Monday, September 16, 2013

penggunaan SubhanAllah dan MasyaAllah



Bismillahirrohmanirrohiim…..

Pernahkah kita kagum/takjub akan suatu keindahan ciptaan Alloh atau merasa heran dan aneh melihat sesuatu yang tak wajar. Sebagian kita sering berucap  Subhanalloh, pemandangannya indah banget” ketika terkagum-kagum akan lukisan Sang Ilahi. Tak jarang pula kita reflek berkata “Masya Alloh…. Penguasa itu dzolim banget sama rakyatnya  tatkala melihat pembantaian saudara seiman di Syuriah oleh kepala negaranya sendiri.

Tanpa sadar, sering kali kita (saya aja kali, yak) keliru dalam menempatkan penggunaan kalimat-kalimat toyibah tersebut. Dengan pengetahuan saya yang sangat terbatas dan minim serta berbekal Qur’an dan sebuah buku kebetan, izinkan saya sharing tentang dua kalimat tersebut agar tepat saat digunakan, semoga bermanfaat bagi teman-teman pembaca. 

Subhanalloh dan Masya Alloh, dua buah kata yang diikat oleh dua hal. Tuntunan Qur’an-sunnah serta kebiasaan dalam bahasa Arab. Al-Qur’an menuturkan: Subhanalloh digunakan dalam mensucikan Alloh dari hal yang tak pantas. “Mahasuci Alloh dari memiliki anak, dari apa yang mereka sifatkan, mereka persekutukan dan redaksional lainnya yang terfirman dalam Qur’an. Ayat-ayat berkomposisi ini sangat banyak. Juga subhanalloh digunakan untuk mengungkapkan keberlepasan diri dari hal menjijikan semacam syirik “Dan ingatlah pada hari ketika Alloh mengumpulkan mereka semuanya, kemudian Dia berfirman kepada para malaikat “Apakah kepadamu mereka ini dahulu menyembah?”. Para malaikat itu menjawab, “Mahasuci Engkau. Engkaulah pelindung kami, bukan mereka, bahkan mereka telah menyembah jin. Kebanyakan mereka beriman pada jin itu”. (QS. Saba’: 40-41)

Bukannya ada juga pe-Mahasuci-an Alloh dalam hal menakjubkan -ingatanku menerawang- . Uniknya Al-Qur’an menuturnya dengan kata ganti kedua: (yaitu) orang-orang yang mengingat Alloh sambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), “Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau ciptakan semua ini sia-sia; Mahasuci Engka, lindungilah kami dari azab neraka.” (QS. Ali Imran: 191), atau kata ganti ketiga yang ga langsung menyebut Asma Alloh: “Mahasuci (Alloh)yang telah memperjalankan hamba-NYA (Muhammad) pada malam hari ….. ”(QS. Al-Isra’: 1). Ia juga terpakai pada; me-Mahasuci-kan Alloh dalam menyaksikan bencana dan mengakui kedzoliman diri: “Mereka mengucapkan, “Mahasuci Tuhan kami, sungguh kami adalah orang-orang dzalim.” (QS. Al-Qalam: 29), atau menolak fitnah keji yang menimpa saudara: “Dan mengapa kamu tidak berkata ketika mendengarnya, “Tidak pantas bagi kita membicarakan ini. Mahasuci Engkau,  ini adfalah kebohongan yang besar.” (QS. An-nuur: 16). Trus… gimana dengan haditsnya??

“Kami apabila berjalan naik membaca takbir, dan apabila berjalan turun membaca tasbih.” (HR. Bukhari). So…. Subhanalloh diletakkan dalam makna “turun”, yang kemudian sesuai dengan kebiasaan orang dalam bahasa Arab. Secara umum Subhanalloh digunakan untuk mengungkapkan keprihatinan atas suatu hal kurang baik di mana tak pantas Alloh dilekatkan padanya. Ada kejadian menarik dari seorang penulis favorit saya ustadz Mohammad Faudzil Adhim yang punya pernah pengalaman memuji seorang ustadz lain dari Arab dengan “subhanalloh”, kemudian beliau mendapat jawaban tak dinyana dari sang Ustadz Arab. “astagfirullaahal ‘azhiim, maaf ustadz; kalau ada yang bathil dalam diri dan ucapan saya, tolong segera anda luruskan!” begitulah kira-kira.

Btw, gimana dengan Masya Allah? Surah Al-Kahfi: 39 memberi contoh “ Dan mengapa ketika engkau memasuki kebunmu tak mengucapkan “Masya Allah, laa quwwata illaa billaah” (sungguh atas kehendak Allah, semua ini terwujud)(tidak ada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah……”, ia diucapkan atas kekaguman pada aneka kebaikan melimpah: kebun subur, anak, harta. Sungguh ini semua terjai atas kehendak Allah, kebun subur menghijau jelang panen,; anak-anak ceria menggemaskan; harta yang banyak. Lengkapnya Masya Allah, laa quwwata illaa billaah; kalimat kedua menegaskan lagi bahwa tiada kemampuan mewujudkan selain atas pertolongan Allah. Pun demikian dalam kebiasaan lisan berbahasa Arab. Mereka mengucapkan Masya Allah pada keadaan juga sosok yang kebaikannya mengagumkan.

Zikir tasbih secara umum adalah utama, sebab ia zikir semua mahluk dan tertempat di waktu utama. So….. kesimpulan nya Subhanallah adalah ungkapan pe-Mahasuci-an Allah atas hal-hal yang memang tak pantas bagi keagungan-NYA. Masya Allah adalah ungkapan ketakjuban pada hal-hal yang indah dan memang hal indah itu dicinta dan dikehendaki Allah.

Demikianlah teman-teman, atas segala keterbatasan dan sempitnya pemahaman saya, hanya itu yang bisa saya share. Semoga bermanfaat dan mohon maaf serta mohon diluruskan jika ada yang menyimpang….  Wawllahu’alam bishowab

Refernsi:
  1. Al-Qur’an
  2. Menyimak kicau merajut makna

No comments:

Post a Comment