Sunday, October 13, 2013

Beliau Sisir Rambutku

GURUKU TERSAYANG
Kenalkan namaku Chichi, aku adalah seorang karyawati bank ternama di Jakarta. Namun aku tak ingin bercerita tentang bank dan pekerjaanku. Aku ingin bercerita tentang kenangan indah di masa lalu, kenangan ketika aku masih kecil, kenangan yang tak akan pernah aku lupakan.
Kata orang, bumi memang sempit. Ungkapan itu benar adanya, saat aku bertemu Dik Winda. Dia adalah perempuan cantik yang sangat pintar. Saat itu aku sedang berbelanja di sebuah supermarket di Jakarata. Aku menyapa perempuan itu karena memang wajahnya tak pernah berubah semenjak dia masih kecil.
Dik Winda tersenyum dan kami bersalaman, terus cipika cipiki. Biarpun sudah sangat lama tak bertemu namun pertemuan itu hangat dan akrab, karena dia memang adik kelasku waktu masih Sekolah Dasar. Selain karena pribadinya yang baik, aku menyukai Dik Winda karena dia adalah puteri dari salah satu guru SDku.
"Mbak Chi, apa kabar?" sapanya ramah.
"Baik, Dik, udah lama di Jakarta?"
"Udahlah, Mbak, sepuluh tahunan lebih," jawabnya.
"Gimana kabarnya Ibu?"
"Baik."
"Sudah pensiun?"
"Sudah Mbak Chi, ayo main ke rumah..."
"Insya Allah kalau nanti pas mudik..."
"Ibu pasti senang," kata Dik Winda dengan mata berbinar.
Bu Hartini, ibunya Dik Winda, adalah seorang guru yang galak. Disiplin dan tegas. Semua murid takut kepadanya. Namun dia menjadi berbeda bila bersikap kepadaku. Selama diajar beliau, tidak pernah sekali pun marah kepadaku. Bahkan seringkali aku disuruh-suruh untuk membantu ini itu, seperti membawakan tas, membawa buku PR murid-murid ke kantor guru, dan lain-lain. Intinya dia sangat sayang kepadaku.
Itu tak mengherankan karena aku memang murid terpandai di kelas. Aku cantik dan memiliki kulit putih bersih, tidak seperti murid lain yang rata-rata anak kampung. Selain dan aku juga gadis yang pendiam, rajin dan selalu juara satu selama sekolah di SD itu.
Suatu pagi aku bangun kesiangan. Aku mandi dan dengan buru-buru berangkat ke sekolah. Sesampai di sekolah aku masuk kelas dan duduk diam, bel masuk sebentar lagi. Tetapi kemudian aku dipanggil Bu Hartini ke kantor. Aku deg-degan bukan kepalang. Dengan menunduk aku berdiri di sebelah meja guru galak itu, dan siap menerima hukuman apa saja.
Namun ternyata beliau menyentuhku dengan lembut. Lalu menyuruhku duduk di kursi sebelahnya dan membalikan badanku membelakanginya. Rasa takut yang amat sangat menyerang, sudah ingin menangis saja. Beliau kemudian menyentuh rambutku yang panjang sepunggung.
"Sebelum berangkat ke sekolah sisir rambutmu dengan rapi," kata Beliau.
Kepalaku seperti disiram air es, rasa takut itu perlahan menghilang. Rupanya aku lupa menyisir rambut saat berangkat sekolah tadi. Perempuan itu pun mulai menyisir rambutku perlahan. Perasaan entah, menyelubungi seluruh isi perasaanku, sehingga aku gugup saat beliau tanya-tanya dan mengajakku mengobrol. Bu Hartini mengikat rambutku dengan karet.
Bel berbunyi, rambutku sudah rapi. Bu guru yang sangat kucintai itu menyuruhku masuk kelas. Dia juga menyuruhku membawa setumpukan buku paket yang akan dipelajari hari itu. Dengan langkah ringan aku menuju kelasku. Itulah kenangan terindah bersama beliau yang tak pernah aku lupakan.
"Ini alamatku di Jakarta, nanti kalau Ibu ke Jakarta Mbak Chi mampir saja," kata Dik Winda.
"Iya, iya, boleh juga...."
Sebelum berpisah, aku memeluk Dik Winda erat-erat.
Jakarta, 14 Oktober 2013

No comments:

Post a Comment