Thursday, June 20, 2013

Allah dan Kekasih-Nya

Kita sebagai muslim tentu memiliki rasa cinta kepada Allah di dalam hati kita. Siapapun yang mengucapkan kalimat syahadat berarti memiliki kecintaan kepada Allah, inilah buktinya. Meskipun begitu, cinta kita terasa kurang. Kita kekurangan intensitas rasa cinta itu.

Contohnya: Di rumah, kalian memiliki air panas untuk berwudhu dan untuk menyeduh teh. Kedua air itu adalah air panas, tapi air untuk berwudhu tidak terlalu panas jika dibandingkan dengan air untuk menyeduh teh yang mendidih.

Untuk orang kebanyakan, temperatur cintanya dapat disamakan dengan hangatnya air untuk berwudhu. Tapi untuk seorang kekasih Allah, temperatur cintanya dapat disamakan dengan air yang mendidih. Cinta mereka kepada Allah membuat hati mereka mendidih, membuat hati mereka teramat rindu untuk bertemu dengan Kekasih mereka. Mereka baru merasa puas dengan menyembah Allah.

Orang-orang zaman sekarang harus dirayu dengan keutamaan dan pahala shalat sunnah agar mereka mau menunaikannya. Misalnya “jika kau melakukan shalat Isyrak, maka kau akan mendapatkan pahala haji dan umrah.”

Tapi bagi mereka yang merupakan kekasih Allah, mereka tidak perlu diberitahu tentang keutamaannya terlebih dahulu, mereka langsung melakukannya untuk mengekspresikan rasa cinta mereka kepada Allah.

Setelah mereka berwudhu, seseorang mungkin bertanya “kau habis shalat apa?” Tahiyatul Wudhu. Ketika mereka memasuki masjid, seseorang mungkin bertanya “sekarang kau shalat apa?” Tahiyatul Masjid. Kemudian dia shalat lagi, “oke apa yang kau lakukan sekarang?” Aku melakukan shalat Isyrak, Awwabin, Tahajjud, dan lain-lain. Jadi hanya dengan melakukan shalat fardhu 5 waktu, hati seorang kekasih Allah tidak merasa puas. Mereka melakukan nawaafil sebagai jalan untuk berkomunikasi dengan Allah. Allahu Akbar Kabirau!

Seperti yang diriwayatkan di dalam Tathkiratul Auliya’, ketika ada seseorang yang menyebut nama Allah di hadapan Shibli R.A., maka dia akan mengambil sebuah kue dari dalam sakunya dan memberikannya kepada orang itu. Siapapun yang menyebut nama Allah, maka dia akan memberikannya sebuah kue. Seseorang pernah bertanya kepadanya “Syekh, kenapa kau melakukannya?” Dia menjawab “Mulut yang mengucapkan nama Kekasihku, bagaimana mungkin aku tidak memaniskan mulut itu?”

Berapa banyak cinta yang mereka miliki? Setelah mendengar seseorang yang menyebut nama Sang Kekasih, maka mereka akan memaniskannya sebagai ucapan terima kasih.

Allah memberikan wahyu kepada Daud A.S. “Wahai Daud, dzikir kepada-Ku diperuntukkan bagi mereka yang mengingat-Ku. Surga-Ku diperuntukkan untuk mereka yang menyembah-Ku. Persetujuanku diperuntukkan bagi mereka yang rindu akannya. Dan Aku hanya untuk kekasih-kekasih-Ku.”

Seorang penyair pernah berkata:

Wahai Kekasihku, Demi Allah, tidaklah matahari terbit dan tenggelam bahwa di dalam pikiranku tidak ada yang lain selain diri-Mu.

Andai saja Allah memberikan kita kemampuan ini, maka kita akan menjalani hidup kita dengan penuh cinta dan pengabdian. Semoga Allah memberikan kita nikmat ini.



Ayo Subscribe ke YouTube Channel Lampu Islam: youtube.com/arceuszeldfer
Ayo Like Facebook Page-nya: Lampu Islam

No comments:

Post a Comment