Saturday, March 23, 2013

Bagir Adinoto



Bagir Adinoto namanya. Pertemuan pertama  sudah berhasil menarik hatiku, makin kenal akupun makin terpikat. Bagir Adinoto, siswa pertama yang aku temui dihari pertama ku bergabung dengan Sekolah Alam Indonesia. Bagir datang satu jam sebelum kelas mulai, alhasil dia selalu datang paling awal dibanding teman-temannya. Jika ada reward semacam Panasonic Award, aku yakin Bagir pasti akan meraih kategori siswa in time.

Bagir Adinoto namanya. Bayi empat tahun dengan perawakan tubuh gempal, kulit putih dengan pipi tembam yang kemerah-merahan, alis tebal dan bulu mata yang lentik membuat ku makin betah menatap dirinya, kadang aku tak tahan untuk tidak mencubit pipi lucunya, menggelitiki perutnya atau mendekap erat tubuhnya. Ku yakin orang-orangpun akan berpendapat dan melakukan hal yang sama dengan ku.  Oh, Bagir…. Kamu lucu banget sih.

Bagir Adinoto namanya. Anak rajin yang selalu bangun paling awal dibanding dengan kedua kakaknya, bahkan terkadang Bagir lah yang membangunkan mama dan ayahnya untuk sholat subuh. Bagir juga yang membantu sang mama membuat teh hangat dan sarapan untuk ayah dan kedua kakaknya. Tak jarang Bagir juga sering membantu pekerja rumahnya untuk menyapu dan mengepel lantai. Hemm…. Hebat ya, aku sampe terpana ketika Bagir menceritakan hal ini padaku. Walau anak bungsu dan berasal dari kelurga berada, Bagir bukanlah anak manja, malah menurutku Bagir sangat mandiri jika dilihat dari usia dan kondisi keluarganya. Subhanalloh…. Bagir sudah ajari aku ilmu kehidupan.

Bagir Adinoto namanya. Celotehannya yang riang dan penuh semangat membuat ku semakin akrab dengannya. Terkadang Bagir suka bercerita tentang hobi renang, kaos kaki dan baju baru yang dibeli mama, hamster teman mas yang dimakan kucing, skuter sebagai hadiah ulang tahunn ke-4 atau hal lain yang selalu diceritakannya dengan mata berbinar dan ekspresi menggemaskan, belum lagi gerak tubuh yang mengekspresikan cerita-cerita serunya membuat Bagir makin lucu dan menyenangkan.

Bagir Adinoto namanya. Bocah cerdas nan polos. Bagir cepat menagkap pelajaran-pelajaran yang diberikan dan tak jarang Bagir membantu temannya untuk mengerjakan, mempraktekkan atau mengajarkan pelajaran yang mereka terima. Bukan hanya untuk pelajaran di sekolah yang dikuasai Bagir, Bagir juga tahu membedakan yang mana bebek jantan dan betina. Sebelum KBM dimulai, setiap jenjang di sekolah kami punya piket memberi makan bebek-bebek yang kami pelihara, dan  pagi ini jadwal kelas ku (kebetulan saat itu hanya aku dan Bagir)yang memberi makan bebek-bebek itu.
Aku     : “wah… bebek-bebeknya makin besar ya, sepertinya yang paling besar itu bebek jantan deh.” Ucap ku sambil menunjuk bebek yang paling besar
Bagir   : “bebek jantan itu paruhnya warna merah bu Rima, kalau bebek betina paruhnya yang lebih kehitaman.”  Jawab Bagir yakin
Aku     : “kok Bagir tahu, siapa yang kasih tahu Gir?” Tanya ku heran
Bagir   : “iya, Bagir waktu itu dikasih tau om Oboy” ucapnya polos
Bukan hanya itu, bagir juga tau bagaimana cara agar bebek-bebek peliharaan kami tidak bisa terbang. “ekornya digunting bu Rima, biar bebek-bebeknya ga pada terbang” ucap Bagir suatu hari. Bagir juga terampil membuat beraneka ragam bentuk tanah liat menjadi kerajinan yang bagus dan bernilai seni. Wawasan baru lagi-lagi dihadiahi Bagir untuk ku.
Bagir belajar meronce

Bagir Adinoto namanya. seorang bocah yang peduli dan senang punya banyak teman. Suatu hari saat jam free play dimana Bagir dan teman-temannya bermain di ply grounddan saat itu matahari bersinar terik. Aktivitas permainan yang melelahkan membuat mereka haus (atau paling tidak, Bagir yang merasakan haus), sambil berjalan Bagir berkata, “botol minumnya lupa dibawa”. Seketika itu pula Bagir menuju kelas dan membawakan botol minum milik semua teman-temannya ke play ground dengan bersusah payah. Saat aku akan membantu sambil memujinya, Bagir berkata “Bagir haus bu, mau minum.  Sekalian aja Bagir bawain botol minumannya biar pada bisa minum” Subhanalloh…. Bagir, lagi-lagi kau ajarkan ilmu kehidupan padaku.

Bagir Adinoto namanya. bocah yang sudah mengerti (dengan pemikiran sederhananya) bahwa meminta itu hanya pada Alloh lewat doa-doa yang dipanjatkan. Suatu ketika aku bercerita tentang seorang pengembala yang senang berbohong hingga kebohongannya terbongkar dan ia dijauhi teman-temannya. Setelah selesai aku menjelaskan tentang hikmah cerita itu dan memberikan beberapa pertanyaan, salah satunya pertanyaan mengenai siapakah yang ingin punya banyak teman. Siswa-siswa mengangkat jari-jarinya. Pandanganku tertuju pada Bagir  yang tertunduk dan seakan sedang bergumam lirih dan diakhiri dengan mengusapkan tangan ke mukanya. Tiba-tiba Bagir berkata pada temannya Najma (bagir memanggilnya Dema = aDE najMA): “makanya Dem, kita berdoa sama Alloh supaya teman kita di sekolah bertambah, supaya kita punya banyak teman”. Subhanalloh…lagi-lagi Bagir mengingatkan bahwa meminta itu hanya pada Alloh lewat doa-doa. Bagai sabda Sang Nabi yang mengajarkan untuk memulai sesuatu dari diri sendiri kemudian mengajak orang terdekat. Bagirpun melakukan itu, ia memulai berdoa terlebih dahulu, baru kemudian mengajak Najma untuk berdoa meminta bertambahnya teman di sekolah. 

Bagir Adinoto namanya. Berdekatan dengannya (juga dengan siswa-siswa ku yang lain), membuatku menemukan ilmu-ilmu kehidupan yang natural dan tulus.  Ku yakin cerita ini tidak akan terhenti sampai di sini. Pasti akan banyak kisah menarik nan kaya akan ilmu dan hikmah yang akan ku temu bersama Bagir dan teman-temannya. Yah… mereka guru-guru kecil yang mengajarkan dengan tulus dan tanpa tendensi apa-apa. Maha Suci Engkau duhai Rabbi, maka Segala Puja dan Puji yang tersembahkan hanya pada-MU yang telah mengizinkanku tergabung dalam Sekolah Alam Indoneia (SAI) dan menganugrahiku Bagir beserta teman-temanya. Pekan ini, 5 pekan sudah aku bergabung dengan SAI, tapi begitu banyak hikmah dan pelajaran yang telah ku terima, izinkan aku untuk terus menjaga niat hanya karena-MU duhai Rabbi, agar aku terus bisa mengambil hikmah dari setiap pelajaran yang ku dapat dan agar aku selalu bisa memperbaiki kontribusiku di jalan ini. aamiin
                                                  

No comments:

Post a Comment