Thursday, September 13, 2012

dimanakah mereka


Pagi ini kulihat langsung keadilan hukum memihak pada kaum marginal. bukan hanya tindakan hukum yang segera diproses tapi juga bonus lain berupa amuk masa yang "menghadiahi" tubuh babak belur dan darah mengucur bebas. belum lagi sanksi sosial berupa pengucilan, celaan, hinaan atau paling tidak tatapan sinis dari khalayak sekitar. 

Masya Alloh... hukum benar-benar adil pada rakyat kecil. hanya karena kebutuhan perut yang sangat tak tertahankan dan tangisan kekurangan yang menyanyat hati, seorang lelaki tak kuasa berfikir panjang atas "hadiah" yang kelak ia terima dari keputusannya. dengan kalut dan terpaksa sejumlah sembako di toko sebrang ia ambil.
" yang penting keluargaku bisa makan paling tidak untuk hari ini. yang penting tangis anak-anak yang memilukan itu bisa reda, walau hanya sesaat"
sederhana saja fikirannya, namun tak sesedrhana hasil yang ia raih. perut yang kenyang dan tangisan yang reda tak kunjung datang., mungkin semakin melilit dan menyanyat hati.

owh...keadilan hukum yang bak pisau dapur . tajam ke bawah dan tumpul ke atas. atas nama keadilan dan hukum yang berlaku, setiap kejahatan dan kriminal harus mendapatkan sanksi dan ganjaran yang tegas meski hanya mencuri sepiring nasi, walau hanya mengambil rontokan bukah kapuk, meski hanya memunguti serpishan beras yang tercecer demi mengenyangkan perut sementara, yupz...hanya kenyang sementara, selanjutnya??? menahan lapar pun menjadi rutinitas harian. alasan kebutuhan yang mendesak tak dapat diterima!!

ironis, kaum the have yang kebal hukum mencuri uang rakyat dengan santainya demi kemewahan, prictice atau bahkan hanya karena takut dianggap sok suci bisa bernafas bebas tanpa rasa takut, melanglang buana menikmati keindahan dunia yang melenakan. dengan vaksin yang memberikannya imun hukum, sebuah kamuflase diciptakan, sebuah kebohongan publik dibuat, sebuah rekayasa dirancang dan dramapun siap dimainkan.

bak pesakitan  para maling berdasi itu duduk di kursi 'tersangka' (walau dah ada bukti, tetap aja masih tersangka, kalo rakyat kecil bukti jelas cacat hukum dan rekayasa tapi statusnya dah terdakwa, hebat nya dunia) dan seperti orang yang terdzolimi mereka meringkuk di dalam jeruji besi bintang 5 dengan kemewahan dan service yang menyenangkan bahkan tiket hiburan hingga pleserin ke luar negeripun bisa didapat.

yupz.. hukum memang adil, keadilan  bukanlah sama rasa, sama porsi dan sama jenis. keadilan yang menempatkan sesuatu sesuai "posisinya". keadilan bagi rakyat kecil adalah ganjaran secepatnya agar efek jera tertanam dan sebagai contoh real tindakan tercela bagi masyarakat. sedangkan keadilan bagi para pembesar sesuai posisinya sebagai petinggi, tentu aja ceritanya lain. 

rindu sangat dengan sang pemimpin ummat yang berjanji memotong tangan para pencuri, walaupun itu adalah anak kandung sendiri. itulah Rosul Mulia, Muhammad sallhu'alaihi wassalam

rindu sangat dengan sosok sang singa padang pasir. di tengah malam nan sunyi dengan sembunyi-sembunyi ia berjalan mengecek rakyatnya, sudah kenyangkah perut2 rakyatku atau bahkan sedang berjuang menahan lapar tak tertahankan. punggung yang menghitam jadi saksi panggulan berkarung gandum demi mengenyangkan rakyat tercinta. adakah copy-an Umar Bin Khatab??

rindu sangat dengan anak penjual susu yang jujur dan akhirnya menjadi pemimpin. lampu ia matikan, pakaian "dinas" ia tukar ketika urusan pribadi sedang bersamanya. ia lebih suka menerima tamu pribadi dalam keadaan gelap daripada harus memakai listrik yang dibiayai oleh uang rakyat. tersediakah duplikatan Umar Bin Abdul Aziz

rindu sangat dengan pemimpin murah hati nan pemalu yang membeli sumur milik yahudi agar semua umat dapat menggunakan air dan tidak mati kehausan.masih adakah sosok Utsman bin Affan?

rindu sangat dengan pemimpin yang menyerahkan semua harta yang dimiliknya demi ummat dan agamanya, sedangkan keluarganya "cukuplah Alloh dan rosulnya bagi kami" dengan santai dan penuh keyakinan ia berucap. ada ga ya kembaran Abu Bakr siddiq di zaman ini?

rindu sangat dengan si pengembala ternak yang tak tergoda dibayar seekor gembalaannya dan tak akan ketahuan dengan pemiliknya karena jumlah gembalaan yang sangat banyak. " walau majikanku ga liat, tapi Alloh kan liat, aku takut" tanpa beban jawaban itu meluncur dari mulutnya.

rindu sangat dengan pria soleh nan tampan yang tak tergoda rayuan sicantik jelita karena rasa takut pada Tuhannya lebih besar dan penjarapun lebih dipilihnya. hemh...Yusuf alaihissalam, adakah penerusmu??

Rindu sangat Panglima yang memporak porandakan pasukan Muslimin di Perang Uhud. Lalu Allah akhirnya menghendakinya menjadi bagian dari kaum Muslimin. Kemarin ia adalah orang yang sangat membenci Muhammad serta membenci agama yang dibawanya, namun hari ini ia adalah orang yang sangat mencinta Muhammad saw dan agama barunya yakni Islam. Dialah yang menghancurkan pasukan Musailamah Al-Kadzab seorang Nabi palsu yang mengaku Nabi setelah wafatnya Rasulullah saw. Dia pula yang menyelamatkan kaum Muslimin dari kepungan orang-orang kafir saat Perang Mu’tah. Dia juga yang menghancurkan pasukan Persia. Dia pulalah yang menghancurkan 240 ribu pasukan Romawi saat perang Yarmuk. Dia adalah orang yang mukhlish dimana disaat namanya kian menjulang di kawasan jazirah arab karena kemenangan yang selalu ia raih, ia dengan ikhlas dan penuh ta’zim saat harus diturunkan jabatannya dari panglima besar hanya menjadi prajurit biasa. Dialah sang Pedang Alloh, Khalid bin Walid

Rindu sangat dengan sosok walikota di daerah Madain. Ia adalah walikota yang sederhana, yang tak memakan gajinya sedikitpun, ia bagikan seluruhnya untuk rakyatnya. Dan ia menghidupi keluarganya dengan menjual keranjang hasil anyamannya sendiri. dialah Salman Al-Farisi sang pahlawan perang Khandak.

Rindu dengan seorang yang rela dan ikhlas tangan kanannya putus karena mempertahankan bendera dan melindungi Rasulullah dari serangan musuh dalam Perang Uhud. Lalu ia mengambil dan mengibarkan bendera dengan kanan kirinya, lalu musuh kembali menebas tangan kirinya hingga putus. Ia pun mengibarkan panji dengan mengapit bendera dengan kedua pangkal pahanya. Lalu musuh menombaknya hingga syahid. Dialah sang pemuda parlente ketika belum masuk islam namun sangat sederhana hingga wafatpun tubuhnya tak tertutup utuh oleh kain penutup. seorang laki-laki yang menjual kemewahan dunia demi kemulian hidup sebagai seorang hamba dan kemewahan yang kekal, Mush’ab bin Umai.r
 
rindu dengan pemimpin dan sosok-sosok mulia lainnya yang dimiliki agama ini yang membuat rakyat berjaya, tak ada mustahik, ga ada yang terdzolimi, hingga Yahudi, nasrani dan umat lainpun mengakui kenyamanan mereka.

owh....dimanakah sosok-sosok mulia itu, masihkah tersisa satu saja agar negeri ini lebih baik, agar baldatun thoyibatun warobbun ghofur tak sekedar slogan



No comments:

Post a Comment