Wednesday, September 5, 2012

Selingkuh

CERPEN
Perempuan itu duduk menghadap jendela. Malam begitu kelam, dan beberapa bintang bergayut di langit. Angin meniup memburai dan wewangian aroma tanah bercampur baur dengan rindu di dadanya. Malam-malam seperti ini, biasanya dia bersama suaminya. Bercengkerama indah sambil menikmati kopi atau mendengarkan musik bersama. Tetapi semua itu berlalu, semenjak suaminya meninggalkannya pergi dengan perempuan lain.
Sabina mengusap air matanya yang meleleh lembut di pipinya yang tirus. Mencoba untuk menahan agar tiada air mata yang bergerai lagi, karena memang takdirnya hari ini adalah sendiri.
“Engkau dimana sayang, sedang apa sayang, dengan siapa sayang,” bisiknya dalam hati.
Perih menusuk di dadanya. Dan selalu saja berusaha mencari kesalahan dalam dirinya, sehingga suaminya berpaling darinya. Apakah aku ini kurang cantik, begitu kata hatinya. Apakah aku ini membosankan, apakah aku ini kurang baik? Sabina tersedu lagi.
Kecurigaan Sabina muncul ketika, suaminya mulai tidak antusias terhadap semua pembicaraan-pembicaraan saat berdua. Dia mengatakan sedang memikirkan pekerjaan, sehingga nggak bisa berkonsentrasi kepada semua cerita yang diungkapkan.
“Ya sudah sayang, tidurlah, himpunlah kekuatan untuk kerja esok,” begitu kata Sabina.
Suaminya seringkali tak manyapanya ketika selesai kerja. Hanya berlalu saja, seakan tidak ada dirinya dan mulai bersikap tidak peduli.
“Airlangga, ada apa sebenarnya?” tanya Sabina.
“Tidak apa-apa, aku mau tidur,” ujarnya.
“Baik, istirahat ya sayang,” ucap Sabina getir.
“Aku baik-baik saja, mengertilah dengan kondisiku ya, jangan berfikir macam-macam,” begitu kata Airlangga.
Hati tiada bisa berbohong. Ada rasa aneh yang menyelubungi. Ada perubahan yang terjadi, Sabina bisa merasakan hal itu. Tuhan berilah aku petunjuk. Berilah jawaban apa yang sebenarnya terjadi, bisiknya lembut kepada Tuhan.
Sampai akhirnya suatu pagi, Tuhan menjawab doanya. Sabina menemukan foto perempuan di tas kerja suaminya. Diam-diam dia meraih telepon genggam yang tersimpan rapi di tas itu. Dibukanya telepon genggam itu, dan dia kaget membaca pesan-pesan di dalamnya. Oh, jadi inikah yang selama ini membuatmu sok sibuk. Sabina menemukan kata-kata menjijikkan, pembicaraan sangat mesra antara suaminya dengan seorang perempuan.
“Sungguh sayang, aku sudah tak mencintai Sabina, aku hanya mencintaimu, cintaku utuh,” kirim suaminya.
“Benarkah sayang, aku juga sangat mencintaimu, biarpun aku bersuami,” kata perempuan itu.
“Percayalah, aku mengagumimu, aku jatuh cinta kepadamu,” tulis suaminya lagi.
“Aku juga selalu rindu,” balas perempuan itu.
Hueeek...... Sabina muntah.
Dimasukkannya telepon genggam dan foto perempuan itu kembali ke dalam tas suaminya. Lalu dia ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
“Sabina, kamu baik-baik saja?”
Sabina keluar dari kamar mandi dan menemui Airlangga sudah siap berangkat kerja. Dihampiri laki-laki tampan itu dan ditamparnya dengan keras. Airlangga kaget. Ketika akan menampar untuk yang kedua kali, Airlangga menahan tangannya.
“Ada apa sih?” tanya Airlangga.
“Harusnya aku yang bertanya begitu, play boy,” ujar Sabina kesal.
“Tenang, Sabina, kita bicarakan baik-baik,” ujar Airlangga.
“Aku jijik melaihat kalian,” kata Sabina.
“Kalian? Siapa?” tanya Airlangga masih belum mengerti.
“Jangan pura-pura bodoh, siapa perempuan di foto itu?” tanya Sabina.
Muka Airlangga memerah. Dia tak menjawab.
“Siapa perempuan jalang itu?”
“Diaam...!” bentak Airlangga.
“Siapa lagi korbanmu, bagaimana kalau ketahuan lagi sama suaminya! Kamu ini tidak kapok-kapok ya?” Sabina berteriak sambil menangis.
Airlangga masih tidak bergeming.
“Dasar buaya, ketemu perempuan gatel...”
“Tutup mulutmu, jangan menghina...” Airlangga mendorong Sabina agar mundur.
Sabina kaget. Terseok lalu jatuh karena kuatnya dorongan suaminya. Tiba-tiba seluruh tenaganya seperti hilang. Dan dia pun terkulai lemas. Pingsan. Ketika terbangun, disampingnya duduk Raya adiknya. Langit-langit kamar serasa berputar. Dan Sabina mencoba duduk tetapi kepala terasa berat.
“Peluk,” katanya pada Raya.
Raya mendekat, lalu memeluknya. Sabina menangis sejadi-jadinya.
“Airlangga punya kekasih baru, Dik,” kata Sabina.
“Sabar, Kak, semua akan baik-baik saja...”
Sejak hari itu, Airlangga tak pernah pulang lagi. Bila ditelepon, tidak dijawab. Beberapa hari kemudian, nomor telepon itu tidak berfungsi lagi. Sabina lemas. Hatinya perih, jiwanya meronta. Siapa perempuan itu. Dan bila mengingat wajah perempuan itu, Sabina langsung muntah karena merasa jijik. Hari-hari terasa panjang dilaluinya dengan doa.
“Sanggupkah aku memaafkannya?” katanya pada Tuhan.
“Semua ini terlalu menyakitkan, Tuhan,” ucapnya lagi.
Entah sudah berapa hari dia sendiri. Entah sampai kapan dia begini. Mungkin akan sampai mati. Tetapi kemudian Sabina yakin bahwa itu hanya cinta sesaat. Semua akan kembali seperti sedia kala. Dan dia yakin Tuhan selalu berpihak kepadanya. Karena ini bukan kali pertama Airlangga berselingkuh.
Bintang-bintang menari di angkasa. Beberapa kelelawar beterbangan di antara pepohonan. Angin memburai rambut panjangnya. Sabina mengusap air mata rindu dengan jemarinya. Dadanya penuh dengan debaran doa.
“Tuhan, jagalah dia,” bisiknya lembut.
Air mata bergulir lagi.
“Aku tak bisa membencinya, dia hanya khilaf, semoga dia akan segera sadar akan kesalahannya,” katanya dalam hati.
“Tuhan, aku memaafkannya, itulah cinta terbaik yang bisa kuberikan kepadanya,” katanya menatap langit.
Para bidadari menari-nari di antara gemintangan. Mengantarkan doa seorang yang teraniaya, kepada Tuhan yang Maha menyembuhkan luka. Dan perempuan itu menunduk. Mengingat janji-janji Tuhan yang pernah dibacanya dalam kitab-kitab suci. Pipi tirusnya basah oleh air mata.
“Pulanglah sayang, tempatmu di sini....”
Jakarta, 6 September 2012

No comments:

Post a Comment