Friday, October 8, 2010

Pusara

CERPEN

Seorang perempuan cacat berjalan sendirian. Langkahnya timpang, melawan angin pegunungan yang dingin. Tertatih dia melangkah melalui jalan yang berbatu, setapak itu, menuju sebuah pusara.
Kakinya yang tidak normal, karena salah satunya telah diamputasi, membuat langkahnya bergoyang tak beraturan. Sejak dia keluar rumah, tidak ada satupun orang yang menyapanya. Langit bungkam dan pepohonan berdiam bisu. Tetapi Maryam tetap melangkah.
Batu-batu kali yang di tata di sepanjang jalan itu mempersulit langkahnya saja. Tanah merah yang basah, membuat kaki kayunya lengket dan membentuk gedibal besar di ujungnya. Kemudian langkahnya terhenti di sebuah pusara yang masih baru. Gundukan tanah merah dengan bunga-bunga diatasnya yang mulai mengering.
Maryam berhenti, dengan berpegangan tongkat kruknya, dia berusaha untuk bersimpuh di atas tanah basah itu. Peluhnya berjatuhan di sekujur tubuhnya yang kurus.
Dia memandangi gundukan tanah itu. Bunga mawar merah dan putih menjadi kecoklatan, karena sudah dua hari yang lalu mengantar kepergian Daliman, kekasih jiwanya. Kepergian itu membuatnya terpukul, namun ia tak mampu berbuat apa-apa.
Ketika tanah warisan keluarganya diklaim menjadi tanah bengkok desa, maka seluruh hartanya habis. Daliman yang merupakan kerabat terdekat keluarganya berusaha mati-matian membela Maryam pewaris tunggal kekayaan keluarga itu.
“Dasar kepala desa keparat, mereka telah merampas hakmu, Maryam,” kata Daliman suatu hari.
Kata-kata itu, adalah kata-kata terindah yang pernah dia dengarkan selama ini. Kecacatan telah menjadikannya sebagai orang yang hina dina dan selalu menjadi bahan ejekan di desanya.
”Maryam si pincang, Maryam si kaki buntung…” begitu anak-anak desa selalu meneriakinya bila dia berjalan di jalanan desa.
“Maafkan Maryam, Kang, baru sekarang bisa datang ke kuburanmu, ” begitu bisiknya pada gundukan tanah itu.
Gundukan itu hanya membisu, Maryam menangis sesengukan, menyesali nasibnya. Setelah kepergian Daliman, tentu saja dia semakin tidak berharga di desa itu, perempuan pincang tanpa masa depan, tanpa harta benda, dan tanpa orang yang dia kasihi dengan sepenuh hatinya.
Bahkan ketika Daliman meninggal pun, Maryam tak berani keluar rumah dan melayat di rumahnya. Tidak mengikuti iring-iringan warga desa menuju pekuburan dan melihat mayat itu masuk ke liang lahat.
Sunyi di pekuburan itu membuat hatinya semakin teriris. Hembusan angin menerpa dedaunan kamboja, menebarkan aroma bunga-bunganya yang wangi semerbak, namun wangi itu tak menghibur hatinya. Rerumputan ilalang bergesekan membisikkan suara gemeringsing, yang indah, namun berisik di telinganya.
Daliman laki-laki kurus dengan wajah persegi itu, satu-satunya yang dia miliki di dalam hatinya. Bukan hanya karena dia membelanya ketika tanahnya di ambil pihak desa, tetapi karena Daliman juga memahami keadaannya. Setidaknya tidak pernah mengolok-olok kakinya yang cacat.
“Mengapa begitu cepat kau tinggalkan aku kang Daliman. Sekarang, siapa lagi yang akan membelaku kalau ada yang menyakitiku,” bisik Maryam pada pusara yang teronggok bisu itu.
Hatinya benar-benar hancur. Luluh lantak tak tersisa lagi. Kematian yang begitu mendadak itu. Penyakit yang menggerogoti Daliman itu, adalah racun mematikan yang membuatnya terpekur bisu.
Yang paling menyedihkan hatinya, Daliman pergi, saat hubungan mereka dalam kondisi kurang baik. Itu juga karena orang-orang desa selalu mengolok-oloknya sebagai kekasih Daliman.
“Si pincang pacarnya Daliman,” Si pincang pacarnya Daliman,” begitu orang-orang desa menyebutnya.
Ejekan itu rupanya berpengaruh terhadap Daliman. Daliman jadi enggan menemuinya lagi, meskipun dia sudah menyiapkan makanan istimewa di rumahnya. Daliman marah dan mengira Maryam sudah menyebarkan berita bahwa dirinya adalah kekasih Daliman.
“Tidak Kang, aku tidak pernah lakukan hal itu, percayalah,” kata Maryam suatu hari.
“Aku hanya berusaha menolongmu, tetapi lihat apa yang kamu lakukan padaku,” kata laki-laki itu.
Maryam diam saja. Hanya berkata dalam hati, bahwa dia mengagumi Daliman, karena keteguhannya membela semua masalah yang menyandung dirinya. Tidak ada perasaan yang mengatakan itu cinta.
Mungkin Daliman telah salah persepsi terhadap semua perhatiannya selama ini. Hidupnya terlalu berharga, ketika bersama Daliman. Laki-laki itu sudah menjadi malaikat tempatnya bersandar. Menjadi semangat ketika hatinya telah hancur. Maryam menyayangi Daliman dengan semua kekuarangan dan kelebihannya.
Ia terkenang indahnya saat-saat menikmati singkong rebus di beranda, sambil membicarakan kepala desa yang jahat, yang telah merebut tanahnya. Atau saat-saat berdua di dapur sambil membicarakan para kiai di kampong yang sudah melacurkan ayat-ayat kitab sucinya. Dan kadang mereka berdua sekedar membicarakan kehidupan seputar desa yang mulai membangun pasar dan kios-kios dengan sesuka hati sambil mengambil alih tanah dari warga yang lemah seperti dirinya.
Mencintainya ? Mencintai laki-laki yang begitu sempurna di matanya itu? Maryam pernah mempertanyakan hal itu pada dirinya. Daliman pasti mengira dia telah terjerembab dalam lubang bernama cinta itu. Tetapi apakah pantas seorang perempuan pincang mencintai laki-laki yang sempurna seperti dia. Apa kata orang-orang desa. Bahkan dekat dengan Daliman saja membuat mereka berburuk sangka.
"Orang cacat, tidak punya malu, ngaca dulu, sebelum mendekati seorang laki-laki," begitu orang desa berbisi-bisik soal hubungannya dengan Daliman.
Sejak awal dekat dengan Daliman. Maryam sudah tahu bahwa dirinya tidak pantas untuk laki-laki itu. Banyak perempuan sempurna di desanya yang lebih pantas dengan Daliman. Baginya berteman dan menjadi sahabat dekat Daliman sudah lebih dari cukup. Membuat hatinya bahagia dan membangkitkan semangat juangnya untuk tetap bertahan dengan aniaya yang bertubi-tubi menimpanya.
Tetapi Maryam belum pernah menjelaskan itu pada Daliman. Belum pernah mengatakan perasaan yang sesungguhnya bahwa, meskipun dia menyayangi laki-laki itu, tetapi dia tak pernah berharap akan bisa menikah dengannya. Alam semesta pasti akan menertawainya, ketika berharap bisa menikah dengan laki-laki itu. Sesuatu yang sangat tidak mungkin. Salah paham itu yang masih mengganjalnya, sampai akhirnya Daliman pergi meninggalkan dunia untuk selamanya.
Tangan kanan Maryam mengusap pusara itu dengan gemetar. Bunga-bunga kering itu disingkirkannya dari puncak gundukan itu. Air matanya bercucuran.
“Kang Daliman, Kang Daliman…” tangisnya.
Gundukan itu hanya diam membisu.
“Sungguh sulit membedakan arti cinta dan kasih sayang. Dan kita tak pernah mampu memahaminya hingga kau meninggalkan dunia ini,” kata Maryam.
“Apakah akal sehat akang, sudah hilang, dan berubah menjadi emosi yang membuat akang begitu marah kepadaku.”
“Coba akang pikirkan baik-baik dan rasakan dengan hati yang jernih, apakah pantas orang yang cacat semacam aku ini mencintai akang. Memang aku menyayangi akang, aku memperhatikan akang, tetapi itu semua sebagai rasa terima kasihku kepada akang yang selalu membelaku menempuh kelunya perjalanan hidupku.”
“Aku sadar sepenuhnya bahwa persahabatan kita tidak akan berlanjut pada tahapan itu. Tidak akang, aku tak sanggup memikirkan sejauh itu. Masih banyak perempuan baik, yang tidak cacat seperti ku di desa yang lebih pantas untukmu. Menjadi temanmu saja sudah cukup bagiku, kang,” keluhnya.
Tetapi tiba-tiba dari belakangnya muncul seseorang yang dengan kasar membentak Maryam. Perempuan itu tergagap dan meraih tongkatnya. Tergopoh dia berdiri. Kaki buntungnya diangkat dengan perlahan untuk berdiri.
“He, pincang, apa yang kamu lakukan di sini?” bentak laki-laki itu.
“Oh, diam-diam menemui kekasihmu ya, dia itu sudah modar, perempuan jalang,” kata laki-laki itu lagi.
Maryam membalikkan tubuhnya. Sekilas dipandanginya pusara itu. Air matanya bercucuran, membasahi pipinya. Dengan susah payah dia berjalan meninggalkan pekuburan itu, dengan kesedihan yang mendalam, melengkapi semua penderitaan hidupnya.

Jakarta, 9 Oktober 2010

No comments:

Post a Comment