Sunday, April 1, 2012

Skuter Cinta

CERPEN
Skuter matic ini mudah dikendarai. Tangan kiri pegang rem, tangan kanan mengendalikan gasnya. Untuk perempuan yang tidak bisa mengendarai motor manual yang rumit, ini adalah kemudahan.
"Aku takut," kataku pada Mama, waktu hadiahi motor matic itu di hari ulang tahunku yang ke tujuh belas.
"Lihat sayang, mudah sekali dikendarai," kata Mama.
"Aku nggak bisa, takut,," kataku lagi.
"Kalau bisa naik sepeda, pasti juga bisa naik sepeda motor" kata Mama.
Lalu dengan tekun Mama mengajariku naik skuter matic itu. Keringat dingin mengucur, menemani panikku.
Dua minggu kemudian aku sudah lancar naik skutet itu. Kemana pun aku pergi aku tak bisa lepas dari skuter merah jambu itu.
Pagi itu angin meniup lembut. Sepi merayap di ruang angkasa. Matahari masih malu-malu menghangatkan bumi, tetapi aku sudah berangkat ke kampus. Dingin membius.
Aku mainkan gas skuterku dengan pelan. Meluncur di jalan pedesaan yang sepi. Namun di depan sekolahan, tiba-tiba ada seorang anak kecil menyebarang.
Aku kaget. Spontan aku rem, tetapi karena gugup, justru tangan kananku ngegas tanpa sengaja. Ya Tuhan, skuterku oleng, seperti meloncat tanpa bisa aku kendalikan. Akupun terjatuh di aspal. Skuter itu ambruk dan menindih kaki kiriku. Aduuuh... Aku tak bisa bergerak.Orang-orang kampung berdatangan untuk menolong.
Seorang laki-laki muda mengangkat tubuhku ke kursi di depan rumah seorang warga. Kaki kiriku sakit sekali, seperti tak bisa digerakkan. Perih sekali. Laki-laki muda itu memeriksa kakiku.
"Berdarah," katanya
"Sakiiit," ujarku menahan perih.
Ada memar hitam di pahaku, lecet-lecet di sekitarnya dan berdarah.
"Dimana rumahmu ?"
"Di Jalan Pembangunan," kataku.
"Skutermu, nggak papa, hanya bengkok spionnya saja, ayo aku antar ke rumah," kata laki-laki itu.
"Nggak usah aku bisa sendiri," ujarku dengan ketus, lalu aku mencoba bangkit.
Tetapi kaki kiriku tak mampu digerakkan, rasanya sangat nyeri dan ngilu. Akhirnya aku rebahkan lagi tubuhku di kursi itu.
"Coba aku periksa," kata laki-laki yang tadi mengangkatku.
"Hei, nggak perlu, aku nggak apa-apa," kataku.
Dia pun mundur. Aku menahan sakit yang teramat sangat. Dan kemudian, laki-laki itu memaksaku dengan cara menggendongku. Aku meronta tak mau.
"Tak usah meronta, malu sama orang," katanya.
Akhirnya aku menurut aja.
"Aduuuh... Sakiiit..." teriakku, saat dia mendudukkan aku di jok belakang skuterku.
"Sakit ya," tanyanya.
"Luar biasa, perih," tahanku.
"Tahan ya," katanya.
"Rasanya seperti mau lepas, kakak," kataku.
"Firdaus..."
"Baik, Firdaus..." ujarku.
"Kita ke dokter, neng," katanya.
"Anya..."
"Anya..."
"Ya, Anya..." kataku.
Dia naik di depan dan mulai menyalakan mesin. Kami pun menyusuri jalanan yang berliku. Ku tahan rasa sakit di kaki kiriku. Aku pegangi punggung Firdaus yang menjalankan skuterku perlahan.
"Habis ini, di cek ke bengkel ya, skuternya" katanya.
"Baik," jawabku.
Firdaus mengantarku ke dokter. Setelah dirawat luka itu, dia mengantarku pulang. Sampai di rumah, dengan wajah pucat cemas Mama menyambutku. Sekali lagi, Firdaus mengangkatku dan mendudukkanku di sofa di ruang tengah. Mama memeriksa lukaku.
"Sekarang pulanglah Firdaus, aku nggak butuh bantuanmu lagi," kataku.
"Anya, kok begitu, berterima kasihlah," kata Mama.
"Aku tak memintanya menolongku," kataku.
"Anya..." pekik Mama.
"Baik Mama, Firdaus pulang dulu," kata Firdaus.
"Biar Mama buatkan teh," kata Mama.
"Makasih, Ma, saya harus kuliah jam sebelas, nanti terlambat," kata Firdaus.
"Baiklah, terima kasih sudah menolong, jangan pedulikam kata-katanya ya," kata Mama pada laki-laki itu, aku membuang muka.
Setelah dia pergi, Mama memarahiku. Kenapa aku bersikap tak sopan kepada lelaki yang sudah menolongku. Aku bilang, dia hanya mencari kesempatan saja. Coba kalau yang jatuh nenek-nenek tua, apakah dia juga akan menolongnya dengan begitu antusias.
***
Setelah peristiwa itu, aku nggak mau lagi naik motor. Luka di kaki kiriku juga belum sembuh, karena tertindih skuter yang berat. Aku pun belum bisa jalan dengan sempurna.
"Aku nggak mau lagi naik motor," kataku.
"Yang penting kamu sembuh dulu, sayang," ujar Mama.
Hari berganti, seminggu sudah aku rasakan sakit yang teramat sangat di kakiku. Terrkadang aku ingat Firdaus. Dimanakah dia sekarang berada. Namun segera aku tepis pertanyaan itu.
"Ah, hanya laki-laki yang mencari kesempatan dalam kesempitan," kataku dalam hati.
Kadang seharian aku menghabiskan waktu di depan televisi. Atau menulis dengan lap topku di beranda depan. Pagi itu, burung-burung bernyanyi riang. Suasana lembut menyentuh dengan kabut tipis temaram.
"Selamat pagi," sebuah suara menyapaku.
Aku kaget. Tetapi laki-laki itu sudah ada di depanku. Duduk bersimpuh di kakiku. Aku pun geram. Berusaha menarik kaki kiriku yang aku selonjorkan di bangku.
"Apa yang, akan kau lakukkan," tanyaku.
Tetapi kaki kiriku terasa begitu berat untuk digerakkan. Dia maju lalu memegang kakiku dengan tangannya. Menyibakkan celana panjangku. Karena cengkeramannya aku nggak sanggup menghindar.
"Hei.... sakiiiiit...." kataku.
Dia tak menjawab. Tangannya menyusuri otot kakiku yang sebagian lebam menghitam. Dengan sedikit menekan dia terus mengurut. Akhirnya aku diam, menahan sakit dan berpegangan pada ujung kursi.
"Tahan yaa.... ini agak sakit," katanya.
Dia mengurut lagi. Sakit luar biasa, tetapi setelah itu, kakiku terasa lebih ringan. Lututnya yang tadinya tidak bisa ditekuk, kini sudah bisa ditekuk.
"Apa yang kau lakukan, " tanyaku.
"Kakimu terkilir, aku membetulkan otot-ototnya," ujarnya.
"Apa kau bisa, kau pasti mengarang," serangku.
"Aku tukang urut di kampus, di grup Pecinta Alam," katanya.
"Kenapa tak kau lakukan saat aku jatuh kemarin," tanyaku.
"Kau masih marah-marah, dan kakimu masih bengkak," ujarnya.
Mama datang sedikit berlari. Mungkin karena mendengar keributan di sini.
"Ada apa, Anya ?" tanya Mama.
"Firdaus, mengurut kakiku," kataku.
"Memangnya bisa," tanya Mama.
"Pernah belajar mengurut, saat jadi tim medis di grup Pecinta Alam kampus, Mama," ujar Firdaus.
"Oh, gitu," guman, Mama.
"Iya..." kata Firdaus.
"Kakimu, gimana sayang," tanya Mama padaku.
"Ajaib, lututnya sudah bisa nekuk, Ma," kataku.
"Syukurlah," kata Mama.
"Banyak digerakkan ya, jangan dimanjakan saja, saya akan datang minggu depan, untuk pengurutan selanjutnya," kata Firdaus, lalu dia berjalan meninggalkanku.
Seminggu ?
Ternyata itu adalah seminggu yang sangat lama buat aku. Aku menunggu Firdaus di teras depan setiap hari. Atau sekedar berharap melihatnya lewat. Tetapi dia tak pernah lewat. Baru seminggu kemudian dia benar-benar datang untuk mengurut kakiku. Setelah selesai aku berharap dia berkata, akan datang dua atau tiga hari lagi. Seminggu, bagiku terlalu lama. Tetapi saat akan pulang dia tetap berkata, akan datang seminggu lagi.
Oh, kenapa aku jadi mengharapkan kedatangannya. Kenapa aku jadi merindukannya. Kenapa aku merasakan sehari begitu panjang tanpa dirinya. Apakah aku sedang jatuh cinta. Dan aku pun terpaksa melaluinya dengan penuh debaran rindu.
Ah, dia kan bukan siapa-siapaku. Dia hanya mencoba membantuku sembuh. Tetapi bulan saksinya, aku telah jatuh cinta.
Jakarta, 19 September 2011

No comments:

Post a Comment