Tuesday, March 15, 2011

Kupu-Kupu Gaza

Aku bosan, Kak. Aku lelah!"



"Tidak! Jangan sekalipun kau bicara  begitu, adikku"



"Tapi aku benar-benar lelah. Tidakkah kau lihat  anak-anak itu bermain? Mereka ceria sekali. Sangat bahagia. Tak ada yang  mengancam senyum mereka. Aku ingin seperti mereka kak. Tenang, tertawa,  bersama kakak, umi, juga abi. Tak bisakah?"



"Bisa. Tentu bisa.  Tp belum saatnya. Alloh, Tuhanmu, Tuhan kita, meminta kita untuk sedikit  bersabar. Ada bahagia abadi. Lebih indah dari semua yang ada di bumi".



"Tapi,  di mana saudara kita yang lain? Kata umi, saudara kita banyak. Mereka  tersebar di seluruh dunia. Kenapa mereka tak datang membantu kita?"



"Mereka  ada. Mereka membantu kita. Ada yang datang bergabung dalam barisan, ada  yang membantu dengan harta untuk membeli obat-obatan, makanan,  dukungan, ada doa dan air mata yang tak pernah berhenti mengalir. Untuk  kita. Tidakkah kau merasakannya?"



"Ya, Kak. Semoga... Aku senang  mereka peduli pd kita, saudaranya".



"InsyaAlloh..."



........



"Kak,  tidurku kacau. Kulihat negeri ini tenggelam ke samudera. Merah. Darah.  Lalu kulihat tubuh kita terbang seperti kupu-kupu. Kakak yang berwarna  merah muda, dan aku biru tua. Kita mengitari taman yg luas dan indah.  Sangat indah! Belum pernah kulihat tempat seindah itu sebelumnya".



"InsyaAlloh,  kita akan ke sana. Sekarang, kau jangan banyak bicara. Luka di kepalamu  cukup parah. Biar kakak obati dulu. Kau, lanjutkanlah bermimpi".



"Kak,  aku ingin berganti dunia. Sebentar saja. Dunia rekaan imaji. Di mana  bahasa burung, kupu-kupu, kunang-kunang, bisa dimengerti dengan rekah  bunga bermekaran tanpa harus cemas diremas. Bebas..."



"Kupu-kupu?  Lalu di mana akan kau nikmati kebebasan itu? Di ranting pepohonan yang  habis terbakar orasi-orasi api bom dan rudal? Di atas puing-puing kota  yang pucat? Di bawah bayang-bayang deru tank dan pesawat? Atau di depan  mulut senapan yang tak pernah mengerti bahasa burung, bahasa kupu-kupu,  bahasa kebebasan, bahasa kita?... Adikku, kita tak punya pilihan, selain  tetap berjuang sampai syahid menjelang. Itulah sebenar-benar  kebebasan."





Tiba-tiba, dari delapan penjuru mata angin,  suara-suara ledakan berdentuman. Ledakan bom. Ledakan kata-kata dari  mulut api. Ledakan asap yang menggantung menjadi awan di langit saga.  Ledakan semburat warna merah. Ledakan anyir darah yang menggenangi  lembaran-lembaran duka. Dan di antara berbagai ledakan yang merenggut  kesenyapan, ribuan kupu-kupu, burung, dan gemetar jutaan kunang-kunang  berhamburan menerobos cakrawala yang pekat. Mereka tampak bingung,  gelisah kehilangan bayangan. Kupu-kupu itu terus terbang. Dari  kelepaknya yang kaku tampak rasa gelisah menyirami raut wajahnya. Mereka  gemetaran belingsatan di tengah-tengah asap yang menyesaki kerongkongan  di sela-sela ribuan lembar sayap burung, kupu-kupu yang buram dengan  warna merah basah. Tak ada yang mengerti bahasanya. Bahasa burung.  Bahasa kupu-kupu. Bahasa kebebasan.



"Kepalaku pusing, Kak".



"Tahan  sayang, kau harus kuat!"



BRAKKK!!! Tiba-tiba, enam serdadu  muncul dari balik reruntuhan bangunan. Mereka menodongkan senjata ke  wajah anak lelaki dan menarik paksa kakak perempuannya.



"Lepaskan!  Lepaskan kakakku! Pengecut! Lawan aku!"



"Hahahahaha.. Dasar  bocah cilik! Urus saja lukamu!"



BUGH!! Sebuah hantaman mendarat  di pipi mungilnya.



"Alloh..."



"Hentikan! Jangan sakiti  adikku! Biadab!"



"Hahahaha.. Gadis manis. Mari kita  bersenang-senang".



"Tidak! Alloh... Astaghfirulloh... La'natulloh  'alaykum!"



"Kakak..."





Hitam.

Gelap.

Pekat.

Senyap.

Tak  ada suara.



Pelan-pelan,

setitik  cahaya bersinar di kejauhan.

Mendekat.

Mendekat.

Kian  membesar.

Semakin terang.

Ribuan kupu-kupu beterbangan,

berhamburan,

berlarian,

mengitari tatanan bunga-bunga di taman.



by: akhwat zone

No comments:

Post a Comment