingin katakan kepadamu..."
"Papamu titip kamu kepadaku, dan ingin agar aku selalu menjagamu..." lanjutku.
"Benarkah?"
"Iya, aku ingin sekali menikahimu, Sin, kamulah cinta pertamaku..."
Wajah gadis itu berubah merah. Sejenak dia kaget. Lalu dengan tersenyum dia menjawab permintaanku.
"Kamu anak baik Tian, perhatian dan penuh kasih sayang. Kamu juga anak yang hebat, terutama dalam menjalani hidupmu. Tetapi selama ini aku hanya menganggapmu sahabat, mungkin saudara..."
Dia menghela nafas. Aku hanya diam tak berani memandangnya. Seluruh tubuhku berkeringat dingin.
"Terima kasih untuk semua kebaikanmu selama ini. Maafkan aku tidak bisa menikah denganmu. Aku tidak mencintaimu, aku mencintai Ridho, dan kami akan menikah secepatnya..."
Seluruh tubuhku kunglai tak berdaya.
***
Di kantorku ada seorang gadis dari Jawa. Dia bekerja sebagai staf administrasi. Gadis itu manis dan perilakunya lembut. Sejak awal bekerja di kantorku, aku tahu Dewi menyukaiku. Karena hal itulah kemudian aku melamarnya. Aku menikah dengannya di kota kelahirannya.
Lalu aku memutuskan untuk pindah ke kota itu dan meneruskan usaha bimbingan belajarku. Dewi tidak keberatan meninggalkan Jakarta. Kami membeli rumah tak jauh dari rumah mertuaku. Dan aku kembali dari nol, merintis Bimbingan Belajar baru di kota itu.
Aku membuang semua nomor kontak dengan Sinta. Aku membuang semua mimpi dan memulai hidup baru. Dalam pernikahanku, aku dikaruniai seorang puteri cantik yang sehat. Kami hidup dengan bahagia di sisi keluarga besar Dewi.
Beberapa tahun kemudian aku menemukan Sinta di facebook. Dia memasang fotonya, Ridho dan anak-anaknya. Wajahnya yang cantik tak pernah berubah, selalu ceria dan menarik. Aku berharap dia hidup penuh kebahagiaan bersama keluarganya. Lalu kami berteman di FB. Sesekali aku menyapanya, dan dia senang dan ramah bila aku berkomentar di statusnya.
Biarpun aku tak bisa memilikinya, Sinta adalah sebuah anugerah yang besar. Dia adalah bidadari yang diturunkan dari langit untuk menemaniku menjalani masa kecilku yang berat. Begitulah cara Tuhan mencintai aku si anak yatim ini. Dengan memberiku cinta pertama dengan seorang bidadari cantik bernama, Sinta. (Tamat)

Monday, February 4, 2013

Kasih Tak Sampai (Empat)

FIRST LOVE
Cita-citaku untuk memiliki sebuah bimbingan belajar akhirnya menjadi kenyataan. Dari persewaan dan kursus komputer, akhirnya meningkat menjadi sebuah bimbingan belajar dan kursus komputer. Aku menyewa sebuah ruko yang lebih besar, dan mempekarjakan sekitar 10 orang karyawan.
Sinta sudah tahu bisnis baruku. Dan dia mengacungi jempol untuk keberhasilanku. Aku memanjakannya dengan hadian-hadiah. Dan makan siang bersama adalah hal yang paling aku sukai. Sejauh ini kami masih kompak.
Aku mulai bertanya-tanya ketika Sinta jarang menelponku lagi. Biasanya dia menelpon minta tolong ini itu atau sekedar minta dibelikan makanan kesukaannya. Aku berfikir mungkin dia sakit atau terjadi sesuatu kepadanya.
Siang itu, aku datang ke kantornya. Saat turun dari angkot, aku melihat Sinta sedang berbincang dengan seorang laki-laki perlente di parkiran depan kantornya. Aku langsung menemuinya dan menyapanya,
"Sin, apa kabar?"
"Baik, Tian, kamu gimana?"
"Aku juga baik, aku kuatir kamu ada apa-apa..."
"Oh terima kasih, oh ya ini Ridho, Ridho ini Tian, tetanggaku, dan temanku waktu kecil..."
Laki-laki itu tersenyum kepadaku. Menjulurkan tangannya untuk menyalamiku. Aku membalas senyuman itu. Wajahnya tampan, kulitnya juga putih, tubuhnya tinggi jangkung dan kelihatannya dia baik.
"Kami mau makan siang, mau gabung?" tanya Sinta.
Laki-laki itu kemudian meraih tangan Sinta dengan mesra. Dari situ aku bisa menyimpulkan kalau mereka pacaran.
"Ah, enggak, kalian makan siang aja dulu, saya ada pekerjaan..." jawabku gugup.
"Ya udah, see you," kata Sinta sambil bergandengan meninggalkan aku.
Sejak saat itu, aku tak pernah makan siang dengan Sinta lagi. Kami nyaris jarang berkomunikasi. Aku terjatuh dalam frustrasi. Dan bayangan gelap kenyataan pahit hidupku selalu tergambar nyata di mataku.
Seringkali kepalalu ingin pecah. Tidak bisa tidur dan tidak doyan makan. Mimpi buruk selalu mengejar-ngejarku. Dan kata-kata Om Haris untuk selalu menjaga puterinya, mengiang-ngiang di telingaku.
Tetapi aku tak tahu apa yang harus aku lakukan. Lelaki perlente kekasih Sinta itu siapa. Apakah dia akan melukai Sinta? Apakah dia akan menjaga Sinta baik-baik. Rasanya hidupku ini menjadi hampa. Ingin melakukan sesuatu tetapi tak punya kekuatan apapun untuk mengerjakannya.
Hati selalu merindukan Sinta, tetapi gadis itu sudah bersama dengan lelaki lain. Kalau begini, mendingan aku mati. Aku tak sanggup menanggungkan cinta yang tiada memiliki masa depan ini.
Dan aku menaiki tangga Ruko menuju ke atap. Ketika aku akan terjun bebas ke parkiran depan, pedagang rokok depan ruko mengetahuinya. Lalu berteriak.
"Mas Tian, ngapain disitu?"
Aku kaget. Konsentrasiku buyar. Di bawah orang berkerumun. Mereka berteriak agar aku tak meloncat. Lalu beberapa orang naik dan merayuku di atas atap. Mereka membujukku dan mengajakku turun melewati tangga, bukan terjun ke bawah, karena aku nanti akan terluka. Aku batal bunuh diri. (Bersambung)

Sunday, February 3, 2013

Kasih Tak Sampai (Tiga)

FIRST LOVE
Kalau aku perempuan, pasti aku sudah memeluk Sinta. Dan dia pun tampaknya sangat senang bertemu denganku. Entahlah rasanya begitu dekat. Seperti bertemu dengan saudara sendiri yang bertahun-tahun menghilang.
"Tian, kamu putih ya sekarang?" katanya ceria.
"Masak sih, kamu juga cantik sekali, Sin," kataku gugup.
"Bumi ini sempit ya, masak kita bertemu di sini," tuturnya.
"Iya, kamu tinggal dimana?"
"Cipete..."
"Yah, sama dong, aku juga di Cipete..."
Lalu Sinta mengeluarkan sebuah kartu nama berwarna putih. Dia sodorkan kertas kepadaku. Aku menerimanya dan membaca alamatnya. Kantor swasta itu tidak jauh dari tempat kosku.
"Sudah berapa lama di sini?" tanyaku.
"Sudah dua tahun," katanya.
"Ha? Dua tahun?"
"Iya, memang kenapa?"
"Sebetulnya kantormu berdekatan dengan kosku," jawabku.
Kami berbagi nomor telepon. Dan kadangkala Sinta meluangkan waktu untuk menelponku dari kantornya. Kadang juga dia minta ditemani makan siang. Dengan senang hati aku melakukannya. Diam-diam cinta yang kupendam itu mulai terguyur harapan. Tetapi perjalanan itu tidak mudah. Karena Sinta yang ramah tetap saja misterius.
***
Sahabat, aku belum bercerita kalau aku sangat dekat dengan Papa-nya Sinta. Om Haris, adalah seorang pegawai negeri yang baik. Ketika masih sering bekerja di rumahnya dulu, om Haris selalu memintaku untuk memijiti atau menginjak-injak punggungnya. Aku selalu menurut.
Kalau habis memijit biasanya aku diberi uang tip. Selain itu, yang terpenting, aku selalu mendapatkan nasehat-nasehat yang membuatku tetap berjalan di jalan lurus sampai sekarang.
"Tidak apa-apa bekerja serabutan, uangnya ditabung, yang penting bisa sekolah," begitu salah satu pesannya.
Beliau selalu menekankan agar aku tetap bersekolah, biarpun harus mencari uang dengan kerja kasar untuk membayar SPP-nya.
"Kalau kamu hanya bekerja dan tidak mau sekolah, kamu akan tetap jadi kuli, tetapi meskipun kamu kuli tetapi kamu sekolah tinggi, pasti hidupmu akan lebih baik," itu juga selalu aku ingat.
Karena nasehat-nasehat itu, semangat belajarku selalu tinggi. Sudah pasti aku sering mengantuk di sekolah. Menjadi hinaan teman di sekolah atau jadi bahan ledekan teman di sekolah adalah hal biasa. Tetapi aku teguh pada nasehat om Haris. Aku seperti menemukan sosok ayah yang tak pernah aku rasakan sejak bayi.
Dan pesan yang paling membekas, yang aku simpan rapat-rapat dalam jiwaku adalah, ketika suatu hari aku disuruh membersihkan meja kerja lelaki itu. Sambil duduk di sofa, dia mengajakku bercerita. Waktu itu aku sedang membersihkan rak buku. Aku keluarkan semua buku dan aku bersihkan raknya dari debu.
"Tian, Kamu sekarang sudah SMP, sudah besar kan..."
"Iya Om..."
"Kamu belajar yang rajin ya..."
"Baik Om..."
"Kamu seumuran Sinta ya, anakku yang paling badung..."
"Iya Om, kami satu SMP..."
"Kamu anak baik, aku titip Sinta ya, tolong jaga dia baik-baik ya..."
Aku menghentikan pekerjaanku. Lalu berdiri menantap laki-laki yang duduk nyantai itu. Lalu aku mengangguk, dengan pasti. Kalimat terakhir itu adalah kalimat terpenting dalam hidupku. Aku anggap sebagai amanah, yang harus aku laksanakan sebaik-baiknya.
"Iya Om, akan kujaga dia..."
Itulah jawaban yang aku berikan. Dan kalimat om Haris itu selalu mengiang-ngiang. Bahkan selalu terbawa ke dalam mimpi. Dan kalimat itu yang membuatku hampir bunuh diri ketika aku sadar aku tak bisa menjaga Sinta, aku tak sanggup lakukan itu. (Bersambung)

Friday, February 1, 2013

Kasih Tak Sampai (Dua)

FIRST LOVE
Aku Septian, aku anak seorang pelacur, yang mati karena sipilis. Dan aku ke Jakarta bukan untuk bersenang-senang di kemewahan kota itu. Aku ke Jakarta untuk mengadu nasib. Di sana aku menjadi kuli bangunan. Terkadang aku membantu kakakku yang juga menjadi kuli penggali kabel. Atau kadang menjadi pengangkut barang.
Setahun pertama aku menghabiskan hidupku di gorong-gorong dan tinggal di bedeng-bedeng. Kakakku sendiri juga kerja serabutan, istri dan anak-anaknya tinggal di perkampungan pemulung dan menyewa satu kamar dari triplek. Aku tak mau merepotkan dengan menumpang hidup di situ, karena itu aku lebih sering tinggal di bedeng yang disedikan untuk para kuli.
Kurang lebih setahun kemudian, ada sebuah sekolah dasar swasta yang membutuhkan pak bon, atau tukang kebun. Aku langsung bersedia. Di dekat gudang sekolah itu, kebetulan ada sebuah ruangan kosong, kotor dan bau karena tak terurus. Aku meminta ijin untuk tinggal di ruangan itu, aku berjanji akan tetap menjaga kerapian sekolah. Diijinkan. Maka aku pun tinggal di ruangan kecil yang juga bersebelahan dengan kamar kecil itu.
Pagi hari, sebelum sekolah mulai aku menyapu semua ruangan kelas, lalu mengepel, membuang sampah dan menyiapkan semua kelas. Bila siang hari, aku menjadi pesuruh para guru dan staf lainnya. Kadang membeli makan siang, membuatkan kopi atau teh, kadang memfotokopi dan lain-lain. Tak jarang aku mendapatkan tip dari mereka. Aku bersyukur karena tidak lagi kerja kasar seperti sebelumnya. Aku bekerja dengan senang hati, bahkan anak-anak di sekolah itu juga suka padaku.
Aku hidup seadanya. Aku menabung sedikit-sedikit. Semua tabungan itu, rencananya akan kugunakan untuk sekolah. Dan aku beruntung, karena di Jakarta banyak sekolahan yang masuk sore. Jadi aku pun lalu memilih satu sekolah kejuruan, waktu itu SMEA.
Pagi hari aku masih tetap bekerja, sorenya aku sekolah. Saat-saat sekolah di SMEA itu aku sering teringat Sinta. Seperti apakah dia sekarang. Sudah setahun lebih aku tak pulang ke kampung halaman. Aku menghemat ongkos. Untuk pulang pasti butuh banyak uang. Bagiku yang terpenting saat ini adalah bisa membayas SPP-ku lunas. Dan aku bisa menyelesaikan sekolahku.
Selesai SMEA, aku dinaikkan jabatanku menjadi staf Tata Usaha di sekolah dasar swasta itu. Aku bisa belajar komputer. Dan setelah menjadi TU, aku tidak tinggal di gudang lagi. Aku kos di sebuah rumah kos murah tak jauh dari sekolah. Hidupku membaik, aku bisa memberi uang kepada kakakku dan akhirnya mereka bisa mengontrak rumah petak yang lebih layak.
Aku masih bekerja di sekolahan, tetapi aku juga mulai megumpulkan uang, aku ingin memiliki usaha sendiri. Awalnya aku membuka lapak kecil sewa komputer dan pengetikan. Dari dua komputer berkembang menjadi sebuah persewaan yang besar. Aku mengontrak kios dekat kampus dan usahaku berkembang, pelan tetapi lumayan.
Beberapa tahun kemudian, aku mendengar kabar kalau Sinta sudah lulus kuliah dan bekerja di Jakarta. Sayangnya aku tak pernah tahu dimana tempat kerjanya, dan dimana gadis itu tinggal.
Suatu hari aku sedang mengantri di sebuah ATM, di depanku ada seorang gadis yang tinggi jangkung. Lebih tinggi dari aku. Dari belakang aku seperti mengenal sosok itu. Tetapi aku tak berani menyapanya. Aku tunggu saja sampai antrian sampai padanya dan dia akan berbalik setelah selesai mengambil uang.
Sebetulnya hatiku deg-degan. Feelingku bicara. Dan benar, ketika dia berbalik, gadis itu Sinta. Begitu anggun dan menawan. Ada polesan make up di wajahnya. Dan begitu melihatku, dia langsung heboh, berjingkrak-jingkrak senang. Tak peduli banyak orang di sekitar situ. Semua orang yang sedang mengantri menoleh kepada kami berdua. Dia tak berubah.(Bersambung)

Thursday, January 31, 2013

Kasih Tak Sampai (Satu)

FIRST LOVE
Kenalkan, namaku Septian. Seorang laki-laki yang hampir gila karena cinta pertama. Bahkan aku pernah nyaris bunuh diri karena tak sanggup menghalau perasaan itu. Aku melakukan apapun demi Sinta, tetapi dia sama sekali tak mencintaiku. Kami memang berbeda derajad, itulah sebabnya.
Ketika kelas empat SD ibuku meninggal. Menyusul Bapak yang sudah meninggal lebih dulu, kira-kira sepuluh tahun sebelumnya. Ibuku meninggal di hadapanku. Sudah beberapa tahun ibuku sakit. Aku sebetulnya tak ingin mengatakannya, ibuku sakit jenis penyakit yang sangat memalukan, dia terkena sipilis.
Aku memiliki enam saudara, dan aku adalah anak ke tujuh. Setelah SMA, baru aku tahu kalau ibuku adalah bekas seoramg pelacur. Setelah Bapak meninggal, ibu kembali bekerja sebagai pelacur, melanjutkan profesinya sebelum dinikahi oleh bapak.
Di seluruh kampungku, sudah tahu hal itu. Tetapi karena aku anak yang baik, mereka menyayangiku. Mereka sering memberiku pekerjaan apa saja. Mulai mengepel, mencuci baju, menjadi pesuruh yang bisa bekerja serabutan.
Semua pekerjaan kasar pernah aku lakukan, dan aku melakukannya dengan senang hati. Mulai dari menjadi kuli di pasar, mengayuh becak cadangan, menimba air buat tetangga, ataupun kerja kotor lainnya.
Aku tak bisa mengandalkan saudaraku yang lain, karena mereka hidupnya juga serba terbatas. Dengan bekerja sendiri, dan mendapatkan uang, aku bisa tetap melanjutkan sekolah. Dan aku tak pernah malu, bagiku yang penting pekerjaan itu halal.
Di kampungku ada keluarga berada yang sangat baik. Mereka sering menggunakan jasa tenagaku untuk pekerjaan-pekerjaan kasar, seperti, membersihkan kebun, menimba air, membersihkan got sampai mencuci mobil.
Keluarga itu memiliki tiga orang puteri, dan puteri bungsunya seusiaku. Kebetulan Sinta, puteri bungsu keluarga itu adalah teman sekolahku di SD setempat, jadi kami sudah seperti sahabat. Seperti kedua orang tuanya, Sinta tidak pernah pilih-pilih teman. Dia mau bergaul dengan siapa saja.
Sinta berkulit sawo matang, rambutnya ikal terurai panjang. Namun begitu, Sinta adalah seorang gadis tomboi. Kalau aku sedang membersihkan kebun, kadang-kadang Sinta mengagetkanku dengan meloncat dari cabang pohon. Lalu tertawa-tawa senang saat aku ketakutan.
Oleh Mamanya, Sinta selalu disuruh membantuku bekerja. Saat aku membersihkan kebun, Sinta bagian membakar sampahnya. Kalau aku menimba air di sumur, Sinta bagian membuka pintu kamar mandi agar aku mudah membawa ember di tanganku. Kami mengerjakan dengan ceria. Sehingga semua pekerjaan menjadi ringan.
Jujur saja, melihat sifat kekanakannya setiap hari, membuat aku mulai suka, atau bisa dibilang jatuh cinta. Hidupnya begitu bebas dan menyenangkan. Termasuk di sekolah, Sinta juga seorang juara. Namun begitu dia tidak pernah bersikap sombong.
Kami bertumbuh bersama, kebetulan aku juga bukan anak yang bodoh, aku dan Sinta diterima di SMP Negeri yang sama. Kami tetap bersahabat sampai kami lulus SMP. Sinta sangat suka bersepeda. Kadang kami ke sekolah bersama dengan bersepeda. Hidupku serasa begitu indah ketika bersamanya. Semua kepahitan hidup seperti hilang bila ada gadis itu di dekatku.
Oh ya, berbeda dengan siswa SMP lainnya, aku juga masih bekerja serabutan. Kadang-kadang aku dibayar untuk menjadi sopir mobil sayuran pengganti, atau menjadi tukang sapu di rumah keluarga kaya. Sesekali masih disuruh kerja di rumahnya Sinta. Aku jarang bergaul dengan teman sekolah, karena perasaan minder. Selain bersekolah, aku selalu bekerja.
Ketika SMP, Sinta sudah bertumbuh dengan tinggi. Kulitnya yang sawo matang, rambutnya yang di ekor kuda, membuatnya menjadi perhatian beberapa teman SMP. Aku tidak pernah satu kelas dengan Sinta, tetapi aku tahu, Sinta tertarik dan dekat dengan seorang siswa yang bernama Sakti, Sakti berwajah tampan dan pintar di sekolah, itu yang selalu membuatku gusar.
Aku sebetulnya berwajah lumayan, biar pun tubuhku pendek. Tangan-tanganku besar dan berotot, karena sering bekerja kasar. Kulitku putih bersih, namun karena sering terkena matahari, menjadi hitam. Kata orang aku mirip Bapakku.
Api cemburu meluap-luap, setiap kali melihat Sinta bersama Sakti, dan dia kadang mulai mengabaikanku. Hanya kalau butuh sesuatu saja Sinta minta tolong kepadaku. Dan aku tetap membantunya dengan sepenuh hatiku. Itu adalah bukti kasih sayangku kepada gadis itu.
Lama-lama aku sadar, bahwa aku tak mungkin memiliki Sinta, kami beda trah. Dan itu adalah harga mati bagi hidupku. Namun begitu, kami masih bersahabat. Aku sering memandanginya di kejauhan, dan membenamkan perasaanku dalam-dalam.
Sayangnya kebersamaan itu harus berakhir, sebab setelah lulus SMP, aku harus meninggalkannya, aku diminta kerja di Jakarta oleh salah satu kakakku. Demi isi perutku dan agar bisa tetap bersekolah, aku terima semua itu. Aku dengar Sinta juga melanjutkan SMA di kotaku itu, dan kami berpisah untuk beberapa tahun kemudian.
Tekadku, setelah di Jakarta, aku akan menjadi orang, dan akan kujemput cintaku untuk menemani sisa hidupku. (Bersambung)

Tuesday, January 29, 2013

Aku Alim Dia Playboy (Tiga)

FIRST LOVE
Bagus tidak berubah, tetap perhatian kepadaku. Kami tetap akrab, seperti dulu. Tiga tahun di SMA aku jalani hari-hari bersamanya tanpa status. Aku masih mencintainya, tetapi ada hambatan di hatiku tantang perilakunya. Setelah kepergian Sella, kudengar dari Ratih, Bagus dekat lagi dengan gadis lain. Di kampungnya dia terkenal playboy dan suka main perempuan.
Tetapi aku sendiri tak sanggup membayangkan tanpa Bagus. Kami mungkin lebih pantas disebut sahabat karib. Di sekolah juga sudah tersebar gossip kalau aku pacaran sama Bagus. Tapi jujur, Bagus belum pernah menyatakan cintanya kepadaku.
Kami akhirnya lulus. Bagus diterima di universitas negeri, sementara aku tidak. Aku kuliah di universitas swasta tetapi satu kota dengan universitas tempat Bagus kuliah. Dan ini sebetulnya tidak sengaja, karena setelah lulus SMA aku tak pernah bertanya kemana Bagus akan meneruskan studinya.
Bagus adalah cinta pertamaku. Aku belum pernah mencintai orang lain selain Bagus. Aku juga enggak pernah jadian dengannya. Jujur saja hatiku ngeri melihat kelakuannya. Jadi lebih baik membiarkan hatiku mengambang, dan terus mengalir apa adanya.
Dari Ratih aku tahu kalau Bagus sekarang sudah menjadi ketua Sema di kampusnya. Bagus memang pintar berorganisasi, karena waktu SMA juga pernah menjadi ketua OSIS. Bagi aku dan Ratih, membicarakan Bagus adalah hal yang biasa. Bahan cerita mengenainya seakan tak pernah ada habis-habisnya.
Sebetulnya kampusku agak jauh di pinggiran kota, jauh dari kampus Bagus yang berada di pusat kota. Kebetulan juga di tempat kos-ku ada seorang gadis aktifis yang sering kegiatan bersama dengan kampus lain. Mereka sering berdemonstrasi bersama dan aktif di organiasasi mahasiswa se-kota itu.
Fifian gadis berjilbab yang aktif menjadi reporter majalan mahasiswa. Fifian sangat rajin kegiatan kemana-mana. Jarang sakali berada di kos seperti mahasiswi lainnya. Namun begitu sebetulnya Fifian sangat ramah dan baik. Sesekali dia masuk ke kamarku dan bercerita tentang kegiatannya.
Suatu hari Fifian bercerita tentang tim gabungan mahasiswa beberapa universitas untuk keadilan buruh. Dia bercerita bahwa ketuanya adalah mahasiswa universitas negeri yang berasal dari kota yang sama denganku, nama mahasiswa ganteng itu adalah Bagus.
Kaget campur senang aku mendengar nama itu. Aku menyebutkan ciri-cirinya, dan Fifian mengangguk menyetujuinya. Pintar, ganteng, perlente dan perilakunya sangat manis. Semua itu memang ciri-ciri Bagus.
Semenjak kuliah memang aku jarang bertemu Bagus. Aku rindu tetapi tak pernah berusaha mencarinya. Biasanya hanya mengikati perkembangan informasinya melalui Ratih. Tetapi Ratih juga informasinya terbatas, karena kuliah di kota yang berbeda, dan Bagus jarang pulang ke rumah.
Fifian sepertiku, dia gadis yang selalu menjunjung tinggi nilai-nilai agama. Dia juga berjilbab dan suka mengikuti kegiatan keagamaan di kampus. Sampai suatu hari dia datang ke kamarku dan bertanya-tanya soal Bagus.
"Dia memang teman SMA-ku, emang kenapa Fi?"
"Aku heran dengan para mahasiswa yang sok aktifis seperti Bagus itu..."
"Emang kenapa?"
"Aku tak menyangka, dia berkata begitu?"
"Emang dia bilang apa?"
"Seusai rapat dia bilang pada aktifis cowok lain, dia mengajaknya ke lokalisasi, katanya dia lagi pengen ML..."
"Benarkah?"
"Iya aku mendengar sendiri..."
"Gila tuh Bagus," gumanku.
"Terus aku menanyakan beberapa aktifis cowok yang aku kenal, aku tanyakan apakah benar Bagus suka ke lokalisasi?"
"Katanya apa?"
"Iya, mereka sering ramai-ramai ke lokalisasi..."
Mendengar berita miring ini, aku sudah tak sekaget dulu. Aku tahu Bagus penganut seks bebas. Aku mencintainya bertahun-tahun, begitu dekat dengannya, tetapi Tuhan selalu menjagaku untuk tidak melangkah lebih jauh dengannya.
Sampai suatu hari, Bagus datang ke kosku. Kali ini dia sungguh berbeda. Terlihat begitu tampan dan dewasa. Dia tahu kosku dari Ratih. Lalu sengaja menemuiku untuk membuktikan kebenanran alamat itu.
Kami duduk di ruang tamu. Dia memuji kecantikanku dan kehalusan budiku. Dan untuk pertama kali dia memegang tanganku. Meskipun kemudian aku menarik dari genggaman itu.
"Shakila, kamu tahu nggak kalau aku sebetulnya sangat mencintamu?"
Sebuah kejutan yang tak kusangka-sangka. Aku menjadi gugup tidak karuan. Sebuah kata yang sudah bertahun-tahun aku tunggu, akhirnya muncul juga. Aku diam, tersenyum, hatiku gundah bukan buatan.
"I love you..." katanya lagi.
Aku tersenyum dan menunduk. hatiku penuh dilema. Bayangan wajah Sella, cerita-cerita Ratih dan juga cerita Fifian menghujam jiwaku. Sekarang Bagus di depanku, dengan untaian kata cinta, tetapi kenyataan itu, rasanya begitu pahit di hatiku.
Bagus terus menatapku, menunggu jawabanku.
"Aku juga mencintaimu, tetapi sayang, mungkin kita tak bisa bersatu," ujarku.
"Kenapa?"
Aku berfikir keras.
"Karena aku terlalu lama menunggumu," kataku berbohong.
"Aku tak punya keberanian, kamu begitu putih dan suci," katanya.
"Aku kenal Sella," ujarku.
Wajahnya berubah. Tidak berkata-kata.
"Gadis yang malang..." tambahku.
Bagus menunduk. Lalu diam lama. Aku juga diam. Menunggu reaksinya. Kemudian dia berdiri dan menunduk.
"Aku tahu, aku terlalu kotor untukmu," katanya sedih. Lalu dia berlalu tanpa pamit kepadaku.
Aku masuk kamar dan menangis tersedu-sedu. Sejak saat itu aku tak pernah bertemu dengannya lagi. Cinta pertamaku yang malang. (Tamat)
Seperti diceritakan oleh Shakila.

Monday, January 28, 2013

Aku Alim Dia Playboy (Dua)

FIRST LOVE
Hubunganku dengan Bagus terus berlanjut. Tak pernah ada kata cinta, tetapi bagiku dia adalah segalanya. Bila tak bertemu hati teramat rindu. Bila dia sekali saja tak terlihat di sekolah gelisah menyelubungi dadaku.
Nama Sella selalu mengawang di kepalaku, tetapi kucoba untuk membenamkannya. Tidak, Bagus mencintaiku, bukan Sella, begitu terus kata hatiku. Dia begitu menyenangkan dan pintar. Selalu tahu apapun yang membuatku senang. Suatu saat pasti dia akan menyatakan cinta, aku harus sabar saja.
Kadang ingin menanyakan soal Sella kepadanya, tetapi aku urungkan. Dia terlalu baik untuk dicurigai begitu. Alangkah bodohnya kalau aku sampai berburuk sangka kepadanya. Dia selalu manis, dan perhatian, tak mungkin kalau dia memiliki pacar bernama Sella itu.
Kebetulan sejak kecil aku suka badminton. Oleh ibuku aku dimasukkan ke sebuah club badminton. Aku badminton seminggu dua kali yaitu hari Rabu dan Jumat. Club itu berisikan anak-anak dan remaja dari seluruh penjuru kota. Aku tidak mengenal semuanya.
Entah mengapa suatu hari, sambil menunggu tutor, aku mengobrol dengan seorang gadis cantik. Gadis itu dari SMA Pertiwi bernama Sella. Entah itu suatu kebetulan atau memang tangan Tuhan sedang bekerja untukku aku tak tahu.
Tetapi aku bukan tipe gadis yang emosian. Aku tak tahu gadis cantik ini siapa. Mungkin saja dia yang sering bersama Bagus, mungkin saja bukan, aku tak tahu. Sejak perkenalan itu aku sering mengobrol dengannya. Sella seringkali terlihat murung. Memandangi foto yang ada di dalam dompetnya.
Karena ingin tahu, aku melirik dompet itu, namun foto itu tidak terlihat, karena Della segera menutupnya. Waktu Sella main dengan member lain, iseng aku membuka dompet itu. Dan di dalam dompet itu ada foto Sella bersama Bagus.
Jantungku seperti berhenti berdenyut, tetapi aku menahan diri supaya tidak emosi. Toh aku bukan siapa-siapanya Bagus. Bahkan fotonya pun aku tak punya.
Lalu aku pamitan kepada tutor bahwa aku sakit, kepalaku pusing dan sakit sekali. Aku diijinkan pulang duluan, dan sesampai di rumah aku masuk kamar dan menangis sejadi-jadinya. Berarti benar, Sella temanku di club itu adalah kekasih Bagus. Aku sedih sekali. Namun begitu aku tak menanyakan hal itu kepada Bagus.
Kami masih sering bersama mengerjakan PR. Kami masih berdua di kelas sambil bercerita. Tak ada yang berubah. Dan aku mencoba menegaskan pada diriku sendiri bahwa Bagus hanya ingin berteman denganku dan dia tak ingin menjadi kekasihku. Buktinya ada Sella di sisi hidupnya yang lain.
Hidup terus berjalan. Di club, aku juga masih bertemu Sella. Namun gadis itu telah berubah. Tubuhnya membesar dan sedikit gemuk. Aku tidak curiga sama sekali, sampai suatu hari aku menemuinya di toilet sedang menangis.
"Sella, kamu baik-baik saja?" tanyaku.
Dia terus saja menangis. Lalu dia memelukku dengan erat sambil terus tersedu-sedu. Aku membiarkannya menangis.
"Aku diputus secara sepihak sama pacarku," katanya.
Aku diam saja dan tetap memeluknya. Tangisnya terus menjadi-jadi. Aku berusaha menenangkannya.
"Bagaimana kalau orang tuaku tahu, mereka pasti sangat marah..."
"Patah hati adalah hal yang biasa, mereka pasti mengerti," kataku.
"Tapi aku hamil Shakila, dan Bagus tak mau bertanggungjawab, dia malah menghindariku terus," katanya.
Jantungku seperti berhenti berdetak. Kepalaku seperti berputar-putar. Aku peluk Sella rapat-rapat. Dan hatiku seperti mendidih. Orang yang begitu aku cintai ternyata moralnya bejad. Aku terus berusaha menenangkan diri agar tidak emosi.
Esoknya aku tak menemui Sella lagi di Club, kata pengurus, Sella pindah sekolah ke Jakarta. Aku menelan perasaan campur aduk, antara kasihan, dan sedih mengingat Sella. Selain itu hatiku juga sakit mengingat kelakuan Bagus yang begitu menjijikkan. (Bersambung)
Seperti diceritakan oleh Shakila.

Sunday, January 27, 2013

Aku Alim Dia Playboy (Satu)

FIRST LOVE
Aku dibesarkan dalam keluarga yang alim. Secara materi, hidup kami berlebih. Aku anak kedua yang sangat disayang oleh Ayah. Dan ayahku adalah seoarng alim ulama terkenal di wilayah itu. Tetapi kehidupan indah itu, tak seperti nasib cintaku.
Aku menyukai tipe laki-laki yang pintar. Dan di sekolahku waktu itu, sebuah SMP Negeri favorit di kotaku, adalah seorang siswa bernama Bagus. Seperti namanya, dia ganteng. Dan kelebihannya yang lain adalah pintar dan pandai bergaul.
Keberadaan Bagus di sekolahku itu, merupakan keindahan baru bagi hidupku. Menimbulkan semangat belajar yang luar biasa dan membuat hidupku menjadi berwarna. Itulah kali pertama aku jatuh cinta.
Aku gadis berkerudung yang tumbuh dalam suasana Islami. Saudara-saudaraku (semua perempuan) juga berkerudung. Kami pandai mengaji dan rajin mengerjakan shalat. Dan kami menjalani kehidupan sehari-hari dengan cara yang Islami.
Jatuh cinta adalah sesuatu yang alamiah, tetapi karena keluargaku penganut Islam kolot, aku hanya menyimpannya dalam hati. Aku juga mulai menyelidik, siapakah sebenarnya Bagus itu. Kebetulan sahabat sebangkuku Ratih, adalah tetangganya.
Bagus berasal dari keluarga biasa saja. Ayahnya karyawan swasta dan ibunya, ibu rumah tangga. Bagus anak bungsu, dan kakak-kakaknya tergolong pintar-pintar karena rata-rata kuliah di Universitas Negeri. Kata Ratih, kelaurga Bagus, keluarga Islam abangan.
Lalu bagaimana Bagus menanggapi perasaanku? Kupikir Bagus adalah pria yang menarik. Banyak yang jatuh cinta kepadanya. Dan dia tahu bila aku menyukainya. Ketika jam istirahat, Bagus sering duduk di sebelahku, terutama bila Ratih keluar kelas. Bagus mengajakku mengobrol apa saja, memuji tasku atau barang milikku lainnya. Dia begitu manis.
Syukurlah kalau kemudian kami diterima di SMA yang sama. Biarpun tidak satu kelas, Bagus rajin menemuiku di kelasku. Kami menjadi sangat akrab, dan aku benar-benar jatuh cinta kepadanya.
Semakin bertambah umur, Bagus semakin pandai memperlakukan aku. Saat pulang sekolah, dia membantu membawakan buku-buku yang berat, membuatkan aku PR, dan dia mau ke rumahku untuk mengajariku Matematika karena aku kurang bisa di mata pelajaran itu, lain-lain. Aku mencintainya, dan dia tahu hal itu, dia menghargai perasaanku dengan memperlakukanku sebagai ratu.
Dalam kebersamaan itu, seringkali aku merasa bahwa Bagus memiliki kekasih lain. Itu karena dia tak pernah membicarakan soal cinta kepadaku. Care but not about love. Biarpun Ratih tidak satu sekolah lagi denganku, kami masih saling kontak. Dan Ratih juga masih suka menginap di rumahku. Dia menanyakan hubunganku dengan Bagus, karena dia tahu kalau aku menyukai Bagus.
"Kami hanya bersahabat, dan dia care banget kepadaku," kataku. "Bagus dekat dengan Sella, SMA Pertiwi," kata Ratih.
Karena pernyataanku itulah kemudian Ratih menceritakan tentang seorang gadis cantik yang seringkali main ke rumah Bagus. Menurut Ratih gadis itu pasti menyukai Bagus. Mereka sering berboncengan keluar dari rumah itu. Dan api cemburu membara di kepalaku. (Bersambung)
Seperti diceritakan oleh Shakila

Thursday, January 24, 2013

Yang Tak Terungkap (Dua)

FIRST LOVE
Bertahun kemudian, aku menjalani hidupku di Jakarta. Menikah dan memiliki tiga orang anak. Tahun 2011 pada saat pulang ke rumah, kakakku bilang kepadaku: “Nit ada salam dari Irsan katanya kalau kamu pulang, dia minta dikabari.”
“Irsan...” ah, nama itu.
Semua kenangan terangkai kembali dibenakku. Begitu indah dan menyenangkan. Masa-masa kedekatan kami 20 th yang lalu. Aku pikir dia sudah tidak mengingatku lagi. Tetapi ternyata masih titip pesan lewat kakakku?
Dari kakak juga aku tahu kalau Irsan sudah menjadi pejabat yg berpengaruh di desaku. Dia juga sudah berkeluarga dengan 2 anak yang masih kecil-kecil. Karena memang Irsan belum lama menikah. Irsan juga memberikan nomor telepon genggamnya melalui kakakku.
Kebimbangan menggayutiku, ada rasa ragu untuk menghubungi dia. Dan kakakku menyarankan untuk menghubungi, sebab kakak takut dianggap tidak menyampaikan amanat. Akhirnya aku kirim SMS kepadanya.
“Hai, ini aku, Nita, kata kakak aku disuruh ngabarin kamu kalau pulang, apa kabarmu? “
Saat itu, SMS-ku tidak dibalas. Tetapi malam berikutnya, balasan itu datang, bukan cuma satu SMS tetapi berpuluh-puluh SMS. Dan setelah itu, Irsan juga menelpon lama.
Setelah hari itu, baru semuanya terungkap. Oh Tuhan, ternyata selama ini kami hanya buang-buang waktu percuma, selama ini ternyata dia menyimpan rasa yang sama. Irsan juga bercerita, bagaimana hancur hatinya saat aku meninggalnya pergi begitu saja. Bahkan narkoba menjadi pelarianya. Untuk menghilangkan rasa kecewanya, dia membuang diri ke Papua.
Dia bilang apadaku, tidak bisa mencintai wanita lain. Istrinya sekarang pun, dinikahinya karena perjodohan. Aku menyalahkan dia kenapa waktu itu tidak mengucapkan kata cinta, jadi ada kepastian yang bisa aku pegang.
“Waktu kita menyusuri jalan kereta api, aku mengungkapkan kata hatiku, kenapa tidak kau tanggapi?” katanya emosi.
“Benarkah?” tanyaku.
“Aku merasa kamu sudah menolakku, dan aku enggan mengatakannya lagi padamu,” ungkapnya.
Nasi sudah menjadi bubur. Kami sama-sama sudah terikat komitmen. Tak ada yang bisa disesali. Mungkin kami ditakdirkan untuk tidak bersama. CINTA MEMANG TAK HARUS MEMILIKI. (Habis0

Wednesday, January 23, 2013

Yang Tak Terungkap (Satu)

FIRST LOVE
Sebut saja namaku Nita, aku tinggal di sebuah desa terpencil yang nyaman. Desa yang dikelilingi hamparan sawah dan perkebunan karet. Dan cinta pertamaku ini aku rasakan saat aku duduk di Sekolah Menengah Pertama (SMP) di desa terpencilku.
Awalnya aku tidak tahu apa itu cinta, aku Cuma merasa senang saat dia, Irsan, teman sekelasku, berada di dekatku. Irsan adalah anak orang paling terpandang di desaku. Saat itu aku adalah murid perempuan paling galak dan Irsan adalah murid laki-laki paling bandel di kelasku. Tetapi justru itulah yang mendekatkan kami.
Semuanya berawal saat aku selesai mengepel kelas. Dan dia dengan seenaknya nyelonong ke kelas. Tanpa babibu, langsung saja aku tepuk kepalanya denngan tanganku. Dia kaget, dan terbengong. Aku bertolak pinggang di depannya, dan dia memandangku dengan rasa tidak percaya.
Sejak kejadian itu dia jadi sering mendekatiku, duduk sebangku ataupun dibangku lain yang tak jauh dariku. Sebetulnya dia dekat dengan cewek lain yang jauh lebih cantik dan jauh lebih sederajat dengan dia dibanding aku. Tetapi entah mengapa sejak kejadian itu dia sering meninggalkanya dan justru berlama-lama didekatku.
Kian hari kami kian akrab, sepulang sekolah kami jalan bersama melalui perkebunan karet. Mengerjakan tugas bersama dan kegiatan lain yang kian mendekatkan kami. Namun sejauh itu, Irsan belum pernah sekalipun mengatakan kata suka atau cinta. Aku hanya bisa melihat ada tatapan yang beda dimatanya. Hal itu berlanjut sampai kami lepas SMP dan bersekolah di SLTA yang berbeda.
Setelah duduk dibangku SLTA barulah aku tau apa itu cinta, ada rasa kangen bila tak ketemu, deg-degan saat dia menatap atau mengajakku bicara. Bayangannya tak pernah mau lepas dari pikiranku.
Aku dan Irsan masih tetap bersahabat dan tetap saling menyimpan rasa. Hampir setiap hari kami berada dalam satu bis yang sama yg mengantar kami sampai ke sekolah kami yang berlokasi di kota Salatiga. Aku bersekolah di sebuah SMA ternama, sedangkan dia di SMA yang lain.
Sekolah kami berbeda arah, tapi Irsan selalu menemaniku turun di halte depan sekolah terlebih dahulu baru putar balik ke sekolahnya, demikian juga pada jam-jam pulang sekolah.
Semakin hari cintaku semakin bersemi. Selama 3 tahun di SLTA kami sering habiskan waktu bersama. Menonton, jalan-jalan, makan dan lain-lain. Tetapi selama itu, belum sekali pun dia mengucapkan cinta. Aku yakin ada, pendar-pendar cinta dimatanya, semakin hari semakin menyala. Dan aku tak tau apa yang membuatnya tak mau mengungkapnya dan aku sebagai cewek hanya bisa menanti.
Setelah lulus SMA, Irsan melanjutkan kuliah di Jogjakarta, kata cinta tak juga terucap dari bibirnya. Tapi dia masih selalu menyempatkan main kerumah disaat pulang, dengan membawakan pernak pernik khas Jogjakarta.
Semua saudaraku menganggap kami pacaran. Ah, bukan pacaran jika tak ada kata cinta. Biarpun dari semua tindak tanduk dan perilakunya menunjukkan perhatian dan cintanya kepadaku.
Dan saat aku harus meninggalkan kampung halaman ke Jakarta (th 1991), kutinggalkan Irsan dan semua kenangan bersamanya. Aku pergi tanpa ada kata perpisahan. Sakitnya hati karena tak bisa melihat parasnya lagi, rindunya hati karena tak bisa mendengar kelakarnya lagi. Semua kenangan itu seakan tak mau lepas menemani har-hariku dirantau orang.
Sejak saat itu, aku tak tau lagi kabar tentangnya. Aku tahu, aku selalu menyimpan cinta dan rinduku untuknya sampai bertahun-tahun kemudian. (Bersambung)

Monday, January 14, 2013

Tak Ada Cinta, Hanya Seks (TIga)

FIRST LOVE
Well, biar aku ceritakan sekalian hidupku yang berlumuran dosa ini. Pasti pembaca bertanya, apakah aku ini tidak mengenal agama, sehingga menjalani kehidupan penuh dengan perzinahan.
Papaku seorang Madura, dan Mamaku orang Jakarta. Mereka bertemu di Jakarta dan menikah. Kedua orang tuaku juga sholat. Aku memiliki dua orang kakak perempuan yang cantik, dan aku sendiri seorang anak bungsu yang memiliki kelebihan dalam segi fisik dan kecerdasan.
Boleh dibilang aku lebih dekat dengan budeku (kakaknya Mama) daripada dengan Mamaku. Karena sejak kecil sering dititipkan pada Bude yang tidak bekerja atau ibu rumah tangga. Sedangkan Mamaku waktunya lebih banyak di luar rumah daripada di rumah.
Kalau mau jujur, aku tak terlalu mengenal Mamaku, aku tak memusuhinya, aku juga tak membencinya, tetapi aku seringkali merasa asing dengannya. Sedangkan Papaku, nyaris tak peduli dengan kami bertiga anak-anaknya, mungkin karena pekerjaannya sangat menyita waktu. Boleh dibilang anak-anaknya hidup sendiri-sendiri.
Kebutuhan materiku, nyaris selalu terpenuhi dan aku memiliki segalanya. Saat SMA pun aku sudah memiliki motor besar dambaan setiap remaja. Ketika kuliah, aku sudah memiliki mobil sport. Karena itu aku tak pernah kesulitan mencari pacar atau sekedar teman kencan. Oh ya, aku nggak pernah membeli lho ya, aku memacari dan tidur bersama para perempuan itu,
Tentu saja aku pandai merayu. Aku mengumbar hadiah buat mereka, aku betul-betul menyayangi mereka, karena mereka mau memberiku seks. Mengajak mereka berbelanja ke mall, nonton di bioskop mahal bahkan kadang aku ajak ke luar kota, terutama Bandung.
Aku melakukan hubungan seks bisa dimana saja, tetapi lebih sering kulakukan di rumah. Rumahku sering kosong karena Mama dan Papa sering tak di rumah. Setelah punya rumah sendiri, aku suka melakukannya di rumahku. Aku menyuap pembantuku agar tutup mulut soal perilakuku.
Aku menyukai perempuan yang manis dan lembut. Aku tidak suka perempuan yang tomboi atau yang bicaranya kasar. Kalau perempuan itu tidak berminat ngeseks denganku, aku tak membencinya, juga tidak memaksanya, aku tetap menjaga persahabatan dengannya. Aku menghargai pandangan hidupnya dan aku kadang-kadang tetap memberinya hadiah. Aku hanya mau berhubungan seks dengan perasaan suka sama suka, di kedua belah pihak saja.
Apalagi setelah aku bekerja dan tinggal di rumahku sendiri, aku lebih merasa bebas melakukan hubungan seks. Patner seksku lebih dewasa, karena biasanya mereka perempuan yang sudah bekerja. Aku tidak mau ngesek dengan perempuan yang sudah bersuami, karena resikonya terlalu besar. Aku tidak mau terganggu kesenanganku dengan ketahuan suaminya.
"Apakah dari sekian perempuan itu ada yang hamil?"
"Hahaha... pertanyaan yang bagus..."
Tidak ada karena aku selalu menggunakan pengaman. Kakak Miranda yang mengajariku memakai kondom. Bahkan dia yang pertama kali mengajariku memakai kondom. Itu lebih aman dari kehamilan dan juga aman untuk kesehatanku. Aku membeli kondom di supermarket secara acak, untuk rasa aman.
Jujur saja, aku sering dikejar-kejar dosa dan rasa bersalah. Terutama pada para perempuan yang tidak terima karena hubungan seks hanya untuk bersenang-senang. Ada juga yang minta aku nikahi, tetapi aku tidak mau, karena aku tidak merasa mencintainya.
Setelah ada salah satu perempuan yang ke rumah dan mengadu kepada Papa dan Mamaku, aku lebih hati-hati dalam memilih patner. Terutama mereka yang menuntut lebih dari sekedar just fun. Aku bersenang-senang, tetapi aku juga masih punya perasaan dan rasio. Itulah sebabnya aku bisa bertahan cukup lama dengan Tyfani, karena kami benar-benar melakukan seks hanya untuk hepi-hepi saja.
(Tamat)
Seperti diceritakan oleh Simon.

Saturday, January 12, 2013

Tak Ada Cinta, Hanya Seks (Dua)

FIRST LOVE
Kakak Miranda tahu-tahu sudah tidak ada di kos. Dunia rasanya seperti kiamat. Aku sudah tegantung kepadanya. Terutama untuk urusan seks. Tanpa dirinya rasanya aku tak sanggup untuk hidup.
Aku mencoba bertanya kepada beberapa penghuni kos. Tetapi jawabannya sama, tidak ada yang tahu kemana pindahnya Kak Miranda. Bodohnya, aku tak pernah tahu di Fakultas apa dia kuliah, jadi aku tak bisa mencarinya di kampus.
Waktu itu menjelang ujian. Jujur aku tidak bisa konsentrasi belajar. Aku membutuhkan seks. Tetapi patner seks-ku menghilang entah kemana. Aku memaki-maki keadaan. Menyalahkan situasi yang membuat Kak Miranda pergi.
Untungnya aku bisa lulus dengan nilai lumayan. Oh ya, aku memang sebetulnya pintar. Selama bersekolah, selalu saja mendapatkan nilai bagus. Di kelasku aku termasuk sepuluh besar. Kurang apa lagi, ganteng, tinggi, dan pintar.
Setelah SMA, baru aku menyadari kelebihan itu untuk memburu perempuan. Dan aku tidak sekedar memacari, aku juga menidurinya. Dan begitulah hidupku sampai aku kuliah, sudah berapa perempuan yang tidur denganku.
Semua perilaku ini juga diketahui Papa dan Mamaku. Itu karena seringkali ada gadis datang ke rumah mencariku. Sebagian mengaku pernah tidur denganku.
"Simon, apa yang kamu cari?" Mamaku bertanya.
"Aku belum menemukan cinta, Ma, aku ingin mencintai, tetapi kenapa tidak bisa?"
Sekarang aku sudah bekerja di sebuah perusahaan minyak multi nasional. Aku memiliki rumah di kawasan elit Bintaro, aku juga memiliki beberapa mobil sport yang mewah. Hidupku di kerubuti wanita cantik, tetapi seringkali aku merasakan hampa. Aku sebetulnya membutuhkan cinta.
Sebut saja Tyfani. Tyfani bukan pacarku. Dia seorang karyawati yang cantik dan menarik. Dia adalah patner seksku saat ini. Setiap pulang kerja, Tyfani sering mampir di rumahku, lalu kami mengobrol sampai malam. Buntutnya seks.
Tyfani sama sepertiku. Dia tidak memiliki pacar. Hanya berganti-ganti patner seks. Gadis itu pernah melakukan hubungan seks dengan 32 pria yang berbeda. Sedangkan aku, malah lebih.
Kami just fun aja. Kalau salah satu dari kami butuh seks, kami menelpon. Tanpa harus saling memiliki atau pun ikatan. Kami bersenang-senang dengan seks. Tidak ada cemburu meskipun dia memiliki calon suami yang ditunjuk oleh keluarganya. Tyfani juga berkata kalau dia suatu hari ingin menikah dan menghentikan seks bebas ini.
Sama seperti Tyfani, aku juga ingin berhenti. Mengakhiri semua ini. Apalagi, usiaku sudah menjelang 30. Aku pengen menikah dan punya anak. Jiwaku lelah. Aku ingin cinta, ingin merasakan indahnya cinta. Entah kapan Tuhan akan memberiku cinta. Aku ingin perempuan yang bisa menerimaku apa adanya, memberiku anak-anak yang lucu dan menjadi dermaga terakhir tempatku berlabuh...
Bersambung
Seperti diceritakan oleh Simon.

Thursday, January 10, 2013

Tak Ada Cinta, Hanya Seks (Satu)

FIRST LOVE
"Cinta pertama? Hahaha..."
Tak ada cinta dalam kehidupan gilaku. Bahkan mungkin aku tak pernah mengenal cinta sama sekali. Sebaliknya, aku hanya mengenal seks.
Hubungan seks-ku yang pertama, saat aku kelas 3 SMP. Aku melakukannya dengan rasa ingin tahu. Seorang mahasiswi yang mengajariku ngeseks. Dia bukan kekasihku, dia bukan sahabatku, hubungan kami just fun aja.
Kakak Miranda sangat cantik. Yang aku tahu, dia kuliah di sebuah perguruan tinggi. Dia kost di tempat Budeku. Aku sering main ke rumah Budeku, karena Mama memang jarang di rumah. Mama bekerja berangkat pagi dan pulang malam.
Sejak kecil, kalau Mama bekerja, aku di titipkan di rumah Budeku. Jadi, rumah itu sudah seperti rumahku sendiri. Apalagi Bude punya anak yang sebaya denganku, Rio, makin betahlah aku di sana.
Bude memiliki beberapa kamar kos di sebelah rumah utama. Kebetulan rumah Bude dekat dengan sebuah kampus universitas swasta yang terkenal mahal. Jadi kos-kosan Bude laris, selalu penuh dengan mahasiswi yang cantik-cantik.
Kak Miranda berbeda dengan mahasiswi lain yang kos di situ. Dia cantik, baik dan care. Aku sebagai remaja suka melihat kecantikannya. Keberadaannya di kos itu, membuatku bersemangat untuk main ke rumah Bude. Setiap pulang sekolah aku selalu mampir ke sana, sekedar untuk bisa melihat Kak Miranda.
"Apakah artinya aku sedang jatuh cinta?"
Setiap bertemu dengan Kak Miranda, hati terasa senang dan bahagia. Kak Miranda tampaknya juga tertarik kepadaku. Aku memang bongsor, wajahku tampan, kulitku putih. Biarpun baru kelas tiga SMP tetapi aku terlihat besar dan dewasa.
Setiap kali datang ke kos, yang pertama ku lihat adalah kamar Kak Miranda yang ada di pojok paling dekat dengan tembok membatas rumah Bude. Aku mengintip kamar itu, ingin tahu apakah Kak Miranda di rumah atau sedang keluar. Awalnya malu, tapi kalau tahu Kak Miranda ada di rumah, hati terasa tenang.
Sampai suatu hari, aku mampir ke rumah Bude sepulang sekolah. Kebetulan Kak Miranda duduk di depan kamarnya sambil membaca. Melihatku datang, Kak Miranda meletakkan bukunya dan memanggilku yang masih membuka sepatu di teras rumah Bude.
Aku malu-malu. Dan Kak Miranda memanggilku berulang-ulang. Akhirnya aku mendatanginya. Kos sepi, karena banyak mahasiswi yang sedang kuliah. Kak Miranda mengajakku ngobrol di depan kamarnya. Dia sangat pandai bercerita. lembut dan menyenangkan. Sesekali dia memegang tanganku yang membuat darahku berdesir.
"Simon mau minum, tapi Kakak hanya punya air putih?" katanya.
"Boleh, kebetulan haus banget nih, Kak..."
"Ayuk masuk, minumnya ada di dalam," ajaknya.
Lalu aku digandeng masuk kamar. Kamar itu sangat rapi. Semua asesorisnya cantik dan menarik. Oh, ternyata seperti ini toh kamar anak gadis yang cantik. Sangat menyenangkan untuk istirahat. Kami duduk di lantai yang dilapisi karpet warna pink. Kak Miranda mengulurkan gelas berisi air putih.
Aku menerimanya dengan senang hati. Ketika aku memberikan gelas kosongnya, Kak Miranda menarik tanganku. Kami menjadi bertatapan dengan sangat dekat. Wajah cantiknya menyususri wajahku dengan dengusan nafas yang memburu. lalu kami berciuman. Dengan dituntunnya, siang itu, aku melakukan aksi seks-ku yang pertama.
Setelah itu, kami menjadi dekat. Dan rutin melakukan hubungan seks di kamarnya bila kami inginkan. Kami tak pernah pacaran, kami nggak pernah nonton bioskop bersama. Tetapi aku merasa senang kalau dekat dengannya.
"Apakah itu yang disebut cinta pertama?"
Bersambung...
Seperti diceritakan oleh Simon.

Wednesday, December 26, 2012

Kakaknya Seorang Pembunuh

FIRST LOVE
Cinta pertamaku sekarat. Bukan karena aku dan Septi tak saling cinta, tetapi karena keluargaku menentang keras hubungan yang sudah kami jalin bertahun-tahun. Dan penyebabnya karena kakak Septi adalah seorang perampok dan pembunuh.
Kenalkan aku Agus, aku mengenal cinta pertama saat masih SD. Dan gadis yang kucintai itu adalah Septi. Dia teman sekolahku. Seorang gadis kecil yang halus tutur katanya. Selalu tersenyum meskipun sebetulnya pendiam. Septi selalu duduk sebangku denganku, karena kedekatan itulah membuat aku tahu semua watak aslinya dan aku jatuh cinta untuk pertama kalinya dalam hidupku.
Gadis itu selalu memperhatikan aku, seringkali membuatkan PR atau sekedar membantu mencatat pelajaran SD. Semua dilakukan dengan ketulusan hati dan kebaikan. Aku tahu pasti bagaimana isi kalbunya. Karena Septi juga seorang aktifis di masjid kampung.
Waktu terus berjalan. Aku kemudian sekolah di sebuah SMP ternama, dan Septi bersekolah di SMP yang berbeda. Ada perasaan sedih karena kami tak satu sekolah lagi, tetapi aku rajin mengontaknya, dan menemuinya seusai pulang sekolah.
Kabarnya keluargaku sudah tahu kisah cintaku ini, dan mereka diam saja karena memang Septi adalah gadis yang baik di kampungku. Semua berjalan mulus dan tiada penghalang yang berarti karena hati kami saling setia.
Septi memiliki dua orang kakak laki-laki. Dua-duanya adalah anak yang nakal di kampung kami. Sukanya bikin kisruh, mengganggu orang dan semua orang di kampung membencinya.
Kakaknya yang sulung sebut saja Johan adalah tukang mabuk dan suka berjudi. Dia ketua preman kampung. Sedangkan kakak keduanya Dodot adalah seorang pencuri. Kakak keduanya ini sudah sering keluar masuk penjara karena mencuri.
Saat aku SMP itu, Dodot ditangkap polisi karena merampok sebuah toko di kelurahan lain. Selain merampok, Dodot juga membunuh pemilik toko. Dodot adalah rampok tunggal, dia tidak merampok dalam suatu kawanan, semua orang mengakui nyali jahatnya yang kuat ini.
Setelah diproses secara hukum, akhirnya Dodot dijebloskan ke penjara. Laki-laki itu terbukti membunuh dan merampok toko itu. Seluruh desa gempar. Dan Dodot mendapat julukan baru sebagai seorang pembunuh.
Peristiwa itu berimbas kepada nasib cintaku. Keluargaku langsung menentang hubunganku dengan Septi. Aku tahu Septi gadis yang baik, seluruh desa juga tahu dia gadis yang berhati mulia. Tetapi kelakuan kakaknya membuat namanya ikut tercemar.
Yang paling menentang hubungan kami adalah Kakakku. Dia mengklaim Septi memiliki hubungan darah dengan orang yang tidak baik. Aku mengiyakan saja, tetapi sebetulnya aku dan Septi masih backstreet. Sampai aku kuliah di luar kota, aku juga tetap menghubunginya.
Namun akhirnya keluargaku tahu juga. Setiap hari aku dinasehati untuk segera memutus hubunganku dengan Septi. Kalau kami tidak putus, orangtua dan keluargaku akan mengusirku dari rumah.
Entah darimana, tentangan keluargaku ini diketahui oleh Septi. Pelan-pelan dia menjauhiku. Dia menutup semua kontak dengan aku. Dia pindah ke luar kota dan kata saudaranya sudah bekerja di sana. Lewat saudaranya dia berkata tak ingin melanjutkan hubungan dengan aku lagi.
Aku pun lunglai. Sebetulnya aku ingin mengajaknya kawin lari. Dan aku ingin meyakinkan bahwa kondisi keluarganya bukan masalah bagiku. Tetapi Septi sudah berubah. Beberapa tahun kemudian dia menikah. Dan aku patah hati untuk pertama kalinya.
Jakarta, 27 Desenmber 2012

Tuesday, December 25, 2012

Cinta Pertamaku, Kakak Iparku

FIRST LOVE
Aku adalah seorang berandalan kampung. Dan aku mulai jatuh cinta saat usiaku sekitar 15 tahun. Gadis yang aku cintai itu, adalah seorang kembang desa, anak dari keluarga kaya yang memiliki sebuah perkebunan tembakau.
Lin sangat cantik. Wajahnya imut, tubuhnya semampai dan berkulit putih. Aku sangat menyukainya. Bukan hanya karena keadaan fisiknya, tetapi hatinya juga baik, penyayang, lembut dan penuh kasih.
Kecantikannya yang terkenal di seluruh penjuru kecamatan itu, membuat dia menjadi idola para pemuda. Bahkan Fredy, seorang anak direktur pabrik gula juga tergila-gila kepadanya. Aku merasa sainganku berat-berat.
Namun cinta tak lari ke mana, Lin menunjukkan tanda-tanda menyukaiku. Dari tatapan matanya, dari gerak tubuhnya, selalu mengisyaratkan bahwa dia bahagia bila berdekatan denganku. Kebetulan saat SD dan SMP kami selalu satu sekolah, jadi aku selalu bisa memantau keadaan dirinya.
Yang paling aku benci, adalah saat Fredy yang juga satu SMP denganku mengapelinya. Fredy selalu membawa mobil dan memberinya oleh-pleh banyak sekali. Kalau laki-laki itu mengunjungi Lin, aku dan gank-ku akan menggangunya, misalnya menggembosi ban mobilnya, atau mengotori kaca mobil dengan lumpur.
Ketika SMA, aku sudah tidak satu sekolah lagi dengan Lin. Tetapi aku dan gank-ku masih sering mengapelinya. Lama-lama aku lebih berani, tanpa mengajak teman-teman, aku mengapelinya sendiri. Lin lebih terlihat dewasa. Dan seringkali curhat tentang masalah-masalahnya kepadaku.
Malam yang berkesan itu akhirnya datang juga. Di teras rumah Lin sepi. Gerimis membasahi bumi. Aku mendekatkan diriku pada Lin, dan aku genggam tangannya. Dan kemudian aku mencium pipinya dengan lembut, Lin pun tak menolak kecupan itu.
PISAH KOTA
Aku diterima di sebuah universitas yang jauh dari desaku. Lin juga kuliah di kota yang berbeda. Sejak saat itulah komunikasi hanya lewat surat, kadang-kadang menelpon kalau ada uang lebih.
Kami tidak pernah berkata cinta, tetapi saling dekat. Tidak ada kata jadian, tetapi jiwa seakan menyatu. Kesibukan kuliah menyita waktuku. Jarak yang jauh dan keterbatasan biaya membuat aku dan Lin jarang melakukan kontak lagi. Aku mendengar kabar Lin hanya dari cerita adikku yang masih tinggal di desa.
Selepas kuliah, Lin kembali ke desa karena dia hanya kuliah D3. Lin mengajar di sebuah SMP di salah satu kecamatan yang tak jauh dari desa kami. Lin masih sendiri dan masih menjadi idola pemuda-pemuda sekitarnya. Tetapi selalu menolak lamaran mereka.
Sementara aku, setelah lulus kuliah segera berangkat ke Jakarta dan mendapatkan pekerjaan di kota metropolitan itu. Kami lost kontak. Aku jarang pulang, ke desa karena kesibukanku bekerja, dan hanya sesekali menanyakan kabarnya lewat adikku saja.
Sampai suatu hari, adikku berkata bahwa Lin akan menikah dengan Koko. Dan Koko itu tak lain adalah kakakku sendiri. Aku kaget, tetapi adikku berkata, bahwa mereka telah dijodohkan oleh ayahku dan ayahnya Lin.
Waktu itu, Kakakku adalah lurah, di salah satu desa di kecamatan. Dan Lin yang sudah menjadi guru SMP favorit menerima saja semua tawaran orang tuanya, untuk menikah dengan Koko. Apalagi Kakakku adalah seorang pemuda sukses yang alim.
Adikku menghiburku agar sabar. Aku menyuruh adikku untuk menayakan pada Lin, kenapa meninggalakan aku dan memilih Koko. Kata Lin, karena aku tak pernah memberikan kepastian. Dan hidupku masih tak menentu. Karena aku pegawai swasta, dan Koko lebih mapan karena dia lurah, dan pegawai negeri.
Mereka menikah, dan aku tidak pulang untuk menghadiri pernikahan mereka. Ada perasaan kehilangan, karena aku masih mencintainya. Dia adalah cinta pertamaku, dia sekarang menjadi kakak iparku...
Jakarta, 26 Desember 2012

Thursday, December 20, 2012

Selalu Ada Perempuan Lain

FIRST LOVE
Memang benar kata orang, cinta pertama adalah cinta yang tak akan pernah terlupakan. Cinta pertama selalu murni, polos dan apa adanya. Begitu juga cinta yang ingin aku ungkapkan di sini. Cinta pertamaku benar-benar gila. Bahkan aku sanggup bertahan untuk bersetia selama 20 tahun.
Saat masih kecil aku adalah seorang gadis yang tomboi. Kesukaanku adalah berenang dan bersepeda. Aku tidak pandai berdandan ataupun berhias diri. Dan semua sahabatku tahu, bahwa aku memang polos, bahkan sampai aku remaja.
Ketika SMP, semua teman wanita sudah pandai merawat diri, tetapi tidak dengan aku, kulitku hitam karena kebanyakan berenang, rambut panjang se pinggang tetapi tak terurus dan jangan tanya tingkahku, seperti anak laki-laki, lari-larian, suka bercanda dan seringkali berkelahi juga.
Namun saat itu, hormon remajaku bekerja normal. Saat kelas satu SMP aku juga tertarik pada seorang anak laki-laki. Namanya Hans. Dia beda kelas denganku, anak salah satu guru SMPku, dan sepertinya dia juga tertarik kepadaku.
Hari-hari menjadi indah. Aku sangat bersemangat sekolah, karena ada dia, si Hans. Hans sering main ke rumahku. Kami menjadi akrab, dan dia memintaku merahasiakan bahwa dia sering ke rumahku, pada siapapun. Aku menyanggupinya. Nggak masalah.
Saat itu aku memiliki sahabat karib bernama Juwita. Aku dan Juwita sangat dekat, sudah seperti saudara. Juwita sering curhat kepadaku, bahkan aku sering diajaknya tidur di rumahnya, dan kami bercerita sampai pagi.
Suatu hari Juwita bercerita bahwa Hans naksir dia. Hans sangat ingin menjadi kekasihnya. Juwita bilang dia masih pikir-pikir, sebab dia belum boleh pacaran sama ibunya. Aku menahan getir karena cerita ini, ada rasa cemburu, namun kupendam saja.
Selain Juwita aku juga bersahabat dengan Dessy. Kami sangat dekat. Dan di kemudian hari, saat aku kuliah, aku baru tahu bahwa Hans jalan sama dia. Mungkin Hans tak pernah tahu kalau aku sangat dekat dengan dua perempuan itu, dan dia masih rajin mengapeli aku sampai aku kuliah.
Setelah SMA, aku pisah sekolah dengan Hans. Dan Hans satu sekolah dengan Juwita. Aku tahu dari ibu Juwita, bahwa Hans sering datang ke rumah. Sesekali aku main ke rumah Juwita, dan dia juga selalu antusias bercerita tentang Hans.
Hans menyatakan cinta kepadaku. Tetapi aku tidak pernah menanggapinya, karena aku tahu ada perempuan lain disisi hatinya. Sesungguhnya aku sangat mencintainya. Dia adalah cinta pertamaku.
Dan palu godam seakan menghancurkan hatiku ketika suatu hari saat aku kuliah main ke kost Dessy. Ada foto Hans di meja belajarnya. Lalu berceritakah Dessy bahwa dia sudah jadian dengan Hans sejak kuliah.
Namun begitu, Hans tetap rajin mengunjungiku ke kota tempat aku kuliah. Dan kami juga surat-suratan terus. Sampai akhirnya aku lulus kuliah dan mendapatkan pekerjaan di Jakarta, aku masih menjalin hubungan dekat tanpa status dengan Hans.
Kebetulan Hans kerja di Singapura. Dalam surat-suratnya sering menceritakan tentang seorang perempuan yang masih keturunan. Bila bertemu pun dia juga begitu, selalu menceritakan tentang Kristin, cewek bule itu. Dadaku sesak, tetapi aku berusaha tenang.
Sampai suatu hari, aku berbicara dengan seorang ustad yang kebetulan dekat denganku. Aku ceritakan semua kisah cinta ini. Ustad itu menyarankan aku untuk segera meminta kepastian, apalagi usiaku sudah mendekati 30 tahun.
Kebetulan Hans habis mengirimkan e-mail bahwa dia sedang mudik untuk beberapa minggu. Malam itu juga aku minta ijin cuti dan pulang ke kampung halamanku. Aku mengontak Hans dan mengabarkan bahwa aku juga lagi mudik.
Malam berikutnya aku bertemu dengannya di ruang tamuku. Alangkah rindunya. Dan Hans juga terlihat antusias menemuiku. Namun sebenarnya hari itu, adalah ibarat kiamat bagiku.
"Akhir tahun ini, aku akan menikahi Kristin," katanya.
"Oh ya?"
"Iya, kami akan menikah di Singapura," tuturnya.
Dan Hans menceritakan semua rencananya secara detil. Sampai aku terbengong-bengong seperti hilang setengah nyawaku. Esoknya aku langsung balik ke Jakarta. Selama di kereta aku merokok dan menangis terus. Dan aku bersumpah, akan menikah dengan siapapun yang pertama kali melamarku.
***
Sepuluh tahun kemudian, aku bertemu kembali dengan Hans, dalam sebuah perjalanan kereta api. Aku sudah menikah dan memiliki seorang anak. Demikian juga Hans. Hans menyatakan bahwa aku adalah cintanya yang pertama.
"Tetapi kenapa selalu ada perempuan lain?"
"Karena kamu nggak pernah memberikan kepastian..."
"Saat pertemuan kita terakhir, sebetulnya aku ingin minta kepastian hubungan kita..." kataku kemudian.
"Kenapa kamu tidak bilang?"
"Karena kamu terus menerus cerita tentang rencana pernikahanmu..."
"Oh My God..."
"Besoknya aku kembali ke Jakarta, aku merokok dan menangis di sepanjang perjalanan dengan kereta..."
Hans menatapku dengan wajah pucat.
Hans mengajak aku kembali. Tetapi aku tidak mau. Aku sudah mulai mencintai suamiku. Dan aku juga sudah memiliki anak. Hans marah, sejak saat itu dia menutup semua kontak dan tak pernah mau membalas bila aku mengontaknya sekedar untuk menanyakan kabar.
Kuakui semua salahku, aku ingat sebuah nasehat: Kalau kau mencintai seseorang, katakan dengan jelas kau mencintainya, atau cinta hanya akan lapuk dimakan ketakpastian.
Seperti diceritakan oleh Donna
Jakarta, 21 Desember 2012