Monday, April 29, 2013

Subuh di Rumah Rozy Munir

WARTAWAN BADUNG
Para pejabat dan selebritis biasanya sulit ditemui wartawan kalau tertimpa kasus. Kalau mereka pengen naik daun atau ngetop mereka begitu baik sama wartawan, bersikap menyenangkan, dan mencari-cari wartawan. Namun kalau sudah ketahuan melakukan sesuatu yang tak baik di mata publik, mereka akan ngumpet-ngumpet dari wartawan.
Menteri BUMN Rozy Munir salah satunya. Saat tersiar kabar bahwa dia mendapatkan mobil-mobil mewah, menteri masa pemerintahan Gus Dur itu sulit ditemui. Padahal aku mendapatkan tugas dari kantor untuk mewawancarai dia sehalaman penuh.
Kebetulan asisten pribadinya Siane adalah mantan wartawan juga. Aku pun melakukan pendekatan kepadanya untuk meminta waktu wawancara khusus. Namun waktu yang diberikan sangat pendek. Aku nggak yakin bisa wawancara sehalaman koran Jawa Pos, hanya dengan waktu setengah jam sebelum sholat Jumat.
Aku pun mencari akal. Deadline tinggal dua hari. Besok sudah hari Jumat, padahal akan dimuat untuk rubrik wawancara tokoh untuk hari minggu. Aku mencari akal, untuk bisa menemui Rozy dan bisa wawancara panjang. Aku mendapatkan ide, setelah subuh, pasti ada waktu luang seorang menteri untuk diwawancarai.
Esoknya, Jumat pagi, sebelum subuh aku sudah berangkat. Dari kosku di Rawa Belong, aku harus naik angkot dua kali menuju Perumahan Dosen UI di Ciputat, tempat Rozy Munir tinggal.
Aku mengetuk pintu. Pembantunya yang membukakan pintu. Aku bilang wartawan Jawa Pos, mau wawancara Pak Rozy. Yang keluar malah istrinya dengan wajah cemberut plus marah-marah. Aku pun didampratnya.
"Yang bener aja, ini masih subuh, mau wawancara, Bapak saja belum mandi," begitu katanya.
Aku diam tak menjawab. Galak dan sombong benar. Mentang-mentang istri pejabat ni yee.
"Nanti saja di kantor," katanya lagi.
Aku tetap diam. Tidak bergeming di depan pintu. Istri Rozy berkacak pinggang dengan wajah marah. Waktuku mepet untuk mengisi halaman tokoh minggu itu. Hari ini sudah jumat pagi. Aku melirik ke dalam tanpa peduli istri menteri itu marah-marah. Nah kulihat ada Rozy di ruang tengah. Kebetulan dia tatapan mata denganku. Aku tersenyum. Dia pun menghampiri kami.
"Ada apa ini," katanya pada kami.
"Wartawan nggak sopan, jam segini mau wawancara," kata istrinya.
"Boleh ya Pak," kataku pada Rozy.
Rozy menatapku. Lalu dia menyuruh istrinya masuk. "Ya sudah, bentar aja ya," katanya.
Malangnya saat mau memulai wawancara tape rekamanku ngadat. Aku bilang tapenya baterainya habis. Wawancara panjang begini, nggak mungkin tanpa pertolongan rekaman dari tape. Lalu Rozy menyuruh pembantunya membeli baterai ke warung dekat rumah. Kami menunggu sambil mengobrol ringan. Subuh itu wawancaraku sukses besar. Hidup perlu perjuangan Bok. Hehehe.
Jakarta, 30 April 2013

No comments:

Post a Comment