Sunday, January 27, 2013

Aku Alim Dia Playboy (Satu)

FIRST LOVE
Aku dibesarkan dalam keluarga yang alim. Secara materi, hidup kami berlebih. Aku anak kedua yang sangat disayang oleh Ayah. Dan ayahku adalah seoarng alim ulama terkenal di wilayah itu. Tetapi kehidupan indah itu, tak seperti nasib cintaku.
Aku menyukai tipe laki-laki yang pintar. Dan di sekolahku waktu itu, sebuah SMP Negeri favorit di kotaku, adalah seorang siswa bernama Bagus. Seperti namanya, dia ganteng. Dan kelebihannya yang lain adalah pintar dan pandai bergaul.
Keberadaan Bagus di sekolahku itu, merupakan keindahan baru bagi hidupku. Menimbulkan semangat belajar yang luar biasa dan membuat hidupku menjadi berwarna. Itulah kali pertama aku jatuh cinta.
Aku gadis berkerudung yang tumbuh dalam suasana Islami. Saudara-saudaraku (semua perempuan) juga berkerudung. Kami pandai mengaji dan rajin mengerjakan shalat. Dan kami menjalani kehidupan sehari-hari dengan cara yang Islami.
Jatuh cinta adalah sesuatu yang alamiah, tetapi karena keluargaku penganut Islam kolot, aku hanya menyimpannya dalam hati. Aku juga mulai menyelidik, siapakah sebenarnya Bagus itu. Kebetulan sahabat sebangkuku Ratih, adalah tetangganya.
Bagus berasal dari keluarga biasa saja. Ayahnya karyawan swasta dan ibunya, ibu rumah tangga. Bagus anak bungsu, dan kakak-kakaknya tergolong pintar-pintar karena rata-rata kuliah di Universitas Negeri. Kata Ratih, kelaurga Bagus, keluarga Islam abangan.
Lalu bagaimana Bagus menanggapi perasaanku? Kupikir Bagus adalah pria yang menarik. Banyak yang jatuh cinta kepadanya. Dan dia tahu bila aku menyukainya. Ketika jam istirahat, Bagus sering duduk di sebelahku, terutama bila Ratih keluar kelas. Bagus mengajakku mengobrol apa saja, memuji tasku atau barang milikku lainnya. Dia begitu manis.
Syukurlah kalau kemudian kami diterima di SMA yang sama. Biarpun tidak satu kelas, Bagus rajin menemuiku di kelasku. Kami menjadi sangat akrab, dan aku benar-benar jatuh cinta kepadanya.
Semakin bertambah umur, Bagus semakin pandai memperlakukan aku. Saat pulang sekolah, dia membantu membawakan buku-buku yang berat, membuatkan aku PR, dan dia mau ke rumahku untuk mengajariku Matematika karena aku kurang bisa di mata pelajaran itu, lain-lain. Aku mencintainya, dan dia tahu hal itu, dia menghargai perasaanku dengan memperlakukanku sebagai ratu.
Dalam kebersamaan itu, seringkali aku merasa bahwa Bagus memiliki kekasih lain. Itu karena dia tak pernah membicarakan soal cinta kepadaku. Care but not about love. Biarpun Ratih tidak satu sekolah lagi denganku, kami masih saling kontak. Dan Ratih juga masih suka menginap di rumahku. Dia menanyakan hubunganku dengan Bagus, karena dia tahu kalau aku menyukai Bagus.
"Kami hanya bersahabat, dan dia care banget kepadaku," kataku. "Bagus dekat dengan Sella, SMA Pertiwi," kata Ratih.
Karena pernyataanku itulah kemudian Ratih menceritakan tentang seorang gadis cantik yang seringkali main ke rumah Bagus. Menurut Ratih gadis itu pasti menyukai Bagus. Mereka sering berboncengan keluar dari rumah itu. Dan api cemburu membara di kepalaku. (Bersambung)
Seperti diceritakan oleh Shakila

No comments:

Post a Comment