Thursday, September 27, 2012

Tawuran Antar Pelajar, Siapa Salah?

PSIKOLOGI
Seorang laki-laki dalam twitt-nya mengatakan, Setrum tuh sampai sakratul maut pelajar yang sudah menghilangkan nyawa orang lain, dalam tawuran. Langsung saja saya reply melalui akunt twitter saya: “Pliss, jangan kasar deh, mereka kan hanya anak-anak...”
Berita kematian karena tawuran antar pelajar, sungguh mencengangkan publik. Anak-anak yang baru menginjak remaja, sudah melakukan tindakan sadis yang mengakibatkan hilangnya nyawa orang lain. Benar-benar menjadi situasi yang menimbulkan rasa miris dalam benak kita.
Masa remaja adalah masa pancaroba dari masa kanak-kanak menjadi dewasa. Mereka sangat dipengaruhi oleh perubahan hormonal yang terjadi di dalam tubuh. Sistem hormonal ini, menimbulkan berbagai perubahan yang berupa perubahan fisik, maupun perubahan yang sifatnya psikologis.
Perubahan fisik, bisa dilihat dari, bergantinya rambut anak-anak menjadi rambut dewasa. Perubahan pada kulit mereka, dari halus menjadi kasar. Perubahan pada suara, dari suara anak-anak menjadi suara dewasa. Perubahan yg bersifat seksual, seperti terjadinya menstruasi pada remaja puteri dan mimpi basah pada anak-anak laki-laki. Selain itu, terjadi pertumbuhan badan yang tak terduga, atau tiba-tiba gede, badannya besar seperti orang dewasa.
Perubahan psikis, ditandai dengan munculnya sikap membangkang, tertarik dengan lawan jenis, bersikap sombong (butuh pengakuan), dan juga mulai berkelompok dengan membuat geng, atau menggabungkan diri pada suatu kelompok remaja.
Pembangkangan dimulai dengan sikap membantah orang tua, mulai mengabaikan orang tua dan lebih suka kumpul dengan teman-temannya. Mereka lebih condong meniru teman-temannya atau idolanya daripada mendengarkan nasehat orangtuanya.
Tawuran atau perkelahian antar pelajar, adalah satu bentuk pembangkangan sekaligus bentuk pencarian sebuah pengakuan. Yang saya tahu, mereka sangat bangga, ketika bisa menimpuk orang sampai kepalanya bocor, atau memukul seseorang sampai pingsan. Kebanggaan itu yang kemudian dipertanyakan, karena kebanggan semacam itu tidak memiliki nilai kepatutan di mata masyarakat.
Saya berbicara dengan seorang ABG, saya bertanya apakah dia pernah tawuran. Dengan bangganya dia mengatakan bahwa pernah tawuran sampai pingsan. “Saya nggak berdarah-darah lagi, Kak, saya sudah pingsan,” akunya.
Jujur saya tidak percaya dengan pengakuan itu. Tetapi saat saya mengangguk-angguk setuju, dia tersenyum dengan puas kepada saya. Lalu kenapa semua ini bisa terjadi. Kenapa remaja tidak peduli apakah perilakukan melanggar moral atau susila. Bagi mereka, yang penting merasa hebat dan menjadi super hero.
Menilik latar belakang kejiwaan ini, tawuran pelajar, atau perkelahian antar, bisa dikatakan sebagai kenakalan anak/remaja yang tidak memiliki tujuan kriminal, tetapi hanya untuk tujuan psikologis. Mereka mengalami kekalutan, sementara diri mereka membutuhkan sebuah pengakuan. Lalu dengan tawuran mereka menganggap dirinya sebagai super hero. Hanya saja, tindakan super hero semacam ini, sifatnya negatif. Mereka tidak peduli perilakunya bisa mencelakai orang lain, bahkan bisa menghilangkan nyawa orang lain.
Saya lebih menilai bahwa kekalutan para remaja ini muncul, justru karena mereka merasa tidak puas di rumah. Orang tua yang terlalu sibuk, orang tua yang tidak memberikan arahan moral yang jelas, dan orang tua yang memberikan contoh kurang baik, menjadi sumber utama kenakalan remaja ini. Orang tua telah melahirkan anak-anak /remaja ang tidak memiliki kepribadian yang matang. Sehingga mereka tidak paham nilai-nilai baik dan buruk itu harus di terapkan dalam kehidupan bermasyarakat di kemudian hari.
Persiapan untuk membina remaja yang “baik” tidak cukup sehari dua hari atau sebulan dua bulan. Mereka harus dipersiapkan semenjak mereka masih anak-anak. Anak-anak belajar agama, anak-anak belajar etika dan sopan santun, anak-anak belajar soal moral, dan lain-lain. Tetapi semua itu belum cukup. Mereka juga manusia yang ingin selalu didengarkan. Mereka butuh perhatian dari orang tua, mereka butuh bimbingan dan juga teladan. Harus ada komunikasi timbal balik yang sehat antara orang tua dan anak.
Kebutuhan ini, tidak bisa diperoleh di sekolah. Sekolah hanyalah wadah untuk belajar dan bersosialisasi. Tetapi membentuk pribadi yang matang, kuncinya adalah orang tua dan pembinaan di rumah. Bagaimana orang tua selama ini mengajarkan mereka mengelola konflik. Bagaimana caranya memperoleh pengakuan sosial tetapi itu hal yang positif, bagaimana agar anak-anak tidak terbiasa dengan kekerasan.
Dari sebuah penelitian, ditemukan bahwa dari 100 anak, 30 persen diantaranya pernah melihat kekerasan yang dilakukan orang tuanya di rumah. Kalau anak-anak berani melakukan kekerasan pada usia dininya, itu semua karena mereka belajar model. Belajar model bisa dilakukan di rumah, di sekolah, di lingkungan sekitar ataupun di media massa.
Oleh karena itu, untuk mencegah meluasnya kekerasan dikalangan remaja, menjadi tugas orang tua, guru maupun masyarakat, dengan menerapkan anti kekerasan dalam kehidupan seharti-hari. Kalau semua menghindarkan diri melakukan tindakan kekerasan, anak-anak pun akan meneladani hal-hal baik tersebut. Tetapi kalau orang tua sendiri suka kekerasan, jangan salahkan kalau mereka juga melahirkan generasi penuh kekerasan.
Jakarta, 26 September 2012

No comments:

Post a Comment